08/08/2009

Terorisme dan Soal Ketidakadilan Catatan untuk Magda Safrina

Oleh Ulil Abshar-Abdalla

Masalahnya adalah sederhana saja: kekeliruan dalam menafsirkan doktrin agama, “the perversion of religious interpretation”. Mereka bukan pahlawan kaum miskin dan pejuang ketidakadilan. Dan sudah seharusnya kita tak usah menganggap mereka sebagai pahlawan, entah pahlawan dunia Islam apalagi kaum miskin yang menjadi korban ketidakadilan. Mereka adalah penjahat. Titik! Ayat-ayat Quran yang selama ini mereka pakai untuk menjustifikasi tindakan mereka tidak akan bisa menyelamatkan mereka dari kutukan publik.

08/08/2009 19:48 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (84)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 5 halaman 1 2 3 >  Last ›

Setelah membaca tulisan Mas Ulil dan juga Magda Safrina, saya rasa justru kedua artikel seharusnya tidak dipertentangkan. Namun justru lebih melengkapi penjelasan tentang mengapa teroris yang mengatas namakan Islam (radikal) muncul di Indonesia (bukan di negara lain(yang lebih sejahtera)).

Jelas bahwa awalnya adalah adanya tafsir yang keliru atas doktrin agama, tetapi tidak begitu saja tafsir yang keliru bisa menjadi penyebab tunggal. Kesenjangan ekonomi dan sosial akan semakin terlihat bila kita lihat dalam konteks global dimana ada negara-negara kaya sementara sebagian besar yang lain miskin (Indonesia misalnya). Ini akan memberi jalan masuk untuk doktrinasi tafsir yang salah, karena kesenjangan yang ada akan memberi kesan “jahat” terhadap negara-negara kaya (baca:AS dkk) dan oleh karena itu “salah”. Dan yang salah harus ditumpas, lalu sebagai solusinya adalah iming-iming “Negara Islam” yang digambarkan akan menyelesaikan semua masalah secara otomatis. Bom bunuh diri adalah salah satu cara yang mereka pilih untuk melawan kekuasaan AS dkk tadi.

Toh memang pelaku kebanyakan adalah mereka yang juga bukan berasal dari kalangan ekonomi mapan, walau tidak miskin-miskin amat. Yang pasti mereka pernah mengalami kesulitan terhadap akses-akses pembangunan. Keputus asaan akan kehidupan yang tidak membaik, membuat janji surga yang instan terasa indah dan membuat semakin mudah untuk di brain storming menjadi pelaku bom bunuh diri. Nah, seharusnya ada analisis psikologi disini, yang bisa membuktikan sejauh mana kondisi sosial dan ekonomi berperan dalam pembentukan martir-martir tadi.

Satu hal lagi, bila dilihat dari tulisan Mas Ulil, yang bisa kita pertanyakan adalah :
“Mengapa mereka memperoleh doktrinasi tafsir yang salah?”

Padahal bisa dibilang hanya segelintir kelompok kecil saja yang menganut tafsir yang salah, bila dibandingkan dengan jumlah umat Islam di Indonesia.

Sebegitu sulitkah untuk mengakses “Tafsir yang benar” dari doktrin Islam? Lalu dimana peran ormas-ormas Islam saat ini?

#1. Dikirim oleh Muhammad Rosyid Budiman  pada  09/08   09:46 AM

saya setuju dengan mas ulil….
jangan mengalihkan isu teroris ini dengan isu2 yang lain..jelas sekali bahwa para teroris ini hanya membawa satu agenda yaitu agama…jd jangan pernah membayangkan bahwa mereka itu adalah pahlawan..entah itu pahlawan kaum miskin, pejuang ketidakadilan, atau pahlawan agama….
maka dari itu ini tugas kita smua untuk merubah pemahaman jihad yang mereka percaya itu dan JIL sudah memulainya dari jauh2 hari….
penangkapan dan menghukum mati para tersangka teroris saja tidak cukup oleh karena itu sebuah ideologi harus di lawan juga dengan ideologi

#2. Dikirim oleh herwindo sudirman  pada  10/08   05:17 AM

apapun dalihnya, pelaku pedelakan bom bunuh diri dan para aktor dibalik semua itu adalah kejahatan kepada umat manusia ciptaan Allah. berarti pula telah ingkar terhadap kuasa Allah sang maha pencipta makhluk di muka bumi. BERHENTILAH MEMBUNUH!!!..

