Wawancara,
08/04/2009

Saras Dewi: “Saya seorang Hindu yang membaca Alkitab, Alquran, dan Tripitaka”

Dan saya rasa jawaban diplomatis Gandhi sangat jujur, bukan hanya ingin untuk menyenangkan dua belah pihak. Dia mengatakan, saya bukan Hindu, saya bukan Islam. Agama saya adalah Agama Cinta. Jadi saya merasa bahwa apa yang dilakukan oleh Gandhi adalah ingin menunjukkan bahwa yang seharusnya ditonjolkan dari agama adalah kebaikan, cinta kasih, belas kasih, rasa toleransi, rasa persaudaraan. Itu sebenarnya hakikat dari agama.

08/04/2009 12:06 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (184)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 3 dari 10 halaman < 1 2 3 4 5 >  Last ›

Isoeleiman bawa2 nabi NUh yang jelas2 orang yahudi.
kalo anti yahudi, kenapa bawa2 orang yahudi ke mimbar ini sebagai idola.
belajar sejarah, filsafat yang banyak dulu baru ngomong… kan ada dalil naqli ada dalil aqli
nun walqalamun wamaa yasturuun
ALLAHU AKBAR

#41. Dikirim oleh antum  pada  22/04   05:56 AM

saya heran, kenapa bisa ya menyatukan agama yang jelas2 sangat berbeda? Rasanya imposible lo….Apakah mungkin tuhan menciptakan agama yang banyak? Kalaupun iya kenapa bisa terjadi? Lucu ya…. Padahal dalam Al-Qur’an sudah dijelaskan bahwa agama islam satu2nya yang sempurna yang diturunkan oleh Allah SWT tetapi masih ada juga orang yang masih ragu, heran saya…

Mungkin kalian merasa terkekang ya dengan mengakui 1 agama, napa?

#42. Dikirim oleh Adhiel  pada  22/04   10:46 AM

Untuk saudara/i yang merasa kurang aman atas komentar saya tentang SURGA DAN NERAKA

Tolong baca ulang komentar saya itu dengan hati yang dingin sehingga tidak menjadi emosional dalam menanggapinya.

Saya termasuk salah seorang yang selalu mengemukan pendapat dengan kata “menurut saya” atau “pendapat saya”. Saya merasa perlu menanggapi kritikan mereka untuk menjelaskan mengapa saya sering menggunakan kata-kata demikian.

Menurut saya, diskusi dalam milis ini adalah cara untuk membagi pengalaman dan ide. Jadi apa yang saya ungkapkan dalam milis ini adalah pendapat pribadi bukan pendapat golongan atau agama saya. Untuk menghindari hal ini saya ingin membedakan mana pendapat pribadi dan mana bukan pendapat pribadi dengan menggunakan kata “menurut saya” atau yang lainnya. Saya kuatir orang bisa salah mengerti sekan-akan pendapat pribadi saya ditanggapi sebagai pendapat golongan jika saya tidak menggunakan kata “menurut saya”

Selain itu menurut keyakinan saya, manusia dikaruniah otak untuk berpikir.Untuk menunjukan rasa terima kasih saya terhadap Sang Pencipta yang telah menciptakan otak saya; saya berusaha untuk menggunakan otak saya sebaik-baiknya. Dan fungsi otak adalah untuk berpikir, mengolah dan menganalisa informasi yang ditangkap oleh otak. Jadi saya berusaha untuk mencetuskan hasilolahan otak saya itu. Karena berpendapat itu adalah olahan otak saya, maka ia adalah milik saya. Dan karena milik saya maka saya pantas mengunakan kata-kata seperti “..menurut pendapat saya..” atau “menurut saya” dan yang lainnya. Bukankah Allah menghendaki manusia menggunakan akal pikirannya dalam melanjutkan karya cinta-kasihNYA?

