Abdul Hadi WM: Seni Tak Bisa Dihalal-Haramkan
Oleh Redaksi
Seni tidak dibicarakan dalam wilayah fikih. Yang membicarakan seni dalam Islam adalah tasawuf, atau wilayah estetika dan metafisika Islam. Karena itu, yang berbicara dan mempraktekkan seni adalah kaum sufi atau yang memiliki hubungan dengan tarekat-tarekat sufi yang telah dilaksanakan secara turun-temurun dalam waktu yang lama.
Komentar
Dengan nama Allah yang Maha Pemurah & Maha Penyayang Assalamu’alaikum wr. wb.
Saya coba menawarkan, apakah musik islami itu?
Kita harus memandang Islam sebagai sebuah nilai-nilai (substansi). Jadi saya kurang setuju jika musik Islami itu harus berbau Arab atau memasukkan kata-kata Allah, Rasulullah dan ajaran-ajaran syari’at. Bagi saya lagu Iwan Fals, terutama yang berisi kritik-kritik sosial dan politis juga islami karena dia berusaha menyadarkan manusia akan esensi suatu nilai yang sebenarnya juga berada dalam lingkaran religius.
Lagu-lagu klasik seperti karya JS bach, Beethoven, Mozart, H. Villa Lobos dll walaupun instrumental juga termasuk musik islami karena banyak orang meraih pengalaman praksis dari mendengarkan musik tersebut tergugah kesadarannya akan realitas kebesaran ilahi dengan merasakan lautan harmoni, emosi, melodi, timbre, bentuk, ekspresi dsb. Bahkan banyak disertasi menunjukkan musik-musik semacam itu dapat meningkatkan IQ, EQ bahkan SQ. (sebagai contoh).
Saya memprihatinkan adanya suatu klaim pengharaman musik atas nama agama. Apakah adzan itu tidak tersusun atas melodi-melodi? Bukankah membaca al-Qur’an itu sebaiknya dengan suara yang merdu? Contoh yang saya kemukakan adalah sebagai gambaran bahwa musik islami (sebagai nilai) tidak sesempit yang selama ini masih dipersepsikan banyak orang.
Saya memandang haram atau tidaknya musik bukan berdasarkan jenis musik maupun formalitas syairnya tetapi tergantung apakah musik itu membawa manfaat bagi orang yang mendengarkan (halal) atau malah mengantarkannya untuk bermaksiat (haram). Selain itu tergantung juga bagaimana si musisi membawakannya. siapa yang membolehkan orang menyanyi tanpa etika. Misalnya; telanjang bulat, menggunakan kata-kata kotor atau memamerkan fisiknya untuk mengundang syahwat.
Tentunya orang yang sadar kemanusiaanya juga harus kenal betul yang namanya etika. Jadi memang ada musik yang sengaja di bias menjadi pornografi. untuk hal ini siapa yang setuju?
Segala sesuatunya tergantung dari niat. Siapa yang tahu niat seseorang selain Allah Swt.
wassalam.
islami adalah kata sifat, musik islamipun dikatakan musik yang berakar dari nilai religiusitas islam. baik berasal dari mana saja sumber musik itu sendiri tergantung pada seseorang penggubah musik. saya setuju apabila tidak ada pengharaman dari musik karena jika memang musik adalah sebuah ekspresi kemudian sampai dikategorikan haram maka itu akan membatasi kreatifitas seniman dalam berkesenian. hanya yang jadi permasalahannya adalah dampak musik itu sendiri dan bagaimana kita menyikapi, memilih, memilah demi kemaslahatan pribadi dan masyarakat sehingga musik tidak menjadi sebuah image pemicu kriminalitas.
——-
Ini berkaitan erat dengan budaya kita yang semakin pudar karena merebaknya kebudayaan Arab=budaya Islam dan kebudayaan Eropa ke sendi-sendi budaya Indonesia. Bahkan menjadi parasit.
Sebagai orang Indonesia yang kagum atas budaya Indonesia, saya sangat berharap Indonesia memiliki jati diri dengan budaya yang luhur. Saya tak ingin orang berkata, “Indonesia terkenal dengan TKI, teroris, dan korupsi-nya.” Ada yang lebih mulia dari sekadar itu semua, BUDAYA INDONESIA.
Saya memandang, semakin lama budaya Timur Tengah semakin melebat penyebarannya di sekitar kita dan menggusur budaya murni Indonesia. Ada pemberhalaan di sebagian umatnya, Arabia adalah Islam. Maka seni beraroma Timur Tengah: seni rupa, musik, dan dianggap seperti doa dan dogma.
