Surat untuk Para Petinggi Negeri
Oleh Djohan Effendi
Pernahkan kita membayangkan bagaimana kalau nasib yang dialami warga negara yang teraniaya dan terzalimi ini justru menimpa kita sendiri? Pernahkan kita membayangkan betapa perihnya hati kita jika kebebasan kita untuk beriman dan beribadah menurut ajaran yang kita yakini akan menyelamatkan kita di dunia dan di akhirat kelak direnggut hanya karena kita berbeda dengan keyakinan mayoritas?
Komentar
sungguh mengerikan pak Djohan, sy sampai merinding membacanya…., memang sangat menyedihkan kalau di negeri tercinta ini masih ada upaya untuk mengkriminalisisi kepercayaan yg berbeda dg kita…, apalagi sampai diusir dari rumah sendiri!!..., benar2 perilaku yg sangat tidak beradab….
Kita semua memang tidak menginginkan adanya warga negara yg terpinggirkan seperti yg kelompok ahmadiyah ‘rasa’. Tetapi perlu diingat, sangat banyak warga negara, terutama kaum mayoritas muslim yang merasa sangat terusik oleh kelompok ini. dimana mereka mengaku muslim tapi memiliki nabi setelah Rasulullah saw.
Pemerintah RI sudah mengambil langkah tepat utk membatasi ahmadiyah demi kemaslahatan umum. Tetapi, Pemerintah memang harus menyediakan tenaga lebih untuk mengawal dan menjaga ahmadiyah ini dari amukan massa. Jangan karena alasan HAM, terus perasaan mayoritas dikorbankan
memang sudah menjadi doktrin warga negara bahwasanya agama resmi yang diakui dan mendapatkan perlindungan, lain daripada itu, sesat dan dilawan bareng2. kurikulum sekolah ttg pemandangan yang salah itu yang mesti harus diluruskan. pluralisme mesti menjadi dasar pemandangan yang benar dalam menjamin kebebasan beragama tanpa harus ada pembatasan ....!
Wahai pemerintah yang masih punya nurani dan percaya agama, responlah segala aspirasi para kaum tertindas ini, jangan sampai kelak masyarakat akan samapi pada kesimpulan bahwa ajaran agama-lah yang ternyata membuat hidup ini tidak nyaman, sengsara, penuh kebencian, keonaran dsb, dan saya yakin kesimpulan itu hanya tinggal masalah waktu saja. Dan memang demikianlah adanya, sulit bagi kita untuk menolak fakta bahwa agama-lah sumber kehancuran bangsa. Dan jika ini tidak diluruskan dengan tindakan nyata maka anda-lah para ulama dan umaro yang paling bertanggung jawab atas rusaknya imej agama ini, dan saya pun berharap agar Allah menghukum dan menyiksa anda dengan balasan yang berlipat-lipat di hari akhirat nanti. Oleh karena itu sadarlah wahai ulama dan umaro ybs, mohon tinggalkanlah watak takaburmu itu, yang merasa paling benar, merasa tahu “isi pikiran/kehendak” Allah, sadarlah kau, kita ini manusia, tidak ada yg setara denganNya, Tuhan itu MUKHOLAFAH LIL HAWADITS tau!
jeritan Pak Djohan Effendi apakah sama dengan jeritan rakyat Palestina di jalur Gazza?
Wow, surat yg menakjubkan! Kalau saya sih terketuk hati dg ini, para ulama? Saya pesimis..
Saya sependapat dengan Bpk Djohan Effendi dalam suratnya untuk para petinggi negeri ini. Saya sarankan, baik kepada para petinggi negeri maupun kita semua, agar sebaiknya kita masing-masing tak melakukan kepada orang lain apa yang kita sendiri tak ingin orang lain lakukan kepada kita. Ada pula pepatah Melayu yang bilang, “kuman di seberang lautan tampak, balok di pelupuk mata tak tampak”.
