Klipping,
08/04/2010

Stigma Keagamaan dan Sejumlah Jawabannya

Oleh Saidiman Ahmad

Dengan tidak dicampur-baurnya otoritas politik dan agama, justru kehidupan beragama dan budaya bisa secara maksimal berkembang. Liberalisme, misalnya, berasal dari pengakuan bahwa sebenarnya dunia ini dibangun di atas ketidak-tahuan. Tidak ada yang lebih tahu apa yang terbaik untuk masa depan. Justru karena tidak ada yang lebih tahu di atas yang lain itulah maka diperlukan ruang kebebasan, agar setiap manusia bisa berekspresi. Liberalisme membuka ruang kebebasan di mana setiap budaya, agama dan ekspresi bisa muncul.

08/04/2010 02:18 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (10)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

penulis sangat mendambakan apa yg namanya kebebasan,dlm segala hal termasuk dlm menginterpretasikan agama.Padahal org yg beragama itu penuh dgn aturan2,yg mana jika aturan2 itu diiukuti maka justru kita akan mendapatkan apa yg disebut kebebasan.Apa jadinya jika org yg bukan ahlinya membuat aturan baru berdasarkan pemikirannya dlm hukum agama?yg pasti hanya akan ada kekacauan.Sama halnya jika seorang ahli ekonomi mengomentari tentang pembangunan gedung bertingkat,itu adl hal yg bodoh…Berdasarkan kebebasan yg dianut oleh penulis, maka org lainpun berhak bebas untuk MENOLAK paham sekularisme,liberalisme atau isme2 yg dianggap tdk sesuai dgn Islam.

#1. Dikirim oleh ekoji  pada  08/04   06:48 AM

Apa yang bisa kita terapkan dari paham liberalisme ini??mohon pencerahnya,,,
bagian mana dari ajaran islam yang akan di diseusaikan dengan tuntunan jaman??bagian mana dari akidah islam yang akan disesuaikan dengan jaman,,fikih yang akan disesuaikan dengan jaman,,mohon pencerahannya,,,apakah pada akhirnya kita tidak perlu percaya pada alquran sebagai pedoman hidup umat islam dan lain2nya,,,tq

#2. Dikirim oleh Indra  pada  08/04   11:10 AM

Memang seharusnya orang yg beragama mempunyai kebebasan. Kebebasan membuat orang beralasan untuk ditindak atas perbuatannya. Bagaimana mungkin Tuhan menghukum orang yg melakukan perbuatan, jika perbuatan itu dilakukan dalam keadaan tak bebas, dipaksa, dan di bawah tekanan. Manusia dihukum atas perbuatannya krn ia punya kebebasan (liberty), sehingga ia berhak dihukum jika tindakannya salah. Salah tidaknya suatu tindakan didasarkan atas nilai2 dasar kemanusiaan, nilai dasar minimal menjaga 5hal pokok: jiwa, harta, agama, keturunan, dan akal

#3. Dikirim oleh Zainul Qudsi  pada  10/04   06:40 AM

AlQuran itu liberal.lalu mengapa kita mencari-cari batasan liberalisme versi manusia? mengapa manusia susah payah berpikir mencari konsep islam yang liberal? apakah maksudnya menafsirkan AlQuran dengan penafsiran yang lebih liberal?percayalah,setiap hati akan merasa bila otak dengan sengaja menafsirkan atau membiaskan penafsiran AlQuran menjauh dari isi dan tujuan untuk apa kitab ini diturunkan.

#4. Dikirim oleh adon  pada  11/04   07:45 PM

tak ada satu dalilpun yang menolak liberalisme, sekulerisme,prularisme,yang ada justru yang mewajibkan hal itu, itu bagi yang membaca Quran haqqo tilawatih. Ayat dan dalil mana yang menolak ?  tapi kalau yamg membaca baru mengeja tentu ya seperti bom-bom itu.
ya kalau membaca Quran itu paling tidak berfikir sedikitlah mana umum mana tehnis mana hablumminallah man habumlumminannas dan bagainama aturan dasar masing-masing itu.Masak hutang duit mau dibayar sholat kan ya joko sembung naik becak ndak nyambung lah cak. Konsep islam harus disesuaikan itu perintah agama bukan ngarang.lawong komputer ditulis arab saja tidak nongol kok ngatur dunia engan bom.

