Rekonstruksi Sejarah Masuknya Islam Ke Jawa
Oleh Muhammad Husnil
Eksistensi Cina-muslim pada awal perkembangan Islam di Jawa tidak hanya ditunjukkan oleh kesaksian-kesaksian para pengelana asing, sumber-sumber Cina, teks lokal Jawa maupun tradisi lisan saja, melainkan juga dibuktikan pelbagai peninggalan purbakala Islam di Jawa. Ini mengisaratkan adanya Pengaruh Cina yang cukup kuat, sehingga menimbulkan dugaan bahwa pada bentangan abad ke-15/16 telah terjalin apa yang disebut Sino-Javanese Muslim Culture.
Komentar
Penelitian yang dilakukan oleh Romo Sumanto merupakan hal yang terlupakan oleh banyak peneliti sebelumnya. Kita sering terlena dengan fakta sejarah bahkan sering mengenang romantisme sejarah tanpa kritik yang substansial ini. Melalui bukunya Romo Sumanto membuka kesadaran kita untuk mengungkap berbagai tradisi pemahaman terhadap sejarah yang kita baca sekarang ini. Buku Sejarah merupakan hasil penulisan peneliti era lampau yang harus kita kritisi secara benar dan baik. Penelitian sejarah perlu kita maksimalkan.
Terus terang saya sangat mengapresiasi buku ini karena dari segi isi belum pernah ada yang memuatnya entah karena mengabaikan sumber sumber yang ada atau karena kekawatiran karena mengandung potensi konflik SARA.Penelitian seperti yang dilakukan oleh saudara Sumanto perlu didorong demi terciptanya Historiografi Indonesia yang lebih bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Walaupun begitu masih sedikit ada ganjalan karena saudara Sumanto mengambil begitu saja sumber sumber yang dikatakan berasal dari Kelenteng Sampo kong dan Talang tanpa mengkritisinya,sebagai pembanding bisa dibaca buku HJ De Graaf “Cina Muslim abad 15 &16,antara mitos dan realitas”
kita seharusnya brterima kasih kpd pak sumanto karena memberikan sesuatu yang baru kepada kita tentang gambaran penyebaran islam di jawa.mungkin sebelum bukunya yang sangat menarik ini terbit,telah ada buku2 yang menulis tentang eksistensi cina muslim di indonesia abad 15/16.tapi saya anggap buku ACIJ(arus cina islam jawa)adalah awal,dan perlu untuk kita teliti lagi.setidaknya dari buku beliau telah menjawab satu pertanyaan saya sejak kecil tentang tokoh muslim cina yang telah menjadi oral history di daerahku di pantura yaitu dampuawang.untuk saat ini buku ini terkesan melebih lebihkan eksistensi cina, karena sejak SD yang kita tahu islam datang dari india maupun arab dan itupun diamini oleh tokoh2 cendekiawan muslim indonesia.tapi saya yakin kenyataan akan berbeda ketika kita mau meneliti lebih dalam dan mencari sumber2 yang kuat.tidak ada sesuatu yang tidak mungkin.
YAch.. umumnya kita mengidentikkan Cina dengan hal-hal yang negatif, tapi ternyata dalam persebaran Islam Indonesia cina memiliki peran yang cukup signifikan. Untuk saudara-saudaraku muslim cina di Indonesia “persaudaraan dalam Islam itu yang terindah”
Buku Sumanto al-Qurtubi menarik karena: 1. Saat ini etnis China sedang “di atas daun” wacana kultur indonesia. 2. Berani mengungkap sesuatu yang sebelumnya tidak ada orang yang mau melakukan Buku Sumanto al-Qurtubi tidak menarik karena; 1. Secara “politis” ingin unjuk gigi mengenai keberanian (lha orang tinggal memunculkan ke permukaan saja koq???!!) 2. Wacana yang di bawa, sudah sedikit kadaluwarsa
Maaf, bukan berarti saya ingin mengajak “bertempur” lho.
Sekitar tahun 69-70 an pernah terbit Buku berjudul “Runtuhnya Kerajaan Majapahit dan Masuknnya Islam di Indonesia” yang dikarang oleh Prof.Dr.Slametmuljana (alm). Pengarang adalah seorang Sejarawan lulusan Leuen, Belgia, mantan Dekan FSUI dan Direktur Pusat Studi Asia di Singapura serta perna menjadi isiting solar di Albany, New York.
Jarang sekali dari kita yang pernah membaca buku yang diterbitkan oleh Penerbit Gunung Agung tersebut dan sampai saat ini sangat sulit mendapatkannya, karena penerbitan buku tersebut dianggap dapat membuat “heboh” dan dilarang oleh Pemerintah Orde Baru.
