Kolom,
08/12/2003

Sejarah Al-Qur’an: Rejoinder

Oleh Luthfi Assyaukanie

Mengkaji sejarah Al-Qur’an dengan melihat proses-proses pembentukannya, baik pada masa Nabi dan masa-masa sesudahnya sangat penting, untuk mengingatkan kita selalu bahwa Al-Qur’an adalah manifestasi manusiawi dari kalamullah. Seperti juga kitab-kitab suci lainnya di dunia ini, Al-Qur’an memiliki keterbatasan-keterbatasan pada lingkup kebahasaan dan kesejarahan di mana ia diturunkan.

08/12/2003 08:22 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (14)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Saya menjadi tidak mengerti kemana arah artikel ini sesungguhnya. Apakah merupakan tanggapan balik atau untuk mengarahkan ke maksud sebenarnya yakni upaya untuk meragukan keaslian alquran dan mengajak menafsirkan ulang alquran agar sesuai dengan ajaran agama lainnya.

Apabila tujuannya adalah untuk meluruskan sejarah alQuran, mari kita selenggarakan semacam mudzakarah yang besar untuk hal tersebut, tetapi bila maksudnya adalah untuk mengupayakan penafsiran ulang isi alQuran, maka sesungguhnya penulis lain sudah banyak melakukan hal tersebut di situs ini, demikian pula tanggapan yang masuk sudah banyak yang mewakili.

Penulis bukannya lagi memberikan bukti argumen tambahan terhadap tulisan pertama seperti yang diminta pada saran saran terdahulu, melainkan hanya mengharap pengertian kepada pembaca bahwa alQuran turun pada historis teritorial, bahasa dan kronologis yang terbatas. Simple saja, hingga artikel inipun penulis tidak menyebutkan sumber referensi dari argumennya.

Sedikit saya sitir : “Bahasa manusia adalah instrumen komunikasi yang terbatas pada budaya, tempat, dan waktu di mana ia digunakan. Kosakata dari bahasa selalu berkembang, sesuai dengan perkembangan zaman.” Barangkali pendapat ini cocok bila kita hendak menterjemahkan buku buku mesir kuno, tetapi tidak valid untuk alquran.

Mengapa, pertama karena bahasa alQuran dengan bahasa Arab saat ini “hampir relatif” tidak berubah, kecuali dialek dan kosakata baru saja. Dan kata kata yang ada di alQuran berdasarkan pengertian bahasa (dan kurun) setempat sudah banyak yang meng eksiklopedi kannya seperti dalam kamus “Lisanul Arab” ataupun mungkin merujuk pada kitab sangat klasik seperti “tafsir jalalain”.

Sehingga bukan upaya sulit sesungguhnya untuk merefleksikan alQuran kedalam aspek kekinian. Yang perlu direfleksikan adalah penyamaan “benda dan mekanisme” pada masa terdahulu ke masa sekarang, karena lebih banyak varian “benda dan mekanisme” pada masa sekarang dibanding masa dahulu. Tentu saja varian varian tersebut masih tetap dialamatkan hukumnya ke varian induk, yakni hukum terhadap “benda dan mekanisme” yang disebutkan dan digariskan secara explisit dan implisit di dalam alQuran dan As Sunah.

#1. Dikirim oleh Dwi Nugroho  pada  10/12   01:12 AM

Tulisan bang Luthfi yg kedua ini semakin menunjukkan kematangan. Mungkin yg pertama sengaja provokatip ya smile. Cuma satu saja yg saya rasa belum disinggung, yaitu pandangan yg pernah disampaikan oleh salah seorang penanggap tulisan pertama: bahwa Quran itu sudah berupa buku sejak jaman Rasul. Memang, sumber2 dari pendapat ini akan terasa asing bagi sebagian besar kita dan juga banyak dari kita akan alergi dg-nya, tapi kalau bang Luthfi telah mau susah payah mengambil analisis2 sarjana2 Barat, why not with this sarjana2 muslim walaupun dari mazhab yg minoritas?

Pandangan yg berpendapat bahwa Quran itu sudah jadi buku ketika Rasul meninggal ini juga berpendapat bahwa penjagaan kemurnian Quran (sebagai ilmu atau kalamullah) oleh Allah ini adalah melalui rangkaian sebab akibat juga (istilah keren-nya ‘sunnatullah’). Ini terlihat di surat al Waqiah, bahwa hanya al-muthahharun-lah yang dapat menyentuh (menguasai) Quran (ilmu). Originalitas Quran dijamin melalui penjagaan para muthahharun ini. Ini juga sejalan dg hadits terkenal bahwa Rasul meninggalkan kepada kita semua Quran dan ahlulbait-nya, yang keduanya tidak akan berpisah sampai bertemu lagi dg beliau di telaga surga. Mengkaitkan hadits ini dg ayat muthahharun di al Waqiah, maka kita dapatkan Rasul dan para ahlulbait-nya itulah yg dimaksud dg al muthahharun. Beberapa ayat Quran dan hadits lainnya juga dijadikan pendukung pendapat ini, tapi akan sangat panjang dan kurang relevan kalau dibahas di sini.

