Tahlilan Sebagai Subkultur Islam
Oleh Luthfi Assyaukanie
Tahlilan adalah sebuah budaya yang sangat dinamis dan dari sudut pandang antropologis, sangat menarik. Dia tak hanya menjadi perekat sosial, tapi juga mempersatukan elemen masyarakat yang terpisah dalam kompartemen ideologi dan keyakinan. Setidaknya itu yang saya rasakan dalam upacara Tahlilan Tujuh Hari Gus Dur. Berbagai penganut agama tumpah-ruah, beragam tokoh masyarakat melebur, dan berbagai pemeluk keyakinan bersatu ikut membacakan doa-doa untuk Gus Dur.
Komentar
Assalamualaikum wr. wb.
menurut saya Allah itu maha adil jadi sekecil apapapun perbuatan kita akan di perhitungkan nantinya… begitu juga soal tahlil faktor sosial memang Ok. jadi Allah pasti akan memperhitungkan juga nanti….trus masalah doa yg dibaca saat tahlil itu kan menyebut asma Allah, pengakuan Nabi muhammad adalah rasul Allah, membaca ayat2 Al-Quran, dan pujian-pujian yang di tujukan kepada Allah swt. menurut saya itu juga pahala tersendiri bagi yang mengikuti tahlil…Cuman sayangnya banyak orang tahlil yang menganggap doa yang mereka baca itu untuk mendoakan orang yang sudah meninggal, karena yang ikut tahlil banyak yang tidak mengerti bahasa Arab. Sering saya dengan orang yang meninggal di kirim bacaan al fatihah, padahal kalau dilihat terjemahannya jelas bahwa bacaan tsb merupakan doa pribadi kita kepada Allah. Jd kesimpulannya doa yang dibaca pada saat tahlil itu hanya berpahala bagi masing2 yg mengikuti tahlil bukan ke yg meninggal. cuman kita yg hidup hanya bisa mendoakan agar yg sudah meninggal dapat diterima di sisi-Nya sesuai amal perbuatanya. Walaupun itu pasti terjadi sebab ALLAH MAHA ADIL.
Wassalamualaikum wr. wb.
kepada saudara Herliansyah dan Kemal, kalau hanya tiga perkara yang anda sebutkan yakni amal jariah, anak yg mendoakan orang tuanya dan ilmu yg bermanfaat yang mempengaruhi si mayat, lalu untuk apa ada sholat jenazah?
Bukankah kita dianjurkan untuk mendoakan semua muslim dan muslimat? baik yang hidup maupun yang mati? Bukankah ada ayat Qur’an yang sering dijadikan penutup do’a yakni surat Ash-Shafaat ayat 181-182: wa salaamun alal mursalin, walhamdulillahi rabbil ‘aalamiin…? Bukankah itu doa untuk para rasul dan bukankah para rasul itu sudah meninggal…?
Jadi, ada dong pengaruh doa sekian banyak orang terhadap yang mati.
Terus terang Islam terang terus
Sudah saatnya umat islam cerdas memilih secara sadar. Mau mementingkan fikih atau tidak terserah masing-masing. Karena tanggung jawab di akhirat ya masing-masing. Saya hanya menghimbau agar para pemimpin umat menerangkan dengan jujur bacaan yang dibacakan di awal tahlilan, termasuk ketika setiap kali bilang “doa ini saya tawasulkan kepada ..... “terangkan apa itu artinya. Juga jelaskan mengapa harus 3 hari, 7 hari, dst.Kalau perlu adakan sebulan sekali diskusi sehingga umat bisa bertanya jawab. Jangan sembunyikan sesuatu dibalik bungkus amal atau kebaikan. Jangan melarang jamaah untuk juga bertanya pada orang lain, supaya umat tidak eksklusif. Apa gunanya pengikut yang banyak tapi tidak paham? (kecuali mau mengambil manfaat dari ketidaktahuan umat???) Pemimpin yang baik pasti berkeinginan mencerdaskan pengikutnya. Pemimpin agama seyogyanya meningkatkan pemahaman agama pengikutnya secara menyeluruh (makna, implementasi, resiko, tanggung jawab dsb.) bukan sekedar pengetahuan verbal.
