Editorial,
04/08/2003

Slavery Award

Oleh Anick H.T.

Dan digelarlah perhelatan mewah itu di Hotel Aryaduta Jakarta minggu lalu. Ratusan undangan, pasangan suami-istri, tepatnya pasangan satu suami-dua, tiga, atau empat istri, memadati ruang ber-AC itu. Acara bertajuk Poligami Award yang dipandegani Puspo itu berjalan sukses, berhasil membagikan 71 award untuk para poligamer Indonesia. Hampir tak ada aral melintang, kecuali teriakan protes puluhan aktivis perempuan di luar gedung. Meminjam bahasa Habibie, itu hanya kerikil kecil.

04/08/2003 09:03 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (117)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 6 halaman 1 2 3 >  Last ›

Apapun argumentasi dari kalangan anti-poligami, sukar untuk diterima orang-orang golongannya Puspo, pro-poligami.

Pasti mereka akan mengeluarkan alasan-alasan klasik, seperti jumlah wanita saat ini lebih banyak dibandingkan laki-laki, Nabi sendiri melakukan poligami, dll.

Saya yakin sekali, wanita-wanita yang hadir di pesta Poligami Award itu adalah wanita-wanita has no choice. Tidak punya lapangan kerja sehingga hanya menggantungkan hidup dengan suami.

Nah, bagi kita yang anti-poligami, mari kita carikan lapangan pekerjaan dan ciptakan stabilitas pendidikan, ekonomi bagi wanita-wanita Indonesia, sehingga mereka tidak mudah di tindas kalangan hidung belang yang sukanya kawin banyak. Ciptakan wanita Indonesia yang kritis, sehingga tidak mudah tergiur oleh materi.

Kita tidak perlu adu argumentasi dengan kalangan pro-poligami, mari kita bangun wanita Indonesia.

#1. Dikirim oleh Sapri Sale  pada  04/08   12:09 PM

Artikel yang sangat nikmat dibaca! Saya akur, tetapi ada masalah sedikit. Perbudakan itu ada di dalam al-Qur’an, disebut sebagai sesuatu yang biasa saja. Membebaskan budak itu mulia di satu sisi tetapi menjadikan mereka sebagai sasaran birahi itu hak, di sisi lain.

Nah, bagi kawan-kawan penganjur hukum Islam, saya ingin bertanya: Apakah nanti kalau dunia ini sadar dan melaksanakan syariat Islam sebagai Undang-Undang negara dunia dan akhirat, perbudakan perlu dihidupkan kembali untuk memenuhi kata-kata di dalam al-Qur’an?  Seandainya saya perlu menjual diri sebagai budak, ke mana saya bisa mendaftar dan bolehkah saya memiliki uang itu? Atau uang itu menjadi milik pemilik saya? Terima kasih.

Bram.

#2. Dikirim oleh Bramantyo Prijosusilo  pada  04/08   01:08 PM

Gila Boo!... ini betul-betul sebuah keterlaluan mentalitas yang picik. Saya nggak habis pikir, dalam rangka apakah hajatan ‘necis-spritualis’ ini digelar? Kenapa musti mengambil ajang Poligami Award sebagai penampakan identitas keshalehan pribadi itu?

‘Disclaimer!’ Rangkaian penghargaan ‘glamour’ terhadap sesuatu yang dianggap sangat “Islami” justru akan menyisakan banyak bias. Kebetulan, saya termasuk salah seorang yang tak menyukai sikap keberagamaan yang congkak. Sebab, ia hanya akan memonopoli kelahiran penafsiran yang a-historis terhadap teks suci agama [Islam].

Saya, dalam hal ini, cukup sepakat dengan konsep paradigma JIL menyangkut doktrin poligami dalam Islam.