Memang menyedihkan. Menganggap diri paling benar dan paling punya hak. Tambah menyedihkan kalau itu dilakukan seorang pejabat yang harus melindungi rakyatnya dari semua lapisan dan golongan.
Menurut saya apa pun yang ada dan kita jumpai, keberadaannya sudah atas kehendak Tuhan. Keberadaan suatu yang berbeda dengan kita bukanlah sia-sia. Sebagai contoh, kalau tidak ada penjahat, tidak ada ilmu hukum, tidak ada ilmu kepolisian, tidak ada tukang pagar, tidak ada tukang kunci, dst. Keberadaannya mengembangkan budi daya manusia dan pemikiran serta kehidupan yang dinamis. Aneka warna itu sesungguhnya suatu kemurahan Tuhan.
Bila ada sesuatu yang berbeda kita harus coba memahami mengapa begitu, sehingga pemikiran kita dapat berkembang dan menemukan hal-hal baru. Tapi prasangka akan menutup diri dalam kotak kepicikan yang tidak akan mampu menyumbangkan apa pun pada manusia dan kemanusiaan serta kehidupan pada umumnya.
Kita harus beryukur dan menerima apapun yang ada atas kehendak Tuhan. Justru perbedaan itu, betapa pun jauhnya, adalah suatu rahmat yang memungkinkan kita mengembangkan akal budi. Kasih sayang Tuhan harus menjadi alasan agar kita juga punya rasa kasih sayang. Itu artinya lebih dahulu memperhatikan dan menghargai orang lain. Sikap demikian akan memantulkan sinar pencerahan pada diri kita.
Tuhan Yang Maha Kuasa saja selalu melimpahkan kasih sayangnya pada semua tanpa membedakan. Alangkah angkuhnya kita kalau kita malah memamerkan kebencian dan kemarahan. Bukankah ajaran agama minta kita agar selalu bersih dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan? Caci maki dan keberingasan tentu suatu yang amat bertentangan.
Wallahualam bisawab.
oleh karena itu tunjukan jati diri ahmadiyah yang sebenarnya…jadi semuanya terang benderang..
setuju…betapa menjadi minoritas, yang meyakini agama yang berbeda dengan mayoritas, sangatlah rentan dan rapuh. sedikit saja melakukan hal yang mengganggu mayoritas, rasa2nya takut diusir dari tempat tinggal kita. namun, hal itu tidak saya rasakan di negara yang memang penduduknya menghargai toleransi beragama. bahkan saya, bersama teman2 saya merasakan kebaikannya. kami diberi tempat dan makanan untuk merayakan idul adha. luar biasa. tak ada rasa curiga dan dendam.
Membaca artikel ini membuat saya malu menjadi orang yg mengaku beragama di Indonesia.
Kpd para Pemimpin di Indonesia, Mhn diperhatikan masalah-masalah seperti ini, saya percaya jika hal-hal dasar ini diatur dengan baik & ADIL bisa mempercepat kemakmuran Rakyat Indonesia, maksud saya SELURUH bukan sebagian.Terima kasih.
