Jalaludin Rakhmat: Rahmat Tuhan Tidak Terbatas
Oleh Redaksi
Saya sering bicara tentang Islam di banyak gereja. Lalu banyak orang yang bertanya, sejak kapan Islam mengajarkan pluralisme? Kalau dalam Katolik baru dimulai sejak John Paul II atau Paus Johanes Palus II. Saya lalu katakan, pluralisme ada sejak zaman Rasulullah.
Komentar
Kang Jalal, Ketika saya membaca pikiran-pikiran kang Jalal, saya menjadi semakin tercerahkan, bahwa al-Qur’an mengajarkan kepada manusia bagaimana seharusnya kita dihadapan mereka yang secara teologis berbeda, sehingga sentimen teologis yang berimplikasi pada truth claim dan salvation claim tidak perlu ada. Karena itu fenomena radikalisme agama yang melegalitaskan adanya kerusakan atas nama agama/Tuhan sesungguhnya adalah akibat dari rasa putus asa yang tidak siap dalam merespon arus globalisasi. Dan sesungguhnya, secara historisitas, munculnya fundamentalisme agama tidak lain adalah akibat dari ketidakdewasaan dalam beragama. Tesis ini benar adanya, seperti yang dikatakan oleh Karen Armstrong bahwa ketika umat Islam mencapai puncak kejayaannya justru mereka sangat menghargai pluralisme. bahkan tak kurang-kurang banyak ayat-ayat al-Qur’an yang berbicara tentang pluralisme. (shofan UM-Gresik)
Kang Jalal : Saya jawab dengan analogi juga. Saya punya sekolah SMU plus Muthahhari. Saya katakan pada anak-anak bahwa semua anak-anak SMU plus Muthahhari berhak ikut ujian akhir, dan anak-anak sekolah lain pun berhak ikut ujian akhir. Tapi soal lulus atau tidaknya, tidak ditentukan oleh SMU plus Muthahhari. Yang memutuskan hasil akhirnya, pada prinsipnya adalah amal kita, kerja keras kita. Semua anak Muthahhari akan mengerti itu. Mereka pasti tidak akan pindah sekolah hanya untuk mendapat hasil baik dalam ujian. Artinya, kalau semua agama beranggapan bisa beramal saleh di dalam agamanya sendiri-sendiri, itu tidak berarti kita mesti pindah-pindah agama; pagi Islam, sore Kristen. Tidak sama sekali. Itu juga tidak berarti kita perlu menjalankan ritual-ritual keagamaan yang berbeda-beda. Setiap umat Islam menjalankan syariat Islamnya, tapi tak boleh menggunakan syariat itu untuk menilai agama lain.
Komentar : Bagaimana kita bisa tahu jika agama bisa dianalogikan dengan sekolah seperti yang kang Jalal lakukan. Sebab hal yang sama juga bisa saya analogikan begini : Sekolah itu ada yang legal dan ijazahnya diterima dan ada yang tidak. Dalam hal ini hanya islamlah yang diterima sebagai sekolah yang legal dan sah. Sesuai ayat al-quran 3:185 :
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”
Al-Quran 3:19 : Sesungguhnya agama disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.
Saya heran bagaimana kang Jalal bisa lupa pada ayat ini, atau bagaimana ayat sejelas ini bisa dipelintir dengan kacamata kaum pluralis ?
