Reportase,
03/06/2010

Scripture Minded dalam Pendidikan Agama Kita Reportase Diskusi "Pendidikan Agama di Sekolah"

Oleh Saidiman Ahmad

Melek agama tentu saja baik belaka. Persoalannya adalah melek agama diikuti dengan hilangnya nalar dalam beragama. Hilangnya nalar beragama itu terlihat dari kebiasaan masyarakat Muslim yang selalu ingin mencari pendasaran doktrin agama atas segala sesuatu. Mereka menganggap bahwa secara verbal agama bisa memberi solusi terhadap segala sesuatu. Ada fenomena scripture minded dalam beragama.

03/06/2010 11:15 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (26)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 2 halaman 1 2 > 

Sebuah catatan ttg wajah pendidikan agama di Indonesia yang lugaas dan idealis. Lugas, karena dalam catatan ini diungkapkan realita bernada protes pada model keberagamaan di Indonesia oleh masing-masing pemeluk agama yg bersangkutan. isi catatan juga nampak sangat idealis, tidak, atau kurang realistis.
Maksud saya begini, dua pembicara pada acara dimaksud adalah mereka yang selama ini getol menjalankan faham pluralisme: kelompok yang mengajak semua rakyat indonesia kenyadari kenyataan prulatas. Namun, justru mreka sendiri termakan oleh kesimpang siuran hakekat makna pluralitas.

#1. Dikirim oleh zulfan syahansyah  pada  03/06   01:53 PM

Sudah Siapkah masyarakat muslim Indonesia Ber_Ukhuwwah Insaniyyah Basyariyyah???. Sedangkan di setiap jenjang pendidikan agama generasi mereka disisipkan ajaran” misoginis terhadap agama lain.

#2. Dikirim oleh AdeM  pada  04/06   12:21 PM

pertama dasar dawuh/kitab yang digunakan bukan yang asli dari Allah yang diterima rosul disampaikan nabi yaitu AlQur’an.diumpamakan sepeda motor menggunakan surat mobil jelas ilegal.kedua pemahaman mereka hanya sebatas syareat(mengetahui bacaan) tetapi maksud dari bacaan itu belum bisa diketahui karena belum memiliki apa hakekat bacaan tersebut.tapi mereka langsung mengerjakan bacaan itu yang pada akhirnya timbul kesurupan jin yaitu suka gontok2an bunuh membunuh iri dengki dlsb.jadi seperti ludrukan .....

#3. Dikirim oleh candra  pada  04/06   06:43 PM

Sebenarnya sumber masalahnya adalah hirarki kebenaran yang diajarkan dalam Islam, yaitu Qur’an sebagai hukum tertinggi, disusul hadits baru yang lain (termasuk nalar dan pengalaman manusia didalamnya). Kalau Qur’an mengatakan bahwa semut dan burung bisa bicara seperti dalam kisah Sulaiman, maka muslim yang taat harus yakin bahwa semut atau burung bisa bicara! Walau tidak pernah ada bukti nyata bahwa semut dan burung bisa berbicara. Walau secara ilmiah kemampuan bicara (berkomunikasi) membutuhkan perkembangan otak dan nalar yang kompleks, yang tidak ada pada semut dan burung.Bila Qur’an (Allah) dan Hadits (Rasul) telah bicara, sami’na wa ato’na - dengar dan patuhi! tidak patut bagi orang beriman untuk meragukan atau mendebatkannya.
Dunia yang diandaikan ajaran Islam adalah dunia kepercayaan. Percaya—- atau kamu kafir! Sedangkan dunia yang dialami manusia adalah dunia yang berdasarkan kenyataan empiris dan logika.Selama landasan logika Islam tidak dibongkar, selama itu pula pengajaran Islam hanya melahirkan manusia-manusia autis yang asyik dengan teks-teks suci dan mengabaikan realitas dan logika kemanusiaan.

#4. Dikirim oleh Harun  pada  04/06   07:54 PM

maaf, saya kurang setuju tentang opini anda mengenai kebenaran Al-quran. karena menurut saya, Al-quran jelas sebagai pedoman hidup umat muslim.
karena seperti yang kita tahu bahwa di dalam Alquran jelas terdapat hukum - hukum yang mengatur dengan baik masalah hubungan manusia - Tuhan dan manusia - manusia.dan ya, menurut saya pribadi, Alquran memiliki semua solusi permasalahan. karena menyentuh segala aspek hidup manusia, baik dari segi keimanan dan logika.memang dibutuhkan perspektif yang lebih luas dalam mencerna kandungan ayat-ayat didalam Alquran, namun hal tersebut sama sekali tidak membuat Alquran menjadi tidak memiliki solusi untuk semua persoalan. ” logika memperkuat iman, dan iman mempertajam logika.”