Nah, kembali kepada diskusi kita tentang “surga” dan “neraka”. Kadang-kadang saya merasa irih terhadap orang Atheis yang mampu berbuat baik kepada sesama dan alam semesta tanpa pamrih. Dia beramal bukan karena mau mendapat pahala di surga atau takut tersiksa di neraka. Tetapi dia beramal karena dia yakin bahwa beramal adalah sesuatu yang wajar dilakukan dalam hidup bermasyarakat.
Sedangkan saya! Yah, tidak tahu! Sebagai orang yang dibesarkan dalam suasana keagamaan yang cukup kuat, saya sering bertanya terhadap diri sendiri;  Apakah saya beramal tanpa pamrih? Atau-kah saya lakukan amal dengan mengharap imbalan di surga? Atau saya lakukan amal karena takut siksaan neraka? Hakekatnya saya ingin bebas dari surga dan neraka ketika saya melakukan amal. Tetapi apakah BISA? Ya, saya berusaha sekuat tenaga supaya saya dapat beramal untuk beramal bukah untuk memperoleh surga atau menghindari neraka.

Hila

#43. Dikirim oleh hila  pada  22/04   01:32 PM

- Soal SURGA-NERAKA :

Konsep surga ada (juga) di dunia sudah saya dengar ketika usia saya masih belia, 15 tahun lalu. Konsep itu sangat filosofis. Tapi saya bisa menerima konsep tersebut. SURGA itu ada di hati yang sedang BERBAHAGIA. Islam memandu untuk mendapatkan kebahagiaan dunia-akherat. Karenanya, surga pun ada juga di dunia. Tentu saja, surga dunia tidak sesempurna surga akherat.

Soal surga di akherat, saya YAKIN adanya. Untuk bisa yakin, saya tidak perlu nalar2an, karena keyakinan yang kuat didapat dari pengalaman spiritual, bukan nalar2an.

- soal NUH ORANG YAHUDI :

Nuh jelas bukan yahudi, karena beliau lahir sebelum kelahiran moyang orang yahudi (nabi Ya’kub).

#44. Dikirim oleh Hamdan Arfani  pada  22/04   04:24 PM

perdebatan itu indah..
tp jngan sampai perdebatan itu menyinggung norma2 yang ada, apalagi agama..
klo pun terjadi saya harap yg mo kasih comment harus pnya dasar yg kuat..karena akan terjadi bid’ah..dan itu haram hukumnya..
agama yg baik adalah orang yg menganutnya dan tak mengagung2kan kebaikan akan agamanya..dan menjelekkan agama lainnya..
agama cinta tu tidak ada…
klo cinta, semua agama saya pikir akan melakukan hal yg sama..tp klo semua menganggap agama adalah benar kenapa tidak kita menganutnya semua???bukan…tidak perlu kita mengatakan agama kita paling baik sementara yg lain buruk..ckup kita dan sang pencipta yg mengetahuinya..lakum dinukum waliyadien..

#45. Dikirim oleh Nazriel_Naz  pada  22/04   07:52 PM

@ Surga neraka
@ Bojank

Kalau mengikuti perdebatan antara bojank dan surga neraka terlihat ada cara pandang yang sangat berbeda antara mereka berdua. Saya cenderung mengatakan bahwa ada kemiripan pola berpikir surga neraka, hila dan Bang Ulil. Dalam salah satu artikel di situs ini yang ditulis disini bang Ulil mengatakan bahwa pada dasarnya ayat-ayat yang ada di Kitab Suci bisa dicerna dengan akal sehat atau kita boleh menggunakan akal sehat kita dalam beragama, dengan kata lain nalar dan logika boleh dipergunakan (tentu saja dalam batas-batas tertentu).

Saya melihat tipikal dari Bojank adalah sebaliknya, yaitu melarang menggunakan akal sehat dalam mencerna ayat-ayat kitab suci. Dengan kata lain perdebatan atau menggunakan akal sehat dalam memahami isi kitab suci adalah hal yang diharamkan (maaf lho Pak Bojank, itu adalah penilaian saya yang tentu saja belum pasti benar).

Akibat dari sikap menggunakan akal sehat dalam mencerna kitab suci tersebut memang kadang-kadang membuat adanya relativisme, dan ini pun sangat dikecam oleh tokoh sekaliber Paus Yohanes Paulus.

