Sekularisme Perancis Tengah Diuji
Oleh Andar Nubowo
Sarkozy menegaskan perlunya kaum Muslim dan kelompok agama manapun yang datang belakangan di Perancis untuk menghormati nilai-nilai dasar Republik Perancis, yaitu kesetaraan manusia, hak-hak wanita, sekularisme (laïcité), dan pemisahan antara yang profan dan spiritual. Sarkozy juga menegaskan perlunya kelompok dan komunitas yang beragam untuk berbaur (metissage) satu sama lain. Bagi Sarkozy, Perancis adalah sebuah negara dan Republik yang berbeda dengan kecenderungan komunitarianisme. Komunitas nasional yang ia inginkan adalah Republik yang berbaur (Republique métissée) yang majemuk.
Komentar
man! kalo islam yang seperti ini yang memimpin indonesia, besok2x itu bule2x yang kemari minta nasihat soal urusan perdamaian. stay tough!
begitulah negara barat dalam memandang islam, mereka mengembor2 kebebasan beragama dinegara berpenduduk islam, tapi dinegaranya islam ditekan, contoh di swiss menara masjid tidak boleh, sembelih hewan qurban tidak boleh, di perancis pake jilbab/cadar tidak boleh, dan banyak sekali yg lainnya, marilah kita sadar semuanya dan kembali kepada islam yg kaffah/secara keseluruhan. seperti ajaran yang di ajarkan oleh Rasullah Muhammad SAW.
“marilah beragama secara santun, sopan dan tidak mengganggu...dst. Apakah pakai burka menganggu? Marilah menghormati hak wanita.. dst lha kalau si wanita mau pakai burka dihargai tidak ya? berbaur..? berbaur kan tidak harus menanggalkan identitas.. sebab setiap orang pasti pakai identitas...tidak pakai burka termasuk salah satu identitas.. Jadi apakah mesti dilarang juga? terus pakai apa dhong?. he..he..he. Berlebihan menurut siapa, tidak berlebihan menurut siapa.... Kebebasan hakiki yang manusiawi? ah .. pusing.
Di Turki yang sekuler, masjid dibangun pemerintah dan imamnya ditunjuk dan diberi tunjangan juga oleh Pemerintah (supaya masjid tidak dijadikan kegiatan politik). Di Indonesia, dimana saya tinggal, ada umat kristiani mau bangun gereja saja susah, ada pertemuan umat kristiani dari rumah kerumah yang diisi dengan lagu-lagu pujian (kalau di Islam barangkali “salawatan” atau “ratiban"), tetangga muslim juga resah. Mereka yang merasa “aswaja” juga resah kalau ada jama’ah di masjid yang tampak “wahabian” atau masjid taklim dipakai kelompok “islam politik” atau “tarbiyah”. Apa lagi kalau khatib atau penceramah di masjid berlaku “partisan”, wah panas rasanya ruangan masjid. Tapi sejujurnya, saya lebih khawatir kepada “islamis dan jihadis”, dibanding dengan mereka yang non muslim. Saya merenung apa memang benar, siapapun mereka, kalau sudah menjadi mayoritas lantas jadi otoriter, bahkan diktaktor ?. Lalu apa artinya slogan JIL : “berapapun agamanya, Tuhannya hanya satu, apapun agamanya Tuhannya pasti sama, dengan nama apapun Dia disebut atau dipanggil”. Ampun Tuhan, ciptakanlah lagi manusia berjuta Gus Dur dan berjuta Gus Mus dan atas perkenanmu hamba berdo’a semoga organisasi sejenis JIL dan semacamnya bisa tumbuh subur di semua negara, hingga ke tingkat anak ranting di desa-desa.............................
sudah jelas akan kelicikan mereka ketika mereka (yahudi&nasrani;) jd minoritas mereka selalu berkata kebebasan bragama, HAM, tp ktika jd mayoritas slalu brkata hargai & ikuti budaya kita
Perancis yang sistem negaranya adalah sekuler, tidak melarang rakyatnya untuk beragama & beribadah, sesuai dengan pilihan agamanya masing-masing. Pergaulan diantara sesama warganegara diatur sedemikian rupa agar tercipta kesetaraan dalam pergaulan sosial.
