Ni Gusti Ayu Sukma Dewi, SH : Segala Sesuatu Ada Karmanya
Oleh Redaksi
Ada perubahan mendasar corak beragama kita di negeri ini. Jika dulu yang paling ditekankan adalah harmoni di tengah keragaman budaya dan agama, kini soal pembedaan identitas yang lebih dikemukakan. Demikian perbincangan Novriantoni dari Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan Ni Gusti Ayu Sukma Dewi, anggota Pansus RUU APP di DPR, Kamis (23/3) lalu.
Komentar
Saya sangat mendukung pernyataan-pernyataan Ibu Gusti Ayu Sukma Dewi, SH. Komentar-komentarnya indah, sejuk, lembut dan bijaksana. Seandainya saja setiap insan punya prinsip, pendapat, pemikiran seperti beliau, dunia ini, khususnya Indoensia pasti aman, tentram dan damai sebab semua orang akan memancarkan, menyiramkan serta menebarkan kasih di antara perbedaan, dan keberagaman suku, budaya, bahasa, kepercayaan, dll. Memang sepatutnyalah kita harus saling menyayangi antar sesama manuasia walau latar belakang kita berbeda !
Tetapi sayang belakangan ini, justru banyak oknum suka menonjolkan diri/identitasnya, dan egois menyatakan diri paling benar. Kebenaran hanya milik dirinya atau kelompoknya, sampai-sampai Tuhanpun hanya monopoli milik dirinya/golongannya saja, akibatnya terjadilah tindakan yang anarkis/ kejam, dan pula menindas dimana-mana terhadap kelompok/golongan yang lemah/minoritas dengan berbagai cara/siasat/dalih dan tidak jarang semua itu dilakukan yang katanya demi menegakkan kebenaran atau keyakinannya. Sekarang ini, banyak orang sudah aneh-aneh,edan dan sinting; sebab jika benar-benar dia memahami, mendalami dan menerapkan ajaran agamanya, orang itu pasti sayang kepada siapapun yang berbeda pisik, suku, budaya, adat dan agama. Dia juga sayang terhadap musuh-musuhnya. Bahkan dia juga harus sayang kepada semua hewan dan tumbuh-tumbuhan. Tidak akan membunuh semena-mena seperti bertindak anarkis/kejam/sadis, merampok, menindas, memperkosa, ngebom, korupsi, kolusi, selingkuh, dll. Mereka bangga mengaku-aku beragama, tetapi prilakunya sama sekali tidak mencerminkan orang beragama.
Oknum-oknum itu lupa bahwa hukum karma akan selalu berjalan dan menimpanya. Oknum itu boleh tak mengakuinya karena hal itu tidak ada dalam keyakinannya. Tetapi itu fakta, hukum alam, hukum sebab akibat sebagai istilah lain dari hukum karma akan tetap dan selalu ada. Dan biarlah hukum alam itu yang bicara secara adil….......!!
Tuhan berfirman (dlm Qur’an-kurang lebih tafsirnya): Silahkan saja, engkau (Muhammad & manusia) berkehendak dan berbuat apa saja semau kalian, tapi ingatlah bahwa sesungguhnya kalian akan mati dan berjumpa dengan-Ku pada hari kiamat.
Jadi silahkan saja umat manusia memeluk agama apa saja, berbuat apa saja : mau telanjang, fashion show, pornografi, pornoaksi semua telah dipersilahkan oleh Tuhan, tetapi ingatlah bahwa semua orang akan meninggal dan akan dimintai tanggung jawab oleh Tuhan akan empat hal : (1)Umurnya, untuk apa dia gunakan, (2)Masa mudanya, untuk apa dia gunakan, (3) Ilmu-nya, digunakan untuk berbuat apa saja dan (4) Hartanya, Dari mana diperoleh dan Untuk apa dia gunakan.
Jika umat manusia sudah bisa “menyiapkan” keempat jawaban ini di depan Tuhan, silahkan berbuat apa saja dan biarlah Tuhan yang mengadili perbuatan manusia tersebut. Hanya ada dua pilihan : Heaven or Hell.
Intinya, manusia harus berbuat sesuai dengan perintah dan ajaran Tuhan melalui Nabi-Rasul-Nya. Kalau non muslim bagaimana? Mari hidup berdampingan dengan damai tanpa permusuhan dan jika ada muslimin yang mengambil nyawa dan darah non muslim tanpa alasan-hukum negara, maka muslimin tersebut harus diadili sebagaimana warga negara lainnya.
Manakah pilihan Anda?
Saya rasa perjalanan ibu ni gusti ayu sukma dewi belum apa-apa karena dia dibesarkan dari berbagai macam latar belakang sehingga wajar saja bisan menjai sosok seperti sekarang ini.