#5. Dikirim oleh m. sugeng  pada  12/04   03:30 AM

liberalisme justru penyumbang kehancuran dunia. umat manusia menjadi terkotak-kotak karenanya. artis misalnya “dibebaskan” untuk hidup glamor, seks bebas, dll. tapi presiden, politisi, dan pemuka agama sering “diharuskan” bertingkah laku menjunjung tinggi moral. tak heran, bila makin lama, makin banyak kerusakan dimana-mana, karena terjadi kemunafikan sosial. non muslim bisa maju dengan liberalisme, karena mereka terbebas dari agama yang rancu, membingungkan, dan mengada-ngada. tapi kalau islam yang begitu detail harus diganti dengan liberalisme, tunggu dulu bung. lihat turki, negara ini sudah hampir 100 tahun liberal berkat ulah kemal. tapi yang tejadi sekarang faktanya turki hanyalah pengemis yang meratap-ratap minta diakui sejajar dengan negara eropa, memalukan!

#6. Dikirim oleh rama  pada  12/04   07:24 PM

Saat kita bicara ISLAM ... WOW ... LUAR BIASA ... Logika ... Alur ... DATA ... FAKTA ... EXACTLY ... CORRELATED ... Menjadi suatu ARGUMENTASI yang KOKOH ... Itu kalau NGOMONG ISLAMNYA ... Tapi kalau ngomong MUSLIMNYA ... WOW ... (GELENG-GELENG KEPALA ... ) Kok BISA ... Punya WARISAN yan HEBAT seperti itu ... TINDAKANNYA BANYAK yang SONGONG ... Tahukah TINDAKAN SONGONG itu apa ? Suatu TINDAKAN yang MAU MENANG SENDIRI ... POKOKNYA ... EMANG GUE PIKIRIN ... Makanya ISLAM TERTUTUP oleh ... Sebagian BESAR MUSLIMNYA ... Jadinya NGGAK KEIHATAN ...

Ambil contoh kecil dan SRTATEGIS ... Mayoritas MUSLIM itu NGERTI BAHASA ARAB ? (Bukan sekedar membacanya)Atau ... Sangat AWAM BAHASA ARABNYA ... ? Jawabannya JELAS ... Sangat banyak alias mayoritas yang AWAM ... Tapi kenapa ... Di MASJID-MASJID—sebagian besar—... Al-QUR’AN itu hanya berbahasa ARAB saja ? Sangat jarang sekali ada TERJEMAHANNYA ? Kalau membaca tapi tidak mengerti ? Yang mana kadang tindakannya ... Sangat bertentangan dengan apa yang dia baca ? Apakah ini bukan GEMBLUNG ? Yang IRONIS ... Banyak sekali MASJID-MASJID ... Begitu tersebarnya Surat YASIN ...
Kalau yang ini ada TERJEMAHANNYA ? Padahal kita tahu ... Bahwa SURAT YASIN itu dipergunakan u- TAHLILAN ...Alias u- mendoakan orang yang mati ...
Meskipun isinya WOW ... LUAR BIASA ... Prakteknya ... Sebagai bentuk u- mendoakan orang-orang yang mati ...

Padahal MUSLIM INDONESIA itu ... The BIGGEST MUSLIM on the WORLD ... Jadi kalau MUSLIM INDONESIA ... Yang ACAK ADUT ini ... Berubah menjadi MUSLIM yang SMART ... Pekerja KERAS ... DISIPLIN ... TAAT WAKTU ... Baik u- persoalan DUNIANYA ... Apalagi u- MASALAH AKHERATNYA ... Pasti DAMPAKNYA ...
Akan sangat luar biasa ke DUNIA ISLAM ...

#7. Dikirim oleh HP  pada  14/04   04:36 AM

sebuah rahmatan lil alamin, masihkah harus memelihara phobia akan sesuatu yang dari luar? apakah sesuatu yang dari luar alamin tersebut ? adakah? ataukah hanya penyamaran akan sesuatu yang tak kita sukai tanpa peduli akan kebenarannya? Kekhalifahan Andalusia antarkan kebesaran buat semua Muslim saat itu dengan pluralisme, liberalisme dan juga sekularisme pastinya. Wallahu alam bis sawab

#8. Dikirim oleh Iwan CH  pada  15/04   01:26 PM

Saya punya pertanyaan penting untuk saudara-saudaraku sesama muslim :

KENAPA HANYA ISLAM SAJA YANG KELIHATAN SANGAT SUSAH MENERIMA KONSEP SEKULERISME & PLURALISME. AGAMA-AGAMA LAIN SAYA LIHAT FINE-FINE DAN BAIK-BAIK SAJA MENERIMA KONSEP TERSEBUT.