The point is, tolong deh kalau bang Luthfi mau benar2 meneliti masalah sejarah Quran, silakan telaah pula analisis2 dari ulama2 mazhab yang satu ini. Otherwise, maka flaws penelitian antum akan ketahuan sejak awal, sebab bagaimanapun mazhab yg satu itu adalah bagian dari realitas dunia muslimin dan mereka tidak pernah menutup pintu ijtihad smile.

Selamat bekerja. Wassalaam

#2. Dikirim oleh Ibnu Umar  pada  11/12   03:12 PM

Cukup banyak yang ditulis Pak Luthfi dalam artikel beliau kali ini. Tapi menurut saya, ibaratnya seperti menggali lubang baru, beliau masih belum memberikan solusi seperti yang tempo lalu saya lontarkan lewat sebuah tanda tanya besar. Banyak hal dari tulisan Luthfi sekarang yang membuat saya merasa makin “berseberangan”. Saya menganggap di edisi ini Luthfi malah membuat “sekuel” baru, dan tidak memberikan “ending” yang jelas. Saya adalah salah satu ummat awam yang menganggap Al-Quran Mushaf Utsmani adalah merupakan bentuk ijma’ akbar para shahabat & ummat di zaman itu. Saya sepakat dengan komentator kedua, perlu diadakan re-mudzakarah terbuka dalam menyelesaikan persoalan ini (ini kalau niatan kita adalah demi kemajuan islam dan “lillaahi ta’ala”). Tapi lain soal lagi kalau ada keinginan-keinginan dan harapan-harapan negatif dari eksplorasi mutakhir Al-Qur’an ini (contohnya adalah mencari justifikasi baru) yang ujung-ujungnya malah “membuihkan” ummat agar jauh dari din-Nya.

#3. Dikirim oleh ahmad fauzan  pada  22/12   07:12 AM

Anda benar Bung Luthfi, kita tidak perlu apriori pada setiap Orientalis yg secara historis mungkin berhubungan erat dg perjalanan kapitalisme dan kepentingan Barat yg bergesekan tajam dg Islam. Tidak sedikit dari mereka yang benar benar mengabdikan dirinya untuk Ilmu Pengetahuan dan bersikap sangat Obyective. Namun ada baiknya juga kita ummat Islam mulai melakukan oleh apa yang dianjurkan Edward Said untuk : menulis tentang ” mereka ” , suatu khazanah konsep fikir barat yang berbeda daripada tradisi ketimuran , itu dikenal jika tidak salah dg : Oksidentalisme sebgai lawan daripada Orientalisme . Jangan dulu Anda mengira bahwa jalan fikiran ini sebuah Apologetic Islam , ini juga merupakan salah satu cara ” causal analytic thinking ” yang berusaha tidak bias terhadap obyek yang dikaji ( walaupun pada hakekatnya personality seorang individu, ahli sekalipun tetaplah masih dipengaruhi oleh latar belakang kebudayaannya - tapi Karen Armstrong misalnya adalah Contoh yang bagus daripada seorang biarawan Catholic yang memiliki wawasan fikir yang begitu luas dan obyective) Bukankah ada ayat yg mengatakan : Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum menyebabkan kamu tidak berlaku adil .

Salam,

Soegianto S.

#4. Dikirim oleh Soegianto Sastrodiwiryo  pada  29/12   02:13 PM

Saya menanggapi tulisan Bung Luthfi dengan tanggapan berjudul: Oksidentalisme dan Orientalisme, tertanggal 29 Desember lalu. Mungkin setelah diedit, tertolak. Tidak masalah bagi saya.

Namun saya usulkan agar editing tidaklah memperhitungkan bahwa tanggapan itu dinilai semata dari “menguntungkan” atau “tidak menguntungkan” JIL.

Saya dari semula menaruh simpati kepada JIL yang mau berbeda sudut pandang dari umat Islam Indonesia umumnya, setidaknya merupakan media “ijtihad” bagiku, seakan akan Ibn Rushdi hidup kembali.

Namun keterbukaan hati JIL untuk menerima kritik dan serangan adalah satu syarat penting bagi keberlangsungan “ijtihad” gaya JIL. Saya seorang di antara ummat yang juga mengagumi Jean Paul Sastre, pendekar Existensialisme itu, tanpa harus menggoyahkan keyakinan saya pada Islam. Keyakinan saya malah menguat.

Selamat berjuang JIL!

