Tuhan yang Bersemayam dalam Akal Kita
Oleh Adi Bunardi
Merefleksikan pencarian Tuhan melalui akal.
Komentar
Menanggapi tulisan mengenai pencarian Tuhan melalui akal yang akhirnya terjebak dalam proses pembuktian keberadaan atau ketidakberadaan Tuhan, saya akan memberikan pandangan filosofis mengenai konsep Ada dan Tiada ini.
Kita sering menganggap bahwa suatu hal yang Ada menjadi Tiada itu adalah karena terjadinya suatu proses pelenyapan yang Ada. Anggaplah semisal kita punya sebuah cangkir, kemudian cangkir tersebut dihancurkan sehingga tidak tampak lagi cangkir tersebut. Benarkah cangkir tersebut yang awalnya Ada menjadi Tiada? Atau itu sebenarnya hanya proses transformasi dari benda dalam wujud tertentu menjadi wujud yang lain ?
Konsep ke-Tiada-an sebenarnya adalah konsep virtual untuk melabelkan adanya perubahan suatu wujud yang satu menjadi wujud yang lain. Tidak pernah ada di alam ini benda atau zat yang benar-benar menjadi Tiada setelah Ada. Atau sebaliknya, dari Tiada menjadi Ada. Yang ada adalah proses transformasi, baik itu transformasi ruang atau waktu maupun transformasi wujud atau sifat. Orang fisika mengatakan adanya “hukum kekekalan energi”.
Kalau kita amati lagi di alam ini, tidak ada satu pun hal yang Ada yang tercipta (oleh siapapun) dari hal yang Tiada. Semua hanya proses transformasi dari zat atau wujud yang ada menjadi zat atau wujud yang lain.
Implikasi dari pemahaman ini adalah bahwa, semua yang Ada itu berasal dari hal yang Ada lainnya. Awal muasal suatu yang Ada itu berasal dari yang Ada pula. Ketiadaan itu hanya suatu konsep virtual yang sangat tergantung pada dimensi ruang dan waktu. Dengan kata lain, Ketiadaan hanyalah sebuah label untuk menyebutkan suatu wujud atau zat dengan sifat tertentu telah berubah menjadi wujud atau zat dengan sifat yang berbeda dari sebelumnya.
Para pemikir (filosof) sering terjebak pada konsep asal muasal Ketiadaan. Seolah-olah awal dari segala awal adalah Ketiadaan. Seperti pendapat yang sering ditulis dalam bahasa Inggris sbb. “In the beginning there is nothing”. Yang benar adalah, “In the beginning there is something”.
Dengan demikian, pencarian Tuhan dengan menggunakan Akal tidak akan terjebak pada masalah pembuktian bahwa Tuhan Ada atau Tidak. Kalau manusia saat ini sadar bahwa dirinya Ada, maka pertanyaan selanjutnya adalah, wujud apa sebelumnya dari wujud manusia yang ada saat ini.
Dari proses pencarian sumber asal muasal keberadaan manusia, akhirnya kita memerlukan suatu sebutan untuk memberikan label sumber dari segala sumber yang Ada, yaitu Tuhan.
Jadi Tuhan selalu Ada pada saat manusia mulai menyadari keber-Ada-annya (manusia) di alam ini.
Yang manusia ingin selalu mencoba “membuktikan” keberadaan Tuhan itu sebenarnya adalah ingin “merasakan” (baik melalui panca-indera maupun indera yang lain) zat atau wujud Tuhan agar dia menjadi yakin atas keberadaan Nya. Tapi secara logika di atas, Keberadaan Tuhan selalu ada dengan kesadaran manusia bahwa dirinya (diri manusia sendiri) Ada.
Semoga tulisan ini bisa memberikan sedikit inspirasi dan tidak menambah bingung.
salam
-ai-
Assalamu’alaikum wr wb
Kalau cuma dengan akal kita pasti akan masuk dalam dunia yang serba mungkin dalam memahami Tuhan, sebab Tuhan adalah maha segalanya, kuasanya tidak terbatas.
Saya lebih sepakat dengan yang biasa ditempuh jalan sufi, yang menurut Fritjhof Schuon bersandar pada ekspresi doktrinal. Artinya kita coba melogikakan ayat (kitab suci agama-agama) dengan menghubungkannya dengan konsep utama, yaitu fungsinya sebagai rahmatan lil’alamiin.
