Surat untuk Para Petinggi Negeri
Oleh Djohan Effendi
Pernahkan kita membayangkan bagaimana kalau nasib yang dialami warga negara yang teraniaya dan terzalimi ini justru menimpa kita sendiri? Pernahkan kita membayangkan betapa perihnya hati kita jika kebebasan kita untuk beriman dan beribadah menurut ajaran yang kita yakini akan menyelamatkan kita di dunia dan di akhirat kelak direnggut hanya karena kita berbeda dengan keyakinan mayoritas?
Komentar
Uang… semuanya demi uang… Bukan ilmu.. Ilmu kalian. Mestinya dibuat namanya Jaringan Ilmu Ekonomi Liberal (JIEL).
http://arrahmah.com/index.php/news/read/8843/pembakaran-mesjid-terjadi-di-sumatera-utara-luput-dari-perhatian-media-nasi
Tidaklah Rosululloh itu diturunkan kecuali untuk memperbaiki akhlaq umatnya.
Jadi kalo pada saat ini kita masih melihat ada umat, terlebih lagi muslim, masih belum menunjukkan akhlaqul karimahnya maka betapa ajaran rosululloh itu belum merasuk ke dalam kalbunya.
Sungguh ironis, di negeri yang mayoritas muslim, umat yang masih berlabel muslim-pun diinjak-injak oleh umat mayoritas.
Sungguh arogan, bahkan belum terjamin masuk surga pun sudah berani memberikan fatwa ‘sesat’ kepada yang lain.
Sungguh tidak mustahil, agama yang kita anut sekarang-pun bisa dianggap sesat oleh umat yang lain jika kita sebagai minoritas.
Kita sungguh beruntung, agama Islam yang kita anut saat ini tidak di-cap sesat atau bahkan dianiaya oleh kerajaan Hindu yang berkuasa pada saat lalu, meskipun pada saat itu agama kita sebagai minoritas.
Lalu bagaimana mengukur suatu kepercayaan itu sesat atau tidak ?
Jawabannya, selama kita manusia yang memiliki relativitas, tidak bisa.
Tidak lain hanya yang Maha Mutlak yang memiliki hak.
Sungguh bodoh, jika ada umat yang merasa khawatir keimanannya akan terancam dengan adanya ajaran yang berbeda di sekitarnya. Bukannya kita seharusnya sudah memiliki keimanan dan argumentasi yang cukup memadai untuk tudak berubah dari kaidah keimanan kita selama ini.
Sungguh harus kita ingat, Islam adalah agama Rahmatan lil ‘Alamin, memberikan manfaat bagi seluruh alam, termasuk bagi orang kafir sekalipun.
tulisan pak johan sangat menyentuh. tapi sudilah kiranya dengar jeritan hati kami yang mayoritas. jeritan hati bukan hanya milik minoritas; ia tidak pandang bulu. yang kita sesalkan adalah Mirza ghulam ahmad yang menyengsarakan pengikutnya akibat ide-ide sesatnya yang mengangkat dirinya sebagai nabi.
bebas ci bebas…knp c JIL selalu membela yg sesat menurut alquran?sbnrnya JIL islam apa kumpulan orng2 bebas.kl memang JIL membela yg minoritas,knp g bela kaum muslim di ambon maluku?jg asal ngmng kebebasan .knp kami yg ingin menegakan keyakinan syariat islam,tp kami mlh di anggap teroris?wahai kaum JIL,knp kalian tidak membela keyakinan kami,pdhl JIL ktnya jg orng islam.apa orng2 JIL hy islam KTP?islam jg py aturan wahai JIL,jd yg menyimpang dr islam ya kami tidak terima.negara aja kl ada yg menyimpang dr pancasila di katakan salah dan pemberontak.pdhl pancasila cuma aturan manusia yg jaminan kebenaranya di bawah 10%...jglah terlalu naif wahai orang2 JIL.silahkan bersikap liberal dalam hal apupan,tp agama tidak bs di liberalkan.agama ya agama..jg usik kami wahai JIL,krn kami yg bukan JIL jg bebas menentukan ajaran kami…janganlah JIL beranggapan paling benar dg membela yg tidak jelas.karna kt JIL kbnran hanya milik tuhan,jd klpun toh kalian berkoar2,berarti kalian jg sm yg di koarin….tegakan syariat islam setegak2nya,jg usik kami.itu kebebasan kami…itu kl kalian menggunakan arti kt liberal yg sesungguhnya….
