Kolom,
01/08/2008

Reorientasi Dakwah Islam dan Pengabaran Injil

Oleh Abd Moqsith Ghazali

Agama—terutama agama-agama besar dunia—merupakan gerakan kritik pada upaya penistaan atas manusia. Jika prinsip-prinsip dasar ajaran ini menjadi muatan dakwah dan misi Islam dan Kristen, maka kedua agama itu bisa saling melengkapi dan mempersyaratkan. Yang diuntungkan dari dakwah dan misi seperti ini tentu bukan hanya umat Islam dan Kristiani, melainkan seluruh umat manusia, terutama yang tertindas atau teraniaya.

01/08/2008 13:34 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (37)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 2 halaman 1 2 > 

Betapa menyejukkannya kalau para pemuka agama mau berpandangan seperti itu.  Maka agama akan benar-benar menjadi rahmat bagi manusia.  Tetapi sayangnya, banyak pemuka agama yang berpandangan picik justru memperkeruh keadaan sehingga pengabaran agama cenderung membawa petaka. Apa yang mereka lakukan sesungguhnya adalah penistaan bagi agama yang mereka anut. Mudah-mudahan artikel ini menjadi bahan perenungan bagi mereka yang mengaku beragama.

#1. Dikirim oleh Halim  pada  06/08   04:46 AM

Bung Moqsith yang dirahmati Allah.
Tentu saja, asa yang ideal - bahwa agama-agama di dunia bersedia menjalin relasi yang harmonis atas nama kemanusiaan - menjadi do’a umat manusia sejagat. Adalah benar bahwa amal jariyah sosial seperti penyediaan air bersih, sebagaimana yang dewi Hajar lakukan di tanah Makkah, adalah lebih afdhal di hadapan Allah dibanding bertruk-truk semen guna pembangunan sarana ibadah seperti masjid.
Namun, bukankah kompetisi yang “kompetitif sekali” ini telah dinash oleh Allah, sebagaimana tertuang pada QS Al-Baqarah:120; An-Nisa:89 dan lainnya? Bagi saya, self defence yang melampaui cattenacio deffender tim itali adalah yang terutama, demi menjaga gawang iman agar tidak kebobolan. Baru, permainan cantik (jogo bonito) ala amerika latin, dengan mengedepankan prinsip fair play dilakukan. Setuju!!!

#2. Dikirim oleh Arif Paijo  pada  06/08   11:14 PM

AGAMA BAGAIKAN NASI, KETIKA KITA DISUAPIN NASI DARI KECIL, MAKA SELAMANYA KITA AKAN MENGAANGGAP NASI PALING ENAK, PALING BERGIZI, PALING COCOK DNG PERUT KITA, PADAHAL DILUARAN SANA MASIH ADA ROTI, GANDUM, SAGU, KENTANG DSB. TAPI KITA TETEP NGOTOT NASI PALING HEBAAAT.Agama merupakan salah satu karya Umat manusia.. Tanpa manusia agama itu sebenernya tdk akan pernah ada.. perbedaan pemikirin antar manusia justru memperkuat existensi agama. Sehingga kebebasan berfikir mutlak diperlukan. Inilah zaman kebebasan dan kemerdekaan berfikir. Dimana umat manusia seluruh dunia bebas menafsirkan sesuatu bahkan hal2 yg berhubungan dng masalah keyakinan beragama, yg zaman dulu sangat tabu dibicarakan. Untuk itu seharusnya umat islam seharusnya ikut arus perkembangan dunia yg semakin modern. umat islam tdk akan prnah maju, kalo cuma berkutat dng kitab2 kuno di pesantren2. umat islam harus terbuka wawasannya.. belajar ilmu2 baru. saya pribadi salut dng apa yg dilakukan anak2 muda NU, yg aktif di JIL. Sayangnya kurang dukungan dari kyai2 yg lebih tua. banyak situs2 di internet yg bagus utk lebih menambah wawasan umat islam khususnya orang2 NU contohnya :
 
http://www.indonesia.faithfreedom.org
dng mengakses situs2 sprt itu saya yakin umat islam lebih terbuka cara berfikirnya. dan lebih paham arti kebebasan. Semoga dapat pencerahan dari nilai2 baru dan ditunjukan sebuah kebenaran, yg nyata bukan dongeng semata.. AMEN. KARENA BOLEH JADI SELAMA INI KITA TELAH DIBOHONGI DOKTRIN2 HEBATNYA NASI…

