Sinterklas dan Natal
Oleh Trisno S. Sutanto
“Seluruh kompleksitas cerita Injil tentang kelahiran Yesus itu hilang ketika masa Natal direduksi menjadi sekadar figur Sinterklas, undangan belanja, dan masa libur panjang di akhir tahun. Mungkin ini ‘nasib’ yang harus diterima ketika suatu perayaan keagamaan kehilangan élan vital-nya, entah terserap menjadi sekadar pernak-pernik budaya konsumerisme global, atau menjadi sekadar seremoni yang membosankan dan membuat orang mengantuk. Di situ pesan-pesan keagamaan mengalami proses insignifikansi maupun irrelevansi—tak lagi mampu memberi horison guna memaknai kehidupan, sekaligus tak lagi gayut dengan pergulatan sehari-hari.”
Komentar
sama halnya dengan agama yg lain…perayaan kelahiran nabi2 mereka harus di sambut dengan gembira…....saya ajukan pertanyaan terhadap anda, apakah saat lebaran tiba anda ingin meiliki baju baru?, dan mensuguhi teman2 anda yg ingin bersilaaturahmi dengan rumah yg berantakan dan tanpa pernak-pernik lebaran?
pelajari dulu artikel anda baru anda posting…sekian dan terima kasi
Artikel yang bagus untuk mengingatkan kembali makna Natal yang sesungguhnya.
Santa clauss,pohon terang,cross kado yg tampak kelihatan itu memang hanya pernak pernik natal yg menyemarakan dan membedakan hari natal dan hari lainnya.Dunia industri mencoba menggeser arti Natal sebenarnya..tidak ada gambar salib,atau wajah Yesus atau Firman yg ditampilkan di mall,karena memang itu tidak laku dijual.Juga akan kelihatan hedonistik jika menggunakan simbol2 kristen dalam meraup untung.Natal sebenarnya,bukan mengenang bayi Yesusnya,tapi melihat kedalam,apa Yesus sudah lahir dihati,sebagai Tuhan(Lord) dan Juruslamat. Itulah kenapa dulu peristiwa lokal di middle east sana,tetap mengglobal dan gaungnya masih terdengar selama lebih dari 2000 tahun!Kita juga harus bertanya,kenapa cuma ada 3 orang didunia,yang lahirnya butuh Firman Allah langsung dan butuh kesucian didalam kelahirannya..Adam,Hawa dan Yesus. Ini bukan kebetulan!Sisanya adalah milyaran manusia yg lahir dari persetubuhan laki2 dan perempuan..tanya kenapa?
inilah indikasi yg amat jelas betapa nilai-nilai kapitalisme terus menggerogoti penghayatan keagamaan makin banyak orang….nilai-nilai spiritual makin tergeser oleh nilai-nilai profan…semestinya hal tersebut bukan melulu tanggung jawab kaum agamawan (yg mungkin saja sdh terjerat dgn nilai-nilai konsumeristis) tetapi juga menjadi tanggung jawab siapa saja yg disebut tokoh/elit dalam masyarakat kita….
Setuju. Mungkin karena jaman yang sxeperti ini perayaan keagamaan (apa pun) lebih meriah dalam segi2 komersialnya. Soal kedalaman makna diserahkan kepada masing2 oenganutnya saja. Tapi bagaimanapun juga masih lebih baik hura-hura dibandingkan dengan huru-hara. Maksudnya, jangan karena berbeda agama lantas melakukan tindakan yang anarkis.
menurut anda sendiri Natal harus diperingati bagaimana???
lebaran bukanlah tradisi untuk merayakan kelahiran nabi muhammad , tapi lebaran adalah suatu hari dimana kita meraih kemenangan untuk suatu ujian ; kemudian didalam islam sendiri ada yang namanya maulid nabi atau peringatan dimana kelahiran nabi muhammad dan dalam perayaan nabi muhammad tidak ada konteks untuk pernak -pernik atau bersenang - senang dalam artian yang disebutkan dalam tulisan tersebut , dalamj tradisi islam sendiri untuk memperingati kelahiran muhammad biasanya ada tradisi untuk pembacaan ratib , adalah merupakan kisah perjalanan hidup muhammad
Mmmm.. Cukup menarik artikel ini, dari sudut pandang ini memang benar.. Tapi yg disampaikan ini hanya terjadi di mal-mal yg memang memanfaatkan moment natal untuk big sale. Atau paling tdk keadaan tsb hanya terjadi di kota-kota besar seperti jakarta.
Figur sinterklas sebenarnya untuk mewakili rasa gembira dan sukacita akan kelahiran Yesus, dan sy rasa namanya acara ulang tahun dimanapun itu butuh figur atau simbol2 yg bisa menceriakan suasana misal ada kue tart, badut, topi2 lucu dan lainnya, tapi harapan2 dan rasa syukur pertambahan umur tetap ada. Hal yg sama juga tdk jauh berbeda dgn Natal. Selama ini, ibadah mlm Natal yg pernah sy ikuti belum pernah ada hotbah yg membahas tentang sinterklas atau pernak pernik Natal lainnya. Inti dari setiap hotbah selalu berpusat pd makna kelahiranNya. Membosankan? Sy pikir tdk.. Ibadah malam Natal merupakan hal yg ditunggu-tunggu dan setiap tahun pasti ada perasaan yg spesial yg membuat kita selalu rindu merayakannya.
Kalau kita melihat perayaan Natal di daerah atau didesa (timur indo) akan terasa skali bgm sukacita,kekeluargaan, kebahagiaan, harapan, kedamaian, saling berbagi itu ada. Bahkan sejak bulan desember sudah diramaikan dgn kegiatan2 sosial untuk umum.
Di kota besar seperti jkt mungkin Natal hanya tgl 25 saja, tapi di daerah/desa suasana Natal bisa sampai pertengahan Januari.
Kesimpulan saya adalah mmg benar figur sinterklas telah menjadi alat marketing akhir tahun yg cukup sukses setidaknya dikota besar seperti jkt. Tapi figur tsb belum bisa dikatakan menghilangkan makna Natal yg sebenarnya..
Tapi dari artikel ini juga mengingatkan kita agar jgn sampai hal ini benar2 terjadi. Rayakan Natal dgn sukacita, tetapi tetap memaknai makna sebenarnya.
h
Perayaan natal telah direduksi menjadi perayaan boom sale oleh produck2 hedonistik.bahkan Paus mengecam adanya konsumerisasi perayaan natal. mestinya natal adalah perayaan syukhur atas kesempurnaan Allah dalam mewujudkan kasihNya thd umat manusia di mana Ia secara radikal mewujud dalam manusia dalam upaya menawarkan dan membimbing agar manusia dalam keselamatan, Yang sebelumnya bimbingan dan tuntunan tersebut Ia sampaikan melalui perantaraan para Nabi.
Komentar Masuk (9)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)