“Perbudakan itu ada di dalam al-Qur’an, disebut sebagai sesuatu yang biasa saja. Membebaskan budak itu mulia di satu sisi tetapi menjadikan mereka sebagai sasaran birahi itu hak, di sisi lain.” Alangkah baiknya, jika saya kondisikan saja teks ini sesuai dengan setting ruang & waktu kala itu. kontekstualisasi, berarti pengupayaan sebuah penafsiran yang ‘independent.’ Hal-hal yang membelenggu di masa lalu ada kalanya harus kita tanggalkan saat ini. Maka, Anda janganlah terjebak pada jenis kekakuan baru yang serba rigid. “Yassir wal-La tu`asshir…!”

Wah… kok malah dipandang perlu yah? Saya lebih menyarankan, nanti kalau seandainya konteks ruang & waktu kita malah kembali memasung kreativitas kebebasan anak manusia lagi, [entah kapan? yang jelas, saya berharap pengulangan sejarah itu tidak terjadi pada masa kita…] mendingan kita tetap berjuang, mempertahankan azas persamaan/persaudaraan/ukhuwah insaniyyah sebagai nilai terluhur dalam Islam.

Sekali lagi, “Yassir wal-La tu`asshir…!” relaks, tenang, niscaya bakalan asyik abis.

salam,

Aby Mikasyah

#3. Dikirim oleh Aby Mikasyah  pada  04/08   08:09 PM

Assalamualaikum wr.wb,

Sungguh sedih saya melihat perilaku umat Islam di dunia ini, terutama di Indonesia. Mengapa orang Islam, yang agamanya sangat baik dan benar tapi kok orang-orangnya kelakuannya, kalau tidak boleh dikatakan jelek ya “kurang baiklah.” Orang Islam itu ya nggak di Arab, nggak di Brunei, atau di Indonesia sendiri ini kalau sudah sukses pasti lari-larinya ya kalau nggak pamer harta gila-gilaan ya kawin lagi.

Kok nggak ada begitu ya yang berpikir seperti Alfred Nobel, Fullbright, dll yang menyumbangkan hartanya untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan untuk seluruh umat di dunia tanpa memilih suku, agama maupun ras. Coba lihat di Arab, raja-rajanya istrinya banyak dan hidupnya mewah berlimpah uang. Demikian juga di Brunei…rajanya kawin melulu sama koleksi mobil mewah yang seabrek demikian pula di Indonesia, tokoh-tokoh dari partai Islam banyak yang kawin lagi setelah jadi wapres, menteri, atau mendapat kedudukan yang mendatangkan uang.

Orang-orangnya mungkin anda semua juga udah pada tahu khan. Padahal kalau lagi pas ngomong itu ya baik lho, apalagi kalo sudah mengutip ayat-ayat al-Qur’an juga pas, tapi kok kelakuannya pada nggak sama dengan yang diomongin ya.

Jadi bagaimana ya, saya suka sedih, Islam merupakan suatu ajaran yang sangat baik akan tetapi tokoh-tokoh Islam yang dikenal luas kelakuannya seperti itu… Yah bagaimana umat Islam mau maju kalau panutannya model kayak begitu ya :(

Wassalamualaikum wr.wb

Saya yang bersedih.

Muhammad Islam

#4. Dikirim oleh Muhammad Islam  pada  04/08   10:08 PM

Saya juga ikutan sedih kalau ada umat Islam yang menganggap kawin lagi adalah sesuatu yang memalukan, padahal ketentuan ini sudah ada dan diatur oleh agama. Secara jelas hal ini diperbolehkan oleh agama islam dengan beberapa ketentuan yang diatur secara indah, cara ini lebih baik daripada melegalkan kemaksiatan.

Saya juga merasa sedih, karena umat islam saat ini lebih ‘melegalkan’ kompleks pelacuran, tontonan yang saat ini cenderung mengarah ke arah kemakisatan ( goyang penyanyi dangdut yang sudah kelewatan dll), malah ada beberapa wanita yang lebih permisif pada kegiatan selingkuh, ketimbang memperbolehkan suaminya nikah lagi.