#5. Dikirim oleh Gilang Rasaqi  pada  05/06   12:16 AM

Saya merasa aneh dengan asumsi tentang bagaimana pendidikan agama disekolah mengajarkan radikalisme dan fundamentalisme. Pelajaran agama di sekolah dalam 1 minggu paling banter hanya mendapat porsi 2 - 3jam, itupun yang diajarkan sebatas materi2 pokok tentang tauhid, fikih dasar yang memang menjadi kebutuhan hakiki setiap muslim (menurut saya, ndak tahu kalau menurut JIL). Radikalisme dan fundamentalisme terjadi lebih karena sistem yang ada sekarang ini justru tidak memanusikan manusia. Manusia dianggap serigala atau harimau yang akan saling memangsa dan yang kuatlah yang akan menang….

#6. Dikirim oleh Hisam ashadi  pada  05/06   04:11 PM

Emang permasalahan umat hari ini hanya berkutat pada masalah toleransi beragama? sehingga semua sumberdaya diarahkan utk utk hal tsb?. Lebih memiliki urgensi jk anda berpikir utk menjdikan bagaimana penduduk indonesia ini memiliki 9 sifat positif sebagai prasyarat kemajuan. Lagian fenomena “radikal”, itu lebih dominan sebagai sebuah persepsi daripada fakta.

#7. Dikirim oleh Mohammadis 100%  pada  07/06   09:13 AM

kembali saya mengulang komentar saya terdahulu tentang pendidikan agama.jika sebelum diskusi gugatan karena pendidikan agama mebentuk individu radikal sekarang pasca diskusi muncul gugatan bahwa penddikan agama cenderung scripture minded. persepsi saya menganggap lengkap sudah kebobrokan pendidikan agama di sekolah?
Jika dikatakan bahwa 80% kurikulum pendidikan agama mengarahkan individu menjadi radikal dan konservatif tergantung dari mana kita melihatnya.
Konservatif, jelas bagi anak usia sekolah dasar saya yakin, dan ini menjadi motivasi orang tua memasukkan anaknya ke sekolah saya, adalah agar si anak bisa baca tulis Al-Qur’an dan memahami kewajiban “minimal"seorang muslim, harus ditanamkan nilai-nilai agama paling dasar yang sesuai dengan perkembanganh usia mereka. memang cenderung doktrinal, karena tentu mendidik memperkenalkan agama kepada mereka tidak sama dengan mengenalkan apa itu Islam kepada mahasiswa ushuluddin bukan? kami memberi pengetahuan agama dasar yang nanti bisa mereka perkaya atau mereka kritisi sesuai dengan perkembangan usia mereka. bagaimana mereka mampu berdialog dengan nietzsche, dengan pemahaman agama yang progressif jika tidak memiliki modal awal, bagaimana mereka bisa meng-compare pemahaman agama mereka dengan yang lain. Contoh dekat Ikon JIL yaitu sdr Ulil bukankah berangkat dari tradsionalisme menuju liberalisme?
Radikal? untuk kesimpulan penelitian PPIM tentang kurikulum yang cenderung radikal silahkan lihat posting tanggapan saya pada tgl 20 Mei 2010.
Tetapi saya tegaskan di sini sekaligus menanggapi postingan dari Yantibudayasti tgl. 26 Mei 2010, saya mempertanyakan secara spesifik hasil PPIM lembaga pendidikan yang mana, sekolah formal kah (SD,SMP,SMA), informal kah ( TPA, TPQ, Eskul ROHIS) Jika sekolah formal, kembali saya tegaskan bahwa kurikulum pendidikan agama di SD/SMP/SMA adalah minimalis dan fiqih oriented. Jika lembaga pendidikan informal, saya tidak banyak tahu bagaimana kurikulumnya. tetapi yang pasti bagi seorang guru pasti akan memberikan materi belajar sesuai dengan apa yang di minta oleh kurikulum.
Radikalisme,konservatisme atau ekses negatif lainnya yang sekiranya muncul bukan berarti membuang air bekas mandi bayi beserta dengan bayinya, begitupula masalah pendidikan agama bukan berarti adanya ekses ini membuat pendidikan agama atau pendidikan akhlak atau apapun namanya lalu di hapuskan dari kurikulu. Ini tentu sangat kontraproduktif dengan kesadaran perlunya pembentukan karakter bangsa yang baik.
Yang dibutuihkan adalah adanya perubahan terhadap stakeholder pendidikan mulai dari kurikulum sampai guru. Harus ada kurikulum yang tidak hanya mengajarkan agama normatif saja tetapi juga agama secara komprehensif dan itu kami ajarkan di Madrasah ibtidaiyah dimana pendidikan agama meliputi mata pelajaran Fiqih, Qur’an hadits, SKI, Aqidah dan akhlak. begitu pula guru, guru harus dibekali dengan pemahaman mengenai agama Islam secara komprehensif, ini bisa melalui shortcourse yang mungkin bisa di fasilitasi oleh JIL.
terima kasih

