Wawancara,
02/02/2004

KH Hussein Muhammad: Qurban Memutus Tradisi Membunuh Manusia Demi Tuhan

Oleh Redaksi

Idul Adha dan peristiwa qurban tidak hanya dimaknai sebagai wujud kepasrahan Nabi Ibrahim yang total kepada Tuhan. Keduanya juga mempunyai makna pembebasan manusia dan nilai-nilai kemanusiaan dari kesemena-menaan manusia atas lainnya. Ketika Tuhan mengganti Ismail dengan seekor domba, tersirat pesan yang ingin memaklumkan manusia agar tidak lagi menginjak-injak manusia lain dan harkat kemanusiaannya.

02/02/2004 03:43 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (3)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Saya terkesan dengan makna yang diangkat oleh Pak Kiyai pada peristiwa perayaan Idul Qurban.

Tersirat suatu pesan nilai kemanusiaan didalamnya yaitu pesan yang ingin memaklumkan manusia agar tidak lagi menginjak-injak manusia lain dan harkat kemanusiaannya.

Bersamaan dengan ini, saya turut prihatin atas kondisi kemanusiaan sekaligus terhadap hak-hak asasinya di segala lini kehidupan manusia di Indonesia. Tidak terkecuali di pesantren-pesantren yang notabene tempat orang menimbah ilmu agama Islam. Sebagai contoh kecil, sorang santri tidak mudah mengungkapkan pendapat pribadinya karena hal itu bertentangan dengan apa yang diyakini oleh sang Kiai Pesantren.

Sebagai seorang Kiai yang mengangkat isu hak-hak kemanusiaan, seyogyanya Pak Kiai juga harus mengiplementasi kondisi ini di tempat dimana pak Kiai mengajar. Tidak sampai disitu saja, nilai-nilai kemanusiaan tadi selayaknya diimplemantasi di seluruh nadi kehidupan Indonesia.

terima kasih

#1. Dikirim oleh Safri Saleh  pada  05/02   03:02 PM

Jika memang ibadah qurban ini merupakan simbol dari sikap total surrender seorang Ibrahim kepada Gusti Allah, dengan mengorbankan Ismail putranya, maka mengapa umat Islam terus-menerus gemar melakukan penyembelihan terhadap hewan-hewan yang tidak bersalah pada setiap perayaan Idul Adha? Dan bukan hanya dalam Islam, namun dalam agama-agama/tradisi lain pun pengorbanan hewan masih saja dilakukan. Sangat ironis sekali, kita tidak mampu menyembelih “hewan-hewan” di dalam diri, berupa nafsu dan keserakahan, lantas kita mengambil gampangnya saja dengan cara melakukan pengorbanan dan penyembelihan hewan. Sudah sekian lama pemahaman manusia begitu naif terhadap makna qurban yang sesungguhnya. Qurban sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah, tidak bisa dilakukan dengan cara menyembelih hewan, melainkan harus dengan cara berupaya keras mengenal diri sendiri, lalu mengendalikan dorongan nafsu hewani. Mengenal diri sendiri akan mengembangkan rasa cinta kasih sehingga mampu berbuat adil dan menyayangi serta rasa peduli terhadap penderitaan sesama makhluk hidup tanpa pilih kasih. Pengorbanan hewan merupakan tindakan kekerasan terhadap sesama makhluk yang hanya akan melunturkan kasih di dalam diri manusia. Jika ritus ini masih saja dilakukan, bagaimana dapat diharapkan pribadi yang penuh kasih dan adil?

#2. Dikirim oleh Arief Rahman  pada  06/02   11:02 AM

Irwan Ghailan, Feb 11, 2003   http://irwan.web1000.com/salah_qurban.html

  Saya memberanikan diri mengoreksi kesalahpahaman seputar ibadah Kurban (Qurban). Perintah berkurban sebenarnya telah ada sejak jaman Adam bukannya mulai di jaman Ibrahim, sebagaimana Isi sebagian Alquran surat 5 ayat 27.  “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban…”

Sedangkan kisah penyembelihan Ismail oleh ayahnya, Nabi Ibrahim, haruslah dianggap sebagai sejenis ayat kiasan / perumpamaan, jadi tidak benar-benar terjadi (surat 29:43:). Hal ini dikarenakan bila peristiwa ini pernah benar-benar terjadi, ada beberapa kejanggalan:

Gambar diatas hanya ilustrasi.

Apabila Tuhan menguji Nabi Ibrahim dengan cara menyuruhnya menyembelih (membunuh) Ismail, bukankah ini sama saja umpamanya apabila Tuhan menguji Nabi Muhammad dengan cara menyuruhnya minum khamr (alkohol) atau berzina? Membunuh manusia, minum khamr dan berzina adalah merupakan jenis perbuatan yang sama yaitu perbuatan haram bukan? Bagaimana mungkin Tuhan menguji seseorang dengan sesuatu perbuatan / hal yang haram?  Eksistansi Ismail, sang anak, sebagai hamba Tuhan yang independent ditiadakan, karena pada saat itu ia hanya diperlukan sebagai alat uji (obyek). Jadi seakan-akan Tuhan pada saat itu mengabaikan keberadaan Ismail sebagai seorang hamba selama beberapa jam. Tuhan yang aneh bukan? Bila peristiwa ini dimaksudkan juga sebagai sarana Tuhan menguji Ismail, bukankah Ismail saat itu masih seusia anak SD (belum baligh)? Kalaupun Ismail ditafsirkan sudah baligh, tetap saja peristiwa ini aneh (lihat point 1 diatas).  Rahasia Kisah penyembelihan Ismail adalah “kisah penyembelihan” ini diciptakan (berdasarkan wahyu Tuhan) oleh Nabi Ibrahim untuk mengkritik / mengkoreksi atas kebiasan suku-suku pagan (penyembah berhala) pada masa itu yang sering menggunakan kurban darah manusia (biasanya perawan / anak-anak) kepada para dewa / berhala mereka. Disini Ibrahim hendak menunjukan bahwa Tuhan tidak membutuhkan darah / daging manusia, cukup darah / daging hewan saja, yang Tuhan inginkan hanya niat baik seseorang saja. Mengenai kebiasaan semacam suku pagan ini bahkan masih ada hinggga masa kalifah Umar bin Khatab, sekitar 2.000 tahun setelah masa Ibrahim, dimana suatu suku merencanakan melempar kurban gadis perawan ke sungai Nil agar airnya tidak pernah menyusut.

Sebagai tambahan dalam Alquran tidak ada cerita secara tersurat maupun tersirat tentang Ibrahim meninggalkan Siti Hajar yang saat itu masih menyusui Ismail begitu saja di suatu tempat di padang pasir. Islam tidak pernah mengajarkan seorang suami melepaskan tanggung jawabnya atas istri dan anaknya. Jadi adanya cerita asal-usul sumur Zam-Zam yang muncul karena Ismail menangis kehausan sementara Ibunya hilir mudik antara Shafa dan Minna mencari sumber air karena air susunya kering (nama kedua tempat ini saya agak-agak lupa) dapat dipastikan hanyalah sebuah legenda / dongeng pengantar tidur anak-anak padang pasir.
——-

#3. Dikirim oleh Irwan  pada  22/02   10:03 AM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?