Saya juga merasa sedih, karena umat agama lain seakan mendapat suntikan napas baru dalam menghujat islam, karena kita yang mengaku umat islam juga ikut-ikutan menghujat poligami, padahal poligami itu adalah sesuatu yang halal dan sah untuk dilakukan.

Kita sebagai orang yang biasa-biasa saja (baca:awam) juga akan berpikir ribuan kali untuk melakukan poligami, karena kalau tidak kaya banget, enggak mungkin deh melakukan poligami, apalagi menurut saya syarat-syaratnya cukup jelas dan rambu-rambunya cukup ketat, jadi apanya yang salah kalau orang mau poligami ? toh poligami tidak akan mengganggu kita, malah wanita ditempatkan pada posisi yang tertinggi/terhormat daripada cuma jadi istri simpanan atau selingkuhan saja.

Jadi apanya yang salah ya ???

Wassalam,

Saya yang memahami poligami sebagai sebuah sunnah Nabi Saw (tapi bukan berarti saya harus berpoligami toh)

#5. Dikirim oleh Rully Zaini  pada  05/08   06:08 AM

Ketinggalan zaman. Orang dari dulu kami sudah menyediakan kerjaan kok, Anda barusan ‘kebakaran’ jenggot.

Aku khawatir juga, jangan-jangan lapangan kerjaannya ‘ehm-ehm’. Itu sih ‘ngerjain’ namanya. Kalau begini dijamin Indonesia bobrok.

Kagak inget cita-cita Kartini yaa!

#6. Dikirim oleh Adin  pada  06/08   03:08 AM

Memang sangat menyedihkan, sampai hari ini masih saja ada orang muslim menolak hukum agamanya sendiri.

Membandingkan poligami dalam Islami dan dalam tradisi kerajaan Jawa kuno, tentu amat jauh berbeda. Pertama dari segi landasan; kedua dari segi jumlah wanita yang boleh dipoligami; ketiga dari segi tujuan dan motivasi; dan keempat faktor keadilan yang harus dijalankan.

Masalahnya adalah kelompok aliran Islam liberal tidak pernah memberi toleransi sedikitpun kepada orang-orang yang berupaya menjalankan syariat Islam. Aliran ini meminta agar yang menolak poligami dihormati, dijunjung tinggi, sementara mereka sendiri terus-menerus menjelekkan propoligami. Tidak konsisten dong kalau begitu. Kenapa memaksakan kehendak. Sungguh memalukan mereka yang mengaku modern dan moderat ramai-ramai demo dalam acara Poligami award ini.

Saya kira, kita tidak tahu apakah istri tua merasa bahagia ataukah justru bangga ketika turut membantu suaminya menegakkan syariat Allah ini. Ini praduga semu… tanpa bukti.

#7. Dikirim oleh Wahyudin  pada  06/08   03:08 AM

Jangan khawatir, Bram. Saudara Sapri Sale kayaknya lagi butuh tuh…

Ane juga ingin bertanya: “Apakah para Pekerja Seks Komersial (PSK) itu tidak jadi budak nafsu om-om hidung belang?? atau nafsu uang??

Katakanlah mereka sebagai PSK karena alasan ekonomi. Eiittt… tunggu dulu. Kenapa mereka yang sudah kaya karena bayarannya gede juga masih berprofesi sebagai PSK. Jadi…??!! Mestinya sudah turun gelanggang dong.

Ya, itulah budak nafsu, baik bagi dirinya maupun orang lain. Makanya, nikah resmi saja, sulit amat sih.

#8. Dikirim oleh Wahyudin  pada  06/08   04:08 AM

Bagaimana kalau kalian berempat kolaborasi saja.  Ada yang menyediakan lapangan/tempat kerjanya,  Ada yang menerima pendaftaran, dan ada yang nampung serta menerima mereka.