Mohon jangan dijawab dengan atau dengan jawaban yang mirip dengan argumen-argumen dibawah ini :

1. Karena hanya islam agama yang benar, yang lain agama setan dan akan dimasukin neraka.

2. Islam adalah agama terakhir dan memperbaiki segala kesalahan agama sebelumnya.

#9. Dikirim oleh Khomaeni  pada  20/04   09:45 AM

To : Khomaeni di 9

Sebelum menjawab pertanyaan Saudaraku Khomaeni, maka ISLAM menjelaskan terlebih dahulu soal KETUHANAN yaitu KETUHANAN YANG SATU atau AHAD, dimana yang menyatakan dirinya TUHAN YANG SATU ini atau yang AHAD ini yang MENCIPTAKAN ALAM SEMESTA baik yang NYATA dan yang GHAIB mengatakan dirinya adalah ALLAH sebuah nama diri atau IDENTITASyang memiliki ASMA UL HUSNA (Nama-nama baik yang diberitahukan ke manusia sebanyak 99 buah asma)

Itu dulu DIPAHAMI. Pemahaman pada SENTRALNYA atau PUSATNYA yaitu tentang ALLAH ini. Saat MEMAHAMI inilah, maka ALLAH mengkategorisasikan : PERTAMA, MUKMININ—artinya yang PERCAYA—yaitu yang PERCAYA akan EKSISTENSINYA maupun KEMAHAANNYA; KEDUA, KAFIRIN ... Pertama, TIDAK PERCAYA ALLAH bahwa ALLAH itu ADA dan sebagai PENCIPTA LANGIT dan BUMI beserta ISINYA—PENCIPTA ALAM SEMESTA—maupun SEBAB AKIBAT yang SALING BERTAUTAN itu. Kedua, TIDAK PERCAYA ke MAHAANNYA ALLAH, misal mempertanyakan PEMBANGKITAN MANUSIA setelah MANUSIA telah menjadi TANAH atau TULANG BELULANG. KETIGA, MUNAFIQUN, yaitu suatu kategorisasi ABU-ABU, bila MUKMININ mendapatkan keuntungan maka GOLONGAN INI AKAN MENDEKAT, tapi kalau MUKMININ lagi mendapat KESUSAHAN, maka GOLONGAN ini akan IKUT MENGHANTAM RAME-RAME kaum MUKMININ ini. Orang yang selalu melihat PELUANG UNTUNG DUNIA, siapa yang menguntungkan dirinya maka dia akan mengikutinya. KEEMPAT, MUSYRIKIN, Golongan ini dalam memprofilekan ALLAH yang SATU itu KURANG SREG ... Karena dianggap KURANG, makanya larinya ke KEKUATAN yang BISA MENUTUP kekurangsreg-annya tersebut. Atas keempat hal ini, maka TINDAKAN yang akan dilakukan PASTI BERBEDA dan BERKEMUNGKINAN TABRAKAN. Allah yang menyatakan dirinya SATU-SATUNYA TUHAN itu dan TIDAK ADA YANG LAIN, sekaligus DIALAH PENCIPTA LANGIT dan BUMI berikut isinya—termasuk MANUSIA—, maka menjelaskan RULE of The GAME-NYA ... Dengan mengatakan (gampangnya) Hai MANUSIA SEMBAHLAH ALLAH jangan yang lain karena kalau yang lain, maka kamu akan dimasukkan ke neraka JAHANNAM yang PANASNYA berkali-kali dari PANASNYA MATAHARI dan SAAT di NERAKA kamu TIDAK AKAN MATI dan akan TERUS MENERUS MERASAKAN hal itu ... FOREVER ... Padahal panasnya MATAHARI itu sudah 50 juta derajat Celcius ... Kalau di neraka JAHANNAM ... Yang panasnya berkali-kali dari panasnya MATAHARI ... APAKAH KEBAYANG BESARNYA SIKSAANNYA ? Itulah yang selalu diwanti-wanti oleh ALLAH SWT aar manusia TIDAK MASUK NERAKA, makanya pahamilah TUHAN YANG BENAR dan setelah SEMBAHLAH bagi KEBAIKAN DIRIMU SENDIRI ... tapi jangan lupa bahwa ALLAH itu saat menginformasikan ke manusia ... DIA selalu MENUNJUK yang namanya UTUSAN atau NABI. Jadi jelas kan ? Kenapa MUSLIM SUSAH menerima SEKULARISME atau PLURAISME ?

#10. Dikirim oleh HP  pada  26/04   12:09 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?