Sudah sangat lama sesuai dengan perjalanan sejarah, Perancis menerapkan sistem sekuler. Sejak era Renaissance, lalu the Age of Enlightenment disusul dengan era Revolusi Industri di Inggris beratus-ratus tahun yang lalu, Perancis (dan Eropa) menjadi negara maju berkat sekularisme.
Bahkan kemudian Turki pun dipimpin oleh Mustafa Kemal Pasha, di tahun 1923 merombak total sistem kekhalifahan dinasti Utsmaniyah menjadi sistem sekuler. Dan Turki pun menjadi negara berkultur Eropa yang maju sampai sekarang. Namun, rakyat Turki hampir seluruhnya TETAP beragama Islam.
Burka dilarang dipakai mungkin hal ini untuk menciptakan kesetaraan & mencegah terkumpulnya sekelompok masyarakat yang berjiwa eksklusif. Inklusivitas, atau sifat merangkul diantara sesama warganegara, sangat diutamakan di Perancis.
Yang jelas, tidak ada larangan bagi setiap warganegara untuk beribadah sesuai dengan agamanya masing-masing. Di Perancis juga tidak pernah ada hambatan untuk membangun masjid, tidak seperti di Indonesia, banyak sekali hambatan untuk membangun tempat beribadah bagi umat Kristiani.
Di Indonesia tidak ada kesulitan membangun tempat ibadah baik gereja maupun mesjid. Ada kesepakatan antar agama tentang pembangunan tempat ibadah di Indonesia. Misalnya, tempat ibadah dibangun jika di sekitar lokasi ada sekian pemeluk agama tersebut. kalau ini terpenuhi tentu lebih mudah urusannya. Kalau tidak ada pemeluk agama tersebut di sekitar itu, gabungkan dengan lokasi yang lebih luas. Di Jawa tentu mesjid lebih banyak dari pada gereja. Di Papua, gereja lebih banyak dari mesjid. Begitu ceritanya.. Di Perancis aturannya gimana ya? seberapa mudah membangun mesjid ya? Dimohon memberi keterangan yang jujur dan berdiskusi dengan data yang valid. Sekulerisme harus dipandang sebagai pemberian kebebasan bagi manusia untuk beribadah sesuai kepercayaannya. Bagi yang percaya, memakai burka adalah ibadah, Jadi kalau konsekuen dengan sekulerisme, negara jangan mengatur (melarang) masalah ini. Jangan-jangan sekulerisme sudah jadi agama baru yang punya aturan pakaian tertentu untuk dikenakan dan untuk tidak dikenakan.Runyam.
@Indah: ya, formalitasnya memang begitu di Indonesia ini, kalo orang mau membangun gereja. Itu legalitas formal. Faktanya di lapangan, bercerita lain. Ada jurang antara legalitas dengan kenyataan, semua orang tahu itu dan memang membutuhkan kejujuran untuk mengakui hal itu.
Tentang di Perancis, saya jujur akui, hanya memakai referensi di situs wikipedia dan situs-situs lainnya. Coba cari saja. Secara prinsip, Perancis adalah negara sekuler dimana semua agama yg ada dilindungi keberadaannya (France is a country where freedom of thought and of religion are preserved).
Memang sih, di Perancis terdapat prosedur-prosedur yg harus dilalui bila umat muslim ingin mendirikan masjid. Tapi prosedur itu tidak mengambil waktu lama untuk bisa membangun masjid tsb. Di Indonesia, belasan tahun sudah menunggu, seperti contoh di wilayah saya, belum juga bisa dibangun gereja,.....
Sekularisme bukan agama. Itu adalah paham yg tidak menjadikan agama sbg sumber hukum. Kekuasaan politik/bernegara dipisahkan dari kekuasaan agama. Jadi seluruh warganegara harus tunduk kepada hukum sipil yg dibuat oleh negara untuk mengatur kehidupan rakyatnya.
Jadi sistem sekuler yg sudah berlangsung berabad-abad di Perancis, itu telah membuat negara & bangsa Perancis (juga Eropa) menjadi maju, menguasai teknologi & ilmu pengetahuan.
