Sekali Berarti Sudah itu Mati In Memoriam Ahmad Wahib
Oleh Asep Sopyan
Wahib mewariskan sekumpulan catatan harian yang kemudian dibukukan dengan judul menggugah, Pergolakan Pemikiran Islam (LP3ES, 1981). Apa yang dimaksud judul buku itu sebenarnya lebih merupakan pergolakan batinnya sendiri yang selalu gelisah; gelisah sebagai seorang muda yang nasibnya tak kunjung cerah, dan terutama gelisah sebagai seorang manusia yang rindu akan Kebenaran, ketimbang pergolakan pemikiran Islam secara umum.
Komentar
Benar sekali gagasan Wahib “Tuhan bukanlah daerah terlarang bagi pemikiran”. Bahkan, pemikiran—yang selanjutkan saya asumsikan pencarian—tentang-Nya, dianggap penting oleh-Nya. Buktinya, kisah pencarian terhadap-Nya, yang dilakukan oleh Ibrahim maupun Musa, diabadikan sendiri oleh-Nya dalam Al Quran. Ini menandakan betapa pentingnya pencarian terhadap-Nya tersebut dilakukan umat manusia lainnya. Hingga pengetahuan dan pengenalan perihal Wujud-Nya, dapat ditangkap sampai haqqul-yakin, yang selanjutnya dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebab, sebenarnya, DIA bukanlah teori-teori bohong warisan nenek moyang. DIA bukanlah retorika tanpa wujud nyata. DIA merupakan realitas mutlak yang harus diyakini hingga ainul-yakin dalam kehidupan.
Demikian pula dalam memaknai “pikirkanlah apa yang Aku ciptakan, tetapi jangan memikirkan Dzat-Ku”, seyogianya direkonstruksi ulang secara total. Memang benar Dzat Tuhan—demikian halnya makhluk gaib lainnya—tidak dapat dipikirkan oleh akal—karenanya dilarang sendiri oleh-Nya. Dzat Tuhan memang tidak akan pernah dijangkau oleh pikiran. Sebaliknya, Dzat-Nya hanyalah dapat dijangkau oleh unsur “gaib” manusia yang namanya hatinurani, roh, dan rasa.
Yang dapat dijangkau oleh akal pikiran hanyalah persepsi bahwa Tuhan itu ada—itupun masih dalam taraf retorika yang belum dapat diyakini kebenarannya.Tuhan itu Wujud. Tuhan itu dekat—bahkan lebih dekat dengan-Nya bila dibanding dengan otot lehernya si hamba itu sendiri (QS.50:16). Tuhan itu namanya Allah, dan memperkenalkan Diri dangan 99 nama lain (asmaul husna). Dan disebut-sebut oleh manusia dengan berribu-ribu nama (God, Gusti, Yahweh, Pengeran, Sang Hyang Widi, Thian, Dewa, dst-dsb)
Untuk mewujudkan kemutlakan-Nya, satu-satunya cara yang telah diturunkan-Nya, yaa melalui Utusan-Nya. Berguru kepada rasul-Nya. Sebab, sebagaimana yang dicontohkan kepada Musa, Tuhan tidak akan menampakkan diri di muka bumi. Oleh karenanya, Dia melimpahkan “wewenang” kepada kepercayaan-Nya, untuk mengajari manusia menemukan al-Haq-Nya. Tangan kanan Tuhan tersebut tidak lain adalah Rasul/khalifah/ahli dzikir/al-muthahharun/imamu mubin. Keberadaan Utusan tersebut “abadi” di tengah-tengah umat manusia. Sebab, yaa hanya melalui utusan-Nya, Tuhan menurunkan kebenaran-Nya. Oleh karenanya, ketika sang utusan satu mati, lalu disambunglah dengan utusan berikutnya. Terus menerus, rantai berantai sampai kiamat.
Tetapi sayang, cara berpikir manusia itu sempit, picik, mudah terjebak oleh lingkungan, mudah terjajah oleh hawa nafsu, maupun ta’asub oleh warisan pemikiran para pendahulunya. Buktinya, mereka yang meyakini agama A, maka akan mengatakan rasul A adalah rasul yang terakhir. Mereka yang berkeyakinan B akan mengatakan Isa adalah rasul yang terakhir. Mereka yang berkeyakinan C akan mengatakan Muhammad adalah khalifah yang terakhir pula, dan seterusnya dan sebagainya.
Terus, bagaimana mungkin menemukan kebenaran-Nya bila mengatakan khalifah Tuhan telah berakhir? Padahal firman-Nya dengan jelas mengatakan : …dan Rasul-Nya pun selalu berada di tengah-tengah kamu..” (QS.3:101 ), “wahai manusia, sesungguhnya telah datang Rasul itu kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhanmu, maka berimanlah kamu, itulah yang lebih baik bagimu…” (QS.4:170).
