Tahlilan Sebagai Subkultur Islam
Oleh Luthfi Assyaukanie
Tahlilan adalah sebuah budaya yang sangat dinamis dan dari sudut pandang antropologis, sangat menarik. Dia tak hanya menjadi perekat sosial, tapi juga mempersatukan elemen masyarakat yang terpisah dalam kompartemen ideologi dan keyakinan. Setidaknya itu yang saya rasakan dalam upacara Tahlilan Tujuh Hari Gus Dur. Berbagai penganut agama tumpah-ruah, beragam tokoh masyarakat melebur, dan berbagai pemeluk keyakinan bersatu ikut membacakan doa-doa untuk Gus Dur.
Komentar
Saya setuju bahwa budaya tahlilan adalah bagian dari kebiasaan ibadah kepada Alloh SWT yang sarat dengan nilai-nilai penghambaan kepada Alloh, humanisme dan ukhuwah islamiah yang kokoh.
Namun budaya tahlilan bagi orang-orang yang miskin masih menjadi beban dalam pelaksanaannya. Bahkan karena mereka tak banyak memahami hukum islam, budaya tahlilan dianggap oleh mereka sebagai suatu perbuatan yang wajib dikerjakan dan tidak boleh ditinggalkan.Akibatnya banyak diantara mereka yang terpaksa meminjam uang kepada orang lain dan menjual sebagian harta benda mereka untuk melaksanakan upacara tahlilan.
Saya sepakat ada hal syirik dan bidah dalam upacara tahlilan ketika HARAPAN-HARAPAN orang yang bertawassul kepada arwah ulama yang sudah meninggal dunia diletakkan LEBIH TINGGI DAN LEBIH BANYAK kepada arwah ulama yang sudah meninggal dunia dibandingkan meletakkan harapan-harapan mereka kepada ALLOH.
Pada kondisi syrik itulah upacara tawasul menjadi bagian dari animisme dan dinamisme serta sinkretisme jadi sudah terkontaminasi dengan hal-hal bidah dan syirik. Realitas tersebut masih banyak kita jumpai pada upacara tahlilan dan majlis zikrulloh thoriqoh mazhab shufiah karena mereka menempuh cara-cara yang syrik dan bidah dalam hal mereka ingin mendapatkan karomah ulama .
Padahal karomah ulama yang mereka tawassulkan didapat oleh ulama dari allooh karena mereka berjihad fi sabilillah dalam menuntut ilmu dengan banyak berguru dan membaca buku-buku ulama, mereka istiqomah dan mudawamah dalam zikrulloh dan mereka juga setia mendidik ummat agar tetap bertaqwa kepada Alloh.Jadi karena itulah mereka mendapatkan karomah (kemulian ) hidup dari alloh.
Harusnya murid-murid mereka dan orang-orang yang cinta kepada ulama harus berjihad fi sabilillah agar mendapat maqom taqwa yang tinggi dari allooh SWT. Dan jangan menempuh jalan yang tidak rasional dalam mendapatkan karomah dan mengharapkan segala keinginan mereka (ahlu tawassul) bisa terwujud.
Harusnya mereka berharap kepada alloh lebih tinggi dan lebih banyak dibandingkan harapan-harapan mereka kepada arwah ulama yang sudah meninggal dunia agar iman mereka tetap ikhlas (Kholaso berarti murni,tulus) karena alloh.
saya masih bingung, apa sih arti bid’ah itu sesungguhnya. Tahillan termasuk bid’ah tidak ya??
.
Trus, sepengetahuan saya, bukannya do’a itu sampai kepada si mayit hanya dari anak yg sholeh, amal ibadah sewaktu masih hidup, trus apalagi gitu…..saya lupa.
Nah klo sejuta org yg mendo’akan si mayit, apa betul sampe gitu do’a nya kepada si ahli kubur ???
