Wawancara,
12/01/2004

Ulil Abshar-Abdalla: Saya Ingin Meniru Al-Tahtawi

Oleh Redaksi

Tiga bulan Ulil Abshar-Abdalla menghilang dari hiruk pikuk Indonesia. Ia mendapat undangan dari University of Michigan untuk menjadi guest lecturer dengan memberi mata kuliah tentang “Pemikiran Islam kontemporer di Indonesia” selama setengah bulan di universitas yang terletak di kota Ann Arbor ini. Setelah mengajar selesai, Ulil kemudian menetap di Athens, negara bagian Ohio, tepatnya di Ohio University. Ulil ingin merealisasikan obsesinya selama ini: menulis buku. Buku ini merupakan penafsiran dia secara utuh tentang Alqur’an dan ajaran Islam secara umum dari perspektif Islam liberal.

12/01/2004 00:59 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (38)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 2 halaman 1 2 > 

Menarik sekali pandangan dan gagasan mas Ulil ini. Mudah-mudahan semakin memperkaya khazanah pemikiran Islam kontemporer yang kadang masih lekat dengan bangunan ortodoksi. Namun saya pengen tahu lebih jauh pandangan mas Ulil seputar wacana yang selalu menjadi menu khutbah utama tentang pebedaan antara kitab suci Al-Qur’an dengan kitab-kitab suci lain. Selalu disebutkan, Al-qur’an diturunkan untuk menyempurnakan seluruh ajaran-ajaran (kitab-kitab suci) sebelumnya (yang selalu merujuk pada Q.S. Al-Ma’idah:3). Sehingga, dengan berlakunya Al-Qur’an (dengan sifat penyempurnanya) maka kitab-kitab suci sebelumnya menjadi tidak berlaku. Sebab ajaran nabi-nabi sebelumnya yang terbentang dalam kitab sucinya masing-masing bersifat lokalistik, temporer dan untuk satu ummat pada zaman itu saja. Dengan diturunkannya Al-Qur’an maka terjadi penyempurnaan secara totalistik dan Al-Qur’an menjadi berlaku secara universal (rahmatam lil-alamin) dan setiap jaman, persis seperti logika per-undang-undangan, bahwa dengan adanya peraturan baru maka peraturan lama menjadi tidak berlaku lagi).

Pada akhirnya, kitab-kitab suci lain sekarang telah menjadi manuskrip dan sajian sejarah masa silam yang sudah lapuk dan usang dengan realitas masa kini. Mereka yang masih berpegang dengan kitab-kitab suci klasik itupun (agama-agama lain) kemudian diasumsikan sebagai kaum ortodoks dan konservatif, karena masih berpegang pada pedoman masa lalu dan bisa dilihat sebagai upaya untuk menghadirkan “masa lalu pada masa kini”.

Mohon tanggapan mas Ulil. Thank’s be4.

#1. Dikirim oleh elza  pada  12/01   08:01 AM

Pada dasarnya Islam sangat terbuka dan toleran dengan nilai-nilai universal semisal:

Hadis riwayat Qais bin Saad ra. dan Sahal bin Hunaif ra.:  Dari Ibnu Abu Laila bahwa ketika Qais bin Saad ra. dan Sahal bin Hunaif ra. sedang berada di Qadisiyah, tiba-tiba ada iringan jenazah melewati mereka, maka keduanya berdiri. Lalu dikatakan kepada keduanya: Jenazah itu adalah termasuk penduduk setempat (yakni orang kafir). Mereka berdua berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw. pernah dilewati iringan jenazah, lalu beliau berdiri. Ketika dikatakan: Jenazah itu Yahudi, Rasulullah saw. bersabda: Bukankah ia juga manusia? (Bukhari-Muslim)

Betapa mulianya akhlaq Islam yang berkaitan dengan interaksi manusia atau bagi kaum liberal maupun pihak orientalis lazim diberi istilah humanisme.

Kebodohan informasi dan pemerkosaan opini yang diterima (atau lebih tepat dikatakan sebagai “Ddiciptakan”) Barat justru menjadikan betapa Barat masih kental dengan nuansa “Perang Salib”. Apatah lagi metode dakwah Kristiani sarat dengan “Menerima Informasi/Pengajaran dengan taqlid” makin menjadikan komunikasi seperti anak ABG bilang: “TULALIT”, nggak nyambung!

Banyak hal-hal yang bernuansa simbolisme identitas justru menjadi pemicu keberadaan yang pada dasarnya adalah memang “berbeda”. Dan Islam punya hal positif berkenaan dengan hal ini, semisal :

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Taghut dan beriman kepada Allah, maka sesunguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. 2:256)

Untuk hal-hal yang memang menjadikan kita satu sama lain “berbeda”, Islam mempunyai kejelasan komitmen, semisal :

Katakanlah:“Hai orang-orang kafir!” (QS. 109:1) aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah (QS. 109:2) Dan kamu bukan penyembah Ilah yang aku sembah (QS. 109:3) Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah (QS. 109:4) dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Ilah yang aku sembah (QS. 109:5) Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku (QS. 109:6)

Dan sudah saatnya Barat mendapat Informasi yang benar tentang Islam, yang saya menilainya kaum teolog semisal Anda dapat menjabarkan hal itu walau tidak mudah. Sehingga kecurangan perilaku/kezaliman sebagai ekses kebodohan informasi dapat pudar.