Apakah semua lulusan “sekolah” islam itu masuk surga, itu masalah lain. Sebab dalam sekolah yang legal pun ada yang DO, nilainya kurang dll
Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An-Nisa : 65). Untuk Orang jil dan konco-konconya, sebenarnya banyak ayat yang mematahkan logika berfikir anda-anda. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.(QS. Al-Maidah : 44). Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.(QS. Al-Maidah : 45). Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.(QS. Al-Maidah : 47)
Mas, semua ayat dari kitab suci apapun harus dibaca sesuai dgn konteksnya, dalm konteks dgn ayat2 sebelum dan sesudahnya dan juga dalam konteks yg lebih luas. Kalau anda membaca dgn logika terbalik, yakni lebih memusatkan diri pada yg “kecil2” dahulu, lantas berusaha mencari the “big picture”.. maka niscaya ya anda sama dgn kalangan fundamentalis - agamam apapun yg mana banyak ayat dipelintir utk melakukan kekerasan, pemaksaan kehendak, dll. Kristen pernah, Katolik pernah, Islam pun pernah. Dan buku Karen Armstrong pun menjelaskan sisi2 gelap dari kejayaan Islam. Logika terbaik adalah mengerti dahulu “the big picture”, dan dari situ anda bisa memahami ayat2 tsb dlm sebuah konteks yg mempunyai arti lebih dalam. Saya kira ini adalah apa yg dimaksud oleh Kang Jalal (kalau salah, mohon maaf Kang!!!). Mengenai anda yakin bahwa “sekolah” anda adalah yg paling legal. Dan justifikasinya adalah “buku sekolah” anda sendiri. Maka pertanyaan saya berikutya, lha yg jadi Depdiknas itu siapa? Allah SWT atau individu2 yg berusaha bermain jadi “tuhan2an”? Seringkali yg terjadi adalah yg kedua dimana individu2 merasa dirinya paling sholeh, paling berhak bermain dgn kapasitas sbg “tuhan” (huruf t kecil bukan T besar). Disinilah logika Kang Jalal masuk dimana Islam dipusatkan sbg sebuah rahmat bagi alam semesta jagat yg maha majemuk ini….. bagaimana Islam bisa memainkan peranan lebih positif bagi peradaban ini. Bukan hanya hantam kromo, ayat ini begini begitu, kamu kafir/bukan, dll. Inilah tantangan Islam terbesar saat ini dan berterimakasihlah pada keberadaan orang2 spt Kang Jalal bukan pada orang2 yg masih sempit dan dangkal logika keberagamaannya. Sbg contoh, pernahkah Nabi Muhammad SAW menganjurkan ummatnya agar bertindak kekerasan dan tidak adil. Bahkan utk membalas sebuah ketidakadilan pun, dia lebih memilih “berkat” utk yg tidak membalas. jadi boleh saja tp akan lebih baik bilamana tidak. Bukan kepribadian seorang Nabi Muhammad SAW utk bertindak keras. Lantas drmn sebenarnya logika2 kaum fundamentalis ini datang dgn kekerasannya, pemaksaannya, kedangkalan berpikirnya, dsb yg konon junjungan tertinggi mereka adalah Nabi Muhammad SAW sendiri. Yg salah siapa ya ? Agama lain juga begitu Mas. Irlandia perang2an. Apa yg salah Nabi Isa as? Atau ya yg dangkal itu adalah sekelompok pengikutnya yg keblinger. Simpel kan ? Kalau anda semua bisa memakai logika ini, dunia ini akan jauh lebih baik.
Saya sependapat dengan Mohammad Ishaq, karena Allah berfirman “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam ” (Ali Imran ayat 102). Bagaimana kang jalal bisa lupa ya.. dng ayat ini… Lalu tafsir apalagi yg kang jalal pakai untuk menta’wil “Illa wa antum muslimuun “. Menurut saya faham pluralisme hanya akan memadamkan semangat jihad saja yang memang pada abad ini semangat itu benar-benar dibutuhkan guna membendung “perang urat saraf” produk Yahudi dan Nasrani yang tidak akan pernah ikhlas/ridho dengan Islam. Demikian tanggapan saya, mudah2an kang jalal berkenan menanggapinya juga atas tanggapan saya ini.
Wassalam
Menanggapi postingan mohammad Ishaq Al-Quran 3:19 : Sesungguhnya agama disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. Islam bukanlah nama sekte ataupun kata benda, Islam adalah kata sifat. Makna dari Islam adalah berserah diri dan dalam bahasa Ibrani adalah Taslam.
Dien di sisi Allah adalah Islam Dien di sisi Allah adalah berserah diri.