Salam,

Soegianto. S

#5. Dikirim oleh Soegianto Sastrodiwiryo  pada  30/12   01:13 PM

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.:

Kutipan tulisan berikut adalah untuk memberikan perspektif lain dari “dunia islam lain” tepatnya minoritas muslim syiah, alih-alih sebagai penyeimbang tulisan yang dilatarbelakangi ide dari orientalis yang notabene non muslim:

Sesungguhnya Syi’ah mempercayai bahwa al-Qur’an yang ada sekarang adalah benar dan mereka beramal dengannya. Tetapi tidak dinafikan bahwa terdapat kitab-kitab karangan ulama Syi’ah seperti al-Kulaini dan lain-lain yang telah mencatat tentang kurang atau lebihnya ayat-ayat al-Qur’an yang ada sekarang, tetapi ketahuilah anda bahwa bukanlah semua riwayat itu sahih, ada yang sahih dan ada yang dha’if. Contohnya al-Kulaini telah meriwayatkan di dalam al-Kafi bahwa Rasulullah SAW telah dilahirkan pada 12 Rabi’ul Awwal tetapi ditolak oleh mayoritas ulama Syi’ah karena mereka berpendapat bahwa Nabi SAWW dilahirkan pada 17 Rabi’ul Awwal.

Begitu juga mereka menolak kitab al-Hassan bin al-‘Abbas bin al-Harisy yang dicatat oleh al-Kulaini di dalam al-Kafi, malah mereka mencela kitab tersebut. Begitu juga mereka menolak riwayat al-Kulaini bahwa orang yang disembelih itu adalah Nabi Ishaq bukan Nabi Isma’il AS (al-Kafi, IV, hlm. 205). Justeru itu riwayat al-Kulaini umpamanya tentang kurangnya dan penambahan ayat-ayat al-Qur’an adalah riwayat yang lemah (Majallah Turuthuna, Bil. XI, hlm. 104).

Karena ulama Syi’ah sendiri telah menjelaskan kelemahan-kelemahan yang terdapat di dalam al-Kafi, malah mereka menolak sebagian besar riwayat al-Kulaini. Begitu juga dengan kitab al-Istibsar fi al-Din, Tahdhib al-Ahkam karangan al-Tusi dan Man La Yahdhuruhu al-Faqih karangan Ibn Babuwaih, sekalipun 4 buku tersebut digolongkan muktabar di dalam mazhab Syi’ah. Umpamanya al-Kafi yang mempunyai 16,199 hadith telah dibagi kepada 5 bagian (di antaranya) :  1. Sahih, mengandung 5,072 hadis. 2. Hasan, 144 hadis.  3. al-Muwaththaq, 1128 hadith (yaitu hadis-hadis yang diriwayatkan oleh orang yang bukan Syi’ah tetapi mereka dipercayai oleh Syi’ah). 4. al-Qawiyy, 302 hadis.  5. Dhaif, 9,480 hadis. (Lihat Sayyid Ali al-Milani, “al-Riwayat Li Ahadits al-Tahrif ‘di dalam Turuthuna, Bil. 2, Ramadhan 1407 Hijrah, hlm. 257).

Oleh sebab itu riwayat-riwayat tentang penambahan dan kekurangan al-Qur’an telah ditolak oleh ulama Syi’ah Imamiyah mazhab Ja’fari dahulu dan sekarang. Syaikh al-Saduq (w. 381H) menyatakan “i’tiqad kami bahwa al-Qur’an yang telah diturunkan oleh Allah ke Nabi Muhammad SAW dan keluarganya ialah di antara dua kulit (buku) yaitu al-Qur’an yang ada pada orang ramai dan tidak lebih dari itu. Setiap orang yang mengatakan al-Qur’an lebih dari itu adalah suatu kebohongan.” (I’tiqad Syaikh al-Saduq, hlm. 93).

Syaikh al-Mufid (w. 413H) menegaskan bahawa al-Qur’an tidak kurang sekalipun satu kalimat, satu ayat ataupun satu surah (Awa’il al-Maqalat, hlm. 55).

Syarif al-Murtadha (w. 436H) menyatakan al-Qur’an telah dijaga dengan rapi karena ia adalah mukjizat dan sumber ilmu-ilmu syara’; bagaimana ia bisa diubah dan dikurangkan? Selanjutnya beliau meyatakan orang yang mengatakan al-Qur’an itu kurang atau lebih tidak boleh dipegang pendapat mereka (al-Tabrasi, Majma’ al-Bayan, I, hlm. 15).

Syaikh al-Tusi (w. 460H) menegaskan bahwa pendapat mengenai kurang atau lebihnya al-Qur’an adalah tidak layak dengan mazhab kita (al-Tibyan fi Tafsir al-Qur’an, I, hlm.3).

Begitu juga pendapat al-Allamah Tabataba’i dalam Tafsir al-Mizan, Jilid 7, hlm. 90 dan al-Khu’i dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, I, hlm. 100, mereka menegaskan bahwa al-Qur’an yang ada sekarang itulah yang betul dan tidak ada penyelewengan.

Demikianlah sebagian dari pendapat-pendapat ulama Syi’ah dahulu dan sekarang yang mengakui kesahihan al-Qur’an yang ada pada hari ini.

Imam Ja’far al-Sadiq AS berkata, “Apabila datang kepada kamu dua hadis yang bertentangan maka hendaklah kamu membentangkan kedua-duanya kepada Kitab Allah dan jika ia tidak bertentangan dengan Kitab Allah, maka ambillah dan jika ia bertentangan dengan Kitab Allah, maka tinggalkanlah ia” (Syaikh, al-Ansari, al-Rasa’il, hlm. 446).

