Wawancara,
08/04/2009

Saras Dewi: “Saya seorang Hindu yang membaca Alkitab, Alquran, dan Tripitaka”

Dan saya rasa jawaban diplomatis Gandhi sangat jujur, bukan hanya ingin untuk menyenangkan dua belah pihak. Dia mengatakan, saya bukan Hindu, saya bukan Islam. Agama saya adalah Agama Cinta. Jadi saya merasa bahwa apa yang dilakukan oleh Gandhi adalah ingin menunjukkan bahwa yang seharusnya ditonjolkan dari agama adalah kebaikan, cinta kasih, belas kasih, rasa toleransi, rasa persaudaraan. Itu sebenarnya hakikat dari agama.

08/04/2009 12:06 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (184)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 10 halaman 1 2 3 >  Last ›

ingin rasanya melepaskan “identitas” Islam. aku semakin ragu dengan Islam sekarang, juga agama-agama lain, mungkin agnotis saja. 6 tahun aku di pesantren, 4 tahun aku di universitas Islam jogja, bagiku adalah “batu loncatan” menuju agnotis murni. aku harap jasadku dibakar bila aku sudah tak bernyawa. aku ingin semua identitas agama dilenyapkan diganti dengan “agama cinta” 1 untuk semua.

#1. Dikirim oleh ochidov  pada  08/04   05:30 PM

Sahabat muslim dan non muslim yang berbahagia.

Saya mengikuti sebuah Diklat penjenjangan di daerah Jawa Barat beberap tahun yang lalu. Secara sengaja saya memilih teman sekamar yang beragama Hindu karena sebelumnya saya sudah sering mempunyai roommate yang beragam Kristen dan Katolik.

Lebih kurang tiga bulan saya dan teman yang beragama Hindu selalu saling menjaga agar terus bersemangat mengikuti diklat agar secepatnya dapat sertifikat kelulusan. Namun persahabatan itu tidak hanya untuk menyelesaikan diklat, yang menarik dia selalu mengingatkan saya apabila magrib, isya atau subuh sudah datang agar saya bisa sholat. Sayapun tak segan - segan membangunkan sang kawan apabila waktu sembahyangnya sudah tiba dan jadilah kami beribadah dalam satu kamar.. dia di pojok kiri dan saya di pojok kanan kamar dengan tata ibadah yang berbeda begitulah kami melewati tiga bulan itu dengan ringan dan berkesan sampai sekarang…..aneh kagak ya?

#2. Dikirim oleh Prabu musi  pada  09/04   03:46 AM

salut.perbedaan itu pasti ada. berpendapat adalah hak setiap yg bernafas, memaksakan pendapat itu baru masalah.

#3. Dikirim oleh roum  pada  09/04   03:22 PM

Memang tidak ada yang salah dengan agama, masalahnya ada pada manusianya.  Orang belajar agama bukan lagi untuk ‘belajar’ dan menjadi bijaksana, namun untuk mendapatkan status sosial yang baik dan uang. Karenanya, orang yang ‘pintar agama’ tidak dijamin baik moralnya, dan bijaksana tindak-tanduknya.

Petikan tulisan al Ghazali : Rusaknya masyarakat karena rusaknya para pemimpin, rusaknya para pemimpin karena rusaknya para tokoh agamanya.

#4. Dikirim oleh Hamdan Arfani  pada  09/04   04:59 PM

Saya pribadi kurang sependapat dengan konsep agama seperti yang saudara Saras Dewi fahami dari jawaban diplomatis Mahatma Ghandi. Jawaban demikian hanya mengisaratkan keputusasaan penganut agama yang cendrung frustasi, akibat tidak tercapainya makna agama dari sosok-sosok yang dianggap agamawan.

