Dewi Lestari Simangunsong: Semua Bermula dari Cinta…
Oleh Redaksi
Dewi Lestari Simangunsong, atau akrab dipanggil Dee, penyanyi yang juga penulis novel best seller Supernova, menuturkan tentang pengalaman spiritualnya. Ia menceritakan perenungan-perenungannya yang ekstrem tentang Tuhan dan gereja.
Komentar
Yeah… awesome, intinya ada yg sudah bisa menggapai suatu spektrum dengan bahasa murni (bathinnya bathin) yg selanjutnya menjadi konstrain dalam memandang hubungan komunikasi horizontal-vertical bahwasanya meski terdapat bermacam-macam “bahasa” essensi hakikinya adalah suatu panggilan untuk kembali kepada kemanunggalan…~...
Sebuah renungan Dee yang sangat mendasar!! Dan dia sudah sampai pada “temuan”: segala sesuatu yang dia kerjakan adalah ibadah!! Apakah dia sedang mendapat hidayah dari ALLAH?? Hanya ALLAH yang MAHA TAHU…...
Tidak banyak hal “baru” yang bisa dipetik dari wawancara ini. Secara mendasar kita yang beragama Islam mungkin sudah sangat memahami konsep hidup sebagai ibadah. Bukan berarti saya apologi, namun ada sisi menarik yang kemudian ingin saya urai mengenai keengganan Rekan Dee untuk pergi ke Gereja. Keengganan ini mungkin timbul akibat institusionalisasi agama yang melanda hampir semua agama. Akibatnya kita lebih merasa betah untuk menikmati pengalaman “bertuhan” tanpa perangkat-perangkat resmi. Misalnya kita bisa lebih merasa dekat dengan Tuhan saat menyaksikan matahari yang sedang tenggelam, atau melihat gunung yang begitu indah, dibandingkan dengan salat di masjid atau mendengar ceramah agama.
Hal inilah yang harus diperhatikan dalam upaya membangun proses beragama yang sehat. Para ahli-ahli agama harus mampu untuk membuat agama bisa diterima dengan berbagai macam cara. Tidak mesti dengan formalitas yang kemudian terjebak pada ritualitas belaka tanpa ada pemaknaan yang dalam. Janganlah kemudian institusi-institusi formal agama menjadi “sarang” ekslusivitas dan ritual belaka. Karena toh, institusi formal tak pernah menjanjikan sebuah hasil pasti. Universitas saja belum pasti dijamin akan melahirkan manusia-manusia pintar….. Jadi seperti kata Mas Kuntowijoyo,”... kenapa tidak bisa menjadi MUSLIM TANPA MASJID….”
Wallahu’alam
Bismillahirohamanirohim
Assalaimualaikum wr wb
Dan salam mesra untuk adik Dewi Lestari dan pengunjung JIL.
Selama tiga hari ya saya memikirkan apakah yang ingin disampaikan oleh Dewi dalam pengalamannya tentang ibadah.
Apakah ia sedang mencari cari tentang ketuhanan atau apakah jiwanya sedang memberontak ingin kelainan dari rutin kerohanian dalam agama yang dianutinya. Hanya adik Dewi seorang sahaja yang dapat menjawabnya.
Dalam hal ini moral yang boleh kita pelajari dari pengalaman adik Dewi ialah Ibadah itu adalah cinta. Bersesuaian dengan firman ALLAH Swt ” Tidak Aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk beribadah pada ku”
Manusia melakukan sesuatu dengan rela hati tentu ia cinta terhadapnya. Tapi kalau ia lakukan dengan terpaksa, tentu itu bukan cinta namanya. Itu satu paksaan yang bertentangan dengan norma hidupnya.
Oleh itu setiap manusia tentu faham kenapa ia dilahirkan di dunia yang fana ini dan tentu tahu tugas yang harus dibuat.
Kepada adik Dewi saya ucapkan teruslah dengan pencarian ibadah mu semoga satu hari kelak kamu diberi hidayah tentang ketuhanan.
