Tentang Suara-Suara yang Tak “Memuaskan” Sepanjang Bulan Puasa
Oleh Natalia Laskowska*
Suara azan yang pagi itu memenuhi baik tubuh maupun ruh saya dapat bersaing dengan suara nyanyian Caruso. Keduanya begitu memuaskan. Saya sering merindukan suara azan itu, apalagi pada bulan Ramadan. Bunyi panggilan sahur yang disampaikan dengan timbre suara yang halus, itu bukan sekedar panggilan informatif saja. Indahnya mampu membuat kita kenyang. Ini adalah satu pemuasan dalam puasa. Tiada salahnya.
Komentar
ini artikal islam tp tak sedikitpun ada satu kutipan ayat al Qur’an atau hadits, jadi ragu sy keimanan anda dg islam gimana sih? yg saya temukan malah Fitzcarraldo, Enrico Caruso, Rumi bukanya Hambali, hanafi atau Muhammad, atau Muslim, bukhori dll… aneh, tulisan anda! lebih aneh lagi klo komentar sy ga muncul,...
hey mba mahasiswi PhD, pikiran manusia cuma seuprit di banding al Qur’an, suaranya itu menenangkan walaupun dilantunkan sama bocah kecil triak2 d pengeras suara, kasihan sekali klo anda malah merasa bising artinya al quran ga mau masuk ke diri anda, aq liberal anda liberal… tpi liberal kita beda… sori ya
mendengarkan Alquran dan doa dibacakan kok malah menjadi ujian kesabaran ? weird statement i think.
kalo saya pribadi, justru menyejukkan hati, seburuk2nya suara pembaca nya. dan, hal tsb malah menarik hati dan pikiran untuk ikut mengambil Alqur’an dan ikut mengoreksi bacaan si pembaca, memahami maknanya, dan jika memang benar2 tidak paham dg doanya, berarti koreksi pada diriku sendiri untuk belajar lagi, apa yg dibaca itu dan apa artinya.
dua masjid milik organisasi berbeda di antara kos anda, tinggal pilih salah satu saja yg sesuai dg hati anda,ikuti kegiatannya, serta menghargai masjid yg lainnya.
ketika banyak orang yg ingin memiliki tempat tinggal dekat masjid seperti anda, mengapa anda malah berpikir sebaliknya ?
selalu berpositif thinking lah… ![]()
sebagai insan yang memeluk agama islam, tentulah ia akan merasakan kedamaian saat bersinggungan langsung dengan hal yang bersifat religius itu..dosangaka tau tidak kita juga merasakan ada yang hilang bisa stu subuh saja tidak aa yang mengumndangkan adzan….maka mari dublan yang penuh berkah i ni kita satukan tekad untuk terus berbakyi kepada-Nya…...
Satu kalimat saja, gak perlu banyak2:
“salah satu ciri orang yg beriman adalah apabila ia dibacakan ayat suci Al Quran maka bergetarlah hatinya.”
Semua orang muslim pasti tahu cuplikan kalimat saya di atas.
saya sepakat dengan tulisan ini. saya sekarang jadi mahasiswa dan tinggal di kos. suara-suara dari corong mesjid sungguh mengganggu.
sayang sekali sekolah jauh jauh tapi ga bisa berpikir mendekati kebenaran,,,,,,sayang sekali…...artikel yang ga bisa mempengaruhi sekalipun bocah ingusan pinggir jalan apalagi mau mempengaruhi muslim kaffah? / ah apa kamu tahu arti kata “kaffah”?sia sia non/bung/pak pendeta/gusdurian…......
Hanya bisa tertawa dgn pendapat2 2 terakhir di atas. Sepertinya tidak bisa menangkap subtansi dari apa yg di maksud penulis.
saya merasa terganggu dengan suara azan atau bacaan quran yang suaranya sangat keras, masjid memang tak kan pernah peduli dengan lingkungan. saya suka tinggal menjauh dari masjid
kalau saya tidak salah menangkap tulisan Natalia - adalah soal VOLUME louspeaker yg tidak nyaman di telinga, bukan soal ayatayat suci yg dibacakan.
Bulan lalu, alhamdullilah, saya sempat ke Masjid Nabawi dan MsjidilHaram…rasanya saya tidak mendengar pembacaan ayatsuci dari loudspeaker di masjids tersebut.
Malah yg terdengar dari toko-toko yg menjual DVD, VCD cara membaca alQur’an…itupun suranya tidak memekakkan telinga.
Bagi saudara-saudara yang lahir di era elektronika, mungkin belum pernah merasakan syahdunya suara adzan atau bacaan al Quran tanpa pengeras suara elektronik. Karena saya lahir tahun 50-an, dan pernah tinggal lama di perkampungan, saya bisa bersaksi bahwa lantunan adzan dan al Quran tanpa pengeras suara jauh lebih indah dan menyentuh kalbu dibanding yang dilantunkan dengan bantuan TOA yang gemerisik.
Apa yang dikeluhkan penulis artikel di atas adalah fakta bahwa di kampung2 kita jaman sekarang banyak mesjid dan musholla yang melaungkan adzan dan bacaan al Quran secara bersamaan dengan bantuan pengeras suara elektronik. Jadi yang terjadi adalah lomba “keras-kerasan” yang memekakkan telinga.
