Teologi Ramadan dan Kerukunan Antar-Umat
Oleh Abdul Moqsith Ghazali
Orang yang gagal dalam puasa adalah mereka yang telah menjalankan ibadah puasa tapi tetap melakukan kekerasan sekalipun dengan basis dan argumen agama. Saya percaya, semakin banyak umat Islam yang khusuk dalam berpuasa, maka semakin berkurang jumlah kekerasan dan konflik yang menyertakan umat beragama. Ramadan adalah titik terpenting bagi upaya peningkatan toleransi dan kerukunan intra dan antar-umat beragama.
Komentar
setuju om, saiia juga moslem tulen, tapi tindak kekerasan, walau itu argumenya agama, tetaplah tidak benar ![]()
<a >latihan seo untuk pemula</a>
Setuju mas, di tunggu artikel untuk Ramadhan 1430 H.
Apapun hukumnya membela diri bila dizalimi dibolehkan. Haruskah dengan berpuasa tidak boleh membela diri? Itu namanya konyol. Saya salut dengan Saudara-saudara di Jalur Gaza. Israel boleh saja menghancurkan negara Palestina dan membunuh rakyatnya, namun hingga hari kiamatpun Negara Israel tidak akan mampu menundukan keyakinan kaum muslimin. Jihad adalah salah satu semangat umat muslimin yang tidak dimiliki oleh agama lain
untuk hari ini, membunuh orang yahudi yg menindas palestina halal hukumnya.
semoga saja perang di Gaza cepat berakhir, saya hanya bisa berdo’a.
setuju pak
emang ga tau tabiat yahudi yang slalu memusuhi islam. maka baca quran yang bener. jaman nadi saw walaupun puasa tetap berperang melawan musuh ALLAH.
Kekerasan dalam artian bagaimana? dan dalam konteks apa dulu.. perlu di jelaskan
Sebentar lagi Ramadhan tiba, alhamdulillah masih dikasih umur. Smg kerukunan makin erat terjalin. Amin
Rasanya, tidak berarti bahwa hanya baik di bulan puasa saja, kemudian kembali tidak baik setelah itu.
Sebetulnya, bulan puasa adalah bulan latihannya, bulan pengingatan kembali untuk kembali kepada Islam yang rahmatan lil alamin. Hasil dari latihan selama 1 bulan selama bulan puasa ini adalah sikap umat Islam yang kembali rahmatan lil alamin ke depanya, at least 11 bulan ke depan, sampai bulan puasa berikutnya.
Semoga dari bulan puasa ke bulan puasa berikut2nya, kita bisa bertambah baik, memberikan rahmat bagi sesama kita di alam semesta ini. Amin.
Hadis man fariha bidukhuli ramadhan dst tu sumbernya dari kitab apa dan perawinya siapa? Sy cari di cd kutubut tis’ah tdk ketemu. Suwun
Semoga suatu saat nanti kerukunan antar umat beragama dapat tercapai dan semoga dari bulan puasa ke bulan puasa berikut2nya, kita bisa bertambah baik, memberikan rahmat bagi sesama kita di alam semesta ini. Amin.
Alhamdulillah para wali yang mengajarkan Islam pertamakalinya di Pulau Jawa adalah penganut sufisme yang mengedepankan isi daripada kulit. Karenanya Islam diterima dan dengan cepat mendapat pemeluk yang banyak. Mereka berislam dengan damai. Umat Islam utamanya generasi sekarang lebih banyak bertengkar dengan sesamanya dan dengan umat lain. Sebabnya salah satunya adalah mengedepankan fiqih. Saya teringat dulu waktu SMA (sekitar 80-an akhir), ada kawan saya yang begitu semangat ingin menerapkan fiqih yang didapatnya pasca pelatihan semacam pesantren kilat, mulai menyalahkan praktek ibadah yang dilakukan kawan lainnya. Tujuannya sebetulnya baik, mencoba mengajak kawan lainnya untuk mengikuti tuntunan Qur’an dan hadits dalam beribadah. Tetapi karena caranya selalu dengan gaya protes, merasa benar sendiri, menganggap diri lebih tahu daripada orang lain, malah dijauhi kawan-kawan lainnya.