Banyak Nilai-Nilai Islam yang menjadi dasar perilaku “humanis”, semisal : Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (QS. 60:8)

Dan paling utama adalah apa yang dicontohkan oleh Rasul SAW.

#2. Dikirim oleh Baihaqi  pada  13/01   05:01 AM

Mas Ulil,

Di dalam hukum alam, keindahan akan sangat bergantung pada rasa dan selera manusia, tapi kebenaran Ilahiah sebaiknya perlu diperbandingkan dengan satu patokan yang boleh juga kita sepakati bersama. Tentunya, parameter yang harus digunakan adalah kebenaran mutlak yang dimiliki atau ditentukan oleh yang Maha Penentu. Sedangkan kebenaran yang akan Anda bawa tentu masih perlu diperdebatkan di antara beberapa ahli.

Saya bukan orang yang sepadan dengan anda bung Ulil, tapi saya juga salah satu anggota masyarakat Mulim yang mempunyai hak untuk meminta Anda mempertanggungjawabkan setiap informasi yang disampaikan kepada umat. Mana yang besar timbangannya; manfaat atau mudharatnya, wallahualam!

Hanya yang menjadi pertanyaan adalah, Tuhan yang Maha Satu, pasti mempunyai satu pesan kepada kita bila dia harus terus menerus mengganti Rasulnya sampai dengan Muhammad.