Bang JOhan, saya Mau nanya nich, Surat yang sama untuk membela kaum miskin, buruh, petani, gelandangan, pengemis, pengamen dan segepok gelimpangan kaum mustadh`afin lainnya mana yach…????!!!
Mungkin ini pemahaman yang bukan merupakan arus besar umat beragama, karena sering kita terjebak pada hal-hal yang formalistik ketika mengimplementasikan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari, seperti pergi ke tempat ibadah, berdoa seleum makan, dan sebagainya. setelah melakukan ini semua seakan-akan semua sudah selesai dan kita menjadi orang suci.
Menurut pemahaman saya, agama seharusnya membimbing dan menuntun kita untuk menjadi orang yang baik bukan seolah-olah baik. Orang baik tentu adalah orang yang tidak akan pernah mau menyakiti sesamanyaa sekalipun orang tersebut sangat membenci kita. Orang yang baik adalah orang yang bisa menerima orang lain dengan tulus meskipun harus berbeda agama dan keyakinannya. Orang yang baik adalah orang yang bisa menerima perbedaan keyakinan sekali pun kita memandang bahwa keyakinan yang mereka anut menyimpang menurut persepsi kita.
Pendek kata, semua ritualitas yang ada dalam agama sebaiknya kita pandang dan pahami sebagai cara untuk menuju kebaikan. Bukan sesuatu yang baku dan kaku seakan-akan kalau tidak seperti yang ada dalam pikiran kita adalah salah atau sesat dan harus kita singkirkan.
Dalam memandang Ahmadiyah, pada akhirnya kita harus berani melihat hasil akhir dari ajaran yang mereka yakini. Kalau ternyata penganut Ahmadiyah menyebarkan kebencian, maka sudah sepatutnya ajaran yang demikian harus disingkirkan. Tetapi kalau ternyata ajarannya menciptakan orang-orang yang berbudi, kenapa kita harus risau dengan kehadiran ajaran tersebut.
apakah JIL juga akan membela kaum minoritas yg dilabeli dengan “teroris”, apakah JIL juga akan membela kaum dalam kelompok FPI? mereka2 bertindak kan juga berdasarkan keyakinan mereka, masalah tindakannya merugikan/melecehkan/menyalahi pihak lain atau tidak itu kan juga relatif, kalo begitu apa yg salah dengan “teroris” atau FPI itu?
Saya mengenal ahmadiyah sejak muda, yang saya fahami nabinya warga Ahmadiyah, sama dengan warga yg lain yaitu Muhammad SAW yg juga nabi terakhir pembawa Syariat, kitab sucinya Al Quran, Syahadatnya juga Asyhadu alla ilaaha illalla,wahdahuu laa syarikalah Wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasuuluh, mengapa mentri agama yg sekarang (bpk. Surya D A)akan membubarkan jemaat Ahmadiyah sebagai sesama muslim? Mentri-mentri terdahulu kok tidak.Mohon penjelasan agar mantap
Kalau Ahmadiyah dianggap[ sesat terus diusir di negeri ini .... Bagaimana dengan Islam Syiah yang juga punya penganut di sini ? bagaimana pula dengan Islam Jamaah yang beribadah tanpa cela tapi eksklusif dengan masjid id rumah2 sendiri dsbnya….. dan banyak lagi Aliran-aliran islam yang mungkin juga berada di sebelah rumah anda… Jadi saya berpendapat bahwa Islam adalah bagaimana anda berperilaku dengan manusia lainnya…. selain tentunya terhadap Allah SWT
gimana orang islam tidak marah. kalu caranya Ahmadiyah begitu. kalau dilihat itu penganut Ahmadiyah secara hukum itu kena PLAGIAT.
“Kekerasan nonfisik jauh lebih keras daripada kekerasan fisik.” Pemikir Madura.
JIL menganggap FBÌ melakukan kekerasan. Tapi JIL tidak menganggap apalagi sadar kalau dirinya juga melakukan kekerasan nonfisik yang jauh lebih tinggi kadar kebenciannya daripada kekerasan fisik, seperti apa yang tertoreh dalam pesan Pemikir Madura diatas.
Komentar Masuk (31)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)