Pasti ada yang salah dengan metode pendidikan sosial (PMP, PPKN apapun namanya) di negeri kita.Ada yang salah dengan cara dakwah di negeri ini, sehingga muncul generasi baru yang tidak memahami apa itu agama, toleransi, dan kemanusian pada level dasar. Ada juga yang salah dengan metode pendidikan para aparatur negara, sehingga mereka gagal melindungi, atau membuat sistem yang mampu melindungi warga negaranya. Disini negara telah gagal menjalankan amanat UUD 45 pasal 29.Bukan manusia bersekolah, mencari ilmu, mencari nafkah adalah untuk kehidupan sosial yang lebih baik, meningkatkan harkat dan martabat kemanusiaan? Pendidikan moral seharusnya mengajarkan semua itu, sehingga tidak terjadi lagi kesewenangan, kekerasan manusia terhadap manusia lain dengan alasan perbedaan keyakinan, aliran, agama, etnis, suku. Bukankah manusia diciptakan dengan perbedaan bangsa, suku, agama, ras, pendapat, ide, ilmu agar mereka mengenal dan bekerja sama? Islam (Syahadat) adalah pernyataan manusia ke Allah bukan kepada manusia.Yang mengethaui juga Allah sendiri.Sebagaimana juga ibadah puasa, haji dan shalat.Kita tidak disuruh dan tidak ada perintah menghakimi keimanan, keislam seseorang, tetapi perintah untuk berbuat baik dan mencegah kejahatan. Tetapi semuanya tetap kembali kepada keputusan Allah bukan manusia. Semoga Allah memberikan petunjukk kepada kita semua dan terhindar dari kedhaliman. Salam
kalau sebatas maslah fiqih/ibadah mayoritas islam masih mentolelir tapi kalau sudah menyangkut aqidah yang asasi inilah yang menjdi masalah. Ahmadiyah berbeda dengan mayoritas islam bukan masalah ibadah/fiqih tapi ini sudah menyangkut masalah keyakinan.dimana keyakinan memang tidak bisa diganggu gugat karena harus sesuai dengan kehendak Allah, kalau sudah berbeda apakah layak disebut Islam. ini bukan masalah tarawih 11 rakaat dan 23 rakaat. maka dari itu sepantasnya ahmadiyyah di Indonesia itu jadi agama baru saja lah suapaya terang terus dengan keterusterangannya itu. bukan gitu bos?
Membaca tulisan ini..sungguh NARASI YANG TERAMAT DRAMATIS… Apa yang anda tulis disini adalah implikasi AKIBAT, tanpa menilik SEBAB. Kalau secara ekstrem saya katakan : ” Kalau gak mau di usir, kalau gak mau di ungsikan - dipaksa mengungsi- ya sudah ikuti ATURAN MAINSTREM yang sudah ada..jika tidak..??? tanggung akibatnya”.
Kedua, jangan atas nama KEBEBASAN justru MERUSAK kebebasan orang lain…Islam menghargai KEBERAGAMAN BERPENDAPAT tetapi dalam koridor Syariat yang benar…bukan KEBEBASAN yang demikian kebablasan..Islam tidak memandang APA SAJA BOLEH ATAS NAMA KEBEBASAN..tetapi kebebasan yang telah digariskan oleh Ajaran Islam itu sendiri.
Ketiga, saya secara pribadi-pun menyayangkan adanya praktek kekerasan terhadap saudara kita penganut Ahmadiyyah..tetapi praktek kekerasan itu terjadi akibat PEMERINTAH TIDAK TEGAS MENSIKAPI AHMADIYYAH ini.Jikalau saja ada ketegasan dari pemerintah, niscaya kejadian sebagaimana yg anda tulis TIDAK AKAN PERNAH TERJADI.
Keempat, yang perlu dilakukan adalah bertindak arif dan bijaksana..sebab bagaimanapun juga Pengikut Ahmadiyyah adalah saudara2 kita juga. Pembinaan dan PENCERAHAN tentang Doktrin yang BENAR adalah lebih efektif dibanding dengan kekerasan…dan JIL-pun saya harap bisa melakukan PENCERAHAN SESUAI DENGAN KORIDOR ISLAM YANG BENAR…bukan justru MEMBELA MEREKA ATAS NAMA KEBEBASAN ...yang menurut saya SUDAH KEBABLASAN..!!!
Assalamu’alaikum wrwb. Our Future Society will be Free Society,just like God’s-Kingdom, all Element of Oppression, Cruelty, and Force will be Destroyed. Non Discrimination, Prosperity, and Liberty with Justice For All Citizen in this Earth. Mari kita bersama sama menuruskan perjuangan Gus Dur yg belum selesai tanpa pamrih dan ikhlas berjuang utk membela orang2 yg tertindas di negeri kita tercita. Kemerdekaan adalah hak setiap manusia yang diberikan oleh ALLAH,Semoga ALLAH dipihak kita semua, dan penindas2 atas nama agama akan hancur di bumi Indonesia ini. we are born freedom, do let some one take our freedom.