#3. Dikirim oleh A.Hadi.T  pada  13/01   10:01 AM

Ulil Abshar-Abdalla, Islam & Amerika

Sebelumnya, saya ingin mengucapkan turut berduka cita atas wafatnya Abah KH Abdullah Rifa’i, ayahanda Ulil Abshar-Abdalla. Semoga Ulil tabah menerima ujian dari Allah SWT.  Saya sepakat dengan Ulil bahwa kita perlu memberi penjelasan kepada publik Amerika tentang Islam, terutama mengenai wajah Islam di Indonesia yang sangat toleran. Hal ini penting dipahami karena publik Amerika selama ini mempunyai penilaian buruk tentang Islam. Penilaian buruk publik Amerika tentang Islam harus diakhiri!  Sejujurnya, penilaian buruk publik Amerika tentang Islam itu tidak lepas dari apa yang mereka lihat tentang Islam selama ini di mana Islam sering diperlihatkan ke hadapan publik Amerika dengan raut wajah yang angker, garang, dan teroris. Kehadiran Ulil di Amerika sedikit banyak bisa membuat publik Amerika bisa merubah penilaiannya tentang Islam.  Seharusnya, umat Islam bangga mempunyai seorang anak muda seperti Ulil ini yang begitu semangat berjuang untuk menghadirkan wajah Islam yang damai dan toleran. Bukan Islam yang keras, anarkhis dan angker.  Namun, agaknya ada satu hal yang harus diperhatikan oleh Ulil, yaitu bahwa tugas Anda belum selesai. Masih banyak tugas yang harus Anda kerjakan supaya berhasil merubah penilaian publik Amerika tentang Islam.  Saya secara moral mendukung setiap kerja Anda asalkan itu dimaksudkan untuk membawa Islam ke arah yang lebih baik, dan juga bermanfaat bagi umat manusia di dunia. Dan sampai detik ini, dalam amatan saya di Semarang, Anda memang sangat serius untuk menghadirkan wajah Islam yang damai dan santun. Semoga gagasan dan niat mulia Anda berhasil!  Tantangan umat Islam di era globalisasi ini sangat kompleks. Kita mungkin sudah sering mendiskusikan tema ini. Bertumpuk-tumpuk buku sudah kita baca. Beratus-ratus artikel sudah kita tulis. Dan hampir setiap minggu ada seminar yang mengangkat tema tersebut. Namun, kenapa umat Islam masih saja kurang bisa maju? Mungkin, sudah ada yang maju, tapi prosentasinya tidak banyak.  Karena itu, tugas Anda sebagai seorang intelektual memang berat. Tugas intelektual muslim memang tidak hanya sekadar membaca dan menulis tapi juga melakukan aksi secara riil dengan melakukan advokasi dan pembelaan terhadap mereka yang tertindas.  Saat ini, saya melihat ada kecenderungan dari pihak Barat untuk menindas kaum muslimin yang -mereka sebut- kaum fundamentalis yang berwatak ekslusif dan keras ini.  Berbagai cara telah disetting dan dirancang untuk menghancurkan “semangat berislam” kaum fundamentalis tersebut.    Sebagai umat Islam yang baik yang selalu menjunjung tinggi semangat pembebasan dan pembelaan terhadap komunitas yang tertindas, tentu Ulil melihat mereka –yang sering distempel sebagai kaum Islam fundamentalis itu-  telah menjadi komunitas yang tertindas dari segi wacana/opini publik.  Apalagi setelah mereka mendapat cap sebagai kaum teroris setelah terjadi serangkaian tragedi terorisme di belahan dunia termasuk di Indonesia. Dari segi sosial, publik agaknya juga kurang memberi simpati. Nah, ketika melihat realitas demikian, apakah Ulil tidak merasa perlu untuk membela mereka yang sekarang terisolissi dari pergaulan publik?  Di luar itu semua, sekali lagi, saya tetap salut dengan Anda. Sebagai seorang anak muda, Anda sudah mampu menjadi “duta umat Islam Indonesia” untuk hadir di depan publik Amerika. Sebuah prestasi yang luar biasa. Kita memang perlu melakukan klarifikasi dengan publik Amerika yang sudah kadung mempunyai anggpan buruk tentang Islam. Apalagi, Amerika, sebagai negara yang adigaya, yang dengan mengusung kapitalisme dan demokrasi liberal, kini menjadi polisi dunia. Untuk menggambarkan kehebatan Amerika itu, sampai-sampai membuat Francis Fukuyama, seorang “intelektual tukang” Amerika, menyatakan, bahwa dunia telah berakhir dengan kemenangan kapitalisme dan demokrasi liberal (Francis Fukuyama: 1989).  Apa yang disiratkan Fukuyama tersebut, walau mendapat banyak kritik, memperlihatkan sebuah keangkuhan bahwa Amerikalah yang kini menguasai dunia. Realitas ini tentu harus disikapi umat Islam secara arif dan bijaksana, bukan secara anarkhis dan konfrontatif. Terbukti, kapitalisme dan demokrasi liberal yang diusung Amerika, kini menjadi primadona dunia. Memang, hingga kini, hampir tidak ada negara yang bisa menyaingi Amerika, apalagi setelah keruntuhan Uni Soviet yang berideologi komunis pada tahun 1991. Mungkin, ke depan hanya Uni Eropa (dan juga China) yang punya kans untuk menyaingi Amerika, terutama dalam hal ekonomi. Sementara untuk politik kayaknya masih susah.  Karena Amerika begitu kuat dan jaya, maka yang terjadi pada dunia adalah sistem dunia yang timpang, di mana dunia ini seakan-akan hanya milik Amerika, sementara negara yang lain hanya mengontrak. Oleh Amerika, negara-negara di dunia dianggap ngontrak, maka negara-negara di dunia ini harus tunduk kepada Amerika dan harus merelakan kekayaannya diambil Amerika. Berani melawan pasti akan dihancurkan seperti yang dialami Irak pada masa Saddam Husain, Maret-April 2003.  Di luar Irak, masih banyak negara lain, yang karena tak mau tunduk pada Amerika lalu dihancurkan. Sebelum Irak, sudah ada Afghanistan, Libya, dan sebentar lagi Iran, Korea Utara, Kuwait, dan negara lain yang tak mau tunduk kepada negara Paman Sam ini.  Akibatnya, sistem dunia timpang dan keadilan & perdamaian dunia sangat terancam. Lantas, bagaimana kita menghadapi globalisasi ini?  Di sinilah, pentingnya kita untuk menghadirkan wajah Islam yang mampu menyesuaikan dengan iklim globalisasi, sekaligus menjadikannya sebagai tantangan. Walau saya juga menyadari ada juga bagian-bagian dari globalisasi yang perlu dikritik. Sebab, globalisasi memang tidak semuanya melahirkan kebaikan, banyak juga keburukan yang disebabkan oleh globalisasi.  Hal yang paling menonjol dari globalisasi adalah terjadinya persaingan antarnegara secra bebas. Negara mana saja yang mempunyai persiapan bagus terutama dari segi Sumberdaya Manusianya, maka akan mampu menghadapi globalisasi ini dengan baik. Namun, bagi yang tidak siap, maka akan tertindas. Sehingga, boleh juga dibilang, bahwa globalisasi itu sangat memungkinkan terjadinya dominasi dan hegemoni satu negara terhadap negara yang lain. Di sinilah, umat Islam harus mampu menghadapi tantangan globalisasi tersebut. Bukannya malah lari dari globalisasi. Karena, globalisasi agaknya tak bisa dibendung.  Saya melihat Ulil memiliki pemikiran keislaman yang cukup holistik dan komprehenship dan sesuai dengan kebutuhan umat Islam sekarang. Komitmen dan keyakinan Anda bahwa Islam itu tidak hanya apa yang ada di Arab; bahwa Islam itu tidak Timur dan tidak juga Barat. Tapi apa saja, dan daerah mana saja akan bisa disebut “Islam” ketika menjadikan keadilan, kesetaraan, keadilan gender, komitmen pada HAM, dan berorientasi pembebasan, yang mana semua itu adalah piranti bagi masyarakat berkeadaban.  Pemikiran-pemikiran yang tersebut itulah sebetulnya sangat penting untuk terus dihadirkan ke hdapan publik Barat/Amerika. Dengan harapan akan menjadikan publik Barat mau merubah penilaiannya selama ini tentang Islam di mana Islam tidak lagi dipahami sebagai agama teroris. Bahkan tidak menutup kemungkinan, lambat laun publik Barat/Amerika tidak lagi memusuhi Islam, bahkan malah akan membuat publik Barat/Amerika tertarik dan menganut ajaran Islam. Maju terus Ulil!*

M Kholidul Adib, Pemred Justisia Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang

#4. Dikirim oleh M Kholidul Adib Ach.  pada  14/01   06:01 AM

Firman Allah : Innadina indallahi hil Islam.