Itu adalah benar belaka, karena semua mahluk suka dan tidak suka harus tunduk kepada segala keputusan-Nya. Sehingga dien yang benar adalah berserah-diri kepada-Nya. Di kalimat selanjutnya disebutkan bahwa Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) pun tahu tentang hal itu. Dimanakah ada Islam dalam Nasrani? Ada di doa Bapa Kami mereka. Bapa kami di surga, JADILAH KEHENDAKMU
Sehingga ISLAM = BERSERAH DIRI itu lah sebenarnya makna sebenar dari ISLAM. Dan bukan mengucap dua kalimat syahadat seperti yang diajarkan oleh ulama kebanyakan. Silahkan Anda bulak balik Al-Quran dimanakah ada perintah untuk mengucapkan dua kalimat syahadat? Dan sebagai bahan renungan bacalah Al-Munafiqun terutama ayat yang pertama.
Salam / Peace
Senada dgn tanggapan saya utk Mas Ishaq. Boleh2 saja anda asal2 comot ayat lantas dgn elmu “gathuk-gathuk” anda mengait2kan satu ayat dgn ayat lainnya, anda bangun utk menjustifikasi argumen anda. Sah2 saja. Tp pertanyaan saya adalah - apakah iya logika berpikir anda yg paling benar? Kalao iya, lantas apakah ya anda itu adalah “wakil” Allah SWt sendiri yg berhak men-judge siapa benar/salah? Bukankah “hak previledge” ini adalah milik Allah SWT semata, bukan manusia. Allah SWT mencipta manusia bermacam2 walaupun kalau Ia mau, tentu bisa diciptakan satu kelompok saja. Lantas kenapa? Karena Ia mau manusia semua berkompetisi… berkompetisi utk berbuat kebaikan, berkompetisi utk kemanusiaan, berkompetisi utk kemajuan peradaban. Inilah esensi Islam yg harus dipahami sbg sebuah “rahmat” bukan sebuah “bencana” seperti yg diwacanakan oleh orang2 yg berwawasan sempit. Tantangan Islam terbesar saat ini adalah dari dalam dirinya sendiri -yaitu kita memiliki dunia skrg yg masih jauh dari sempurna tp toh ada positif disana sini. Lantas bagaimana Islam bisa memberikan kontribusi thd perbaikan positif peradaban ini bilamana konsep berpikirnya adalah: * Kita tidak bisa merubah apa2 kalau kami tidak diberi kekuasaan. -> jelas ini logika yg dipakai kalangan fundamentalis dimana mereka berusaha dgn cara halal/tidak halal merebut kekuasaan dgn permainan politik kotor, pemaksaan kehendak, peng-kafiran orang lain, dsb. Logikanya adalah peradaban dunia ini harus dihancurkan dan hanya mereka yg bisa membuat peradaban baru. Lantas bagaimana Islam bisa merangkul “orang lain” utk mendukung pemerintahan semacam ini ? Ujung2nya adalah…... ya benar sekali…. KEKERASAN, PEMAKSAAN!!! Saya berikan contoh, orang Hizbut Tahrir ribut dgn runtuhnya Khalifatullah Ottoman dgn segala dalih yg mereka sebutkan, dari mulai konspirasi dsb. Sebenarnya apa sih baiknya memiliki khalifatullah ? Hanay sebuah penyaluran “berahi” kekuasaan ? Apakah mereka “islami”?? Pernah denger bagaimana Ottoman “membasmi” dgn cara genosida orang Armenia yg notabene adalah Nasrani? Inikah cara2 islami ? Pasti jawaban mereka adalah self denial. Jadi pembantaian yg terjadi apakah monopoli orang Yahudi semata skrg dgn Zionisme nya ? Atau mungkin Bosnia oleh Serbia ? Bukankah orang2 Islam pun pernah melakukan kejahatan2 serupa….memang bukan semua…tp toh pernah. Baca kembali buku Karen Armstrong. Kalau anda sudah bisa melihat semua ini dr kacamata yg lebih jernih, niscaya anda bisa menemukan “Sang Khalik” dari kacamata yg lebih luas karena pada akhirnya itu adalah apa yg anda lakukan pada ummat manusia adalah sumbangan anda utk Allah SWT.