#3. Dikirim oleh Hariyo Banjarnegoro  pada  10/08   07:48 AM

Setuju mas ulil..bagi saya mereka tak lebih dari pengecut, pecundang, yg melihat dunia ini dengan kacamata kelam dan kotor. Mereka adalah pembajak kebenaran.. Merasa memperjuangkan kebenaran, tapi pada saat yang sama mereka melakukan kejahatan. Merasa melakukan yg ma’ruf tapi dg cara yg munkar. Umat islam tdk butuh penjahat2 spt ini.

#4. Dikirim oleh Oom jit  pada  10/08   09:26 AM

target utama kita sesungguhnya bukanlah noordin sdh mati apa belum? tetapi masyarakat indonesia ini sudah satu kata apa belum menolak “paham” tersebut. sehingga dimanapun mereka berada tak seorangpun mau melindunginya. tapi kenyataannya kalangan Islam ini setengah hati dalam menolak maupun menerima aliran tersebut. tak berani mengatakan benar atau salah, pernyataannya selalu abu-abu. bahkan ketika secara terang-terangan ada tokoh yg menyetujui cara pandang teroris, si tokoh tersebut dibiarkan saja.
jika paham tsb mewabah di masyarakat kita, bukan tidak mungkin sasarannya bukan lagi hotel/diskotik yg ada orang bulenya…tapi dimanapun ada orang kafir bahkan termasuk sesama muslim yg menolak pandangan mereka akan diteror juga. dan jika mereka yakin itu tiket menuju surga bukan tdk mungkin di pasar-pasar rakyat sekalipun bisa saja terjadi aksi teror entah dengan bom maupun pentungan…dan ini lebih berbahaya daripada sekedar nyawa seorang Noordin. jadi tolong kepada pemuka agama untuk berani berkata bahwa ini adalah “kejahatan” titik! tanpa koma!

#5. Dikirim oleh budiman  pada  10/08   06:20 PM

Salam….
Saya sangat setuju dengan pendapat bung Ulil, salah tafsir yang lain adalah anggapan para islamis yang berjuang di jalur politik, yang katanya untuk mengakomodasi suara umat islam, adalah juga keliru, sangat keliru, yang benar adalah paham mereka yang ingin menegakkan NEGARA ISLAM INDONESIA, titik. Saya sebagai muslim sama sekali tidak terwakili dengan kiprah partai islam, buktinya ?, nggak ada tuh partai islam yang secara resmi, atau pendapat para elite-nya yang mengutuk aksi terorisme di negara sendiri, tapi kalau Palestina di bom Israel, mereka ramai-ramai turun ke jalan.

#6. Dikirim oleh Teguhsuseno  pada  11/08   03:57 AM

Penyebab munculnya terorisme adalah adanya pemahaman idiologi yang bias. Apa yang dipahami kaum JI sunggung berbahaya bagi keutuhan NKRI dan juga citra Islam sendiri. Menggunakan ayat-ayat dan hadis yang menguatkan gerakan mereka tidak lebih dari kesalahan tafsir. Karena itu pemerintah harus secara tegas mengawasi gerakan mereka kalau tidak ingin bubar NKRI dalam sekat sekat keagamaan tertentu. Juga ulama atau kiai harus memberikan pencerahan pemahaman idiologi Islam yang benar. Kurais Shihab, Muzadi, Syamsul Ma arif adalah beberapa contoh kiai yang dapat membrikan pencerahan kepada mereka yang terindoktrinasi idiologi keliru tersebut.

Wassalam

#7. Dikirim oleh Harmin H  pada  11/08   06:00 AM

Bung Ulil, boleh tau ayat yang mana yang salah ditafsirkan itu? Dan tafsir ulama siapa yang benar tafsirannya?
Supaya lebih jelas. Terima kasih.