#3. Dikirim oleh kumpulan domba  pada  07/08   05:13 AM

Yang jadi masalah kadang memang adanya segelintir orang yang relatif fanatik dan sok mau menang sendiri baik dari Islam maupun non-Islam. Misalnya saya sebagai pengurus RT pernah diprotes ketika salah satu rumah dijadikan tempat ibadah minggu oleh warga non-muslim. Terus saya jawab aja, “pilih mana dia buat gereja di lingkungan kita atau pakai rumah sebagaitempat ibadah. terus kalo begitu kita yang muslim juga dilarang melakukan pengajian di rumah-rumah yang di kanan kirinya beragama non-muslim yang dilakukan seminggu sekali dan pakai pengeras suara lagi (karena kita sudah punya mesjid)”. Ini sekedar contoh, bahwa memang masih ada sedikit warga yang ngakunya paling tahu agama tapi dalam praktik gak pe de sama agama sendiri. Dan orang yang protes ini juga dianggap aneh dan tidak banyak berkomunikasi dengan warga lain (mungkin kita dianggap gak penting karena bukan harokahnya). Alhamdulillah sebagian besar warga muslim di tempat saya sangat demokratis dan pe de.

#4. Dikirim oleh Nurcahaya  pada  07/08   05:13 AM

apakah dakwah atau pengabaran? siapakah yang dimaksud pendakwah (da’i) atau pengabar? dua pertanyaan patut diajukan, mengikat dalam perkembangannya terus mengalami penyempitan. dakwah atau pengabaran misalnya, mengerucut pada kegiatan ceramah dan tabligh akbar, baik di tempat ibadah maupun ruang terbuka. seminar, lokakarya, dan kegiatan ilmiah lainnya, ‘seakan-akan’ tidak termasuk di dalamnya. apalagi kalau kemudian kegiatan itu tidak terkait langsung dengan persoalan agama. kegiatan dakwah adalah kegiatan doktrinal, karena sifatnya yang mengajak dan agitatif.
dari pengertian itu, da’i dipahami sebagai mereka yang suka berkhutbah dan berceramah. orang-orang yang mengisi seminar menjadi kelompok tersendiri yang berbeda.
pemahaman ini tidak terlepas dari perspektif kalangan penda’i itu sendiri yang melihat agama dari sisi ajaran atau pesan yang tertulis pada kitab sucinya. tidak jarang pemahaman itu bersifat literal dan saklek. parahnya lagi, konteks sosial kemasyarakatan kemudian diabaikan. yang penting adalah menjadikan masyarakat dalam beragam latarnya sesuai dengan yang didakwahkan.
ini memang berbeda dengan perspektif kalangan sosiologi atau mungkin ilmuwan sosial secara umum. agama kemudian dilihat dari sisi dinamika sosial penganutnya. dan karenanya, pemahaman terhadap ajaran kitabnya pun selalu dikaitkan dengan konteks yang mengitarinya.
dari sini, saya melihat tulisan mas moqsith merepresentasikan seorang dai yang ‘tercerahkan’. da’i yang ingin bereorientasi dan mengajak para penda’i lainnya untuk mereorientasi. selamat!

#5. Dikirim oleh khoiron durori  pada  07/08   04:04 PM

Ass,Bung Moqsith yang dirahmati Allah
Bukannya mengambil sikap skeptis dengan asanya sampean, tapi bukankah kompetisi dakwah antar agama yang “kompetitif sekali” itu sudah dinash oleh Allah, sebagaimana tercermin dalam QS Al Baqarah (2) ayat 120, bahwa orang non muslim (Yahudi dan Nasrani) tidak akan berhenti berkompetisi sehingga orang Islam telah masuk agama mereka?
Kemudian,anggapan yang berlaku di sementara masyarakat muslim bahwa dialog antar agam adalah perlu, UNTUK MENEGASKAN BAHWA YANG HAQ HANYA ISLAM, DAN SELAINNYA BATHIL. Kebenaran diadu dalam diskusi tersebut, dan semuanya tentu keukeuh kalau agama yang dianutnya adalah final. Dari sini kan kelihatan, fanatisme mengalahan nilai toleransi. Dus, dari sini sinergisitas ndak bakalan tergapai. Tak kira, itu “masalahnya” (jika hal ini patut dijadikan masalah).
Saya pribadi juga bingung, perihal perkara ini. Bukankah Allah lebih senang pada hambanya yang dengan ikhlas membangun sarana umum sebagai amal jariyahnya, daripada bertruk-truk semen untuk pembangunan masjid! Sebagaimana amaliyah Dewi Hajar, dengan sumur Zam-Zamnya. Namun, mantan Presma di kampus saya yang mengedepankan fanatisme, sepertinya ndak setuju dengan usulan sampean. Jaa’al haq wa zahaqal Baathil, Innal baathila kaana zahuqa, gitu.
Lantas, mana yang haq, mana yang bathil. Masak, determinasi kebenaran ada pada kepandaian bertutur argumen, kayak kaum sofis saja. Atau malah setengah plus satu sama dengan benar, jadi mayokrasi dong! Yang mana yang benar-benar dari Allah, jika “al haqqu min robbbika, fa laa takunanna minal mumtariin”.
Smoga Allah menunjukkan kita jalan yang benar dan menetapkan kita di trek tersebut. Amin
Wass.

