Butet Kertaradjasa: Surga Yang Mengejar-Ngejar Saya…
Oleh Redaksi
“Suatu kali, saya stress karena ada masalah pribadi. Saya lalu berpikir, kalau datang ke gereja, mungkin itu akan menyembuhkan persoalan. Bayangan saya begitu. Tapi, orang segereja justru nontonin saya dengan wajah penuh heran. Makhluk asing mana yang datang ini, begitu mungkin pikir mereka.” Itulah sepenggal pergulatan iman ahli monolog dan aktor kondang, Butet Kertaradjasa, kepada Novriantoni dan Mohammad Guntur Romli dari Kajian Islam Utan Kayu (KIUK), Kamis (15/12) lalu.
Komentar
Assalamu’alaikum wr.wb,
Sangat menggelitik dan cukup mengocok perut perbincangan antara JIL dengan Kang Butet. Kalau dilihat dari cara bertutur katanya Kang Butet memang sosok pribadi yang sekarepe dhewe, nyeleneh dan humoris. Bisa jadi ini karena sifatnya yang pemalas itu. Sepertinya persoalan kebimbangan dalam menganut suatu agama & keyakinan banyak juga dialami oleh masyarakat kita.
Banyak orang tua beda agama, yang bersikap demokratis terhadap agama apa yang akan dianut oleh anak mereka nantinya. Masalah seagama dan berbeda agama dalam sebuah rumah tangga tidaklah dapat dijadikan suatu parameter rukun/tidaknya rumah tangga kelak.
Mengapa saya bicara seperti ini?karena sudah banyak fakta yang saya temui. Ada yang seagama dalam menjalani kehidupannya bahagia ada juga yang hancur dan sebaliknya, atau malah justru dengan beda agama kehidupan semakin berantakan. Tapi ada juga yang langgeng-langgeng aja. Jadi agama tidak an-sich dijadikan penyebab bahagia/tidaknya suatu rumah tangga.
Karena ada faktor-faktor lain, seperti budaya, ekonomi, ideologi, dll yang ikut pula mempengaruhinya. Namun bukan berarti saya pro atau kontra terhadap persoalan ini. Itu masalah privasi seseorang. Yang menjadi titik permasalahan di sini adalah penting atau tidaknya manusia terhadap suatu agama.
Mengutip pendapat Peter L. Berger bahwa “Agama sebagai kebutuhan dasar manusia, karena agama merupakan sarana untuk membela diri terhadap segala kekacauan yang mengancam manusia”. Di sini tampak bahwa setiap manusia pasti butuh agama demi kelangsungan hidupnya di dunia dan di akhirat.
Namun, persoalan menjadi lain jika ada orang yang beranggapan bahwa “kita butuh agama atau agama yang butuh saya”. Seolah-olah agama sudah menjadi komoditi yang dengan mudah orang melakukan tawar-menawar. Namun yang penting dengan beragama pasti setiap manusia akan menyadari siapa yang menciptakan dirinya, siapa yang dituju dalam setiap suka & duka dan akan menuju kemana kelak ia nantinya.
Memang persoalan agama semestinya tidak dijadikan perdebatan tapi hendaknya agama itu untuk diamalkan. Tampaknya persoalan yang telah dialami oleh keluarga Kang Butet dapat dijadikan cerminan bagi masyarakat. Dari memoar kisah kehidupan sang monolog itu kita dapat mengambil hikmahnya. Dan pastinya setiap manusia punya rasio untuk memilah sisi positif dan negatifnya.
Wassalam
Saya bukanlah diposisi yngg berhak utk mengkomentari urusan seseorang dalam beragama, namun saya kagum dengan pendirian dan keterbukaan Mas Butet. Ada kalimat bijaksana yg saya kutip dari buku tulisan Achmad Chodjim “Syekh Siti Jenar”.
“Di dalam dada ini ada Alquran. Artinya, kitab suci yang ada didalam diri manusia ini yang harus dibaca. Sedangkan kitab suci yang tertulis ini merupakan lampu penerang. Lampu itu kita gunakan utk menerangi kitab suci di dalam dada. Agar kita tidak membaca dalam kegelapan. Karena itu agama apa saja bagi Siti Jenar dan murid2 nya tidak berbeda. Karena fungsinya sama2 sebagai pelita.”
Terima Kasih utk rekan2 di JIL dan atas perjuangannya, sukses dan semoga Tuhan selalu berserta ada semua.
