Tuhan yang Bersemayam dalam Akal Kita
Oleh Adi Bunardi
Merefleksikan pencarian Tuhan melalui akal.
Komentar
Tuhan (dengan’T'besar) adalah pada hakekatnya satu dan memang benar bahwasanya tuhan tidak dapat diketahui secara pasti oleh siapapun, tapi Dia bisa dirasakan kehadiran-Nya oleh siapapun. Dan tuhan(dengan ‘t’ kecil) merupakan tuhan-tuhan hasil dari persepsi dan pengetahuan sesorang, so kita tak bisa mengklaim bahwasanya tuhan kita adalah yang paling tuhan dan paling benar dengan menyalahkan orang yang tidak sealiran atau seagama dengan kita sebab tiap orang punya kepala yang berbeda dan tiap kepala punya ide yang berbeda pula. Hal ini sesuai kalo kita memahami hadits qudsi yang mengatakan bahwasanya tuhan itu tergantung dari prasangka manusia atas-Nya. bisa berupa Yesus, Ruh Kudus, Yahweh, Allah atau yang lainnya, itu semua khan cuma anggapan dan penyebutan dengan bahasa yang berbeda tapi hakekatnya adalah Tuhan.
menurut pendapat saya tuhan bisa dibayangkan dengan berbagai macam apappun juga, namun jikalau di tinjau dari akal memang tuhan adalah tidak berbentuk apa pun jua, tapi jikalau dari bentuk nurani tuhan bisa berganbar apapunjua, hal ini karena manusia membutuhkan penggambaran tuhan yang maha menurut pandangannya, jikalau dia sedang dalam keadaan kalut, maka tuhan akan digambarkan dengan sesuatu yang mengasihinya, entah itui apa gambarannya. tapi yang jelas menurut pendapat saya bahwa tuhan bisa di deskripsikan dengan apapun jua, dengan catatan bahwa si penggambar tersebut tetap mengakui bahwa tuhanlha yang paling maha dimaha. maksaih
Ketika Tuhan menciptakan alam semesta(makrokosmos) dan manusia(mikrokosmos) ini sebenarnya Ia ingin dikenal(ditau) dari ketidak tauan mahkluknya dan ingin mendekatkan/dipahami oleh makhluknya dari ketidakterjangkauan diriNYA. apa yang kita bicarakan dan rasakan tentang Tuhan sejak islam itu ada sampai saat ini, baik oleh saya/tukang becak, Cak Nur/Mas Ulil, Al-Halaj/Rummi, dan Nabi Muhammad sekalipun itu adalah hanyalah “teofani"pancaranNYA. Bukan Dia dalam diriNYA. misalnya, ALLAH yang dipahami akal dan hati manusia selama ini adalah"sesuatu yang terpahamkan sesuai dengan potensi(bahasa/perasaan/emosi/pikiran/hati) kemanusiaan, artinya Tuhan yang dimengerti dalam akal kita dan yang dipahami/dirasakan dalam hati kita hanyalah Tuhan yang terdefinisikan oleh kita melalui “teofaniNYA” bukan Dia mendefinsikan diriNYA. Kenapa demikian karena “Tuhan yang ada dalam diriNYA” tidak mampu dipahami oleh akal dan hati yang amat sangat terbatas. Dan DIa tidak akan pernah terkatakan.
“Bukankah Tuhan pernah berkata sambil senyum sampai kelihat gigi putihnya, “janganlah engkau memikirkan ZatKu sebab engkau tidak akan pernah mampu memikirkannya(baik akal atau hati), kemudian pada kesempatan yang lain Tuhan mengatakan dengan segala KesombonganNYA sambil mengarahkan jarinya kepada manusia “adapun ilmu pengetahuanmu hanyalah sedikit” dan kemudian Dia melanjutkan dengan nada yang semakin sombong “walapun kamu ambil air laut dan (isi bumi termasuk hati dan akalmu), untuk dijadikan tinta ( metode, pendekatan) engkau tidak akan mampu menandingi ilmu ku (sebagaimana kamu tidak mampu mensukuri nikmatKU”. Akhirnya Diapun berlalu tanpa diketahui oleh akal dan hati yang profan kecuali akal dan dan hatiNYA “yang kekal sekaligus tak terkatakan”.