#6. Dikirim oleh Arif Paijo  pada  07/08   07:48 PM

Ass,Bung Moqsith yang dirahmati Allah
Bukannya mengambil sikap skeptis dengan asanya sampean, tapi bukankah kompetisi dakwah antar agama yang “kompetitif sekali” itu sudah dinash oleh Allah, sebagaimana tercermin dalam QS Al Baqarah (2) ayat 120, bahwa orang non muslim (Yahudi dan Nasrani) tidak akan berhenti berkompetisi sehingga orang Islam telah masuk agama mereka?
Kemudian,anggapan yang berlaku di sementara masyarakat muslim bahwa dialog antar agam adalah perlu, UNTUK MENEGASKAN BAHWA YANG HAQ HANYA ISLAM, DAN SELAINNYA BATHIL. Kebenaran diadu dalam diskusi tersebut, dan semuanya tentu keukeuh kalau agama yang dianutnya adalah final. Dari sini kan kelihatan, fanatisme mengalahan nilai toleransi. Dus, dari sini sinergisitas ndak bakalan tergapai. Tak kira, itu “masalahnya” (jika hal ini patut dijadikan masalah).
Saya pribadi juga bingung, perihal perkara ini. Bukankah Allah lebih senang pada hambanya yang dengan ikhlas membangun sarana umum sebagai amal jariyahnya, daripada bertruk-truk semen untuk pembangunan masjid! Sebagaimana amaliyah Dewi Hajar, dengan sumur Zam-Zamnya. Namun, bagi kawan-kawan Badan Dakwah Mahasiswa di kampus saya yang mengedepankan fanatisme, usulan sampean sepertinya ndak bakal disetujui. Jaa’al haq wa zahaqal Baathil, Innal baathila kaana zahuqa, gitu.
Lantas, mana yang haq, mana yang bathil. Masak, determinasi kebenaran ada pada kepandaian bertutur argumen, kayak kaum sofis saja. Atau malah setengah plus satu sama dengan benar, jadi mayokrasi dong! Yang mana yang benar-benar dari Allah, jika “al haqqu min robbbika, fa laa takunanna minal mumtariin”.
Smoga Allah menunjukkan kita jalan yang benar dan menetapkan kita di trek tersebut. Amin
Wass.

#7. Dikirim oleh Arif Paijo  pada  07/08   08:05 PM

AGAMA BAGAIKAN NASI, KETIKA KITA DISUAPIN NASI DARI KECIL, MAKA SELAMANYA KITA AKAN MENGAANGGAP NASI PALING ENAK, PALING BERGIZI, PALING COCOK DNG PERUT KITA, PADAHAL DILUARAN SANA MASIH ADA ROTI, GANDUM, SAGU, KENTANG DSB. TAPI KITA TETEP NGOTOT NASI PALING HEBAAAT.Agama merupakan salah satu karya Umat manusia.. Tanpa manusia agama itu sebenernya tdk akan pernah ada.. perbedaan pemikirin antar manusia justru memperkuat existensi agama. Sehingga kebebasan berfikir mutlak diperlukan. Inilah zaman kebebasan dan kemerdekaan berfikir. Dimana umat manusia seluruh dunia bebas menafsirkan sesuatu bahkan hal2 yg berhubungan dng masalah keyakinan beragama, yg zaman dulu sangat tabu dibicarakan. Untuk itu seharusnya umat islam seharusnya ikut arus perkembangan dunia yg semakin modern. umat islam tdk akan prnah maju, kalo cuma berkutat dng kitab2 kuno di pesantren2. umat islam harus terbuka wawasannya.. belajar ilmu2 baru. saya pribadi salut dng apa yg dilakukan anak2 muda NU, yg aktif di JIL. Sayangnya kurang dukungan dari kyai2 yg lebih tua. banyak situs2 di internet yg bagus utk lebih menambah wawasan umat islam khususnya orang2 NU contohnya : 
http://www.indonesia.faithfreedom.org
dng mengakses situs2 sprt itu saya yakin umat islam lebih terbuka cara berfikirnya. dan lebih paham arti kebebasan. Semoga dapat pencerahan dari nilai2 baru dan ditunjukan sebuah kebenaran, yg nyata bukan dongeng semata.. AMEN.

