Kolom,
18/05/2003

“Resep” Salah bagi Problem Aceh

Oleh Sukidi

Diagnosa yang dilakukan pemerintah terbukti salah, di mana persoalan distribusi keadilan dan ekonomi yang diinginkan warga Aceh justru dijawab dengan syariat Islam yang masih berdiri pada tataran simbolis. Alih-alih distribusi kesejahteraan ekonomi yang masih menjadi retorika pemerintah pusat ketimbang langkah pro-aktif di lapangan, dalam hal distribusi keadilan dengan cara menyeret pelaku kekerasan HAM pada masa DOM pun masih jauh panggang daripada api.

18/05/2003 01:21 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (1)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Membaca artikel yang ditulis Saudara Sukidi saya menyikapinya setengah-setengah, di satu pihak saya setuju 100% penegakan syariat Islam di Bumi NAD yang sebatas simbolisme adalah suatu kesalahan besar yang bagi saya sama sekali tidak menyentuh akar masalah yang selama ini terpendam di sana. Saya sempat merasakan hidup di Aceh selama lebih kurang 1 tahun pada masa-masa damai (tahun 1993-an) dan cukup merasakan bagaimana kehidupan di suatu wilayah yang disebut Serambi Mekkah, kehidupan beragama di sana saya rasa tidak lagi memerlukan suatu formalitas, masyarakat yang beragam menjadikan penerapan kehidupan beragama di sana tidak jauh berbeda dengan di tanah Jawa (perempuan banyak juga yang tidak berjilbab, kecuali siswi-siswi tingkat SLTP dan SLTA).

Namun satu hal yang tidak dapat saya setujui adalah penyikapan kita terhadap gerombolan separatis GAM bila harus terus melalui dialog dan dialog tanpa ujung-pangkal, cara mengatasi suatu pemberontakan tidak lain dan tidak bukan adalah melalui operasi militer untuk mempertahankan NKRI. Kenyataan membuktikan GAM melakukan pelanggaran HAM yang jauh lebih hebat, dibanding pelanggaran yang dilakukan TNI (gimana bang munir?). Dan kenyataan berbicara pula bahwa semakin GAM diberi hati, akan semakin menggerogoti kewibawaan negara kesatuan yang mulai rapuh (atau malah sudah sangat rapuh?). Kalau istilah jawanya; diwenehi ati ngrogoh rempelo.

Wallahu ‘alam, setiap kedamaian pada intinya tetap membutuhkan pengorbanan, namun korban yang dibantai oleh GAM sepertinya tidak pernah bertujuan untuk kedamaian, jadi buat apa harus terus memberi hati pada gerombolan-gerombolan perampok semacam itu?

Salam Damai Alam Penuh Rahasia Tugas Kita Untuk Mengungkapnya Dengan Kasih dan Sayang
——-

#1. Dikirim oleh Wibisono Sukmo Wardhono  pada  27/05   06:06 AM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?