Hingga ketemu lagi, sekian terima kasih.
Wassalam Sa’at bin Mohamed Singapore.
Mengapa hati Dewi Lestari tiba-tiba berteriak “Eureka!” ketika menyaksikan berkas sinar matahari sore menguningi seluruh ruang dalam gerejanya?
Temuan itu bukan mendadak. Ia adalah hasil timbunan renungan-renungannya, kegelisahan-kegelisahannya, kebingungan-kebingungannya—dan agaknya juga harapan-harapan terdalam batinnya.
Itu sebabnya yang ia temukan bukanlah, misalnya, tipe karburator mesin mobil yang lebih baik daripada segala karburator yang selama ini diproduksi orang. Atau resep bakmi goreng yang lebih enak dibanding produk Bakmi Gajah Mada. Ia menemukan cara baru yang lebih kuat dalam berurusan dengan Tuhannya, karena memang perkara inilah yang menjadi pusat renungannya dan mungkin memakan porsi terbesar di luar urusan sehari-harinya.
Jawaban serupa akan kita dapatkan untuk pertanyaan: Mengapa Einstein “tiba-tiba” menemukan rumus yang kemudian mashur sebagai teori relativitas itu? Bertahun-tahun ia memikirkan soal ini, lengkap dengan ribuan eksperimen (terutama eksperimen matematis)—hingga di suatu pagi yang cerah, ia memekik: “Eureka!”, sebagaimana pekikan Newton yang, konon, kepalanya kejatuhan buah apel itu. Teori relativitas dan juga teori gratvitasi itu mustahil ditemukan oleh pemain biola ataupun seorang host acara talk show radio.
Sebagaimana tak ada free lunch, tak ada free eureka.
Dewi Lestari terpana menyaksikan indahnya kuning mentari yang melumuri seantero interior gereja di Bandung. Itu peristiwa yang cukup langka—dan menyangkut sebuah benda angkasa yang magnitude serta aspek-aspeknya yang lain amat menakjubkan. Sejak itu ia mungkin tak pernah lagi menyaksikan keindahan serupa.
Sesungguhnya Dewi bisa setiap saat terpana, kalau dia mau, dan tanpa perlu menunggu sebuah sore baru yang dihiasi keindahan kuning mentari. Ia bisa melihat berjuta keindahan di sekelilingnya, juga dalam dirinya sendiri. Hal-hal yang luar biasa, kata Novelis Paulo Coelho, selalu bersumber dari hal-hal biasa.
Dan oleh-oleh terbaik dari sebuah perjalanan wisata, ujar seorang desainer interior, bukanlah membawa pulang benda-benda bagus yang kita saksikan di perjalanan, melainkan: melihat benda-benda biasa yang sudah kita miliki dengan mata baru—dengan sudut-pandang baru, dengan pemaknaan baru; yang barangkali perlu dibantu dengan cara baru dalam meletakkan benda-benda itu.
Sesudah menikmati wawancara Dewi dengan Ulil, saya berharap ia makin tekun memperbarui matanya—dengan itu ia bisa melihat keindahan berkas cahaya matahari, bahkan memperluas dimensi-dimensinya, seraya bahagia karena setiap pagi menyaksikan betapa indahnya butir embun yang menggantung di ujung daun di halaman rumahnya….
Di tengah kolam besar yang keruh ini, selalulah temukan keindahan, Dewi.
Banyak orang berucap dengan ringannya akan kata “cinta”, seolah kata itu tak bermakna, kosong dan tidak memiliki implikasi kehidupan sama sekali. Ngerinya lagi, itu seolah-olah menjadi panduan manusia dalam bergaul sehari-hari, dan diucapkan oleh masyarakt dari segala strarta. Jadi bagaiman nih, Mbak Dewi, kok bisa mengambil semua itu dari cinta? Eh, Mbak, tapi aku salut lho dengan apa yang Mbak Dewi buat. Tapi awik mau minta tips nih: gimana kok bisa nulis novel dengan hebat gitu? Ajarin dong!
