Scripture Minded dalam Pendidikan Agama Kita Reportase Diskusi "Pendidikan Agama di Sekolah"
Oleh Saidiman Ahmad
Melek agama tentu saja baik belaka. Persoalannya adalah melek agama diikuti dengan hilangnya nalar dalam beragama. Hilangnya nalar beragama itu terlihat dari kebiasaan masyarakat Muslim yang selalu ingin mencari pendasaran doktrin agama atas segala sesuatu. Mereka menganggap bahwa secara verbal agama bisa memberi solusi terhadap segala sesuatu. Ada fenomena scripture minded dalam beragama.
Komentar
kok mempersalahkan terus???!!!
Bismilahirohmanirohim, Jika dengan keterbatasan akal dan pikiran manusia dalam menguraikan firman-firman Tuhan YME dijadikan alasan untuk tidak memperdebatkan kebenaran sebuah ajaran agama saya pribadi sangat tidak menyetujui itu. karna agama diturunkan untuk manusia sehingga firman-firman yang diturunkan Tuhan pun pastinya sudah disesuaikan dengan kemampuan akal dan pikiran manusia itu sendiri… Sehingga jika dilakukan perdebatan kebenaran sebuah agama maka agama yang masih sesuai hingga saat ini ialah agama yang ajarannya dapat diurai dengan logika manusia. jadi hanya agama yang paling kompleks dan dinamis (Islam) lah agama yang paling benar… karena hanya Islam yang semua ajarannya dapat di urai dengan logika manusia.
Untuk membuat peserta didik menjadi belajar/ mampu bernalar memang sulit. Ini tergantung pada kapasitas dan kualitas pendidik sendiri. Belakangan ini banyak sekali guru-guru yang mengajar ilmu Igama (Islam) sebatas apa yang tertera dalam buku cetak maupun LKS. Guru-guru itu memang lulusan S1 PAI (Pendidikan Agama Islam), tetapi mereka tak mampu mencari, menggali dan memahami sendiri terhadap literatur utama, yaitu Al-Qur’an dan Hadist. Akhirnya menjelasan yang disampaikan cenderung leterlek, kaku dan mematikan nalar siswanya. Ketika siswa mencuba bertanya dengan nalarnya sendiri, guru hanya menjawabnya sesuai yang ia tahu dari buku cetak yang jadi pegangannya
@eko : akal terbatas?, seberapa terbatasnya akal, anda tau? (btrapa liter kah, kilokah, kubik kah?) kalo akal terbatas jangan malah dibatas2 dong, geber dong sampe batas kemampuannya, manusia abad 17 mn ad yg mengira manusia abad 20 bisa ke bulan?!!! akal terbatas tp toh mampu merangkai kompleksitas cyber problem (UU kriminalitas dunia maya, orang2 barat telah menciptakannya ; indonesia mengadopsinya) mslh manusia abd 21. sudah saatnya odel pengajaran yg menekankan superioritas teks kita koreksi, karena terbukti menjadkan kita tidak kreatif, mendorong kecurigaan dan misoginis
saya sependapat juga bahwa dengan adanya pendidikan agama justru menjadikan siswa semakin fundamental dalam memahami agamanya. dalam hal ini tentu sekilas akan menyalahkan pemerintah yang mengatur pendidikan di Indonesia. saya kira kalau melulu dan selalu menyalahkan pemerintah tidak akan menyelesaikan masalah, memang kalau kebijakan tentang pendidikan yang saat ini berlaku akhirnya diganti dengan kebijakan yang lebih selaras dengan perkembangan agama hal ini tentu akan lebih mampu memberi peluang untuk menjadikan setiap siswa mampu menjadi seorang beragama dan lebih toleran.menurut saya sekarang ini yang dapat dilakukan adalah mencari cara untuk mampu menyiasati undang undang ini agar sesuai dengan perkembangan agama dan ini sulit sebab biasanya orang yang punya kesadaran berkaitan dengan ajaran yang benar justru tidak memiliki akses yang memungkinkan untuk membuaat semacam perubahan dalam penyajian kurikulum pendidikan.
Masyarakat kita, begitu mendengar agama, maka yang ada dalam bayangannya adalah sesuatu yang telah ditetapkan dan harus dijalankan. Sami’na wa Atho’na. Terlepas sesuai dengan nalar maupun tidak. Tidak peduli justru mempersulit atau mempermudah. Terlebih lagi adanya ancaman neraka ataupun reward surga dengan bidadari2-nya. Kesemuanya itu menambah kakunya ajaran agama yang ada. Apakah hal ini salah ?? Untuk tahap tertentu tidaklah terlalu salah, dalam hal ini mungkin untuk kaum awam atau yang baru belajar. Akan tetapi bagaimanapun juga orang harus terus-menerus belajar, menggali lebih jauh pemahaman keagamaannya. Sebagai contoh agama Islam. Syari’at-syari’at yang kini berlaku, merupakan hasil proses yang panjang dari taqlid maupun ijtihad dari para ulama. Dan hasil interpretasi-nya pun beragam dari berbagai ulama. Di sini menunjukkan bahwa agama Islam belum mempunyai aturan yang benar2 pasti atau yang benar2 tunggal mengenai sesuatu. Lalu yang seperti apakah yang benar dan manakah yang salah ? Pada dasarnya semuanya benar, asal didukung hadits yang kuat. Tapi relevan atau tidaknya dijalankan, harus disesuaikan lagi dengan konteks yang kita hadapi saat ini. Untuk itulah, kita harus pahami bahwa ajaran agama ini adalah sebuah proses, belum ada titik final, atau mungkin tidak akan ada titik akhir, karena jaman ini terus berubah. Karena tidak adanya kepastian ajaran2 itu, maka kita harus menghargai pemahaman yang berbeda, karena kita yakin bahwa yang berbeda dgn kita itu, juga memiliki landasan pikiran dan secara nalar juga bisa dibenarkan. Hal ini tidak ada bedanya dengan umat agama lain. Kita tidak bisa menyalahkan mereka selama apa yang mereka kerjakan adalah sesuatu yang baik. Terlebih lagi dalam hubungan sosial kemasyarakatan, batasan2 agama seperti itu mungkin bisa dihilangkan.
Semangat seperti inilah yang hendaknya ditanamkan dalam pendidikan. Bahwa kita hidup dalam masyarakat dengan kultur dan agama yang beragam.
Agama adalah hak asasi tiap manusia. Manusia diberikan kebebasan untuk memilih agamanya. Adalah tidak dibenarkan meng-klaim agama kita yang lebih benar di atas agama yang lain, dalam konteks kehidupan masyarakat dengan keyakinan yang beragam. Hal ini akan memicu konflik yang sangat serius. Dan jika sampai timbul kekerasan, maka orang lain akan bisa melihat, agama A identik dengan kekerasan. Jika sampai seperti ini, umat lain akan menertawakan, kita begitu kuatnya memegang ajaran agama tapi juga begitu senang dengan kekerasan. Sesuatu yang ironis.
Komentar Masuk (26)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)