Bang Lutfi bagus dan bang Irfan juga bagus…, gak ada yang jelek…, kalau toh pun ada yang tidak lurus.., ingatkan saja bang irfan jangan buru buru menghukumi syirik dan musrik.., karena nanti hukumnya sama antara orang yang nuding dan dituding..karena iman ada dalam hati yang paling dalam, hanya Allah yang tahu…meskipun mereka minta berkah dan karomah namun tetap ajah minta nya kepada Allah ko.. bukan kepada orang yang telah meninggal dan seperti apa yang ada dalam al-quran al-baqoroh bahwasanya yang berjuang fisabillilah maka mereka tidak meninggal…mereka masih akan tetap hidup…
Senada dengan yang disampaikan Irfan, saya setuju untuk mendoakan orang-orang yang sudah meninggal dunia tidak terbatas sampai 7 atau 40 hari. Namun sayangnya tradisi ini membuat banyak orang harus berhutang dan menjual barang-barang yang dimilikinya untuk membiayai tahlilan. Tidak itu saja para ibu-ibu yang datang “menyumbang” beras atau gula dan mie yang datang pada hari ke-3, ke-6, dan ke-7 “wajib” diberi makan, disuguhi kue, setelah pulang mereka juga “wajib” disertakan nasi, lauk pauk, dan kue-kue di keranjang atau baki tempat beras atau gula atau mie yang mereka bawa. Acara pernikahan kalah meriah dan heboh dari acara tahlilan dan tradisi yang menyertainya. Jika keluarga yang sedang berkesusahan tidak mampu menyediakan semuanya akan terkena sanksi sosial, yaitu dibicarakan, tidak ada yang mau datang tahlil, bahkan kalau kue yang disuguhkan “tidak enak” akan dibuang begitu saja. Ini terjadi di pedesaan di Jember seperi di Kecamatan Silo yang merupakan salah satu basis NU di Jawa Timur. Banyak kyai dan pondok pesantren di sana namun sama sekali tidak peka terhadap kesulitan masyarakat. Orang kesusahan kok semakin susah, ibarat sudah jatuh tertimpa tangga.
Tahlilan itu sebenarnya pengganti acara melekan (tidak tidur) yang ada pada agama Hindu yang sudah berurat berakar di Indonesia sebelum Islam masuk ke Indonesia. Acara melekan ini dilakukan apabila ada yang meninggal yang menurut kepercayaan Hindu arwahnya selama tiga hari masih berada dalam rumah, tujuh hari berada diluar rumah , empat puluh hari berada dalam kampung, seratus hari berada diluar kampung sebelum kembali menghadap tuhannya.Agar arwah ini jangan mengganggu (gentayangan) dilakukanlah acara melekan yang diisi dengan acara makan makan sambil berjudi dengan maksud mendoakan arwah agar selamat dari gentayangan. Pada waktu wali Allah penyebar agama Islam masuk ketanah jawa, acara ini tetap diteruskan namun acara berjudinya diganti dengan bacaan ayat suci Al Qur’an yang pendek pendek, sehingga orang yang masuk Islam dapat dengan mudah menghafal ayat ayat pendek tersebut untuk digunakan pada sholat.Acara ini (tahlilan) dimaksudkan oleh wali Allah untuk sementara menjelang aqidah ummat yang masuk Islam kuat, apabila aqidah ummat Islam sudah kuat direncanakan dihapuskan. Tetapi belum sempat dihapuskan, wali Allah nya sudah wafat dan muridnya mengira itu ajaran wali Allah. Wali Allah ketika menyebarkan agama islam di Jawa tidak dengan drastis menghilangkan ajaran Hindu karena dikuatirkan Islam akan ditolak mentah mentah, maka dilakukanlah pencampur adukan ajaran Hindu dengan ajaran Islam (sinkretisme) dengan tujuan sementara. Apabila kita sudah tahu tahlilan itu bukan ajaran Islam maka kita tidak boleh mengamalkannya, karena kita kuatir terkena ancaman Allah melalui RasulNYA Muhammad SAW sebagai perbuatan Bid’ah. Setiap bid’ah adalah sesat dan kesesatan itu adalah neraka. Pertanyannya sekarang adalah : Apakah wali Allah itu salah? Jawabnya : Tidak, mengapa? Wali Allah itu berijtihad untuk menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa. Apabila ijtihadnya benar maka wali Allah mendapat dua pahala, tetapi apabila ijtihadnya salah masih mendapatkan satu pahala.