Setelah kuliah di Jawa, saya mendengar bahwa adik-adik kami di SMA (sekitar pertengahan tahun 1990-an) malah lebih ekstrim lagi. Demi menerapkan hadits yang melarang memanjangkan kain melebihi mata kaki, mengguntingi semua ujung celana siswa yang dianggap melebihi mata kaki.
Setelah kembali ke kota asal (Kendari) di awal tahun 2000-an, saya terkejut mendengar bahwa kawan-kawan yang dulunya bersama-sama mendirikan pengajian siswa sewaktu SMA sudah tidak saling menyapa lagi. Ketika saya tanya apa sebabnya, seorang kawan memberitahu bahwa mereka tidak bersesuaian pendapat tentang fiqih tertentu. Keduanya memang berbeda kelompok.
Mendengar hal itu, saya jadi teringat, sekitar tahun 1995, dalam suatu pengajian di masjid kampus, ustadz yang memmberikan materi meminta kepada kami untuk membantunya menjelaskan kepada teman-teman lain mengenai keprihatinannya. Katanya saat itu, “Saya minta tolong kepada adik-adik mahasiswa yang hadir dalam pengajian ini, mohon diberitahu kepada kawan-kawannya yang lain, yang sekarang mulai bersaing tidak sehat, bahwa kami ini para ustadznya dulu berkuliah di tempat yang sama di Baghdad. Bahkan satu tempat kost dan satu kamar pula. Tetapi mengapa mereka yang jadi peserta didik kami itu sekarang terlihat saling membanggakan ustadz mereka masing-masing? Ada yang bilang ustadz-nya lebih jago dalam hal ini ketimbang ustadz kawannya. Kawannya tidak mau kalah kemudian membantah dan berkata bahwa ustadznyalah yang sesungguhnya lebih unggul. Saya khawatir, jika tidak dihentikan dari sekarang, nantinya mereka bertengkar terus dan meneruskan pertengkaran itu kepada anak didiknya kelak”.
Dan ternyata kekhawatiran ustadz kami itu sekarang terbukti dengan banyaknya perdebatan dan saling klaim sebagai yang paling benar di antara para penyebar dakwah di negeri ini. Dulu saya suka dengan forum pengajian, karena saya anggap seabagai tempat yang membawa kedamaian. Sekarang yang saya rasakan di dalam forum pengajian bukan lagi kata-kata tentang damai, kebersamaan, kepedulian, tetapi tudingan terhadap kelompok lain dengan istilah bid’ah, khufur nikmat, sesat, bodoh, tidak berilmu, dangkal pengetahuan agama, dsb. Sejak saat itu, saya lebih memilih meninggalkan kelompok pengajian. Saya lebih suka membaca buku-buku Islam yang lebih menekankan isi daripada kulit. Maksud saya, yang lebih menekankan kepada esensi keislaman yakni akhlaqul karimah (menghormati yang tua, menyayangi yang muda, memahami keterbatasan orang lain, dsb) ketimbang urusan baju, cara berjalan, cara sujud, cara berwudhu, cara berpuasa, tanda hitam di jidat, hadits sahih atau tidak, ini halal atau haram, musik halal atau haram, dan sebagainya.
Kesan saya, dakwah Islam sekarang lebih mementingkan kulit daripada isi, gak boleh beda. kalau ada yang beda, maka dibentak, diejek, diketawain.
Ah, di manakah dakwah Islam yang dulunya terasa damai dan menyejukkan itu….?
Saya sependapat dengan pak muhamad hakim,pada dasarnya kita hidup memang berbeda beda,berwarna-warni,kenapa harus sama? biarlah keragaman menjadi hiasan dalam beribadah
ga perlu panjang lebar, ente bahlul!!!
pemahaman anda tentang islam masih dangkal. inget ye, pada dasarnya kebenaran pada hakekatnya adalah claim of truth. Kebenaran adalah ketika anda percaya. Kebenaran=kepercayaan. saya yakin anda adalah agen intelejen CIA yang menyusup dalam jaringan Islam. walaupun mungkin ente orang indonesia.
Komentar Masuk (15)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)