Kolom,
05/09/2008

Puasa dan Nilai Kemanusiaan

Oleh Kautsar Azhari Noer

Melalui puasa, kita mempunyai “titik-temu” untuk tujuan mulia kemanusiaan dengan menjauhi kekerasan, intoleransi, dan ketidakadilan. Mahatma Gandhi (1869-1948), seorang pemimpin nasionalis Hindu, adalah salah satu contoh terbaik Hindu dalam melakukan puasa. Tokoh yang dikenal dengan sikap nir-kekerasan ini sering melakukan puasa, termasuk puasa untuk untuk menghentikan kekerasan dan ketidakadilan. Gandhi selalu menekankan pentingnya puasa dan doa untuk meningkatkan kehidupan spiritualnya, mempraktikkan nir-kekerasan, mengendalikan diri, mencari kebenaran dan menjumpai Tuhan.

05/09/2008 12:02 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (28)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 2 halaman 1 2 > 

Ya sholat, ya puasa, ya korupsi.  Bagaimana ini menjadi hal biasa di negeri ini?

#1. Dikirim oleh yani afrianto  pada  09/09   05:02 PM

Islam adalah agama yang ‘keras’ terhadap pemeluknya. Puasa dan salat adalah kewajiban yang tak bisa ditukar dengan hubungan spritual lain. Mahatma Gandhi, adalah pribadi yang ‘keras’ dalam pengendalian diri. Ia tidak mudah tergoda dan larut dalam kebiasaan berfoya-foya masyarakat sekitarnya. Makna kekerasan yang sering muncul di Islam adalah sebuah upaya yang tidak jarang dengan ancaman dan hukuman yang keras.
Kita tidak perlu merasa aneh karena bahasa kekerasan sering digunakan untuk mencapai kedamaian. Presiden Bush adalah kepala negara yang memakai teori kekerasan dan kekuatan untuk menjawab kekerasan. Rakyat Palestina dan Irakpun memakai kekerasan untuk mencapai kedamaian. Israelpun menganut filosofi serupa. Kekerasan dan kekuatan sudah lama digunakan umat manusia yang oleh pencinta damai disebutkan sebagai bagian dari sisa-sisa sifat primitif dan nafsu hewani manusia yang tak akan pernah luntur. Bom nuklir adalah senjata pemusnah massa yang masih terus diproduksi, namun anehnya justru meninggalkan dunia yang lebih damai dari sebelum perang dunia ke-2.
Konon kekerasan yang lebih sering muncul dalam bentuk yang sporadis dan lokal, lebih baik dari kedamaian yang lama. Karena di balik kedamaian yang lama tersimpan bara dendam yang bisa menciptakan kekerasan yang masif. Amerika terlihat damai, tetapi sesekali muncul penembakan massal dengan korban yang tidak sedikit. Dalam konteks ini kita mempelajari penyebab dan dampak malapetaka September 11.
Dunia memang bukanlah sebuah bola surga yang damai.Tapi kita tidak boleh pernah berhenti mencari dan menemukan kedamaian.

#2. Dikirim oleh Ali Salim  pada  10/09   06:40 AM

masih banyak tokoh atau panutan dalam Islam yang lebih baik untuk dijadikan panutan. Nabi kita Muhammad SAW adalah sebaik-baik panutan kita…

#3. Dikirim oleh fikri  pada  10/09   08:49 AM

puasa merupakan usaha manusia untuk bercermin di hadapan Tuhan. puasa dijadikan wasilah untuk bebas berekspresi dan membentuk diri dalam ruang ketuhanan “natakhallaq bi akhlaqillah” wallahu a’alam

#4. Dikirim oleh arafat  pada  11/09   08:33 AM

Ya kalau mau bercermin tentang puasanya orang Islam,rujuklah ke Nabi Muhammad, pasti sangat beda antara puasa orang islam dgn non islam, konsepnya saja berbeda,nalarnya jd nggak kena,makanya banyak orang islam berpuasa tapi nggak ada nilai di mata Allah, dan hambar utk memperbaiki hubungan dan tanggung jawab dgn sesama manusia( social Responsibilitynya)