Kayaknya belum baca akhir ayat 85 surat al-Baqarah sih. Yang diinginkan dari ‘yassiru walaa tu’assiruu’ itu apaan sih? Kemuliaan wanita bukan pada banyaknya kerja mereka, tapi pada penerimaan terhadap ketentuan Allah.

Manusia itu kan ‘budak’ Allah, hamba-Nya.  Bukan budak manusia lain dan hawa nafsunya. Juga bukan budak produk zamannya.

#9. Dikirim oleh Wahyudin  pada  06/08   04:09 AM

Saya heran dengan saudara Rully Zaini, yang malah menyokong praktik poligami di era postmodern yang mengedepankan nilai kemanusiaan terlepas dari apakah manusia itu laki-laki atau perempuan. Atau jangan-jangan Sdr Rully salah seorang pelaku poligami?

Poligami dilegalkan oleh teks suci Islam karena Islam lahir dengan latar budaya patriarkhal. Belum ada teologi Feminisme kala itu. Biarlah poligami menjadi produk zamannya, zaman jahiliyah! Anehnya, kaum Fundamentalis gemar memelihara dalil-dalil produk jahiliyah di zaman sekarang.

Menurut para muslim konservatif, poligami dilegalkan dengan alasan menghindari kemaksiatan, untuk memberi kesempatan pria mengawini pasangan baru secara sah, daripada berzinah. Bagaimana jika persoalannya dibalik, sang istrilah yang memiliki dorongan untuk kawin dengan pemuda lain. Maukah pria, atau anda, meridhai istri anda kawin dengan pemuda macho idamannya? Bukankah perempuan juga manusia yang sama dengan pria, yang juga memiliki dorongan seks?

Jika anda merasa ridho istri anda berpoligami, monggo!

#10. Dikirim oleh Muhammad Taufik Harrisakti  pada  06/08   07:09 AM

Assalamu’alaiku wr. wb.

Bila ditanya ayat-surat mana, saya harus buka Qur’an dulu. Penalaran saya pun belum tentu benar. Dari yang saya pahami selama ini, menikah itu sunnah Nabi, dan tentu saja dengan syarat-syarat. Juga niat.

Mungkin, para tokoh-tokoh yang Bapak temui kebetulan sikapnya tidak mencerminkan kata-kata mereka yang fasih dengan ayat al Qur’an. Tetapi insya Allah niat mereka dan tujuan mereka sesuai dengan yang diajarkan Nabi dan diwahyukan Allah Swt.

Mereka banyak uang, sedang Indonesia memiliki banyak rakyat miskin. Cukuplah dengan mengawini wanita-wanita itu, sehingga mereka tidak perlu bekerja, dan lapangan kerja tersisa bagi para pemuda atau yang lain.

Saya dengar laki-laki bangsa Arab, ukuran nafsu seksnya lebih tinggi dibanding bangsa Indonesia, bagaimanapun Allah Maha Tahu, mungkin satu istri tidak cukup. Dan sang istri mungkin tidak bisa mencukupi suaminya.

Yang masih menjadi misteri bagi saya, sebagai wanita: saya pernah jatuh cinta dengan laki-laki yang sudah berkeluarga. Dengan tekad yang kuat (masak sih nggak ada jodoh buat saya yang lebih muda, ganteng…penting: bujang) dan permohonan doa saya memohon kebaikan. Dan saya juga menemukan beberapa teman wanita yang punya pengalaman yang sama. Apakah ini kodrat wanita? Atau Allah hanya ingin memberi pelajaran pada kami?

Apakah ini sebab Allah Swt menciptakan wanita lebih banyak daripada laki-laki, dan (sehingga) mengijinkan hambanya menikah lebih dari seorang wanita? Alhamdulillah saya diberi seorang suami wink

Insya Allah bapak-bapak itu mempunyai niat yang baik, dan istri-istri mereka sama-sama rela.