Mas Ulil, boleh nggak saya dapat acc e-mail nya Dee. Pengen banyak nanya nee?
Redaksi:
Silakan kunjungi website Dee di http://www.truedee.net/
Horass…........Mbak Ito Dewi,
Sesudah membaca kongko-kongko Mbak-Ito Dewi dengan Bung Ulil, dan untuk melengkapi bacaan sekalian memperluas nuansa pengembaraan khayal as “profit imaginer” saya anjurkan baca sekali lagi karya-karya Khopingho (ada di Gunung Agung-di bagian komik section) dan saya yakin Mbak Dewi akan dan tidak punya waktu lagi untuk mencari temuan baru.
Perlu diketahui bahwa bacaan-bacaan sejenis Khopingho tsb sangat digandrungi remaja & setengah tua(mid-age) dikawasan Asia Selatan termasuk Hong Kong dan Jepang.
Wassalam,
M. Nasir
Saya setuju dan memahami apa yang diungkapkan Dee. Sungguh menawan, seorang wanita seperti Anda mampu berpikir filosofis. Padahal, konon, perempuan itu paling sulit untuk berbicara hal-hal yang mendalam.
Apa yang diceritakan tentang pengalaman Dee dalam mencari kebenaran, saya yakin dialami pula oleh setiap manusia yang sadar. Kegelisahan akan eksistensi diri akan selalu mendorong manusia untuk mencari what and where is the Truth. Dengan kadar kemampuannya masing-masing akan mengalami pengalaman religiusnya. Semua manusia yang sadar, akan mengalami perjalanan menjadi ‘ibrahim-ibrahim kecil’, yang terseok menggapai-gapai Sang Kebenaran.
Maka, ketika perjalanan itu berlangsung, manusia harus menentukan pilihan. Kita tidak bisa memilih kebenaran yang hanya berada dalam konsep awang-uwung. Berfilsafat melulu, bagi saya juga membahayakan.
Yang benar: Berfilsafatlah dan pilihlah sebuah agama, lantas patuhi syariatnya. Ini adalah sikap paling realistis, karena kita hidup berpijak di atas bumi, bukan di langit.
Maka, kalau boleh aku menyerumu, Dee. Pelajari Islam lebih mendalam. Datangi Islam dengan sikap hanif, sehanif sikap Ibrahim. Saya yakin Anda akan menemukan ajaran Kristen itu bagus, dogma Hindu itu mengagumkan, doktrin Buddha itu menyelamatkan. Tapi ketika Anda sampai pada puncaknya dalam mempejari Islam, Anda akan berkomentar: Islam is all !
Novelnya menarik Dee. Hanya saja, terlalu berputar-putar kesana-kemari untuk menemukan satu hal saja. Dan, temanya tak begitu fantastis.
Tadinya saya juga pernah mengalami kebingungan seperti itu, tapi setelah saya membaca buku tentang sejarah agama, akhirnya saya yakin kenapa saya memeluk Islam
Saya sudah membaca buku yg dimaksud Dee. Ada tiga seri dan buku pertamanya kalau gak salah sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Buku pertama saya beli dan baca habis, buku kedua dan ketiga saya baca sekilas di QB. Indeed, buku ini menawarkan suatu ide yang segar dalam upaya untuk memahami Tuhan. Neale mengajak kita untuk berani “mengalami” sendiri realita Tuhan. Belajar untuk “listen” bukan “hear” Tuhan (maaf menggunakan istilah asing tp saya memang tidak bisa menemukan padanannya dalam bahasa Indonesia). Daripada mendengarkan ide orang lain mengenai apa itu Tuhan, Neale mengingatkan kita pentingnya mendengarkan kata hati ttg hakekat Yang Maha Kuasa. Semua ini cukup menggugah kesadaran saya.