#8. Dikirim oleh Toyib  pada  11/08   07:37 AM

Saya setuju pendapat Mas Ulil. Untuk menghindari salah menafsirkan doktrin agama bagi umat,saya mohon dari jajaran birokrasi,mulai dari menteri Agama sampai kebawah,MUI dll supaya berusaha membuat tafsir2 yang tidak keliru.
Memang tidak mudah,sebab sudah tercetak demikian!!
Pengaruh kondisi bangsa Indonesia yang berbagai macam latar belakang,budaya,pendidikkan dll sangat mungkin terjadi kekeliruan apabila menerima suatu yang masih perlu penafsiran.
Contoh sederhana saja (humor dari Gus Dur),pada akhir kotbah di Masjid si Penceramah katakan….oleh karena itu saudara2 tinggalkanlah yang jelek dan ambil yang baik!!
Apa yang terjadi… !!
Salam buat mas Ulil dan maju terus.

#9. Dikirim oleh Budiman  pada  11/08   08:34 AM

Sangat bermanfaat, Mas. Saya dokumentasikan. Terima kasih.

#10. Dikirim oleh M. Iman  pada  11/08   09:29 AM

Salam
Perbedaan sudut pandang dalam analisis sebuah masalah dalam hal ini kasus peledakan bom yang marak ini perbedaannya terletak pada sebuah background dan motifasi dari masing-masing orang, tentunya itu menjadi sebuah referensi dan masukan kita untuk mengatasi persoalan yang ada, agar jangan aksi bom ngebom, anarkisme dll tidak terulang lagi. Tugas yang cukup berat bagi kita sebagai seorang muslim dan anak bangsa untuk mencari akar masalah ,solusi dan strategi serta pedekatan teoritis dan praktis untuk mengatatasi problematika umat. Kasanah perbedaan pemikiran dan sudut pandang menjadi keindahan dalam hidup untuk saling share dan mencari kebenaran dan solusi. Saya Pribadipun dalam kasus ini tidak sejalan dengan pemikiran dan analisis saudara, tentunya perbedaan ini menjadi sebuah hal yang fajar dan lumrah dari berbagai sudut pandang. Sy sepakat kekerasan dalam Islam perlu di hindari pada tahapan-tahapan tertentu. Dalam pemahaman kami Umat Islam didunia adalah saudara mengacu pada referensi nash suci nabi dan kitab Mulia Alqur’an, walaupun di dalam umat sendiri terdapat berbagai mancam mahzab, pemikiran , aliran, jamaah, organisasi dll.Ketika sudara-saudara muslim kita di belahan dunia terdholimi, terpinggirkan, teraniaya, kelaparan, terbunuh oleh institusi yang memang tidak menyukai Islam apa tindakan kita ? Pemikiran Islam global sudah menyemai di kalangan umat , hanya permalahannya mencari solusi terhadap ketidakadilan Islam ini yang di perlukan perjuangan untuk mengubah mind set Dunia Barat terhadap Islam untuk bisa saling bahu membahu mencari solusi mengatasi persoalan dunia secara fair dan obyektif. Perbedaan mengatasi masalah ini yang muncul kepermukaan ada yang melaui sebuah gagasan pemikiran dan pencerahan terhadap Islam, jaringan dakwah dan ada yang menggunakan metode konfrontatif dengan menggunakan senjata dan gerakan bawah tanah.Semua mempunyai rukujan tentunya dalam landasannya, permasalahan sudara tidak sepakat itu menjadi hal yang wajar saja. Bukn berarti kami menyetuji aksi bom bunuh diri dan pengeboman di tempat-tempat umum.

#11. Dikirim oleh eko susanto  pada  11/08   12:03 PM

Penjelasan Mas Ulil sangat mengena, ketidakadilan ekonomi bukan alasan mereka, melainkan pemenuhan tugas agamalah yang jadi alasan. Pertanyaannya: kenapa selalu saja ada(banyak) yang menyalahgunakan ayat-ayat kitab suci secara radikal? tentu ada yg salah dengan cara pengajaran agama selama ini.

