Tafsir Al-Qur’an Inklusif
Oleh Kusmana
Tafsir al-Qur’an yang memberi kesan Islam inklusif, ramah dan menyejukkan dalam karya-karya tafsir sangat terkait dengan realitas ayat-ayat al-Qur’an yang sangat interpretable, pengaruh ideologi dan kecenderungan penafsir, serta metode tafsir yang dikembangkan. Faktor-faktor tersebut dalam keadaan tertentu kurang mendukung produk tafsir yang inklusif, karena sifat reduksionistiknya –baik pada tataran penarikan suatu ayat pada keinginan penafsir seperti yang terlihat dari corak tafsir yang beragam atau pada keterbatasan kompetensi metode, seperti pada metode tafsir analitik/tahlili yang sulit menghindarkan diri dari pengulangan pembahasan, tidak komprehensif dan parsial.
Komentar
assalam secara umum artikel anda sudah bagus, tapi saya mau bertanya kepada anda apakah untuk terwujdnya sebuah bentuk tafsir yang inklusif -non eklussif- kenapa anda tidak lebih mengarahkan atau menekankan kepada pembaca syarat2 apa saja untuk bisa terwujudnya sebuah tafsir yang inklusif sebagaimana yang anda istilahkan. Memang buku yang dikarang oleh Fazlur Rahman salah satu bentuk atau sampel sedernaha untuk tafsir tematik, tapi sudahkah kita (anda) mengkaji kenapa fazlur rahman membahas topik2 tertentu dalam bukunya. Nah sekarang saya melihat bukankah kajian tafsir tematik itu sebenarnya suat persoalan yang berankat dari permasalahan hidup kita (umat) kemudian persoalan itu kita bawa ke Alquran untuk dicarikan solusinya yang kemudian solusi itu yang akan menjadi sebuah penafsiran inklusif spt dalam istilah anda.banyak lagi yang saya lihat untuk terwujudnya sebuah tafsir yang inklusif.
apakah ajaran yang didakwahkan oleh JIL terus saja membuat cemas dan selalu mengundang konroversi yang besar dikalangan umat islam sendiri…....
tapi itu semua ana berdhon bahwa JIL memiliki peran besar dalam perkembangan islam saat ini untuk menciptakan islam sebagai rohmatan lilalamin
——-
Artikel yang ditulis Kusmana menarik, hanya saja saya menginginkan pemikiran baru tentang model penafsiran baru dengan gaya baru. terlebih lagi bisa menjadi sebuah metode baru yang bukan sekadar menjadi kontroversi belaka. Tapi, Dapat diaplikasikan dlm kehidupan sehari-hari dan menjadi problem solver dalam permasalahan umat.
aslamualaikum Wr.Wb
memang sejak saya mondok sampai kuliah banyak diskusi tentang tafsir tapi bagaimana bisa kemasyarakat awam ilmu-ilmu yang selama ini diperdebatkan dan dibahas paling paling tidak untuk orang-orang yang ceramah kesana kemari atau khutbah yang selama ini ditulis asal jadi buku, namun intlektual mana yang ilmunya bisa diraskan rakyat yg tidak pernah duduk dibangku sekolah, sehingga ilmu itu bermanfaat juga untuk orang-orang yg keilmuannya kurang.
Ass., Mas Kusmana, saya respek sekali terhadap tulisan anda. saya pun sedang bergelut ddalam kajian tafsir eksklusif dan inklusif. saya merasa begitu sulitnya mendapat tulisan yang bicara banyak tentang apa yang sedang saaya geluti. ada dua hal yang saya ingin komunikasikan pada anda: pertama, ssaya punya ide tetang menautkan pembelajaran metode tafsir dipesantern2. ini mengingat pesantren sebaga basis awal memasyarakatkan ke-Islam-an, tetapi pembelajaran tafsir, terutama pengenalan tafsir, tidak banyak diakomudir di sana. kedua, ini peribadi sifatnya, saya mohon bantuan anada bagaimana ssaya bisa menambah atau bahkan baru samsekali literatus yang secara khusus memuat tulisan tentang eksklusifitas dan inklusifitas tafsir.
sebagai tambahan wawasan perlu kiranya membaca : polaruangalquran.blogspot.com
Komentar Masuk (6)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)