Menjadi Pluralis tidak semudah orang membalikkan tangan, itulah yang saya alami. Sejak masa anak2 kita telah dicekoki oleh doktrin2 dan kepercayaan yang kuat bahwa agama kitalah yang benar, kita terbiasa oleh pengkotak-kotakan pergaulan, pengelompokan, dan keisme-an yang tinggi seakan-akan kitalah yang terbaik. Entah dari umur berapa saya merasa “menjadi” yang terbaik itu karena Etnis saya yang dari keturunan Cina yang merupakan etnis TERbanyak didunia belum lagi agama Saya Kristen yang merupakan agama TERbanyak dianut dibawah kolong langit ini. pergaulan saya dari anak2 sampai dengan dewasa hampir 90% bergaul dengan etnik dan orang2 yang seiman. Baru setelah saya dewasa sekitar umur 30 tahunan merasa sadar bahwa kita hidup didunia tidak terlepas oleh beragam perbedaan2 yang harus kita terima bukannya kita lawan, dan itulah maka saya sangat-sangat menghargai orang2 seperti Gus-Dur, Alm.Cak-Nur, Jalaludin Rakhmat, M.Sobary, Goenawan Mohamad, Syafi’i Maarif, Masdar F Masdu’i dan lain-lainnya yang berjuang untuk tegaknya Pluralisme di Indonesia. Saya angkat topi bagi mereka2 yang berjiwa Pluralis dan itu tidak mudah, sejak ini pulalah saya mengikrarkan diri menjadi Pluralis sejati.
Romo Franz Magnis Suseno dalam acara Muslim Moderat di TVRI tanggl 14 Oktober 2006 : menyatakan menghargai umat beragama lainnya bukan berarti meyakini agama lain adalah kebenaran. Tapi anehnya orang2 seperti Kang Jalal, Syafii Anwar dll memaksakan opini bahwa semua agama benar. Sampai2 ayat yang jelas jelas menolak pendapat pribadi mereka diabaikan. Ada apa ya sebenarnya ? Terima kasih jika postingan ini dimuat, postingan ini bukan fitnah/bukan cacai maki, tapi fakta, silahkan cek ke TVRI.
Saya tidak akan berpanjang lebar. namun satu hal yang saya lihat dari cara berpikir sdr moh. ishaq (dan kawan-kawan Islam fundamental lainnya), dia masih menggunakan sudut pandang yang sempit dalam melihat hal sebesar ini, sangat sayang bagi orang yang (mungkin) terpelajar. maka dari itu saya hanya menganjurkan sdr moh. ishaq untuk membuka Al Qur’an dan membaca dengan seksama surah Al Baqarah ayat 62 dan surah Al Maaidah ayat 68-69. selamat membaca dan tolong direnungkan dengan hati yang bersih bukan dengan hati yang dikotori dengan nafsu. apabila anda masih menyangkal ketiga ayat tersebut, saya khawatir anda adalah salah satu orang yang dikategorikan sebagai orang-orang kufur, yaitu orang-orang yang menutup diri dari kebenaran, kebenaran Al Qur’an.
Wassalam
tentang hal ini rasanya polemik Cak Nur dengan beberapa kalangan beberapa waktu lalu tidak dapat jawaban balasan yang memuaskan dari Cak Nur. artinya bantahan dari pihak yang tidak sependapat tidak dapat dikounter ulang oleh Cak Nur.
mas wahyu tolong dibolak-balik lagi filenya.
Dalam Al-Quran Allah SWT telah berfirman,“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut[162] dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. QS Al-Baqarah :256.
Pesan saya untuk Kang Jalal, kalau memang sering ke Gereja. Tolong bilangin sama Rekan- rekan kita yang dari Kristen agar mereka nggak usah merayu-rayu orang- orang miskin Islam untuk beralih agama menjadi Katholik atau Protestan. Toh kalau pun si Miskin tadi tetap dalam Islam dia tetap bisa menuju Tuhannya. Kalau mau bantu silahkan bantu tetapi jangan terus menerus diajak ke pertemuan- pertemuan yang bernama Agama sehingga lama- lama menjadi Kristen. Silahkan pake logika Kang Jalal, untuk menyadarkan Rekan- Rekan kita tersebut.
Terima kasih Semoga Allah SWT selalu memberikan petunjukNya kepada kita semua, Amin.