Bagi kita yang sudah tahu bahwa tahlilan (pengganti melekan) itu adalah ajaran Hindu maka kita jangan melakukannya karena tidak ada dalil maupun contoh dari Rasulullah SAW, apalagi untuk melaksanakan tahlilan itu kita sampai berhutang yang sangat memberatkan. Wallahu a’laam
saya dibesarkan dalam lingkungan yang sangat akrab dengan tahlilan. Ada tahlilan nujuh hari, empat puluh hari,seratus hari,haul yg dilaksanakan setiap tahun atau seribu hari. Semua kegiatan tersebut saya kenal dan saya alami hampir selama hidup saya. Ketika saya masih kanak2, dan remaja di jember, jawa timur. Ketika saya kuliah di jakarta, dan ketikan saya telah bekerja di aceh.
Tahlilan bagi saya sangat penting sebagai tempat bersosialisasi, di aceh dan di jawa saya menemukan kebiasaan tuan rumah yg berbeda. Di jawa, tuan rumah menyediakan jamuan bagi yg hadir di acara tahlilan. Di aceh, lain cerita, peserta yg hadir ikut membantu dengan membawa makanan. Inilah suasana kebersamaan paling indah yg pernah saya rasakan.
Tahlilan adalah suatu kegiatan bernafaskan islam yg banyak sisi positifnya.
Mungkin karena pengaruh lokal,budaya Tahlilan juga dikenal di kalangan Katolik di Indonesia.
Saya pribadi berpendapat kebiasaan yang berdasarkan CINTA adalah sesuatu positif.
Karena cinta dan hormat, kita mendoakan arwah yang kita hormati /cintai agar mendapat ampunan dan tempat yang layak di sisiNya.
Untuk informasi : Tahlilan “lintas agama” akan diadakan di Istora Senayan hari Minggu tgl. 17 Januari.
Saya dulu memiliki pendapat yang sama dengan komentar Muhammad Irfan. Hadist tentang bidah itu yang sering saya jadikan senjata untuk mengomentari setiap perbuatan yang tidak secara tekstual ada di Al Quran maupun Hadist,label Syirik, khurapat dll . sering saya pakai sebutan supaya orang lain tersadar .namun ternyata ketika saya baca-buku,saya timbang dengan referensi lain ,saya hadir /mengikuti tahlilan . Timbul pertanyaan?
Membaca ayat-ayat Quran, baca surat yasin,baca surat al baqoroh,baca surat al iklas, baca sholawat,baca zikir, baca asmaul husna. baca-baca doa untuk seluruh umat manusia,untuk Para Nabi dan Rosul doa untuk para guru,para ulama orang yang hadir maupun tidak hadir . (yang mengikuti tahlil dan yang membidahkan )kemudian sebelumnya ada tausiyah. Belum lagi silaturahmi dengan kerabat,tetangga dll. apakah perbuatan ini syirik ?atau bertentangan dengan syariat islam pikiran saya dan hati mulai berontak “ bagaimana mungkin semua yang dianjurkan dalam islam menjadi haram karena dilakukan ditempat orang yang meninggal bukankah anak yang soleh, ilmu yang bermanpaat,shodaloh jariah dan rumah yang baik itu adalah rumah yang didalamnya sering dibacakan Al quran .
Kemudian para tetangga ,kerabat tau dan mengerti bahwa akan ada kegiatan tahlil . sebagai wujud kepedulian dan kebersamaan dan tidak membebani yang terkena musibah umumnya. Mereka membawa beras,buah-buhan,uang ,dan bantuan lainnya . ini kultur /budaya kita yang islami. Begitu juga kepada yang terkena musibah jangan diajarkan/diharamkan memberi segelas air atau sepotong roti untuk yang membantu menggali kuburan .Mengapani dll kering rasanya ajaran islam itu kalau hal-hal yang baik yang tidak bertentangan dengan ruh islam dianggap Bidah,khurapat atau syirik.
Saya tau bahwa ajaran islam itu bukan dengan hawa nafsu dan perasaan .mamun manusia memiliki kebebasan untuk menimbang dengan hati nurani.
Tahlilan memang hebat..sampai-sampai tetangga saya berani tidak shalat dan tidak melakukan kewajiban-kewajiban lainnya asal kalau mati di tahlili sekalipun harta warisan habis untuk itu…
di kampung saya, tahlilan sudah menjadi bagian “wajib” saat ritual kematian. tahlilan bukan hanya untuk para ulama saja, rakyat jelata yang meninggal pun digelar tahlilan. dan tak jarang para ulama juga mengikuti tahlilan ini.
tahlilan yang biasanya dikenal dengan zikiran dilakukan sampai sembilan hari meninggalnya almarhum. ini menjadi obat duka bagi keluarga. masyarakat yang ikut tahlilan pun menghibur keluarga yang ditinggalkan. forum zikiran ini pun menjadi ruang berkumpulnya warga kampung, ditengah kesibukan mereka mengurus dunia.
saya rasa, tahlilan atau yang di kampung saya di pulau Lombok dikenal dengan zikiran, harus dilihat dari sisi positifnya.