Tet. Aku secara pribadi salut dengan kepolosan dan kejujuranmu. Jarang lho, ada makhluk dengan expert tinggi di bidang seni sepertimu mau bicara jujur, blak-blakan dan opo anane gitu. Terkadang sering lho aku jumpai, seorang muballigh besar dan kondang, juga Pastur, Romo dan Pendeta yang semula aku dengan khusnudzon percaya akan kejujuran dan ketulusannya, belakangan kutahu mblegedes. Ming podo liyane tur akeh tunggale bohongnya dan munafiknya. Hanya lantaran dikemas dengan jubah religiusitas virtuosonya, ya jadilah semua yang mengecewakan itu terkamulfase.
Nek Kang Butet khan ora, eh, tidak. Semua tuturnya prasojo. Opo anane lan sak karepe dewe. Ya.. boleh-boleh saja to! Nek Butet sekarang ini mampune menyikapi agama baru begitu, ya, ben wae. Rep diapakke?
Hanya masalahnya, dengan mencermati mindset-nya si monolog itu, domain kecenderungan hidup yang dijalaninya, masih pada tataran pencapaian harmoni secara horizontal. Kalau dalam Islam itu masih pada tataran muamalahnya. Jadi, soal aqidah dan syariahnya, bagi Butet yang bisa saya lihat, belum ada energi untuk mendekatinya.
Pada tataran awal seseorang beragama, Butet sudah menginjakkan kaki di tangga awalnya. Untuk menapaki tangga kedua dan ketiga dan seterusnya, itu soal alam—pinjam istilah Butet dalam pernyataannya di atas. Kalau dalam istilah agamanya, ya… nunggu hidayah.
Cuma kita juga kagak tahu, nantinya proses alam itu akan membuat Butet beroleh hidayah atau sebaliknya. Wong sampai sekarang ini saja, ia yang belum pernah mengorek alat beragama alias ilmu-ilmunya itu saja sudah bisa merasa dikejar-kejar surga koq. Jadi, jangan-jangan kalau ia nanti sudah beragama betulan, malah nggak ada surga yang mampu menampung besarnya amal, tubuh, jiwa, serta nafasnya si Butet. Mungkin atau mustahilkah ?
Kalau menurut Butet, hal begituan pastilah akan dijawab dengan satu kata singkat: LUWEH. Atau orang Jakarta bilang, nggak tahu dan dengan logat yang saking fasihnya malah jadi N…taau!
Satu hal intingable yang ada dalam diri Butet, sebetulnya, ia itu merupakan sosok yang perfectionis. Dan untuk menjadi perfect ia harus dan wajib serius. Dan seseuatu yang diseriusi tidak bisa diselingi dengan hal lain. Jadi meskipun kekocakannya menjawab banyak kalimat tanya dari Novriantoni di atas, itu tidak bisa dibilang bahwa ia tidak serius. Tetapi justru sebaliknya. Ia sangat serius dalam mengaitkan dunia yang ditekuninya dan mengekspresikannya secara teatral.
Mugo-mugo oleh dalan padang, Tet. Kenapa? Lho, bukannya Tuhan itu maha welas dan asih dan tak pernah pilih kasih. Butet sebagai makhluk yang bernama manusia itu juga menjadi bilangan ummat-Nya. Kalau Tuhan saja bisa memberikan ganjaran surga bagi hamba-Nya yang menolong anjing kehausan di tengah gurun, saya kira tidak mustahil juga untuk Butet yang dengan kebisaannya bermonolog juga telah menyelamatkan kendil sekian keluarga di luar keluarganya sendiri. <div align=“center”>***</div>**
Saya salut karena Anda tidak terjebak dalam pandangan sempit agama Kristen. Tapi Anda juga hebat sekali meremehkan sebuah keyakinan. Padahal demi sebuah keyakinan pun seseorang rela mati.
Saya salut dengan keterbukaan Anda mengenai cara pandang Anda tentang agama. Imajinasi saya langsung merespon melalui email ini, agar Anda mau membaca sebuah buku yg berjudul “Dialog dengan Tuhan” by Neale Donald Walsch. Buku ini cocok utk segala agama, terutama utk mereka yg rindu dpt berbicara atau berkomunikasi dengan Tuhan.
Selamat membaca…. Tuhan telah menolong Anda.
Wahhhhh, Mas Butet seruuuu. Hidup JIL deh dengan ide-ide kreatifnya. Meskipun berlandaskan Islam, tapi cukup demokratis untuk mau berbagi rasa. Mas Butet sepert acara di tv deh (busyeeeeet). Di ANTV kaleee, Bteeeeeeet, hehehe. Hanya faktor malas alasannya untuk tdk beragama, dgn hanya pandangan ego sendiri agama itu tefungsikan dalam hati; jika aku sedang bingung. Wah, seru juga tuh! Mas Butet punya rencana ga’ bikin agama baru; ntar aku ikutan, deh, hehehe.