Saya melihat konsep berpikir inilah yang menyebabkan kenapa dalam kelompok nasrani (juga di Hindu dan agama lainnya) ada begitu banyak aliran, ratusan bahkan ribuan tapi mereka tetap harmonis. Berbeda dengan islam, perbedaan yang terjadi kerap disikapi dengan tindakan anarkis. Contohnya nggak jauh-jauh, permusuhan yang sudah mendarah daging antara syah dan suni, penyerangan terhadap ahmadiyah, dan masih banyak lagi.

Sekarang kembali berpulang kepada umat islam menyikapi perbedaan berpikir tersebut, mau hidup damai dan menerima perbedaan sebagai keniscayaan atau mau semakin hancur-hancuran dengan saudara seiman?

#46. Dikirim oleh Damai  pada  23/04   02:03 AM

waduh, kalau mengikuti pendapat pak Damai, alangkah sempitnya (membawa damai tidak ya ?) mengartikan melarang menggunakan akal sehat dalam mencerna ayat-ayat kitab suci. Siapa yang melarang ? Bahkan kitab suci al-Qur’an selalu memerintahkan, sekali lagi memerintahkan, untuk menggunakan akal, selalu menggunakan akal. Typical Damai ini saya kira juga hampir sama (hampir sih) dengan pak surga neraka, mengedepankan akal (mudah-mudahan tidak nafsunya), perbedaannya mudah-mudahan Pak Damai ini masih memperhatikan tentang kebenaran dari Yang Maha Mencipta,  tidak lupa bahwa tubuh, otak, mulut, tangannya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa, sehingga tidak perlu menantang-Nya … (maaf loh Pak Damai, itu adalah penilaian saya yang tentu saja belum pasti benar)

Cobalah, ada program al-Qur’an digital, search kata ‘akal’, ‘berakal’, anda akan menemukan, apakah akal harus dipergunakan apa tidak… dan untuk apa akal harus dipergunakan … insya Allah anda dapatkan ...

#47. Dikirim oleh bojank  pada  23/04   11:27 AM

salam…
saya hanya mengomentari sedikit saras dewi tentang persamaan agama,, kalo kita berada di posisi yang sama,artinya sama2 sebagai muslim, kita punya refenrensi yaitu al-quran yang tdak bisa dibantah..
atas dasar apa anda mangatakan bahwa Alloh adalah tuhan untuk semua agama, itu salah besar, karena di quran dikatakan, ” telah kafirlah orang2 yang mengatakan isa almasih putra marian adalah Alloh,,
dan di surat yang lain
Al baqoroh ayat 148
Dan bagi tiap2 umat ada kiblatnya(sendiri) yang ia hadapkan kepadanya. Maka berlomba2lah kamu (dalam berbuat) kebajikan. Dimana saja kmu berada pasti Alloh akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Alloh kuasa atas segala sesuatu.

Ayat 149 albaqorah
Dan dari mana saja kamu keluar , maka palingkanlah wajahmu kearah masjidil haram; sesungguhnya ketentuan itu benar2 sesuatu yang hak dari tuhanmu. Dan Alloh sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.

Ayat 150 albaqorah
Dan dari mana saja kamu keluar,palingkahlah wajahmu kearah masjidil haram. Dan dimana saja kamu (sekalian) berada. Maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujah bagi manusia atas kamu, kecuali orang2 yang dzolim diantara mereka.maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku . dan kusempurtkan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk
dan di sutat yang lain , larangan mengambil nasrani dan yahudi menjadi pemimpin,

Almaidah ayat 51.
Hai orang2 yang beriman, janganlah kamu mengambil orang2 yahudi dan nasrani menjadi pemimpin2m(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi yang lain. Barang siapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin , maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang2 yang zolim.