#5. Dikirim oleh Zulfan Syahansyah  pada  09/04   07:35 PM

semua agama mengajarkan untuk menyembah kepada dzat yang menciptakan dan menguasai kehidupan jagat raya serta untuk berbuat baik kepada seluruh mahkluk hidup dan alam jagat raya ini.

tetapi kenyataan yang terjadi adalah adanya oknum atau kelompok oknum manusia yang menggunakan agama untuk mengexploitasi individu atau kelompok manusia dengan kekuasaan untuk kekuasaan.

andaikan semua penganut agama mengamalkan kitabnya masing-masing dengan benar pasti akan terjadi hubungan toleransi dan kerja sama sosial yang baik antar umat beragama.

tetapi juga sangat naif,absurd dan tidak masuk akal pemikiran yang mengarah kepada penyatuan paham ideologi agama dengan menganggap bahwa semua agama sama . yang perlu dikembangkan adalah pemikiran bahwa semua agama baik dan masing-masing umat beragama saling menghormati keyakinan agama lain, saling kerja sama sebagai mahkluk sosial, tidak ada usaha-usaha dengan sengaja atau memaksakan kenyakinan agamanya kepada penganut agama lain baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. kalau ini ditaati oleh seluruh umat beragama, mudah-mudahan tidak adalagi bentrokan idiologi, fisik dan kekuasaan antar umat beragama baik di-indonesia maupun di-dunia.

#6. Dikirim oleh habibbah azzahro  pada  10/04   01:35 AM

Menarik…, kalau saya membaca artikel ini. Saya sependapat dg sdri Saras Dewi,memang kita harus berani membuka diri terhadap segala sesuatu yg baru terlepas hal2 tsb berasal dari kepercayaan / agama lain diluar Islam.Karena banyak sekali contoh,teladan yg dapat kita ambil.Seperti ajaran cinta kasih dari Nabi Isa ( Yesus ),ajaran ahimsa dari Gandhi,menghormati alam/lingkungan dari Hindu,mencintai hewan&makhluk;hidup yg lain dari Siddharta,dll. Dengan mempelajari hal2 tsb akan semakin memperkaya wawasan & akan membuat kita bijak/berpandangan luas.Iman kita tdk akan luntur hanya karena kita mempelajari/membaca kitab suci agama lain. Kalau kita apresiatif terhadap kepercayaan/agama2 lain,masalah bentrokan antar agama akan hilang dengan sendirinya.Dan sesungguhnya inilah esensi ajaran Islam.Agama rahmattan lil allamin,agama salam,agama yg membawa kedamaian,Islam dambaan Sang Nabi.
Ini yang kita kembangkan sehingga citra Islam yg kolot,fanatik,taqlid buta,puritan,agama teroris bisa berangsur-angsur hilang.

#7. Dikirim oleh Adhyatma  pada  10/04   04:26 PM

Perjalanan yang sangat bagus dan mencerahkan segenap jiwa bagi yang berkeinginan untuk damai disegenap kehidupan ini,“Puramdhara” alias Benteng Terakhir kehidupan adalah Makna Damai dan Bijaksana

Perjalanan yg saya alami dirumah dahulu dng Bapak Islam dan Ibu Kristen,tidak membuat masyarakat sangat senang dengan Konsep tersebut,apalagi sekarang anak - anak saya ada Islam , Kristen dan Budha…..alangkah indahnya kalau Konsep SARA sebagai suatu Kesadaran dijadikan suatu MODAL DASAR INDONESIA lebih dalam lagi…..

#8. Dikirim oleh Ir. A.Hanafi  pada  10/04   04:52 PM

Bila hakikat dari agama adalah kebaikan, cinta kasih, belas kasih, rasa toleransi dan rasa persaudaraan..

apakah boleh seorang muslim menginggalkan sholat 5 waktunya untuk memenuhi permintaan tetangganya membersihkan rumahnya yang kotor karena banjir?

..

Adalah berbeda mencari makna Ajaran dengan mencari kemudahan ajaran.

..

Salam.