Masalah bid’ah atau tidak? sebaiknya jangan dibahas dulu dalam masalah ini. Sudah terjadi kesalahan teknis, misunderstanding, miskomunikasi (entah mis apalagi) yang sering dimanfaaatkan oknum tertentu sehingga yang muncul antipati yang menghalangi berfikir jernih dan tenang pada pokok permasalahannya.
Setuju???
Semoga urun rembug saya ini bermanfaat.
Selamat beribadah
Semua amalan yang tidak ada contohnya dari Rasullullah SAW adalah Bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat, dan sesat tempatnya di neraka. Naudzubillahi min dzalik..
Wahai saudara ku, hindarilah oleh kalian setiap perkara yang di ada adakan, karena setiap amalan yang tidak ada contohnya maka tertolak.
Tetaplah berpegang teguh pada Quran dan sunnah Nabi SAW, gigitlah dengan geraham kalian, kalian pasti tidak akan tersesat selama-lamanya..
Do’a itu hanya berharap, yg jelas semua keputusan tergantung ALLAH, buktinya Nabi Adam saja berapa ribu tahun berdo’a tidak kabul2…dia seorang Nabi, apalagi kita…apa jabatan. Jadi yang cuma diterima amal ibadah kita sendiri juga. Mana mungkin kita memaksa Allah sedangkan kita sudah ditetapkan pada zaman azali, kalo nasib sih bisa berubah kalo kita sendiri yg merobahnya. Inna maa a’malu biniiyat
Yang mau tahlilan silahkan diistiqomahkan yang tidak mau silahkan ibadah yang lain. Gitu aja kok repot!
di jaman skarang Tahlil memang menarik dibahas kembali untuk diuji keabsahannya menjadi bagian dari kultur muslim Indonesia. Kitab Rujukan bisa di download, mulai kitab pro tahlil sampai yg kontra tahlil. Klo ada yg ngotot2an krn tidak tahu, salahnya sendiri tdk belajar. Jika tahlil itu benar, Tuhan pasti bertanya pd yg tdk Tahlil: kenapa tidak tahlil, pada tahlil menjadi perekat umat. Apa kmu merasa paling benar padahal kmu tak pernah mempelajarinya, dan kmu hanya tahu dari ‘katanya’?. Kmu senang dg bertaqlid buta?
inti dari tahlil adalah do’a/pengharapan kepada Allah. jadi tahlil secara tidak langsung adalah diperintahkan. membid’ahkan tahlil itulah yang bid’ah. tolong yang membid’ahkan dimana letak bid’ahnya. tolong di analisa secara mendalam bacaan-bacaannya….
@Fauzan
Betul, betul, betul.
1. isi tahlil? Bagus :kalimat thoyibah (bacaan tahlil,tahmid, sholawat, dsb)
2 :manfaat sosial : bagus
3. Bacaan niat di awal tahlil(tawassaul kpd syeh Abdulqadir Jaelani yng dianggap sebgai “penghulu kami”) maksudnya apa ya? Inilah salah satu yang sedang dipertanyakan. Mohon sdr jelskan biar kita semua tahu. Terimakasih.
Tahlil merupakan bentuk kebersamaan umat manusia dalam menjalankan ukuwah islamiah ,implementasi sifat kasih sayang terhadap sesama umat manusia untuk mencapai suatu kedamaian hidup. Sebenarnya setiap manusia lewat kesadaran pribadi setiap nafas akan berdikir, bertahlil mengingat yang menghidupi, sang maha hidup yaitu Allah/dzat yang maha agung.
Betul betul betul, tapi mohon bedakan tahlil dan tahlilan. Yang sedang kita diskusikan adalah budaya tahlilan. Bahwa secara sosial tahlilan memiliki kebaikan : SETUJU. Bentuk kasih sayang ? SETUJU. Tapi pertanyaan saya tentang pengantar dalam tahlilan yang menyebut tawasul kepada Syeh Abdul Kadir Jaelani dan sebutan “penghulu kita” belum terjawab.
