Wawancara,
29/05/2006

Ahmad Taufik: Radikalisme Hanya Ekspresi Sekelompok Orang

Oleh Redaksi

Iklim kebebasan dan kemerdekaan bukanlah pemberian, tapi sesuatu yang harus direbut dan dipertahankan. Untuk itu, kebebasan pun perlu tentara-tentaranya sendiri. Sebab, musuh-musuh kebebasan juga punya balatentara yang siaga. Berikut perbincangan Novriantoni dari Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan Ahmad Taufik, ketua Garda Kemerdekaan, organisasi yang fokus memperjuangkan kemerdekaan warga negara, terutama dalam menjalankan agamanya.

29/05/2006 20:22 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (8)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Saya mulai lelah mendengar pernyataan: “Radikalisme hanya ekspresi sekelompok orang” atau pernyataan senada. Faktanya memang demikian. Tetapi, hasil survai yang telah dilakukan menunjukkan kalau arus pemikiran masyarakat kita (muslim) sudah terbawa ke arah menyetujui tindakan2 radikal, paling tidak dari tujuan/maksudnya bukan tindakannya.

Kok sepertinya, memang berislam yang benar itu ya berislam dengan tujuan2 yang diusung kaum radikal itu. Menjalankan syariah, oke. Menghambat misi2 agama lain, oke. Mengekang hak2 pribadi karena itu diatur di Qur’an dan hadits, oke. Mereka punya alasan2 teologis yang ‘kuat’. Tafsir2 alternatif spt yg diusung JIL) lemah dasar teologisnya di mata awam, mungkin karena argumentasinya ‘njelimet’ dan tidak bisa dibawakan dg sederhana di khutbah2 Jumat atau mimbar2 keagamaan yang lain.

Bagaimana ide-ide JIL dan organisasi2 antikebebasan bisa diterima masyarakat, bila tidak pernah memberikan alternatif yang nyata-nyata baik (misalnya menikah beda agama tidak apa-apa tetapi bukti syariat dan kenyataan pendukungnya tidak kuat), dan mudah diterima masyarakat?

Semoga Allah melindungi kita semua dari keterperosokan kebudayaan yang sudah kita miliki selama ini.

#1. Dikirim oleh P Sumanto  pada  29/05   08:05 PM

Menarik bener tuh Mas Taufik. Tapi yang jadi kekhawatiran adalah biarpun mereka sekelompok orang tapi gerakannya itu lho yang hebat! lihat saja berapa PERDA yang bisa muncul dengan muatan yang relatif sama dalam waktu yang hampir bersamaan. kalau tidak denga perencanaan yang matang, kayaknya kok ya nggak bakalan deh kita punya PERDA yang kayak gitu. Mungkin itu agenda, ya. he..he..he.., kadang-kadang saya suka dengan permainan teori konspirasi untuk menguji kesensitifan saya dalam hal-hal kayak begini.

Atau barangkali memang sekarang gaya pertempuran para pejuang kita lagi dipakai, ya. Dulu kan pejuang kita pakai model gerilya, dan mungkin aja ini memberi inspirasi sebagian itu pada saat kita sibuk mikirin BBM, Listrik, dll, dsb.

Jadi, biarpun sedikit tapi kenceng bo!

#2. Dikirim oleh wahyu w  pada  29/05   10:05 PM

Saya sepakat ketika kebebasan mesti diperjuangkan. Karena bebas atau tidak saya kira adalah pilihan. Jadi, mau bebas atau mau tidak bebas, yang penting hanya perlu saling menghormati dan menghargai. Yang ingin bebas ya dihargai, sementara yang ingin tidak bebas pun mesti dihormati.

Ingat, isi kepala dari setiap orang itu berbeda, sehingga sangat wajar jika terjadi perbedaan di sana-sini, termasuk dalam interpretasi terhadap Islam. Yang penting: kebebasan harus disertai tanggung jawab.

Hidup kebebasan!

#3. Dikirim oleh Vina  pada  30/05   05:05 PM

Sungguh telah terjadi ketergesa-gesaan dalam menuduhkan sesuatu dalam menyikapi gejala yang berkembang di negera kita. Saya tidak mengerti kenapa mas Taufik tega berkata seperti itu? Memangnya atas dasar apa mas bicara seperti itu?

Soal penyerangan Gus Dur, itu cuma fitnah saja. Bahkan Gus Dur sendiri membantah dirinya telah diusir. Tolong masalah ini tidak perlu didramatisir mas.

Reno

#4. Dikirim oleh Reno afrian  pada  31/05   01:05 AM

Perumpamaan sebuah dakwah bagaikan 3 unsur pada judul di atas sumur, timba, dan ember. Kita tentunya tidak berdakwah dengan mengusung sumur ke mana-mana, karena hanya orang gila yang bisa ngangkat sumur. Sebagai nara sumber tidaklah perlu mengusung sumur kemana-mana, atau dengan kata lain tiap tempat mengeruk tanah untuk buat sumur, waktu hidup anda habis untuk membuat sumur sahaja.