“Kalau manusia itu terlahir memang karena tercipta, bukan dicipta, kenapa agama itu harus ada?”
Membaca hasil wawancara Anda dengan JIL, kok ada yach orang nyeleneh soal agama di Indonesia? Jadi cukuplah satu orang nyeleneh di Indonesia, jangan ada orang lain yang lebih nyeleneh. Wong negera sekarang masih bingung kalau ngurusi tanggapan dan pola pikir yang nyeleneh, ya tambah bingung. Saran saya, yang belum jadi orang nyeleneh, nggak usah ikutan jadi nyeleneh.
Sama dengan Kang Butet, saya juga merasa sangat terganggu dengan kolom agama di KTP dan di berbagai formulir isian. Tahun lalu saya mendaftarkan anak saya di kelas 1 SD. Sengaja saya memilih sekolah sekular untuk menghindari urusan agama. Sekolah ini pada awalnya tidak memasukkan pelajaran agama di dalam mata pelajarannya.
Setelah berjalan satu bulan, saya mendapat surat dari sekolah yang menyatakan para orang tua murid menuntut adanya pelajaran agama bagi semua murid. Saat itu saya sangat marah, tetapi sebagai “minoritas” tidak berdaya menentang arus “mayoritas”. Sebagai bentuk protes (entah pada siapa), saya mendaftarkan anak saya di kelas Buddha, karena menurut saya, Buddha lebih merupakan ajaran hidup daripada agama. Mungkin saya salah, entahlah…..
Suami saya “terlahir” sebagai Islam. Saya sendiri “terlahir” sebagai Katolik. Tidak ada di antara kami yang melakukan ritual agama. Bahkan secara berolok-olok kami sering berkata bahwa agama kami adalah “hari libur”. Kami merayakan semua tanggalan merah.
Kejadian di atas merupakan hasil dari pergumulan kami berdua melihat tidak adanya korelasi antara “beragama” dengan “menjalankan agama”. Ritual agama sering digunakan untuk membungkus perbuatan tercela. Bukankah para koruptor itu adalah orang-orang yang mengaku beragama dan rajin melakukan ritual agama?
Selain itu, agama hanya mengotak-ngotakkan orang, dan saya sudah lelah dengan itu. Hiduplah dengan baik, hargai sesama manusia, hargai perbedaan, jangan mencuri, jangan korupsi, jangan mengambil hal-hal yang bukan hak anda. Selebihnya biarkanlah yang di Atas yang menentukan…
Ada kata mutiara (kurang lebih) sbb: Sebagian orang menganggap disiplin mengekang mereka, membuat mereka tidak bebas. Namun sebenarnya dengan disiplinlah kita akan merasa bebas.
Jika perut kita lagi mules-mules dan terasa mendesak ingin ke belakang (mohon ma’af), walau jam 1 pagi sekalipun, walau sedang ngantuk berat, walaupun sedang malas, mau nggak mau kita harus segera ke belakang (mohon ma’af, buang hajat maksudnya).
Suatu terapi kejut buat orang yang lagi malas bangun. Buat si pemalas, memang diperlukan terapi kejut, misalnya: mules-mules, demam, lumpuh, stroke. Inilah terapi kejut dari Sang Maha Pencipta, supaya kita ingat kepada-Nya, melaksanakan perinta-perintah-Nya.
Bagi sebagian orang, melaksanakan perintah-perinta-Nya dengan disiplin adalah suatu kebutuhan, bukan lagi sekedar pemenuhan akan pelaksanaan atas perinta-perintah tsb.
Islam adalah sebuah pilihan. Banyak pilihan yang lain. Semua orang bebas memilih ; bebas sebebas-bebasnya. Tidak ada tekanan dari siapa pun. Kalau ada yang menekan, pastilah ia bukan Muslim, atau tidak paham ajaran Islam yang sebenarnya. Pilihannya jelas : Islam atau tidak. Ini adalah sebuah pilihan. Pilihan yang Anda ambil akan menentukan nasib Anda seterusnya. Tentu saja, Anda akan selalu bisa merevisi pilihan Anda selama Anda masih bernapas. Tapi sampai kapan?