Melihat kenyataan itu, maka bukan tanpa alasan Mustafa Kemal Pasha di th 1923 lantas merombak sistem khalifah dinasti Utsmaniyah Turki yg sudah berlangsung ratusan tahun, menjadi sistem sekuler, sama dgn di Eropa, sampai sekarang ini. Malah Turki itu maunya disebut sbg Eropa walopun hampir 100% penduduknya adalah muslim.
Mas Is, kalau memang mau gereja didirikan di suatu daerah, coba cek apakah syarat itu semua persyaratan sudah dipenuhi. Kalau semua OK dan ijin nggak keluar juga silakan tulis di media cetak atau maya termasuk situs ini dengan data-data yang detail mengenai syarat tersebut, sehingga akan banyak yang tahu dan membantu mengurus ke Depag atau Komnas HAM. Jangan kuatir, berani karena benar.
Sekulerisme memang niatnya bukan agama, tapi ternyata diperlakukan sebagai agama karena mengatur masalah ibadah dan pakaian. Antara lain pakaian yang diijinkan adalah yang bukan bersimbol Islam, pakaian lain yang dianggap “umum” boleh. Masalahnya yang dianggap “umum” itu pakaian yang seperti apa? Yang dipakai mayoritas? mayoritas itu beragama apa? Nah, itu artinya sekulerisme melakukan pressure terhadap minoritas. Padahal kalau benar-benar sekuler, nggak usah ngatur yang gini-gini. Jadinya non block is the third block, kan?
Memang kayaknya cara-cara seperti yg ditulis dik Indah itu sepengetahuan saya, belum pernah dilakukan. Sepertinya umat Katholik tidak pernah mengadu ke pengadilan, Komnas HAM, dsb-nya.
Sekali lagi cara-cara itu semata mengandalkan positivisme hukum, manusia menjadi hamba dari pasal-pasal dan ayat-ayat kitab hukum & peraturan-2, yg kita tahu hanya mengandalkan legalitas-formal.
Terlalu sering kita baca di media-2 bahwa pendekatan legalistik-formal itu minim rasa keadilan. Padahal, manusia itu khan punya hati. Hati nurani tidak akan pernah bicara bohong, walaupun otak & mulut manusia berkata bohong.
Sekali lagi tentang pemakaian burka di Perancis. Pemerintah Perancis menilai bahwa burka yg menutupi sekujur tubuh dari kaki sampai kepala, & hanya menyisakan kedua biji mata saja yg terlihat, itu bisa memunculkan kelompok yg menutup diri & tak mau berbaur dgn masyarakat lainnya. Ini bertentangan dgn prinsip “egalite” di Perancis. Kita tahu ada prinsip “liberte, egalite, fraternite” yg sudah menjadi prinsip nasional sekulerisme Perancis.
Dik Indah bilang, non block is the third block? Saya jujur akui, tidak tahu itu. Yg saya tahu di dunia ini sekarang sudah tidak ada lagi Eastern Block and Western Block,....it’s finished already,....
All human beings and everything in the world are created by GOD with love,....therefore, according to me there should be only “Humanism Block” in this whole GOD created WORLD,.....
Selama ini kita agak meremehkan kaum kristiani, tapi mesti diakui bahwa konsep juruselamat yang dianut oleh mereka, menyederhanakan banyak hal. Sedangkan muslim terlalu bermain ‘dipermukaaan’ dan cenderung gontok2-an. Mereka (krisriani) bisa fokus kedepan untuk menyongsong hal-hal yang lebih penting dan essential karena kebutuhan batin akan ‘keselamatan’ dan hal2 lain yang mencemaskan sudah terlewati.
Maaf kalau pendapat ini agak berlebihan.
Sekulerisme adalah ‘the next step’ dalam kehidupan bermasyarakat yg agamis.
Mbak Indah, ayo ikut saya dan mengalami sendiri bagaimana SULITNYA meminta ijin pembangunan sebuah gereja. Wajar sih Anda menganggap remeh hal ini, karena anda outsider, jika Anda melihat dari dalam, saya percaya 1000% Anda akan menarik tulisan Anda. Terima Kasih.
@isa zulkarnaen: Anda orientalist tulen!!
@Anton Isdaryanto dan den bagus.
Mas Is (Anton) dan Mas Denbagus yang baik.
Pertama saya ingin menyampaikan :tidak pernah meremehkan kristiani. Jadi kata den bagus “kita sering ...” kita siapa? aku nggak ikut lho.