Kata-kata Imam Ja’far al-Sadiq itu menunjukkan al-Qur’an yang wujud sekarang ini adalah al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah ke Nabi SAWW tanpa tambah dan kurang jika tidak, ia tidak menjadi rujukan kepada Muslimin untuk membentangkan hadith-hadith Nabi SAWW yang sampai kepada mereka.

Oleh sebab itu mazhab Syi’ah Ja’fari samalah dengan mazhab Ahlu s-Sunnah dari segi menjaga al-Qur’an dari penyelewengan, tetapi anehnya ialah terdapat banyak riwayat di dalam buku-buku Sahih Ahlu s-Sunnah sendiri yang mencatat bahawa al-Qur’an telah ditambah, dikurang dan ditukarkan, di antaranya seperti berikut :

1. Al-Bukhari di dalam Sahihnya, VI, hlm. 210 menyatakan (Surah al-Lail (92):3 telah ditambah perkataan “Ma Khalaqa” pada ayat yang asalnya ialah “Wa al-Dhakari wa al-Untha” tanpa “Ma Khalaqa”. Hadith ini diriwayatkan oleh Abu al-Darda’, kemudian dicatat pula oleh Muslim, Sahih, I, hlm. 565; al-Turmudhi, Sahih, V, hlm. 191.  2. Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, I, hlm. 394; al-Turmudhi, Sahih, V, hlm. 191 menyatakan (Surah al-Dhariyat (51):58 telah diubah dari teks asalnya “Inni Ana r-Razzaq” kepada “Innallah Huwa r-Razzaq” iaitu teks sekarang.  3. Muslim, Sahih, I, hlm. 726; al-Hakim, al-Mustadrak, II, hlm. 224 meriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari, “Kami membaca satu surah seperti Surah al-Bara’ah dari segi panjangnya, tetapi aku telah lupa, hanya aku mengingat sepotong dari ayatnya,” Sekiranya anak Adam (manusia) mempunyai dua wadi dari harta, niscaya dia akan mencari wadi yang ketiga dan perutnya tidak akan dipenuhi melainkan dengan tanah.”  4. Al-Suyuti, al-Itqan, II, hlm. 82, meriwayatkan bahwa ‘Aisyah menyatakan Surah al-Ahzab (33):56 pada masa Nabi SAWW adalah lebih panjang yaitu dibaca “Wa’ala al-Ladhina Yusaluna al-Sufuf al-Uwal” selepas “Innalla ha wa Mala’ikatahu Yusalluna ‘Ala al-Nabi…” Aisyah berkata, “Yaitu sebelum Uthman mengubah mushaf-mushaf.”  5. al-Muslim, Sahih, II, hlm. 726, meriwayatkan bahwa Abu Musa al-Asy’ari membaca selepas Surah al-Saf (61):2, “Fatuktabu syahadatan fi A’naqikum…” tetapi tidak dimasukkan ke dalam al-Qur’an sekarang.  6. Al-Suyuti, al-Itqan, I, hlm. 226 menyatakan bahwa dua surah yang bernama “al-Khal’ ” dan “al-Hafd” telah ditulis dalam mushaf Ubayy bin Ka’b dan mushaf Ibn ‘Abbas, sesungguhnya ‘Ali AS mengajar kedua surah tersebut kepada Abdullah al-Ghafiqi, ‘Umar dan Abu Musa al-Asy’ari juga membacanya.  7. Malik, al-Muwatta’, I, hlm. 138 meriwayatkan dari ‘Umru bin Nafi’ bahwa Hafsah telah meng’imla’ “Wa Salati al-Asr” selepas Surah al-Baqarah (2): 238 dan tidak ada dalam al-Qur’an sekarang. Penambahan itu telah diriwayatkan juga oleh Muslim, Ibn, Hanbal, al-Bukhari, dan lain-lain.  8. Al-Bukhari, Sahih, VIII, hlm. 208 mencatat bahwa ayat al-Raghbah adalah sebagian dari al-Qur’an yaitu “La Targhabu ‘an Aba’ikum” tetapi tidak wujud di dalam al-Qur’an yang ada sekarang.  9. Al-Suyuti, al-Itqan, III, hlm. 82; al-Durr al-Manthur, V, hlm. 180 meriwayatkan dari ‘Aisyah bahwa dia berkata, “Surah al-Ahzab dibaca pada zaman Rasulullah SAWW sebanyak 200 ayat, tetapi pada masa ‘Uthman menulis mushaf tinggal 173 ayat saja.”  10. Al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, V, hlm. 192 mencatatkan bahwa di sana terdapat ayat yang tertinggal selepas Surah al-Ahzab (33):25 yaitu “Bi ‘Ali bin Abi Talib”. Jadi ayat yang dibaca, “Kafa Llahul Mu’minin al-Qital bi ‘Ali bin Abi Talib.”  11. Ibn Majah, al-Sunan, I, hlm. 625 mencatat riwayat dari ‘Aisyah dia berkata: ayat al-Radha’ah sebanyak 10 kali telah diturunkan oleh Allah dan ditulis dalam mushaf di bawah katilku, tetapi manakala wafat Rasulullah SAWW dan kami sibuk dengan kewafatannya, maka ia hilang.  12. Al-Suyuti, al-Itqan, III, hlm. 41 mencatat riwayat dari ‘Abdullah bin ‘Umar, dari bapanya ‘Umar bin al-Khattab, dia berkata, “Janganlah seorang itu berkata aku telah mengambil keseluruhan al-Qur’an, apakah dia tahu keseluruhan al-Qur’an itu? Sesungguhnya sebagian al-Qur’an telah hilang dan katakan saja aku telah mengambil al-Qur’an mana yang ada.” Ini bererti sebagian al-Qur’an telah hilang.