Wassalam, Wulandary

#11. Dikirim oleh Wulandary  pada  06/08   08:08 AM

Sulit bagi saya masuk dalam diskusi ini, mungkin karena sadar diri bahwa saya tidak cukup punya kompetensi.

Bicara masalah Poligami mungkin kita harus berangkat bukan dari hukum “halal - haram"nya, tapi justru realitas anthropologis yang memang masih dikembangkan.

Anick mungkin masih ingat waktu kawan sepuh kita dari Jl. Mangga pernah “ngunandiko” bahwa:“Setiap pria seakan punya kodrat untuk terikat secara seksual pada lebih dari satu wanita” alias pengin beristri lebih dari satu. Kemudian dalam obrolan itu saya bertanya itu kodrati, konstruksi sosial, atau bentuk ketidakmampuan mengendalikan nafsu seksual aja?

Mungkin sebelum masuk pada interpretasi tekstual dan kontekstual surat dan ayat, kita akan lebih punya background yang utuh kalo mendiskusikan realitas ini dari sudut pandang duniawi dulu.

Terlepas dari itu, revolusi memang berawal dari terorganisasinya gagasan-gagasan besar yang melawan mainstream pemikiran. Berjuang terus Nick, siapa tahu bisa jadi presiden..he….he..he…

#12. Dikirim oleh Sadewo  pada  07/08   04:09 AM

Assalamualaikum wr. wb.

Waduh bagaimana nih ya. Inti dari tulisan saya itu bukan semata-mata poligami. Akan tetapi, saya ini prihatin karena banyak orang Islam yang kalau punya uang banyak sedikit saja duitnya kalau nggak dipakai pamer harta, ya terpakai untuk kawin lagi (yang ini lebih gawatnya alasannya ibadah lagi…weleh…weleh).

Lha kenapa nggak digunakan untuk yang lebih bermanfaat demi kemajuan umatnya. Ya, mending duitnya disumbang untuk bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, keuangan atau apalah…khan katanya kita nggak mau kalah dengan bangsa Israel (Yahudi), Amerika dan dunia barat lainnya. Nah untuk menang dari mereka khan umat Islam harus dapat maju dalam bidang-bidang tersebut di atas, dan itu butuh sumbangan finansial yang tidak sedikit.

Untuk poligami, saya bukannya tidak setuju 100%, tapi saran saja kalau mau mengikuti sunnah Nabi ya jangan tanggung-tanggung. Nabi 28 tahun monogaminya ya diikutin juga dong masak mau bikin aturan sendiri dan enaknya saja. Terus yang dikawinin ya janda-janda korban perang, anak yatim…Jangan yang bintang sinetron atau seketaris yang bahenol dong….Kalo begitu mah ketahuan jelas niatnya cuman nafsu aja.

Nah itu yang saya nggak setuju. Yang mau kawin masih muda, yang di kawinin wanita yang cantik (yang mau kawin sama dia juga banyak), yang ekonominya juga relatif mapan. Kalau yang dikawinin itu wanita-wanita yang ekonominya kesusahan (khan buanyak), dan yang secara general fisiknya juga kurang menarik sehingga susah mendapat jodoh….wah, itu mah saya acungin jempol dan dukung 100% deh biar kawin lebih dari 9 juga.

Satu hal lagi di Al-Quran khan ayat yang menganjurkan untuk poligami itu ada ayat yag melatarbelakanginya dan ada kelanjutannya juga wong ada ayat yang menyatakan kalau kita ini nggak ada bisa berlaku adil. Jadi kita ini khan bukan ujug-ujug disuruh poligami kalau secara finansial mampu. Wah, jangan sampai salah ngartiin tuh…bisa berabe ntar di akhirat.

Wassalammualaikum wr. wb.