Saya dulu memiliki pendapat yang sama dengan komentar Muhammad Irfan. Hadist tentang bidah itu yang sering saya jadikan senjata untuk mengomentari setiap perbuatan yang tidak secara tekstual ada di Al Quran maupun Hadist,label Syirik, khurapat dll . sering saya pakai sebutan supaya orang lain tersadar .namun ternyata ketika saya baca-buku,saya timbang dengan referensi lain ,saya hadir /mengikuti tahlilan . Timbul pertanyaan?
Membaca ayat-ayat Quran, baca surat yasin,baca surat al baqoroh,baca surat al iklas, baca sholawat,baca zikir, baca asmaul husna. baca-baca doa untuk seluruh umat manusia,untuk Para Nabi dan Rosul doa untuk para guru,para ulama orang yang hadir maupun tidak hadir . jadi yang saya tau tidak ada jamaah yang hadir memohon keselamatan kepada yang sudah meninggal baik kepada para ulama bahkan permohonan langsung kepada Para Nabi kalimat Tahlilkan laailahaillahh jadi hanya orang yang mengagungkan pendapatnya yang mengatakan kalau tawasul adalah upacara animisme/dinamisme yang bung Irfan katakan jadi cukuplah anda laksanakan apa yang menurut anda benar sesuai dengan buku atau kitab yang anda pelajari . kemudian sebelumnya ada tausiyah. Belum lagi silaturahmi dengan kerabat,tetangga dll. apakah perbuatan ini syirik ?atau bertentangan dengan syariat islam pikiran saya dan hati mulai berontak “ bagaimana mungkin semua yang dianjurkan dalam islam menjadi haram karena dilakukan ditempat orang yang meninggal “bukankah anak yang soleh, ilmu yang bermanpaat,shodaloh jariah dan rumah yang baik itu adalah rumah yang didalamnya sering dibacakan Al quran .
Kemudian para tetangga ,kerabat tau dan mengerti bahwa akan ada kegiatan tahlil . sebagai wujud kepedulian dan kebersamaan dan tidak membebani yang terkena musibah umumnya. Mereka membawa beras,buah-buhan,uang ,dan bantuan lainnya . ini kultur /budaya kita yang islami. Begitu juga kepada yang terkena musibah jangan diajarkan/diharamkan memberi segelas air atau sepotong roti untuk petugas menggali kuburan .yang mengapani dll kering rasanya ajaran islam itu kalau hal-hal yang baik yang tidak bertentangan dengan ruh islam dianggap Bidah,khurapat atau syirik.
Saya tau bahwa ajaran islam itu bukan dengan hawa nafsu dan perasaan .mamun manusia memiliki kebebasan untuk menimbang dengan hati nurani.
Assalamualaikum wr wb.
Saya sangat setuju dengan penulis bahwa Tahlilan adalah budaya, terutama dilakukan dilingkungan NU. Yang perlu di perhatikan disini adalah jangan sampai budaya tersebut justru bisa menjadikan kita salah dalam melaksanakan ibadah kepada Alloh. Sesuatu yang baik itu belum tentu benar. Contoh Shalat adalah perbuatan yang baik tetapi jika dilakukan bukan pada waktunya tentunya hal itu jadi tidak benar. Demikian juga dengan budaya Tahlilan, Tahlil adalah sesuatu yang sangat baik, bahkan sangat dianjurkan oleh Nabu kita. Tetapi tidak ada contoh dari Nabi bahwa Tahlil dan bacaan Yasin dibacakan pada hari2 tertentu setelah seseorang meninggal, apalagi dilakukan berlama-lama dan berulang-ulang, karena hal itu bisa dikategorikan meratap, dan Nabi kita melarang kita untuk terus menerus meratapi sang mayat. Jika memang ingin mendoakan almarhum/almarhumah sebenarnya bisa dilakukan di Masjid atau ketika sendiri-sendiri. Selain itu tradisi Tahlilan sangat membebani masyarakat miskin yang menganggap bahwa tahlilan adalah suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh keluarga Muslim ketika ditinggal Mati oleh salah satu kerabatnya. Bahkan sampai ada yang mengutang untuk kebutuhan tersebut.