Almaidah ayat 57
Hai orang2 yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang2 yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) diantara orang2 yang telah diberi kitab sebelum kamu.dan orang2 kafir(orang2 musryk) dan bertakwalah kepada alloh jika kmu betul2 orang yang beriman.

ayat2 di atas sangat tegas sekali mengisyaratkan bahwa Alloh bukan tuhan untuk semua agama, tetapi untuk satu agama, agma siapa?? agama yang diberi kitab Alquran.


saya kira saras dewi harus banyak lagi belajar dan bertanya kepada orang2 yang faham tntang islam, bukan dengan pemikiran sendiri, karena anda blum bisa memfungsikan dengan memaksimalkan akal anda,
wass

#48. Dikirim oleh dewa  pada  23/04   06:23 PM

Mempermasalahkan ibadah kepada Allah, dengan ibadah untuk mendapatkan rahmat di surga dan menghindari azab di neraka.

Sederhana, kita diperintahkan beriman kepada Allah, beriman kepada yang ghaib lainnya, yakni beriman kepada hari kiamat, beriman kepada hari pembalasan, beriman kepada siksa / azab Allah di neraka Nya, beriman kepada rahmat Allah di surga-Nya, beriman kepada siksa / azab kubur, beriman kepada malaikat-malaikat Nya, beriman kepada Kitab-kitab-Nya, dan seterusnya sebagaimana telah diperintahkan Allah …

Tentu hal yang tidak sempurna apabila kita beriman kepada Allah, terus kita tidak beriman kepada misalnya :
- kalimat-kalimat Nya melalui kitab Nya,
- tibanya hari kiamat dan hari pembalasan Nya
- janji Nya untuk memasukkan yang durhaka, yang tidak takut azab-Nya,  ke dalam neraka,
- janji Nya untuk memasukkan bertakwa, yang takut azab-Nya,  ke dalam surga
- malaikat-malaikat Nya
- adanya azab kubur
- dan seterusnya

dan entah apakah balasan Allah terhadap seseorang yang beriman kepada Nya, tapi tidak beriman kepada Kitab Nya, malaikat Nya, surga dan neraka Nya, dan seterusnya… (semoga mendapatkan ampunan Nya).

Bahwa dengan demikian beriman kepada surga dan neraka Nya Allah, pada dasarnya bagian dari suatu kesatuan untuk beriman kepada Allah, beriman kepada siksa azab Allah dan rahmat Allah pada dasarnya bagian dari suatu kesatuan untuk beriman kepada Allah, demikian bukan ?

Sebagaimana disebutkan dalam kalimat Allah dalam surat Az-Zumar ayat 10-16, yakni dengan terjemahan :

10. Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu.” Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.
11. Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.
12. Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri.”
13. Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari yang besar jika aku durhaka kepada Tuhanku.”
14. Katakanlah: “Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku.”
15. Maka sembahlah olehmu (hai orang-orang musyrik) apa yang kamu kehendaki selain Dia. Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat.” Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.
16. Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dari api). Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba-Nya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepada-Ku hai hamba-hamba-Ku.


Dan Allah dalam Kitab Nya sering menceritakan tentang surga dan neraka, mempertakuti hamba-hamba Nya dengan azab dan menjanjikan rahmat kepada hamba-hamba Nya tidak dengan main-main bukan ?

#49. Dikirim oleh bojank  pada  24/04   04:00 AM

Salam Sejahtera..

Semakin hari sepertinya diskusi ini semakin menarik. Saya sangat berbahagia melihat adanya interaksi dua arah dengan saudara kita yang sedang tertarik untuk meneliti Al-Qur’an dan Alkitab (Taurat, Kitab Nabi-Nabi Israel, Zabur, Injil Matius-Yohanes).

Al-Qur’an hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang mau menggunakan akal (QS.10:100). Hal ini sangat bertentangan dengan doktrin ulama yang menjunjung tinggi pembelajaran secara ‘taklid’, artinya santri (murid agama) diharamkan untuk berpikir kritis dan rasional.

Al-Qur’an berisikan dua tipe gaya bahasa, yang keduanya memiliki fungsi untuk menjelaskan tema-tema tersendiri. Kedua gaya bahasa ini adalah muhkamat (gaya bahasa kongkrit, bahasa hukum) dan mutasyabihat (gaya bahasa alegoris, perumpamaan). Silahkan teliti QS.3:7.
Ayat-ayat yang diredaksikan dengan gaya bahasa alegoris mendominasi isi redaksi Al-Qur’an bahkan hampir 80 %. Artinya, ada instrumen khusus untuk menembus ayat-ayat ini. Jika ayat-ayat muhkamat cukup ditafsirkan saja, maka untuk ayat-ayat mutasyabihat tidak cukup ditafsirkan melainkan harus dita’wilkan, atau dicari kata awal untuk menemukan makna awalnya.

