Wawancara,
20/10/2010

Roslan Yusni: “Tuhan, Antara Ada dan Tiada”

Bagaimana seorang dokter bedah saraf memandang agama dari sudut pandang pribadinya? Bagaimana agama menjadi pengalaman individual? Novriantoni Kahar mewawancarai dr. Roslan Yusni dalam acara unjuk wicara Agama dan Toleransi yang disiarkan langsung oleh KBR68H dan jaringan radionya.

20/10/2010 10:10 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (41)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 3 halaman 1 2 3 > 

Assalamualaikum wr.wb.

Bagi saya, jikalau ada hal2 yang benar pada saat ini menurut “science” kemudian jika diperbandingkan dengan ilmu Islam, sederhananya : Al-Qur’an, hasilnya bertentangan. Saya tetap lebih memilih kebenaran yang ada di Al-Qur’an, karena Al-Qur’an adalah sebuah kebenaran sejati, yang sudah tidak bisa diganggu gugat datang dari Allah SWT.

Pada wawancara di atas, Roslan Yusni “tampak” lebih mempercayai proses terjadinya manusia ketika berada di rahim ibu berdasarkan “science” ketimbang yang dijelaskan di Al-Qur’an, saya jadi mempertanyakan keimanan beliau. Wong katanya iman, tetapi lebih mempercayai pendapat yang dikemukakan di luar Al-Qur’an. Mungkin saja selama ini terjadi kesalahan penafsiran dalam Al-Qur’an mengenai ayat-ayat tersebut, tetapi bukan berarti Al-Qur’an tersebut salah, bahkan mungkin ilmu pengetahuanlah yang salah. Bisa saja, pengetahuan anda SAAT INI mengenai proses terjadinya manusia ditertawakan oleh ilmuwan sepuluh, seratus, ataupun seribu tahun mendatang, karena penelitian yang anda percayai tersebut terbukti salah.

Selain dari ganjalan yang saya kemukakan di atas, saya setuju dengan pendapat Roslan Yusni. Terima kasih.

Wassalam.
Allahu Akbar.

#1. Dikirim oleh Fachmi  pada  21/10   04:02 AM

@fachmi,

saya tidak sependapat dengan anda,
menurut saya pendapat anda membahayakan akal anda sendiri, dan mengungkung diri dalam dogma. bila mayoritas masyarakat Islam memilih ikut dengan pendapat saudara, maka science dalam islam tidak akan kemana-mana, tidak akan ada kemajuan,yang ada semakin tertinggal.
yang sebaiknya adalah, apa yang dibuktikan oleh science, itulah yang kita percayai, sampai terbukti sebaliknya. tidak ada ilmuwan yang menertawakan hasil penemuan yang keliru dimasa lampau, karena salah satu elemen kemajuan ilmu pengetahuan adalah “trial and error”.

Alquran merupakan pegangan hidup, akan tetapi saya cenderung meletakan Al quran bukan sebagai rujukan ilmiah, atau tempat bertanya dan membuktikan, atau tempat menguraikan rumus hukum alam yang bekerja disekitar kita.
kita tidak akan menemukan apapun disana, dan saya percaya Yang Maha Pengasih pun tidak menghendaki demikian. Tutup Alquran, pergilah keperpustakaan umum dan ke laboraturium, disanalah tempat mempelajari hukum alam yang konsisten. Bila mengenai hubungan kita dengan Sang Pencipta, dan hubungan kita dengan sesama, maka saya tidak ragu untuk merujuk ke Alquran.

#2. Dikirim oleh manunk  pada  21/10   08:19 AM

Maaf, mohon saya diberi sedikit penerangan atas kalimat pa Fachmi.
“karena Al-Qur’an adalah sebuah kebenaran sejati, yang sudah tidak bisa diganggu gugat datang dari Allah SWT”.
Bagaimana kita sebagai manusia saat ini membuktikan bahwa itu adalah kebenaran sejati yang tidak bisa diganggu gugat sedangkan misalnya ada pembuktian yang berbeda.
Bukankah kita sebagaimana manusia diberi akal yang luar biasa oleh Allah.
Terima kasih.