Yang sudah dicontohkan oleh Nabi kita Muhammad SAW sudah sangat sempurna dan janganlah dikurangi atau dilebih-lebihkan.
wassalam,
-Abu Daffa-
Bagi saya yang hidup di rantau, tahlilan adalah jangkar yang meneguhkan keislaman dan keindonesiaan saya. Kami mengadakan acara tahlilan selama seminggu dan berdo’a bagi keselamatan Gus Dur.
Bismillah..
Sodaraku…
Kita diciptakan tidak lain hanya untuk beribadah kepad Allah swt.
Caranya ?
Allah memberikan tuntunan lewat Al-Quran
Contoh pengamal Al-Quran ?
Allah ciptakan manusia terbaik yang menjadi tauladan yaitu Rosulullah Muhammad saw.
Sodaraku..
Sejak bangun tidur sampai kita tidur lagi, belum tentu (dan tidak akan)mampuh melakukan semua amal solih yang pernah dicontohkan Rosulullah saw.
Jadi beramal soleh dengan yang jelas dicontohkan Rosul saja kita banyak sekali kedodorannya.. lalu mengapa harus mencari-cari amalan yang tidak pernah dicontohkanya….. ?
Wallahu ‘alaam
Terus terang (Islam terang terus):
Isi tahlilan: bagus karena yang dibaca ayat-ayat dalam alqur’an, kalimat-kalimat thoyibah, dsb.
Manfaat sosial : bagus karena orang-orang berkumpul, menjalin hub. kekeluargaan,menghibur keluarga yang berduka, mengingat Allah, dsb
Niat :? nah ini. Masalahnya masyarakat banyak yang tidak mengetahui, tidak sabar mencerna/ mengkaji bagian awal buku tahlil yang biasa dibaca dengan cepat dalam bahasa arab oleh pemimpin tahlil. Padahal isinya salah satunya adalah tawassul atau mengambil sarana /perantara para ulama terutama syeh Abdulkadir Jaelani untuk menjembatani doa mereka kepada Allah (biasanya dijelaskan di buku tahlil sebagai penghulu kita/raja para wali). Ini lah yang menjadi sumber kontroversi. Kalau masyarakat sadar dan setuju sih .. itu hak mereka, tapi kalau setelah sadar ternyata tidak setuju?.. berabe kan. Banyak lho yang nggak paham apa itu tawassul. Bahkan teman saya yang rajin tahlilan, nggak percaya kalau ada nama syeh Abdulqadir Jaelani ketika dia tahlilan.Wadhuh…bagaimana ini. Untuk itu mari kita cerdaskan umat agar memilih dengan sadar. Jangan serahkan urusan agama kepada pak Kiai saja. setiap orang harus mencari ilmu.. terutama ilmu agama.
(Biasanya, dalil yang digunakan adalah QS Al Baqoroh:154. ... Ya, tapi yang menjamin seseorang mati sahid atau bukan kan Allah.. mana kita tahu.Berprasangka baik? OK, tapi untuk urusan ibadah jangan berprasangka. Ntar seperti nenek moyang yang dicela Allah dong. Lagi pula kalau memang ayat ini bisa digunakan untuk berwasilah.. mengapa para sahabat tidak mencontohkannya? Syeh Abdul Qadir pun tidakHayo.. siapa yang mulai? Cari sumbernya ya)
Metode : ? ini juga sumber perdebatan. Penetapan hari ke tujuh, ke empat puluh, ke seratus dsb, sehingga ada yang sampai ketakutan kalau pelaksanannnya selisih satu hari saja, juga harus ditelusuri sumbernya. Kalau itu sumbernya dari Rasulullah / AlQur’an silaken! tapi kalau sumbernya agama Hindu (yang dulu digunakan para wali karena masa transisi)... tawarkan dulu dong secara jelas kepada masyarakat. Kalau mereka setuju? silaken ; resiko? tanggung penumpang. Kalau tidak setuju? biarkan mereka memilih untuk tidak melakukan. Ibadah kan harus ada mantepnya hati. Tapi .. tahu dulu .. baru mantep. Matur nuwun, selamat beribadah.