Saya mengenal tulisan-tulisan Kang Jalal lewat buku2nya. Menarik, jika ditinjau secara akhlaq keislaman, bahwa berbuat baik kepada siapapun adalah benar. Dalam beberapa hal untuk pembahasan masalah moral, tulisan spekulatif memang bagus. Apalagi kalau nyeni, sastra banget. Seperti kutipan-kutipan dalam banyak tulisan Kang Jalal yang sangat bagus. Tetapi untuk pembahasan yang “berat” semacam ini saya pikir Kang Jalal belum sampe ‘maqomnya’. Terlalu spekulatif.. memaksakan. Tetapi… Saya pikir ini adalah proses. Temen-temen yang udah “pluralis” mungkin boleh sedikit ‘terbuka’ juga dengan berbagai pendapat kalangan “fundamentalis”. Cara berpikir kategoris semacam itu hendaknya tidak menutup hati dan pikiran anda. Sehingga terkesan teman-teman yang mengaku Pluralis tidak lebih dari orang yang memasang “tembok” sama ketika orang Fundamentalis berbicara.
Saya salut ama Kang Jalal…Dengan paham pluralisme tersebut, sangat menguntungkan buat kita. Bayangkan, kita tinggal pilih agama yang paling `ringan`saja syaratnya…Gak perlu pilih Islam yang musti banyak sekali pantangan, sholat 5x sehari dll. Pilih aja agama yang sante, toh nanti juga akan masuk sorga. Sambil iseng-iseng cari-cari penemuan yg bisa bermanfaat untuk orang banyak (amal shaleh) yang dijamin masuk surga. Thomas Alva Edison, penemu bolam lampu, dan penemu2 lain jg masuk surga spt penemu pembuka tutp botol, penemu sepatu, penemu sepeda, penemu remote control dll. Nobel prize adalah justifikasi tiket vip sorga. Tapi Kang Jalal tetap memilih Islam.. Saya tdk tau kenapa?? Gak enak kan Kang??
Pluralistik adalah kenyataan sosial masyarakat yang tidak bisa dipungkiri.keberagaman adalah rahmat dari Allah.tinggal bagaimana kita menyikapinya.apakah kita akan menyikapi keberagaman secara literalis ataukah liberalis? pendapat saya adalah, apa susahnya Allah, dengan “kun fayakun” nya, menjadikan dunia ini hanya 1 agama?!kenapa Allah harus bersusah payah menurunkan juru dakwah dan memakan waktu?kenapa harus tercipta syaithan dan malaikat?kenapa tidak malaikat saja yang tercipta, toh dengan begitu,tidak akan ada manusia yang terjerumus dalam neraka. lalu bagaimana ketika berdirinya madinatul munawarah,kenapa nabi muhammad tidak melakukan islamisasi kepada yahudi dan nasrani?dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang bila diungkapkan kepada umum akan dicap “kafir”. saya setuju dengan pendapat kang jalal “laa ikraha fiddiin” tidak ada paksaan dalam islam.jika islam adalah kebenaran, maka ayat tersebut juga dapat ditafsirkan, tidak ada paksaan untuk benar, karena baik dan buruk, benar dan salah, adalah datangnya dari allah. artinya kita boleh salah. hidup itu adalah alternatif, memilih benar dan salah. karena allah menegaskan dalam al qur’an ” khairun nuzulan am sajaratuzzaqum” silahkan kalian memilih, yang khair atau yang syar. manusia adalah makhluk alternatif,diberikan pilihan oleh Allah.pilihan akan yang benar dan yang salah. apakah kejahatan/kesalahan di muka bumi ini adalah ridha allah?jika bukan ridha allah,kenapa masih terus terjadi?begitu pula dengan kebaikan, adalah “al haqqu min robbika”. akhirnya kita terfokus pada nilai benar dan salah. al qur’an memiliki nilai “mushoddiqon lima baina ya daihi”, meluruskan kitab-kitab yang sebelumnya turun,yang telah terkontaminasi pola pikir yahudi.apakah kitab-kitab sebelum al-qur’an bukan dari Allah?datangnya dari allah, tapi kenapa setelah kitab