Kemudian timba, dengan berbekal timba tanpa ember hanya akan mendapatkan air setetes yang nempel di tali timba. Yang terakhir ember, orang ngusung ember kemana-mana ya ngga pantas kalu ngga ada isinya, tanpa timba ember ngga ada fungsinya apa-apa, wajar dong kalau ngga ada apa-apanya dibilang ember….

Beberapa tulisan mengenai islam liberal memang ngga nyangkut-nyangkutin masalah teologi, jadi teologi disini hanyalah mewarnai sifat2 dari aspek teologi sebuah permasalahan bukan menyangkut masalah unsur keteologian itu sendiri. Unsur teologi mau dibolak-balik dengan apapun ya hanya menghasilkan teologi yang sama.

Radikalisme hanyalah sebuah ekspresi orang yang tidak tahan melihat keadaan dunia namun dia tidak bisa apa-apa. Radikal terhadap teologi adalah wajib, namun radikal terhadap hal-hal yang bersifat praksis memerlukan sebuah percontohan, kemudian kalau radikal terhadap pemimpin apa bedanya dengan ABS?

Pengadilan inkuisisi menyajikan kepada kita kebodohan bangsa Europe menjelang abad medieval. Hitler membatasi ilmuwan yang hanya bisa “bekerja sama” dengan Nazi, Mullah Iran membelenggu kemerdekaan keilmuan, itulah sekeping peristiwa yang telah mengekang ilmu pengetahuan dan perkembangannya.

Ada perbedaan mendasar antara khwarismi dan khwariji, khwarismi adalah anak turunnya bangsa Persia dimana telah maju kebudayaannya sejak berabad-abad sebelum masehi, dan itupun oleh Rasulullah saw memakai tenaga dan fikiran Salman alFarisi :: farisi=persia khwariji adalah sekelompok orang yang memanfaatkan pertikaian pada perang Ridda dan ingin mendirikan gerakan baru berlabel ittiba Rasul dengan cara pandangnya sendiri.

Kalau khwarismian meneliti iptek akan bertambah keyakinannya namun khwarijites meneliti iptek akan goyah keyakinannya karena tidak mempunyai budaya keilmuan yang tinggi.

Mana yang kita cenderung suka, sumur dibawa jalan-jalan atau ember yang dibawa jalan-jalan? (bersambung)

#5. Dikirim oleh WAN Razifuddin  pada  31/05   05:06 AM

Saya sangat mendukung pendapat Mas Ahmad Taufik, karena pemikirannya sangat teduh, menyejukkan dan kentara mempunyai pergaulan, pendidikan serta wawasan yang sangat luas dengan siapapun. Sangat menghargai & menghormati adanya perbedaan pendapat, pemikiran, faham, dan keyakinan orang lain. Pemikiran seperti itulah sebagai dasar-dasar pemersatu dan perekat bangsa yang terdiri dari berbagai perbedaan (suku, ras, agama, budaya, dll).

Selama banyak orang yang sangat ngotot, kaku dan fanatis mengaku/mengklaim bahwa hanya keyakinannya saja yang paling benar /kebenaran, sorga dan keselamatan itu mutlak hanya milik kelompok/golongannya saja, maka kita akan sulit bisa bersatu/kokoh. Bangsa kita akan kian lemah dan rapuh. Ya, bangsa kita akan gampang di obok-obok /disusupi musuh dari luar akibat dari selama ini senangnya mempeributkan masalah perbedaan keyakinan/faham, kita sering bertengkar, bermusuhan, saling benci, saling dendam, saling aniaya, saling tuduh, saling hina, menekan kelompok lemah/minoritas,  neror/ngebom saudara sendiri,  bahkan saling bunuh-bunuhan karena terus mempeributkan keyakinan/faham dan juga karena selalu ingin seragam (satu keyakinan/faham). Hal ini tentu membuat bangsa kita semakin lelah/capek.