Sebuah pilihan adalah sebuah pilihan. Tidak ada seorang pun manusia yang punya hak untuk melarang kita membuat sebuah pilihan. Tidak ada juga yang berhak membatasi pilihan kita. Semua pilihan yang bisa diambil telah disajikan di atas meja, bagaikan hidangan yang siap disantap. Bedanya, kita bisa memilih untuk melahap semua hidangan. Logika yang sama tidak bisa digunakan dalam kasus yang sedang kita bicarakan ini.
Pada dasarnya, semua orang pasti melalui sebuah tahapan dalam hidupnya ketika hati kecilnya sendiri bertanya : “yang manakah yang benar?”. Tahapan ini cenderung ‘menakutkan’ bagi sebagian orang, karena pertanyaan di atas mengguncangkan semua prinsip yang telah diajarkan kepada kita sebelumnya. Semua jawaban yang telah kita terima sebagai kebenaran, yang dulu kita terima sebagai sebuah dogma yang tidak perlu dipertanyakan, kini menghadapi sebuah tantangan besar. Manakah yang benar? Apakah yang kita anggap selama ini benar memang sungguh-sungguh benar? Apakah jaminannya? Manakah bukti-buktinya?
Sebagian orang tua pun merasa gamang ketika melihat anak-anaknya harus menghadapi pertanyaan ‘seberani’ ini. Kalau bisa, tentu mereka ingin menghindar. Tentu hati mereka akan lebih tenang sekiranya anak-anaknya tetap yakin dalam agama yang diwariskan dari orang tuanya. Akan tetapi, harapan ini tidaklah realistis, karena akal manusia bagaimana pun harus bekerja. Tidak ada yang bisa mencegah pergulatan pemikiran dalam benak seorang manusia. Kalau dicegah, ia malah akan berontak. Kalau pun kita berhasil mencegahnya bersikap kritis, maka ia hanya akan jadi orang bodoh yang penurut. Umat Islam tidak membutuhkan Muslim yang seperti ini.
Jadi bagaimana? Haruskah kita membiarkan semua orang berpikir secara ‘bebas’? Haruskah kita berdiam diri menyaksikan orang-orang di sekitar kita membuat kesimpulannya sendiri-sendiri?
Pada hakikatnya, tidak ada akal yang memiliki sifat ‘bebas’. Kata “akal” dalam bahasa Indonesia berasal dari kata “‘aql” dari bahasa Arab. Turunan dari kata ini memiliki makna “ikatan”. Artinya, justru akal manusialah yang memiliki fungsi untuk ‘mengikat’ manusia, bukan membebaskannya untuk berbuat semaunya. Akal manusialah yang membantunya membedakan mana yang benar dan mana yang salah, dan mencegahnya mengambil sebuah pilihan yang keliru. Akal membuat manusia setia pada standar kebenaran yang dianutnya. Tidaklah logis mengaitkan akal dengan ‘kebebasan’.
Karena itu, janganlah khawatir pada orang-orang yang menggunakan akalnya. Selama mereka menggunakan akal sehatnya, maka mereka akan selalu berada pada jalur yang aman. Diskusi antar orang-orang berakal sehat akan lebih mempercepat proses pematangan ini. Yang penting, kita harus selalu yakin bahwa yang kita gunakan adalah akal sehat, bukan hawa nafsu.
Saya beri sebuah contoh. Dalam sebuah diskusi antar teman, misalnya, kita mendiskusikan partai apa yang akan kita coblos pada Pemilu mendatang. Setelah masing-masing mengutarakan pilihannya (memang rahasia, tapi karena diskusi ini antar teman, terkadang yang rahasia pun bisa diungkapkan), maka langkah logis berikutnya adalah mengutarakan sebab yang menjadi latar belakang pilihannya itu. Jika memilih partai A, apa alasannya? Jika memilih partai B, apa alasannya? Kalau bisa, perlu juga diutarakan alasan mengapa tidak memilih partai selain pilihannya itu. Akan tetapi, kalau jumlah partai sangat banyak, bolehlah langkah terakhir ini dilewati.