[“Kamu” yang dalam arti luas : nenek moyang, kita-kita, anak cucu, dan semua spesies manusia sampai kiyamat nanti. Bukan “kamu” yang menyaksikan jiwa raga Muhammad saw saja. Karena bila diartikan demikian, logikanya, Al Quran tidak “cocok” lagi untuk “kamu” yang sekarang (kita) dan “kamu-kamu” yang seterusnya (anak cucu, cicit, dst)]. Oleh karenanya, sangat tegas sekaligus pedas fatwa Imam Ali bagi umat Islam yang sampai matinya tidak mengetahui Imam zaman—sebutan lain dari rasul/khalifah—di zamannya, maka matinya dalam keadaan kafir/jahiliyah.
ahmad wahib memang boleh jadi seorang inspirator bagi siapa pun. apa yang ia telah tanam dahulu ahkirnya membuahkan hasil. yang bahkan penanamnya sendiri pun tidak dapat menikmati buah dari tanaman yang ia tanam sendiri.
ia memang seorang sosok anak muda yang anti kemapanan, ia adalah pemberontak yang tidak akan pernah puas berhenti tersudut pada sebuah tembok dari sebuah menara gading yang kokoh. ia akan menghancurkan apapun yang menurut dia menghalangi pandangannya kepada sebuah kebenaran.
namun tetap saja ia hanya manusia biasa seperti kita,jadi sudahlah!!! ia bisa karena ia hadir pada momentum yang sesuai. jadi! yang sedang-sedang saja…..
——-
Saya kagum dengan pemikiran Ahmad Wahib. kejayaan islam menurut saya adalah ketika kita berani menggunakan pemikiran kita untuk masalah masalah kekinian dengan bersumber pada islam itu sendiri. saya yakin bila di maknai secara benar maka akan melahirkan wajah islam yang demokratis, berwibawa , indah penuh kasih sayang terhadap sesama manusia. bukan islam yang mengintimidasi kebudayaan, bukan islam yang membuat rasa takut ketika ada orang ingin belajar tentang islam.
Tulisan-tulisan Wahib adalah representasi dari jiwa-jiwa jujur yang teraktualisasikan dalam sensitifitas sosial dalam bentuk pemikiran-pemikiran segar.
Tapi, kehadiranya bukanlah sekedar titik awal pembaharuan yang dimotori oleh kaum muda, lebih dari itu sebagai spirit setiap orang yang menyimak catatan-catatan harianya. Dan Wahib tidak boleh membatu, dipasung dalam pemberahalaan yang akhirnya membekukan subtansi dari jiwa-jiwa yang coba disebarkan oleh Wahib.
Sinarilah negeri ini dengan cahaya pembaharuan
Allah SWT menciptakan manusia dengan menjadikan hati manusia sebagai tempat untuk memperkenalkan keagungan-Nya, siapa saja yang merasa dirinya seorang manusia yang memiliki hati tanpa dibatasi oleh agamanya akan merindukan sesuatu yang sama, akan mengagungkan sesuatu yang sama, Dia-lah Allah yang memiliki Asma ul Husna. Bedanya adalah apakah dia jujur dengan hatinya dan memiliki kekuatan untuk merangkai kalimat tauhid yang akan menjadi kunci pembuka pintu surga atau tidak.
Saudaraku….
Marilah kita pertajam mata hati kita dengan senantiasa menjelajahinya dan berdo’a kepada Allah SWT yang dapat membolak-balik hati ini…agar hati ini melihat, mendengar dan merasakan betapa Allah SWT dekat dengan kita, bahkan lebih dekat dengan urat nadi kita.
Jangan biarkan hati ini menjadi terkunci dan mati, yang membuat mata ini melihat tetapi buta dan telinga ini mendengar tetapi tuli.
Marilah kita merangkai persahabatan indah, marilah kita jalin pertemanan sejati untuk mencari Ridho-Nya.
Hidup ini hanyalah sekedar persinggahan sementara, dan kita memiliki hati yang mengerti siapa diri kita, kita memiliki hati yang mengerti kemana kita harus melangkah….dan marilah kita sirami dia dengan cahaya Iman.
Surga adalah milik Allah SWT ...kita semua sering tidak menyadari bahwa kita hanyalah mahluk lemah dan sombong yang hanya bisa mengharap agar kita dapat bermukim disana, tapi sebenarnya Allah-lah yang memiliki hak untuk memilih kita semua. Marilah kita berdo’a dan menata diri semoga Allah ridho memilih kita…amin.
JIL atau apapun itu, kalian semua adalah saudaraku.. ada hati yang hidup saya rasakan di dalamnya, hati yang merindukan kedamaian, ketenangan, persaudaraan, dan kecintaan terhadap Islam yang Agung. Marilah kita bermunajat agar Allah SWT senantiasa menghidupkan hati ini.
Aku bukanlah JIL, aku bukanlah NU, aku bukanlah Muhammadiyah, Aku bukanlah Persis, Aku bukanlah siapa-siapa, aku hanyalah seorang manusia yang menginginkan aku mengenal Islam, mencintainya, dan kembali tetap di jalan-Nya.
Semoga Allah melebur semua kesombongan dari setiap jiwa Muslim sejati sehingga semua akan mengerti bahwa satu sama lain adalah jiwa yang bersaudara.
We love you All because of Allah.
semoga beliau tenang di sisi-Nya… Amin.
untuk ahmad wahib
tantang hidup dengan berani
tntang takdir dengan segenap tetesdarah keringatmu
kau adalah tuan dari hidupmu
jangan biarkan setan iblis kegelapan
merampas kebebasanmu
dan tika kau hancur berkeping
kau akan mati
dengan kepala tegak mendongak
dengan apa yang masih tersisa
teriakkan gelisahmu pada langit:
“aku takkan menyerah
tak akan
TAK AKAN PERNAH”
ahmad
semoga tenang di sisinya
Komentar Masuk (8)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)