Sekarang ini ada upaya dari orang dan golongan tertentu yamg mengaku islam yang berusaha sekuat tenaga untuk mendangkalkan aqidah orang-orang Islam. Seperti mencari cari hakikat Tuhan serta mengubah ubah aturanya dan mempertanyakan kebenaran ajarannya.
Seperti ada Tuhan kebaikan dan ada Tuhan kejahatan. Kalo ada Tuhan kejahatan ada apa rupanya dengan setan?.
Hanya kepada Allah lah aku berlindung dari godaan syetan yang terkutuk, setan yang telah menjelma menjadi wujud manusia.
ALLAHU AKBAR.
tentu saja pencarian tentang hakikat tuhan adalah kewajiban manusia. bukankah akal yang diberikan tuhan memang disuruh untuk dipergunakan untuk mengkaji segalanya, termasuk tentang tuhan itu sendiri.
kebenaran sejati yang kita cari tetap akan menghadapi jalan buntu pada keterbatasan akal manusia. Anehnya, akal juga berbeda hasil olahannya berdasarkan musim dan masa. kebenaran yang kita sangka pada masa dulu, belum tentu sama dengan kebenaran yang kita sepakati di masa sekarang. sama seperti kita menyepakati bahwa sekarang pusat perputaran galaksi bima sakti adalah matahari. padahal dulunya orang-orang meyakini bahwa bumilah yang menjadi pusat perputaran itu sendiri.
yang jelas, tidak satu orang pun yang bisa mengklaim bahwa pendapat ada atau tidaknya tuhan menjadi sebuah kebenaran sejati. tapi masing-masing pihak boleh mempercayainya sebagai kebenaran yang ada dalam alam pikirnya. tapi tidak mesti memaksakan kebenaran itu kepada orang lain.
tentu saja pencarian tentang hakikat tuhan adalah kewajiban manusia. bukankah akal yang diberikan tuhan memang disuruh untuk dipergunakan untuk mengkaji segalanya, termasuk tentang tuhan itu sendiri.
kebenaran sejati yang kita cari tetap akan menghadapi jalan buntu pada keterbatasan akal manusia. Anehnya, akal juga berbeda hasil olahannya berdasarkan musim dan masa. kebenaran yang kita sangka pada masa dulu, belum tentu sama dengan kebenaran yang kita sepakati di masa sekarang. sama seperti kita menyepakati bahwa sekarang pusat perputaran galaksi bima sakti adalah matahari. padahal dulunya orang-orang meyakini bahwa bumilah yang menjadi pusat perputaran itu sendiri.
yang jelas, tidak satu orang pun yang bisa mengklaim bahwa pendapat ada atau tidaknya tuhan menjadi sebuah kebenaran sejati. tapi masing-masing pihak boleh mempercayainya sebagai kebenaran yang ada dalam alam pikirnya. tapi tidak mesti memaksakan kebenaran itu kepada orang lain.
Saya sepakat dengan Bung Adi Bunadi, tapi yang menjadi pertanyaan saya kenapa kita harus berdebat untuk mencari Tuhan, dengan segala teori dan dalil yang ada?
kalo saya boleh meganalogikan bahwa dunia ini adalah lapangan sepakbola, manusia yang ada didunia ini adalah mangkok-mangkok kecil (berisikan air) yang memenuhi lapangan dan matahari adalah tuhan. maka yang akan terlihat adalah bayangan dari matahari yang terdapat didalam mangkok-mankok tersebut. jelas tidaknya bayangan matahari tergantung dari kejernihan kita menjalani hidup ini.