Tetapi ada satu hal yg mengganjal. Kenapa tidak sekalipun dalam ketiga bukunya (koreksi saya bila salah), Neale menyinggung agama Islam. Agama2 lain biarpun tidak dibahas secara eksklusif disinggung. Ini cukup aneh karena Islam mempunyai pemeluk no 2 terbanyak di dunia. Adakah alasan tertentu kenapa Islam tidak disinggung? Apakah karena dia “takut” terhadapnya? Ingat S.Rushie… tapi apakah seorang penyampai kebenaran pantas untuk “takut”? Ataukah karena memang dia tidak bisa mengkritik Islam? Ada yang mempunyai tanggapan?....
Buat saya pribadi, pengalaman Dee mencarai momen-momen tertentu yang berkaitan dengan mencari esensi agama sungguh menakjubkan. Dan hanya sedikit orang yang mampu untuk menuangkan kembali pengalamannya ke dalam sebuah karya tulis, apalagi sebuah novel seperti “Supernova”.
Maka, apapun upaya Dee haruslah dilihat sebagai upaya pencerahan dan penyegaran kembali terhadap batasan sebuah teks agama, sehingga bisa di narasikan begitu rupa hingga membenturkan kesadaran kognitif kita untuk menggapai esensi kebenaran.
Mbak Dee yang saya hormati,
Pengalaman Anda menarik sekali, menuangkan fenomena penemuan jati diri yang intens yang bersifat transendental, dimana setiap individu akan mengalami “pengalaman keagamaan” ini secara subjektif, beragam dan unik pula.
Renungkan kedalaman dan esensi agama kita sendiri, dan kita akan menemukan bahwa substansi setiap agama tiada beda, demikian yang dikatakan Siti Jenar dan para bijak di setiap zaman. Seperti halnya anda yang terlahir dalam tradisi Kristiani, anda dapat menggali nilai-nilai substansi dan universal dalam agama anda sendiri. Untuk mempelajari dan mendalami ajaran-ajaran dari tradisi agama lain, anda tidak perlu untuk beralih atau berpindah agama formal. Contohnya, untuk mendalami Islam, anda tidak perlu menanggalkan agama formal anda lalu beralih ke agama formal Islam. Cukup mendalaminya, dan menghayati ajaran-ajaran tsb dalam praksis sosial (bukan ritual). Dengan demikian, menurut saya, anda sedang dalam proses menjadi muslim.
Kata akhir setiap ajaran agama adalah Islam (bukan agama formal Islam), yang berarti ketundukan dan kepasrahan total (total-surrender) kepada Dia Yang Maha Benar. Pengakuan setiap kita sebagai muslim sangat tidak berarti, hanya karena agama formal kita adalah Islam dan tercantum dalam KTP. Yang menilai muslim tidaknya kita hanyalah Dia Yang Tak Terjelaskan Itu. Demikian pula pengakuan kita tentang kekristenan kita, kehinduan atau kebuddhaan kita tidak berarti apa-apa. Yang menilai hanyalah Dia Yang Tak Terjangkau Itu.
Mbak Dee, gali terus agama anda, dan anggaplah agama-agama formal yang ada sekedar jalan peretas menuju The Absolute Reality. Segala agama absah dan benar adanya. Tidak ada satu agama yang lebih unggul dari yang lain. Setiap agama apapun pada akhirnya akan mengantarkan pada Dia yang sama pula. Mother Theresa, Fransiskus dari Asisi, & Anthony de Mello dari tradisi Kristen, Mahatma Gandhi dari tradisi Hindu, Dalai Lama dari tradisi Buddha, Mansur al-Hallaj dan Siti Jenar dari tradisi Islam merupakan contoh orang-orang yang telah sampai pada tujuan agamanya dan telah mencicipi manisnya bercinta dengan Dia Yang Maha Indah Itu, tanpa pernah mempersoalkan “agama formal” apa untuk bisa sampai ke Sana.
Salam, Arief Rahman
mBak Dee, keseluruhan pengalamanmu aku sutuju, tetapi dalam lingkungan kita ini terlalu banyak yang berperilaku dengan dasar “katanya-kata”. Kita akan menemukan kriteria manusia dengan yang sejati dengan berbekal 2 tanda, yaitu selalu berfikir dan berperikemanusiaan.
