Syari’at, Untuk Siapa?
Oleh Ahmad Shams Madyan
Tantangan kita memang cukup berat untuk meletakkan ‘Islam’ dan ‘Syari’at’ dalam konteks pluralitas agama. Manakah yang didahulukan, klaim-klaim kebenaran sendiri, ataukah kerendahan hati untuk menerima ‘yang lain’ sebagai orang-orang yang juga berhak memilki klaim kebenaran yang berbeda?
Komentar
Perjuangan untuk tercapainya kemanusiaan yg adil dan beradab lewat agama memang sesuatu yg mustahil sebab dalam praktek pelaksanaan syariat,masing2 agama tidak mampu menghargai keberagaman dan beda pendapat.
JIka kalian ingin merendahkan diri, maka yang utama ialah kepada Allah [Tundik taat untuk dan dalam melaksanakan Syariatnya. ngapain menghargai pendapat manusia banyak yang realitinya sekarang ini huru-hara, baik dalam bernasional atao berekonomi, semuanya berantakan.
saya heran dengan cara kalian berfikir, tidak ubah seperti PAULUS dahulu atau JIL sekarang. Yaitu menjaja kebatilan dan mengajak orang keneraka.
Islam belum pernah dicoba, tetapi telah diwartakan sebagai agama yang ganas, baik oleh islam sendiri atau terutamaa oleh orang-orang kafir, tetapi realitinya kafirin lah yang paling ganas brutal mesara diganasi dalam keadaan mengganas.
mulai dari perang salib pertama, sehingga kezaman penjajahan dan sampai sekaranga, Al-Qaedah / taliban / JI tidak akan wujud jika kafirin barat tidak meletakkan YAHUDI di tanah haramnya sekarang ini, dan juga jika AS tidak menceroboh / menggila di Iraq / Afghanistan dan somalia, TIMOR Leste pun tidak akan sekuat mana jika bukan dari sokongan ganas Barat itu.
bahasan-bahasan model begini kerap ditemui di literatur2 lama/kuno, kuno bisa dalam kerangka waktu maupun kuno dlm pengertian jauh dari topik2 kekinian yang real-kontemporer, dan ujung2nya hanya perselisihan beretorika, membentur-bentur kenisbian pemahaman. Ajaran Islam sudah memutus kemelut kontra produktif model-model spt ini dengan tegas, pada intinya beragama adalah masalah keyakinan dan komitmen.
kalau syariat ug adalah tuntunan moral dijadikan aturan positif seperti hukum maka.sudah jelas akan gagal dan berdarah darah. gak ada orang yang suka didikte.
Yg ideal tetap demokrasi dan hukum positif. Syariat /agama tetap taruh diranah pribadi saja.
jika tetap dipaksakan maka akan terulang kejadian dari abad ke 6 sampai 14. belajar dari kesalahan adalah bijak.
Masalahnya sekarang ialahg; JIL ini mengajak orang lain menghargai pendapat mereka yang berdasar akal yang cetek, dalam keadaan mereka tidak mengharhargai pendapat orang yang berdasar wahyu Allah….Mari kita berlogika sehingga tidak bisa dibantah lagi seperti berikut….......
Kamu JIL, punya hukum untuk pencurian, Allah pun punya hukum untuk pencurian. Kata kamu jika menurut hukum kamu itu negara akan aman damai dan makamur, tetapi bukti dan realitinya, semakin banyak pencuri dan sedang berkembang keorganisasiannya sehingga bertaraf perampok, akibatnya, rumah batu tidak cukup melindungi penghuninya. sementara hukum potong tangan pula yang dilaksanakan oleh beberapa buah negara, barang dagangan yang terbuka di halayak tidak disentuh oleh orang, karena mereka merasa gerun. tetapi itu hanya sebahagian hikmahnya, jauh dari itu ialah keberkatan dari taat setia kepada Allah yang punya hukum itu. Ingat Arab saudi itu tidak mengamal seluruhnya, karena dalam islam kuas mutlak ditangan rakyat untuk melaksanakan hukum Allah itu, tetapi hukum kamu itu hanya untuk rakyat bukan untu pemimpin ytang mencipta hukum itu. Ruangan ini terlalu sempit untuk menjelaskan kelogikaan itu, oleh itu kepada siapa yang ingin tahu utuslah email kamu kealamat (.(JavaScript must be enabled to view this email address)).
“Tidak lah diutus seorang rasul pun kecuali untuk mengajak manusia hanya menyembah Allah dan menjauh dari Thaghuut”. (Al-Quran). Thaghuut itu ialah pelampau/ melampaui batas [Syariat/ peraturan Allah]. Tidak ada orang yang menyembah Amerika, Sekularis dengan ritual khusus, tetapi mereka hanya mengikuti dengan redo apa-apa yang datang dari thaghuut itu, itulah takrif “Menyembah Amerika”
“Jangan kamu menyembah setan” (Q:S:Yasin). Tidak ada orang menyembah setan seperti yang saya sebut itu, tetapi mereka hanya mengkuti apa yang menyalahi Al-Quran, itulah “Menyembah”.
kemana akal kamu diletakkan?. cobalah jujur, terutama kepada diri kamu sendiri.
Mari lihat realiti; Indonesia telah tuntas melaksanakan segala kehendak JIL. Peran Ulama telah diganti oleh JUHALA’, tetapi semakin hari semakin mencekam ketidak adilan, baik sosial-ekonominya atau moralnya, semuanya menghampiri kebejatan penduduk negeri SODOM dan POMPEYYE, Bukankah melihat realiti seperti ini cara mengukur keberkesanan sebuah sistem atau idiologi?,
Buat Mbah Sukur!!. siapa bilang islam tidak menghargai keragaman yang Allah ciptakan?. Justeru Kafirin barat lah yang bersifat demikian terhadap islam saja, tetapi bagi komonis China misalnya, mereka diam walaupun berbuat apa saja, tetapi lihat diaceh, Baru saja hendak MENCOBA melaksanakan syariat, mereka sudah membebel seperti cacing kepanasan. Apa salahnya diam dan lihat?. buktinya, di Aceh sekarang tidak pernah masuk BUSER atau SEGAP. Allah punya UU. Kamu pun punya UU. laksanakan saja menurut seperti yang telah di Draf atau yang telah di Gubal. suka hati orang lah! itulah Islam “Untuk Kamu agama kamu. untuk aku agamaku”. tetapi kafirin itu tidak!, untuk aku agamaku, untuk aku juga agama kamu”.
Joko, keliatannya apa saja yang ditulis di milis ini salah semua, walaupun para penulisnya pakar islam sekalipun. Dan jawaban kamu hanya emosi belaka tanpa menggunakan rasio. Sebaiknya gabung aja ke situs Hidayatullah.com biarkamu bisa puas jelek2in.
“Dalam hal ini, al-Qur’an menyatakan bahwa Muhammad adalah penunjuk dan pengarah, yang memiliki agama (Dien) yang sama dengan agama yang diwahyukan kepada Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa [Yesus] (Q.42: 13, 16:36 dan 35:24)” : yang dimaksud tulisan Isa (Yesus)itu gimana??? kalo yg dimaksud Isa itu = Yesus, JELAS BANGET YANG NULIS ARTIKEL INI NGAWUR…ALIAS BUKAN ORANG ISLAM… karena dalam ISLAM, ISA itu BUKAN YESUS…!!!!
Komentar Masuk (11)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)