Adalah benar bahwa orang yang beriman akan tergetar hatinya jika diperdengarkan bacaan ayat suci, tetapi tidak semua kaum muslimin sudah mencapai tahapan itu. Alih-alih tergetar justru mereka jadi sinis. Inilah yang harus kita pertimbangkan dalam berdakwah.
Wassalam.
kalau itu merupakan kalam ilahi, sebaiknya disampaikan dengan cara yang menyenangkan dan enak di dengar.
sebagai orang islam, kalau boleh memilih, saya lebih memilih ayat-ayat suci yang dilantunkan dengan nada merdu oleh orang yang memang mampu melantunkannya dengan cara demikian.
Suara/vokal yang tidak enak didengar, meskipun itu menyampaikan kalam ilahi, tetap saja tidak enak didengar. Dan bila diperkeras dengan pengeras suara, justru dikhawatirkan bisa menimbulkan antipati.
Karena itu, sebaiknya, mereka yang melantunkan ayat-ayat suci di masjid adalah mereka yang suaranya memang enak di dengar.
wassalam
gw ga bisa bayangin kalo suara-suara nyanyian dalam tradisi agama lain sepanjang malam menghujam kuping gw. paling cuma bisa pasrah. Anyway, suka ga suka, ternyata faktanya ga hanya non muslim yg terganggu dengan suara yang keluar dari speaker mesjid/musolla. Adapun sikap menilai buruk thdp seorang muslim yg kurang suka atau keberatan dengan bisingnya murottal dari speaker mesjid adalah sikap yg aneh.
sepakat…
apalah guna berbising ria hingga tak sadari ganggu tetangga ... okelah baca al qur’an dan kan kudengar dan (berusaha) susupkan hati, tapi suara “pita suara” bukan “pita perak” disertai bising megaphone bersahutan…
hal yang baik akan berdampak positif jika dilakukan dengan baik, sesuai batas-batas kewajaran. tapi bila overdosis sebaik apapun akan berdampak negatif. tilawah quran itu baik tapi bila volumenya jor-joran, suara pembacanya “nglokor” serta tidak mengenal waktu tentu akan membuat gerah penghuni sekitar. dibulan penuh barakah ini memang banyak lelakon ibadah yang berbau riya. seyogyanya pemakaian pengeras suara (outdoor) dibatasi antara 5 - 10 menit menjelang adzan, selain itu pakai pengeras suara dalam (indoor). jelas kurang menyentuh kalbu bila 200 masjid/mushala dalam satu kota memproduksi suara tanpa kendali bak pasar malam.
Saya berterima kasih mesjid di tempat saya sekarang dipegang ustad yang berpendidikan dan relatif liberal tapi justru mengatur penggunaan masjid dengan baik. Saat ini speaker mesjid nggak boleh sembarangan dipakai (keras sekali) dan suaranya jelek/ngawur. Sekarang tadarus pake speaker dibatasi tidak lebih dari jam 10 malam. Bagi yang ingin lanjut lebih dari jam tersebut tidak boleh pake speaker. Pagi hari, speaker dipakai kira2 mulai imsak, sementara di kampung-kampung belakang sering sampai semalaman dan cenderung adu keras.
Pembicara ceramah juga diatur bergantian dari yang tafsirnya konservatif hingga yang liberal (katanya biar masyarakat memahami bahwa dalam Islam ada berbagai tafsir yang tidak perlu saling dipertentangkan tp saling dimengerti
saya fine2 aja tuh, mau suaranya indah atau kurang indah, soundnya bagus atau kurang bagus, soalnya saya bukan mendengarkan indah atau nggaknya suaranya tetapi saya memahami makna yg dibacakan.dan terkadang ikutan memperbaiki tajwidnya yg baca. kalo pas beliaunya salah baca, kita bacakan istighfar…
let’s see contoh kecilnya, ada adzan nih, mau berapapun masjid, neriakin ‘hayya alasshoolaaaah’, mau suara muadzinnya cengkoknya kurang, mau soundnya cempreng, gak ada masalah, yg penting maknanya, banyak banget ni yg ngajakin sholat, dan bikin kita bergegas.
kalo emang sound nya cempreng, naaaa, kesempatan buat beramal ke masjid tuh ![]()
kalo denger puji2an agama lain, ya dihargai juga, kan keyakinan mereka…gak ada masalah sih buatku.kalo pas tabrakan, bisa koordinasi aja, antara pengurus masjid dan pengurus tempat ibadah agama lain biar g tabrakan, malah bikin rukun jadinya, gimana ?
jadi, selalu berpositif ria aja ya teman2 ![]()
JUJUR SAJA, SUARA APA PUN YG KELUAR DARI PENGERAS SUARA MEMBUAT TELINGA BISING !!!
masjid dan pengeras suara telah menyatu untuk menyeru suara Tuhan, tapi sering tidak bisa berdamai dengan suara Tuhan yang lain. Diselatan rumah sakit swasta di Ponorogo pengeras suara masjid selalu mengumandangkan ayat Tuhan, sementara yang sakit sangat terganggu dengan suara itu tentunya bukan dengan Tuhan dan ayat-ayatnya melainkan dengan pengeras suaranya. mudah-mudahan para takmir masjid menyadari dan menggunakan pengeras suara dengan proposional.
Komentar Masuk (18)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)