#5. Dikirim oleh BUDI  pada  12/09   03:33 PM

Banyak orang berpuasa hanya dapat lapar dan dahaga, begitulah firman Allah untuk mengingatkan kita agar kualitas puasa kita tidak hanya pada tataran syariat saja (puasa beduk) tetapi meningkat kepada puasa khusus yang dijalani oleh para Aulia Allah
Ada 2 hal yang disenangi dalam berpuasa yaitu : ketika berbuka dan bertemu Tuhannya..
Berapa banyak orang berpuasa yang tidak bertemu Tuhan, bukankah pertemuan dengan Tuhan itu merupakan kenikmatan tertinggi?
Ramadhan akan datang setiap tahun, semoga saja puasa kita sekarang bisa lebih baik dari puasa ramadhan tahun lalu

#6. Dikirim oleh Ahmad Risdianto  pada  12/09   06:10 PM

puasa merupakan ibadah yang mengimplementasikan nilai nilai kemanusiaan secara universal, lewat puasa kita dapat merasakan kehadiran tuhan di seluruh aspek kehidupan. karena puasa adaloah madrasah ruhaniah bagi yang melakukannya, tak ayal lagi puasa dapat meningkatkan eskalasi kesadaran ketuhanan dalam diri kita,dan eskalasi kesadaran ketuhanan itulah yang kita sebut sebagai takwa.

#7. Dikirim oleh fikri tajdied  pada  12/09   06:30 PM

contohnya kok org Hindu sih???
apaan JIL???

#8. Dikirim oleh khalid  pada  12/09   10:05 PM

الــســلام عــلــيــكــم

Maaf sebelumnya kalau email ini tidak berkenan dianda.
(Sentuhan Qolbu via Al-Qur’an Khusus Nuansa Ramadhan)

Saya ingin menyampaikan kepada kita semua khususnya umat Islam untuk lebih memaknai arti dari Shiam/Puasa.Lafazh atau kata Shiam hanya 11 kali dalam Al-Qur’an yang terdiri dari 1 Surat Makkiyah 5 Surat Madaniyah 1 Ayat Makkiyah 10 Ayat Madaniyah.Shiam yang artinya adalah: Menahan,sebenarnya system Shiam ini sudah ada sejak di utusnya Nabi dan Rosulullah kebumi dalam menyampaikan ajaran kepada umat manusia.Sedikit saya ingin mecontohkan Shiam/Puasa versi Maryam ibu Nabi Isa. QS.Maryam ayat 26 dikatakan bahwa Maryam melakukan Shiam/Puasa karena Allah. Maryam punya Nazar/Keinginan yang merupakan syarat dari kemauanya tersebut, (memiliki anak).Maryam disini menahan dirinya untuk tidak berbicara.Contoh lain tentang Shiam/Puasa lewat Sunnah Nabi Muhammad,dimana masa itu umat Islam sedang dilanda masa sulit/paceklik yang akhirnya Rosul memerintahkan kepada para Shabat,Anshor,Muhajirin melakukan system penghematan (Shiam).Masih banyak lagi contoh-contoh shiam versi Qur’an.Dari kedua contoh tersebut kita bisa mengambil kesimpulan,Plot untuk kita jadikan Standard,dasar kita melakukan Shiam,alangkah lebih baiknya lagi kita mau menyisihkan waktu untuk mempelajari lebih jauh Lafazh/kata Shiam yang ada didalam Al-Qur’an,karena cara itu merupakan cara yang sangat efektif dalam mengantisipasi munculnya Egosentris kita dalam mengartikan Shiam tersebut,demi menjaga agar tidak berdeda-bedanya/terpecah belahnya pemahaman umat Islam terhadap sesuatu yang sudah terkitab.Jadi bagi kita yang ingin melakukan Shiam baiknya untuk lebih mendalami lagi makna yang ada dalam Shiam tersebut.Sebenarnya dari Qur’an surat Maryam itu saja kita sudah bisa mengambil Plot untuk segera kita aplikasikan dalam hidup ini.Banyak hal atau perbuatan yang harusnya kita mampu Menahan/meng-Hemat,agar terhindarnya manusia dari watak Tamak/Rakus dan tak mau menerima,oleh sebeb itulah mengapa Allah mengajarkan kepada manusia untuk Shiamu Ramadhan. Ada pertanyaan lain: Mengapa, Ada apa pada bulan Ramadhan?...Ramadhan itu sendiri artinya adalah Terik/Panas,sangat Panas jelas Shiam kita lakukan pada kondisi seperti itu agar lebih terujinya kita dalam melakukan Shiam.Maaf, sedikit tidak nyunnah bila kita melakukan Shiam dibulan yang selalu tujun hujan,nyaris dibeberapa tahun belakangan ini Indonesia selalu turunnya hujan pada bulan Ramadhan (Aneh).Bila selama ini kita melakukan Shiam hanya menahan lapar dahaga saja,walaupun itu tidak salah namun itu tahapan awal dari makna Shiam tersebut.Apalah guna kita menahan lapar dahaga?...atau adakah Nilai/Hikmah yang bisa kita ambil dari menahan rasa lapar dahaga?...jawabanya ada,dan bisa kita jadikan nilai-nilai Hikmah dalam hidup kita,karena menahan rasa lapar itu sendiri bisa dijadikan sebagai sarana menguji kepekaan rasa kita kepada terhadap sesuatu yang kita konsumsi untuk tubuh ini.Walapun memang nilainya hanya sebatas Fisik/Materi saja namun bisa mengakibatkan ketidak seRasian,keRugian,keZhaliman pada Anfus kita (Diri), bila sesuatu yang kita makan berasal dari yang salah, apalagi dengan cara yang salah.Menahan lapar dahaga juga bisa kita jadikan sarana untuk menambah rasa Syukur kita terhadap sesuatu,contoh: cobalah melakukan Shiam selama satu minggu berturut-turut dan rasakan pengaruhnya pada fisik kita,bila selama ini kita selalu menganggap makan dan minum itu hanya biasa saja maka akan jadi nilai yang sangat luar biasa,dan akan membuat kita sadar betapa masih banyaknya mereka-mereka yang miskin tidak mampu memenuhi kebutuhannya sehari-hari, terkadang mereka makan hanya 3 hari sekali,1 minggu sekali, bahkan hampir nyaris tidak makan.Nah…dengan begitu kita akan lebih adil lagi dalam mengambil bagian untuk diri kita dan mampu menyisihkan Hak untuk mereka-mereka yang miskin. Masih banyak lagi Nilai dan Hikmah yang bisa kita ambil/petik/konsumsi untuk Hidup dan Kehidupan kita serta manusia.
وب الله الـسـيع الـعــلــيــم
Bermusyahabah dengan Allah Peyimak yang paling berIlmu.
Salam dariku Fardhie

