Teror
Oleh Syafa'atun Aisya
Saya ingat insiden itu. Saat mereka memukuli lawan-lawannya persis seperti maling ayam yang tertangkap basah. Perilaku sadis yang mengingatkan saya pada potongan-potongan gambar peristiwa kerusuhan. Film Rwanda. Beberapa kerusuhan seputaran saya tinggal. Perang antar geng preman karena rebutan jatah. Saat satu kelompok ingin menghabisi kelompok lain. Dengan alat-alat tradisional. Sementara negara lumpuh tak berdaya. Hidup dalam teror. Bagaimana anda menjalaninya?
Komentar
orang itu mengakunya pembela islam tapi sebenarnya perusak islam, mereka itu orang2 islam yang tidak bersyukur atas kemajuan kemanusiaan, mereka ingin kembali kejaman Rasullulah SAW, seolah olah orang kafir itu tetap kafir dan orang islam itu tetap islam semua sudah berubah, yang dibilang kafir itu bisa sesungguhnya islam dan yang menyebut dirinya islam itu bisa saja iblis bahkan orang2 yang kafir itu yang menemukan listrik,listrik yang menjadi terang dunia yang bisa bikin orang2 itu pidato di lousdpeaker dengan keras,dan bisa naik speda motor kesana kemari, saya nggak ngerti maunya apa mereka itu, mereka sebenarnya juga tidak melaksanakan perintah alQuran dengan konsekwen, di al quran katanya ada ayat kalo ketemu orang kafir harus dibunuh, apa bener itu, kalo bener coba laksanakan itu bunuhin semua mereka biar mereka sendiri yang hidup, apa ini yang namanya orang2 biadab
Ya mengamati tingkah laku mereka memang kadang aneh. Satu sisi, cara berpakaian mereka meniru adat orang arab khususnya banyak perempuan yang berjilbab sampai hanya terlihat bola matanya.
Tetapi di sisi lain yang menyangkut soal “transportasi” mereka tidak mau meniru Nabinya. Misalnya, alangkah indahnya jika yang berjilbab itu kalau bepergian naik “onta” saja, seperti yang dilakukan oleh nabinya (sunah rasul). Kalau nabinya umi (buta huruf) umatnya ya ramai-ramai ikut umi saja, gak usah belajar baca. Muhammad saja tidak bisa baca tulis bisa jadi nabi dan konon juga pinter bisnis.
Sementara, saya lihat justru banyak wanita berjilbab naik mobil yang buatan orang kafir atau sepeda motor yang juga buatan orang kafir, seharusnya yang diimpor besar-besaran oleh negara kita yang mayoritas muslim ini mestinya “onta” saja jangan mobil.
Harusnya kalau memang anti orang kafir, anti juga menggunakan produknya dong!!! pakai saja semua produk yang dihasilkan dari sesama muslim. Bila perlu makan sehari-hari, menunya ya korma sajalah, jangan makan fried chiken Mack Donald atau pitza.
Kadang aku bingung dengan sikap orang muslim.
To : sobirin di 41
Bro ... Janganlah mencak-mencak seperti itu ? Cool sajalah ? Kan enak ?
Di Muslim sendiri saat ini sedang bergulat dalam mencari pola yang pas dalam hidup kekinian. Dari mulai yang ekstrim dengan menjadikan semua tingkah lakunya persis sama dengan MUHAMMAD RASULULLAH tanpa memberikan ruang bagi NALAR u- mengkritisinya sampai ke yang menetapkan NALAR sebagai HAKIM bagi perilaku kesehariannya sehingga lupa pada hal BASIC pada ISLAM yang terangkum dalam IMAN, ISLAM dan IHSAN.
Terus warna-warni MUSLIM yang seperti ini digeneralisir menjadi satu identitas ? Apakah bisa dibenarkan ? Tapi kalau soal TUHANNYA MUSLIM, maka MUSLIM menjadi SATU yaitu ber TUHAN YANG SATU (AHAD) yaitu ALLAH SWT.
Inilah namanya pergolakan dalam internal agama, bukannya pada substansinya melainkan pada supplemennya.
Dalam memberikan penilaian ke pihak lain, maka masalah DISTORSI dan MISPERSEPSI merupakan sumber utama KONFLIK dan ini sering dipraktekkan oleh semua pihak tanpa terkecuali yang MUSLIM saja. Tapi akan berbeda kalau penggunaan bahasanya adalah bahasa UNIVERSAL yang tentunya memenuhi kaedah OBYEKTIFITAS yang berdasarkan FAKTA-FAKTA dalam suatu PENCERITAAN ALUR yang LOGIS. Kalau ada orang yang menentang hal itu, maka itulah KAFIRUN yang SEBENARNYA karena MENENTANG FAKTA, LOGIKA dan OBYEKTIFITAS tidak terkecuali pada MUSLIM sendiri.
saya mau ketemu sama mbak, ta’aruf sama mbak, dan kalo cocok kita nikah, gimana???
Pertanyaan saya ini akan dianggap elegan dan jentel oleh seorang ustadzah yg mengerti agama tanpa intervensi spatio-temporal interval waktu. Pertanyaan saya adalah bentuk fundamen dasar Islam yg bernada liberal, lebih sopan( daripada mengungkapkan semisal “mari mbak, kita check-in”), mengungkapkan kesadaran spiritualitas tingkat gawat yg disertai tngkatan moralitas modern yg ambivalen dengan semangat naif apologetik. Namun, bagi aktivis liberal seperti anda, itu semua dianggap kasar dan menjatuhkan derajat perempuan. Maka saya bertanya, kaum fundamental yg puritsn atau anda yang tak mampu memandang kesempurnaan Islam secara ilmiah dialektis? Atau jangan - jangan titel anda hanya sekedar imej pengakuan intelektual semata???
bagi saya keyakinan itu adalah hubungan langsung kita dengan Tuhan,yakini apa yg kita yakini,hormati keyakinan org lain,cara org lain menjalankan ibadahnya,bukankah sejak kecil org tua kita mengajarkan kita u/ saling menghormati??
surga dan neraka,dosa ada tidak itu adalah hak Tuhan jd kita jgn menghakimi siapapun atas pilihan mereka..
Komentar Masuk (45)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)