coba kita renungkan bersama apa perlu kita berdebat untuk mempertahan mind kita & ego kita atau kita merenungkan cara untuk menjernihkan air yang ada didalam mangkok kita masing-masing sehingga manifestasi tuhan berada di dalam diri kita.
karena tuhan selalu sembunyi, maka kita boleh ragu apakah ia ada atau tidak. disatu sisi sebenarnya manusia ingin berdekatan dengan figur yang maha melindungi. karenanya kita mengenal istilah berhala atau patung sesembahan. Ingat, para penyembah berhala bukannya menganggap bahwa patung itu adalah tuhannya, tapi patung itu sekedar sarana agar ia bisa merasa lebih dekat secara fisik dengan tuhan. saya akan sSenang sekali jika saudara - saudara mau memberi komentar; “mengapa tuhan harus menyembunyikan dirinya” kenapa tidak nampak secara dhahir saja agar jelas kita bisa menyembahnya, sehingga tak ada yang berpaling darinya. ataukah memang tuhan itu benar - benar tidak ada? (seandainya tuhan itu nampak nyata, konsekwensinya hidup ini jadi tidak seru; karena tak ada pencarian dan perbedaan pendapat)
Kalau kita hanya cukup menjalankan rukun Islam dan Rukun Iman saja, sementara kita tidak mau belajar mengetahui seluk beluk Al.Quran (maksudnya yang tertulis dalam Al-Quran), mengapa firman Allah SWT turun, ada kejadian apa, bagaimana hubungannya dengan Hadist yang ada, mengapa demikian, bagaimana makna sebenarnya ? baru kita bisa menjalankan rukun Islam dan Iman dengan baik termasuk pengamalannya. Nah kalau belum tahu apa makna yang terkandung dalam Al-Quran (dikhawatirkan) akan terjadi distorsi pemahaman yang sangat keliru terhadap rukun Islam dan Iman itu sendiri. Seperti contoh tertulis dalam Al-Quran) Aku adalah harta yang terpendam, Aku berada lebih dekat dari urat nadi yang ada di lehermu, barang siapa ingin bertemu Aku, maka matilah, atau An-Nur 35 dan lain-lain, Semoga Allah SWT tetap memberikan berkah, kinayah serta ridho-Nya kepada kita sekalian.
ya tuhan adalah sesuatu yang tidak masuk akal. karena memang keterbasan akal dan kenisbian indrawi kita yang tidak menyanggupi untuk memahami konsep tuhan tsb. namun secara sederhana, kita tentu membenarkan eksistensi dari tuhan. namun seperti tertulis di atas, bahwa tuhan tidak masuk akal. karena itulah maka akal memerlukan unsur pendukung (support system) dalam proses memahami tuhan. unsur pendukung terbaik adalah hati nurani yang memang (kalau belum terkontaminasi) selalu berkata benar. karena tuhan bukan masalah masuk akal atau tidak, namun mengimani atau tidak. bila semata dengan akal, maka itu hanya terbatas pada penampakan kekuasaan tuhan yang empiris. kita melihat rumput yang tumbuh di tanah. hal itu tentu bukanlah atas kehendaknya untuk tumbuh, namun ada intervensi kekuasaan yang maha agung yang dapat menjadikan ia tumbuh dengan subur dan hijau. kekuasaan yang hanya “mengatakan” : “Jadi !” maka Jadilah ia. terima kasih.