#8. Dikirim oleh kumpulan domba  pada  08/08   02:58 AM

Penutup
Dari buku fisika dan teori medan yang menjelimet, dibuktikan bahwa induktor adalah komponen yang dapat menyimpan energi magnetik. Energi ini direpresentasikan dengan adanya tegangan emf (electromotive force) jika induktor dialiri listrik. Secara matematis tegangan emf ditulis :

#9. Dikirim oleh kaka  pada  08/08   04:33 AM

Setahu saya dari dulu juga tidak ada larangan untuk mendiskusikan agama, apalagi tabu. Cuma yang jadi masalah adalah kalau berpendapat harus menggunakan metodologi ilmiah, jangan menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an letterlux seenak2nya tanpa ilmu.

Bisa dibayangkan, seorang Karen Armstrong memuji metodologi islam sehingga dia menyatakan sebagai kejeniusan ilmu pengetahuan orang islam, sementara ulil menolak hadits shahih. Gimana ini, kok kebalik2 ya dunia ????

#10. Dikirim oleh Lutfi  pada  08/08   12:05 PM

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Apa kabar aktivis JIL? Antum bilang keadilan yang dikehendaki Qur`an adalah keadilan dalam bidang ekonomi, politik, dan hukum. Hehehe…bukankah selama ini JIL hanya mengakui agama sebagai masalah privat dan tidak ada campur tangan negara. Dengan pernyataan antum menunjukkan bahwa sebenarnya antum mengakui bahwa Islam bukan hanya masalah privat sebagaimana yang diusung kaum sekuler. Alhamdulillah.

#11. Dikirim oleh Harlis Kurniawan  pada  09/08   02:13 AM

Bismillahi, Ass, ada benar ada yg lebih benar maka ada yang Terbenar yang akhir yang paling akhir dan yang Terakhir dan yang paripurna dan terParipurna, Apakah ada dua yang Terbenar? seperti apa akal manusia yang tidak meresapi makna…..? Maha Suci ALLAH yg tidak Mengambil kepentingan apapun dalam lelakon ini dan kepada RasulNya Wassalam

#12. Dikirim oleh walikuncung  pada  09/08   06:56 AM

Terima kasih banyak. Setelah membaca artikel ini saya memperkuat kepercayaan saya bahwa tugas agama adalah memberi kecerahan bagi umat manusia untuk bertutur, bertindak dan berpikir demi kebaikan dan kesejateraan makluk ciptaanNYA.

Jika demikian maka tidak perlu ada paksaan dalam beragama. Jadi dakwa atau warta gembira tidak brmskdud Kristinisasi atau Islamisasi tetapi lebih pada perubahan prilaku manusia. Jadi seyogianya kualitaslah yang menjadi tujuan utama. Artinya jika seorang yang beragama Islam atau Kristen tidak harus merubah agamanya karena dakwa tetapi yang lebih penting adalah prilakunya.