Ayat-ayat mutasyabihat hanya bisa diteliti oleh Ulil Albab, suatu istilah khusus bagi orang-orang suci secara pola pikir. Orang-orang ini adalah manusia yang tidak menggunakan doktrin suku, budaya, bangsa, pemikiran individual, apalagi perkataan berantai yang diriwayatkan 200 tahun pasca wafatnya Muhammad bin Abdullah. Mereka hanya menggunakan instrument ayatin mubayyinatin (cross referential), yakni hanya menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an untuk menjelaskan ayat yang lain dan semua ayat itu bisa diaplikasikan. Jadi Al-Qur’an sengaja didesign untuk menjelaskan dirinya sendiri. Dan Al-Qur’an sangat independent (mutamayyiz) dari segala macam doktrin manusia.

Dimensi Al-Qur’an tidak hanya terbatas secara tekstual, ada dimensi faktual yang harus ditemukan dalam kehidupan kita sehari-hari. (QS.2:185). Untuk itu, seorang peneliti Al-Qur’an harus menguasai science, politik, hukum, sosial, ekonomi, dan semua global understanding. Karena Al-Qur’an tidak ditujukan untuk orang-orang padang pasir saja, melainkan semua manusia di belahan planet bumi termasuk pulau Jawa, Sumatera, Papua, Kalimantan, dll.

Itulah sebabnya Muhammad bin Abdullah tidak pernah menyebarkan kultur ‘ashobiyah (kabangsaan) Arab. Tetapi yang beliau wartakan adalah nilai-nilai pengabdian yang benar kepada Raja semesta alam yang juga harus dijadikan Raja bagi kehidupan psycho-socio manusia. Nilai-nilai universal yang mengurusi kehidupan manusia secara riil dalam kehidupan dunia ini. Sehingga apabila kehidupan manusia dalam ekonomi, sosial, politik, hukum, pertahanan-keamanan, pendidikan, kesehatan, pemberdayaan perempuan, dan aspek lainnya sudah dalam koridor yang benar maka tidak perlu lagi merisaukan ganjaran yang didapatkan di kehidupan eschatology (kehidupan setelah mati).

Muhammad bin Abdullah pun tidak mewartakan konsep agama, karena agama itu sendiri adalah produk manusia, bukan produk Tuhan, dimana konsep agama sangat sempit dan cenderung kepada kultur tertentu. Hal ini terbukti pada suatu kesamaan visi misi yang diperjuangkannya yang juga diperjuangkan oleh Nuh, Abraham, Musa, Yesus Al-Masih. SIlahkan baca QS.42:13.

Perintah Tuhan dan larangan kerasNya untuk tidak berlaku antagonistis tidak akan berguna apabila didendangkan.
Apakah President tidak akan marah dan kecewa apabila surat perintahnya yang ditujukan kepada Gubernur hanya dijadikan sebagai syair bahkan dijadikan lagu? Parahnya lagi isi surat tersebut tidak dilaksanakan. Itulah sebabnya mengapa semakin sering kita memanjatkan doa malah memperparah bencana alam dan bencana moral.

Jika memang benar Arabisme adalah kultur yang paling benar, maka mengapa kultur itu diperangi oleh Muhammad ? (silahkan baca QS.2:170, QS.31:21, QS.5:104)

Jika Muhammad berjanggut, berjubah, bersorban, lantas bagaimanakah dengan musuh-musuhnya yang juga merupakan warga negara Mekkah?
Bukankah Abu Jahal, Abu Uzza, ‘Utbah bin Rabi’ah, dan musuh-musuh lainnya juga bersorban, berjubah, dan berjanggut?