Didalam buku tersebut, permasalahan yang diungkap dalam buku Pak Sumanto, diungkapkan seara gamblang dan ilmiah, berdaasrkan penginggalan sejarah yang sampai saat ini dapat kita lihat di Klenteng Sampokong, Semarang, Masjid Demak, Masjid Kudus, dll.
Ass wr wb Bung M. Husnil memaparkan tentang hal peranan Cina Muslim di awal-awal masuknya Islam ke Indonesia (mungkin ke Tanah Jawa. Boleh juga. Tetapi perlu dicermati, bahwa ketika Anda menulis bahwa penamaan Sunan Bonang, Raden Patah dan sebagainya sebgai Cina, rasanya koq nggak tepat. Boleh jadi memang begitulah pada waktu itu orang-orang Cina (perantauan) yang ditakdirkan sebagai Cina Muslim( istilah ini bagi saya kurang bagus, nanti ada pembedaan yang dibuat-buat seperti Jawa Muslim, Madura Muslim, USA Muslim, Canada Muslim, dst). Nampak sekali tulisan Anda hendak mengistimewakan para perantauan Cina (“yang muslim”). Dan tengan adanya perlakukan (masa kini khususnya) terhadap orang-orang Cina, harusnya Saudara tahu, mengapa kelompok masyarakat tertentu kurang menyukai etnis ini.
Dan ini tak perlulah dilebih-lebihkan. Wass
kurang akurat dan tidak logis
——-
yang penting, penekanan pada dataran penelusuran genologis sejarah. telusuri akar sejarah dan menitikberatkan pada sisi objektif dari banyaknya kemungkinan alur sejarah yang muncul
Sebuah akar penulusaran sejarah yang tentunya sangat menarik, tetapi yang menjadi pertanyaan adalah apakah mungkin pembawaan ajaran agama islam yang di bawa oleh etnis Cina ke Nusantara dapat langsung diterima oleh masyarakat pribumi sehingga bisa mempengaruhi struktur bangunan masjid seperti yang anda bilang diatas, padahal kalau kta merujuk bukunya Sartono Kartodirjo dalam buku sejarah nasional indonesia abad ke 15 dan 16, ditemukan bahwa pengaruh yang sangat kuat yang datang dari komunitas muslim yang datang dari luar nusantara adalah para pedagang dari arab yang lalu diteruskan oleh para wali songo sehingga mnyebar ke seluruh nusantara, tetapi apa yang telah dilakukan oleh mas Sumanto ini merupakan hasil penulusan yang sangat menarik yang dapat kta cermati dalam memperkaya wawasan sejarah kita, yang tentunya dapat ditelusuri oleh para sejarawan tentang pembenaran akan maknanya
Rasa penasaran saya selama ini sudah mulai ada jawabannya. Selama ini saya hanya hanya mendengar kata orang saja bahwa para walisongo adalah saudara kita yang berasal dari China. Semoga fakta - fakta sejarah dapat terungkap dengan gamblang sehingga tidak terjadi pembodohan terhadap anak cucu kita sehingga kita tidak membenci atau fanatik secara membabi buta terhadap sesuatu hal.
fakta sejarah adalah sesuatu yang harus diungkap untuk merekonstruksi sebuah peristiwa sejarah yang terkadang menimbulkan bias sejarah yang menyesatkan. Harus disadari bahwa pengungkapan fakta sejarah bisa saja menguatkan fakta lama atau menggugurkan fakta lama. namun yang terpenting bukan didasari oleh subyektivitas
saya setelah membaca tlisna ini paling tidka dapat menambah pengetahuna saya mengenai kapan masuknya islam di tanah jawa. sebab beberap ahari lagisaya akan mepresentasikan makalah saya di hadapan dosen. dengan membaca makalah ini, paling tidak ada tambahan dasar tersendiri dalam mempertahankan makalah yang tlah saya buat
mas,, mau tanya… lha kalo islam datang ke jawa perantaranya dari cina? tentunya di cina saat tu dah banyak yang islam donk…kok sekarang?
terus terang saya awam akan sejarah masuknya islam di indonesia khususnya di jawa, tetapi setelah membaca tulisan ini saya jadi kepikiran banyak pertanyaan, diantaranya :
1. kalo masuknya islam ke jawa yg bw etnis china, trs knp pemeluk islam di china sndri sgt minoritas. knp mrk tdk mengislamkan saudara2nya di china dl baru mengislamkan di tempat lain…?
2. knp sedikit sekali masjid2 peninggalan etnis china di jawa ? kl mmg para walisongo itu keturunan china pasti mereka membangun masjid dg ornamen khas china….?