Sekarang, bisakah semua orang mengutarakan alasannya mencoblos partai tertentu dalam Pemilu? Kalau mau jujur, tidak semua orang memiliki alasan yang jelas. Seringkali, masyarakat mau mencoblos Partai A, misalnya, karena alasan-alasan semacam ini : partai A mau membagi-bagi uang pada saat kampanye partai A mau membagi-bagi kaos gratis bagi siapa pun yang mau mendukung kampanyenya partai A mengadakan acara dangdutan di kampungnya kepala desa memberi instruksi pada warganya untuk mencoblos partai A seluruh keluarga sudah menyatakan diri akan mencoblos partai A teman-teman sekampung juga banyak yang mencoblos partai A partai A banyak benderanya, sehingga membuat kota nampak ‘semarak’ dan sebagainya
Semua alasan di atas, kalau kita berani jujur, adalah jawaban yang berdasarkan hawa nafsu. Apa yang dilakukan sebuah partai pada musim kampanye sama sekali tidak mencerminkan kualitasnya. Kampanye hanya terjadi sekali dalam lima tahun. Apa saja yang dilakukannya selama empat tahun di antaranya? Partai yang habis-habisan dalam kampanye justru mengindikasikan adanya budaya buang-buang duit, dan karenanya, semakin meriah kampanyenya, semakin tidak perlu dicoblos. Kalau partai itu memang berniat membela rakyat, seharusnya dana untuk membuat bendera, spanduk, dan baliho yang ribuan lembar itu bisa digunakan untuk keperluan lain. Sayangnya, sedikit sekali yang mau berpikir objektif. Kalau ada partai yang memutuskan untuk tidak buang-buang uang pada saat kampanye, maka partai itu akan menghadapi resiko jatuhnya ketenaran.
Akal sehat dan hawa nafsu. Jelas perbedaannya. Akan tetapi, tidak semua orang bisa jujur pada dirinya sendiri.
Kembali pada tema utama. Islam adalah sebuah pilihan. Mau atau tidak mau, dicegah atau tidak, setiap manusia akan sampai pada suatu tahap (bahkan mungkin berkali-kali mencapai tahap itu) di mana mereka mempertanyakan agamanya sendiri. Salahkah manusia yang bertanya-tanya? Salahkah akal yang menginginkan sebuah jawaban yang jelas?
Saya terlahir sebagai seorang Muslim, dari sebuah keluarga yang Muslim pula. Saya berdarah Minang, dan tidak ada orang Minang yang tidak Muslim, kecuali diancam atau dihipnotis. Inilah fakta sejarahnya. Seluruh keluarga saya Muslim, dan tidak seorang pun yang pernah membuat wacana untuk keluar dari Islam. Ketika saya menginjak usia SMP, saya mulai mempertanyakan Islam.
Segala puji bagi Allah yang telah menuntun hamba-hamba-Nya dalam mengenali kebenaran, melalui akal sehatnya. Bagi saya kini, Islam bukanlah dogma. Islam adalah sebuah pilihan akal sehat. Islam adalah satu-satunya jawaban yang memuaskan logika. Agama ini bukanlah warisan orang tua, bukan pula tradisi orang Minang, dan bukan pula perintah guru-guru agama yang sangat saya hormati. Islam adalah sebuah pilihan yang telah saya buat setelah ‘bertarung’ ribuan ronde dengan berbagai pertanyaan yang berkecamuk. Saya mempertanyakan semua hal dalam Islam, mulai dari Dzat Allah SWT sampai pada alasan memuji Allah setelah bersin. Seringkali saya terpancing untuk mengikuti jawaban yang disodorkan oleh hawa nafsu, tapi Allah terus membimbing akal sehat saya ; akal sehat yang tidak pernah membiarkan saya bebas. Saya harus selalu tunduk pada kebenaran.
Saya hargai pendapat mas Butet.Islam adalah pilihan saya. Apakah pilihan Anda?
Logika mas Butet baru menggunakan pemikiran atau “theory” untuk memahami masalah-masalah gaib seperti surga dsb. Makanya tidak mengherankan jika mas Butet “ragu” tentang ada-tidaknya surga dan atau tentang kebenaran agama.
Logika tersebut akan lengkap jika ditambah dengan bukti yang valid atau katakanlah “paling valid” yang ada di muka bumi.
Setelah melalui pemikiran yang mendalam, saya bisa katakan bahwa satu bukti yang paling valid dimuka bumi ini tentang hal-hal gaib adalah ayat-ayat Alquran. Mengapa? karena Alquran adalah informasi dari Tuhan pencipta alam semesta ini yang dijamin “keasliannya dan kebenarannya” hingga akhir jaman. Tuhan berkata dalam Alquran, Surat Al Hijr ayat 9 yang berarti “ Sesungguhnya Kami telah menurunkan Alquran dan sesungguhnya Kami tetap memeliharanya” (Dep Agama RI, 1989, Alquran dan Terjemahannya, Toha putra, Semarang, halaman 27 atau halaman 391).