#9. Dikirim oleh nitten  pada  11/04   11:15 AM

Dalam Islam jelas yaitu prinsip “habluminallah” dan “habluminannas”.
Penjelasan ttg cinta kasih Gandhi yg diurai mbak Saras Dewi di atas saya setuju itu adalah habluminannas.
Dan yg paling penting adalah habluminallah yaitu LAAILLAHAILLALLAH, apapun yg dipuja termasuk harta benda, kedudukan, pangkat, dll berarti sudah menyimpang dari prinsip ini.
Selanjutnya lakumdinukumwalyadin.

#10. Dikirim oleh Sam  pada  12/04   03:46 AM

Ya, membaca wawancara ini sangat menyenangkan. Terasa damai di hati. Pandangan Saras Dewi begitu luas, bahkan memasuki hakikat dari agama. Agama saya adalah Agama Cinta,begitu ia mengutip Gandhi.
Memang, dewasa ini sepertinya ada kecenderungan untuk untuk universalisasi agama yang mungkin sebagai akibat dari globalisasi di berbagai bidang kehidupan. Hak Azasi Manusia (HAM) telah menjadi agama baru yang diterima oleh hampir seluruh negara.
Istilah pluralisasi muncul dan kemudian, sejumlah yang merasa diri tokoh menamakan diri sebagai pluralis. Yang tidak pluralis sepertinya ketinggalan. Agama begitu—dikinikan—, atau—disekarangkan—maknanya. Hingga, agama itu hanya berarti bila diukur dengan nilai kemanusiaan yang sekarang sekarang dan kini.
Sehingga, yang tidak sekarang dan tidak hadir disini, menjadi tidak penting untuk dibahas, apalagi diyakini. Maka, kemudian manusia mulai “mengukir” surganya hanya “disini dan kini”. Sepertinya tidak ada lagi kehidupan setelah “disini dan kini”. Urusan akhirat, di atur dan ditentukan dalam perspektif seperti ini.
Namun, bila dikaji secara seksama, ujung dari landasan munculnya gejala “globalisasi agama” tersebut adalah bersumber dari temuan akal manusia. Temuan kode etik persaudaraan antar agama. Temuan untuk menghargai agama lain. Temuan teknologi yang menjadi daya tarik yang sangat kuat. Temuan-temuan manusiawi, yang adalah dugaan-dugaan manusiawi. Bagai peradaban manusia yang mengalami masa puncaknya yang lalu dengan penuh percaya diri mampu menyusun “agama baru”.
Dalam sejarah masa lalu, kaum seperti itu pernah muncul, namanya kaum ‘Aad, juga kaum Tsamuud. Kejayaan dalam masanya dengan karya yang demikian “gemilang”, tanpa terasa menggeser iman kepada kesekarangan, kekinian dan ke-disini-an. Prestasi duniawinya memunculkan “aku"nya, menenggelamkan kesadaran Tuhannya. Hingga tanpa mereka sadari sepenuhnya, Tuhan, telah tereliminasi, tenggelam dalam bawah sadarnya. Rasul, sebagai utusan Allah, dipandang dengan memicingkan mata. Agama-agama itu dlihatnya hanya sebagai sesuatu yang ketinggalan, kurang trendy, kurang universal, kurang plural, kurang cinta kasih, kurang toleransi, kurang manusiawi. Pokoknya serba kurang. Oleh karena merasa kurang, maka manusia “meracik” sendiri agamanya, sesuai dengan nalar akalnya, referensinya, pengalamannya, peradabannya dan seleranya.
Dalam sejarah,—dan sejarah itu yang mengkisahkan adalah Tuhan sendiri—, kita mengetahui bahwa ujung dari itu semua adalah, Tuhan menghancurkan kedua kaum tersebut -sehancur-hancurnya, tiada yang tersisa.
Bagi seorang mukmin, munculnya fenomena tersebut, merupakan hal yang pernah ada dalam sejarah ummat manusia. Dalam A-Qur’an, sangat gamblang dijelaskan. Jadi, tidak heran. Fenomena ini semakin menampakkan kebenaran Al-Qur’an, sebagai kisah manusia ber-ulang hadir.