Demikianlah di antara catatan para ulama Ahlu s-Sunnah mengenai al-Qur’an ada lebih atau kurang di dalam buku-buku Sahih dan muktabar mereka. Bagi orang yang mempercayai bahwa semua yang tercatat di dalam sahih-sahih tersebut adalah betul dan wajib dipercayai, akan menghadapi dilema, karena kepercayaan demikian akan membawa mereka kepada mempercayai bahwa al-Qur’an yang ada sekarang tidak sempurna, ada pengurangan atau kelebihan.

Jika mereka mempercayai al-Qur’an yang ada sekarang adalah sempurna - memang ia sempurna - ini berarti sahih-sahih mereka tidak sempurna dan tidak sahih lagi.

Bagi Syi’ah mereka tidak menghadapi dilema ini kerana mereka berpendapat bahwa tidak semua riwayat di dalam buku-buku mereka seperti al-Kafi, al-Istibsar fi al-Din dan lain-lain adalah sahih, malah terdapat juga riwayat-riwayat yang lemah.

Oleh sebab itu untuk mempercayai bahwa al-Qur’an yang ada sekarang ini sempurna sebagaimana yang dipercayai oleh Syi’ah mazhab Ja’fari, maka Ahlu s-Sunnah terpaksa menolak riwayat-riwayat yang terdapat di dalam sahih-sahih mereka demi mempertahankan kesempurnaan al-Qur’an. Dan mereka juga harus menolak riwayat-riwayat yang bertentangan dengan al-Qur’an dan akal seperti hadith yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, “Sesungguhnya Neraka Jahanam tidak akan penuh sehingga Allah meletakkan kaki Nya, maka Neraka Jahanam berkata: Cukup, cukup.” (Al-Bukhari, Sahih, III, hlm. 127; Muslim, Sahih, II, hlm. 482).  Hadith ini bertentangan dengan ayat al-Qur’an Surah al-Sajdah (32):13 ,....“Sesungguhnya Aku akan penuhi Neraka Jahanam dengan jin dan manusia.” Juga bertentangan dengan Surah al-Syura (42):11 yang menafikkan tajsim “Tidak ada suatu yang perkarapun yang menyerupaiNya.”

Lantaran itu tidak heranlah jika al-Suyuti di dalam Tadrib al-Rawi, hlm. 36 menyatakan bahwa al-Bukhari telah mengambil lebih 480 periwayat yang tidak disebut atau diambil oleh Muslim dan ia mengandung para periwayat yang lemah, disebabkan oleh kebohongan dan sebagainya, sementara Muslim mengambil 620 periwayat yang tidak disebut atau diambil oleh al-Bukhari dan terdapat di dalamnya 160 periwayat yang lemah.

Murtadha al- Askari menulis buku berjudul 150 sahabat khayalan, Beirut, 1968., berkata: Hanya nama-nama mereka saja disebutkan oleh al-Bukhari dan Muslim tetapi mereka sebenarnya tidak pernah wujud.

Oleh sebab itu ‘sahih” adalah nama buku yang diberikan oleh orang tertentu, misalnya al-Bukhari menamakannya ‘Sahih” yaitu sahih menurut pandangannya, begitu juga Muslim menamakan bukunya ‘Sahih” yaitu sahih menurut pandangannya.

Justeru itu buku-buku ‘sahih’ tersebut hendaklah dinilai dengan al-Qur’an, karena Sahih yang benar adalah sahih di sisi Allah SWT.

Dan kita bersaksi bahwa al-Qur’an yang ada di hadapan kita ini adalah sahih dan tidak boleh dipertikaikan lagi.

Dengan itu anda tidak lagi menganggap Syi’ah mempunyai al-Qur’an ‘lebih atau kurang’ isi kandungannnya karena mereka sendiri menolaknya. Dan telah dicatat di dalam buku-buku Sahih dan muktabar Ahlu s-Sunnah tetapi mereka juga menolaknya.

Dengan demikian Syi’ah dan Sunnah adalah bersaudara di dalam Islam dan mereka wajib mempertahankan al-Qur’an dan beramal dengan hukumnya tanpa menjadikan ‘ijtihad’ sebagai alasan untuk menolak (hukum)nya pula.

#6. Dikirim oleh M. Isa Ansori  pada  22/01   05:01 AM

Komentar…. saya adalah pusiiing!!