#8. Dikirim oleh emonroheman  pada  08/06   05:32 AM

Kita sebagai umat muslim selalu mengatakan ALLAH itu MAHA ...SEGALA-GALANYA , tetapi disatu sisi kita juga MENGECILKAN makna MAHA dari ALLAH. NALAR kita tidak berfungsi saja sudah merupakan bukti bahwa kita MENGECILKAN ALLAH. Bukankah kita adalah mahluk yang paling SEMPURNA yang diciptakan ALLAH.Kita berbeda dengan mahluk lain karena kita diberi NALAR[PIKIRAN}dan PERASAAN[HATI]. Sekiranya ALLAH hanya menginginkan hanya ada 1 agama saja di muka bumi ini ... maka dengan mudah tentunya ALLAH bisa melakukannya.Sekiranya ALLAH hanya ingin menciptakan 1 jenis manusia saja ..semua sama mungkin semua berwajah Arab bangsa kebanggaan kita ....dan berwajah sama pula..serupa dan sebanguan ibarat boneka yang dibuat oleh pabrik. Kambing hanya diciptakan 1 jenis. Ayam hanya ada 1 jenis. Sapi hanya ada 1 jenis. Bila itu kehendak ALLAH maka dengan mudaj bisa dilakukannya. Mengapa ALLAH menciptakan hal yang berbeda-beda ?? Wajah kita saja tidak sama dengan orang tua kita, adik kita , kakak kita. Kenapa ALLAH tidak membuat sama saja. Ada bangsa lain yang sudah ada sebelum Nabi Ibrahim, Isa dan Muhammad dilahirkan dan oleh kita diberi judul sebagai KAFIR karena tidak MUSLIM [ orang yang percaya kepasa ALLAH ], tetapi kita bisa melihat bahwa mereka mempunyai PEGANGAN HIDUP yang luar biasa isi ajarannya berinitikan kepada MORAL yang selayaknya sebagai manusia BERAGAMA. Kita tidak harus pindah agama untuk melihat HAL BAIK dari agama lain tetapi memperkaya khasanah KEYAKINAN kita kepada ALLAH yang ternyata sangat LUAR BIASA MAHA ....Bagaimana ternyata ALLAH sudah menciptakan manusia dengan ajaran MORAL sebelum kita mengenal NABI KITA ? Itu lah MAHA BESAR ALLAH. Mungkin karena kita terlalu penuh dengan KEKURANGAN sehingga ALLAH mengirimkan kembali NABI-NABI nya untuk mengingatkan kita. Semua KITAB SUCI ditulis oleh manusia, kita belum pernah mendengar KITAB SUCI dikirimkan langsung dalam bentuk utuh sudah berjilid dan berjudul dari LANGIT. Semua ditulis oleh MANUSIA dalam ratusan tahun oleh berbagai orang yang berbeda dan kita tahu tidak ada manusia yang sempurna…hanya ALLAH YANG PUNYA KESEMPURNAAN. Untuk itu marilah jangan MENGHINA SEGALA KEBESARAN ALLAH dengan KEPICIKAN NALAR kita.

#9. Dikirim oleh BenFV  pada  08/06   07:11 AM

Suatu ketika anak saya yang duduk di kelas II SD bertanya: “Ayah, warna surat nikah ayah berwarna apa?” Saya jawab: “Itu ‘gak usah dijawab, ayah saja ‘gak tau warna apa! Kalau pun tidak naik kelas kalau tidak menjawab itu, biar sajalah!“Inilah salah satu betapa anak sekolah sekarang diajari untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Untuk apa seorang siswa menghapal warna surat nikah sementara yang empunya surat saja tidak hapal karena surat nikah itu belum tentu dipegang sekali dalam lima tahun? Sungguh waktu telah disia-siakan untuk hal-hal yang tidak perlu.