Tapi untuk memahami Tuhan ada 3 hal penting: 1. Kita harus mempelajarinya secala holistik. 2. Pendamping untuk berdiskusi guna menge-cek sejauh mana standar keyakinan kita. 3. Seperti kata Amin Abdullah, “Kita boleh berdiskusi seperti apapun tapi sikap kita gimana?” karena jangan-jangan ketika kita banyak berdebat tentang Tuhan tanpa sadar kita semakin jauh dari nilai-nilai ketuhanan. Naif kan!?
Ini sebatas yang saya ketahui.
Wassalam.
Saya pikir tidak ada masalah dengan uraian yang dikemukakan oleh saudara kita Adi Bunardi. Kekurangannya mungkin hanya satu, yaitu ia tidak menyelesaikan apa yang ia tulis hingga selesai, sehingga bagi kita yang tidak mengenalnya secara pribadi. Akan cukup kesulitan untuk menebak secara tepat apa yang ia maksudkan. Tentunya tebakan ini merupakan tebakan yang utuh, tidak parsial.
Oleh karena itu, dalam kesempatan ini saya ingin coba menambahkan pengalaman “ber-Tuhan” saya. Tentunya Tuhan sebagaimana hal itu kita pahami dan kita alami secara subjektif. Semoga uraian ini memperkaya khazanah pengalaman “ber-Tuhan” kita. <div align=“center”>***</div><div align=“center”>***</div><div align=“center”>***</div><div align=“center”>***</div><div align=“center”>***</div><div align=“center”>***</div><div align=“center”>***</div><div align=“center”>***</div><div align=“center”>***</div><div align=“center”>***</div><div align=“center”>***</div><div align=“center”>***</div><div align=“center”>***</div><div align=“center”>***</div>*
Mengapa Tuhan Ada?
Pertanyaan ini patut dikemukakan mengingat posisinya yang teramat penting akan pembentukan keyakinan atau keimanan seseorang. Walaupun pertanyaan ini bagi sebagian orang seringkali dianggap tabu untuk dibicarakan, dalam kesempatan ini kita simpan dulu ketabuan tersebut. Sebab bagi kita tidak ada satupun wacana yang terlepas dari sejarah dan fakta.
Mengapa Tuhan ada merupakan pertanyaan yang sangat mendasar. Bahkan saya nilai pertanyaan ini sebagai esensi transcendental yang muncul dalam benak dan keyakinan kita. Tanpa memulai dengan pertanyaan ini, posisi “Tuhan” sebagaimana itu diwariskan oleh orang tua kita tak lebih hanya sebatas pewarisan generasi yang tidak kreatif. Oleh karena itu, bagi kita yang sadar terhadap keberadaan diri sekaligus kesanggupan untuk menilai secara objektif akan potensi diri, pertanyaan ini memiliki titik utama didalam sikap hidup kita. Oleh karena itu, menggugat posisi Tuhan dalam bingkai pertanyaan itu, adalah sah-sah saja, wajar dan tidak perlu dipeti eskan. Sekali lagi dengan mengenal secara lebih jauh akan Dia, niscaya kita akan mampu pula mengenal diri kita secara lebih jauh lagi.
Tuhan adalah sesuatu yang terdefinisi sekaligus tidak terdefinisi. Disatu sisi definisi Tuhan terbentuk dari field of experience seseorang. Namun disisi lain, definisi Tuhan menjadi tak terdefinisi ketika posisinya ditabukan dan ditakutkan untuk dibicarakan. Ketakutan ini merupakan penyakit psikologis yang sengaja diciptakan oleh lingkungan dimana kita tinggal. Dahulu para orang tua kita mengatakan bahwa Tuhan adalah zat yang tidak patut dipertanyakan dan diperdebatkan. Barangsiapa memasuki wilayah ini, maka ia bisa berdosa. Dan barangsiapa berdosa sudah pasti ia akan masuk kedalam neraka.