#11. Dikirim oleh isoelaiman  pada  13/04   03:08 AM

Wow…aku suka banget baca artikel ini karena memang aku lagi pengen belajar lebih detil lagi tentang agama-agama khususnya agama Hindu…paling ga aku sudah dapat sebagian wawasan tentang Hindu!Agama cinta??setuju banget!!

#12. Dikirim oleh nonik  pada  13/04   08:09 AM

Wow…aku suka artikel ini!apalagi aku memang pengen belajar tentang agama-agama khususnya Hindu,paling ga bisa nambah wawasanku!many thanks ya?tentang agama cinta??? SETUJU BANGET!!!

#13. Dikirim oleh nonik  pada  13/04   08:28 AM

apa kalian mgerti makna rasul ttg musuh islam??
mnrtku kalian sdah melampaui batas namun aku ttp mghargai keinginan kalian. hindu agama bebas?, tp knp ada kasta?, knp klo mati harus dibakar?,knp kalian sk bgt sm ibadah yg simbolis??? apakah kalian prnh brfikir btpa bnyak azab allah utk hindus?

#14. Dikirim oleh bastian  pada  13/04   09:46 AM

cinta kebaikan, cinta kasih, belas kasih, rasa toleransi, rasa persaudaraan tu hanya terpelihara dg islam, pluralisme tidak bsa merealisasikan hal2 tsb.

#15. Dikirim oleh ferry  pada  13/04   10:17 AM

Salam damai dan sejahtera buat semua.

Jujur secara pribadi, saya sangat terkesan dengan kehidupan Sdri Saras Dewi, yg secara alam dibesarkan oleh dua agama dalam kehidupannya. Secara tdk langsung “menplot” alur pemikiran bahwa sebenarnya agama itu hak orang hidup yg paling asasi. Bukan berarti memilih ajaran yg dianggap paling “gampang” dikerjakan tapi benar-benar karena tuntutan hati. Ibarat perut lapar, makan nasi adalah sebuah jawaban, bila batin lapar, agama lah jawabannya. Bila kita merasa bisa memenuhi rasa lapar batin dengan pemahaman sebuah agama bahkan agama cinta pun , mengapa tidak? toh yg merasakan diri kita sendiri, bukan orang lain. Sebab diri kita sendiri kelak yg akan mempertanggung jawabkan semuanya. Semakin kenyang batin kita oleh suatu agama semakin kita merasa dekat kepada yg Kuasa, semakin kita bisa menjaga hati dan tingkah laku kita, bisa hidup berdampingan dengan orang lain bahkan yg berbeda agamapun, itu hakikat beragama yg sebenarnya. Sebab agama bukanlah hal yg diperdebatkan, bukan hal yg dicari kesamaannya atau kesalahanya, ndak akan pernah ketemu, tapi untuk memenuhi rasa lapar batin kita. Sebab dasar kita beragama itu apa? apakah beragama suatu takdir? apakah beragama karena keturunan? apakah beragama karena pencarian? apakah beragama karena kesadaran? atau karena doktrin?
Percuma mengaku beragama paling benar, tapi tingkah lakunya tidak benar, cenderung meremehkan agama lain. karena seolah olah dijamin masuk surga, yg lain kafir. Inilah yg sekarang banyak terjadi, suka bermain-main dalam wilayah kewenangan Tuhan dan seolah olah wakil Tuhan dan menjadikan ajaran agama sebagai tameng kepentingan golongannya.
Coba tengok kehidupan Saras Dewi ini sampai tidak mengerti kenapa diluar kehidupan keluarganya bisa terjadi keanehan seperti itu. Entah yg salah siapa? 