#12. Dikirim oleh Purdi  pada  11/08   01:55 PM

Assalamu Alaikum Wr.Wb

1. Setuju dengan pendapat kang Ulil
2. Ulama terutama dari MUI harus memebrikan pencerhan kepada umatnya agar tidak terprovokasi pada indoktrinasi teror yang membahayakan itu
3. MUI harus lebih sensitif dengan persoalan seperti ini sekaligus proaktif dalam mendidik umatnya agar jangan salah jalan, ketimbang rajin mengeluarkan fatwa kontroversial yang tidak terkadang mengganggu kebebasan beragama
4.Pemerintah harus mengawasi kegiatan-kegiatan pesantren yang mengadopsi paham terorisme sebagai jihad. Tegakan aturan karena bila tidak akan sangat mengancam NKRI bahkan citra positif agama tertentu akan tercoreng
5. Masyarakat untuk hati-hati dan tidak terprovokasi ajakan indoktrinasi yang intoleran, menyebarkan permusuhan kepada siapapun juga.


Wassalam

#13. Dikirim oleh Harmin  pada  12/08   05:21 AM

Ulasan saya sangat sederhana, karena saya hanya orang biasa dengan latar belakang pendidikan yang biasa-biasa saja. Tetapi secara umum saya mempunyai pandangan yang seirama dengan pandangan bang Ulil.

Pernahkah kita sebagai umat muslim mempunyai pertanyaan sederhana seperti ini : KENAPA KEKERASAN YANG DIKAITKAN DENGAN AGAMA DEMIKIAN LEKATNYA DENGAN AGAMA ISLAM? KENAPA KEKERASAN YANG DILEKATKAN DENGAN AGAMA TIDAK MUNCUL (ATAU PALING TIDAK SANGAT JARANG MUNCUL) DI AGAMA-AGAMA LAIN?

Seorang teman punya analisa yang walaupun kelihatan sangat sederhana, tanpa melalui proses penelitian ilmiah tetapi sangat masuk akal. Yaitu karena Islam adalah agama terakhir, dibandingkan dengan agama-agama besar didunia seperti agama Hindu, Kristen, Katolik, Buda dan lain-lain. Ibarat sebuah barang dagangan, maka produk yang terakhir akan mengalami kesulitan memasuki suatu pasar. Maka dibutuhkanlah promosi besar-besaran entah itu berupa discount, iklan yang gila-gilaan dll. Karena Islam adalah agama terakhir, maka kalau dihubungkan dengan logika itu, diperlukan suatu indoktrinasi yang “wah” atau menyentuh dan membuat para pemeluknya menjadi super militan. Indoktrinasi yang wah tersebut diharapkan akan membuat Islam sebagai produk mempunyai daya jual tinggi sehingga laku dipasaran. Mau bukti?

Coba simak ayat-ayat dalam al quran, antara lain :
1. Semua orang yang tidak memeluk Islam adalah Kafir (tidak ada agama selain Islam yang sampai kitab sucinya mengkafirkan umat beragama lain)

2. Hanya orang yang beragama Islam yang akan masuk surga, umat lain akan masuk neraka (Setahu saya Hindu, Buda, Kristen, katolik dll sama sekali tidak memiliki keyakinan itu. Bahkan Umat Katolik dibawah Vatikan sudah berani mengeluarkan statement bahwa siapapun manusia yang melaksanakan nilai-nilai hidup kristiani yaitu cinta kasih, maka akan masuk surga, sekalipun orang tersebut bukan Katolik)

3. Sesama umat islam adalah bersaudara. (Rasa-rasanya saya belum pernah melihat umat hindu, Buda, Kristen, Katolik dll kecuali Islam, yang akan berbondong-bondong kesuatu daerah untuk ikut berperang manakala ada perang agama yang melanda suatu daerah)

4. Kewajiban menunaikan sholat bersama pada hari Jumat, akan memberi kesempatan berkumpulnya sekelompok manusia yang setidak-tidaknya memiliki kecenderungan yang sama. Kondisi ini sangat mudah untuk mengeluarkan ide-ide bagi orang yang punya kemampuan berorasi dan membakar semangat masa. Sudah bukan hal yang aneh selesai jumatan, masa akan berdemo, menghancurkan tempat main bilyard, cafe dll. Kalau setiap Jumat berkumpul bersama, maka dalam 1 tahun akan ada 52 kali kesempatan melakukan indoktrinasi terhadap sekumpulan masa.

