Teori Konspirasi Selalu Meneror Kebenaran
Oleh Redaksi
Tepat hari Kamis, 11/09/03 yang lalu, Radio 68H Jakarta mengadakan diskusi untuk mengevaluasi 2 tahun perang melawan terorisme. Berbagai pandangan, mulai dari analisis suasana geo-politik global di Timur Tengah, sampai persoalan meningkatnya radikalisasi agama di Indonesia dibahas dalam diskusi tersebut. Diskusi tersebut mendatangkan antara lain, Dr Syafii Anwar, Ismail Yusanto dan Musthafa Abd Rahman.
Komentar
Kalau kita berbicara mengenai terorisme sulit rasanya menemukan definisi yang terbaik untuk mendefinisikannya. Sedangkan Terorisme berasal dari kata teror. Teror merupakan pekerjaannya, Teroris adalah orang (subyek) sedangkan terorisme adalah paham tentang melakukan perbuatan teror. Melihat dari asal katanya, jelas bahwa setiap perbuatan yang melakukan aksi teror (mengintimidasi, membunuh, dan semua perbuatan yang termasuk teror) adalah perbuatan terorisme.
Melihat fenomena yang berkembang pada saat ini, bahwa terkesan terorisme sudah menjadi label Islam. Setiap bentuk kekerasan yang dilakukan oleh kalangan Islam maka dicap sebagai perbuatan teror (terorisme). Padahal, diluar kalangan Islam banyak sekali teror-teror yang dilakukan oleh Barat (khususnya Amerika dan Israel). Apakah kita tidak menyadari, bahwa setiap hari bocah Palestina dan Iraq ada saja yang terbunuh ???
Apakah itu bukan namanya Terorisme ??????? Padahal Amerika dan Israellah yang pantas menyandang predikat TERORISME. Tapi mereka sangat LICIK dan PINTAR dalam membungkus aksi-aksi mereka.
Saya sangat setuju sekali dengan Bapak Ismail Yusanto dari Hizbut Tahrir yang mengatakan bahwa kita jangan hanya melihat reaksinya saja, tapi kita juga harus melihat aksinya.
Reaksi yang dilakukan oleh kalangan Islam saat ini, dimana terjadi aksi bom bunuh diri atau perbuatan teror lain, adalah merupakan disebabkan karena aksi yang dilakukan oleh BARAT (AMERIKA, ISRAEL) yang telah melakukan aksi-aksi TERORISME terhadap kalangan Islam.
Sayapun heran mengapa kita (kalangan Islam) terjebak oleh propaganda-propaganda Amerika dan Israel. Sehingga opini yang berkembang saat ini, bahwa Islam adalah terorisme dan terorisme adalah Islam. Tapi kita tidak pernah menyadari bahwa AMERIKA, ISRAEL DAN ANTEK-ANTEKNYALAH sebagai TERORIS SEJATI.
Para Pembaca pembaca yang budiman,
Jangan terlalu khawatir. Saya percaya akan adanya perdamaian suatu saat nanti di Timur Tengah….ini hanya soal waktu. Dalam sejarah peradaban manusia yang sudah ribuan tahun ada banyak sekali perang yang jauh lebih dahsyat dan berkepanjangan dari yang di Timur Tengah dan manusia bisa melewatinya. Akhirnya perdamainlah yang menang dan hancurlah kedengkian. Peradaban manusia yang sudah bisa ribuan tahun ini tidak bisa dihancurkan hanya dengan radikalisme ataupun teori konspirasi.
Ada baiknya lebih banyak baca artikel tentang sejarah dunia.
Dr Shafii anda luar biasa, Indonesia memebutuhkan banyak orang seperti anda.
Assalamualaikum.wr.wb,
Saya mah cuman ngasih komentar “pada ngapain sih ngurusin orang arab di palestina, irak, afghanistan ato yg laennya. Kayak kurang kerjaan aja, bantuin dong itu saudara-saudara muslim kita yang setanah air. Emang udah pada makmur? khan belon. Bantuin kek saudara kita yg lagi kekeringan, lagi nyari penghasilan di lampu merah atau bantuin gimana supaya pendidikan di sekolah2x islam lebih maju sehingga tidak ada orang islam yang harus bersekolah di sekolah kristen utk lebih maju.