Salam…

#16. Dikirim oleh Wong deso  pada  13/04   10:44 AM

Topik yang dibahas kali ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan topic mengenai pluralisme yang sudah pernah dibahas dalam edisi JIL sebelumnya. Hanya kali ini saya lebih melihat sebagai usaha JIL menunjukan suatu sikap yang ditunjukan oleh umat lain terhadap pluralisme dan bagaimana sikap kita sebagai umat muslim melihat pandangan umat lain tersebut. Sulit dipungkiri keberanian bersikap seperti narasumber yang diwawancarai tersebut, akan tidak atau jarang berani ditunjukan oleh kita sebagai umat muslim. Saya pernah mengobrol panjang lebar dengan teman-teman dari Bali yang beragama hindu dan ada statement cukup mengejutkan saya dari mereka, bahwa kalau umat hindu secara umum demikian mendukung pluralisme karena ajaran kitab suci merekalah yang mengajarkan seperti itu. Jadi kesimpulannya menurut mereka kalau ada umat hindu yang bersikap fundamentalis dan anti pluralisme, mereka justru melawan nilai-nilai dasar dari agama hindu sendiri.

Menurut teman-teman saya yang umat hindu tersebut, di kitab suci mereka Bhagawad Gita, Tuhan bersabda yang kurang lebih berbunyi sbb : siapapun yang hendak menuju tempatku (Tuhan), akan aku terima. Siapapun mereka dan bagaimanapun cara mereka menuju tempatku (Tuhan), akan aku (Tuhan) terima. Ada yang lewat nyanyian, ada yang lewat persembahan, ada yang lewat doa dan bla….bla….bla……. Bagi kalangan umat hindu fundamentalis (kalau misalnya ada hindu fundamentalis), mereka sebenarnya bisa saja memelintir ayat tersebut dengan mengatakan bahwa “ ada yang lewat nyanyian (hanya yang dinyanyikan oleh umat hindu), ada yang lewat doa (hanya doa yang keluar dari mulut umat hindu) dan ada yang lewat persembahan (hanya persembahan dari umat hindu), dengan kata lain segala nyanyian, doa dan persembahan yang dilakukan oleh umat non hindu tidak akan diterima Tuhan!!! Tapi pada kenyataannya sikap exclusive semacam itu tidak pernah ditunjukan oleh umat hindu.

Ada juga ayat dari kitab suci umat hindu yang berbunyi : sesungguhnya Brahman (Tuhan) itu cuma satu, tetapi orang bijaksana menyebutnya dengan beragam nama. Kalau kita jujur menilai ayat tersebut, sedemikian kuatnya aroma Pluralisme yang ditunjukan oleh ayat tersebut.

Mohon teman-teman umat muslim jangan buru-buru memvonis saya sebagai muslim KTP karena mencoba mencari konsep ketuhanan dari umat dan kitab suci lain. Sebagai seorang muslim saya haqul yakin bahwa Al Quran juga mengajarkan pluralisme, hanya kenapa saat ini umat muslim “sangat sulit” menerima konsep pluralisme, menurut saya adalah karena sudah sedemikian parahnya agama (islam) dicampuradukan dengan politik, sehingga yang terjadi para ulama kita yang memiliki kecenderungan politik tertentu demikian mudah dan seringnya mengobarkan sikap fanatisme dan fundamentalisme. Para ulama kita juga sedemikian murahnya mengobral ayat-ayat suci di panggung-panggung kampanye partai politik. Seorang ulama besar di Malaysia yang juga petinggi PAS, bahkan pernah berkotbah umat muslim yang mencoblos PAS waktu pemilu di Malaysia dijamin akan masuk sorga!!! Astagafirullah!!!  Tentu saja dalam kondisi persaingan politik semacam itu yang mencampuradukan agama dan politik, maka pluralisme akan dipandang sebagai penghalang untuk mencapai tujuan-tujuan politik dari para ulama tertentu, yang mengandalkan basis masa islam sebagai kantong suaranya.