Umat yang patuh pada Allah pasti hanya percaya bahwa Islam adalah satu satunya agama yang di ridai Allah. Apakah kapasitas seseorang, dengan merasa hebatnya berani bertentangan dengan yang Allah dan menyatakan bahwa semua Kitab suci benar, semua agama benar?

Akan dikemanakan ayat tersebut di atas? Pada hari akhir, semua manusia mempertanggungjawabakan segala sepak terjangnya. Maka janganlah menyesatkan orang lain dengan mendistorsi ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Kepada bung Ulil, apakah anda tidak percaya pada Firman Allah di atas?

Cat: Harap tulisan saya ini dipostingkan.

Redaksi: Jangan kuatir, sebentuk apapun pendapat Anda kami akan postingkan.

#5. Dikirim oleh Harry  pada  14/01   11:01 PM

setelah saya membaca makalah anda walupun sedikit tetapi saya sangat tidak setuju dengan pandangan anda, apalagi tentang cara anda menafsirkan Kalamullah yang terhitung nyeleneh dan yang lebih gawat lagi seperti asal bicara tanpa perhitungan dan pengamatan terlebih dulu. Yang menjadi pertanyaan saya kepada abang adalah jikalau semua agama itu sama dimata kalian (baca:JIL) berarti kenapa kalian masih tunduk kepada Islam, quran, dan Sunah Rasul yang kalian anggap itu merupakan kebudayaan Islam di zaman arab saja ????

#6. Dikirim oleh koko mujahid  pada  15/01   01:02 AM

Hehehehe! Soal asli atau palsu itu sangat relatif, kawan! Tapi jangan kau kaburkan makna semua kitab suci, menjadi semua sama, semua baik, semua benar, semua indah. Kesannya, kalau kitab suci diibaratkan baju, maka anda akan bilang semua baju dari seluruh muka bumi itu sama, bisa dipakai oleh semua orang di seluruh muka bumi. Kalau orang yang tinggal dikutub anda anjurkan untuk memakai baju batik Solo, pasti dia akan mati kedinginan kawan. Itu logika saja. Hati-hatilah Anda dalam memberi anjuran pada semua orang, sebab kelak anjuran Anda akan dimintakan pertanggunganjawabnya. Hat-hati ya, Om Ulil! Be careful, bahasa Amerikanya smile

#7. Dikirim oleh joko santoso  pada  15/01   04:01 AM

BISMILLAHIROHMANIROHIM

Assalamualaikum wr wb

Nampaknya sampai hari ini Bang Ulil masih berputar-putar dalam soal polemik. Walaupun sudah banyak artikel yang ia tulis yang semua agama itu sama. Tuhannya pun sama. Dia masih belum berani melepasi satu garisan itu. Ia itu dia tidak berani membuat pengakuan yang ia ada lah seorang penganut semua agama.

Tidak pernah ia mengaku yang ia berani menyembah ALLAH swt hari ini, besok ia menyembah tuhannya Hindu, lusa tuhannya Budha dan seterus ia menyembah tuhan tuhan yang lain.

Saya yakin Bang Ulil orang nya bijak. Apa yang tersurat tidak sama dengan yang tersirat. Ia masih berselindung disebalik kalimah Laa illaha illah

Ayuh Bang Ulil, kamu mesti istaqamah. Saya salute keberanian kamu kalau kamu betul pejuang “Agama itu semua nya sama”.

Ma’af kalau tulisan saya menyinggung kepercyaan kamu.

Wassalam

Sa’at b Mohamed Singapore

#8. Dikirim oleh Sa'at bin Mohamed  pada  15/01   01:02 PM

Salam,

Mudah-mudahan buku mas Ulil segera terbit. I’m looking forward to reading it.

As for soal kebenaran yang ada di kitab-kitab suci selain Quran, mungkin banyak pembaca menjadi “salah paham” dengan mengira mas Ulil dan rekan-rekan di JIL menyarankan agar muslim juga mempelajari kitab-kitab suci itu. Saya pikir nggak demikian maksudnya, ya kan mas Ulil?