Analisa saya memang sangat sederhana, tapi dari diskusi-diskusi dengan temen-temen lain, semuanya sependapat. Nabi Muhamad betul-betul manusia jenius. Beliau berhasil mendesign sebuah keyakinan menjadi sebuah kekuatan dahsyat, bukan hanya menciptakan sebuah agama tetapi sebuah gerakan yang saat ini tumbuh di seluruh dunia. Hanya sayangnya, gerakan-gerakan tersebut sebagian besar jauh dari kata kedamaian dan ketentraman, sebut misalnya Al Qaeda, Ihwanul Muslimin, Taliban, Hezbollah, Jamaah Islamiyah, Abu Sayaf, Darus Islamnya Karto Suwiryo, Moro nya Nur Misuari, Majelis Mujahidinnya Abu Bakar Baasyir, Laskar Jihadnya Jafar Umar Thalib, FPI nya si Habieb Rizik, Salafi radikal, Wahabi radikal (silahkan tambahin sendiri).

Jadi haruskah kita mereformasi ayat-ayat yang super militan tersebut? Atau beranikah kita mengeluarkan statement bahwa ayat-ayat tersebut dan ayat lain yang sering dijadikan pembenar tindakan para teroris, kita nyatakan tidak berlaku lagi? Mari kita renungkan bersama

#14. Dikirim oleh Teroris  pada  12/08   07:15 AM

pandangan kang ulil tentang timbulnya gerakan terorisme akibat dari cara penafsiran teks agama memang sangat beralasan. mengatakan bahwa pelaku bom bunuh diri “atas nama jihat” sebagai bentuk protes ketidak adilan dan kemiskinan di indonesia, bagi saya tidak sepenuhnya salah.
pelaku bom bunuh diri di beberapa tempat di indonesia beberapa tahun terakhir tentu bukan dilakukan oleh kalangan berduit. hampir semuanya adalah orang-orang dengan keterbatasan ekonomi. ada dua alasan mengapa mereka mau menjadi “martir”. pertama, tentu karena doktrin agama yang mengakar dalam keimanan mereka. kedua, prustasi sosial akibat kemiskinan yang mendera mereka.
dalam kontek agama, kemiskinan bisa diterima karena alasan takdir, atau garis kehidupan dari tuhan. lain halnya pada kontek kehidupan sosial ekonomi, kemiskinan adalah kecelakaan hidup dan meletakkan drajat sosial di level paling bawah. itulah sebabnya, kemiskinan kerap kali dijawab dengan kematian bunuh diri.
saat didera kemiskinan, agama tidak cukup membantu sebagai obat penenang. bahkan bagi kalangan tertentu agama dimunculkan sebagai kedok untuk pelampiasaan prustasi hidup. pada tahap ini dapat kita lihat pada prilaku kelompok FPI, bersikap beringas dan tak segan melontarkan kata-kata kafir sesama muslim.
atas dasar kemiskinan pula, pelaku bom bunuh diri memutuskan sikap. mereka memilih alasan agama, atau jihat untuk mengahiri hidup. rela mati bukan karena kekonyolonan, tetapi karena ingin lepas dari dera kemiskinan dan di benarkan oleh agama.
realitas ini harus disikapi oleh pemerintah. bahwa pemerintah harus lebih serius dan memberikan keperpihakan ekonomi kepada rakyat pribumi yang masih miskin. karena sangat memungkinkan kedepan terjadi pergeseran dalam mengambil target peledakan bom bunuh diri. bukan hanya kalangan asing, orang eropa dan ameriaka sebagai sasaran, melainkan kalangan cina yang menguasai akses ekonomi di negara ini..lebih-lebih mereka bukan beragama islam.

#15. Dikirim oleh cak hady  pada  12/08   07:16 AM

Pendapat saudara Ulil saya benarkan. Akhir-akhir ini pola-pola pemikiran Islam radikal menyambangi masyarakat kita, sementara ciri pemikiran Islam yang telah membentuk karakter masyarakat kita mainstreamnya adalah lembut/soft, terbuka ( open mind ),egaliter, demokratis dst…dst. Karakter ini sudah tercipta akibat proses dialog yang sangat panjang antara budaya lokal nusantara dengan budaya asing dari berbagai peradaban terdahulu. Proses itu bisa melalui penetrasi,interfensi,sosialisasi,asimilasi dst tetapi dalam sifatnya yang alamiah/natural. Dalam konteks personal masing-masing pribadi masyarakat kita harus menjaga dan sadar diri akan ciri khas pemikiran Islam bangsa/masyarakat kita( local genius ) tersebut. Tuhan Maha Tahu. Wassalam.