Ironisnya, kenapa keributan/tindakan-tindakan anarkis itu terus terjadi dan kian bergelora di Indonesia ini. Kenapa hal itu seperti terkesan dibiarkan dan bahkan seperti mendapat angin segar.Tidakkah cukup peringatan-peringatan maha dahsyat (seperti gempa bumi, tsunami, banjir bandang, tanah longsor, kecelakaan kereta api/pesawat, kebakaran, angin topan, letusan gunung berapi, bom, kerusuhan-kerusuhan, dll)  yang sering kali telah terjadi di Indonesia ini ?? Tidakkah kita pernah sadar bahwa kita ini adalah bersaudara sebagai salah satu makhluk yang diciptaan oleh Tuhan Yang Maha Tunggal. Kebetulan saja kita terlahir dengan fisik berbeda, sifat/watak berbeda, keyakinan berbeda, ras/suku berbeda, dll, akan tetapi kita diciptakan oleh Tuhan Yang Esa (Maha Tunggal). Jadi selama ini tidak pernah disadari, maka kita bakal tetap tidak pernah akur, selalu bermusuhan dan bertengkar terus. Barangkali kita baru sadar dan mau akur setelah terjadi peringatan yang lebih dahsyat/super dahsyat atau semuanya dihukum/disiksa berat/diremes-remes oleh perbuatan kita sendiri. Nah kalau sudah begitu, bisa kita dibayangkan apa yang bakal terjadi (sakit luar biasa/Azab dan sengsaranya) !! Bisakah/ada jaminankah dari keyakinan yang selama ini kita agung-agungkan paling benar itu bisa melindingi dan mengampuni kita jika keyakinan itu baru hanya dipahami cuma sebatas pintar bicara/berteori, rajin sembahyang, pintar beceramah, eklusif,dll, tetapi pengamalan, pelaksaanya/implementasi dari ajaran-ajaran agama itu terhadap sesama manusia dan makluk -makluk lainnya adalah hampir nol persen?? Mari kita renungkan !!

#6. Dikirim oleh Sari  pada  31/05   04:06 PM

Setuju dengan P Sumanto, cape kita mendengar bahwa kekerasan itu hanya oknum. Logika oknum itu kan jika melanggar dari yang normatif, sedangkan yang ini justru menggunakan justifikasi yang ada dalam kitab suci.

Dengan niat menjaga kemurnian ajaran agama (dengan cara tidak diperkenankannya untuk diterjemahkan) justru berakibat begitu lentur dan karetnya penafsiran isi kitab suci. bagi umat non-arab untuk bisa menafsirkan isi kitab suci (versi pribadi masing-masing) terlebih dahulu menterjemahkannya ke dalam bahasa masing2 (indonesia katakanlah demikian) baru kemudian baru bisa menafsirkan dan memahaminya.

Akibatnya penafsirannya kontekstual dan cenderung asal sesuai dengan kehendak hati, asal menguntungkan. Namun masyarakat yang ada khususnya di Indonesia ini sudah terbiasa menggunakan saja tafsir yang sudah ada, jumlahnya banyak, (yang sahih menurut aliran yang diikutinya) dan tafsir itupun sesungguhnya lebih hanya menambahkan kata2 sisipan supaya kalimatnya menjadi lengkap dan enak dibaca (karena kitab suci nya sendiri apabila di terjemahkan secara leksikal aneh dan sulit dimengerti). Kalau menurut hemat saya yang terbaik adalah adanya terjemahan/tafsir yang baku yang berlaku di seluruh dunia, walaupun misalnya tetap dalam bahasa arab, sehingga langkah untuk memahami/menafsirkan oleh umat dibelahan dunia lain yang bukan arab setidaknya gak berbeda banyak. Dan yang paling penting lagi adalah semangat untuk meng-eliminir justifikasi penggunaan ayat-ayat yang sifatnya permusuhan, tetapi ke depankan lah ajaran untuk saling mencintai sesama.

Peace

#7. Dikirim oleh H Suyana  pada  31/05   04:06 PM

Bahwa kita tahu penyakit tersebut (SPILIS) sebelumnya tidak mewabah apalagi endemik di indonesia, jika tidak ada orang-orang yang berusaha menularinya.  Awalnya penyakit ini diderita oleh ummat pasca penghancuran khilafah islamiyah ustmani oleh kemal pasya (sang durjana) turunan yahudi dunnama, yang merupakan agen london yang ditanam oleh london di tubuh khilafah.  Kemudian akhiernya hingga saat ini atas nama melindungi kebebasan, mereka para penular SPILIS ini, membenturkan, menyihir dan memutar balikan fakta, hadist yanh Haq.  Kami telah ketahui siapa agen dibalik penular SPILIS itu, yakni dari masa MUKTI Ali sampai ABDUL M.AL GHAZALI.  kemudian organisasi rektif lainnya seperti GARDA KEMERDEKAAN dan yang lainnya yang menularkan penyakit berbahaya itu.  Katakanlah mereka sang penular itu dengan sokongan tuannya sang pemilik ide kebebasan terus-menerus meracuni ummat, maka DEMI ALLAH ZAT YANG MAHA TAHU MAKAR MUSUH-MUSUH AGAMANYA (saya berani taruhan) kalian semuanya akan diHANCURKAN !!!
——-

#8. Dikirim oleh Abdurrhman MA  pada  25/06   04:06 AM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?