Pendapat bahwa kitab-kitab suci selain Quran masih mengandung kebenaran adalah berasal dari Rasul SAW sendiri, yang menyatakan bahwa agama itu ibarat sebuah bangunan, dan tugas beliau sebagai khataman nabiyin adalah meletakkan batu/material terakhir, sehingga bangunan itu berdiri utuh dan sempurna. Tentu saja, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa material-material lainnya yang diletakkan oleh nabi dan rasul-rasul sebelum Muhammad SAW adalah utuh dan murni pula. Sebab jika material-material itu rusak, tentu yang dilakukan Muhammad SAW adalah tidak hanya melengkapi material, tapi juga mengganti material-material yang rusak itu untuk membangun agama Allah yang satu ini.

Hanya saja pertanyaannya, apakah kebenaran yang ada di kitab-kitab suci selain Quran itu sudah terdistorsi dalam arti tercampuri kebatilan atau tidak? Common sense dalam hal komunikasi akan mengatakan bahwa agar messages (dari Allah) itu tidak terdistorsi, diperlukan para pembawa messages yang dijamin bebas distorsi pula. Inilah sebabnya kita semua meyakini infallibility (kema’shuman) para nabi dan rasul sebagai para pembawa messages.

Nah, sekarang silakan dinilai sendiri di antara kitab-kitab suci yang ada, apakah para pembawa/pengajar message dari masing-masing kitab itu, sejak pertama kali diterbitkan sampai saat ini, dapat dijamin infallible atau tidak?

Kembali lagi, logika bangunan di atas mengatakan bahwa pada setiap masa tenggang antara material yang satu dengan material yang lainnya pasti ada satu versi pemahaman kitab suci yang asli (tak terdistorsi) di tengah-tengah versi lainnya yang terdistorsi. Inilah makna ayat mengenai penjagaan kemurnian kitab suci oleh Allah yang dikutip mas Ulil itu. Saya sependapat bahwa jaminan Allah ini juga berlaku bagi kitab-kitab suci lain sebelum Quran, berdasarkan prinsip keadilan Ilahi.

However, timbul pertanyaan: ketika Quran telah turun dengan sempurna dan mengandungi semua prinsip-prinsip dasar kitab suci sebelumnya, apakah masih diperlukan penjagaan kemurnian kitab-kitab suci terdahulu itu? Jika jawabannya adalah “ya”, maka ini akan dihadapkan dengan keyakinan muslimin bahwa untuk mencapai keselamatan dunia akhirat umat manusia tidak perlu lagi mempelajari kitab-kitab suci terdahulu itu. Cukup dengan Al-Quran saja. Maka, penjagaan kemurnian kitab-kitab suci terdahulu itu adalah tidak efisien, dan tentu bukanlah sifat Allah.

Karena itu, saya cenderung kepada pendapat yg mengatakan bahwa kitab-kitab suci selain Quran itu, di samping mengandungi kebenaran, juga mengandungi kebatilan. Tapi ini tentu saja bukan berarti memandang rendah kitab-kitab suci itu, sebab bagaimanapun masih banyak kebenaran yang dikandungnya. Dan jika umat-umat agama lain mempelajari kitab-kitab itu dengan sungguh-sungguh, dan menggunakan akal mereka untuk me-resolve pertentangan-pertentangan yang ada di antara ayat-ayatnya, insya Allah, mereka akan terbawa kepada Islam.

Ini seperti yang terjadi, misalnya, pada Thomas McElwain, mantan pendeta Baptist yang melakukan studi banding agama-agam, dan akhirnya reverted to Islam.

Wassalam

#9. Dikirim oleh Abdullah bin Umar  pada  15/01   02:01 PM

Assalamualaikum Wr Wb,

Semoga Bung Ulil dan Bung Hamid selalu diberikan kesehatan oleh-Nya.

Membaca kongko-kongko Bung Ulil dan Bung Hamid yang menggiring kita ke arah alam Islam kontemporer, cukup layak untuk terus diikuti, terutama tentang banyaknya minat mahasiswa “Michigan U” mengikuti mata kuliah Pemikiran Islam Kontemporer di Indonesia yang guest lecturer-nya Bung Ulil.

Saya ada pertanyaan sedikit untuk Bung Hamid; ketika Bung Ulil memberi mata kuliah Islam kontemporer kepada khalayak “Michigan U” tsb, berapa orang jumlahnya dan asal negara mana?

Maaf Bung Hamid, karena saya pernah menyaksikan pada suatu ketika tahun 80-an, Victoria University-Wellington membuka mata kuliah Indonesia dan bahasa Indonesia untuk mahasiswa Victoria U. Yang hadir pada waktu itu saya ditambah guest lecturer ditambah lagi 3 pelajar asal Malaysia dan 2 orang pelajar asal Indonesia. Maka komplitlah sudah serumpun melayu yang belajar Indonesia di NZ. Karena penasaran, saya tanya pelajar-pelajar tsb, mengapa mengambil mata kuliah ini. Dengan santai merkea menjawab “hanya untuk menambah credit point saja, untuk pengganti mata kuliah yang gagal”. Dengan kata lain, mata kuliah Indonesia tsb hanya membantu mereka untuk tidak drop-out.

Mudah-mudahan saja ini tidak terjadi di Michigan U yang guest lecturer-nya Bung Ulil. Kalau benar begitu, ya… Islam kontemporer-ya Bung Ulil kagak nyampe atuh!