#3. Dikirim oleh BenFV  pada  21/10   08:47 AM

sependapat dgn sang dokter, meskipun dalam agama dan kitab suci banyak yg tdk masuk akal dan sesuai dgn sains toh itu ttp tdk menghalangi orang utk percaya agama dan kitab suci, contohnya surat 41:9-12 jelas2 urut2an penciptaan langit dan bumi,menyatakan bumi lah yg diciptakan terlebih dahulu ketimbang langit, tapi bukti2 ilmiah menunjukkan usia bumi tidaklah yg tertua di alam semesta, bumi baru berusia +/- 4,7 milyar tahun, lebih muda dari alam semesta yg sdh 14 milyar tahun lebih, atau dibandingkan matahari yg sekitar 10 milyar tahun. Ini sama jg yg tercantum di bible yg menempatkan bumi sbg awal penciptaan. Jadi walau keliru, toh sampai kini orang2 ttp beragama (Islam & Kristen)

#4. Dikirim oleh Pangesti Sejahtera  pada  21/10   08:56 AM

Assalamu’alaikum wr.wb.

@manunk dan Pak BenFV semoga dilindungi Allah.

Good, beda pendapat menunjukkan kita diberi akal yang luar biasa olehNya.

Justru sebenarnya saya memiliki prinsip, jika kasusnya misalnya ada perdebatan antara 2 hipotesis, maka saya akan memilih yang sama dengan Al-Qur’an. Lagipula, kan tidak semua ilmu pengetahuan yang diketahui peradaban sekarang ada di dalam Al-Qur’an. Jadi pernyataan anda yang menyebutkan kalau orang berpikiran serperti saya, maka Islam akan susah maju itu tidak benar. Justru akan memacu scientist untuk berusaha lebih , karena adanya suatu acuan.

Haha, soal tertawaan tidak usah terlalu dibawa serius bung. Contoh sangat mudah, zaman dahulu orang bilang bumi datar. Kalau skrg kita pikir2 jadinya ketawa juga kan, tanpa merendahkan teori yang ada zaman dahulu.

Al-Qu’ran betul pegangan hidup, namun kalau anda tidak “menghiraukan” isi ilmiah yang ada di dalamnya, kemudian lebih memilih teori yang ada saat ini, bukankah itu malah tidak sempurna Imannya. Ingat, Al-Qur’an itu datangnya dari Allah, pencipta seisi semesta ini, berani anda mengatakan DIA salah? Oleh karena itu, perlu juga adanya keseimbangan, ilmuwan2 Islam juga harus dong mengkaji maksud dari teori2 di Al-Qur’an, apakah mungkin ada kesalahan penafsiran, ataupun malah benar adanya. Ilmu kita ini tidak ada apa-apanya bung dibandingkan DIA, tidak ada apa-apanya.

Al-Qur’an ,menurut saya ya 100% kebenaran sejati, dan siapa memang yang berani menyanggah bahwa Al-Qur’an berasal dari Allah. Pembuktian berbeda itu hanyalah kemampuan kita sebagai MANUSIA untuk menguji, menilik, mengintepretasikan sesuatu. Betul kita diberi akal yang LUAR BIASA olehNya, tapi apakah ilmu kita SEHEBAT miliknya? I don’t think so.

Wassalam.
Allahu Akbar.

#5. Dikirim oleh Fachmi  pada  21/10   11:53 AM

Memang masalah juga kalau science yang ditemukan tidak sesuai dengan Al Quran, tapi yakinlah bahwa ketidaksesuaian science pasti karena memang belum sempurna artinya memang harus dicari sampai itu sesuai dengan Al Quran. Karena nantinya pasti ditemukan jawaban bahwa science pasti sama dengan Al quran, ndak perlu terburu-buru cepat menyimpulkan tapi seharusnya itu menjadi pemicu untuk melakukan riset ulang bagi yang belum menemukan kesesuaian. Dan jangan mudah percaya terhadap apa yang sekarang kita hadapi didepan mata terhadap hasil science, ingat kesimpulan science Darwinpun pernah bilang bahwa nenek moyang kita itu kera (bukankah itu omong besar). Atau gampangnya ini saja, apakah kita tidak percaya bahwa kiamat pasti terjadi walau itu belum pernah terjadi? makanya tempatkan science pada porsi yang sesuai, ndak perlu takabur dengan science yang ada pada kita dan jangan cepat menyerah terhadap hasil science.untuk itu Iman dalam ISLAM sangat menentukan hasil science dan kegunaannya(mau dipakai baik atau jahat alias mengolok2 apa yang sudah ada, hanya iman kita yang mengarahkannya)

#6. Dikirim oleh Nur  pada  21/10   02:44 PM

SESUATU ITU KALAU MAU DIPELAJARI SECARA OBYEKTIF, MAKA HARUS DAPAT MELEPASKAN SEMUA EGO PRIBADI. TERMASUK EGO KEIMANAN PRIBADI, SEBAB EGO DAPAT MERUBAH HASIL FAKTA YANG DITEMUKAN.
CONTOHNYA BANYAK FAKTA SEJARAH YANG TIDAK SESUAI DENGAN MISI SUATU AJARAN AGAMA YANG DIIMANI YANG DITUTUP-TUTUPI ATAS DASAR SYIAR.