Alquran dipelihara dari pemalsuan. Ini tidak doktrin atau mitos. Tuhan sangat fair dan blak-blakan dalam hal ini. Jika ada manusia yang meragukan kebenaran alquran dan informasi yang dikandungnya, manusia tsb ditantang Tuhan untuk membuat satu surat saja yang setara dengan Alquran. Tidak banyak, karena satu ayat bisa berarti satu baris saja. Tuhan berkata dl Alquran surat Albaqarah ayat 23 dan 24 yang artinya “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” “Maka jika kamu tidak dapat membuat (nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat (nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (online: http://quran.al-islam.com/Targama/dispTargam.asp?l=Ind&t=ind&nType=1&nSora=2&nAya=23)
Kenyataanya sudah sekitar 1400 tahun sejak alquran diturunkan tidak ada manusia yang bisa membuatnya. Bahkan menurut saya, seluruh manusia, jin, dan setan secara bersama-sama tidak akan mampu melakukan “pekerjaan kecil” sekedar memalsukan atau sekedar mengacak-acak Alquran. Ini tentu satu mukjizat yang sangat besar bagi orang-orang yang berfikir.
Nah Tuhan sudah fair dan blak-blakan, manusia pun seharusnya fair dan blak-blakan. Jika memang manusia tidak bisa mengalahkan “tantangan Tuhan” sewajarnyalah manusia mengkui kebenaran informasi yang dikandung di dalam Alquran. Informasi tentang adanya akherat, surga, neraka dlsb sangat banyak dalam Alquran. Salah satu info tentang surga ada di ayat albaqarah ayat 25 yang berarti, Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.” (online: http://quran.al-islam.com/Targama/dispTargam.asp?l=Ind&t=ind&nType=1&nSora=2&nAya=23)
Akhir kata, terimalah tantangan tuhan tsb untuk membuat satu surat seperti Alquran. Jika tidak mampu sendiri bekerjasamalah dengan siapa atau apa saja. Jika tidak mampu juga, percayalah pada info yang dikandungnya, agar tidak termasuk orang yang sombong. Nuwun. saya hanya menambah logika mas Butet… Salam manis dari Perth, Australia untuk JIL dan rekan2. Aku tonggone mas Butet koq… he..
Saya kira banyak orang yang seperti mas Butet, yang menganggap bahwa bertuhan atau beragama adalah urusan pribadi yang mestinya tidak diintervensi oleh siapapun, termasuk negara atau society.
Mungkin banyak yang “schocked” dengan ucapannya atau memandang negatif sifatnya yang malas atau nyeleneh. Tapi sungguh saya menghargai kejujurannya mengemukakan apa yang ada di kepala dan hatinya. Tidak ada standar ganda. Tidak ada keraguan atas apa yang diyakini atau kekuatiran untuk menyampaikannya. Suatu hal yang “mahal” di masa sekarang, terutama di Indonesia.
Semoga di Indonesia semakin banyak orang yang bisa menghargai hak-hak asasi manusia, termasuk dalam urusan ber-tuhan atau beragama. Terimakasih, JIL.
Saya sependapat dengan apa yang telah disampaikan oleh mas Butet dan juga oleh pemaparan komentator. Tapi disini saya juga punya sebuah pemaparan dalam hal yg terkait.
Intinya, jika pemahan seorang manusia mempunyai konsep hidup yg uiversal tanpa adanya pemetakan yg lebih kearah golongan tertentu atau bisa dikatakan lebih demokrat, tapi tidak mengesampingkan kepentingan orang lain dan tidak mengganggu orang laen, saya kira itulah yang lebih bermakna dari interaksi manusia dibumi ini.
Karena kita semua tahu bahwasannya kita hidup dalam komunitas heterogen dan kita disini jg hidup bersama dan saling mempunyai keterikatan dan saling menggantungkan dengan sesama. Maka apakah tidah akan lebih baik jika kita bisa saling toleransi dalam hidup ini, jadi tidak selalu mengedepankan kehendak pribadi atau golongan untuk hal-hal yg sifatnya semu…..
Pada dasarnya apa yg telah disampaikan oleh mas Butet tentang bagaimana cara kita mengilhami hidup bersama didunia ini, yakni kita hidup beragam suku, ras, agama dan yg lainnya, saya kira kita semua harus paham tentang filosfi semua itu..
Tanpa kembli kesitu kita akan menjadi subyektif dalam hidup ini, padahal justru sebaliknya realita yg ada dibumi ini…. apalagi kita semua telah mendengar isu yang telah digembor-gemborkan bahwa kita akan menatap globalisasi. Maka sudah seharusnya kita semua bersikap yag lebih bijak, marilah hidup rukun didunia dan kita sama-sama saling mengarungi kehidupan yang damai, bahagia, ada saling pengertian, toleransi, bisa menghargai, dan mengasihi terhadap sesama.