#10. Dikirim oleh zulkifli harahap  pada  09/06   12:43 AM

Berbicara pendidikan, tagi gak ngajak guru. Terlalu…..

#11. Dikirim oleh Satriwan Salim  pada  10/06   09:24 AM

yang perlu saya tanyakan adalah kenapa model pembelajaran scripture minded justru melahirkan tokoh-tokoh JIL seperti kang Ulil Abshar dan kawan-kawan.. tapi yang menggunakan PTK seperti sekolahan Muhammadiyah malah “keok” dalam beragama bahkan banyak yang “radikal”.. gmn Pak Saidiman?
sekarang ini yang jadi orang justru ketika dari SD-SMA dijejali pelajaran Alfiyah, Fatkhul Muin dan lain-lain sehingga ketika membaca tulisan nasr hamid, arkoun dan lain-lain tidak gumun dan takut bid`ah.. bandingkan dengan Muhammadiyah yang katanya pendidikannya modern malah ketakutan atau bahkan tidak bisa membaca tulisan seperti itu..

#12. Dikirim oleh hisyam zamroni  pada  11/06   11:10 AM

pendidikan agama bertujuan menanamkan keimanan kepada anak didik. karena itu klaim bahwa agamanya yang paling benar, imannnya yang paling benar, adalah merupakan keniscyaan. jika tidak kenapa para pendeta masih memegang teguh agama nasrani, begitu juga dengan para kiai masih ngugemi islam sebagai agamnya. adapaun masalah kebenciaan adalah hal lain di luar klaim iman, agama yang paling benar. untuk itu butuh yang namanya saling menghormati, bukan saling membenarkan? beda kan boleh, dan itu keharusan, seperti kanan kiri, besar kecil, panjang pendek, tetapi beda tidak harus saling membenci. oleh karena itu, mengajarkan anak didik akan kebenaran agamanya adalah keharusan tanpa membenci pada agama lain. saya kira demikian adanya. terima kasih

#13. Dikirim oleh mualim  pada  11/06   12:02 PM

Kalau di dalam agama ada larangan mencuri misalnya, sedangkan pemeluk agama itu juga tidak menyukai pencurian, maka kecocokan diantara agama dan pemeluk agama itu bukanlah karena pemeluknya itu scripture minded, melainkan karena agama itu cocok dengan fitrah pemeluknya sendiri. Tetapi memang ada bagian dari agama yang memaksa kita untuk bersikap scripture minded, terutama terjadi pada pemeluk agama yang mewajibkan keimanan kepada hari akhir, yaitu Islam . Seperti di tentang hukum had untuk pencuri yang berupa potong tangan, yang jika tidak dilaksanakan, apakah ada jaminan bahwa dosa pencuri itu sudah diampuni, sehingga tidak terkena hukuman lagi untuk perbuatan yang sama, di akhirat nanti. Jika pencuri itu di penjara saja, tidak di potong tangannya, Nabi hanya bersabda: “Terserah Allah” apakah dosanya telah diampuni atau akan di genapkan di akhirat. Terorisme dan fundamentalisme tidaklah lahir dari sikap yang scripture minded, melainkan dari sikap yang liberal terhadap makna dari satu-satu ayat Quran dan Hadits sehingga menyeleweng dari maksud sebenarnya.

#14. Dikirim oleh yopie noor  pada  13/06   05:59 PM

Memang benar pendidikan kita berfokus pada naskah yang ada. Sebagaimana dalam putusan hukum kita perlu KUHP. Beragama yang sesuai dengan “KUHP” agaknya cocok untuk amal ibadah yang “take action” tinggal dikerjakan, seperti shalat, puasa, haji dll. Tapi yang ghoiru mahdoh, perlu mendapat porsi akal yang besar. Saya pahami inilah yang kurang mendapat perdebatan. Namun lagi2 jika masalah sosial ini didiskusikan, akan kembalilagi ke script. Iya yh, kok jadi seperti pemain sinetron baru yang tidak bisa lepas dari script. Sedangkan pemain kawakan biasanya ada improvisasinya.
Padahal ruh agama menurut saya, “Liutammima makarimal akhlak” Mendahulukan akhlak, budi pekerti, bukan “ananiyah” (egisme). salam min bai’d