Muhammad Islam

#13. Dikirim oleh Muhammad Islam  pada  07/08   07:09 AM

Yang saya temukan pendapat-pendapat liberal dalam situs ini non-solutif, tidak lebih sekali lagi mengarah pada—ekstremitas baru. Yang kontrapoligami-pun dalam memberikan pendapat terkesan tidak bijaksana, kalau tidak mau dikatakan “emosional”, karena—ini yang disayangkan—lekat dengan stigmatisasi dan generalisasi model “gebyah-uyah”.

Saya secara pribadi, juga tidak menyukai acara gebyar model poligami award, saya tidak suka dengan “uslub"nya. Tetapi juga saya lebih tidak berani mengatakan bahwa poligami dalam Islam adalah layaknya “perbudakan” (slavery, kata anda). Poligami dalam Islam tidak sesederhana itu, tetapi punya “kaifiyah” yang sangat ketat dalam fiqh. Toh lagi, hukum poligami itu kan mubah, mau dikerjakan boleh, nggak dilaksanakan juga it’s not a big problem.

Gitu aja kok repot sampeyan.

#14. Dikirim oleh ahmad fauzan  pada  07/08   08:09 AM

Assalamualaikum wr. wb.

Beberapa tahun yang lalu teman dekat saya, seorang wanita Kristiani, menyatakan rasa lega dan bangga atas keputusan ibunya untuk pindah ke agama Kristen saat menikah dengan sang ayah. Saat saya tanya apa alasan si ibu untuk keluar dari agama Islam, dengan tenang teman saya menjawab, “karena Ibu saya tidak mau dimadu”.

Pada saat itu saya hanya bisa mengucapkan astaghfirullah….apakah Islam sedemikian tajamnya diidentikKan dengan poligami? Tanpa kita sadari, urusan poligami ini membuat citra Islam semakin lama semakin terpuruk. Dalam kesempatan lain, seorang pria muslim yang saya kenal bahkan berkata bahwa sudah cukup nama Islam menjadi buruk dengan segala macam hujatan teroris, tapi kini urusan poligami semakin menambah buruknya citra Islam di mata dunia. Sudah teroris, tukang kawin pula!

Banyak pihak yang pro maupun kontra atas ajaran poligami ini. Yang saya heran, kok bisa-bisanya ada wanita yang mendukung poligami ini? Sebagai seorang wanita dan istri, saya tidak dapat membayangkan berada dalam posisi di mana saya akan mendukung ajaran poligami ini. Wanita mana sih yang mau suaminya kawin lagi? Akhirnya saya berkesimpulan bahwa wanita yang mendukung poligami adalah (i) para wanita yang ‘terlanjur’ jadi istri kedua, ketiga, atau selanjutnya; atau (ii) para wanita yang mau saja dibodohi suaminya dengan iming-iming “sunnah Rasul”; atau (iii) para wanita yang tak punya perasaan; atau (iv) para wanita yang tidak laku dan lebih baik jadi istri kedua daripada tidak kawin”.

Dalam sebuah wawancara di surat kabar, istri pertama dari pemilik restoran Wong Solo itu bahkan kurang lebih berkata “Madu itu kan rasanya manis. Jadi yang namanya dimadu itu rasanya manis”. Beberapa ‘korban’ lainnya bahkan berkata bahwa daripada berzina, lebih baik mereka izinkan suami mereka kawin lagi. Dua contoh pernyataan tersebut di atas hanya menunjukkan bagaimana istri yang dimadu berusaha membohongi dirinya sendiri, dan bagaimana soal poligami ini salah diartikan.

Harap diingat:

Nabi Muhammad tidak berpoligami karena beliau “takut berzina”.  Nabi Muhammad tidak berpoligami karena beliau “punya pacar lagi”. Nabi Muhammad tidak berpoligami karena beliau “kepincut cewek lain”.  Nabi Muhammad tidak berpoligami karena beliau “tidak mampu menahan nafsunya”. Nabi Muhammad tidak berpoligami karena beliau “beranggapan bahwa madu itu manis dan karenanya berpikir alangkah baiknya apabila seluruh wanita muslim di dunia merasakan ‘manisnya’ dimadu”. 