Saya akui bahwa jika dari fakta sejarah bahwa utsman lah yang telah mengumpulkan ayat2 al-quran dan menjadikannya musaf. dan al-quran yang telah dijadikan musaf itu tak berubah sejak 14 abad yang lalu sampai sekarang. Bukankah hal itu bennaarr!!!!!!!

Kemudian dari tulisan saudara ada “bukti-bukti” bahwa al-quran itu ada yang ditambah, dikurangi mungkin, maaf kalo salah baca.. berdasarkan bukhari, muslim, dll….. yang merupakan manusia yg bisa salah dalam analisanya, tulisannya, apapun itu. Tentunya saya tidak bisa mempercayai hal tersebut, dengan mengatakan al-quran adalah tidak sempurnya.. Gila….... Anda yang nulis moga-moga tidak gila..

Saya mengakui bahwa orang yang membuat musaf adalah utsman yang “hanya manusia biasa” tapi setidaknya dia hidup pada jaman rosul, dan al-quran dimusafkan DEKAT dengan jaman rosul… Andaikata ada distorsi (yang pikir dan yakini TIDAK MUNGKIN ADA DISTORSI) maka hanya akan terdapat sedikit saja (p.s tidak ada gito loh). Ini adalah pemikiran yang logis, logis sekali. Bandingkan dengan yang ditulis oleh bukhari dan muslim dan lainnya yang telah anda sebutkan diatas, mereka tidak hidup dekat dengan jaman rosul… jadi wajarlah tulisan mereka juga mungkin ada distorsi…... dengan kata lain anda tidakbisa seenaknya meyakini tulisan mereka dan mengambil kesimpulan al-quran tidak sempurna karena mengalami penambahan disana-sini. Enak AJA wong selama 14 abad al-quran nggak berubah kok….. coba buktikan kalo ada yang berubah….

Semoga Allah mengampuni Dosa-dosa ku..

#7. Dikirim oleh Andri  pada  22/03   09:04 AM

Sebelum saudara Luthfie menulis artikelnya, saya sudah banyak mengikuti perkembangan pemikiran yang dianut kaum mu’tazilah. Dan dari awal saya meyakini bahwa al qurán yang hadir dihadapan kita ini bukanlah kalamullah, karena kalamullah adalah sesuatu yang muthlak dan hampa kesalahan. lain halnya dengan al qurán yang memungkinkan interpretasi ganda, sehingga menjadikannya nisbi (relatif).

Kesejarahan al qurán dari kalamullah yang disampaikan oleh jibril ke Muhammad, sampai akhirnya berkembang dengan interpretasi tafsir yang bermacam-macam, sangatlah memungkinkan mengalami reduksi makna berdasarkan ‘‘keterbatasan’’ kemampuan rasio muhammad atas ‘‘rasio Tuhan’‘, pun rasio ulama atas rasio Muhammad. sehingga keinginan Muhammad tidak serta merta menjadi keinginan Tuhan dalam lintas waktu dan geografis.

untuk itu pembacaan al qurán sebagaimana yang ditulis Luthfie sangatlah perlu, di samping perlunya kita menciptakan model-model pembacaan lain yang berorientasi pada upaya membumikan al qurán, sehingga bisa menjadi poros perubahan.

untuk sementara seperti itu, saya lagi malas ngetik….

salam, damai di bumi damai di hati

#8. Dikirim oleh Rahmatul Ummah  pada  07/07   05:08 AM

Dari artikel Anda, ada satu pertanyaan mengganjal yang kalau dipikirkan sungguh - sungguh akan meresahkan jika kita meyakini bahwa Al-Qur’an dan kitab - kitab lainnya adalah manifestasi manusiawi terhadap kalam Illahi. Karena jika seperti itu artinya seluruh kitab suci itu benar, karena toh kitab suci itu adalah Firman Tuhan semuanya. Adapun perbedaan - perbedaan yang ada pada setiap kitab suci atau dalam satu kitab suci itu sendiri karena keterbatasan dunia manusia yang relatif.

Jika seperti itu, maka saya ambil contoh sederhana saja. Misal dalam satu kitab suci menyatakan kehidupan manusia itu ada reinkarnasi, maka ini tidak bisa disalahkan, sedang di kitab suci lain mengatakan tidak ada, atau dalam suatu kitab suci mengatakan banyak Dewa sedang yang lain tidak. Atau ada yang mengatakan Tuhan itu tiga yang lain tidak.

Jika mengikuti cara berpikir Anda maka semua itu benar. Dan inilah yang bagi akal sehat saya tidaklah logis. Karena agama tidak hanya mengajarkan yang tampak - tampak saja. Namun hal - hal yang bersifat keakheratan, seperti surga, neraka, tentang jumlah Tuhan, tentang hari pengadilan, tentang proses perhitungan amal, tentunya hanya akan ada 1 yang benar. Karena jika semua benar maka akan kacau balau jadinya kerajaan Tuhan.