Dengan sikap seperti itu bukankah kita akan menuju kebahagiaan bersama baik didunia maupun disurga. Kita semua, saya kira mempunyai agama walaupun mungkin hanya ada yg tertulis di KTP.
Nah permasalahannya bagaimana cara kita memandang ajaran-ajaran yg ada didalamnya dari masing-masing agama tersebut.. apakah ada dari ajaran-ajaran agama tertentu yang mengajarkan permusuhan antar manusia, apa yang menjadi dasar untuk melakukan semua itu, saya kira tidak ada, karena semua ajaran agama hanya satu yaitu bagaimana menuntun manusia dalam hidup ini bisa ingat kepada Tuhan, maka dengan mereka para manusia ingat terhadap Tuhan disinilah hidup bersama yang rukun akan tercapai. Akan tetapi permasalahannya tidak segampang itu, kita semua tahu bahwa kita mempunyai karakter yang berbeda dan berangkat dari latar belakang yang berbeda pula begitu juga dengan tingkat SDM yg dimiliki, maka tidak heran kalau muncul pemahaman dan perspektif ajaran agama yang berbeda dalam hidup ini. Sebenernya baik dengan kita mempunyai perbedaan seperti halnya beda agama, akan tetapi kenapa dengan pemahaman manusia yang serba terbatas yang mungkin karena kualitas SDM yang terlalu sempit, sudah berani berkoar - koar tentang ajaran agama dan mereka bilang bahwa apa yang mereka katakan itu yg menjadi dasar kitab suci….. Pertanyaannya apakah didalam kitab suci mengajarkan bahwa agama yg paling benar hanya agama tertentu…. saya kira tidak.. karena menurt saya dengan agama yang ada yang diturunkan melalui nabi - nabi itu merupakan sikap Tuhan yang sangat mulia dan baik sekali, filosfi dari semua itu yaitu bagaimana agar manusia bisa ingat kepada Tuhan, maka dengan adanya agama - agama untuk ajarannya jg berbeda pula tapi tujuannya jelas cuma satu yakni Tuhan hanya satu dan bagaimana cara hidup bersama didunia, jadi kalau terlalu idealis bahwa agama tertentu yang paling benar itu salah besar…. semua agama mempunyai ajaran yang sama benar walaupun teori dan prakteknya berbeda, dan juga Tuhan hanya satu…. Jadi sekarang tergantung pribadi masing - masing bagaimana memposisikan diri terhadap perspektif tentang ajaran agama, bagaimana cara mengapresiasikan ajaran agama, bagaimana harus mempunyai persepsi tentang ajaran agama, jadi yang harus kita jadikan dasar hidup kita adalah keyakinan diri kita dengan pemahaman yang benar dari kitab suci, bukan dari pemahaman subyektif, karena kitab suci merupakan ajaran dari Tuhan, jadi tidak mungkin kalau mengajarkan untuk membenci, menyakiti, memusuhi… terhadap sesama. sama seperti apa yg telah disampaikan oleh mas Butet yaitu dengan kita sudah bersikap baik terhadap sesama, menolong orang itu merupakan dari ajaran agama, dan satu lagi dia tidak bicara mengatasnamakan ajaran kitab suci, sikap yang diambil saya sangat salut sekali dia begitu tulus bicara dan ngomong apa adanya bahwa dirinya belum paham betul tentang agama… yg menjadi dasar hanyalah bagaimana hidup bisa saling menghargai, jujur, tidak memusuhi orang lain, memberi kebebasan. Smua itu bagi saya merupakan sikap orang yang sangat mulia, tidak seperti orang-orang yang bicara mengatasnamakan ajaran dari kitab suci, yang biasanya memaksakan kehendak sendiri tanpa melihat yang ada disekitar.. sebenarnya saya paham dengan semua itu, ya itulah manusia sifatnya yang egois jadi dengan memahami sedikit saja tentang ajaran yg ada di kitab suci, maka sudah berani bertindak, padahal semua itu salah… apa tidak salah kalau membuat orang laen susah, membuat orang lain sakit hati…. saya kira anda semua tahu, jadi marilah kita semua intropeksi terhadap diri kita masing - masing, biar terjalin kehidupan bersama yang indah tanpa ada permusuhan… tapi jika masih belum bisa berubah, jadi konklusinya sudah jelas,, siapa saja yang mempunyai pandangan picik dan sesat… jadi marilah kita lebih saling menghargai tanpa mendiskreditkan golongan tertentu dengan membenci dan permusuhan…..