Skema seperti ini terus diulang dan dikuatkan oleh lingkungan budaya dan sosial. Padahal ketika penginternalisasian ketabuan Tuhan itu diciptakan sebenarnya kesucian Tuhan itu sendiri sudah beralih menjadi sesuatu yang profane. Sebab otoritas pelarangan tersebut dibuat dan diciptakan oleh manusia itu sendiri. Tentunya manusia yang memiliki kuasa atau power, baik itu kuasa informasi, kuasa legitimasi, kuasa pengetahuan, kuasa konsensi ataupun kuasa represif sebagaimana jenis-jenis kuasa ini ditengarai oleh BH. Raven dalam Transformation and Social Influence-nya. Dengan kata lain, manusia itu tidak lepas dari unsure-unsur kepentingannya sendiri. Jangan dikira ayat-ayat sekalipun yang dianggap suci ternyata bias subjektif. Contohnya dapat kita tengok kepada ayat-ayat misoginis yang merendahkan perempuan. Artinya agama sekalipun terkait dengan ruang dan waktu. Artinya, masa lalu, masa kini dan masa depan. Agama itu memiliki sejarah tersendiri. Suatu sejarah yang lebih mengutamakan laki-laki dibanding perempuan. Agama-agama samawi khususnya lahir dari kuala seperti ini, suatu keadaan yang menitik beratkan kepemimpinan kepada laki-laki. Suatu hasil dari proses sejarah yang panjang yang dimenangkan oleh laki-laki (Erich From, Cinta Seksualitas, Matriarchy and Gender, 1999). Maka pada saat inilah agama-agama samawi itu muncul dan berkelindan mesra dengan sesuatu yang ilahi. Sehingga batas antara yang holy dengan yang profane itu menjadi tidak jelas. Bahkan lebih jauhnya, yang holy itu tereduksi kedalam kepentingan yang profane. Maka dengan demikian tidak ada lagi yang holy itu sendiri.
Tuhan dalam pertanyaan kita adalah wujudnya sekaligus asal muasalnya. Kita katakan wujud sebab wujud-Nya itu terkadang halus dan membuat indah dan terkadang sebaliknya, kasar dan membuat perang. Cukup banyak kasus yang terjadi atas nama Tuhan; penumpahan darah, tidak sedikit pula atas nama Tuhan terjadi proses menghargai dan tolong menolong. Dengan kata lain, wujud Tuhan di dunia adalah prilaku dari penganut keyakinan akan Tuhan itu sendiri. Sebab selama Tuhan itu diyakini, maka perbuatan apapun yang dilakukan oleh seseorang merupakan wujud dari apa yang diyakininya tersebut. Tuhan itu tidak berwujud, namun kitalah yang memberikan wujud itu untuknya. Oleh karena itu, keyakinan dan kepercayaan terhadap Tuhan itu sifatnya bathini, individual dan subjektif. Sebab imajinasi seseorang terhadap Tuhan itu sendiri tentunya berbeda. Atau jika tidak dikatakan imajinasi, mungkin lebih tepat diakatakan proyeksi. Kenapa dikatakan proyeksi, sebab selama manusia memiliki rasa takut dan kalah dari kekuatan-kekuatan alamiah system kosmos dan kekuatan-kekuatan naluriah yang berasal dari dalam diri sendiri, maka ia akan cenderung mengambil proyeksi sebagai tanda kelemahan dan ketidakmampuannya. Sampai kapanpun selama manusia tidak mampu mengatasi dua kekuatan besar ini, kekuatan alam dan kekuatan dirinya sendiri, maka ia akan mencari proyeksi. Tuhan adalah wujud proyeksi itu sendiri. Oleh karena itu tidak jarang dari kita ketika berucap bahwa kita meyakini dan mempercayai Tuhan dengan kalimat tauhid, menjurus pada rasa ketidak berdayaan itu sendiri; alih-alih menuju kemandirian dan kekuatan, sebagaimana hal itu sering disuarakan oleh para ulama. Bahwasanya, tiap muslim itu harus kuat dan mampu menjadi khalifah. Kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya.
Sikap yang muncul kemudian adalah the feeling of powerless, suatu sikap dan perasaan bergantung kepada sesuatu. Kita menjadi tidak Mandiri, tidak kuat dan tidak kreatif oleh karena menunggu mukjizat yang tidak pernah datang. Kalaupun datang itu hanya sebatas hasil dari proses alamiah belaka. Banyak dari kita yang pada akhirnya bersikap pasrah dan menggantungkan sesuatu pada zat transcendental, suatu zat yang sebenarya abstrak dan berada diluar kasat mata. Oleh karena itu, ini hanyalah sebuah proyeksi dari mekanisme pertahanan diri kita, dari kelemahan yang ada dalam diri kita. Namun demikian, sampai kapanpun manusia tidak akan pernah mampu dan tuntas menjawab tantangan alamiah kosmos dan misteri didalam dirinya sendiri. Dengan kata lain pencarian akan Tuhan akan terus berlangsung selama kurun waktu sejarah, selama manusia itu mendiami bumi dan eksis dengan rasio dan emosinya.