(FB : Firman Kudus Shanghyang Al-Goutama)

#7. Dikirim oleh Firman  pada  22/10   05:59 PM

pada kapasitas mana manusia bisa membahas tentang tuhan…?
sebagai seorang scientis…?
atau dokter bedah saraf..?
adakah definisi nyawa (roh)dalam jasad semua makhluk hidup dari sudut pandang sains,,,?

pernahkah pesawat ulang alik berawak sampai ke planet pluto..?

sudah berapa persen informasi tentang antariksa yang sudah dibukukan oleh manusia…?

di era globalisasi di mana semua orang beranggapan semua hal bisa di jelaskan secara rasional,
rentetan pertanyaan tersebut akan bertemu pada kesimpulan bahwa kemampuan manusia itu sangat terbatas,. sains akan buntu kalau mengusut pertanyaan mengapa semsesta ini tercipta, bukan bagaimana alam semsesta ini tercipta. bagaimana mungkin kita bisa mendefinisikan tuhan dari kemampuan kita yang sangat terbatas itu.

tuhan hanya bisa kita definisikan melalui ilmu darinya, yaitu wahyu yang di turunkan kepada para rosul yang dikemas dalam bentuk agama yang “bebas dari cacat anarkisme pilsafat”.

saya pribadi yang secara strata akademik baru tamat SLTA, tentu masih berada jauh di bawah anda. juga bisa memfatwakan pemikiran melalui pendekatan objektif dari hasil perjalanan saya sendiri tentang tuhan, kalau berbicara dalam ruang lingkup pilsafat.

mengapa?

pekerjaan orang pilasaf cuman dua ” bertanya dan bertengkar ” tidak ada titik temu berupa kesepakatan final tentang pembahasannya.

pandangan AKU (EGO) tentang tuhan adalah :

tuhan itu ada, Dia pencipta bukan yang diciptakan. karena itulah Dia mempunyai sifat “berbeda dari semua makhluk”. kita hanya bisa mengenal tuhan melalui semua ciptaan Nya, kemudian beriman kepada Nya.

#8. Dikirim oleh kidang  pada  23/10   05:42 AM

@fahmi:
silakan anda menggunakan sederet argumen yang menyatakan Al-Qur’an sebagai rujukan semua ilmu. Tetapi saya lebih mengedepankan ilmu didunia (bukankah do’a yang sering kita ucapkan adalah fiddunia wal akhiroh?) merupakan perintah Tuhan bahwa manusia itu diberi akal untuk mencari sebanyak-banyaknya nikmat Tuhan di bumi ini? yang berarti pula secara kasat mata kesejahteraan dan kemajuan suatu peradaban berasal dari science. Ingat bung, bahwa Al-Qur’an itu sendiri lebih banyak membahas tentang bagaimana kita mengelola hidup dengan penuh peradaban tanpa meninggalkan esensi Tuhan itu sendiri? Coba carilah padanan di kitab suci mana sajalah….bagaimana kita harus bisa sampai di Mekah dari Indonesia? apa cukup berserah diri dengan Tuhan, kemudian kita bisa sampai sana? Mustahil bukan? Hanya Science yang bisa menerbangkan Anda ke Mekah. Janganlah Anda pergi ke dokter kelak jika sakit, bukankah Tuhan yang akan menyembuhkan? silakan menikmati kesakitan itu.

#9. Dikirim oleh salmon  pada  23/10   09:00 AM

Assalamu’alaikum wr. wb.

Salmon, wah anda ini baca sepatah2 atau keseluruhan tapi sudah apriori duluan? Dimana ya saya katakan bahwa Al-Qur"an adalah rujukan semua ilmu? Sudah jelas di atas saya katakan tidak semua ilmu yg MANUSIA temukan di dunia ada di Al-Qur’an. Tapi untuk ilmu2 yg ada di Al-Qur’an, ya yg benar Al-Qur’an. Untuk urusan yg tak ada penjelasannya di Al-Qur’an ya jelas saya mengikuti ilmu dunia. Males saya tulis panjang lebar kalau yg baca buta macam anda ini.

Wassalam.
Allahu Akbar.

#10. Dikirim oleh Fachmi  pada  23/10   10:31 AM

latar belakang pendidikan akan sangat berpengaruh pada pandangan seseorang.gelar sarjana tidak dapat menjamin dia dapat menjawab persoalan-persoalan yang sangat elementer sekali.alQu’an adalah wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang dinilai ibadah jika membacanya akan berbeda dengan Hadits yang ada beberapa kategori :shohih, hasan, dloi’f bahkan ada hadits maudlu, lha ini cerita (Nabi Musa A.S, dan Proses kejadian manusia) Alloh yang mewahyukan bagaimana tidak percaya? payah sarjana kayak gini….