#15. Dikirim oleh santibuntet  pada  18/06   05:58 AM

Saya rasa pendidikan agama yang ada di sekolah-sekolah kurang tepat seperti yang dipaparkan oleh mas ulil, hanya kacamata kesalahan yang mas ulil tinjau sangat berbeda dengan kacamata saya, disini mas ulil lupa bahwa kebenaran tidak dapat dicapai tanpa agama, nalar sangat relatif menterjemahkan kebenaran, sehingga sangatlah naif jika kita mengandalkan nalar dan saya rasa kitab suci agama belum dapat menyelesaikan semua persoalan kehidupan, statemen tsb saya rasa tanpa dasar karena bukan agamanya yang tidak dapat menyelesaiakan persoalan tetapi interprestasi agamalah yang kita salah… tapi bagaimanapun saya sama mas ulil..wassalam

#16. Dikirim oleh Moch. Agus Tiono  pada  20/06   06:39 AM

dalam semua dasar pemikiran atau penalaran harus berdasarkan sumber yang benar. semua orang mempunyai penlaran dan pemikiran yang berbeda-beda. bila semua hanya mengandalakan penalaran sendiri,,,tidak akan berjalan seimbang. semua dilakukan pada dasar pemikiran sendiri-sendri
al-quran dan hadits digunakan sebagai pedoman penalaran kita. apapun yang kita katakan atau pikirkan belum tentu benar,,apalagi tidak ada dasarnya. mana bisa kita percaya perkataan seseorang yang tidak berdasar
alquran memang bukan hanya sekedar untuk dihapal tapi dikaji dan dipahami. karena sebenarnya semua yang ada di dunia ini dari awal kehidupan dan akhir dunia ini terdapat di alquran serta segala aturan. untuk itu diperlukan penalaran

#17. Dikirim oleh arien  pada  20/06   08:16 AM

Seberapa hebatkah akal manusia dibandingkan dengan ilmu Tuhan-nya sehingga segala sesuatu harus didasarkan pada akal manusia yang lemah dan serba terbatas?

#18. Dikirim oleh Mas Eko  pada  21/06   10:54 AM

Sekali lagi, (lanjutan komentar #4)
Sumber masalahnya adalah hirarki kebenaran yang diajarkan dalam Islam, yaitu Qur’an sebagai hukum tertinggi, disusul hadits baru yang lain (termasuk nalar dan pengalaman manusia didalamnya). Kerangka pikir ini yang membuat pengajaran agama jatuh pada penekanan penuh pada unsur taat tetapi mengabaikan unsur tanggung-jawab dan nalar. Qur’an dihafal, makna Qur’an sebagai pesan Allah tidak disampaikan.Do’a dihafal, makna do’a sebagai bentuk komunikasi non-formal kita kepada Allah berubah menjadi mantra-2 mujarab yang tak penting diketahui artinya. Muslim ideal hasil didikan ini adalah muslim yang taat-patuh pada apa yang tertulis atau disampaikan atas nama Islam. Muslim ideal ini tabu menggunakan nalarnya sendiri. Mereka merasa tidak perlu mengetahui mengapa sesuatu perlu dilakukan atau tidak dilakukan secara nalar. Muslim ideal ini hanya melaksanakan apa yang diperintahkan (atas nama Islam). Akibatnya nalar religi mereka beku oleh pelajaran… persis seperti orangtua mereka yang mengalami kram otak akibat mendengarkan khutbah tak bermutu di kebanyakan masjid tiap Jum’at.

#19. Dikirim oleh Harun  pada  22/06   07:56 AM

bismilahirohmanirohim,
saya sangat sepkata bhw pendidikan agama jg menjadi indoktrinasi bahkan mennhasut anak didik utk menganggap agama lain itu kafir. Seperti diketahui apa yg kita pahami ttg Qur’an adalah dg cara membaca tafsir krn bahasa Qur’an tdk mudah dimengerti maksudnya oleh nabi sekalipun makanya diturunkan dg perantaraan Jibril. Dan penyampaian secara lisan oleh Rasulluloh pun akan diinterpretasikan oleh para sahabatnya secra beda beda.
Saya mendukung pengajaran agama yg dinamis, terbuka dan mengasah ketajaman nalar dan mata hati (ESQ) bkn indoltrinasi. Kalau agama diajarkan secara dialogis terbuka insya Alloh bangsa ini akan jadi bangsa yang maju dan kritis serta mampu berdiri diatas ombak dinamika dunia sprti halnya zaman Rasulluloh dan para sahabatnya. Tentulah penyimpangan seks, narkoba dan korupsi tdk merajalela sperti sekarang. Kebobrokan ini karna agama sbg ruh petunjuk pegangan hidup hanya menjadi klenik dan pajangan semata.

#20. Dikirim oleh Eddy Setiawan  pada  27/06   04:11 PM
Halaman 1 dari 2 halaman 1 2 > 

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?