Kalo masalah di arab mah biarin aja, wong tetangganya yg lebih deket sesama arab aja nggak perduli. Investasi dari luar paling besar di Amerika siapa? negara arab. Yang ngurusin duitnya negara arab sapa? yahudi (contoh: Salomon Smith Barney). Jadi sebetulnya masyarakat muslim negara arab itu punya kekuatan yang besar kalo mau melawan Amerika dan Israel. Masalahnya, mereka KAGAK MAU. Coba seluruh investasi negara arab di tarik dan di pindah ke eropa ato cina, pasti jatuh tuh ekonominya amerika. Lha kalo tetangga deketnya sendiri aja pada nggak mau nolong saudaranya yang lebih deket, ngapain kita yg di Indonesia heboh? Kayak kurang masalah aja di sini…...bingung. Woii, masih banyak saudara muslim kita yang susah nih di sini….mendingan bantuin di sini aja daripada kudu jauh2x mikir ke sana-sana yang hasilnya juga kagak karuan.
Wassalammualaikum.wr.wb
Muhammad Islam
Saya adalah salah satu dari banyak orang yang memandang, bahwa kaum muslim sekarang secara generik sedang mengalami “depresi” berat dan komplikasi penyakit sosial yang kronis. Tapi saya kurang setuju dengan solusi yang bersifat pragmatis-regional, karena hal itu secara frontal berseberangan dengan karakter kuat solider-universalitas (rahmatan lil ‘alamin) Islam. Adalah pemikiran yang tergesa-gesa, kalau problematika umat hanya difokuskan pada ranah lokal “state-nationalism”. Muslim di manapun juga, merupakan bagian dari kita, muslim Indonesia. Saya menganggap, sikap egoistis dan primordialisme lokal berlebihan ini juga merupakan bagian penyakit yang kita derita. Jangan sampai “penyakit” pemimpin-pemimpin Arab ini dijustifikasi sebagai perilaku “yang terbenar”. Jadi menurut saya, sah-sah saja jika ada sebagian umat yang ikut memikirkan nasib saudaranya yang menderita di belahan bumi yang lain, sembari berkecimpung aktif dalam penyelesaian problematika internal kita. Paham liberal-kapitalis dan sosialis-komunis saja bisa merambah di ranah “internasionalisme”, why Islam and muslims couldn’t do the same?
Saya kira semuanya harus adil.. itu saja..
Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Saya seorang muslim “biasa” saja, mungkin masuk kategori Muslim “pemula”. Soalnya ngajipun nggak tamat, pengetahuan agama Islam masih sangat dangkal dibanding sohib dari pesantren. Tapi saya merasa bahagia menjadi penganut agama Islam, karena berdasar apa yang saya alami selama ini, Islam itu memberikan saya rasa haru ketika sholat, ketika bersedekah dengan ikhlas, menangis ketika sungkem kepada orang tua waktu Idul Fitri, berkaca-kaca mata ketika melihat dan mendengar takbir di Arafah, ketika bersabar dizalimi teman yang licik dan dengki, menangis bersyukur ketika terbebas dari beban masalah dunia, merasa sangat kecil ketika berdoa, ketika berfikir tentang agungnya ciptaan Allah Yang Maha Berkehendak dsb. dsb. dsb. Itulah Islam yang saya fahami.
Ketika akhir-akhir ini saya mulai merasa galau dan risau di hati dan fikiran melihat bom, amarah, kedengkian, ketidak adilan, kejahilan merebak di mana-mana, terutama di negeri kita dan sahabat-sahabat kita yang Muslim, saya mulai belajar “marah” dan “sebel banget” sama yang namanya Amerika, Israel, Inggris, tapi juga sama si Inul, musik dangdut, musik teriak-teriak (rok), sinetron pamer kemewahan di TV; saya dongkol banget sama tuan-tuan wartawan koran slebor yang bisanya ngobral syahwat dan gossip. Wah pokoknya saya mulai belajar uring-uringan tapi juga kaget dan heran sama sohib-sohib yang hebat bener berani ngebom Amerika dan antek-anteknya, lalu dengan garang bilang munafik dan kafir lu! sama sohib yang sama-sama muslim. Wah ada apa ini, saya nggak ngerti, kok bisa ya sohib-sohib yang berani itu jadi lebih garang dari si bule Amrik yang pandai “merayu” itu. Lama-lama saya pikir bener juga tuh sohib kita yang berjanggut-janggut kaya Osama bin Laden. Antara kagum dan heran, saya mulai berhasrat ingin jadi pejuang-pejuang kayak mereka. Mati terhormat membela yang benar! Cuma karena saya muslim minimalis, hasrat yang mulai tumbuh itu tidak keterusan. Soalnya saya mulai mikir, kok apa iya Islam ngajarin bam-bem-bom di mana-mana apalagi korbannya juga ada orang muslim juga. Wah, rasanya nggak klop tuh (hati saya ngebisikin, hati-hati Ujang, bagian Ujang mah bukan itu; biarin aja deh mereka begitu, memang udah dari sononya kudu begitu).