Maksud saya, saya hanya tidak ingin mengedepankan prejudice (syak wasangka). Sudah banyak kesengsaraan bangsa ini karena dipermainkan oleh mereka yang senang menyebarkan prejudice. Baiklah supaya lebih fair saya akan katakan bahwa model sekuler yang baik itu adalah Amerika serikat(Mohon jangan diplintir kalau saya pro Amrik lho). Keragaman lebih dihargai di sana. Kalau suatu negara hendak mengembangkan sekulerisme, dia sendiri jangan memaksakan homogenitas. Maka Non block is the third block artinya “katanya anti diskriminasi tapi dia sendiri mendiskriminasi orang lain”. Humanisme Block juga rawan karena masing-masing orang akan merasa lebih humanis dari yang lain.Hati nurani? hati nurani mereka yang berburka atau yang tidak berburka? hati nurani muslim atau Kristen, Budha, atau siapa?. Di Amerika, secara resmi hukum mengatakan tidak dibolehkannya perusahaan memecat pegawai karena alasan ras, agama, gender, dsb. Meskipun tentu banyak pelanggaran yang masih terjadi, minimal secara resmi alasan dibuat yang lebih universal (diterima semua pihak).Mungkin alasan kinerja, financial, keselamatan kerja, dsb yang masih bisa diklarifikasikan. Nah yang di Perancis itu sekulerisme aneh. Maunya semua sama, yaitu mengikuti mayoritas, padahal cuma untuk duduk di taman. Ini berlebihan. Saya sendiri bukan termasuk aliran yang memerintahkan perempuan memakai penutup wajah, tapi saya sangat menghormati mereka, sepanjang mereka tidak memaksa saya. Baiklah kalau toh ada kecurigaan membangun gereja sulit (meski belum dikemukakan juga data yang meyakinkan), ternyata ada pengakuan pengikut katolik dan kristen yang taat yang mengaku lebih nyaman secara ideologis tinggal di Indonesia ketimbang di negara Barat. Teman saya seorang kristen yang taat dari Australia mngatakan dia akan membesarkan anaknya di Indonesia sampai lulus SMA, karena mereka lebih mudah beribadah dan mendidik perilaku anaknya secara Kristen di Indonesia (Dia mengatakan kristen yang taat merasa banyak aturan di Indonesia yang lebih kristiani dari pada di barat). Saya bersyukur pernah mengenalnya dan hidup berdampingan dengan damai.
Mas Anton, kalau semua survey harus dicek ke lapangan oleh semua orang, tidak ada laporan apapun yang bisa dipercaya termasuk buku-buku pelajaran.Tapi konvensi masyarakat mengatakan sebuah laporan/buku akan lebih meyakinkan kalau ada alasan yang logis dan data pendukung yang reliable. Hanya ini yang ingin saya komunikasikan melalui situs ini. Kalau tidak ada ya tidak apa-apa. Mohon kalau bisa jangan hanya prejudice yang ditonjolkan, karena ini mengarah ke menuduh tanpa dasar dan tidak mencerdaskan.
@dik Indah : Pertama, saya perlu jelaskan saya adalah yg anda sebut dgn “Mas Is” dan bukan yg anda panggil “Mas Anton”. Although in my social life they mostly call me “Anton”, but it’s OK, a calling of “Mas Is” sounds nice too,...he-he-he.
Saya hormati pendapat anda. Tapi saya punya pendapat yg berbeda dgn anda tentang HUMANISME, HATI NURANI dan SEKULERISME PERANCIS. Biarlah kita berbeda pendapat seperti itu.
Namun saya tidak akan menguraikan dimana perbedaan pandangan kita tentang ketiga subyek tsb diatas. Sebab, perbedaan pendapat atas ketiga hal diatas diantara kita itu, kelihatannya bersifat keyakinan yg tak perlu lagi diperdebatkan lebih panjang lagi, karena sifatnya yg prinsipiil sudah menjadi keyakinan masing-masing.
LET’S STAY, HOWEVER, WITH OUR DIFFERENCES.