Akal, itulah yang membedakan manusia dengan binatang. Jika akal dimatikan maka siapakah yang lebih mulia ? Silahkan baca QS.7:179

Saatnya untuk membuka pikiran, saatnya mengubur semua doktrin yang menjauhkan kita dari nilai-nilai Tuhan secara universal.

Tuhan semesta alam, Allahnya Nuh, Abraham, Musa, Yesus Al-Masih, Muhammad, dan seluruh manusia; Beliau masih hidup..
Mari kita kembali mengabdi kepada Beliau..
Tuhan-Tuhan kita yang juga manusia bukanlah Majikan yang tepat untuk kita..
Mari kita kembali kepada kehidupan Sorgawi, yang hanya menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya Tuhan.

Salam Sejahtera..

#50. Dikirim oleh Mohammad Rachmad Ibrahim  pada  24/04   04:14 AM

@ Pak/Bu Damai,

Berbeda dengan pak/bu Damai, di mata saya justru Pak Bojank-lah yg dlm diskusi ini mengemukakan pendapatnya berdasarkan akal sehat, logis, sistematis dan proporsional.

Saya maklum bahwa kriteria “akal sehat” dan “logis” sesungguhnya sangat subjektif dan relatif. Maka dari itu tak heran jika mereka yg tak biasa gunakan akal sehatnya justru mengira orang lain yg tidak berpikir logis dan tidak tak masuk akal.

#51. Dikirim oleh Irawan  pada  27/04   10:32 AM

Ngurusin Surga & Neraka, hal2 setelah kematian.
Tanya Kenapa?
HIDUP AJA KALIAN BELUM BENAR, NGAPAIN PUSINGKAN HAL2 SETELAH MATI.

Pesan2 dari saya, hidup yg bener dulu, kerja yg bener, bermanfaat bagi masyarat, jgn menyebar teror & kebencian.

#52. Dikirim oleh Novel sipembantai  pada  27/04   06:32 PM

Saudaraku Antum menulis, “Isoeleiman bawa2 nabi NUh yang jelas2 orang yahudi. kalo anti yahudi, kenapa bawa2 orang yahudi ke mimbar ini sebagai idola.”

Hamdan Arfani menjawab, “soal NUH ORANG YAHUDI :
Nuh jelas bukan yahudi, karena beliau lahir sebelum kelahiran moyang orang yahudi (nabi Ya’kub).”

Baiklah. Lepas dari perdebatan apakah Nuh itu orang Yahudi atau bukan, saya sangat ingin menyampaikan hal penting. Yakni sebagai ummat Islam itu tidak diperkenankan oleh Allah membeda-bedakan antar para Rasul dan para Nabi. Pada dua ayat sebelum ayat terakhir Surah Al-Baqarah menyebutkan “...la nufarriqu baina ahadin minhum…”, kami tidak membeda-bedakan salah satu antara mereka (Para Rasul dan para Nabi). Jadi, siapapun Rasul atau Nabi yang disebutkan Allah di dalam Al-Qur’an, adalah sama-sama utusan Allah, pilihan Allah. Bahkan juga kitab Zabur, Taurat dan Injil. Kita wajib mengimaninya, karena bagian dari rukun iman. (baca: ayat ke empat Surat Al-Baqarah).
Nabi ‘Isa, tetap Nabinya Ummat Islam, Nabi Musa, tetap Nabinya Ummat Islam, demikian Nabi Ya’kub, Nabi Nuh, Ibrahim, Isma’il, Ishak dan seterusnya.
Allah menyebutkan di dalam Al-Qur’an untuk pelajaran pula bagi Ummat Islam. Jadi, begitu Antum.