Fardhie Hanyary, dia adalah seorang Composer lagu-lagu Religi, Kritik Sosial, Cinta.
Puluhan bahkan Ratusan Lagu-lagu Fardhie sudah tidak asing lagi diantara sesama kerabatnya.
Bahkan Fardhie juga seorang tokoh Agamawan, atau lebih sering disebut Mubaligh,
yang mendalami ilmu-ilmu Islam lewat Standard Kitabullah dan Sunnah juga Hadits.
Lebih lengkapnya silahkan kunjungi alamat websit Fardhie:

#9. Dikirim oleh Ruh  pada  13/09   06:02 PM

Sekedar sharing kebetulan ada suatu pengajian yang gak sengaja diikuti, karena kebetulan pulang kantor.  Temanya tentang puasa, saya gak tau nama ustadznya, karena gak ngikutin dari awal banget.  Tapi ceramahnya betul-betul beda, setidaknya menurut gue, makanya mumpung mau bulan romadhon, sekalian deh disharing semoga bermanfaat;

PUASA; ayatnya seprti yang udah popular banget
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (QS. 2:183)
Yang bikin gue, tertarik adalah penyampainya begini;

1.  Yaaayyuha-al-ladziyna aamanuw kutiba:

·      Amanuw, berarti puasa hanya untuk orang yang beriman, kata si ustad yang gak beriman gak hai….. lucu juga

·      Kata “kutiba”, adalah bukan kata kerja perintah, ini adalah kata kerja pasif karenanya diartikan diwajibkan. Berbeda dengan perintah-perintah Allah yang lainnya seperti sholat, zakat dan lain-lain yang menggunakan kata perintah.  Kemudian si ustadz menjelasakan, dengan demikian kita berpuasa adalah karena kesadaran kita, hati nurani kita dst,dst,dst, yang sehingga membenarkan bahwa kita memang musti puasa, walaupun tidak di”perintahkan” (secara aktif).  (menurut gue Lumayan tampil beda nih ustadz). Y

·      “Yaaayyuha”: ini adalah seruan, yang disebutkan 2 kali, yaitu “ya” (artinya hai) + “ayyuha” (artinya hai (orang-orang yang) juga).  Lanjutnya kata si ustadz, walaupun menggunakan kata “kutiba”, namun Allah memberikan 2 kali seruan sampe 2 kali sebelum kata kutiba, supaya orang-orang mukmin kalo dipanggil nengok, ato jadi enggeh, gak cuek.