Demikian, mudah-mudahan liputan Bung Hamid berikutnya “more detail”

Wassalam,

M. Nasir

#10. Dikirim oleh Muhammad Nasir  pada  16/01   01:01 AM

Assalamu Alaikum Wr.Wb. Bismillahirrahmanirrahim

ULIL: Kita harus meninjau ulang konsep atau gagasan tentang keaslian kitab suci. Bagi saya, semua kitab suci adalah asli. Tapi harus diingat bahwa kitab suci itu tumbuh seperti tanaman. Artinya, tidak ada kitab suci yang lahir ke dunia langsung menjadi besar, sebesar tanaman seumur 50 tahun. Kitab suci itu seperti manusia; dia mengalami fase bayi, remaja, dewasa, dan tua. Saya tidak menjumpai sejarah manusia yang langsung jadi. Ketika kita melihat Alqur’an, Taurat, Veda, Injil, dan Upanishad, semua itu adalah kitab suci yang tumbuh. Kalau kita sebut asli bagaimana? Semua kitab suci adalah asli; semua kitab suci adalah sesuai dengan ajaran agamanya, tapi dia berubah atau tumbuh sesuai dengan tahap-tahap yang dia lalui.

Kalo Bang ULIL mempunyai teori tentang kitab suci mengalami fase pertumbuhan, saya juga mempunyai teori SEMUA YANG MENGALAMI PROSES MELAHIRKAN PERuBAHAN

Teori ULIL tentang kitab suci mengalami proses, mungkin pada kitab-kitab suci lain saya setuju. Karena sebuah proses akan mengalami dan melahirkan inhiraf (perubahan baik dari segi lafadz dan substansial kitab).  Menurut hemat saya, hal tersebutlah yang menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan dalam kita suci mereka. Salah satu contoh yang munkin saya kemukakan di sini dalam sifer takwin salah satu asfar taurat tentang kitab kejadian, mengatakan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi selama enam hari dan dia Allah beristirahat pada hari ke tujuh (hari sabtu). Ayat tersebut di atas menunjukan kekurangan Allah dalam sifatnya, karena dia Allah membutuhkan istirahat pada hari ketujuh setelah menciptakan langit dan bumi. Ayat tersebut kalau dikolerasikan dengan ayat Al-Quran yang artinya “dialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi selama tujuh hari kemudian bersemayan di Arysnya”. Ada hal yang menarik untuk dilirik antara kedua ayat tersebut. Istilah istirahat dan bersemayan (isterahah wa istiwaa) yang pertama menunjukan kekurangan Allah pada zat-Nya dan yang kedua tidak. Apakah hal tersebut tidak termasuk inhiraf?

Contoh kedua masih dalam Kitab Kejadian dikatakan bahwa, dari sorga mengalir empat sungai di antaranya sungai Nil dan Eufrat. Dan saya rasa ayat tersebut sangat tidak sesuai dengan realita. Sungai Nil di mana, Eufrat di mana?

Sebelum saya akhiri komentar ini, mungkin sidikit saya uturakan beberapa pertanyaan kepada bang ULIL, setidaknya sebagai suatu pertimbangan untuk tidak mengklaim Al-Quran sebagai produk sejarah atau kitab yang mengalami proses bayi, remaja, dewasa, dan tua, sampai alquran itu mati.

1. Perbedaan antara maqru’ul Qur’an dengan qira’at 2. Apakah al-zikrah (Al-Quran) dalam bentuk singularnya bisa berarti plural (dalam hal ini kitab-kitab suci)?

#11. Dikirim oleh Aidid  pada  16/01   01:02 PM

Kalau boleh saya memberi saran untuk mas Ulil, lebih baik instropeksi diri sendiri, sebab jika membaca kitab-kitab suci agama lain, ada baiknya dan ada buruknya. Lebih banyak baiknya apa buruknya dalam kitab suci agama lain dibandingkan dengan kitab suci orang Islam? Apakah mas Ulil sudah ada semacam filter utk membandingkan Al-Quran dengan kitab-kitab lainnya? Sebab banyak orang pintar yang membaca kitab-kitab suci lainnya tetapi kemudian akhirnya membanding-bandingkan dengan kitab-kitab yang belum dibacanya!

Rasulullah pun mengajarkan kepada umatnya jika mendapatkan atau membaca kitab suci lainnya agar mengambil yang baiknya saja dan yang buruknya ditinggalkan.

#12. Dikirim oleh hendro  pada  17/01   04:01 AM

Assalamualaikum Wr.Wb Yang saya tahu dalam membuat tafsir ada metodologinya dan rujukan yang dapat dipertanggungjawabkan. Silahkan Ulil membuat tafsir, tapi jangan saenae udele dewek. Nanti di ketawain Tuhan. Para ulama dan mahluk sa dunyo. Kalo tidak salah, Abu Bakar sahabat utama itu tidak berani menafsirkan al-qur’an. Umar ra juga sangat hati-hati dan selalu konsultasi pada para sahabat lain. Nah, Ulil selama ini share sama siapa. Atau anda merasa cukup dengan kemampuan sendiri. Tapi, walaupun begitu saya tetap respect sama anda. selamat mencoba!!