Dari ceritamu, kalau boleh aku menyimpulkan bahwa kamu telah menemukan pengemudimu.
Selamat berfikir terus.
Saya sama sekali gak ngerti tentang sains, dan sama sekali gak minat. Tapi saya suka sekali Supernova. Pokoknya suka deh. Jangan tanya kenapa? Soalnya saya juga gak tau kenapa. Pokoknya sukaaaaa…. banget!
Hidup Supernova. Teh Dewi, kapan lagi dibikin lanjutan Supernova-nya?
setelah saya baca dari awal sampai akhir (meskipun banyak yang tidak saya mengerti), saya menarik suatu kesimpulan bahwa Dewi Lestari (Dee) adalah seorang atheis. Opsss maaf jika saya terlalu berani menulis demikian… semua itu berdasarkan dari dialog dee dengan ulil….dalam salah satu dialog, dee menuliskan bahwa beliau telah memperlajari semua agama dan pada dasarnya semua agama itu adalah sama!
YANG SAYA TANYAKAN Berapa lama dee mempelajari semua agama???
Terimakasih saya sampaikan buat dee, mudah2 semua kritikan dan komentar akan membantu dee. Wassalamualaikum wr wb Grazie, dunk je well, thank you, arigato, xie xie, hatur nuhun.
mbak dewi,, salut banget,, buat karya2 dan pemikiran..
pandangan tentang agama,, menurut saya, mbak sudah menemukan apa itu agama sebenernya.. dan telah telah menmukan salah satu agama sbg jalan..
salute..
btw, kpn the 4th supernova..? i’ll always be waiting for..
Lepas dari segala pro dan kontra, dee memang memiliki sebuah pemikiran yang mengesankan dengan perbendaharaan kata-kata yang ‘dalem’. Aku salut dengan dia karena di Indonesia ini dia merupakan salah seorang penulis yang ‘cerdas’ dan ‘berisi’. Untuk mengerti apa yang ingin dia ungkapkan, mestinya dibutuhkan pembaca yang juga cerdas yang melengkapi diri dengan wawasan dan hati.
Dan kalau menurutku, masalah pandangan ttg agama, itu sih kebebasan masing2 individu untuk menginterpretasikannya. Toh dia juga ga mensyiarkan ajaran apapun lewat karya karyanya. Karyanya bs dihargai dengan berbagai kacamata : suatu prosa, puisi, ide filsafat, ilmu, dsb. Kalo ada yang melihatnya sebagai suatu penyiaran sebuah ajaran/agama, menurutku sih sah sah saja. Tapi aku yakin, hakikat dari karya karyanya bukanlah itu sama sekali.
Maju terus dee.. Dunia butuh setitik warna seperti engkau, supaya lengkaplah isi dunia ini.
——-
Kalau saya berpendapat bahwa Apapun agama yg dianut mereka mesti sadar akan tujuan nya dlm beragama bukan berarti saya membenarkan semua agama karena kita merupakan makhluk yg bebas.
Dengan pengalaman yg DEE miliki… sy rasa Dee sudah mengenali Jati dirinya.. dan apa tujuan yg akan diraihnya sesuai dgn keadaan dirinya (maaf kalo salah saya cuma menduga)
Banyak hal yg dapat terjadi di dunia ini.. baik buruknya kita yg menentukan, benar adanya kalau kita menciptakan neraka dan surga dlm hidup ini. dengan mengenali diri kita, semoga hidup ini jauh lebih bermakna,... Tak ada yg abadi, semuanya hanyalah ilusi, tak ada yg sempurna jadikanlah apa adanya diri kita..
hal yg Dee ungkapkan sangat bermanfaat bagi saya… Trims..
Banyak misteri dalam hidup ini, apapun itu semoga kita menyadari arah dan tujuan hidup kita.. semoga selalu berada di jalan yg benar dan bermanfaat bagi sesama.. Amin
Sukses selalu.
Komentar Masuk (23)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)