Wah setengah kaget sama lega saya mikir lagi, jangan-jangan hiruk pikuk akhir-akhir ini memang sudah dari sononya, sudah ada suratannya. Memang bakal begitu sih!(barangkali Allah sedang mewujudkan kehendakNya, soalnya kezaliman di dunia ini sudah kelewatan banget, sudah waktunya dunia ini dirombak lagi, to build a world anew kata Bung Karno tea!) Lama-lama saya mulai nggak terlalu risau, apalagi saya mulai inget wejangan (ramalan?) orang-orang tua dulu yang mengindikasikan kejadian-kejadian yang akan terjadi sekarang dan masa depan nanti. Lalu saya mulai berfikir begini:
1. Tuhan bisa mengerahkan siapa saja yang dikehendakiNya sebagai “tentaraNya” untuk merombak dunia yang sudah dikuasai oleh kezaliman dan ketidakadilan.
2. Tuhan sedang berkehendak merombak umat Muslim (dan orang-orang yang diridoiNya) agar kembali ke jalan yang lurus (karena rasanya umat selama ini sudah beku, jumud jiwa dan pikirannya, agar mampu menjadi rahmat bagi alam.
3. Tuhan tidak membedakan agama formal apa yang di anutnya, yang penting mah AHLAK nya. Ahlul Kitab juga kalau berahlak baik mah sudah terbukti mampu membangun masyarakat yang (pernah) lebih bener dari kita sekarang ini.
4. Tidak perlu pusing-pusing mikirin siapa mihak siapa. Biarkan saja lah, wong dikasih nasihat juga sudah kagak mempan. Dajjal sudah ada dimana-mana. Patokan saya mah, pelihara hati nurani agar tetap bersih dan bening (sholat, puasa dsb dsb.) sehingga mampu membedakan yang benar dengan yang setengah bener. Tidak usah repot-repot saling tuding-tudingan. Tentu kajian keilmuan unuk mencari “kebenaran” itu wajib diteruskan sampai akhir zaman!, tapi dengan semangat rendah hati, dan niat ikhlas.
5. Kepada sohib-sohib di komunitas Islam Liberal, kalau boleh saya sarankan agar lebih berendah hati dalam segala hal dan terus waspada lahir batin agar tidak kecolongan oleh pandangan yang setengah bener. Berwacana sih boleh aja dalam kerangka akademis, tapi perlu juga dong lihat lingkungan kita yang masih belum terbiasa buka-bukaan. Anda mungkin merasa benar tapi belum tentu sepenuhnya benar. Itu masih harus dicari sampai akhir jaman.
Wallahualam Wass.Wr.Wb djatti sumarna.
Bismillahirohmanirrohim
Assalamu’alaikum wr wb
Saya kira pujian harus diberi pada 3 panel perbincangan ini iaitu Pak Syafii, Pak Musthafa dan Pak Ismail kerana memberi pandangan yang saksama mengenai issue terrorisism masakini.
Cuma saya hanya mahu menambahkan apa yang saya kira mungkin tertinggal di dalam perbincangan ini.
Pada zaman pemerintahan Saidina Omar ra, kalau seorang Islam itu dianiayai oleh orang kafir, seluruh kampung orang Islam akan keluar dan memerangi orang kafir tersebut demi membela nasib orang Islam yang dianiayai itu.
Sesuai dengan firman ALLAH Swt dan hadith Nabi Muhammad saw yang mengatakan orang Islam itu bersaudara. Kalau cubit peha kiri, peha kanan juga akan terasa sakitnya.
Nah sekarang dalam konteks hari ini ia telah berbeza. Pemerintah yang dipegang oleh orang Islam tidak melaksanakan kewajipan ini lagi. Kita bisa lihat, di Bosnia, Palestine, Ambon, Afganistan, Irak dan lain lain lagi, penganiayaan terhadap orang Islam berleluasa dan ianya tidak dapat pembelaan dan perhatian dari pemerintah pemerintah Islam.
