Editorial,
01/04/2010

Sejumlah Paradoks dalam Pidato Hasyim Muzadi

Oleh Abdul Moqsith Ghazali

Hasyim juga menolak sekularisme. Padahal, dalam waktu yang sama, dia juga menjelaskan penerimaan NU terhadap Pancasila, UUD 1945, dan negara bangsa Indonesia. Artinya, Indonesia ini bukan negara agama (Islam) melainkan negara Pancasila. Semua produk perundang-undangan di negeri ini tak diacukan pada argumen agama (Islam), melainkan pada UUD 1945. Tampaknya Hasyim tidak cukup mengerti apa yang disangkalnya, sekularisme-sekularisasi.

01/04/2010 04:45 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (20)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Ketika tokoh2 muda NU diberi tempat di NU saya mulai bersimpati dengan NU dan merasa menjadi orang NU, tapi semenjak ulil di depak dari bursa pemilihan calon ketua NU, saya merasa berseberangan dengan NU. Semoga ulil cs tetap konsisten dengan ide2 dan perjuangannya, mudah2an bisa menggantikan ketokohan Gus Dur. Tapi di kepengurusan NU masih ada tokoh yg saya suka yaitu Masdar, gak tau sekarang beliau ikut didepak gak?

#1. Dikirim oleh prasodjokusumodiputro  pada  01/04   05:50 AM

cak hasyim itu memang lebih menonjol politisinya daripada kyainya, sehingga berbagai langkahnya lebih banyak berbau politik (kepentingan pribadinya). Islam rahmatan lil alamin yang digagasnya, itu tidak keluar secara tulus dan ilmiah, tetapi lebih banyak bobot politiknya. karenanya perumusan gagasan itu saya yakin lebih banyak dirumuskan oleh “gank nya” cak hasyim sendiri daripada orang-orang PB. Nah dari sisi inilah, cak hasyim dapat dikatakan konsisten, yaitu konsisten untuk kepentingan politik dirinya. Kalau dia melarang anak-anak muda menerima bantuan dari Barat, sementara dia sendiri menerima, nah itu adalah bukti caak hasyim itu konsisten dengan politik pribadinya. termasuk soal sekulerisme wa ala alihi wa ashabihi.

#2. Dikirim oleh muhammad nuh  pada  01/04   02:44 PM

Hidup liberalisme, pluralisme, bunga di taman itu akan indah jika berwarna-warni. Lb 0813-6866-9876.

#3. Dikirim oleh liby  pada  02/04   10:33 PM

Hasyim Muzadi memang banyak jasanya, antara lain menjadikan pengurus muda NU gila jabatan, miskin perubahan. Semua itu ditutupi dengan program-proram mencusuar yang tak ada manfaatnya langsung bagi ummat NU,tugas utama pak Agil sekarang adalah mencerdaskan generasi muda NU, urusin semua jenjang pendidikannya, ekonominya dan kesehatannya, jauhi budaya politik makelar yang akan menjerumuskan ummat NU ke jurang keterpurukan.

#4. Dikirim oleh Abdurrahman Chudlori  pada  04/04   06:32 AM

Saya bukan muslim, tapi saya suka dengan NU yang menghormati budaya. Melihat pertarungan tokoh2 NU, yang tua pasti tidak mudah dan tidak mau berubah begitu saja. Apa lagi sekarang kecenderungannya adalah “seolah-olah” agama begitu penting dan berperan. Dalam kenyataannya bangsa kita hidup morat-marit. Soal ekonomi dan hukum yang tidak jelas sudah mau berpindah pada urusan agama yang bersifat pribadi.

#5. Dikirim oleh mang uu  pada  04/04   06:55 AM

Untuk konsisten dalam inkonsistensi adalah sangat mudah, untuk konsisten dengan nilai seperti memegang bara di tangan…Wahai Sahabat, belajarlah dari sejarah…jangan pernah percaya dg kharisma…, jangan!

#6. Dikirim oleh Ulil Hidayat  pada  04/04   08:54 AM

Pada kesempatan ini tulisan Mas Moqsith saya pikir tidak lagi seperti biasanya yang sarat telaah pemikiran yang segar. Masalah sekularisme-sekularisasi versi pemahaman Kyai Hasyim tak patut disalahkan wong itu interpretasi beliau. Lebih cantik jika didiskusikan lebih lanjut tentang sekularisme-sekularisasi tersebut jika Anda kurang sepakat. Sebuah organisasi yang besar seperti NU ini sarat dinamika internal, yang semua itu merupakan domain politik praktis. Ketika Mas Ulil tak terpilih sebagai Ketua Tanfidziah NU, pasti ada juga yang kecewa walaupun sedikit kuantitasnya. Tapi inilah politik praktis dalam berorganisasi (karena suara mayoritas). Dibutuhkan kedewasaan memang sebagai bagian dari pematangan dalam berorganisasi. Saya tetap saja rindu kepada aktifitas dakwah kawan-kawan di JIL secara kultural ke bawah. Tenang sajalah, masih banyak yang membutuhkan percikan-percikan ide-ide segar kawan-kawan muda JIL, selain di tataran elit NU.