#11. Dikirim oleh Munajin  pada  24/10   04:23 AM

pada tahun 2005 yang lalu telah difatwakan oleh MUI bahwa paham sekularisme,pluralisme dan liberalisme merupakan paham yang berasal dari peradaban barat yang ternyata keberadaannya menyesatkan umat manusia.

sebagai contoh masalah yang ditimbulkan oleh paham sekuler ini adalah kekeliruan ilmu (corruption of knowledge) yang dikatakan oleh Prof.S.M.Naquib Al-attas (pakar pemikiran islam)  hal tersebut (baca:kekeliruan ilmu) merupakan masalah yang mendasar dalam kehidupan manusia modern.

dampak tersebut sepertinya sudah merasuk ke dalam tatanan keilmuan metafisika, kita dengan tidak kikuk memisahkan ilmu science dengan agama karena dalam anggapan kita bahwa ilmu tersebut tidak ada hubungannya dengan agama, bagaimana kita bisa menemukan cara membuat pesawat dalam Al-Qur’an, bagaimana kita bisa menemukan cara menghitung gempa yang terjadi dalam Al-Qur’an atau bagaimana kita bisa sampai ke mekkah dari indonesia dalam Al=Qur’an. Inilah pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari akibat corruption of knowledge itu.

sebenarnya fungsi agama terhadap science bukanlah mengangkat hal semacam itu,Al-Qur’an terlalu tinggi jika harus “dipaksa” membahas pertanyaan-pertanyaan itu sebab bukan disitu esensi dari agama.

esensi antara islam dengan science menurut wendi zarman adalah menghubungkan filsafat science yang melatarbelakangi teori-teori dalam ilmu metafisika tersebut terhadap islam,karena teori-teori itu lahir bukan dari suatu ruang kosong melainkan dari suatu sandaran metafisika mengenai hakikat alam semesta

kita memang diberi akal oleh Allah SWT untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan diatas dengan tidak menafikan kebesaran Allah dalam mengatur alam semesta ini.Wallahu A’lam.

#12. Dikirim oleh rifki akbar  pada  24/10   08:21 AM

ana heran kok ada aja orang yang berupaya sekuat tenaga mengukuhkan diri bahwa manusia itu terbatas, tidak akan sanggup ini, itu dsb. lagian siapa juga yg mengklaim bahwa manusia itu maha sempurna dan mampu apa saja? manusia kritis terhadap segala hal termasuk terhadap masalah agama toh itu akibat “ulah” tuhan juga yang telah menganugerahkan manusia dg akal yg memang sangat dahsyat itu. so fa istabiq al khairat saja lah ye. peace guy…

#13. Dikirim oleh wibawa  pada  24/10   12:59 PM

Ada dua pilihan anggapan yg saya tengarai berkembang dlm masyarakat beragama.
1.GOD IS THE GREATEST MAGICIAN.
2.GOD IS THE GREATEST SCIENTIST.

Klo titik tolak pemikirannya udah beda, ga bakal bakal ada titik temunya klo diskusi.

#14. Dikirim oleh allie  pada  25/10   06:43 AM

Tulisan yang ngawur, hanya karena kuping gajah itu lebar dan tipis bukan berarti bentuk gajah itu seperti daun. Allah itu Rahman dan Rahim, tapi jangan lupa juga bahwa ‘azabnya sangat keras dan pedih.

#15. Dikirim oleh abu raihan  pada  27/10   08:08 AM

hebat ya bagi manusia yang lebih mengakui science (produk manusia) lebih tinggi dari pada ilmu Allah..
Manusia lebih berbangga menciptakan pesawat…, sedangkan Jaman Nabi Allah Sulaiman mengendarai udara dalam perjalanannya? Subhanallah… Maha Suci Allah dari kebodohan makhluk_Nya.. Ya Allah ampunilah hambaMu yang bodoh ini karena Engkaulah Yang Maha bijaksana
dan untuk makhlukNya,Bukankah tantangan Allah masih ada hingga saat ini bagi manusia dan jin yang sanggup membuat satu surat yang semisal Al-Quran… (maka dia bisa memproklamirkan dirinya menjadi tuhan baru?)

#16. Dikirim oleh bagas  pada  28/10   06:08 AM

Rasullullah SAW pernah berkata: sesuatu jika di berikan pada ahlinya, maka tunggulah kehancuran.
hendaknya jil klo ingin bertanya agama hendaknya pada ahlinya,bukan pada seoarang dokter.