Akan asal muasalnya itu sendiri, sebenarnya sudah terjawab dari uraian panjang di atas. Sebab secara basic, diatas dikatakan tentang kemunculannya tersebut. Jika kita sebut itu proyeksi maka, keberadaannya muncul ketika kita memang membuatnya muncul lewat kegiatan berfikir kita. Namun pertanyaan muncul, bukankah Tuhan itu muncul tidak hanya dimengerti (rasio) akan tetapi juga disadari (hati, keyakinan)? Benar Tuhan itu juga hadir lewat hati, sebab apa? Sebab ada hal-hal yang belum dapat kita taklukan tadi. Selama kita masih lemah dan takut terhadap dua kekuatan dan dua misteri itu, posisi transcendental semacam itu tidak akan tergoyahkan. Dengan kata lain, secara psikologi Tuhan itu sering hadir karena rasa ketakutan kita dan kelemahan kita. Jika kaum psikoanalisis berkata bahwa mempercayai Tuhan termasuk penyakit neourosis, namun kita tidak akan mengatakan demikian. Sebab justru sebaliknya. Dengan mengambil proyeksi seperti ini; Tuhan, terkadang menimbulkan wujud sebaliknya. Artinya kelemahan dan ketakutan itu sendiri bagi sebagian orang memunculkan reaksi and challenge tersendiri. Tak jarang karena keyakinannya itu seseorang rela mati demi mempertahankan apa yang dipercayainya itu. Bahkan mereka rela berperang, memberantas yang tidak sepaham dan mem-bom orang lain atas nama Tuhan yang mereka yakini sendiri. Dalam sisi ini, dapat dikatakan bahwa pendapat yang mengatakan bahwa “Tuhan’ itu sejenis keyakinan penyakit neurosis, tidak sepenuhnya benar. Sebab dengan mempercayai Tuhan seseorang menjadi kuat dan merasa tertantang untuk membuktikan pada apa yang diyakininya itu. Namun pernyataan ini tentunya membingungkan. Sebab Tuhan kini hadir dalam dua bentuk, penyakit patologis sekaligus menjadi obatnya itu sendiri.
Tuhan itu memang membingungkan. Sama halnya dengan kebingungan tentang diri kita sendiri. Namun sebenarnya tidak ada satupun hal yang membingungkan. Sebab yang membingungkan itu adalah diri kita sendiri. Kita lah yang sering bingung dan menganggap itu sebagai sesuatu yang bingung, coba kalau berfikir sebaliknya. Saya yakin, apa yang kita fikir itu sebagai kebingungan bukanlah kebingungan. Memang ada kalanya kita perlu melakukan reverse ordered of mechanism, memutar balik semua cara pandang kita.
Akhirul kata, semua titik itu berada pada bifurkasi. Tentunya kita tahu gerakan pendulum jam. Ia bergerak kekanan-kekiri, namun tetap melalui dan berasal dari satu titik. Inilah bifurkasi, pergerakan yang teratur atau bahkan tidak teratur namun tetap berada dan bermula dari satu titik utama. Jika ia berhenti akan tetap berada dalam titik itu lagi. Inilah kita. Inilah dunia. Inilah Tuhan. Semuanya bergantung dari apa yang kita pandang, kita alami, kita persepsikan dan terlebih apa yang kita pikirkan dan rasakan. Kita adalah bifurkasi itu sendiri.
Manusia memang punya akal yg sungguh maha dasyat kemampuannya. Tapi persoalan ada dan tiada Yang Menciptakan itu (akal) tidak mampu kita telaah hanya dengan akal saja. Apakah sekiranya ketika kita meminta untuk bertemu secara langsung lalu apakah Dia akan langsung muncul di hadapan kita dan berkata Akulah Tuhanmu? Bicara rasionalitas kita hanya akan berbenturan dengan kenyataan bahwa kita hanya melihat sesuatu dari segi hal-hal yang tampak dan nyata. Padahal, tuhan itu jelas-jelas sesuatu yang tidak tampak. Akal kita akan mampu menelaah keberadaan-Nya dengan melihat dunia ini, dengan melihat diri kita sendiri. Apakah kita itu ada dengan kekuatan kita sendiri?