Tapi terlepas dari itu semua saya ingin sampaikan sedikit tentang proses diri saya nmenjadi liberal seperti sekarang ini. Sebetulnya saya dibesarkan dari lingkungan yang fanatik liberal. Namun hal itu tidak menjadikan saya menelan apa semua yang diajarkan kepada saya. Seperti bagaimana saya menyikapi tentang pembantaian kaum muslim moro oleh ferdinan markos yang mana saya diajarkan untuk membenci semua simbol kristiani bahkan mainan saya saat kecil harus dimusnahkan karana terdapat simbol kristen. Tapi hal itu semua berproses dan menjadikan saya sosok liberal dengan hanya mengetahui dan mendalami nilai-nilai muslim yang saya cari dan dapatkan dari berbagai kalangan.
Jadi pada hematnya latar belakang yang majemuk bukanlah tolak ukur menjadikan seseorang bisa menjadi liberal dan aceeptable terhadap pluralisme. Sesungguhnya pengalaman ini saya alami dengan mencari nilai-nilai muslim tanpa harus menapikannya seperti yang sering sekali kita dengar akhir-akhir ini yang cenderung menyedutkan islam. Dan hal itu kebanyakan diucapkan oleh orang yang mengaku liberal dan sudah banyak mengenal berbagai macam ideologi.
Memang benar, pada akhirnya semua itu tanggung jawab pribadi langsung pada Allah SWT, mau muslim, nonmuslim, terserahlah. Berpacu2lah engkau dalam berbuat kebajikan maka biarlah Tuhan sendiri yg menentukan mana yg berkenan. Benar sekali, let GOD be the final judge.
Oleh karena itu, sedianya manusia satu tidak berhak menghakimi manusia yg lain berdasarkan satu versi kebenaran itu sendiri. Utk itu saat NDITA minta kita memilih mau hidup yg mana, saya dgn clear memilih hidup di negara NKRI yg sekuler, yg plural yg berdasarkan pada Pancasila. TITIK! Setiap insan Indonesia punya hak hidup. Dan sekiranya ada yg mau hidup tahajud tiap hari pun, okeh. Ada orang yg mau pakai pakaian mini pun oke. Selama semua ini tidak sifatnya “MEMAKSA” orang lain dan merasa benar sendiri.
Buat mereka2 yg anti demokrasi - atau saya ambil istilahnya fundamentalis deh. Menurut anda semua itu NKRI itu negara berdasarkan Pancasila atau negara berdasar teologi agama? Kalau anda setuju pertanyaan pertama, berarti anda tahu bahwa pandangan berbau SARA tidak bisa dipaksakan di bumi nusantara - buminya mojopahit (kerajaan hindu). Kalau anda setuju dgn pertanyaan kedua, berarti jelaslah bahwa kelompok2 ini memang merencanakan “kudeta merangkak” sebagai bagian dari penyaluran “berahi politik, kuasa dan harta” karena sesaat anda sudah tidak mengakui Pancasila, berarti tidak ada bedanya dgn PKI. Ngga usah repot2 kok mas.
Ibu Sukma secara spesifik mungkin memiliki latar belakang kehidupan yang berbeda, dibentuk oleh ayah Hindu dan Bunda Muslim serta lingkungan Kristen. Tapi secara umum, apa yang menjadi pandangan hidup Ibu Dewi adalah pandangan hidup yang dimiliki kebanyakan orang Hindu. Mungkin ada yang sulit percaya, tapi cobalah datang ke Bali—dimana mayoritas penduduknya Hindu—maka anda akan menemukan jawabannya. Anda tak akan pernah mendengar orang Hindu mengkafirkan orang lain, mengklaim diri sebagai satu2nya cara menuju sorga, apalagi melakukan kekerasan terhadap kelompok lain atas nama Tuhan. Lama saya mencari web dimana saya kira2 bisa bicara dengan teman2 muslim moderat, sampai akhirnya saya temukan web ini. Saya mencoba mencari di www.gusdur.net, tapi ruang untuk diskusi ternyata tidak ada. terima kasih, JIL! Apa yang ingin saya sampaikan ada keprihatinan yang mendalam atas apa yang terjadi pada republik ini dalam beberapa tahun terakhir. Menguatnya arus fumdamentalisme terasa kental dengan hadirnya MMI, FPI dan HTI. Aksi2 mereka membuat saya mengelus dada, apalagi melihat sikap aparat kemanan yang diam. MMI mensomasi Bali, FPI melakukan sweeping atas Play Boy, dan secara bersama-sama (termasuk MUI) menistakan mereka yang menentang RUU APP sebagai manusia tak beradab dan porno. Fatwa MUI yang mengharamkan pluralisme, mengharamkan ucapan selamat hari raya dan terakhir komentar salah satu ketuanya untuk “memuseumkan” budaya indonesia yang berbau erotis adalah sinyal yang teramat jelas akan pola pikir dan paham yang mereka anut. Saya ingin mengatakan kepada teman2 muslim moderat, bahwa adalah tugas teman2 ini untuk melakukan counter atas sikap muslim fundamentalis tersebut. Karena, bila saya yang bicara, dengan sangat mudah akan dituduh sebagai musuh islam, dan mungkin darah saya akan segera dihalalkan. Gus Dur lewat NU atau teman2 ormas pemuda-mahasiswa dibawah payung NU (PMII, IPNU, IPPNU, ANSOR, dll) harus berperan lebih banyak. sebab dimana kebaikan berdiam diri, maka disana kejahatan akan mengambil alih kendali.