#53. Dikirim oleh isoelaiman  pada  28/04   08:46 AM

Alam semesta begitu luas, dan Allah SWT itu memang Maha Luas. Otak manusianya saja yang sempit, meng-kotak-kotak-kan. Mula-mula berupa agama-agama. Lalu oleh orang yang doyan serba “sempit-sempit” dipisahkan dalam kotak berbeda: Agama “Langit” dan agama “Bumi”. Lalu Hindu…dikotak-kotakkan jadi yang di India atau yang bukan India. Islam juga sama. Semua dimasukkan kotak dan diberi nama jadi Sunni, Syiah, NU, Muhammadiyah, kaffah vs non kaffah (kata yang bikin kotak, lho)... Akhirnya “kotak” yang satu berantem melawan “kotak” yang lain, “kotak” yang satu merasa lebih mulia dari “kotak” yang lain…bikin laskar, bawa-bawa golok, turun ke jalan…ya ampun, bangsaku…ngurus pungli aja 32 tahun gak beres-beres kok mau merasa suci…

#54. Dikirim oleh Gumun  pada  28/04   04:28 PM

Sungguh menyejukkan apa yang menjadi jawaban Ibu Saras Dewi. Sebagai orang yang memeluk agama Katholik, saya sangat bisa menerima bahwa hekekat yang benar atau muara yang benar dari agama adalah terwujudnya cinta kasih dalam kehidupan kita sehari-hari. Saya bisa mengatakan demikian mungkin karena kebetulan inti dari seluruh ajaran dalam agama kami adalah cinta kasih.
Tapi dalam perjalanannya, ada pasang surut dalam agama kami. Ada satu periode yang kelam di dalam perjalanan Agama Katholik sehingga memunculkan perpecahan yaitu munculnya Agama Kristen Protestan. Dari periode kelam ini lah, akhirnya seluruh Bapa Gereja Katholik sadar bahwa ada yang salah dan segera dilakukan perubahan yang cepat untuk mengembalikan lagi pada rel yang benar.
Pembelajaran dari kasus ini adalah sebaik apa pun ajaran sebuah agama, bisa digelincirkan oleh perilaku pemeluknya.
Setelah periode ini, ajaran Gereja Katholik terus berkembang dan terus menerus dilakukan kontemplasi agar tidak terjerumus ke lubang yang sama. Para Teolog Katholik terus mengkritisi pengejawantahan dari seluruh ajaran Gereja. Sebelum tahun 1960-an, masih tersisa pekerjaan rumah yang sungguh berat bagi para Bapa Gereja, yaitu definisi Keselamatan.
Sebelum tahun 1960-an, masih belum disepakati tentang Aku yang ada dalam ayat yang bunyinya “Tidak ada seorang pun yang bisa sampai ke Bapa di surga tanpa melalui Aku”. Ada yang berpandangan bahwa yang dimaksud Aku adalah Yesus secara pribadi. Tetapi ada yang berpendapat yang dimaksud Aku bukan sekedar Yesus tetapi adalah Firman Allah.
Perdebatan ini akhirnya mencapai titik temu yaitu keluarnya Konsili Vatikan II yang salah satu butir ketetapannya adalah kira-kira sebagai berikut : Yang akan memperoleh keselamatan (masuk ke Surga) adalah siapa saja yang mengamalkan ajaran Yesus Kristus (intinya adalah ajaran Cinta Kasih) dalam kehidupannya meskipun orang tersebut tidak pernah mengenal akan Yesus sendiri. Artinya adalah bahwa Aku tidak dipandang lagi sebagai pribadi Yesus tetapi adalah Firman Allah. Jadi siapa pun yang dalam hidupnya berpegang teguh pada ajaran Cinta Kasih maka orang tersebut akan dijamin Keselamatannya. 
Nah dari sini yang selaras dengan apa yang dikatakan oleh Mahatma Gandhi. Yang menurut saya secara pribadi, sudah selayaknya lah kita mengedepankan pada Universalitas dari agama yang bermuara pada ajaran Cinta Kasih dalam relasi hidup sehari-hari. Hanya dengan mencapai platform yang sama, yaitu Cinta Kasih yang universal, akan dicapai keselarasan hidup yang akan berpuncak pada tercapainya Kedamaian.