Trims

#13. Dikirim oleh Hila Tokan  pada  10/08   09:40 AM

menurut saya menyamakan agama dengan karya manusia itu sangat tidak relevan, karena hanya islam lah agama yang benar dari Tuhan yang satu Allah SWT, agama samawi yang telah dirusak seperti Yahudi dan Nasrani itu adalah bukan agama para Nabi, walau dalam Al_Quran telah disebutkan akan keabsahan kitab Taurat maupn Injil, tapi coba lihat sekarang ini kaum Yahudi tidak lagi membaca Tauratnya, mereka hanya mengikuti apa kata2 dari Hakhom dan Rabi nya saja yaitu dari buah hasil tangan mereka yaitu Talmud yang berisikan ajaran Rasis, fundamentalis, dan bersifat destruktif. Sedangkan Nasrani atau dalam bahasa Yunani disebutkan dengan Kristen (Kristus), adalah agama yang sama sekali tidak mengikut kepada ajaran Nabi Isa (Yesus) mereka hanya mengikut kepada Paulus selaku pendiri agama Kristen yang sebenarnya, hal inilah yang banyak tidak diketahui oleh Umat Kristen pada umumnya, hal itu diakibatkan mereka2 itu hanya mengikut kepada Pendeta yang suka sekali memperkosa Ayat Injil demi dunianya saja. Jadi saya simpulkan, Kitab Talmud (Yahudi) adalah Kitab Rasis yang menimbulkan gerakan Zionisme Internasional yang bercita2 ingin mendirikan Negara Israel Raya di tanah jajahan Palestina (Al-Quds). Sedangkan Kitab Injil/ Bibel (Kristen) hanya berisikan dongeng/ mitologi nenek moyang mereka dan berisikan hal2 yang pornografi, seperti ibu incest dengan anak2nya, ayah memperkosa anak perempuannya, dsb. Sedangkan Islam tidak demikian halnya…Jadi kalo mau buat artikel itu pakai otak jangan pakai dengkul !!!!

#14. Dikirim oleh ferry nasution  pada  11/08   07:29 AM

Komentar saya ini ditujukan kepada saudara Ferry Nasution atas komentarnya terhadap artikel Abd Moqsith Ghazali. Membaca komentarnya saya merasa bahwa Saudara Ferry sangat membutuhkan dakwah islamiah sehingga dia dapat mencerahkan hati dan pikirannya.

Dalam beragama bukan saja ilmu yang dituntun melainkan juga budi pekerti. Jadi mengaku mengetahui lebih banyak ilmu agama belum tentu agamanya sempurna. Sebab dari kata-katanya dapat tercermin kedalaman nurani….

#15. Dikirim oleh Hila Tokan  pada  11/08   01:06 PM

Masukan untuk “Reorientasi Dakwa Islam dan Pengabaran Injil”

Cara berfikir Yang Mulia Abd. Moqsith Ghazali adalah 100% benar menurut hujjah Allah, hujjah nabi Muhammad dan hujjah kitab suci-Nya.!

1. Yunus (10) ayat 94: Maka jika kamu (umat Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu (Nasrani, Yahudi, Hindu, Buddha, dsb.) Sesungguhnya telah datang kebenaran kepada kamu dari Tuhanmu (sejak Adam dahulu sampai hari ini), sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu (yang turun dahulu, setelahnya, dan yang turun pada akhirnya (sesuai Al Baqarah (2) ayat 4,5).
2. Dari mana Muhammad didalam kitab sucinya mendapat nama-nama ADAM-NUH-IBRAHIM-LUTH-MUSA-ISA DAN UTUSAN YANG LAINNYA SEBELUM MUHAMMAD. Adalah pasti sedikit-dikitnya dari Waraqah bin Naufal bin Assab bin Abdul Uzza 94 tahun, anak paman Siti Kahdijah 40 tahun, isteri Muhammad 25 tahun sebelum mendapat wahyu 15 tahun kemudian pada usia 40 tahun. (Al Kitab Perjanjian lama dan perjanjian baru dengan Al Kitab suci Muhammad saw. adalah sama dalam isi Risalah Tuhan/Allah sejak Adam sampai hari ini, yang disampaikan oleh para nabi/rasul sesuai Al Maiadah (5) ayat 67 (oleh rasul), Al An Aam (6) ayat 124,125 (oleh Allah sendiri), Al A’raaf (7) ayat 62,60 (oleh Nuh), 68,66 (oleh Hud), 79,75 (oleh Saleh), 93,88 (oleh Syuaib), 144,109 (oleh Musa), Al Ahzab (33) ayat 38,39,40 (oleh Muhammad dan siapa saja yang mau), Al Jinn (72) ayat 23,26,27,28 (oleh rasul yang dirido’i).   
3. Mengapa Waraqah bin Naufal tidak ikut agama Muhammad, disebabkan ia sadar wajib menunggu-nunggu Kisah para rasul 1:9,10,11 dan Yohanes 16:12,13,14,15, sejak Musa-Isa-Hari Akhir, Taurat-Injil, Kitab-Himah, Yahudi-Nasrani, sesuai Ali Imran (3) ayat 48, Al Maidah (5) ayat 44,46,48,50,66,68.
4. Sedangkan Waraqah sadar dan yakin bahwa Muhammad adalah seseorang yang dijanjikan didalam Ulangan 18:15-22, Kisah para rasul 3:22,23 7:37, yang akan memproses jejak yang sama Yahudi-Nasrani-Hari Penggenapan Takwil Kebenaran Kitab sesuai Al A’raaf (7) ayat 52,53, memenuhi Al Fath (48) ayat 29, Ash Shaff (61) ayat 6,7,8,14.
5. Kesimpulan logikanya, Wararah dan Muhammad bertemu diakhir ilmunya pada Roh Kebenaran yang dijanjikan sesuai Yohanes 16:12,13,14,15 DENGAN Hari Penggenapan Takwil Kebenaran KItab yang dijanjikan sesuai Al A’raaf (7) ayat 52,53, dan keduannya wajib dijumpai ilmunya oleh umat Nasrani dan umat Muhammad. Dan inilah tugas Yang Mulia Abd Moqsith Ghazalai dan Yang Mulia Prof. DR. Robert Paul Walean Sr., Pendeta Nasrani, seorang peneliti Al Quran, dan anda peneliti Al Kitab perjanjian lama dan perjanjian baru.