Selamat berjuang, JIL!..
Terlebih dahulu, saya mengapresiasi spiritualitas Ibu Ayu Sukma Dewi. Tak jauh beda dengan beliau, saya juga menganggap agama dan keyakinan sebagai perantara menuju “Maha Kebaikan” ; agama menyebutnya Tuhan. Siapapun manusianya yang berbuat baik dan benar atau bahkan berbuat buruk sekalipun, tentu akan memperoleh balasan setimpal dari yang Maha Kasih dan Kuasa.
Menurut saya, “kemanusiaan” mengantarkan kita kepada kebaikan juga bisa keburukan. Bukankah sebenarnya ada “potensi baik sekaligus buruk” dalam diri manusia. Nah, di dunia ini, manusia dihadapkan pilihan menjadi baik atau buruk. Kedua pilihan itu “disediakan” Tuhan. Bagi manusia yang mengarah-menjadi baik maka Tuhan akan membalas kebaikan-kesenangan pula. Sedangkan manusia yang mengarah-menjadi buruk maka balasan keburukan-kesengsaraan juga diberikan Tuhan kepadanya.
Dengan dasar pemikiran diatas, Tuhan saya posisikan sebagai “milik semua”. Kalau begitu, sebagai manusia, tinggal berlomba-lomba menjadi baik bahkan yang terbaik, toh semuanya itu akan kembali sebagai kebaikan dan keselamatan dunia sekaligus akhirat kelak. Untuk itu, tepat apa yang disampaikan Ibu Ayu Sukma Dewi bahwa segala sesuatu ada karmanya, maka berbuat baiklah agar memperoleh balasan baik ; ya berbuat baiklah terus !
Lantas, apa parameter baik dan buruk ? Sejauh ini saya menemukan akal dan agama sebagai jawabannya. Keduanya ini sama-sama wahyu dari Tuhan untuk manusia sebagai pegangan menjadi baik atau buruk. Tentu jadi baik saja kan ! Selanjutnya, dalam konteks hubungan antar pemeluk “iman dan agama”, mari kita tingkatkan toleransi, keterbukaan dan sikap kasih-damai. Bukankah semua agama dan manusia pada hakikatnya mengajarkan dan menyukai kebaikan ?
Persoalan akan muncul ketika agama berselingkuh dengan politik (negara) atau sebaliknya.. RUU APP sebagai contoh telah terbukti berisi penyeragaman nilai-nilai budaya dan agama, tanpa toleransi yang memadai, ya atas nama standar moral kelompok tertentu saja. Bahaya dari RUU ini jelas akan mendiskriminasi bahkan akan menghabisi kelompok yang berbeda, padahal yang berbeda itu belum tentu salah atau jelek. Justru penyeragaman nilai lebih-lebih lewat negara sungguh sangat kebablasan dan merupakan pelanggaran sekaligus kemunduran itu sendiri.
Untuk itu, RUU APP yang eksklusif dan sempit itu harus direvisi total atau bahkan ditolak. Dari segi namanya saja sudah tak pantas bahkan keliru. RUU tersebut seharusnya mengakomodasi seluruh aspirasi rakyat yang plural. Saya lebih mengusulkan revisi dan pengoptimalan peraturan yang sudah ada. KUHP, UU Penyiaran, UU Pers, saya kira mampu mengatasi yang namanya porno itu.
Nah, disini negara (aparat) memang harus tegas dan sungguh-sungguh mengatur persoalan porno ini. Misalnya, pengaturan terhadap industri dan distribusi media porno, tayangan porno dst. Tentu sebelumnya, negara harus jelas dulu mendefinisikan porno, tentu dengan mendengarkan berbagai pendapat, baik dari seniman, aparat, masyarakat, praktisi, budayawan, ulama dan lain-lainnya.
Selamat mengurusi porno negaraku, tapi jangan lupa selesaikan juga kemiskinan, kebodohan, korupsi, pengangguran dan penyakit-penyakit lainnya. Semoga negara-rakyat kita tercerahkan-terbebaskan dan menjadi segar, meriah, maju dan beradab. Ibu Ayu Sukma Dewi dan semua penggerak pluralisme, selamat berjuang. Salam
——-
TUHAN TIDAK PRIMORDIAL.
Tuhan tidak rasis.
Tuhan tidak etnosentris.
Tuhan “berbicara” tanpa bahasa manusia.
Tuhan tentu tanpa nama.
Kebenaran sejati ibarat cermin yg pecah berantakan.
Agama, ajaran, budaya, tradisi, ilmu pengetahuan, masing-masing memungut satu di antara cermin yg pecah berantakan itu.
http://sabdalangit.wordpress.com
Komentar Masuk (7)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)