taurat, diturunkan lagi isa dengan injilnya,setelah itu muhammad dengan al-qur’annya?karena setiap kitab yang turun selalu diselewengkan oleh yahudi.kedengkian yahudi terhadap kebenaran Allah dikutip oleh alquran sebagai “hasadan min indi anfusihim”.yahudi adalah rasul syaitan.dengan kitab sebelum al-qur’an yang telah porak poranda oleh yahudi, akankah semua agama akan sama nilainya?akan sama benarnya?yang benar adalah al-qur’an,karena allah sendiri menjamin kemurnian al-qur’an dari tangan jahil yahudi. cukupkah itu?ternyata tidak, yang dijamin allah adalah isi qur’an,bukan TAFSIR quran itu sendiri.ditingkat tafsir inilah yahudi memainkan perannya merasuki pola pikir manusia, menafsirkan secara subjektif,sebagai stempel justifikasi kejahatannya. yahudi berkata, sekelas nabi adam pun pernah melakukan kesalahan,bagaimana kita yang manusia biasa?apakah kesalahan ini akan selalu dijustifikasi?akankah tindakan persimif selalu di toleransi?kesimpulannya adalah al’qur’an lah pelurus dari kitab-kitab sebelumnya,dimana kitab-kitab tersebut menjadi simbol agama tertentu.namun masih panjang pembahasan yang harus ditelaah,terutama bagaimana menafsirkan kitab Allah yang paling benar (al-qur’an) ini. sebenarnya masih banyak yang ingin saya sampaikan,tapi saya batasi agar tidak melebar dan tetap fokus. terima kasih ata pemuatan pendapat saya di media JIL ini,semoga pemuatan ini bisa menjadi media saya untuk berekspresi mengenai keislaman.
Mentelusuri pluralisme agama mengundang banyak ketidakpastian diri sendiri. Mungkin kecetekan ilmu atau mempunyai akal budi yang tertutup, hasil pembenihan ilmu awalan sejak dini lagi. Terus terang, saya yang terdidik dengan fahaman islam tradisional warisan orang tua kita, gagal untuk memahami kebutuhan faham inklusif, pluralis atau liberalis, walau pun sedikit sebanyak saya bisa juga menerima fahaman-fahaman lain seperti pemikiran progresif atau modernis.
TETAPLAH semangat jihad, KARENA pada abad ini semangat itu benar-benar dibutuhkan guna membendung “perang urat saraf” produk Yahudi dan Nasrani yang tidak akan pernah ikhlas/ridho dengan Islam.
WALAU FIKIRAN PLURALIS CARANYA BUAT PROGRAM , DG SISTEMATIS. TENANG! INSYAALLAH JAYA!
bagaimana seharusnya memahami agama? kebanyakan umat hafal dahulu ayat-ayat dan hasil pembacaan secara harafiah itu di yakini dulu sebagai isi dari kebenaran agama. bagaimana kalo yang pertama diajarkan adalah hakikat Tuhan itu lebih dahulu. Tuhan itu…...(baik, jahat, pengampun, pendendam…dll). maka ketika umat membaca ayat-ayat kitab sucinya akan membaca bukan lagi secara harafiah tapi langsung di citrakan dengan sifat-sifat Tuhan-nya.
Apakah yang terjadi dengan islam sekarang ini? kalau dikaji terus menerus akan mustahil sekali masalah masalah ini akan end. bagi saya pribadi hanya cukup beranggapan dan berkeyaqinan bahwa islam itu adalah agama terakhir yang tidak ada agama selain itu. Artinya, rujukannya hanya Al-Qur an dan disempurnakan oleh Hadits hadits yang selain Hadits Do if. semua permasalahn apapun ada dalam Al Qur an.
Yang dimaksud kang jalal disitu, agama sebagai apakah? apakah dia sebagai ideologi, rasionalisasi, aktualisasi,ataukah kesamaan doktrin? mengenai rahmat Tuhan, itu tidak serta merta menunjuk pada seseorang saja atau banyak orang, tetapi dia seperti cahaya dimana orang yang berlomba-lomba untuk merasakan cahaya itu.
Komentar Masuk (36)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)