tradisi tahlil, sebagaimana tradisi-tradisi lainnya, sulit dipisahkan dari kelompok masyarakat yang menjalankannya. sebagaimana susahnya memisahkan sepasang kekasih yang ekstase asmara. Bayangkan salah satu kekasih anda, apakah itu orang tua atau suami/istri atau teman akrab atau pacar, tiba-tiba saja hilang karena kecelakaan atau pergi entah ke mana. Pada saat itu rasa kehilangan begitu mengharukan. Sebab di sana ada hubungan emosional. Begitu pula urusan tradisi. Tradisi, biasanya, hadir dan menempel pada kehidupan sehari-hari kita. Bagaimana sulitnya memisahkan dan mencabut sesuatu yang telah melebur dalam darah-daging seseorang. Orang tersebut bisa mati mendadak. Itu berlaku pada orang yang sangat kecanduan dengan tahlil. Bagi pengamat seperti kita, tentu lain rasanya. Sebagaimana seorang pembunuh bayaran, dia tidak ada kaitan sama sekali dengan orang yang akan dibunuh. Pengamat dan seorang pembunuh bayaran, yang tidak memiliki empati, sangat tega untuk menganiaya atau membantai korban. Tidak ada ikatan emosional, apalagi cinta. Kalau ingin mencabut tradisi tahlil dari para pemeluknya, kita lebih dari sekadar penjahat berdarah dingin. Sebagaimana kita tidak pernah ingin kehilangan kekayaan kita. Sedangkan tahlil adalah kekayaan rohani yang begitu menghibur. Tidak beda dengan hiburan para penguasa dan pengusaha dalam mengejar keinginannya. Mereka akan menggadaikan dan berhutang berapa pun untuk memenuhi hasratnya. Seperti anda yang rela mati untuk bisa menikah dengan kekasih sendiri. Tahlil memiliki dimensi refleksi masa lalu dan masa depan. Dalam unsur tahlil sendiri, misalnya ada tawasul kepada para nabi, wali, dan orang yang dido’akan, merupakan dimensi refleksi masa lalu. Bukan saja memberikan pesan bahwa ada orang-orang penting dalam perjalanan Islam, tetapi juga orang-orang penting tersebut memiliki teladan-teladan. Dengan mengingatkan terus nama-nama seperti, Syaikh Abdul Qadir, juga sebenarnya memberikan pesan bahwa siapa Syaik Abdul Qadir itu. Ini juga merupakan bentuk penghormatan para penganut tahlil untuk “IKLAN” sepanjang masa. Kalau tidak ada “iklan” ini orang tidak akan pernah mengingatnya. Apakah anda yakin bahwa anda akan dikenang sepanjang masa tanpa adanya tahlil? Kalau anda tidak punya karya, saya yakin, kelak meninggal dunia, anda hanyalah kerangka dalam tanah. Tetapi melalui tahlil, anda akan senantiasa dikenang oleh anak turun anda sendiri, setidaknya.
apaun tentang tahlilan saya pikir sudah di ulas.. dan saya mengacungi jempol keberadaan tahlilan.. buat saudara2 wahaby atau yang tidak sepakat dengan budaya tahlilan.. ge monggo… ndak wajib kok…
kalau kemudian yang diapakai alasan penolakannya adalah
1. masalah banyak orang yang mengira itu wajib
ah kata siapa.. yang berstatement seperti itu saya yakin bukan dari golongan orang2 yang melakukan ritual tahlilan.. bahkan anak kecil di kampung saya (jember) aja tau dan sudah di ajarkan hukum2nya waktu ngaji di langgar…
kalau kemudian mereka menganggap sebagai sesuatu yang “eman” untuk tidak dikerjakan mungkin iya..
2. masalah orang yang kemudian sampai berhutang2 segala
haha ini malah alasan konyol lagi….
a. tidak semua tahlilan diharuskan ada makannya.. monggo lihat budaya di pesantren yang tahlilan tanpa ada makanan
b. kalau pun ada makanan saya fikir tidak lebih dari sekedar bentuk penghormatan seorang tuan rumah kepada tamunya.. dan bentuk shodaqoh…
iseng ya.. teringet kata teman saya… di sela2 ngopi di unyil coffe “la iku wong2 wahaby males shodaqoh ae gawe alasan babibu gawe nolak tahlilan… lawong seng diwoco yo apik… mari kalah adu argument masalah dasar2e saiki menggok nang utang2an barang gawe mbandani tahlilan….”
