Editorial,
24/05/2003

Shirat al-Mustaqim, Neraka, dan Pogrom

Oleh Ulil Abshar-Abdalla

Gambaran populer tentang dunia metafisik semacam itu hanya bisa lahir dari kehidupan yang mengenal “misteri” dan “pesona”, dari masyarakat yang masih hidup dalam kosmos yang “mysterium, tremendum, fascinan”. Dunia itu sudah hilang. Kita hidup dalam dunia yang hampir seluruh segi-seginya sudah dapat kita kenali, bisa kita perkirakan. Misteri sudah berubah menjadi sekadar hiburan —atau bahkan olok-olok— dalam acara “Kismis” yang —anehnya, konon—ratingnya tinggi.

24/05/2003 23:13 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (9)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Bagaimana tanggapan anda atas keberhasilan Gereja meng-usung konsep Restorative Justice dalam merespon dinamika konflik2 antar agama, ras atau apa saja yg bisa dijadikan alasan konflik, - yang tengah berlangsung di Indonesia. Berbagai artikel ttg ini telah lama, tanpa keikutsertaan kalangan Islam, menyemarakkan diskusi konflik seperti ini di Indonesia.  Bagaimana konsep penyelesaian sengketa diluar pengadilan (ADR) yang khas dari sudut pandang Islam Liberal?

#1. Dikirim oleh Anto Walinono  pada  26/05   09:06 PM

Tulisan Anda kayaknya sangat masuk akal jika kita hanya meng"cover” tulisan anda hanya pakai logika tanpa “iman” dan “taqwa”, saya tidak perlu menjelaskan tentang iman dan taqwa tersebut, sebab penapsiran anda pasti lain, cuma saya mau tanya sebenarnya Anda percaya nggak dengan Alquran dan Hadist Nabi, kalau nggak sebaiknya anda jangan membawa-bawa nama Islam dalam gerakan Anda.

#2. Dikirim oleh Kenderwis, SKM  pada  28/05   12:06 PM

Akherat adalah akherat dan tetap akan menjadi akherat walalupun kita belum tahu apa bentuknya. Shirat al-mustaqiem bukanlah jembatan tapi jalan menuju pencerahan hati, pencerahan jiwa dan pencerahan tujuan. Tidak perlu jauh-jauh mengulas tentang itu semua sudah ada dibenak anda masing-masing tinggal bagaimana menterjemahkannya dalam kontek ritual dan sosial. setujukah Anda….............

#3. Dikirim oleh agus yulianto  pada  24/06   07:07 AM

Assalamuallaikum,

Dari dahulu saya sudah bertanya tanya mengapa persepsi Neraka seperti itu? Neraka yang penuh dengan rasa ketakutan, kebengisan, penyiksaan, dll. Yang seram-seram. Suatu gambaran yang bisa merubah “wajah” Allah dari gambaran yang Rahman dan Rahiim menjadi “wajah” kejam dan bengis.

Dan terima kasih kepada Mas Ulil yang sedikit banyak telah membuka tabir keterangan tentang persepsi neraka tersebut.

Berdasarkan pengamatan kami dalam AlQuran ada 232 ayat yang berhubungan dengan terjemahan neraka. Saya anggap terlalu banyak karena ada keterangan neraka yang tidak ada embel “nar” dan untuk lebih focusnya saya hapus saja ayat-ayat yang tidak mengandung kata “nar” tersebut. Jadinya ada kira kira 200 ayat yang mengandung kata “nar”. Dan dari sekian puluh ayat tersebut yang kira kira bisa menggambarkan “neraka“ hanya ada 20 ayat.

Dibawah ini adalah ayat ayat yang dimaksud:

Penggambaran Neraka yang paling seram (mungkin)

“api yang sangat panas (neraka), Tasla naran hamiyatan“ AL GHAASYIYAH (88:4).

Selanjutnya dalam

“……neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras……..”  . AT TAHRIM (66:6)

“…dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang.”  MUHAMMAD (47:12)

“…(minuman mereka) air yang sangat panas dan air yang sangat dingin. “ SHAAD (38:57)

“ …muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka,….”  118. AL AHZAB (33:66)

“…dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat.” 99. AL MU’MINUN (23:104)

…..”Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. “ 94. AL HAJJ (22:19)

…...”Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” 79. AL KAHFI (18:29)

“Pakaian mereka adalah dari pelangkin (ter) dan muka mereka ditutup oleh api neraka. “ IBRAHIM (14:50)

“….,di dalamnya mereka mengeluarkan nafas dan menariknya dengan (merintih), “ HUD (11:106)

“…..,seakan-akan muka mereka ditutupi dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gulita.”  YUNUS (10:27)

“……dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang yang kafir.”  AL BAQARAH (2:24)

“neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kemudian Aku paksa ia menjalani siksa kembali”.. AL BAQARAH (2:126)

“….neraka itu seburuk-buruk pemberian yang diberikan. “ HUD (11:98)

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mereka, sedikitpun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka. Dan mereka itu adalah bahan bakar api neraka,”. . ALI IMRAN (3:10)

”……Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim”. ALI IMRAN (3:151)

“pada hari dipanaskan emas perak itu di dalam neraka Jahannam, lalu dibakarnya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka:“Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri,maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan”. . AT TAUBAH (9:35)

“….mereka berkata:“Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini”. Katakanlah:“Api neraka Jahannam itu lebih sangat panas(nya)”, AT TAUBAH (9:81)

“…setiap kali mereka hendak keluar daripadanya, mereka dikembalikan (lagi) ke dalamnya…”  AS SAJADAH (32:20)

“(Yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka). “ AL A’LAA (87:12)

(Saya ambil dari salah buku terjemahan AlQur’an versi Departemen Agama)

Memang sepertinya cukup menyeramkan juga. Tapi itu kan suatu terjemahan yang belum tentu mewakili makna yang sebenarnya.Tentu saja tidak mudah untuk menafsirkan ayat ayat tersebut diatas .Yang jelas gambaran neraka seperti yang digambarkan AlQur’an tidak sehebat seperti apa yang telah diceritakan oleh para Ustad ustad kita diwaktu kecil sehabis mengaji. Gambaran gambaran yang seram seram, yang kejam dan bengis yang menimbulkan ketakutan pada anak kecil. Dan persepsi itu tetap terbawa sampai saat besar kini.

Ternyata persepsi neraka ini tidak hanya pada lingkungan Islam tetapi juga adapada agama agama lain seperti pada film film horor China. Juga pada Agama Kristen ada “Gerbang Penyiksaan” sebelum masuk ke Sorga atau Neraka.

Mungkin cerita atau gambaran Neraka sudah lama ada sebelum kedatangan Islam lewat AlQur’an atau para mufassir begitu bersemangatnya menafsirkan AlQur’an sehingga menghasilkan karya seram yang habis2an.

Saya berpendapat bahwa Neraka adalah suatu yang harus diwaspadai bukan sesuatu yang harus ditakuti sehingga kita berserah diri dan kehilangan akal untuk memperbaiki ketimpangan ketimpangan , ketidak adilan yang terjadi dihadapan kita. Jadi kita tidak perlu terpaku membayangkan Neraka yang akan terjadi nanti setelah Hari Kiamat , malahan kita harus selalu sadar untuk selalu menjaga keutuhan ,keseimbangan yang berupa alam dan “budaya yang baik”. Atau kita harus selalu mengganggap bahwa segala ketimpangan dan ketidak adilan itu adalah suatu “neraka kecil” yang harus diperbaiki segera.

Dengan kata lain kita harus berbudaya yang baik menurut ajaran Allah dengan penuh kesadaran dan konsisten bukan dengan rasa takut karena ancaman Neraka!!!

Wallahu alam bi sawab

#4. Dikirim oleh Abu Cholid  pada  17/09   11:09 PM

Apakah seperti itu? Artinya muslim yang iman dan takwanya sangat tinggi pasti masuk surga, sementara yang kurang takwanya, disiksa dulu di neraka selama sekian kurun waktu (tentu menurut perhitungan waktu di akherat), tapi pada akhirnya masuk surga juga? Sedangkan yang kafir otomatis masuk neraka. Apakah “amalan” (barangkali paling tepat adalah perbuatan baik mereka sama sekali tidak dilirik Tuhan, sehingga mereka abadi di neraka dengan siksaannya yang sangat kejam? Mas Ulil, atau siapa saja, dapatkan sedikit menjelaskan mengenai hal ini? Tolong ya, Mas, Mbak, Kang, Jeng, atau siapa saja dech….

#5. Dikirim oleh nangkathok  pada  11/10   06:10 AM

Biarkanlah mereka yang hidup dengan fantasi surga dan neraka, orang-orang seperti itu adalah manusia yang pikirannya masih terjajah oleh kondisi yang tidak bisa dielakkan, namun mereka yang telah dicerahkan dan telah mendapatkan kebebasan akan melepaskan itu semua karena telah mencapai kebenaran yang hakiki

#6. Dikirim oleh mr baba  pada  30/11   12:13 PM

Wah, pak Ulil.  Sepertinya anda terlalu banyak menyaksikan KISMIS sehingga menyamakan kengerian di neraka merupakan bentuk cerita horor yang tidak layak dikonsumsi.