Maaf bkn brarti saya antipati sm etnis china, malah saya sgt suka ornamen2 khas china yg sgt artistik. terima kasih….
Saya mendapat informasi ini sejak tahun 1984 saat saya tingkat 1, termasuk pelarangan buku berjudul “Runtuhnya Kerajaan Majapahit dan Masuknnya Islam di Indonesia” yang dikarang oleh Prof.Dr.Slametmuljana (alm). Sangat menarik untuk mencari fakta sejarah (maklum jaman orde baru banyak sejarah yang dipaksakan). Saya akan mencari buku ini.
Menjawab pertanyaan, kalau orang cina menyebarkan islam ketanah jawa kenapa islam tionghowa cuma sedikit di indonesia, kalau kita lihat dari akar sejerahnya, orang2 mongol yg membantu raden wijaya kebanyakan sudah beragama islam, kemudian kedatangan laksamana cheng ho, tp kok sampai sekarang pemeluk islam dari etnis tionghowa masih sedikit? Karena terjadi pembauran dengan orang2 jawa dan anak keturunan mereka lama kelamaan tidak kelihatan spt etnis tionghowa, kira2 gitu deh
islam, sebagaimana yang kita fahami adalah agama yang sangat menerima keragaman etnis, bahasa, suku, maupun bangsa. islam merupakan agama “transnasional”. sehingga, apakah dibawa orang cina, atau india, maupun timur tengah, tidak akan mengurangi keutamaan islam. bukan soal, darimananya, tetapi otentikasinya yang lebih penting. apakah islam yang difahami dan diamalkan sesuai contoh penerapan dari rasulullah atau bukan? otentikasi inilah yang menentukan kebaikan dan keburukan. kebenaran atau kekeliruan. apakah kita mau melaksanakan islam secara paripurna seperti yang dilaksanakan oleh nabi dan sahabatnya?
apa kalian tahu? Ketika Islam mulai tumbuh dan akhirnya berkuasa di Nusantara, peran Tionghoa dalam penyebaran agama itu juga besar. Walisongo yang di Jawa dianggap sebagai penyiar Islam, kebanyakan merupakan orang Tionghoa. Sunan Ampel, misalnya, nama aslinya adalah Bong Swi Hoo. Dia datang ke Jawa pada 1445. Buah pernikahannya dengan Ni Gede Manila (anak mantan kapitan Tionghoa di Manila Gan Eng Cu) adalah Bonang (Sunan Bonang) dan Gan Si Cang atau Raden Said (Sunan Kalijaga). Selain itu, anggota walisongo yang lain adalah Toh A Bo (Sunan Gunung Jati) dan Ja Tik Su (Sunan Kudus). Orang-orang Tionghoa juga turut andil dalam berdirinya kerajaan-kerajaan Islam di Jawa. Pendiri kerajaan Islam pertama di Jawa, Demak, adalah Jin Bun alias Raden Fatah.
sebenarnya hubungan warga tionghua dan pribumi saat itu sangat baik.tapi,...Keadaan itu berubah saat penjajah Barat datang, mendirikan hegemoni kekuasaan kolonial di Nusantara. Belanda membuat peraturan kewarganegaraan berdasarkan apartheid, memilah kelompok warganya berdasarkan warna kulit dan ras. Warga Tionghoa yang sudah berbaur dengan warga pribumi sejak berabad sebelumnya, di bawah kolonialisme kembali “dipisahkan” untuk kepentingan penjajahan itu sendiri.
dan sapa bilang china dikit banget yang muslim? kalo pernah ke china, kalian bakal ngeliat banyak restoran muslim di tepi jalan. pemiliknya tentu aja muslim juga. terus ada mesjid yang gede juga. dan ada satu kota dimana penduduknya semuanya beragama muslim.
Sudah terlambatlah bila kita belum tahu jumlah penganut agama Islam di RRC mencapai 200.juta-an.
orang Tiong Hoa yg panggilan jiwanya memang tulus menyebarkan agama Islam secara"naturalisasi”. Sekolah Zending Islam nya disebut KASUHUNAN yg kelak disingkat SUNAN saja. Tiong Hoa Islam segera membaur (naturalisasi) dengan lingkungannya jadi ident.Chinanya hilang. Yang Kong Hu Chu membuat Kelenteng dan tidak menyebarkan agama, jadi mereka sepertinya hidup ekslusif dalam komunitas mereka.Pedagang China yang keliling Nusantara membeli rempah2 dulu sangat berjasa menyebarkan bahasa Melayu di Nusantara kita.Saya sangat berterimakasih dalam hal ini kepada mereka. Marilah kita jujur menilai komunitas etnis Tiong Hoa ini.Horas.
Komentar Masuk (26)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)