heheh jangan diambil hati ya saudara.. saya cuma cerita pengalaman kok..
wawlahualam bi sowab..
salam satu jiwa
saya berpendapat moderat saja ttg masalah tradisi tahlilan ini karena tendensinya yang lebih ke arah budaya ketimbang ritual ibadah, sejauh tidak ada yang dirugikan baik secara materi atau immateri, sah-sah saja pendapat berbeda itu menandakan masing2 ada dalil yang melandasinya bukan taqlid buta yang tentunya sangat dilarang agama. akan bernilai lain bila sebuah amaliah itu baik makhdhah maupun ghoir-almakhdhoh dipandang dari sudut pelakunya yang beragam sebab hanya tuhan dan dirinya yang lebih tahu tapi akan lebih tepat dan memang sudah seharusnya kalau yang mendasarinya nash2 qhot’i yaitu al-quran dan al-hadits
@dki,pengalaman saya agak beda. Tetangga saya benar2 sampai berhutang untuk menyelenggarakan tahlilan karena di kampung saya tahlilan seakan2 wajib.Padahal kondisi mereka sangat kekurangan. Kalau mengadakan tahlilan tanpa menyediakan hidangan mungkin dianggap nggak afdhol atau menyalahi tradisi.Sepanjang yang saya tahu ada riwayat mengenai kerabat sahabat nabi yang meninggal dan nabi memerintahkan oang2 untuk menghantarkan makanan untuk mereka karena sedang tertimpa musibah, tapi kenapa tradisi di sini (dikampung saya) kebalikannya, keluarga orang yg meninggal malah harus menyediakan hidangan untuk acara tahlilan? pengalamn lain, ketika teman saya meninggal karena kecelakaan sang ayah dengan baju masih berlumuran darah pergi ketoko untuk mebeli gula, teh dsb, untuk persiapan hidangan tahlilan, tragis yah… btw saya tidak anti tahlil bahkan selalu semangat setiap diundang tahlil karena itu berarti banyak jajanan dan pulangnya bawa berkat (makan gratis)..he he
maaf sya yg tergolong suka tahlilan dan masih awam kpd yng menyebutkan tahlilah itu syirik ...itu slah besar, anda yg menyebutkan tahlilan itu syirik kaji dulu pengertian dari syirik itu, bagaimana pelaksaaan tahlilan itu lebih dalam dan pengertian bid’ah itu, yg saya tahu bid’ah itu di bagi 3 untuk jelas’y cari sendiri ma antum semua dari kitab2 gundul bukan kitab yg dah ada domah dsb artinya…???tahlilan itu emang budaya yg dimana tahlilan itu di dalamnya tidak menyebutkan penyembahan kepada selain Allah tetapi di dalam tahlilan itu kebanyakan berdzikir kepada Allah gtooch. lagi pula low memang kita menyebut kepada wali dsb itu merupaka kita itu mendoa’akan’y bukan berdoa’a kepadanya.dan untuk masalah hukum’x itu bukan wajib yang mana bisa d laksanakan bagus gak di laksanakan juga gak pa2 dan pelaksaan juga gak perlu pake uang atau makanan dsb’y tidak di anjurkan, low memang ada ya silahkan…
bagi saya yang awam ini hanya ingin menyikapi tentang tujuan tahlilan yang biasa di lakukan sebagian umat islam di indonesia.bukankah tahlilan yang dilakukan semata-mata mohon kepada ALLAH SWT untuk megampuni dosa-dosa si mayit dan kebaikan lainnya lagi,bukankah salah satu kewajiban kita untuk mayit adalah menyolatinya yang intinya adalah mendo’akan mayit(lihat/baca tentang sholat janazah).ini berarti seorang muslim disyariatkan mendo’akan kepada orang yang telah wafat,juga kalau kita simak bahwa salah satu rukun khutbah sholat jum’at adalah berdo’a mohon ampunan bagi kaum muslimin & muslimat baik yang masih hidup/mati.Jadi menurut saya yang bodoh ini bahwa tahlilan untuk mendo’akan si mayit adalah sesuatu yang baik dan ada sumber acuan hukumnya.Dan tentang hidangan yang di sajikan oleh shohibul musibah adalah hanya bentuk ungkapan terima kasih/penghormatan kepada para hadirin yang ikut hadir mendo’akan keluarganya yang meninggal dan itu bukanlah suatu yang wajib sesuai kemampuan orang tsb.Wallaahu ‘alamu bisshowab.