Selama ini, pengertian Tuhan adalah sebuah warisan, di mana kebenarannya tak dapat dipertanggungjawabkan apalagi secara experimental, kebenarannnya muncul karena banyak kesepakatan terhadap argumen tersebut. Sebelum berbicara ada dan tidak adanya Tuhan, apa sih kata “tuhan” itu? Dari mana kata-kata itu lahir, tentu definisi tentang tuhan masing-masing orang berbeda, karena itu pendapat seseorang tentang ada dan tidak-nya berbeda-beda.
Kembali pada pengertian tuhan, yang manakah yang benar? Kebenaran yang meliputi manusia adalah kebenaran relatif. Bukankah manusia mempunyai akal dan perasaan. Jadi ada dan tidaknya kata-kata “tuhan” dikembalikan kepada manusia yang berakal sehat, tentu! Hal yang terpenting, tidak berbuat kerusakan di muka bumi.
Usang bukan berarti tak terpakai, karena jika itu yang dimaksud maka kita memandang arti sejarah selama ini adalah hal yang usang, dan itu tidaklah bijak. Tuhan yang ada sebelum dunia ini ada dan akan terus ada meski dunia ini tidak akan ada adalah wujud yang di luar kemampuan batas manusia untuk menembusnya. Seperti halnya rumus matematik untuk menyatakan bilangan tak terbatas sebagai tak terhingga. Tak terhingga itulah tuhan. Seperti halnya kita memaknai banyak ‘kebetulan-kebetulan’ dalam sejarah kita selama ini sebagai permainan takdir. Kita tak pernah dapat menentukan awal kehidupan seorang manusia “lahir” dari rahim siapa, di mana, pada waktu apa, namun yang kita tahu kelahirannya sudah terjadi dan itulah awal kejadian kita. Fase yang terbatas bagi kehidupan manusia dan ingin memetakan kehidupan tuhan yang tak terhingga seperti halnya pungguk merindukan bulan.
Yang dapat kita lakukan secara personal pemaknaan tuhan adalah sejatinya awal kehidupan seorang manusia untuk memaknai kehidupannya mengenal dirinya dalam ruang semesta, semesta diri dan lingkungannya. Dan untuk itu segala potensi yang ada dalam diri manusia baik akal (rasio), imajinasi (imajinaire), ingatan (memoire) mampu menembus batas-batas tak terhingga itu. Menjadi sudah usang karena permainan tuhan bagi manusia sama usangnya dengan sejarah manusia itu sendiri.
Kalau melihat tulisan saudara Adi, Daniel dan sejawat lainnya, (kalau Bung Ulil, Novri dan yang lainnya tak usah aku sebutin lagi) kentara sekali mereka berupaya (kalau boleh dibilang ‘bebeakan-Sunda’) untuk menegaskan bahwa diri mereka adalah orang-orang liberal yang pingin di cap orang yang mikir, make otak. Tapi, maaf apabila menilik dalihnya (kalau dalil sudah jelas kosong) tak mampu menajamkan ide-ide vulgar yang ngawur. Malah kesannya jorok dan asal dibilang liberal! atau kalau boleh aku katakan kebanyakan orang-orang tersebut taqlid pada pemikir-pemikir hedon dan beracun. Moga-moga Allah membukakan kebenaran kepada Semua !——————Tambahan: katanya liberal (bebas), kok ada tulisan disensor segala. Bebas saja kan yang saudara-saudara gemborkan mati-matian.
Salam,
Redaksi: Anda baca banyak buku tentang apa makna liberal. Atau, jika anda tak punya waktu untuk baca buku, silakan klik “diskusi” atau “kolom” di website yang membahas perihal serupa.
Manusia adalah makhluk yang berbicara. Tentu saja sejauh pemahaman itu dikembangkan dalam bahasa bicara manusia. Dalam tradisi salaf pesantren ada pelajaran nahwu dan shorof yang mencoba membedah lafad ‘allah’. allah berasal dari lafad ‘ilaah’ (tuhan-umum) kemudian dimasukkan alif lam ma’rifat menjadi ‘al ilaah’ (tuhan-khusus) lantas sebab menurut dialek arab yang fasih berat mengucapkannya maka dimudahkan menjadi ‘allah’ (baca sesuai dialek melayu-EYD) kemudian untuk menjadikan penyebutannya ‘agung’ maka di-tafkhim-kan menjadi dibaca ‘allah’ (fasih). Apakah dengan demikian lafad ‘allah’ untuk menunjuk pada substansi laa ilaaha illa adalah sebatas ‘permainan kata’ oleh pesantren? Sementara sebelumnya aristoteles telah mensilogismekan manusia sebagai makhluk yang berbicara.