Indonesia menawarkan banyak seni, kita dapat memilihnya, kita dapat memilihnya, memodifikasiunya, menyebarkannya, menduniakannya secara bergantian, dan apabila seluruh bangsa Indonesia memahaminya termasuk yang berkuasa atas kebijakan, budaya kita akan menjadi tameng. Tameng kebanggaan yang dapat menahan budaya apa pun dari luar. Bagaimana caranya? Perlu pemimpin yang paham menghargai seni dan budaya Indonesia dan menerapkan bahwa seni bukan sekadar etalase, namun seni adalah ruang kehidupan, identitas, dan harga diri sebuah negeri.
Islam dan kebudayaan Timur Tengah memang lekat, namun ada batas-batas yang juga harus dipisahkan. Bagi saya, seni lahir untuk estetika. Estetika tanpa batas meski kadang menyampingkan etika. Jika kita menonggakan budaya kita sebagai identitas alangkah dahsyat bangganya menjadi bangsa Indonesia, pengharaman sepihak merupakan kebiri yang membuat budaya kita kehilangan jati diri
Saya sangat tidak setuju, apa yang bisa dipertanggungjawabkan dari sebuah pengharaman, apakah menjamin kehidupan yang tentram?
Seni dan budaya bagi saya adalah adalah ruang nilai, setiap kepala bebas berinterpretasi dan menerima sebagai apa pun. Ini berhubungan dengan bangsa kita yang besar dan beragam, bangsa yang besar dan memiliki martabat dan modal untuk bermartabat. Sementara Islam merupakan Agama yang terbuka, fleksibel, dan tidak memaksakan kehendak.
“BERAGAMA TIDAK HARUS MENJIPLAK BUDAYA ASAL AGAMA ITU DAN TIDAK PERLU MENGORBAKAN BUDAYA LOKAL”
Terima kasih.
Ini berkaitan erat dengan budaya kita yang semakin pudar karena merebaknya kebudayaan Arab=budaya Islam dan kebudayaan Eropa ke sendi-sendi budaya Indonesia. Bahkan menjadi parasit.
Sebagai orang Indonesia yang kagum atas budaya Indonesia, saya sangat berharap Indonesia memiliki jati diri dengan budaya yang luhur. Saya tak ingin orang berkata, “Indonesia terkenal dengan TKI, teroris, dan korupsi-nya.” Ada yang lebih mulia dari sekadar itu semua, BUDAYA INDONESIA.
Saya memandang, semakin lama budaya Timur Tengah semakin melebat penyebarannya di sekitar kita dan menggusur budaya murni Indonesia. Ada pemberhalaan di sebagian umatnya, Arabia adalah Islam. Maka seni beraroma Timur Tengah: seni rupa, musik, dan dianggap seperti doa dan dogma.
Indonesia menawarkan banyak seni, kita dapat memilihnya, kita dapat memilihnya, memodifikasiunya, menyebarkannya, menduniakannya secara bergantian, dan apabila seluruh bangsa Indonesia memahaminya termasuk yang berkuasa atas kebijakan, budaya kita akan menjadi tameng. Tameng kebanggaan yang dapat menahan budaya apa pun dari luar. Bagaimana caranya? Perlu pemimpin yang paham menghargai seni dan budaya Indonesia dan menerapkan bahwa seni bukan sekadar etalase, namun seni adalah ruang kehidupan, identitas, dan harga diri sebuah negeri.
Islam dan kebudayaan Timur Tengah memang lekat, namun ada batas-batas yang juga harus dipisahkan. Bagi saya, seni lahir untuk estetika. Estetika tanpa batas meski kadang menyampingkan etika. Jika kita menonggakan budaya kita sebagai identitas alangkah dahsyat bangga menjadi bangsa Indonesia.
Pengharaman sepihak merupakan kebiri yang membuat budaya kita kehilangan jati diri
Saya sangat tidak setuju, apa yang bisa dipertanggungjawabkan dari sebuah pengharaman, apakah menjamin kehidupan yang tentram?
Seni dan budaya bagi saya adalah adalah ruang nilai, setiap kepala bebas berinterpretasi dan menerima sebagai apa pun. Ini berhubungan dengan bangsa kita yang besar dan beragam, bangsa yang besar dan memiliki martabat dan modal untuk bermartabat. Sementara Islam merupakan Agama yang terbuka, fleksibel, dan tidak memaksakan kehendak.
“BERAGAMA TIDAK HARUS MENJIPLAK BUDAYA ASAL AGAMA ITU DAN TIDAK PERLU MENGORBAKAN BUDAYA LOKAL”
Terima kasih.
Komentar Masuk (4)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)