#9. Dikirim oleh Martha Yoga  pada  31/08   11:08 AM

assalamu’alaikum

Menarik juga tulisannya, cuman sedikit agak konyol

1. Sekedar perbandingan. klo kita terbiasa makan dan minum yang bergizi apa adil klo tidak pernah mengkonsumsi racun walau sebotol aqua selama hidup. saya kira klo penulisnya konsen harusnya meminum sebagai perbandingan agar tubuh merasakannya apa itu racun, gimana rasanya, bukan sekedar di cerita ama orang tapi ndak pernah rasa. saya kira yg lebih selamat bagi tubuh adalah menghindarinya walau itu menurut perkataan orang atawa sekedar penelitian. daripada mencoba lantas mati !!! Khan berabe

2. Masalah orientalis, saya kira jelas kali—utk kepentingan kolonial—dengan kalimat itu saja saya kira baiknya kita menjauhinya. semua kita tahu apa tujuan kolonial. taruh semacam snough hugronye di aceh itu semua jelas. Memang benar mereka meneliti tentang islam. tapi penelitian ini dlm rangka merusak islam, yaa jelas yg namanya merusak hasilnya juga rusak. yg jadi pertanyaan apa haril karya mereka ttg islam bisa dipertanggung jawabkan !!! hingga kita bebas menjadikannya sebagai rujukan?

Sebagai contoh, jika menerima laporan/informasi dari tukong bohong dan orang jujur, saya kira yg lebih selamat adalah tidak mempercayainya kecuali setelah di lakukan penelitian mendalam tentang informasi yg di sampaikannya bukan malah dijadikan rujukan utk penelitian lainnya. Adapun orang jujur, yg lebih selamat adalah menerimanya walau pada saat itu dia sedang berbohong, dan kebohongnnya itu bisa terlihat langsung oleh penerima informasi klo memang dia orang yg jujur.

3. Mengenai kaidah yg saudara bawakan—jangan melihat orangnya—itu adalah kaidah umum dlm Islam ketika orang2 yg akan kita ambil informasi jujur, kaidah itu dipakai umum oleh kalangan shahabat sebelum terjadi fitnah dan merajalelanya penyimpangan dlm islam. Setelah masa shahabat timbul fitnah dan keluar kaidah baru “sesungguhnya ilmu adalah dien kalian, maka telitilah darimana kalian mengambilnya (kaidah ini terkenal sekali di kalangan para shahabat yg akhir hidupnya dan dikalangan tabiin dan orang2 sesudahnya). hingga ibnu abbas pernah berkata : dulu jika kami mendengar hadits kami langsung mengambilnya, tapi sekarang setelah terjadinya fitnah kami meneletinya dulu, jika memang dari orang terpercaya, adil dan jujur maka kami akan mengambilnya, jika tidak maka kami tinggalkan. dan kaidah ini hampir mampir kesemua buku ahli ilmu dan fiqih. jadi kaidah yg saudara katakan tadi boileh dipakai jika orang2 yg hidup pada masa kita mengamalkan kaidah itu hampir semuanya jujur hingga kita dapat simpulkan kemungkinan bohongnya kecil. tapi untuk masa sekarang saya kita itu hal yg sulit, karena kita tak tau orang itu jujur apa tidak sementara kita menggunakan perasaan saja ketika mengambilnya, atau kadang kita mempebandingkan dgn penulis lain yg lagi2 kita tidak bisa mendeteksi kejujurannya. saya kira yg lebih selamat adalah meninggalkannya dari pada berada dlm ketidak pastian sambil meraba kebenaran. dan itu memerlukan waktu yg lama, mementara kita dihadapkan pada berbagai persoalan tentang kewajiban dlm hidup. klo kajian saya dari berbagai reverensi karangan orientalis lebih kepada akal akalin saja, atau kadang memutarbalikkan fakta, atawa yg lebih sering pendapat yg lemah dan kadang di buang oleh para ulama bertentangn dgn dalil shohih di hidupkan kembali seolah sebagai pendapat terkuat dengan sedikit di poles hingga polesan ini kadang merunbah ke makna dasarnyu. alias di putarbalikan

3. Tentang klain kafir dll. saya kira itu betul klo kita percaya teks al-quran itu asli. “kami yg menurunkan al-quran dan kami pula yg akan menjaganya” semua ulama sepakat teks al-qran tetap akan terjaga sampai kiamat klo kita percaya tadi.pengumpulan al-quran adalah salah satu janji allah yg terpenuhi di ayat itu. kenapa tidak di zaman rasulullah. bukankah rasulullah sudah menyuruh menuliskannya dan sebagian shahabat menulis dalam bentuk mushaf. knapa utsman menggabungkan al-quran dlm satu mushaf ini salah satu penjagaan allah terhadap quran yg diilhamkan kepada para shahabat sebab klo dibiarkan dgn ejaan masing2 akan berakhir seperti kitab samawi yg terdahulu. sehingga masa 30 tahun sebelum quran dikumpulkan semua ulama sepakat itu masa dimana allah memberi tolerir kepada manusia dlm rangka mempelajari al-quran sebab semua orang arab waktu itu tidak terlalu paham dialek dan tata bahasa qurasy. tapi setelah islam menyebar dan bahasa quraisy di pelajari dimana2 dan dalam rangka tidak terjadi salah penafsiran maka dipatenkanlah alquran.