Menurut saya, sebagai muslim yang benar harus mengimani hal-hal yang gaib, keimanan terhadap adanya neraka sah-sah saja jika tanamkan dalam bentuk kengerian apabila SELAMANYA kita tinggal di sana, saya juga tidak tahu dari mana anda menganggap ini semacam HOROR yang berlebihan…

Sebagai muslim yang benar, saya mengimani dan TAKUT apabila kelak saya terpaksa masuk neraka selamanya dikarenakan saya terlalu menyepelekannya semasa didunia..

Apa anda tidak merasa takut…....

#7. Dikirim oleh Ahmad  pada  27/12   03:12 AM

Salam

Neraka memang menyeramkan, tapi itu bukan cerminan dari zalimnya Allah. Allah itu Adil dan tidak zalim. Setiap amal buruk manusia (dan jin) adalah bahan pembangun neraka. Sedangkan amal saleh manusia adalah bahan pembentuk surga. Jika manusia nggak berdosa semuanya, maka hanya surga yang ada dan neraka nggak jadi dibangun, soalnya nggak ada materialnya. Inilah keadilan Allah.

Anyway, orang beribadah itu ada tingkatannya: syariah, tariqah dan haqiqah. Pada tingkatan syariah, orang beribadah mengharapkan surga dan menghindari neraka. Tapi pada tingkatan tariqah, orang sudah memahami arti ibadah secara lebih dalam lagi, sehingga tidak punya niatan lagi untuk mengharapkan surga. Jika masih seperti itu, maka dianggap masih egois/self-centered, yang notabene adalah awal dari syirik.

Pada tingkat yg tertinggi (haqiqah), maka ini ibarat orang yang sudah berhasil bertemu dengan Tuhannya, seperti halnya Rasul SAW yang sudah bermikraj mencapai sidratul muntaha.

Jadi, singkatnya, ibadahnya orang syariah adalah kepengin surga dan takut neraka (kesadaran bahwa zalim dibalas neraka dan amal saleh dibalas surga).

Ibadahnya orang tariqat adalah karena Allah memang satu-satunya yang patut diibadahi (kesadaran dan niat untuk berjalan menuju Allah)

Ibadahnya orang haqiqat adalah karena Allah satu-satunya yang dicintainya (kecintaan yang sangat, karena telah sampai/bertemu Allah).

Setiap orang is supposed to mengalami peningkatan terus dalam ibadahnya dari level syariah sampai level haqiqah. Nah, memahami bahwa neraka yang seram dan “kejam” itu, justru terjadi karena keadilan Allah adalah salah satu upaya peningkatan level ini, insya Allah.

Wallahu a’lam

#8. Dikirim oleh Abdullah bin Umar  pada  14/01   01:02 PM

Assalamualaikum wr wb

Puja dan puji hanya untuk Allah semata, serta shalawat dan salam mudah-2 dilimpahkan kepada Muhammad Rasullullah SAW.

Kalau menurut saya, bahwa kita tidak perlu takut dengan surga atau neraka, karena keduanya hanyalah sebuah ciptaan, seharusnyalah Kita hanya takut dan bersandar pada Dzat yang Maha Kekal. Seumpama kita dimasukkan keneraka sekalipun, seandainya Allah Ridlho neraka itu dingin maka akan tetap dingin. Meskipun berpakain api dari neraka sekalipun. Maka dari itu takut hanyalah milik mereka yang Iman nya tipis. Dan rasa was-was itu godaan setan. Bahkan tidak hanya menghadapi sesuatu yang sebesar masalah neraka, sirhotol mustaqim, surga, padang mahsar, bahkan menghadapi masalah yang sepela saja kadang hati kita tidak tentram. apalagi peristiwa sebesar itu. Dan ketentraman itulah sebagian kecil dari surga, sedang tidak tentram itu adalah sebagian kecil suatu siksa neraka, mengapa kita menunggu rasa neraka dan surga menunggu sampai ajal tiba, bahkan hidup saat ini pun kita sudah merasakan semacam itu. Begitu juga saat maut akan menjemput, seandainya mas ulil didatangi malaikat penjabut nyawa, belum tentu saat ruh keluar dari raga mas, ruh tersebut tetep akan disertai kalimat Laa ilaha illallah, bisa saja mas ulil pada saat malaikat mencabut ruh mas ulil kaget, takut sehingga Iman dan Islam yang telah anda anut, hilang, tidak ingat , karena ketakutan yang amat sangat. sehingga mati dalam keadaan su’ul khotimah. maka dari itu tak sepatutnya kita takut neraka surga, dan sebagainya. tetapi kita harus mengImaninya. Hanya bersandar padaNyalah kita seharusnya. kenapa mesti takut pada ciptaannya ?. Hanya Padamu Ya Allah aku berserah diri, yang benar datangnya dariMu dan yang salah adalah hambamu .

wassalam. prianto
——-

#9. Dikirim oleh suprijanto  pada  25/03   04:03 AM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?