Nabi Muhammad berpoligami karena beliau bermaksud untuk menolong kaum wanita yang tertindas agar hendaknya tinggi derajatnya. Bukan karena alasan-alasan lain yang selalu dikemukakan oleh para poligamers. Para poligamers ini mengatakan bahwa alasan mereka kawin lagi adalah untuk memenuhi Sunnah Rasul. Pertanyaannya, Sunnah Rasul yang mana? Apakah yang mereka kawini kaum wanita papa dan miskin? Apakah istri-istri mereka adalah kaum yang dalam kesusahan dan perlu ditinggikan derajadnya? apakah si istri muda ini korban perang? Jelas Tidak! 

Tulisan ini lebih saya tujukan kepada para pembaca wanita agar jangan mau saja dibodohi oleh suaminya yang ingin kawin lagi. Dan bagi wanita lajang yang katanya jatuh cinta dengan pria berkeluarga, yah, sebagai sesama wanita jangan saling sakit menyakiti. Apakah anda mau nanti suami anda punya istri baru alias istri ketiga? Kecuali anda ini gelandangan, atau korban perang, atau wanita miskin dan papa yang perlu dinaikkan derajatnya, ya lebih baik jangan mau kawin dengan pria beristri. Apalagi kalau si pria ini bilang ingin mengawini anda dengan alasan Sunnah Rasul. Jangan sampai malah berbuat dosa dengan menyakiti hati orang lain (istri dan anak2 si pria berisitri ini).

Nabi Muhammad toh berpoligami setelah hampir 30 tahun beristri tunggal. Poligami-pun dilakukan setelah beberapa tahun menduda. Jadi para poligamers Indonesia ini tidak ada satupun yang mengikuti sunnah Rosul.

Begitu pula dengan para pembaca pria agar jangan sampai pengen kawin lagi dengan alasan sunnah Rasul. Saya yakin tidak pernah ada ajaran atau hadis nabi yang berbunyi “Wahai umat Islam. Untuk para pria, kawinlah lebih dari sekali. Terutama agar kalian terhindar dari perzinaan, agar nafsu kalian tersalurkan secara halal,  dan terutama, carilah istri yang muda dan cantik. Jangan mau sama yang tua dan miskin ya? Dan wahai kaum wanita, izinkanlah suami kalian untuk kawin lagi. Daripada mereka berzina, hayo?”.

Wassalam

#15. Dikirim oleh Yeni Anis  pada  08/08   03:09 AM

Saya kira sah-sah saja ketika Jarinan Islam Liberal (JIL) mengekspos berita ini. Dan itu merupakan hak yang paling mendasar.  Namun ada satu catatan, bahwa artikel-artikel atau berita yang sering dimuat oleh JIL ini terkesan asal tanpa diimbangi dengan argumen yang valid. JIL hanya mengedepankan rasio dan apriori dengan pemahaman teks secara mendalam.

Kalau tidak berlebihan, boleh saya katakan bahwa JIL hanyalah ekspresi ketidakmampuan dalam mengartikulasikan beberapa nash quran atau hadits yang berkaitan dengan hukum tertentu. Sehingga, satu hal yang bisa dilakukan adalah ngomong tanpa argumen yang kuat.

Redaksi:

Kalau Anda mengembara ke rubrik-rubrik lain di situs ini, mungkin Anda tak bakal berkesimpulan seperti itu. Cobalah anda baca sedemikian banyak wawancara dan artikel tentang poligami di milis ini. Jangan mengambil kesimpulan berdasarkan tulisan editorial yang dibuat Saudara Anick HT. Namanya editorial; sebuah etalase, belum menggambarkan keseluruhan isinya, bukan?