4. Lo satu kesatuan kitab suci dgn menganggap bahwa al-quran dan kitab yg lain saling menyokong saya kita ini terlalu dibuat2 karena kenyataannya tidak demikian dlm semua kitab suci yg dianut manusia. taruh dlm kejadian alam semesta saja semua semua kitab suci memberikan pemahaman yg berbeda dan saling kontradiksi dan bagi saya yg benar hanya dari islam. dan penggunaan dgn dua dimensi tidaklah seluruhnya benar karena dgn ilmu pengetauan saja kita kadang sudah mengetahui detail sesuatu, misal ttg racun: orang bisa meneliti ttg racun sedetail2nya tanpa menggunakan perbandingan kitab suci, hasil juga toh luar biasa. Dan masalah kajian alquran dalam berbagai dimensi itu juga patut dipertanyakan dimensi mana saja yg perlu digunakan, apa memakai cara pandang orang kafir, orang bodoh, pengikut hawa nafsu, orang2 yg membenci islam dll sementara dimensi pandangan seseorang tergantung latar belakang, agama, pendidikan dan masih banyak faktor lain. bukankah yg lebih selamat menggunakan punya sendiri daripada punya musuh.

wassalam

#10. Dikirim oleh Abu_Abdillah  pada  26/03   04:03 PM

Alhamdulillah; lewat Saudara Luthfi dan orang-orang kritis seperti dia,menurut saya, sepanjang zaman Allah SWT telah mengaktualisasikan firman-Nya “wa inna lahu lahafidun”. Bagi saya, al-Quran yang ada sekarang itu pula lah juga wujud dari firman Tuhan “dan sesungguhnya Kami lah yang akan menjaganya”. Tetapi al-Qur’an yang sekarang pun -sebut saja mushaf usmani - yang terjaganya dalam bentuk yang dibaca dengan ‘qiroah yang beragam’ itu. Dari segi penulisan pun, jika kita cermati pada mushaf yang sekarang saya menemukan hal-hal yang ‘aneh’. Coba telaah penulisan “bimushaitirin” dengan huruf sha’pada surat al-Ghasyiah; kemudian cari di munjid! Telaah pula penulisan Shirot dan Ibrahim ada yang pakai alif ada yang tidak. Bayangkan ketika al-Qur’an belum pakai syakal (noktah) seperti sekarang ini (saya tidak ragu pada al-Qur’annya tapi meragukan kredibilitas usman dalam membentuk panitia penulisan al-Qur’an saat itu. Wallohu a’lam!. Oleh karenanya, sekali lagi: ditemukannya riwayat-riwayat nyeleneh di kalangan ahlussunnah maupun syi’ah tentang ayat-ayat al-Qur’an yang tidak ada pada mushaf sekarang adalah bukti bahwa Allah SWT telah menjaganya. Apa pun tulisannya, al-Qur’an yang ada dan terbaca sekarang adalah: ASLI lho! Saya yakin Asli!

#11. Dikirim oleh Edi Hendri Mulyana  pada  19/04   08:04 PM

maaf kalau sebelumnya hal ini dapat membuat saudara tidak enak. marilah kita bertaubat kepada Alllah yang maha pencipta. ingat Allah akan membalas semuanya. bertaubatlah saudara selagi masih ada kesempatan umur yang Allah berikan kepada saudara. berbuatlah yang baik dan jangan menyesatkan dan membingungkan orang lain dengan artikel anda.
——-

#12. Dikirim oleh ewl  pada  14/10   09:10 PM

Assalamu’alaikum, Kita memang bebas untuk berfikir dan apalagi menela’ah serta mengkaji setiap pemikiran orang lain, selagi kita mampu untuk menggedalikan diri baik secara obyektif or subyektif ....maka tidak ada salahnya bagi kita untuk selalu terbuka mnerima kritik dari orang lain baik itu kawan maupun lawan. Sebuah pepatah mengatakan” Satu musuh lebih baik dari seribu teman”. demikian ..jika saudara berkenan..setiap tulisan anda AINAA tunggu di E-MAil, Syukron Jazil.
Wassalam.

#13. Dikirim oleh Al-Aina Al-Mardliyah  pada  25/05   10:57 AM

1. Maaf, saya bukan persoalkan benar atau salah. Tetapi, kenapa ketakutan terlampau menghantui bila kita mencoba mendalaminya? keagungan atau kekuatan sesuatu hal akan semakin tampak jika diperhadapkan dengan kekuatan lain (metode analitik) justru bukan semakin menjauhkannya atau membungkusnya sehingga semakin tersembunya dan tidak teruji.
2. Pada pihak lain, mengapa kita terlampau garang jika bicara tentang kitab (agama) orang lain? Sedangkan kita sendiri datang dari kekurang- tahuan ? sungguh sikap pengingkaran kemanusiawian (paradigma manusiawi). Tuhan memberkati

#14. Dikirim oleh lestari  pada  22/03   08:20 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?