Kalau saja Mr. Abd Moqsith Ghazali dan Mr. Robert P. Walean Sr. dapat bertemu, kami mengucapkan Alhamdulillah.

Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

#16. Dikirim oleh Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal  pada  12/08   09:26 AM

Komentar untuk mas ferry nasution,
Keyakinan akan kebenaran (ajaran) agama yang kita anut adalah hal yang wajar.
Tetapi kita harus berpikir setara bahwa orang lain juga punya tingkat keyakinan (akan kebenaran agamanya) secara sama.
Disinilah yang dimaksud dengan Kebebasan yang diperjuangkan.
Mengenai keyakinan mas ferry bahwa agama lain isinya kebohongan karena tangan manusia (Hakhom, Rabi, Paulus) semoga berasal dari upaya mas ferry sendiri untuk mengetahuinya (baik dengan membaca atau mengetahui dari sumber yang tepat). Semoga bukan dari “katanya”. Informasi yang sifatnya “katanya” banyak sekali ditemui di berbagai situs yang bicara tentang agama-agama.
Kalau kita menemui situs dan informasi tentang agama sendiri, bandingkanlah dengan resources yang kita pegang yang selama ini menjadi dasar iman kepercayaan kita.
Kalau kita menemui situs dan informasi tentang agama lain, sedapat mungkin berasal dari situs resmi mereka, dan dapatkan resources yang menjadi dasar agama/iman mereka. Cari tahu, bagaimana umat mereka memandang Kitab Sucinya, Bagaimana Proses adanya Kitab Suci mereka, dll. Kalo bisa beli Kitab Sucinya (itu kalo anda merasa gak berdosa kalo hanya memegang dan kemudian membacanya). Rasanya semua Kitab Suci agama-agama non-Islam sudah berbahasa Indonesia.
Sehingga kita bisa menjadi orang yang berhati terbuka.

#17. Dikirim oleh anton  pada  13/08   07:27 PM

masalah kebenaran adalah hanya islam.masalah memeluk atau tidak,setuju atau tidak,iman atau kafir adalah masalah hidayah.tugas kita hanyalah mengajak orang untuk menuju Allah.Allah yang memberi hidayah kepada siapa yang dia kehendaki.

#18. Dikirim oleh Abu Faiz  pada  14/08   09:21 AM

Mas Moqsith, janganlah kamu mencampurkan antara yang haq dan yang bathil dan ingat lakum diinukum waliyadiin

#19. Dikirim oleh dan  pada  16/08   05:12 AM

Mungkin yang dimaksudkan Mas Moqsith , Dakwah Bil Hal.Berkelakuan sebagai seorang Muslim yang dicontohkan Rasulullah.Karena pada hakekatnya semua Muslim adalah Da’i.Tak perlu menepuk dada saya Muslim , tapi begitu ada kesempatan melakukan Korupsi lupa bahwa dia adalah seorang Muslim dan melakukan korupsi tanpa rasa dosa.
Kalau Muslim yang ada di negara kita melaksanakan islam dengan benar ,saya yakin , tidak dipanggilpun orang-orang non Muslim berebut masuk Islam.Semoga Allah memberikan kita jalan yang lurus dan sabar menjalaninya.

#20. Dikirim oleh Ahmad Suhaimi  pada  25/08   10:42 AM
Halaman 1 dari 2 halaman 1 2 > 

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?