#13. Dikirim oleh Alfa-Dita  pada  18/01   01:01 AM

Saya sangat setuju dengan agenda islam lib, dan selama ini untuk dataran wacana cukup baik… Saya pernah mencoba menelusuri islamlib dan saya juga mencoba untuk mengukuhkan masa depan islib…. akan tetapi ada kekurangan yang dimilki islib… ialah belum sampainya pemikiran-pemikiran islib untuk menjadi suatu kurikulum. dan apabila sampai nanti tidak ada maka islamlib akan difitnah Sebagai perusak agama… bukan pembaharu… oleh karena itu saya minta mas ulil juga bisa membuat buku panduan ataupun kurikulum islib.  kalau memang ada insya allah pesantren saya yang pertama kali memakai kurkulum tersebut. pesantren tersebut letaknya di bandung selatan PONPES YAPI AL-HUSAENI. saya masih di Sudan dan 2 tahun lagi insa Allah kembali.

#14. Dikirim oleh moch hilmi ashidiqie  pada  19/01   03:01 PM

Tiga bulan Ulil di AS dan sebuah buku karyanya diharapkan mengubah pandangan publik AS tentang Islam? Tidakkah ini harapan yang berlebihan?

Untuk mengubah opini publik di AS tidak dibutuhkan sebuah buku akademis tentang Islam, melainkan dibutuhkan sebuah film Block-Buster Hollywood tentang Islam. Namun, kedudukan film sebagai sesuatu cabang seni yang wajib saja masih sangat kontroversial di lingkungan mainstream Islam.  Apalagi seorang aktor memainkan Nabi Muhammad, Damai Allah Padanya.

Selama ummat Islam tidak memasukkan ilmu pengetahuan sebagai salah satu dasar dalam penyusunan hukum. Masyarakat Muslim di seluruh dunia akan kesulitan berdampingan hidup dengan arus modern globalisasi. Pandangan dunia luas terhadap Islam akan berubah kalau ummat Islam membuang semua takhyul yang disangkanya ajaran agama, padahal takhyul itu sekedar jejak sejarah atau keterbatasan budaya yang dibatasi ruang dan waktu tertentu.

Ulil memang harus maju terus, tetapi pemahaman Islam yang liberal dan bahkan anarkis (dalam arti positif) perlu dihidupkan di setiap wacana pemikiran Islam. Karena itu, pergaulan dan perdebatan kelompok fundamentalis yang sering mengutuk Ulil dan mengatakannya kafir, bukan Islam dsb, harus tetap dilakukan. Perjuangan Ulil yang sesungguhnya adalah di Indonesia, di mana kemiskinan budaya dan ekonomi telah menghasilkan setidaknya seorang pembom bunuh diri dan beberapa sel teroris internasional.

Marilah kita secara tegas menafsirkan kitab suci menuruti hati nurani yang jernih, dan marilah kita jernihkan hati nurani kita melalui ibadah yang khusyu dan sabar.

Setiap Muslim bertanggungjawab atas hidupnya, sorga atau nerakanya. Karena itu setiap Muslim harus menafsirkan Qur’annya sendiri, secara pribadi. Seperti jika sholat kita langsung bermuka-muka dengan Allah Yang Maha Suci, ketika selesai sholat dan melangkah keluar dari masjid, masing-masing kita, mesti menafsirkan perbekalan ayat-suci di dalam benak kita, dengan realitas hidup kita dari detik ke detik.

Salam. Bram

#15. Dikirim oleh Bramantyo Prijosusilo  pada  20/01   07:01 AM

Bismillahirrahmanirrahiim,

Saya mengikuti beberapa tulisan bung Ulil. Bagi saya, beberapa hal misalnya yang mengajak bertoleransi dalam menjalankan agama, ok saja. Tapi lama-lama saya bingung, kalau pernyataan bahwa semua Tuhan itu sama, semua agama sama, kitab suci semua yang ada itu asli, saat ini agama apa yang saudara peluk dan yakini? Lalu bagaimana anda menyikapi perbedaan yang mendasar dari kitab suci yang ada sekarang? Mestinya kalau semua kitab suci (yang ada sekarang) asli, satu sama lain saling mendukung dan menguatkan, dan tentunya seharusnya kitab Al-Qur’an yang dipegang seluruh umat sekarang. Ilustrasinya begini; karena saya tidak paham Injil dan tdk mendalami, mestinya kalau Injil diyakini asli sebagai kumpulan wahyu Tuhan (bagaimanapun cara turunnya) tentu akan dikhabarkan bahwa ada kitab lagi yaitu Al-Qur’an yang harus menjadi keyakinan umat Nasrani saat ini. Tapi kenyataan sekarang?