#7. Dikirim oleh Satriwan Salim  pada  04/04   02:25 PM

Dalam sepemahaman saya, sila pertama adalah ketuhanan yang maha esa, yang berarti kita menjalankan sesuatu berdasarkan iman kita terhadap tuhan. Jika beragama islam, maka kita melakukan segalanya dengan dasar ajaran islam, begitu juga untuk agama lain. Jika dalam pemahamannya dalam islam itu tidak ada sekularisme, maka dia akan menolak sekularisme. Jadi menurut saya, mendasarkan organisasi pada Pancasila “sambil” menolak sekularisme bukanlah Paradoks.

Tapi memang poin-poin yang lain merupakan paradoks.

#8. Dikirim oleh Mufti  pada  06/04   09:50 AM

Saya bukan orang NU bukan pula “Liberalwan”. Saya hanya seorang pemerhati dinamika NU sebagai sebuah organisasi besar dan mengakar di republik ini.

Secara jujur dan rendah hati saya berkesimpulan bahwa khittah NU tidak akan mungkin bisa mengakomodir pemikiran2 yang tidak satu rel dengan cita2 “founding-father”. Karena mereka2 itu adalah sosok2 yang Insya Allah ikhlas & lurus dalam berIslam serta peduli terhadap dinamika masyarakat Indonesia yang nota bene memiliki pola pikir yang simpel dan tidak njelimet apalagi berzig-zag ria dalam berargumen (sangat jauh, saya kira).

Hemat Saya, bung Abdul Moqsith Ghazali perlu juga mencermati secara arif dan komprehensif, dalam artian tidak secara parsial. Bahwasannya, sekelompok yang disebut kontra dengan Pak Hasyim Muzadi itu berapa persen sih dari jumlah pengurus NU yang ada, apalagi bila diukur dengan jumlah NU-wan & NU wati se Indonesia Raya (dan dimanapun berada). Saya pikir, beda pendapat boleh saja, namun perlu juga proporsional. Apakah yang kontra itu cukup mampu mengimbangi trend yang ada atau hanya sebatas wacana kecil saja. Terimakasih, Wassalam.

#9. Dikirim oleh mang Ute  pada  06/04   01:11 PM

Tulisan ini cukup fair untuk melihat seorang tokoh NU di mana kalangan akar rumput menganggapnya sebagai sosok/tokoh yang “absen dosa”. Bukan hendak mengolok-olok atau mencari kejelekan seseorang, tapi ini sangat penting terkait dengan masa depan NU secara kelembagaan

#10. Dikirim oleh Abd. Rahman Syaukani  pada  07/04   02:57 PM

saya pribadi berpikir tidak ada pertentangan konseptual antara pancasila dengan islam.

#11. Dikirim oleh riki  pada  18/04   04:00 PM

saya kira penting pidato seorang KH.Hasyim muzadi harus dikritisi,saya sangat setuju apa yg dikatakan shbt muqsit ghozali biar publik tahu bahwa apa yg dikatakan dan dilakukannya selama memimpin NU ternyata banyak sekali paradoks yg di buatnya.saya tidak mengerti sekulerisasi yg dikembangkan beliau. di satu sisi dia suka menentang faham sekulerisasi yg di wacanakan generasi muda NU,tpi dia sendiri melakukannya.dimana2 dia mengatakan NU tidak berpolitik tpi dia sendiri melakukannya, politik ya politik atau mungkin politik Nu bagi orang lain haram mungkin baginya halal,Pragmatisme dan sipat petronasi sangat melekat pada dirinya,NU mengalami kemunduran wibawa di mata publik,fitnah terjadi di amana2,pemikiran anak muda NU dan perkembangan politik,  tidak pernah di respon olehnya.seolah-olah tak ada satupun di NU yg muncul selain dia,penghancuran selalu dihembuskan secara halus melalui kekuasaannya.namun semua itu sebagian bisa berjalan tapi sebaiagn lagi tidak.Hasiyim muzadi harus memahami sekarang ini,bahwa apa yg dia lakukan dulu ternyata menimbulkan kebencian dimana-mana,kesadaran seorang hasyim Muzadi sy kira belum terlambat, dia hrs bisa menjawab apa yg berkembanng setelah dia lengser. kita tunggu babak berikutnya…..