And shown him the two highways? QS.90:(10)
(One is ALLAH’s way, Two is Satan’s way) (You are free to choose between two path )
Also as ALLAH said to the Messenger of Moses; Today I am giving you a choice between good and evil, or between a blessing and a curse, between live and death. (Deuteronomy 30; 1,15)
Let there be no compulsion in religion.QS.2:256
Saya adalah seorang muslim yang sedikitpun tidak merasa terusik atau terganggu dengan ahmadiyah. Kenapa para saudara-saudaraku sesama muslim yang dengan gegap gempita menghancurkan ahmadiyah tidak memiliki pola pikir sebagai berikut :
1. Kalau ahmadiyah meyakini ada nabi setelah nabi muhamad saw, yah sudah biarin saja. Ntar yang masuk neraka khan mereka sendiri kaum ahmadiyah (itupun kalau betul-betul masuk neraka dan tidak ada manusia yang menjamin kaum ahmadiyah akan masuk neraka). Selama kaum ahmadiyah tidak menyeret kita ke neraka ngapain diributin!!!
2. Stempel islam adalah agama yang identik dengan kekerasan dan terorisme seolah-olah mendapat justifikasi dengan adanya kasus ini. Terus terang saya malu banget sebagai seorang muslim membaca artikel tersebut diatas.
3. Di agama-agama lain saya lihat banyak aliran dan kepercayaan. Saya lihat umat agama-umat agama tersebut baik-baik saja tuch, nggak kayak kita yang dikit-dikit sesat, dikit-dikit main hajar dan bakar! ampun dech
Keragaman umat beragama di Indonesia diambang kehancuran..banyak aksi-2 ormas agama yg memaksakan pemahamannya kepada umat agama lain., ironisnya aparat penegak hukum seperti ga punya nyali menindak tegas para preman berjubah yg mengatas namakan agama..pelarangan ibadah umat kristen di Bekasi menjadi salah satu contoh ketidak becusan pemerintah melindungi kebebasan warga negaranya menjalankan ibadah di negara ini. Orang no.1 di negara ini juga sangat lamban menyikapi kejadian ini.
Melalui comment ini saya berharap bung Ulil tidak terlena dan lupa memperjuangkan tegaknya pluralisme di negeri ini..bagi saya andalah penerus Gus Dur seorang muslim sejati yg berani membela kaum minoritas yg selama ini hak-2nya terabaikan. Anda sekarang duduk di sebuah partai politik..jadi tolong bersuaralah…!! kalau perlu berteriak..! Karena banyak sekali telinga para wakil rakyat yg sudah tuli karena terlena oleh segala fasilitas serba wah. Harapan saya keberanian,pemikiran kritis serta suara hati nurani anda tidak hilang setelah anda berkecimpung dalam dunia politik praktis.. Jabatan,harta kekayaan hanyalah amanah dari Allah S.W.T. Semoga anda tidak lupa akan hal ini..itulah doa dan harapan saya
“Akan datang pada manusia satu zaman, dimana Islam tinggal namanya, Al Qur’an tinggal tulisannya, mesjid-mesjid indah namun kosong dari petunjuk, dan ulama-ulama mereka adalah manusia paling buruk di kolong langit, karena dari mereka timbul beberapa fitnah & akan kembali kepada mrk.(HR.Imam Baihaqi)”
Zaman ini sudah masanya saudara-saudaraku, tidak perlu merasa heran, orang2 yang berkorban di jalan Tuhan sama sekali tidak perlu dikasihani, yang perlu dikasihani adalah diri kita masing2, terlebih para ulama yang sudah mempertuhan dirinya sendiri. Nauzubillahi mindzalik….
Kepada orang2 yang membenarkan perlakuan terhadap Ahmadiyah, coba bayangkan kalau anda punya keyakinan dan dikejar-kejar seperti itu ... maukan anda?
Negara aneh.. hanya krn keyakinan impor jd ribet gini, pdhal sesama sodara.. hmm
Komentar Masuk (31)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)