Teologi Negara Sekular: Substansi dan Metodologi
Oleh Redaksi
Kelompok diskusi yang dimoderatori oleh Luthfi Assyaukanie ini diikuti oleh lebih dari 200 anggota, termasuk para penulis, intelektual, dan pengamat politik seperti Taufik Adnan Amal, Rizal Mallarangeng, Denny JA, Eep Saifulloh Fatah, Hadimulyo, Ulil Abshar-Abdalla, Saiful Mujani, Hamid Basyaib, dan Ade Armando. Diskusi berikut mengangkat isu Teologi Negara Sekular, sebuah tema yang digulirkan pertama kali oleh Denny JA.
Komentar
walah pak Deni AJ.maunya agama di pisahin dari aturan pemerintahan toch, ck...ck....ck....ini asia pak Deni AJ buka amerika apa lagi eropah.trus jgn di samain donk ma negara yg udah merdeka selama ratusan tahun ma yg baru merdeka.Pendek kata negara yg baru merdeka tuch orangnya belum banyak yang pintar2 pak.Lagian apa sich yang kita cari di dunia ini, yang lebih baik itu adalah kedamaian di akhirat pak itu juga kalo pak deny percaya sama ke hidupan setelah dunia ini berakhir....
kalau boleh tanya neeh aq adabeberapa pertanyaan.
1. bagaimana Islam yang tanpa “fundamental” atau pokoknya, Al-Quran dan Hadits ?
2. mengapa kita harus mengambil gaya sekuler musthofa kemal attaturk yang telah memasukkan nilai-nilai setan, peradaban barat kedalam sistem dan nilai kemasyarakatan diTurki ?
3. mengapa mas-mas (khususnya bang harun (alm) dan bang cholis (alm)) kenapa sih gak pernah ngambil contoh dari kejayaan Islam dulu ?
4. Islam memang mengajarkan keliberalan dalam berpikir tapikan juga ada batasnya ?
bang danny solusi dan pandangan yang anda ungkapkan merupakan hasil jiplakan dan kopy paste saja dan itupun belum teruji kebenaran dan pasa tidaknya untuk dterapkan di indonesia, tentang sekuer demokratis yang bisa menjamin warga dalam segala bidang entah politik kebudayaan dan lain lain..dilihat dari kenyataan yang ada seperti negara jerman, turki ternyata salah besar dan apa yang anda uingkapkan adalah nol besar, coba kita lihat jerman dan turki saat ini kedua negara ini mengalami berbagai problem tatkala mereka mereka mempratekkan sistem sekuler dimana para pemimpin negara gak ada yang mengekang ,mereka bisa berbuat apa saja,
Yth. Bapak Hadimulyo
Sudah begitu sering saya mendengar bahwa Islam adalah agama terakhir yang akan menyempurnakan agama sebelumnya. Saya saya menghargai kepercayaan Bapak pada hal satu ini.
Perkenalkan dulu, saya adalah seorang yang beragama Katholik. Saya dilahirkan bukan dari keluarga Katholik, tetapi dari keluarga muslim “abangan” di satu sudut di Jawa Tengah. Sejak kelas satu SD saya memutuskan diri untuk memeluk agama Katholik meskipun saya tidak tahu sama sekali apa itu Agama Katholik. Di kampung saya lahir dan dibesarkan juga hanya ada satu keluarga yang beragama Katholik. Jadi hampir pasti ketika saya ditanya oleh guru SD kelas 1 saya “Kamu kamu apa Totok”, entah ada kekuatan dari mana saya menjawab Katholik.
tentu guru saya terkejut karena beliau saya kenal dengan ayah saya yang seorang Kepala Sekolah di SD yang lain di kelurahan saya. Sampai tiga kali saya ditanya, dan jawaban saya tetap sama yaitu agama saya Katholik.
Dengan latar belakang seperti ini, ketika beranjak dewasa saya mencoba mencari apa itu Katholik. Banyak yang sudah saya temukan.
Sebagai orang Katholik, tentu saja saya penasaran dengan apa yang Bapak yakini yaitu agama Islam sebagai penyempurna agama sebelumnya termasuk Nasrani.
Pertanyaan saya kepada Bapak, apa sihh pak ajaran yang ada di Katholik yang disempurnakan oleh Islam? Kenapa ini saya tanyakan karena sebagai orang Katholik saya merasa bahwa agama Katholik begitu ideal, karena kami tidak boleh membenci manusia yang lain sekalipun orang tersebut sangat membenci kami. Tentu ini sangat sulit kami laksanakan dalam hidup sehari-hari kami, tetapi kami harus terus mencoba karena itu lah yang diajarkan oleh Yesus kepada kami.
Kami juga percaya kepada Allah Yang Tunggal, meskipun kami mempunyai paham Trinitas. Tetapi dari yang saya pahami dari berbagai sumber bacaan, tidak ada satu pun dalam paham Trinitas yang mengajarkan bahwa Tuhan itu lebih dari satu. Terima kasih Bapak Hadimulyo, penjelasan Bapak kami tunggu agara kami lebih paham. Kalau hal ini dianggap sensitif, bisa dikirimkan ke alamat email saya saja.
Sekali lagi terima kasih yang sebesar-besarnya. Salam Totok Wibowo.
Komentar Masuk (4)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)