#16. Dikirim oleh Heru Nugroho  pada  08/08   07:09 AM

Saudaraku umat muslim yang tercinta:

Sungguh sedih rasanya saya membaca komentar yang dilontarkan, seakan-akan poligami itu adalah suatu hantu/setan yang menakutkan. Saya tidak mengerti apakah pemahaman kita yang kurang atau kita yang sudah diracuni oleh gerakan liberalisme (baca: anti Islam ) yang semakin kuat.

Seorang Ratih Sanggarwati (mantan model) berucap: “Poligami itu adalah sunnah Nabi, mana berani saya menentangnya.”

Seharusnya kita menyikapi hal ini dengan hati yang tenang, bukan dengan emosi yang meletup-letup sehingga pada akhirnya umat muslim sendiri yang akan menderita kerugian, sementara di satu sisi umat agama lain bertepuk tangan (mungkin mereka berkata : rasain lu pada berantem, makanya masuk agama gue, ajarannya lebih benar daripada ajaran agama Islam).

Cobalah menyikapi ini dengan hal yang wajar, terima dengan hati yang lapang bahwa ini adalah suatu ketentuan yang sudah jelas (ada di Al-Qur’an dan hadist) dan pada akhirnya terpulang pada pribadi masing-masing, mau atau tidak menjalankannya.

Buat para wanita, janganlah anda terlalu membabi buta untuk menolaknya, pelajari dulu dalam-dalam dengan mengacu pada Al-Qur’an dan hadist serta pendapat ulama, bukannya bermain dengan perasaan. Kalau sudah emosi yang bermain, maka jiwa kita akan semakin gampang dimasuki oleh pikiran-pikiran sesat agama lain.

Saran saya, terimalah sesuatu ketentuan yang telah ditetapkan itu dengan pasrah dan hati yang lapang, tetapi untuk mengikutinya terpulang pada hati nurani kita sendiri, sehingga kita tidak gampang dipecah-belah oleh badai Kristenisasi dll yang semakin gencar menyerang umat Islam.

Wassalam,

Saya yang mendukung poligami sebagai suatu ketentuan AGAMA ISLAM (tetapi saya tidak berpoligami).

Redaksi:

Boleh tanya, Mas: “Anda mendukung poligami, mengapa tidak mempraktikkannya?”  Boleh tahu jawabannya?

#17. Dikirim oleh Rully Zaini  pada  08/08   08:08 AM

Enak kali ya kalau bisa poliandri kayak poligaminya Puspo Wardoyo. Bosan juga khan kalau makan “sayur” itu-itu aja, apalagi “perangkat” nya cowok khan lebih variatif daripada punya cewek smilesmile Kalau nafsu cewek gede bagaimana dong ?  Kalau cowok katanya boleh poligami, kalo cewek ???

#18. Dikirim oleh hanna w  pada  08/08   04:08 PM

Pak Muh. Islam

Islam memang mensyaratkan keadilan dalam berpoligami. Adil di sini adalah adil dzahir, adil material, fisikal, dan bukan keadilan hati dalam kecenderungan.

Tidak masalah yang dikawini lagi lebih muda, lebih cantik, atau lebih kaya. Yang penting adalah syaratnya terpenuhi sesuai tuntunan Islam. Meski dibolehkan dalam Islam (jadi bukan wajib), toh tdk semua orang melakukannya dan syaratnya juga ketat.

Kalau Bapak mendukung lebih dari 9 orang, ini juga keliru. Jadi proporsional saja dan hidup menjadi enak, tidak ruwet mikir-mikir apa yang tidak perlu dipikir.

#19. Dikirim oleh Wahyudin  pada  09/08   12:09 AM

Baca artikel di atas plus komentar yang ada, saya jadi tertarik. Kok yang menulis dan memberi komentar banyak laki-lakinya daripada perempuannya ya? Why? Apa akses teknologi internetnya nggak sepadan buat laki-laki dan perempuankah?

Anyway, artikel di atas menarik.

#20. Dikirim oleh lintang  pada  09/08   02:09 AM
Halaman 1 dari 6 halaman 1 2 3 >  Last ›

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?