Bismillah,
Bagaimanakah Wujud Tuhan? Jawab dulu pertanyaan-pertanyaan mudah ini, jika kau tidak bisa… Janganlah merasa diri Besar!
Dapatkah kau melihat matahari di tengah hari dengan mata telanjang tanpa merasa pedih? Dapatkah kau menghitung bintang dilangit, berapa??? Dapatkah kau membayangkan luasnya alam semesta ini dengan semua bintang dan planetnya? Dapatkah kau membayangkan seberapa kecil suatu partikel dalam sebuah atom? Dapatkah kau memikirkan bagaimana sistematis tumbuhnya sebatang rumput? Tahukah kau misteri yang terpendam di dasar laut yang terdalam, seberapa banyak misteri yang telah kau ketahui??? Tahukah kau di angka berapa nomor itu berhenti? Kuatkah Jantung seorang renta menerima suatu kesenangan yang luar biasa?
Jika kau tak mampu menjawab, jika kau tak mampu membayangkan, jika otakmu terasa sakit sewaktu mencoba memikirkannya…sekarang kutanya padamu….
Bagaimana mungkin mata telanjangmu bisa melihat Keleokan dan Kebesaran Pencipta Matahari dan bintang? Bagaimana mungkin Otakmu mampu membayangkan Keindahan dan KeAgungan Pencipta Tata surya dan segala ilmu? Bagaimana mungkin kau bisa menghadapi misteri Pencipta Laut dan Alam Raya Bagaimana hati kita yang lemah bagai jantung renta ini bisa menerima KeIndahan yang Tiada tara???
Sungguh bodoh kita yang mengecilkan arti TUHAN…. Sungguh sombong manusia yang merasa dirinya besar dan mulia….
Kau ingin tahu kenapa kita begini? Karena nafsu yang menguasai otak kita karena kesombongan diri sebagai manusia
Jika Dosa, nafsu dan rasa iri telah mati dari jiwakita, barulah kita dapa melihat, mendengar dan menikmati… Keagungan, Keelokan, Kebesaran dan Keindahan Tuhan…. Kapankah itu???? Kelak jika kita mampu mencapai surga…..
Janganlah kau pikirkan bagaimana bentuk Tuhanmu, Tapi pikirkanlah betapa Maha Besar Tuhan dengan segala ciptaannya, dan betapa kecilnya manusia. Jangan pikirkan dimanakah Tuhanmu, Tapi pikirkanlah dimana kau akan berakhir kelak.
Ingat dan tanamkan dalam otak kita… MANUSIA PASTI MATI!!!!! MANUSIA PASTI MATI!!!!! MANUSIA PASTI MATI!!!!!
(Q.S. Ali Imran:83). Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.
(Q.S. Al Baqarah: 8-10) 8. Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman
9. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.
10. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.
Baqarah: 15. Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.
smoga ayat-ayat diatas diakui oleh Islib ![]()
Seperti konsep ajaran ketuhanan Syeh Siti Jenar manunggaling kawulo gusti, mungkin kita bertanya-tanya apakah ajaran itu benar, atau merupakan ajaran sesat?
Kalau kita pahami secara mendalam, di mana dalam tingkatan ibadah seseorang yang sering disebut tingkatan syariat, Marifat dan hakikat maka dalam tingkatan yang teakhir ini kita akan merasakan adanya Tuhan dalam jiwa kita. dimana tuhan tidak jauh dari jiwa kita, karena pada dasarnya sebelum kita menjadi manusia Tuhan telah meniupkan ruhnya kedalam tubuh kita.
Jadi kalau menurut saya Tuhan tidak bisa didefinisikan melalui rasio atau akal. karena akal atau rasio bersifat relatif, sedangkan zat Tuhan bersifat mutlak. Wallahualam bishawaab.
saya sangat setuju dengan artikel bapak Adi Bunardi, malah saya berpendapat bahwa tuhan itu sendiri adalah akal manusia yang sesuai dengan pendapat Ibnu Rusd, Ibnu sina, Ar-razi dalam bukunya Karen amstrom dalam: agama dalam pandangan filosof. bukaknkah agama adalah alat untuk menjadikan manusia supaya tidak berbuat keji, dalam artian agama taklebih dari sebuah aturan klasik yang menghindarkan manusia untuk tidak berbuat sesuatu yang pada akhirnya merugikan mereka.