Yaaayyuha-al-ladziyna aamanuw kutiba, silahkan simpulkan sendiri, saya peribadi mengartikan, suatu perintah yang sangat-sangat halus, yang gak maksa, karena itu hanya ditujukan buat orang-orang yang beriman saja.
2.  Kata-kata selanjutnya cukup jelas, samapi pada pengertian tataquwn, agar kamu bertaqawa.  Ini lagi yang agak beda lagi dengan yang laenya. Lanjut si ustadz, dari SD-Sampe Profesor, kita semua udah pada tau bahwa arti taqwa adalah “menjalankan semua perintah Allah, dan menjauhi segala larangan Allah”. Juga siustadz menambahkan beberapa pengertian taqwa lain-lain yang popular. Arti kesemua itu adalah bener, hanya siustadz mencoba mengkaitkan dengan perilaku korupsi bangsa Indonesia, maka dia menambahkan suatu pengertian, yang menurut saya bener banget sebagai berikut;

Taqwa arti arfiahnya “kamu memelihara”, dengan kata dasar “kamu memelihara” ini siustadz, mencoba menafsirkan;

Suatu ketika, sahabat Umar bin Khathab ra. bertanya kepada sahabat Ubay bin Ka’ab: “Maa haqiqat at-taqwa” (apa hakekat takwa?). Sahabat Ubay balik bertanya kepada Umar ra: “Pernahkah engkau berjalan pada jalan yang penuh dengan duri ?”. “Pernah” jawab Umar. ra. “Apa yang engkau lakukan saat itu wahai Umar ?”, Tanya Ubay kembali. Umar bin Khathab menjawab: “Tentunya aku berjalan dengan sangat berhati-hati”.

Kemudian Ubay bin Ka’ab menjelaskan: “wa dzaalika haqiqat at-taqwa” itulah hakekat takwa). Sehingga, Umar r.a memberikan definisi takwa dengan kata-kata beliau: “at-Taqwa hiya al-masy-yu fil ghobati bil-hadzar” (takwa adalah berjalan di hutan dengan hati-hati).


‘’Seorang Mukmin tidak akan mencapai derajat takwa hingga meninggalkan hal-hal yang tidak berguna karena khawatir terjerumus ke dalam hal-hal yang haram.’’ (HR al-Bukhari, At-Tirmidzi, Ibn Majah, Al-Hakim, Al-Baihaqi).

Dari riwayat diatas dan hadist dibawahnya, maka penekanan kata taqwa adalah memelihara diri, dengan bertindak hati-hati.

Siustadz mencontohkan, misal, seorang pegawai negeri /swasata diajak makan oleh vendor-nya disuatu Rumah Makan, dan si-vendor memang betul-betul iklas (katanya), maka orang yang bertaqwa, akan menolak (meninggalkan) dengan alasan sikap yang hati-hati, takut ada apa-apanya, takut ada udang dibalik batunya, dst.. dst…

Jadi pengertian taqwa adalah pengertain yang sangat aktif… yaitu mencegah sesuatu yang buruk itu menjadi… terjadi, apa lagi kalo udah jelas sesuatu itu adalah salah/haram/fasik/musyrik dst… dst… ya musti dihindari banget.

Kesimpulan:

“Puasalah dengan keyakinan bahwa puasa itu juga merupakan untuk kebutuhan dasar kita sendiri, supaya kita bisa memelihara diri kita.”