OIC juga tidak memperdulikan nasib mereka. Jesteru itu kegagalan pemerintah Islam dalam menangani masalah tersebut maka lahir lah kumpulan kumpulan saperti Hamas, Laskar Jihad, Hisbullah dan sebagainya demi membela nasib mereka. Tapi sayang nya mereka telah dilabel sebagai terroris oleh rejim Amerika dan Yahudi (kafir) demi politik mereka yang kotor.
Oleh itu pada pendapat saya selagi bumi Islam dijajah selagi itu “terroris” tetap akan hidup dan terus berjuang.
Selamat menunaikan ibadah Jumaat yang penuh berkah ini. Terima Kaseh
Wassalam
Sa’at b Mohamed Singapore
Assalamualaikum Wr Wb,
Saya terharu dan akur dengan Bung M. Islam. Tapi kita harus go internasional juga. Kalau enggak, ya dibilang jago kandang. Makanya saya sekali lagi mengimbau Islam Lib untuk elok-nya membengkokkan saja usaha “tanya sana tanya sini” kepada hal-hal yang bermanfaat untuk memperbaiki ekonomi dan industri ummat Indonesia yang selalu menjadi arus bawah dan kuda tunggangan untuk mencapai nafsu politik yang angkara murka.
Patut ditiru dan disukuri usaha-usaha Bank Muamalat yang hasil-nya sudah bisa dinikmati sebagian kecil umat Indonesia. Industri seperti itulah yang perlu dikembangkan oleh Islam Lib. Jangan mengembangkan industri “tanya sana tanya sini” dan akhirnya memancing “hard talk” bersitegang leher yang tidak berujung.
Usaha-usaha Bank Syariah Indonesia, selayaknya dibantu oleh Islam Lib yang juga punya klan di mancanegara. Bentuk suatu konspirasi fund co yang bisa setara dengan Soros & Co. Kalau ini sudah jalan dan berhasil bisalah kita ngomong-ngomong enak. Bung Ulil, lihat saja Pak Mahatir Mohammad yang selalu meng-counter apa saja yang kontroversial dari ucapan pemimpin barat, umpamanya soal veto USA atas kecaman atas invasi Israel ke Syria baru-baru ini, yang oleh Pak Mahatir dikatakan sebagai “veto yang sangat biadab dan mengerikan”.
Demikian, kalau ada kata-kata yang miring jangan disimpan di dalam hati.
Wasalamulaikum Wr. Wb.
M. Nasir
Assalammualaikum.wr.wb,
Maafkan saya kalau berbicara agak sinis tentang persaudaraan umat Islam ini seperti yg saudara kita dari Singapore utarakan. Apa iya umat Islam bersaudara, kalo teorinya memang benar tapi apakah prakteknya begitu? Di dunia internasional kita melihat Arab Saudi, yg merelakan daerahnya utk dijadikan pangkalan oleh AS utk menyerang Irak, mana persaudaraannya? Waktu kita krismon, kenapa kita sampai jatuh ke tangan IMF? Ke manakah saudara2x kita yg kaya2x di Arab sana, mengapa tidak membantu kita di Indonesia yang notabene mayoritas waraganya adalah muslim? Di Indonesia, waktu pemilu sesama Islam saling bunuh-membunuh hanya karena berbeda partai, begitu mudah mengeluarkan fatwa mati atau “Halal darahnya” mana persaudaraannya? Ngebom, yg kena juga sesama muslim yang hidupnya juga sudah susah, apakah yg ngebom terus membantu menghidupi anak istri yang di tinggalkannya? nggak juga, mana persaudaraannya?
Pernah umrah atau haji? menurut Anda ramah atau tidak perlakuan saudara kita arab2x di sana dengan kita sebagai saudaranya? Jawabannya terserah Anda sendirilah.