#55. Dikirim oleh Terto Wirahadi  pada  29/04   05:10 AM

Mas Terto
Saya Katolik juga…menurut saya mas mungkin kurang tepat dalam memaknai bahwa keselamatan tidak melewati Jesus pribadi tetapi melalui Firman Allah….yang saya imani Yesus adalah Firman Allah sendiri yang menjadi manusia. Ajarannya bila diikuti adalah jaminan menuju Allah Bapa, jadi tanpa memandang kotak-kotak yang diciptakan oleh manusia. Demikian saya memandang pemahaman para Bapa Gereja dalam Konsili Vatikan II.
Trims, mudah-mudahan tidak dianggap sebagai perpecahan…

#56. Dikirim oleh seraphime  pada  29/04   09:06 AM

Seandainya dada-dada ini bersih dari kecongkakan, rasa iri dan dengki, dan tidak ada komentar-komentar manusia, yang ada hanyalah ayat ayat kitab suci dan ayat-ayat alam ciptaan Nya, mukjizat-mukjizat yang dinampakkan-Nya, maka alangkah mudahnya, alangkah indahnya, menemukan kebenaran, seperti air mengalir menemukan rumah samuderanya, menghadap kepada Yang Maha Benar ……

#57. Dikirim oleh bilqis  pada  30/04   06:08 AM

@ isoelaiman

Saya sangat tertarik dengan komentarmu no.53, yang menununjukan keagungan Islam dalam menerima para nabi dan para Rasul beserta ajaran-ajarannya yang direkam dalam berbagai kitab yang kemudian dikenal kitab suci. Saya kutip lagi paragraf yang ditulis oleh isoelaiman supaya diskusi ini bisa terarah.

“Baiklah. Lepas dari perdebatan apakah Nuh itu orang Yahudi atau bukan, saya sangat ingin menyampaikan hal penting. Yakni sebagai ummat Islam itu tidak diperkenankan oleh Allah membeda-bedakan antar para Rasul dan para Nabi. Pada dua ayat sebelum ayat terakhir Surah Al-Baqarah menyebutkan “...la nufarriqu baina ahadin minhum…”, kami tidak membeda-bedakan salah satu antara mereka (Para Rasul dan para Nabi). Jadi, siapapun Rasul atau Nabi yang disebutkan Allah di dalam Al-Qur’an, adalah sama-sama utusan Allah, pilihan Allah. Bahkan juga kitab Zabur, Taurat dan Injil. Kita wajib mengimaninya, karena bagian dari rukun iman. (baca: ayat ke empat Surat Al-Baqarah). Nabi ‘Isa, tetap Nabinya Ummat Islam, Nabi Musa, tetap Nabinya Ummat Islam, demikian Nabi Ya’kub, Nabi Nuh, Ibrahim, Isma’il, Ishak dan seterusnya. Allah menyebutkan di dalam Al-Qur’an untuk pelajaran pula bagi Ummat Islam. Jadi, begitu Antum”.

Alangkah sejuknya jika pesan agama seperti yang dikutip oleh isoelaiman menjadi salah satu tonggak iman bagi kita semua, bukan saja umat Islam tetapi juga umat non Islam. Pengimanan semacam ini merupakan sumber kedamaian bagi umat manusia di dunia ini.

Terima kasih banyak.

hila

#58. Dikirim oleh Hila  pada  30/04   10:44 AM

@gumun

Perut saya sampai mules karena tertawa terbahak-bahak membaca komentarnya sdr. Gumun, sederhana dan lucu namun sangat mengena. Saya yakin Hila, Damai dan Surga neraka juga akan tertawa terpingkal-pingkal.

Yang merengut sudah pasti Sdr. Bojank, mungkin setelah membaca postingan saya ini Sdr. Bojank akan semakin bersemangat membuat kotak-kotak yang lebih kecil lagi. Bagimana dengan para bloger yang lain, mau pesan kotak? Hubungi Sdr. Bojank.

#59. Dikirim oleh kotak  pada  30/04   02:11 PM

@ terto wirahadi.
Mas itu mustahil. Pepatah aja mengatakan tak kenal maka tak sayang. Gimana mau mengamalkan sabda yesus, wong sama yesus nya sendiri gak knal? Inilah perkataan yang irasional.

#60. Dikirim oleh Aang  pada  30/04   04:56 PM
Halaman 3 dari 10 halaman < 1 2 3 4 5 >  Last ›

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?