Mudah-mudahan Malaikat tidak bingung menilai Gus Dur, karena semua agama mendukungnya.
bagi saya artikel ini sangat menarik, kalau kita kaji lebih jauh tahlilan memberikan nilai-nilai keislaman serta keilahian dimana perkembangan islama di indonesia khususnya berjalan secara kultural. tanpa itu islama di Indonesia tidak akan berkembang pesat seperti sekarang ini. sikap doktrinisasi terhadap ke islaman seseorang akan menjadikan ia merasa terkena dampak dari sikap fundamentalisasi dan merasa diriya paling benar terhadap keyakinannya serta bertindak kekerasan terhadap orang lain yang bukan termasuk golongannya. dengan tradisi tahlilan, hikmah yang kita ambil adalah mempersatukan nilai-nilai moral dan sosial sehingga paradigma secara multidimensional akan menjadikan rahmat bagi semesta alam. memang tradisi dalam tahlilan ini tidak di ajarkan oleh nabi. tapi suatu ritual yang ada dalam tahlilan tersebut merupakan nilai-nilai islam yang realitas.
SALAM JIL!
Assalamualaikum wr. wb.
Halal / Thoyib / Halal dan thoyib?
Monggo dibaca.
Masalah nilai sosial tahlilan sudah jelas kok. Baik. Thoyib. Kalau ini saja masalahnya, tahlilan nggak perlu dibahas.(Tapi…makanan kan bukan hanya harus thoyib, tapi juga harus halal). Jangan bodohi masyarakat dengan mengaitkan yang tidak tahlilan dengan yang suka kekerasan, ini tidak ada korelasinya. Sebaliknya jangan buru-buru mengatakan yang tahlilan sesat. Mungkin ini hanya masalah komunikasi. Saat ini yang harus dicari adalah bagaimana agar acara-acara budaya itu bisa sejalan dengan syari’at Islam, dengan adanya penyempurnaan di sana-sini untuk MELANJUTKAN perjuangan para wali. Kalau perlu ada yang dihapuskan atau ditambahkan atau diganti. (Ini kan bukan kitab suci).Setuju? jangan menuhankan teks lho? Biarkan masyarakat memilih dengan sadar setelah MEMAHAMI apa itu tahlilan dari A sampai Z (termasuk tata cara dari pembukaan sampai akhir dan maksudnya (misalnya tawassul dan penetapan hari)). Matur Nuwun, terus terang Islam terang teruus!
MARI KITA CERDASKAN UMAT DENGAN BUDAYA DISKUSI, TAJAMKAN FIKIR,MEMBUKA HATI, SINGKIRKAN EMOSI, TETAP PERKUAT UKHUWAH KALA KATA SEPAKAT BELUM TERJADI. INI juga RAHMATAN LIL ALAMIN, lho.
Wassalamualaikum wr. wb.
@ hermawan : sepertinya anda ni kaya melihat aje malaikat yg namanya malaikat itu dia tidak akan bingung menentukan salah atau benar.Lain kalau anda yg menilai pasti deh benar. Ada tahlilan atau tidak tdk akan berpengaruh dgn si mayat,kecuali 3 perkara : amal jariah, anak yg mendoakan orang tuanya dan ilmu yg bermanfaat. Kalo nggak percaya coba saja anda merasakan mati dulu setelah itu baru and ceritakan pada kami setelah anda hidup kembali ?
Tahlilan, mauludan, rajaban, khoul dll tiap tahun selalu diselenggarakan warga Nahdliyyin dengan niatan “istiqomah”. Saya tak tertarik dengan perdebatan fikihnya, apakah acara-acara tersebut bid’ah ataukah tidak.. Hanya terusik dari sisi prioritas… membayangkan seandainya segala sumberdaya terutama DANANYA, misalnya mensirikan semacam GARMEN BANKnya MOH. YUNUS, Bangladesh di tiap wilayah. Bayangkan.. tiap masjid tiap tahun mauludan dan rajaban minimal butuh kurang lebih Rp. 10 jt. Biaya Sound, Dekorasi, Bisyaroh2 dll. Energi tersalur ke hal2 lbh penting.. mengentaskan kemiskinan di sekitar…..
Komentar Masuk (45)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)