@Indah : rupanya anda tidak baca surat khabar ya, banyak gereja ditutup ataupun dicabut ijin imb spt didepok, begini sj mbak, coba mbak tanya ke KWI dan PGI, gereja2 mana yang ditutup dan dibatalkan imbnya, sy kasihan dng mbak indah seolah2 di Indonesia, everything is fine, padahal tdklah begitu. Sy setuju dng pendpat pak anton, sekulerisme itu ideologi, bukan agama, pola pikir mbak indah mencampur adukan sekuler =agama, kecuali agama mbak indah ideologi.
Mas Is.
You are a great man. Deal!!
@ Gusti Raden Mangunwijaya
Yth Pak Gusti
Maaf tulisan saya mungkin agak membingungkan, maklum saya tidak pandai merangkai kalimat. Pihak yang saya maksudkan menganggap sekulerisme = agama itu orang-orang Perancis yang melarang pemakaian identitas agama. Bukan saya. Mereka terjebak dalam diskriminasi terhadap kepercayaan dan atau agama tertentu karena akhirnya yang dikatakan muncul “tanpa identitas itu” adalah representasi kelompok mayoritas. Saya lebih menganggap sekulerisme di Amerika itu lebih dewasa karena menghormati perbedaan dan tidak menghendaki homogenisasi dengan pemaksaan.Meskipun dalam aplikasinya masih ada kelemahan dan penyalahgunaan (selama manusia terlibat, subjektivitas pasti ada). Tapi dengan mengesampingkan prejudice (syak wasangka), minimal hukum menghargai perbedaan ras, gender dan agama).
Untuk yang lain, silakan baca lagi perbincangan saya dengan Pak Anton.
Salam hormat
Maaf jika saya lancang berbicara, sebenarnya indonesia sendiri mempunyai kebijakan lokal yang memiliki filosofi agung, sebagai contoh adalah “dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung” dan “lain lubuk lain belalang”. Tentu saudara-saudara baik dari yang muslim dan non muslim mengerti sekali arti dari 2 peribahasa diatas. Yang menjadi masalah di perancis kebanyakan mungkin adalah gagalnya para imigran dalam berasimilasi dengan kebudayaan lokal tersebut dan mungkin juga mereka berupaya untuk melenyapkan kedamaian di tanah air mereka yang baru dengan menolak asimilasi tersebut. Wajar jika sikap ekslusif itu mendapat sorotan, hingga kadang muncul pernyataan sinis “Jika anda tidak suka aturan kami kenapa anda masih datang kesini, kenapa anda tidak pulang kenegara asal anda yang mengijinkan membangun minaret dan berteriak-teriak 5 kali sehari”...saya cuman berpikir sesederhana itu. Membayangkan tempat anda adalah tempat yang nyaman dan damai kemudian tiba-tiba ada orang berbondong-bondong datang tidak bersosialisasi kemudian membangun menara dan menaruh pengeras suara diatasnya dan setiap 5 kali dalam sehari-hari berteriak-teriak. Apakah kita bisa menerima itu?. Semua itu butuh pendekatan dan harus punya unggah-ungguh, masalah terbesar para imigran tersebut sebenarnya keengganan mereka untuk melakukan pendekatan seperti itu. Dan maaf itu menurut saya setelah membaca beberapa artikel tentang keadaan imigran2 di eropa.
Kalo saya lihat dan perhatikan sepertinya negara2 sekuler seperti perancis,inggris dan negara barat lainnya sudah cukup toleran dalam memberikan kebebasan warganya beragama dan beribadah, harus bisa dimengerti bahwa yg mereka ingatkan adalah simbol2 agama ini tidak boleh menjadi suatu alat untuk pemisahan diri dari masyarakat, justru yg lebih penting adalah nilai2 kebaikan dari masing2 agama dipakai untuk membesarkan suatu negara, mengenai penutupan gereja dll, justru sy mendpatkan bahwa di indonesia tidak seburuk yg dikatakan, umat kristen cukup mendapatkan haknya, yg penting adalah implementasi dari nilai2 kebaikan. jangan menjadi umat beragama yang cengeng.
menurut saya awal sekulerisme malah menyebabkan konflik yang berdarah-darah liat saja jacobin dan voltaire memenggal kepala orang yang dianggap taat beribadah pdhal mayoritas kristen disini jelas bahwa sekulerisme ingin menghapuskan semua agama inilah prinsip freemansonry
Komentar Masuk (23)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)