Ahlan wasahlan… ya romadhan

#10. Dikirim oleh amril  pada  16/09   11:03 AM

Betul Gandhi merupakan pemimpin yg baik, dia mencari kebenaran dengan menjumpai Tuhan, lalu kenapa JIL tidak?lalu apa yg kalian ikuti dari Gandhi? carilah kebenaran dengan menjumpai Tuhan

#11. Dikirim oleh GusUr  pada  17/09   07:28 AM

Agak mengherankan tulisan ini. Materinya membahas puasa, tetapi yang digunakan sebagai hujjah adalah Mahatma Gandhi. Mengapa bukan tindakan Rasulullah Muhammad SAW yang dijadikan sebagai contoh? apakah Nabi kurang sesuai untuk contoh dalam puasa? Atau kah penulis malu-malu mau, mau mengambil hadist Nabi tapi khan Qur’an dan Sunnah sudah tidak relevan lagi ya, sesuai pendapat madzab JIL. Makanya serba salah, mau nulis puasa, dengan mengais contoh orang non muslim, biar disangka pluralis dan tidak dibilang fundamentalis.

Jadinya tulisan yang banci. Maunya membahas puasa, tapi tidak membahas sama sekali sunnah dan contoh perilaku Rasulullah Muhammad dalam shaum dan ibadah selama Ramadhan. Malahan Gandhi yang dibahas.

Gimana Pak Azhari?

#12. Dikirim oleh adit  pada  19/09   08:14 AM

umm… saat ini shaum sudah kehilangan semangatnya di ummat Islam, shaum sudah direduksi menjadi hanya sebuah ‘ritual’ yang datang tiap tahun, tidak ada lagi substansi yang tampak…

ummat ini semakin menyedihkan, puasa untuk berfoya2 pada saat buka atau lebaran, tengok saja omzet mall yang melonjak drastis saat ramadhan datang

siapa yg salah???

yang pertama menurut saya adalah ulama, karena mereka yg bertugas menuntun ummat, selama ini pelajaran islam hanya di tataran simbolisasi fiqh dan syariah tanpa substansi

yang kedua lagi2 menurut saya adalah ummat sendiri yang terlena dan bodoh serta tidak mau belajar

mari berpuasa untuk memerangi konsumerisme!!!!

#13. Dikirim oleh Luvorenu  pada  19/09   09:28 AM

bahasan ini sebenarnya sudah biasa kita temukan di banyak tulisan, tinggal lagi bagi setiap umat islam untuk mengamalkan pesan indah ini.

sepertinya khalid ga enak yang menjadi model adalah orang lain? saya berpendapat, sudah saatnya kita umat yang mengaku muslim lebih baik lagi dari orang lain. alasannya :

1. kita punya pegangan yang lebih baik dibandingkan dengan pegangan agama lain.
2. yaitu kitab suci yang tidak pernah ditambah atau dikurangi oleh tangan jahil manusia.
3. sampai hari ini ilmu pengatahuan semakin membuktikan akan keaslain kitab suci Al-Qur’an.
4. sampai-sampai masyarakat dunia eropa yang sudah alim dan lebih maju terkesima melihat keindahan dan rasionalnya kandungan Al-Qur’an.
5. dan banyak lagi alasan lainnya….

persoalan yang terjadi adalah, umat islam tidak mau tau dengan miliknya sendiri. jangankan untuk merenungkan isi al-Qur’an, membacapun jarang, bahkan ada yang tidak punya Al-Qur’an dirumahnya. sungguh memalukan.

nah disinilah saya anggap pantas orang lain menjadi model bagi umat muslim pemalas. disamping membangunkan umat islam yang sedang tidur lelap dibawah bayang-bayang kefanaan kebodohan.

walaupun demikian kita harus ingat juga tokoh-tokoh muslim yang sudah menghabiskan waktunya berijtihad dan jihad fi sabilillah di dunia timur dan barat.