Saya sepakat dan meyakini bahwa sebelum Al-Qur’an ada Injil, Taurat, dan Zabur, yang merupakan kitab suci dari Tuhan, tapi bukan untuk diamalkan sebagaimana perintah dalam Al-Qur’an.

Terima kasih,

Henda NB. Saya bbrp kali kirim Japri lewat alamat anda, tdk dijawab atau memang salah alamat?

#16. Dikirim oleh Roshenda  pada  21/01   04:02 AM

Terus terang, saya sangat apresiatif dengan langkah Ulil untuk menulis karya dalam bentuk yang utuh, tidak sekedar kumpulan esai, makalah, wawancana dan sebagainya. Sebab, selama ini para intelektual di Indonesia lebih banyak menerbitkan kumpulan tulisan daripada sekedar karya utuh. Sekalipun karya utuh, biasanya itu hanyalah disertasi dan merupakan karya pamungkas. Lihat aja para intelektual kita. Di samping itu, wacana-wacana yang diangkat hanyalah kegenitan intelektual semata, bukan dilandasi oleh metodologi yang jelas.

Harapan saya, dengan buku tersebut, bisa menjawab problem-problem kemanusiaan. Bukan sebuah replika pemikiran dari pemikir-pemikir Islam terdahulu. Sekalipun hanya dijadikan sebagai landasan atau backing dari gagasan, kita harus menjaga jarak terhadap gagasan-gagasan para pemikir terdahulu, bukan untuk dilupakan.

Selain itu, buku ini bukan sekedar genit, surprice, tapi juga berupaya untuk menyediakan seperangkat metodologi. Misalnya, Ushul Fiqih versi Islam Liberal. Tafsir versi Islam Liberal dan sebagainya. Itu semua perlu dipikirkan dan dirumuskan bersama-sama. Selama ini, kebanyakan diantara kita, hanya menjadi “pengikut” dari salah satu tokoh yang kita idolakan.  Originalitas dan autentisitas pemikiran harus kita galakkan, bukan mencomot dan bergantung pada gagasan-gagasan orang lain. Sudah bukan saatnya kita hanya bersujud tunduk di bawah pemikir-pemikir dari luar, terdahulu sebab konteks lokalitas yang kita hadapi jauh berbeda dengan mereka semua. Itulah yang saya harapkan.

Kemudian, melalui ini, salam kenal dari saya. Semoga nanti saya juga kebagian dari buku itu (kalau udah terbit). Selamat Berkarya. Untuk pada kolumnis dan aktivis Islam liberal lainnya juga harus menulis buku. Bukan sekedar menulis kolom di berbagai media, mengisi seminar, workshop di beberapa tempat. Lebih baik bagi kita adalah menulis sebuah karya yang utuh. Salam untuk mas Novri, mba nong, mas Anick dan kawan-kawan lainnya.

Mari kita berkarya dan berpikir lebih serius dan mendalam. Okey. Salam,

Hatim Gazali (Jogjakarta)

#17. Dikirim oleh Hatim Gazali  pada  21/01   05:02 AM

Biar agak sistematis, pembahasan di Islib harus dibikin kurikulum dengan menggunakan metodologi yang khas pula. Lagi pula, wacana-wacana Islib hanya menyentuh kalangan elit tertentu saja. Maka, jika nanti dibuatkan kurikulum yang jelas, wacana-wacana yang diangkat Islib bisa diikuti oleh masyarakat luas secara sistematis dan menyeluruh.

Saya sepakat dengan Himi Ashidiqie itu. Selama ini kan perbincangan di Islam tidak fokus dan tidak terencana dengan matang, cenderung reaktif terhadap sebuah fenomena yang bersifat sesaat.

Hatim Gazali (Jogjakarta)

#18. Dikirim oleh Hatim Gazali  pada  22/01   02:01 AM

Melihat tulisan-tulisan Anda sungguh sangat menyejukan suasana keberagamaan di Indonesia. Pemikiran-pemikiran Anda sangat high dibandingkan para manusia-manusia di MUI yang sok suci dengan kecenderungan selfish-nya. Good luck for you. GOD ALWAYS WITH YOU AND HELP YOU. AMEN

#19. Dikirim oleh agung  pada  22/01   03:02 AM

Pertanyaan saya singkat saja. Kalau konsep2 pewahyuan pada agama lain harus didekati secara berbeda-beda karena konteks pewahyuan pd masing2 agama berbeda, apakah kemudian tepat menerapkan metode2 kajian kitab suci agama lain, seperti biblical criticism/method dlm dunia Kristen, dlm mengkaji Al-Qur’an?? Sejauh yg bisa saya lacak, Bung Ulil khususnya, dan kawan2 JIL umumnya, sangat terpesona dg metode-metode kritis yg diterapkan thd Bible dlm dunia kesarjanaan Kristen modern dan mencoba menerapkannya terhadap Al-Quran yg konteks pewahyuannya tentu sudah umum diketahui sangat berbeda dg Bible.

Salam

#20. Dikirim oleh Abu Ahmad  pada  23/01   10:01 PM
Halaman 1 dari 2 halaman 1 2 > 

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?