#17. Dikirim oleh bastomi  pada  28/10   08:26 AM

sekarang terserah individunya masing_masing, apa senang ama dongeng atau science/saints? Berbeda pendapat itu hal yang biasa, tapi kalau sudah memaksakan suatu pendapat kepada orang lain itu sudah tidak sehat. “Berimanlah dengan sehat”

#18. Dikirim oleh ivan  pada  28/10   09:04 AM

Ya begitulah pandangan orang-orang yang jadi antek-antek iblis & ingkar pada ayat-ayat Allah SWT(na’udzubillah min dzalik). Sdh jelas di dlm al-Qur’an bhw Tuhan itu ada, lha kok msh dipertanyakan keberadaannya, lho… Dasar cah linglung…!

#19. Dikirim oleh ahmad din  pada  28/10   03:57 PM

Saya sangat bisa memahami pendapat dokter. Bahwa ketika kita sudah memilih agama, di sana harus ada yang kita imani. Itu harus.
Nah ketika kita bersinggungan dengan ilmu pengetahuan tentang kehidupan, tentang kejadian-kejadian seperti gempa, gunung berapi, dan sebagainya, pertanyaan yang muncul adalah ke mana kita harus berpaling. Apakah kepada kitab suci atau kitab ilmu pengetahuan.
Untuk menjawab pertanyaan seperti ini, tentu kita kembali kepada hakekat Tuhan menciptakan manusia. Pakah Tuhan menciptakan manusia sebagai robot semata atau sebagai manusia seperti kita sekarang ini yang dibekali otak untuk berpikir dan hati untuk merenung. Karena Tuhan menciptakan kita dengan otak, maka jawaban dari pertanyaan di atas adalah tidak salah ketika kita menggunakan otak kita untuk melalangbuana menekuti ilmu pengetahuan untuk menambah pengetahuan kita tentang alam yang kita diami.
Kalau kita berhenti pada apa yang dikatakan oleh kitab suci untuk menjelaskan, contohnya di artikel di atas tentang seperti apa terjadinya janin, itu sama artinya kita menganggap otak yang diciptakan oleh Tuhan sendiri tidak bedanya dengan bongkahan batu yang ada di pekarangan kita.
Kita dibekali oleh pikiran, logika dan itu semua berasal dari Tuha. Nah kalau akal, logika kita gunakan, apa ini salah? Tentu tidak.
Nah ketika kita melalangbuana untuk mencari apa yang harus kita cari, alangkah bijaknya kalau kita tetap ingat bahwa kita manusia yang beriman. Tetapi jangan sampai iman membatasi kita untuk berpikir. Kalau iman membatasi kita untuk berpikir, maka dunia tidak akan berkembang seperti sekarang.
Dengan dasar yang demikian, kita selayaknya menaruh agama dan iman dalam wilayah privat, wilayah pribadi. Kita tempatkan agama sebagai ritual untuk berkomunikasi dengan Tuhan agar perilaku kita tidak melenceng dari apa yang dikehendakiNya.
Lalu bagaimana kalau penjelasan di kitab suci ternyata berbeda dengan yang ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern yang menjadi hasil olah pikir manusia, di mana pikiran manusia berasal dari Tuhan.
Jawaban yang bijaksana adalah bahwa ilmu pengetahuan pada saat kitab suci itu lahir memang belum mampu menjelaskan fenomen tersebut. Jadi kita tidak perlu menyalahkan teks kitab suci karena kitab suci memang tidak boleh kita pandang sebagai kamus ilmu pengetahuan. Kitab suci harus kita pandang sebagai kamus keimanan. Melalui teks kitab suci kita bisa menjadi orang beriman. Nah kalau kita ingin menjadi orang berilmu, yang kita harus belajar dari buku-buku ilmu pengetahuan. Dan ini tidak salah karena buku ilmu pengetahuan tercipta karea olah pikir manusia di mana pikiran manusia berasal dari Tuhan. Jadi pada akhirnya apa yang ada sekarang ini berasal dari Tuhan. Hanya Tuhan melahirkan ilmu pengetahuan melalui manusia yang dipilihnya, yaitu para penemu-penemu seperti Albert Einstein, Isaac Newton, Thomas Edison, dan sebagainya. Mereka dipilih bukan untuk menerima wahyu tetapi menerima ilmu pengetahuan.

#20. Dikirim oleh Putra Pertiwi  pada  29/10   10:31 AM
Halaman 1 dari 3 halaman 1 2 3 > 

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?