#12. Dikirim oleh ardani muhammad  pada  21/04   02:46 PM

dimanapun, kapanpun dan apapun yg terjadi sy hrp JIL bs ttp eksis

#13. Dikirim oleh Atr  pada  23/04   02:07 PM

PENGAMATAN SY, gara2 tawaduk dg yg tua,yg muda g dpt2 jabatan.YG TUA KADANG SAMPEK PIKUN MSH PEGANG JABATN,stlh tak sbr buat kelompok sendiri atau kabur kekelompok lain,ujung2nya fatwa,kafir,halal darahnya,atu balas dendam bg yg dkt dg kekuasaan atau pnya jabatan,ini sering sy dngar utk JIL klu mmng pnya hub dkt dg NU dlm tubuh NU beragam manusia ada yg moderat ada yg msh kolot,bahkan ada jg yg garis keras.jadilah penyatu pd para NAHDLIYYIN YG MULTI RAS DN PARTAI INI.jgn smpai ngemplang pala para kyai!!!(paranormal raden haryo damar,medan)

#14. Dikirim oleh RADEN HARYO DAMAR  pada  08/07   03:59 PM

tidak ada yg salah dgn pernyataan HM ,krn mmg sejak kembali ke khittah thn 1984 penerimaan NU thd Pancasila sdh final, jd negara RI yg merdeka sejak 1945 mengadopsi sistem yg khas, bukan negara agama jg bukan negara sekuler, tidak ada paradox disini krn yg terpenting adalah bagaimana keluhuran nilai2 agama dpt dihayati dan dijalankan oleh pemeluknya masing2, apa artinya negara agama apabila didalamnya yg terjadi adalah penghancuran nilai2 agama dalam seluruh aspek kehidupan sehari2, contohnya: sebutkan model negara agama (Islam) yg dapat dijadikan acuan?

#15. Dikirim oleh KOPET  pada  30/07   03:40 PM

Saya Tetap menginginkan Indonesia yang Sekuler, Maju di Bidang Ekonomi dan Kuat di Militer. Agama dipisahkan dari Negara, yang berlaku hanya Hukum Aktif, MUI dibubarkan….Kebanyakan Orang NU di Daerah menjadikan NU sebagai Tunggangan Politik,...Sekolah2 Negeri tetap mengikuti Peraturan Nasional, kecuali Sekolah atau Organisasi yg kelola Swasta Bebas, Mau Ke Arab Araban atau Kebarat baratan terserah, yg mau mendirikan Negara yg tidak Sesuai dgn Kepribadian Bangsa, Pergi aja ke Gurun Sahara sana….....

#16. Dikirim oleh brodin  pada  04/08   01:59 AM

menurut saya sah sah aja pendapat/pernyataan HM….kn kt jil negara ini negara demokrasi,jd y g usahlah d besar2kan….knpjil selalu mengkritisi orang2 islam yg tdk sependapat dg jil,ktnya jil penganut pluralisme…jd y slhkn urus jil mu dan kt islam yg biasa2 y urus sendiri….tidak usah sok benar jil..ktnya kebenaran hy milik tuhan…trms

#17. Dikirim oleh ade  pada  17/08   07:56 AM

Saya tidak habis pikir dengan JIL, katanya menerima perbedaan pendapat tapi tetap nyinyir dengan pendapat orang lain.

#18. Dikirim oleh Dono  pada  04/10   03:54 PM

Mana tulisan yang anda janjikan…dari mereka yang sependapat dengan Pidato HM. Kok tidak balance cover nya. Mana kejujuran ilmiahnya

#19. Dikirim oleh Dono  pada  04/10   04:01 PM

Islam & Indonesia tidak bisa dipisahkan! Unsur2 dasar Islam tertuang dalam Pancasila & UUD 1945 ,tapi tidak dalam UU/KUHP(yang justru bertentangan dengan jiwa Pancasila & UUD 1945) yang menguntungkan sejumlah kelompok/perorangan. Cintalah kepada ALLAH! kalau tidak bisa,Takutlah kepada-NYA ketika akan berbuat jahat/buruk! Hidup didunia adalah sementara, akherat adalah kekal,ketika kalian mati yang dibawa hanya amal baik & kain kafan semata

#20. Dikirim oleh satmata  pada  22/04   08:48 AM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?