Apa yang diperbincangkan sdr Adi bukanlah hal baru. Hal tersebut merupakan perdebatan seru antara Filsuf, Fuqaha dan Ulama Sufi di era Islam Klasik. Siapa yang keluar sbg pemenang?. Sdr Adi jauh lebih tahu. Sdr. Adi, jika anda ingin mengecap rasa suatu makanan saya yakin anda tidak akan menggunakan mata anda, walaupun bisa membantu untuk memprediksikan. Demikian halnya dengan pemahaman Tuhan, akal semata-mata, apalagi kalau hanya indrawi tidak akan menjamin, bisa mengantarkan kita untuk memahami Tuhan secara utuh. Harus dengan piranti sejati, yaitu Qalb. Indrawi dan Akal merupakan langkah awal dan pendukung piranti Qalb. Kalau anda ingin “meneropong” bintang, gunakanlah teleskop, jangan menggunakan kaca mata, apalagi kalau “kaca mata kuda”, ..... Kalau boleh saya menyarankan, sesekali mengembaralah ke dunia Tasawuf. Berkenalanlah dengan mahaguru-mahaguru sufi, Ibn Arabi, Jalaluddin Rumi, AlGazali, Ibn Ataillah, Fakhruddin Iraqi, dst. Sebuah Samudra baru membentang luas…
Bung adi,
Saya pikir sudah banyak kok perdebatan mengenai sejauh mana kemampuan akal dalam menangkap kebenaran yg ‘benar’. Hasil olah pikir yang menyimpulkan 2 keadaan yang bertolak belakang tersebut secara eksplisit menunjukan akal memiliki kemampuan yang sangat terbatas. Selain indra dan akal, manusia masih dapat memfungsikan hati/qolb/rasa/intuitive yang mampu menangkap kehadiran Tuhan secara on-line dan utuh tanpa melalui rintangan2 ataupun jarak yang akal kita sendiri yang menciptakannya. Seperti juga akal, hati/intuisi kita dapat dilatih tentunya dengan latihan2 jiwa/takziatun nafs yang bersih. (Asy-Syamsi:9)
anda mau coba ?
Kalau kita masih merasa sebagai manusia, disadari atau tidak, kita semua pasti punya kelemahan dan ketergantungan. untuk bertahan hidup saja kita harus susah mencari makan (bahkan sampai tulang dibanting-banting). Hal inilah yang harus kita sadari bahwa kita adalah makhluk atau benda. Tentunya orang yang masih memiliki akal dan pantas disebut manusia, akan meyakini bahwa suatu benda pasti ada karena diciptakan.
Kalau saya tanyakan kepada anda, apakah komputer yang sedang anda gunakan ini ada yang menciptakan??? Bagi yang masih memiliki akal yang sehat dan wara tentu kita akan menjawab ya!!! Walapun kita sadari kita tidak pernah melihat atau bahkan membuat sendiri bagaimana pembuatan komputer itu. Inilah yang membedakan antara orang berakal dengan yang tidak.
Orang yang berakal tentu akan menyadari bahwa ia diciptakan karena ia berupa makhluk, sedang orang yang akalnya kurang waras akan pantas kalau mengatakan tuhan atau pencipta itu tidak ada.
Sekarang tinggal anda pilih ??? Anda punya akal atau tidak ???
Kawan kiata Abu Syafa sepeaarti yakin betul telah ‘berjumpa’ dengan Tuhan. Ia menggunakan argumen kausalitas. Sebuah argumen klasik ttg Tuhan yang berakhir pada absurditas. Memahami Tuhan melalui argumen sebab pertama adalah kekeruhan pemahaman thd Tuhan. Mengapa? Karena sulit membedakan antara sebab dan akibat, seperti sulit mencari kepastian awal antara telur dan ayam. Singkirkan pemahaman klasik ketuhanan itu dari benak kita.
Saya setuju dengan pemikiran anda. relatifitas rasio untuk memahami tuhan. Manunggaling kawulo lan gustine. Menurut saya adalah tuhan ada di mana-mana. Dan bisa berada di jiwa kita dengan catatan sudah mencapai tingkatan tingkatan tertentu.