Wassalammualaikum.wr.wb
Muhammad Islam
Memprihatinkan sekali, penggunaan kata “meneror” untuk teori konspirasi terhadap kebenaran. Barangkali sang penulis harus belajar dahulu ke mantan Kabakin Z. Maulani atau Dr. AC Manulang, bahkan ke Hendropriyono. Teori Konspirasi, walau sulit dibuktikan secara ilmiah, tetap mudah untuk dicerna. Bukti itu selalu terlambat datangnya. Terkadang harus lewat proses manipulasi dan kebohongan-kebohongan. Ketika manipulasi dan kebohongan itu terbuka, barulah mereka percaya. Jadi, berhati-hatilah menggunakan istilah atau kata, penggunaan kata “meneror” adalah provokatif. Julukan yang cocok bagi sang penulis, yaitu provokator. Provokator yang konyol. Perbanyaklah bercermin pada orang jujur, yang berani mengambil resiko, bukan kepada sang pengecut, yang hanya bermain dengan dialetika bahasa. Banyak-banyaklah membaca tentang kebusukan suatu pergerakan seperti yang ditelaah dalam dunia intelejen.
Assalamu’alaikum Wr Wb. Saya semakin heran, bahwa semakin banyak terpolar cara berpikir umat Islam. Memang sah-sah saja kalo sebagian umat memikirkan saudara kita yang menderita di negeri orang. Tapi menurut hemat saya, bukankah ini suatu contoh peradaban umat yang mundur.
Sebagai contoh dalam keluarga sendiri, ada anggota keluarga yang sakit dan sangat perlu diperhatikan, kenapa kita harus menoleh keluar rumah, dan mengurusi tetangga? Mana yang harus didulukan? Inilah hasil suatu keradikalan yang menutupi akal dan hati.
Kalo saudara kita dalam keluarga tersangkut narkoba, kok bisa-bisanya mikirin tetangga dulu. Mbok ya sadar. Tetangga kok malah dipikirin dulu, sedang di pundak kita sendiri masih ada beban tanggung jawab. Ibu kita masih morat-marit mikirin biaya buat kita, anak-anaknya, tersandung lagi anaknya yang sakit. Kok kita sebagai saudara kandung tega-teganya merongrong orang tua sendiri?
Saya berdo’a mudah-mudahan Allah SWT meluruskan cara berpikiran saudara-saudara umat kita yang berpedoman salah seperti ini. Terus terang, saya salut dengan cara penyampaian penulis. Sejak dulu saya rela untuk menyumbang uang untuk amal, apabila ada saudara-saudara kita yang mau memerangi kemaksiatan-kemaksiatan (NARKOBA/MIRAS/PROSTITUSI/JUDI/KUPON PUTIH, dan masih banyak lagi) yang ada di negeri yang sedang kena wabah sakit ini, dari pada untuk merakit bom atau membunuh orang tak berdosa. Negeri yang rusak janganlah ditambah rusak lagi. Itu bukan jihad, tapi penjahat.
Wassalam Wr. Wb.
Memangnya Amrozi itu siapa, kok merasa berhak membunuh turis Amerika dan Australia? Apa kok layak untuk dibunuh?
Berdoa juga nggak salah, tapi lebih salah kalau kita melihat kemungkaran merajalela, lantas kita tiduran atawa ikutan larut dalam kemungkaran. Dalam konteks Indonesia, apakah orang-orang Islam di Jakarta nggak ikutan dalam konsiparasi dan kongxkong yang ujug-ujugnya adalah duit dan kekuasaan? Dengan mata kepala, kita lihat para pemimpin kita pada qadalin kite pade, yang ujug-ujugnya mematikan potensi kita pribumi yang sebagian besar beragama Islam. Dalam konteks Indonesia, kita nggak bisa melihat masalah secara parsial tanpa mengikutkan kepentingan ummat Islam secara satu kesatuan dari negara Indonesia.
Kembali kepada kita semua, apakah kita bagian dari kemunafikan? Sekedar mengingatkan, Indonesia amburadul lantaran para pemimpin kehilangan amanah, juga lantaran korupsi sudah semakin brutal.
Memang semua ahkirnya harus berpulang kepada fakta…masalahnya apakah yang teramati sebagai fakta itu adalah yang sebenarnya? lalu adakah “kebenaran” lain yang tidak terungkap atau tidak teramati??? Kiranya kita tidak usah naif, dalam arti memang ada kelompok2 tertentu yang mempunyai kepentingan dan agenda tertentu lalu melakukannya dengan “invisible” atau “dibelakang layar” . Mungkin hanya yang teramati yang ada, tiada yang lain, dan itulah satu2nya kebenaran. Tapi tentunya jangan menutup mata terhadap kemungkinan terhadap “kebenaran” lain yang tidak terungkap.
Saya bertanya kepada seorang Palestina yang “mengungsi” dan mendapat kewarganegaraan di Negara-Timur tengah.