Menarik sekali perbincangan dengan mas Butet..
Cara mendidik pak Bagong seperti itu mungkin ada baik dan tidaknya. Baik: karena anak bisa memilih sendiri agama yang mau dipilihnya. Tidak baik: kalau tidak ada bimbingan yang cukup dari orang tua, institusi agama (masjid, gereja, dll dan para teolog), nanti kasihan si anak jadi bingung.
Yang saya tidak mengerti kenapa BERAGAMA itu menjadi sesuatu yang penting bahkan mungkin lebih penting daripada BERTUHAN dan BERIMAN, kenapa MELAKUKAN RITUAL itu menjadi penting bahkan mungkin lebih penting daripada MENGHAYATI ajaran. Ini adalah paradigma yang harus bangsa Indonesia ubah.
Saya rasa pertanyaan pewawancara dari KIUK (“Tapi, tidak menentukan agama buat anak, bukan berarti Anda tidak mengajarkan baik-buruk alias budi pekerti, kan?”) itu kurang tepat, karena agama sebaiknya tidak disamakan dengan budi pekerti. Kita BISA SAJA berbudi pekerti, bermoral, baik, sopan, rajin, disiplin, dst MESKIPUN tidak beragama. Menurut saya agama itu masalah IMAN bukan tetek bengek seperti ritual, cara bernyanyi, model lagu dalam ibadah, baju yang dikenakan dll. Maaf kalau ada yang tidak sependapat. Feel free to do that.
Sebagai orang yang lahir beragama Kristen dan kemudian dipanggil dan memilih mengikut Yesus, saya turut kecewa dengan gereja yang kurang bahkan tidak “membuka pintu” untuk orang baru (atau yang baru kembali lagi) seperti mas Butet yang merasa seperti mahluk asing, ini bertentangan dengan ajaran Yesus dalam perumpamaan di Lukas 15:11-24 (http://www.sabda.org/sabdaweb/passages/?p=Luk+15:11-24&s=on). Ini masih menjadi tantangan bagi gereja untuk bisa lebih membuka diri, seperti masjid yang OPEN 24 hours.
Dalam wawancara tsb ada pertanyaan “Kira-kira, kapan Anda rindu ingin beragama secara penuh?”. Saya mempertanyakan pewawancara dari KIUK mengenai konsep beragama secara penuh. Apa artinya? Apa dampak atau efeknya kalau seseorang beragama secara penuh?
Saya setuju dengan konsep “surga yang mengejar2 saya”, kalau itu artinya adalah Tuhan yang menjangkau manusia berdosa. Karena iman saya mempercayai bahwa saya yang manusia penuh dosa ini tidak akan mungkin mencapai keMahaKudusan, maka Sang Maha Kudus lah yang mendekatkan diriNya pada saya, mengangkat si pendosa ini dan mencuci bersih (mungkin juga menggantikan baju yang compang-camping dan meninabobokan sambil berkata “Kuampuni kamu dari dosamu dan jangan mengulanginya lagi, anakKu sayang.”) Jadi “Surga Yang Mengejar-Ngejar Saya…” itu bukan sekadar judul yang eye-catching dan menggelitik.
Satu hal lagi, menurut saya beriman itu berarti juga bersaksi, kalau tidak salah dalam Islam istilahnya adalah “syiar”, maaf kalau salah. Dengan besarnya talenta yang diberikan Tuhan pada mas Butet, saya harap dan doakan supaya mas Butet menggunakan talenta itu untuk bersaksi tentang IMAN mas Butet, BUKAN tentang AGAMA lho!
Salam sejahtera. Tuhan memberkati kita semua.
——-
Mas Butet
Lucu jg ceritanya, apalagi masalah nikah jd muslim, trus pindah krsten lagi dengan alasan dulunya untuk menyenengkan mertua. Cemen sekali Mas Butet, cetek skali pemikrannya dan sangat egois tuh…kl sy sebagai wong lanang, alias jantan, tindakan tersebut BAnci sekali…
Apakah itu yg disebut tindakan yg benar secara universal? Yg diagungkan mas butet? Bagi hampir semua orang, agama adalah hal yg paling dasar, eh dipermainkan gt aja, anak orang pula tuh.. Kl sy bilangnya bukqn munafik, tp BANCI.. Soalnyq walau dlm agama Islam atay Kristen, dilarang tuh..ehh malah diinjak2 sama orang yg mengagungkan akal manusia yg cuma sekepal tangan dan sangat cetek ini..
Komentar Masuk (15)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)