#14. Dikirim oleh novriyaldi  pada  22/09   10:20 AM

Mengomentari tulisan saudara Budi mengenai puasa, saya ingin memberikan tambahan komentar sebagai berikut. Memang sangat besar perbedaan puasa antara orang2 yang berbeda keyakinan, terutama Islam dan agama2 yang lainnya. Sebagai contoh adalah puasanya orang Yahudi/Ibrani menurut Hukum mereka. Kaum Yahudi selalu dan taat berpuasa terutama bila mereka sedang mendapat “pergumulan” dan selalu berdasarkan perintah TUHAN. Dan yang membuat saya pribadi terheran heran dan kagum adalah jawaban doa puasa mereka selalu dijawab oleh Tuhan dengan pasti. Hampir tidak ada yang tidak dijawab oleh Tuhan. Padahal banyak manusia di negara ini selalu menganggap umat Yahudi ini merupakan umat yang dimurkai TUHAN, umat yang harus dibasmi, dsb. Hanya dari satu sisi ini saja, sebenarnya sudah sepantasnya kita bercermin kepada umat ini kenapa hal ini bisa terjadi. Ini tidak lain dari pada kepasrahan mereka kepada Tuhan yang sungguh sungguh sangat dijalankan walaupun mereka selalu beradu argumentasi dengan TUHAN. Jadi yang saya lihat adalah bagaimana HATI manusia yang berpuasa itu yang menjadi titik tolaknya, bukan mulutnya yang sesumbar dan keinginan dihormati sewaktu berpuasa. Selama itu yang tersirat, maka puasa itu tak berguna sama sekali dan hanya tontonan orang2 yang tidak berpuasa dengan muka sinis. Jadi marilah kita berpuasa dengan hati yang tulus dan meminta kepada Tuhan apa yang kita inginkan dan kehendaki dari hati yang bersih, niscaya puasa kita akan bermanfaat. Amin

#15. Dikirim oleh Esa  pada  24/09   11:03 AM

Adit, Khalid yang baik…ngga usah sewot lah, Nabi Muhammad SAW juga disebut koq; emang apa salahnya kasih contoh orang non muslim ? mereka manusia, mahluk ALLAH juga kaaaaaaaaan?

peaceeeeeeeeeee

#16. Dikirim oleh mamak  pada  26/09   05:56 AM

Berpuasalah untuk mengenal diri2 mu yang selama ini berebut menguasai jasad Mu…dan diantara diri2Mu itu ada satu yang diberi hak memimpin dan menahan diri2 yang lain… itulah fitrahMu, maka kemabalilah kepadaNya !!!

#17. Dikirim oleh isma  pada  29/09   10:44 PM

Perintah puasa adalah ‘pintu’, artinya bukan bagaimana melewati pintu tsb akan tetapi bagaimana polah kita setelah lewat pintu tsb. Melaksanakan puasa itu termasuk berat, menahan lapar, haus, dll padahal saat yg sama kita mampu dan tersedia apa2 yg boleh kita makan minum, dan kita gauli. Itulah intinya. Sementara banyak orang2 yg tidak ada kemampuan utk itu krn keterbatasan (kemiskinan).  Jadi kalau setelah puasa tidak mampu mengendalikan diri, atau bahkan malah mengambil haknya orang2 yg tdk ada kemampuan seperti diatas, atau tetap mengkorupsi hak2 orang miskin, artinya puasa kita tdk kena sasarannya.

#18. Dikirim oleh hariadi  pada  01/10   09:24 PM

Puasa adalah ibadah pemasrahan diri thd Tuhan,Allah. Jadi kita berikan segala nafsu dunia kita kepada Allah. Tidak perlu kita perlihatkan ibadah kita kpd manusia dan tidak perlu berharap penilaian dari manusia.Tidak perlu mendapat pengakuan saleh dari manusia. Untuk apa?

#19. Dikirim oleh kiai mbeling  pada  09/10   07:01 AM

Perbedaan puasa ala Mahatma Gandhi, sebagai berikut : (1) ada ajaran dalam hindu berpuasa tapi mereka minum susu pagi hari, tapi dalam islam tidak makan dan tidak minum sampai berbuka,islam lebih keras dalam mengendalikan diri dari hal-hal yang membatalkan pahala puasa. (2) Mereka puasa pamer/riya’, ingin dilihat manusia, ingin menarik simpati, tapi dalam islam tidak boleh pamer/riya’ dan berpuasa dengan dasar keikhlasan karena Allah semata-mata, bukan karena lainnya. (3) Puasa dijadikan alat untuk memperjuangkan kemerdekaan, dalam islam memperjuangkan kemerdekaan, kebenaran dan keadilan dengan dakwah, dengan hikmah, bukan dengan kekerasan atau metode lainnya. Berperang hanyalah keterpaksaan karena kebebasan beragama dirampas. (oleh kafir Quraisy di jaman nabi, dan nabi tidak pernah memerangi kafir Quraisy). perlu dicatat : (1) perang dunia (pertama dan kedua)bukan dari umat islam, (2) mana ajaran islam kalau harus meniru metode tuan Gandhi, atau meniru metode tuan Bush?

#20. Dikirim oleh Sulaiman  pada  15/10   02:33 AM
Halaman 1 dari 2 halaman 1 2 > 

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?