Ahmad Baso: RUU KUB Bersemangat Orde Baru…
Oleh Redaksi
Baru-baru ini Departemen Agama akan mengusulkan Rancangan Undang-Undang Kerukunan Umat Beragama (RUU KUB) untuk dibahas di DPR. Rancangan banyak mendapat respon dari berbagai ormas keagamaan dan kalangan yang peduli akan soal kebebasan beragama. Pasalnya, dalam RUU tersebut sarat dengan campur tangan negara terhadap keberagamaan warganya dari mulai lahir sampai mati.
Komentar
Saya copy paste pernyataan Bung Baso, yang saya yakin tidak akurat sekali, sbb :
“Sementara, soal pendirian masjid, faktanya tidak pernah dipersoalkan. Di lapangan, kalau mau membanguan gereja harus minta izin ke sana-ke mari, tapi kalau masjid tidak pernah”
Padahal kalo kita mau ingat dan obyektif beberapa tahun yang lalu setelah ceramah Theo Syafei yang membakar, penghambatan pembangunan masjid, pembakaran pun terjadi di NTT, Tim Tim (sekarang Timor Leste).
Sebaiknya bung Basso jika masih ingin disebut intelektual harus mempunyai data yang lengkap dan akurat, sehingga tidak memalukan seperti ini.
Oh ya jika kita ingin menambah wawasan dan pengayaan pendapat dan wacana, apakah JIL berani mewawancarai pihak2 yang berseberangan ideologi, misalnya Jafar Umar Thalib, Habib Rizieq, KH Athian Ali, atau AA Gym. Dan juga yang diskusikan/dibahas masalah2 yang kontraversi, misalnya, masalah Jilbab, polygami, Nikah lain agama.
Karena selama ini kelihatannya JIL hanya ingin membentuk opini bahwa keyakinan mereka tidak benar, dengan cara hanya mewawancarai pihak2 yang sepaham dengan JIL tentang isu2 tsb, sehingga dikesankan mereka salah dan pendapat JIL benar.
Usul yang bagus dari saudara hari Harry. Sudah saatnya JIL mewancarai para tokoh yang berseberangan ideologi. Selama ini kita cuma dapat jawaban atau pernyataan kritis dari yang diwawancarai belum pertanyaan-pertanyaan kritis dari JIL kepada para tokoh.
Saya tahu ini tantangan sendiri buat JIL tapi saya yakin dengan begini pembaca akan lebih mengargai JIL. Kalau para tokoh yang berseberangan ideologi menolak untuk diwawancarai JIL perlu juga menulis penolakan mereka dengan alasannya, tidak perlu sungkan. Ini bagian dari keterbukaan.
Salam
Salam, Saya sekedar menanggapi lontaran dari saudara Harry dan Ali yang menganjurkan agar JIL untuk “obyektif”. Kalau saya boleh tahu menurut saudara berdua, apa sih yang namanya “obyektif” itu? Sekedar merujuk “ulama” (kan artinya orang yang berilmu, jadi dia juga masuk) hermeneutika, Kyai Gadamer, bahwa penafsiran obyektif yang valid adalah sesuatu yang mustahil. Jadi sebagai counter discourse dari beliau-2 yang sampeyan sebut tadi, sangat wajar JIL tidak mengakomodasi mereka, karena pikiran mereka sudah terakomodasi selama ini dan hampir mendominasi ruang publik keIslaman di negeri ini. Wassalam,
Gandakusuma
——-
Komentar Masuk (3)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)