#16. Dikirim oleh Andri S.Y.Nu'mang  pada  12/08   09:46 AM

sepakat bung Ulil..!!

#17. Dikirim oleh arif wachyudin  pada  12/08   10:41 AM

Betul banget Mas Ulil apa yang anda tulis.Bagi saya mereka itu adalah penjahat-penjahat bertopeng.Mereka harus diperangi.Tapi ada satu yang kurang dari tulisan anda Mas,anda tampaknya belum memberikan suatu pemecahan masalah.Bagi saya,pemecahan masalah itu sendirilah problem yang kita hadapi sekarang ini.Ini terkait dengan masalah ideologi.Kita harus lebih menebalkan lagi ke-Pancasilaan kita…..ke-indonesiaan kita…..

#18. Dikirim oleh M.Nizar.Rizqie.Rahman  pada  12/08   04:12 PM

Saya sepakat dengan pendapat Anda, Pak Ulil. Kita berharap semoga semakin banyak tokoh muda yang berani dan terus-menerus memberikan pencerahan kepada sesama saudara agar tidak menjadikan agama sebagai kedok tindakan kejahatan.

#19. Dikirim oleh Luigi  pada  13/08   03:47 AM

Jika setiap orang di dunia mau melihat dengan jernih, dengan lapang dada dan dibersihkan dari pemikiran2 pragmatis serta politis - ideologis, kita bisa melihat bahwa setiap kejadian yang berkaitan dengan “terorisme” sudah terjadi sejak ribuan tahun yang lalu. Hal ini diakibatkan oleh “perasaan ketidakadilan” serta “kekhawatiran” yang dimiliki oleh “teroris” terhadap keadaan lokal maupun global yang terjadi saat itu.
Jika kita lihat pada masa Rasulullah SAW, kaum Quraisy pun melakukan tindakan “terorisme” dengan cara menyiksa / membunuh para pengikut Rasulullah SAW, menunjukkan sikap permusuhan, pengusiran terhadap kaum muslimin saat itu dsb.
Di masa modern saat ini pun terjadi “terorisme” terhadap warga Palestina oleh bangsa Israel (bukan Yahudi, karena banyak Yahudi yang tidak menyetujui berdirinya negara Israel, terutama mereka yang anti Zionisme).
Akan tetapi, karena “kebetulan” mayoritas bangsa Eropa plus Amerika amat sangat mendukung berdirinya negara Israel (dan seakan menutup mata atas terjadinya pembantaian massal warga Palestina yang notabene mayoritas adalah Muslim plus minoritas Kristen dan Yahudi), maka terjadi “rasa ketidakadilan global” di kalangan kaum Muslimin.
Dan karena “sangat tidak kebetulan” mayoritas kaum muslimin di dunia ini bukan berada di negara “Super Power” ditambah lagi banyak kaum Muslimin di “negara kaya raya” yang “seakan tidak perduli” atas nasib kaum Muslimin yang teraniaya tersebut, maka muncullah pemikiran-pemikiran “radikalis” serta kelompok-kelompok “fundamentalis” yang ingin membela “saudara seiman mereka” dengan cara-cara maksimal yang mereka bisa. Ditambah lagi melihat kenyataan bahwa terjadi “perusakan moral secara sistematis” yang secara “sangat tidak kebetulan” datang dari “negara kaum kafir” dengan istilah “demokrasi dan liberalisme” plus gencarnya “media”, maka semakin bertambah pula keyakinan para “kaum radikalis dan fundamentalis” ini bahwa yang terjadi saat ini adalah “penghancuran nilai-nilai keagamaan” secara global dan terencana.
Itulah yang menyebabkan mereka berusaha untuk “mengingatkan” para penguasa negara “untuk bertobat” serta mengikuti apa yang “telah di perintahkan oleh Tuhan” melalui cara-cara yang populer saat ini, yaitu “TERORISME”

#20. Dikirim oleh hanif  pada  13/08   07:17 PM
Halaman 1 dari 5 halaman 1 2 3 >  Last ›

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?