Saudara-saudaraku yang disayangi Allah, alangkah indahnya diskusi ini.
Mohon ada yang berkenan menjawab / menerangkan tentang hal-hal berikut:
1.APAKAH SAMA ISTILAH TAHLIL DENGAN TAHLILAN?
2.MENGAPA DALAM PENGANTAR TAHLIL ADA ISTILAH SYEH ABDUL KADIR JAELANI PENGHULU KITA? APA MAKSUDNYA PENGHULU? MENGAPA HARUS BELIAU? tak cukupkah Rasulullah s.a.w.sebagai penghulu kita?
3. ADA PENGAMAL TAHLILAN YANG MENGATAKAN TANPA MELALUI BELIAU SYEH ABDUL KADIR JAELANI DOA TAHLILAN TIDAK SAMPAI, JADI KETIKA ADA YANG TAHLILAN TIDAK MEMAKAI TAWASSUL SYEH ABDUL KADIR JAELANI, PENGAMAL INI MENGECAM. BENARKAH INI? TIDAK CUKUPKAH HANYA DIDOAKAN SAJA SETELAH TAHLILAN?
4. APA ARTI TAWASSUL? MENGAPA HARUS TAWASSUL? APAKAH RASULULLAH S.A.W BERTAWASSUL ?
5. BAGAIMANA KALAU PENGAMALAN 7, 40, 100, 100 DITINJAU DAN DIJELASKAN LAGI KPD MASYARAKAT OLEH ULAMA PEMIMPIN TAHLILAN? ADA YANG SAMPAI KETAKUTAN KETIKA PELAKSANAAN TIDAK TEPAT HARINYA (SELISIH 1 ATAU DUA HARI) SEHINGGA PERASAAN BERSALAHNYA MENYEBABKAN DIA BERMIMPI BURUK TENTANG SAUDARA/KERABATNYA YANG DITAHLILKAN.
6. KARENA INI TIDAK WAJIB, BOLEHKAH PENGAMALAN DAN TEKS TAHLILAN (MISALNYA MUKADIMAHNYA) DIREVISI SEHINGGA MENGURANGI/MENGHILANGKAN KERAGU-RAGUAN DALAM PENGAMALANNYA?
Terimakasih semoga Allah memberi petunjuk kepada kita semua.
bismillah
apapun orang menamakan suatu amalan,yang terpenting itu syar’i.baik buruknya suatu amalan dlm agama itu berdasarkan wahyu(al qur’an&sunnah; rasul) bukan berdasarkan akal,pelajarilah sunnah nabi maka kita akan tahu mana yg bid’ah dan mana sunnah.islam itu sudah sempurna tak perlu tambahan atau pengurangan.OK…........
Seharusnya kita lihat dulu riwayat adanya tahlilan seperti yg dikhawatirkan sunan kalijaga kepada sunan ampel waktu itu bahwa para muslimin masih melaksanakan acara pada hari ke 7,40,1000 padahal dlm ajaran islam gak ada, lalu sunan kalijaga memasukkan ajaran2 islam kedalam acara tersebut dan mengatakan bahwa nanti akan ada wali ke 10 yg akan meluruskan ajaran2 trb, dan kitalah wali ke 10 tsb. Dimana perintah ttg acara 7,40,1000 harian ada? Sebenarnya acara2 tersebut terdapat didalam kitab wedha buat pemeluk
agama hindu (silahkan buka kitab wedha) dan hukumnya wajib, bila ajaran tsb perintah bagi pemeluk agama hindu dan didalam quran ataupun hadits gak ada kenapa kita umat muslim melaksanakanya dg segala alasan untuk membenarkannya…? Hati2 dg amalan yg kita anggap baik pdhl tidak ada tuntunannya yg tidak saja membuat amalan kita tertolak bahkan tanpa kita sadari telah berbuat dosa. Email: .(JavaScript must be enabled to view this email address)
Komentar Masuk (45)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)