05/08/2009

Syekh Yasin al-Fadani dan Nasionalisme Indonesia

Oleh Ulil Abshar Abdalla

Informasi dari Martin van Bruinessen ini menarik karena memperlihatkan sosok Syekh Yasin bukan saja sebagai seorang alim yang mempertahankan doktrin Sunni di tanah haramain, tetapi juga seorang nasionalis yang memiliki kecintaan pada tanah air. Tahun saat madrasah Dar a-‘Ulum itu berdiri, yakni 1934, jelas merupakan periode di mana gerakan-gerakan nasionalis yang memperjuangkan kemerdekaan di tanah air sedang mencapai tahap kematangan.

05/08/2009 10:35 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (12)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Sebenarnya masalah agamis dan nasionalis itu baru diributkan muncul sejak tahun 85-an, berbarengan dgn munculnya fanatisme agama di kampus-kampus terutama penyebaran wahabisme. Di kalangan keluarga saya yang sebagian besar abangan dan sebagian kecil NU tradisional tidak ada masalah. Keduanya turun di medan perang perjuangan kemerdekaan hingga penyerahan kedaulatan tahun 50-an. Bahkan para abangan yang kebanyakan pegawai negeri/BUMN itu memberi dukungan kepada yg santri misalnya ikut menyumbang pembuatan sekolah/pesantren bahkan untuk biaya naik haji. Yang santri juga akan selalu menjadi pendoa di hajatan-hajatan keluarga atau ngajarin baca tulisan arab. Baik buruknya seseorang dinilai dari perilakunya. Saya sangat merindukan keadaan spt ini. Saat ini bahkan antara sesama keluarga yang beragama Islam tp beda aliran saja saling gak akur dan sering saling menyindir/mengejek atau nggak mau nyampur.

#1. Dikirim oleh nurcahaya  pada  07/08   04:29 AM

pertama kenal sosok syeikh yasin di jakarta tepatnya di masjid al amjad kebayoran baru, karena ayah saya dan para ustadz di jakarta secara rutin megikuti kajian kitab hadist yang diajarkan oleh murid beliau KH. Abdul hamid. (alm).Tahun 90 an saya sempat berjumpa dengan syeikh yasin dalam satu majlis.karena kejujuran dan keberanian menyuarakan pendapat yang berbeda dengan kerajaan, maka beliau dan sayid Muhammad al maliki dicekal mengisi taklim di masjidil haram, cerita ayah saya.dan tidak secara kebetulan jika kakek saya pun KH. Bisri Mustofa menjadi santrinya…....

#2. Dikirim oleh muhammad basyir  pada  11/08   10:09 AM

Mas Ulil..masih NU-kah Anda???
Jangan coba2 NYAKHOL (NYAlon jadi KHOLIFAH)ya!!
ttttapi kalo NYAPRES gue dukung deh…
sampai jumpa di th 2014

#3. Dikirim oleh wong kere  pada  13/08   10:53 PM

wah makasih atas infonya! dulu yang saya sering dengar kalo ulama indonesia bisanya hanya mengungsi ke negara lain karena tidak betah melihat negrinya dijajah!!!
tapi hal ini sangat berbeda

#4. Dikirim oleh nawa  pada  20/08   03:45 AM

seikh Yasin adalah sosok yang hampir terlupakan oleh orang-orang di negerinya, bahkan orang padang hampir tidak mengenali sosok beliau.

#5. Dikirim oleh nofriyaldi  pada  29/08   09:40 AM

nasionalisme adalah sebagian dari iman, dan dengan nasionalisme itulah kita menjadi manusia yang semakin merdeka dan bertanggungjawab serta bermartabat.

#6. Dikirim oleh deskam  pada  29/08   07:28 PM

subhanallah, entah knp setiap saya bc puisi Gus Mus, saya merasa menjadi seorang yg cengeng, tp ktk membaca tulisan Kang Ulil, timbul semangat hidup saya. salut buat keduanya, terima kasih Rabb, telah mengenalkan saya dengan kedua sosok itu, dan mudah2an saya bisa dipertemukan dgn beliau-beliau itu. Amin!

#7. Dikirim oleh selalu terkesima  pada  12/09   09:52 AM

Untuk mempertahan nilai nasionalisme yg dianut Syekh Yasin dan untuk membentengengi faham faham wahabi, dan pola khilafah dan radikal tak karuan sdh saatnya sahabat ulil menggomandoi NU apalagi disaat sekarang figur Cerdas , Berani, Ikhlas dankemampuan managerial sangat dinanti guna kemaslahatan NU dan Bangsa ke depan . Monggo, nyatoreh, silakan pasang niat yang lurus bismillah kita berjuang

#8. Dikirim oleh hasyim hadrawi  pada  16/09   06:44 AM

assalau’alaikm,
akhi wa ukhti ingat Allah telah menitipkan kita alam ini,hubbul wathon minal iman: cinta tanah air merupakan bagian dari iman.kita berhak dan wajib membela dalam kapasitas sebagai sipil membela negara dari segala ancaman baik luar,dalam moril dll.wassalam ana suka bersahabat.

#9. Dikirim oleh hendi  pada  29/09   04:15 PM

kalau soal nasionalisme sih saya jg pernah dengar cerita ...alkisah ketika pd tahun 1951 m dlm kabinet negri kita ada seorang mentri dari NU ,terkait soal haji ke baitulloh , sudah banyak orang yg mendaftarkan diri… pada priode2 sebelumnya sarana transportasi di angkut kapal belanda ,,,lah mentri satu ini ndak mau pake kapal tersebut (MUNGKIN ALASAN NASIONALISME PASCA AGRESI) ,padahal tranportasi waktu itu yg sampai ke jeddah adalah punya belanda tadi. akhirnya mentri tadi cari kapal lain ..yaa jelas nggak ada.! bahkan nego lagi dg kapal belanda tadi nggak kelar

#10. Dikirim oleh syafimisbah  pada  10/10   04:42 PM

celakanya,,,,untuk menutupi kegagalan yg dibalut dg nasionalisme semu tadi..mentri mutusin bahwa HAJI TAHUN ITU DIBATALKAN KARENA DI MAKKAH SEDANG TERJADI WABAH PENYAKIT GANAS lah…dalah itu kan keputusan gila. jauh tidak seperti syech yasiin dg Darul ulumnya(kakek saya salah satu civitasnya).
pada waktu itu jelas org makkah yg belum mengenal emas hitam minyak yaa rada piye…karena tergatung dg warzuq ahlahuu minatstsamar oot… termasuk khidmah pd hujjaj. apalagi klo lhat riwayat tentang terjaganya tanah haram dri penyakit   ganas (tho’uun). malah ada seorang ibunyai yg kebetulan masih ada hub drh dg mntri td bilang yooo…kok wani temen batalke wong arep haji??. padahal nggak ada waba’ di makkah waktu itu.ALLOHUMMAGHFIRLAHU WARHAMHUU…

#11. Dikirim oleh syafimisbah  pada  10/10   05:02 PM

Sebenarnya Martin mendapatkan informasi, di antaranya, buku H. Aboebakar, Sedjarah Hidup KHA Wahid Hasjim dan Karangan Tersiar Jakarta: Panitya Buku Peringatan Alm. KHA Wahid Hasyim, 1957). Jadi, info yang dikemukakan Ulil sekunder.Nasionalisme yang ditunjukkan pada peristiwa di Madrasah Saulathiyah itu dah dituturkan di buku ini.Jadi gak ada yang baru yang dikemukakan Ulil.

#12. Dikirim oleh sunarwoto  pada  12/10   02:56 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?