Diskusi
08/03/2001

Teologi Negara Sekular: Substansi dan Metodologi

Oleh Redaksi

Kelompok diskusi yang dimoderatori oleh Luthfi Assyaukanie ini diikuti oleh lebih dari 200 anggota, termasuk para penulis, intelektual, dan pengamat politik seperti Taufik Adnan Amal, Rizal Mallarangeng, Denny JA, Eep Saifulloh Fatah, Hadimulyo, Ulil Abshar-Abdalla, Saiful Mujani, Hamid Basyaib, dan Ade Armando. Diskusi berikut mengangkat isu Teologi Negara Sekular, sebuah tema yang digulirkan pertama kali oleh Denny JA.

08/03/2001 06:05 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (3)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

walah pak Deni AJ.maunya agama di pisahin dari aturan pemerintahan toch, ck...ck....ck....ini asia pak Deni AJ buka amerika apa lagi eropah.trus jgn di samain donk ma negara yg udah merdeka selama ratusan tahun ma yg baru merdeka.Pendek kata negara yg baru merdeka tuch orangnya belum banyak yang pintar2 pak.Lagian apa sich yang kita cari di dunia ini, yang lebih baik itu adalah kedamaian di akhirat pak itu juga kalo pak deny percaya sama ke hidupan setelah dunia ini berakhir....

#1. Dikirim oleh njum  pada  18/12   03:03 PM

kalau boleh tanya neeh aq adabeberapa pertanyaan.
1. bagaimana Islam yang tanpa “fundamental” atau pokoknya, Al-Quran dan Hadits ?
2. mengapa kita harus mengambil gaya sekuler musthofa kemal attaturk yang telah memasukkan nilai-nilai setan, peradaban barat kedalam sistem dan nilai kemasyarakatan diTurki ?
3. mengapa mas-mas (khususnya bang harun (alm) dan bang cholis (alm)) kenapa sih gak pernah ngambil contoh dari kejayaan Islam dulu ?
4. Islam memang mengajarkan keliberalan dalam berpikir tapikan juga ada batasnya ? 

#2. Dikirim oleh DZULFIKARAKBAR AKBAR ROMADLON  pada  18/06   05:30 PM

bang danny solusi dan pandangan yang anda ungkapkan merupakan hasil jiplakan dan kopy paste saja dan itupun belum teruji kebenaran dan pasa tidaknya untuk dterapkan di indonesia, tentang sekuer demokratis yang bisa menjamin warga dalam segala bidang entah politik kebudayaan dan lain lain..dilihat dari kenyataan yang ada seperti negara jerman, turki ternyata salah besar dan apa yang anda uingkapkan adalah nol besar, coba kita lihat jerman dan turki saat ini kedua negara ini mengalami berbagai problem tatkala mereka mereka mempratekkan sistem sekuler dimana para pemimpin negara gak ada yang mengekang ,mereka bisa berbuat apa saja,

#3. Dikirim oleh udin  pada  27/08   09:36 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?