Ada satu hal lagi yang membuat saya sangat terkesan dengan kearifan orang Bali (Hindu) dalam menyikapi tindakan Amrozy dkk yang sampai dua kali meluluhlantakan Bali dengan bomnya. Sebuah kaset darma wacana (dikalangan umat muslim semacam dakwah)dari seorang tokoh agama disana yang sempat saya tonton mengatakan, “kita sebagai umat beragama (tokoh agama tersebut tidak mengatakan umat beragama hindu) jangan sampai membenci mereka (Amrozy, dkk), karena mereka telah kehilangan esensi dasar dari agama itu sendiri. Kita semua harus mengasihani mereka dan membimbing mereka agar esensi dasar agama yaitu cinta kasih bisa ditemukan kembali dilubuh hati mereka” Jujur saya katakan, sebagai muslim saya sangat malu diri terhadap diri saya sendiri menonton kaset tersebut.

Sudah saatnya kita jujur menilai diri kita sendiri, sikap memandang agama kita sendiri yang paling benar dan menjelekan agama orang lain, sudah saatnya kita evaluasi lagi. Esensi dasar dari seluruh agama adalah cinta kasih, kasih terhadap seluruh ciptaan Tuhan, kasih terhadap seluruh alam dan isinya. Tanpa ada cinta kasih yang tulus, maka seperti yang dikatakan dalam artikel diatas, serajin apapun kita sholat dan puasa, semuanya itu tidak akan ada artinya dimata Tuhan.

#17. Dikirim oleh cinta damai  pada  14/04   02:47 AM

Mas Isoelaiman yang baik,
Kekinian adalah keniscayaan, perubahan adalah keniscayaan, mengapa kita mengingkarinya?, saya justru khawatir apabila kita tidak mempergunakan “akal” kita sebagai anugrah terbesar atas pemberian Tuhan kepada kita untuk berfikir guna menyelesaikan persoalan kekinian pada hakekatnya sedang menghina Tuhan, mengapa ? karena kita tidak mau mempergunakan pemberian Tuhan (akal) dengan seharusnya. Kita kan tidak menafikan masa lalu, kita tidak menghapus masa lalu, tetapi dengan akal dan budipekerti yang baik kita ambil essensi kebenaran dari masa lalu untuk acuan saat ini namun dikemas dan disesuaikan dengan kekinian.
Kalau mau jujur dalam kurun waktu 5 abad terakhir ini apa sih sumbangan dunia islam bagi kemajuan peradaban manusia saat ini ?
Dunia Isalam sudah sangat ketinggalan dari segala aspek dan hanya menjadi objek yang tidak mampu berperan, dan ini sangat mungkin karena pola berfikir yang menafikan kekinian dan hanya mengagungkan masa lalu saja.
Salam.

#18. Dikirim oleh ardianto  pada  14/04   03:04 AM

Saya bingung kepada orang yang sangat meyakini bahwa agama yang dianutnya adalah yang paling benar padahal dia sendiri tidak pernah mempelajari secara mendalam agama2 lainnya. Sama saja mengatakan bahwa makanan Indonesia yang paling enak adalah gudeg, padahal dia sendiri belum pernah mencicipi rendang padang,sate madura, ketoprak dll,  hanya karena lingkungan disekitarnya dan orang2 terdekatnya meyakinkan dia bahwa gudeg adalah yang paling enak maka dia memutlakkan pendapat itu. Aneh bukan ? Dia hanya meyakini kebenaran yang di jejalkan kepadanya tanpa mau berfikir lebih kritis. Seandainya pun dia pernah mencicipi rendang apakah dia tetap dapat memaksakan pendapatnya kepada orang lain bahwa gudeglah yang paling enak ??
Itu sebabnya sesorang yang beriman tanpa proses berfikir akan memutlakkan apa yang diyakininya, namun dirinya akan cenderung melakukan pembenaran2 apabila keyakinannya itu terpojok.