Pertanyaan saya adalah: Apakah ada orang arab yang tinggal di negeri Palestina dalam pemerintahan israel dan bagaimana keadaan mereka?
Cukup kontroversial juga jawabannya.
Banyak orang islam atau kristen arab yang tinggal dalam pemerintahan israel yang walaupun statusnya adalah warga negara kelas dua namun mereka hidup lebih aman dan tentram dan bebas melaksanakan ibadah mereka masing-masing. Perikehidupan ekonomi nya juga jauh lebih baik dari orang arab yang tinggal di wilayah Palestina.
Kenyataannya 1-2 juta penduduk arab sekarang ini dengan aman tinggal di wilayah pemerintahan Israel. Ketidak amanan mereka dipicu oleh aksi-aksi gerakan perlawanan yang menyusup ke Israel sehingga membuat mereka penduduk setempat yang arab dicurigai oleh pemerintahan israel.
Lalu saya tanyakan kenapa orang arab yang lain enggak gabung jadi satu aja dengan israel dan bikin negara yang demokrasi? Dan kenapa mereka terus berperang dengan Israel?
Lebih kontroversialnya lagi di jawab wah itu sih karena mereka emang seneng aja perang mungkin karena udah benci ama israel.
Memang obrolan saya ini bersikap subjectif dari si orang palestina itu saja. namun juga ternyata memberi masukan lain untuk saya dalam mencari solusi penyelesaian palestina. yaitu Mungkinkah membentuk Satu Negara Demokrasi di Palestina yang mencaklup semua warga arab-Israel dengan pemerintahan yang ADIL?
Alhamdullilah, ternyata situs ini termasuk yang mendukung kebebasan berpikir dan informasi umat. Selama ini saya selalu berdiskusi tentang adanya radikalisme dalam Islam dengan teman2 dan dengan org2 muslim yg tak saya kenal di Indonesia melalui forum2 diskusi. Mereka selalu menentang adanya istilah Islam radikal atau fundamentalis.
Saya menawarkan fakta bahwa orang-orang yang membom kereta api di Madrid tgl. 11 maret 2004 itu orang-orang muslim dan saya kenal salah satu diantaranya. Mereka kini ada dipenjara. Saya kenal juga seorang kenalan Indonesia yang setelah keluar dari Spanyol lantas menjadi buron di Indonesia karena kasus Poso dsb. Nah ini adalah fakta. Mereka itu saudara2 kita yg berpikiran radikal, saya bilang. Tapi saya malah dituduh dimanipulasi amerika karena yang membom itu adalah org2 yang ingin menjelekan Islam.
Jadi untuk membuka mata sesama saudara kita bhw di antara kita memang ada saja muslim yg beraliran radikal (logis saya pikir) itu susah sekali. Mereka itu asal bicara. Sedangkan mereka tidak mempunyai fakta, sumber bahkan mereka bukanlah org2 yg bergerak di bidang intelejen yang menguasai hal ini, nah bagaimana mereka bisa bicara seenaknya saja? Padahal saya kenal, seorang muslim di sini yg terlibat pemboman 11M, dan saya tau bagaimana pemikiran dia yg radikal, dia sempat ke Indonesia utk melihat pelatihan di kamp JI (jemaah islamiyah) dan dia memang mengkoleksi senjata api di rumahnya. Sedangkan kenalan yg satu lagi, terakhir2 ketemu juga berubah. Tidak mau memandang wanita, bahkan memperlihatkan video perang di Bosnia pada anak2 pengajian.
Beritanya dia itu terlibat keributan di Poso dan menjadi buron polisi. Nah ini kan bukti, saya kenal mereka tapi org2 yg tak tau bukti ini malah membela teori konspirasi. Susah…bagi saya berdiskusi dengan sesama muslim menjadi semakin susah karena pikiran mereka yang tak mau melihat masalah dalam tubuh masyarakat muslim sendiri…Sekian pendapat saya, terimakasih dan
Wassalam.
——-
Belajar dari sejarah peradaban manusia barang siapa berkuasa dapat menjadikan dirinya sebagai pahlawan kebenaran. Itulah sebabnya manusia berusaha mendaatkan kekuasaan dengan segala cara hingga menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan.
Yang harus disadari dendam dan kebencian akan menghancurkan lingkungan dan bagai bumerang akan berbalik pada yang melemparkannya.
Komentar Masuk (17)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)