Memahami Tuhan melalui argumen sebab pertama adalah kekeruhan pemahaman terhadap Tuhan. Mengapa? Karena sulit membedakan antara sebab dan akibat, seperti sulit mencari kepastian awal antara telur dan ayam.
Saya mengutip kata-kata di atas dari sdr. Adi Bunardi. Dari barisan kata tersebut, beberapa kata terakhir cukup menggelitik saya untuk bertanya kepada saudara Adi. Kita asumsikan bahwa telurlah yang menjadi awal, lalu bagaimana/dengan apa dia melalui proses pengeraman untuk menjadi ayam? Sebab, pada saat itu ayam belum ada, pastinya telur itu tak memiliki induk. Mesin pengeram pun saya yakin belum muncul.
Kawan, Akal memang terbatas, tetapi siapa yang tahu batas akal, bukankah akal mampu menjangkau sesuatu di balik tabir. Kita tidak bisa membatasi kerja akal. Apalagi dalam hal memahami Tuhan. Memang banyak sufi atau ‘urafa mengajak kita untuk memahami Tuhan lewat hati; memlalui jalan ruhani seperti yang anda sebutkan. Namun mengasa hati dengan membunuh akal adalah pembunuhan keyanikan terhadap Tuhan itu sendiri.
Pensucian hati tanpa pensucian akal merupakan pengotoran eksistensi. Atas nama pensucian hati, begitu banyak pengeruhan akal dilakukan. Anda bisa simak medan dakwah keagamaan kontemporer yang sedang ngepop, hampir senuanya mengatas-namakan pensucian hati atau kalbu. Namun karena akal dikerangkeng, maka yang lahir adalah pembunuhan kesejatian agama atas nama hati. Oh, sungguh pemodohan sistematis atas nama Tuhan hati. Renungkanlah Kawan! Hati memang terlalu sendu untuk memahami Tuhan!
Perdebatan ayam dan telur adalah keterjebakan kita pada obyek. Sekarang coba kita lepas persepsi kita pada ayam dan telur; apa yang terjadi? Di sanalah kekuatan pola, alur dan kerangka pikir yang kita buat. Ketika Tuhan mau dipasangkan pada pola ayam dan telur, justru kita melupakan hal yang melingkupi ayam dan telur. Bukankah di luar ayam dan telur ada pengamat, penanya, udara, kandang ayam, dll? Pada bintang yang nampak tidakkah kita bayangkan apa yang ada pada penampakan di luar bintang yang nampak? Tinggal kita menentukan skala, persepsi, dan sudut pandang kita. Sehingga tuhan menjadi relatif, karena ia bisa menjadi tamsil telur, ayam, bintang, matahari, ka’bah, dunia, dll. Tapi Ia juga bisa menjadi absolut ketika sudah sampai pada lingkaran paling luar persepsi kita. Situasinya sama seperti alam sadar dan tidak sadar. Tuhan yang bersemayam dalam akal adalah sejauh kita membuat skala-skala akal kita; membuat ruang yang berpindah-pindah.
Seperti telah sering kita dengar dalam ayat-ayat, manusia diciptakan hanya untuk menyembah Tuhan. Namun kita tahu, Tuhan kan Mahasegalanya yang tidak membutuhkan setoran atau upeti, seperti amal saleh, salat atau bentuk ibadah yang lain. Tuhan jangan dideskripsikan sebagai penguasa seperti raja-raja dalam dongeng yang butuh upeti maupun setoran.
Namun bukan berarti kitatidakharusan berbuat baik. Bagi saya perbuatan baik bertujuan agar kita nyaman, tidak merasa bersalah, tidak takut atau malu dengan orang lain. Jadi kembali ke pertanyaan mengapa Tuhan mencipta; untuk kepentingan siapa atau biar Tuhan punya proyek? Atau mungkin kalau ada bentuk ciptaan-Nya, berarti ada yang mengakui eksistensinya? Minimal ciptaannya itu yang mengakui. Atau masing-masing kita sebenarnya bagian dari Tuhan itu sendiri? Jadi dengan adanya penciptaan ini, Tuhan ingin menjadi sesuatu (ingin merasakan bagaimana rasanya kalau tidak menjadi Tuhan).
Komentar Masuk (171)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)