Statement ini diucapkan sesorang 3000 tahun yang lalu,
“ Bekerjalah sebaik2nya sesuai dengan kodratmu, tanpa memikirkan hasilnya (Pahala) sebagai persembahan atas rasa syukur dan cinta kepada Tuhan”

Kalau kita mau jujur, adakah bentuk ibadah ritual ( aopapun agamanya ) yang lebih mulia dari statement diatas? Apakah kita mengganggap Tuhan pasti tidak senang apabila kita mendahulukan untuk membantu kesusahan orang lain ketimbang melakukan ibadah ritual yang diwajibkanNya?  Tidak cukupkah dalam satu riwayat Tuhan telah memberi contoh, bahwasanya sesorang lebih dimuliakanNya karena membatalkan niatnya untuk menjalankan ritual haji karena membantu tetangganya yang sedang dalam kesulitan?
Bahasa Cinta yang Gandhi katakan adalah esensi dari kebenaran. Cinta yang tidak mengenal batas, sekat, dan tanpa pamrih, yang sifatnya hanya memberi dan memberi, tanpa menuntut apapun, persis seperti statement tersebut diatas yang diucapkan seseorang 3000 tahun yang lalu.
Semoga akan banyak orang dengan pemahaman Cinta seperti Saras Dewi dan dunia akan jauh lebih indah tentunya.

#19. Dikirim oleh Dewayanto  pada  14/04   03:21 AM

Ketika membaca wawancara Saras Dewi, saya merasa semakin yakin bahwa agama hanyalah institusi yang menolong orang untuk menjadi insan yang berspiritualis.  Tidak peduli lewat agama A atau agama B, bahkan bisa jadi lewat beberapa agama (agama A, agama B dan agama C).

Saras Dewi dan Ibunya adalah salah satu saksi hidup bahwa manusia dapat belajar dari ajaran agama apa saja untuk memperkaya spiritualitasnya. Dalam wawancara itu kita diberi informasi bahwa Ibu Sara Dewi hidup sebagai seorang Muslim yang tetap melaksanakan tradisi agama/kepercayaan kejawen dan mengadopsi tradisi agama Hindu dalam kehidupan sehari-hari untuk memperkuat imannya terhadap Yang Ilahi.

Wawancara ini juga meneguhkan keyakinan saya selama ini bahwa agama adalah sebuah institusi/alat untuk membantu orang menjadi insan yang berspiritualis. Karena Agama itu adalah alat maka tidak ada masalah bagi saya apakah si A beragama Hindu, si B beragama Yahudi, Si C beragama Katolik atau si D beragama Kejawen. Yang penting adalah bagaimana orang itu mengimplementasi ajaran-ajaran dalam agamanya (alatnya) untuk kemakmuran dan kesejahteraan lahir batin umat manusia dan alam semesta.

Sebagaimana apa yang dikatakan oleh Gandi “agama saya adalah Agama Cinta”. yang dikutip oleh Saras Dewi dalam wawancara ini. Kutipan ini mengingatkan saya pada salah satu ayat dalam injil ketika Yesus ditanya,”.... hukum paling tinggi dihadapan Allah?” Jawab Yesus “Hukum Cinta Kasih”- Cintalah Allahmu dengan segenap hati dan cintailah sesamamu seperti Anda mencitai dirimu sendiri”.

Yang menarik adalah, Yesus tidak menganjurkan orang untuk beragama B atau beragama C, tetapi mengajarkan kepada umat manusia untuk menjadikan Hukum Cinta-Kasih sebagai hukum yang tertinggi dihadapan Allah. Sebagai pedoma utama dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai salah seorang yang hidup dalam dua agama, yaitu agama Katolik dan agama lokal (agama Lamaholot) saya sangat yakin bahwa jika kita menempatkan hukum Cinta-Kasih sebagai pedoman hidup kita sehari-hari, kita tidak akan tersesat dalam perjalanan menuju surga alias kebahagian.

hila

#20. Dikirim oleh hila  pada  14/04   03:36 AM
Halaman 1 dari 10 halaman 1 2 3 >  Last ›

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?