sebenarnya yang namanya firman dari Allah itu memang sudah dijelaskan di Al-quran, namun menurut pandangan saya sebagai orang awam yang sedang melakukan penelusuran mengenai bagaimana sesungguhnya kebenaran dari firman Allah ini, kerap kali dihadapkan bahwa seakan-akan Allah mampu menyuarakan isi hatinya melalui Muhammad? Lalu sebenarnya siapakah Muhammad?Apakah ia memang benar2 dapat serta mampu untuk berbicara dengan Allah dan mampu untuk mendengar keluh kesah Allah akan hambanya? Lalu bukankan Muhammad juga adalah salah satu dari hambaNYA? bahkan banyak dari kalangan cenderung untuk mengkiblatkan bagaimana perilaku Muhammad sehari-hari sebagai yang terbaik seolah itu telah ada “blue print” dari Al Quran….. Lalu yang mana sesungguhnya kebenaran hakiki yang membuktikan bahwa Allah itu mampu bertindak , dan benarkah Al quran itu memang wahyu dari Allah….. Tapi mangapa kehidupan kaum muslimin di dunia ini cenderung mengacu pada perilaku Muhammad? Jadi apakah tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa pedoman hidup umat islam itu adalah sejarah hidup Muhammad? Dan dimanakah posisi Al Quran dan Sunnah itu? hanya pedoman de Jure sajakah, karena de facto nya adalah kisah hidup Muhammad?
tulisan anda membuktikan bahwa pengangguran (terpelajar) juga mempunyai fokus pada masalah ketuhanan, bukan hanya fokus kepada mencari lowongan dan melamar pekerjaan.
hal ini juga perlu disyukuri ditengah langkanya lapangan pekerjaan, anda telah sukses menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain yang membaca tulisan anda untuk berpikir.
semoga anda bisa menemukan pekerjaan yang saat ini antara ada dan tiada seperti halnya tuhan yang anda katakan.
berbicara Tuhan,....waduh, nggak usah njelimet banget deh. jelas memang, sperti ungkapan Ibn Araby, bahwa tuhan yang disembah oleh kebanyakan manusia adalah tuhan menurut persepsi dan gambaran yang ada di akalnya masing-masing. tuhan yang disembah bukan tuhan sebenar, tapi tuhan menurut anda, saya dll. kita boleh saja punya agama yang sama, punya kitab yang sama, tapi nanti dulu. persepsi kita tentang tuhan beda lho. tuhan menurut anda belum tentu sama dengan tuhan yang saya fahami. tapi begini aja, biar nggak pusing, jelas tuhan aku tu bukanlah tuhan yang menyuruh perang. tuhan aku adalah tuhan yang ramah dan sangat penyayang, pada semua, tanpa membedakan mo agama apa kek! santai sajalah, tuhan malah menyuruh aku mencintai semua. persoalan ada dan tiada itupun tergantung apa yang ada di kepala dan hati manusia. dan bagiku tuhan ada, tanpa harus menjelaskan apakah ia tergantung dengan alam atau alam tergantung dengan tuhan, atau apakah pembenaran tuhan itu harus dengan menjelekkan tuhan yang dikonsepsi oleh orang laen.
berbicara Tuhan,....waduh, nggak usah njelimet banget deh. jelas memang, sperti ungkapan Ibn Araby, bahwa tuhan yang disembah oleh kebanyakan manusia adalah tuhan menurut persepsi dan gambaran yang ada di akalnya masing-masing. tuhan yang disembah bukan tuhan sebenar, tapi tuhan menurut anda, saya dll. kita boleh saja punya agama yang sama, punya kitab yang sama, tapi nanti dulu. persepsi kita tentang tuhan beda lho. tuhan menurut anda belum tentu sama dengan tuhan yang saya fahami. tapi begini aja, biar nggak pusing, jelas tuhan aku tu bukanlah tuhan yang menyuruh perang. tuhan aku adalah tuhan yang ramah dan sangat penyayang, pada semua, tanpa membedakan mo agama apa kek! santai sajalah, tuhan malah menyuruh aku mencintai semua. persoalan ada dan tiada itupun tergantung apa yang ada di kepala dan hati manusia. dan bagiku tuhan ada, tanpa harus menjelaskan apakah ia tergantung dengan alam atau alam tergantung dengan tuhan, atau apakah pembenaran tuhan itu harus dengan menjelekkan tuhan yang dikonsepsi oleh orang laen.
Saya tidak sepenunhnya tidak setuju dengan pemikiran bahwa akal adalah Tuhan yang pertama. Tuhan adalah “sesuatu” yang memiliki kekuatan lebih dibanding kita, dan oleh karenanya ia berhak menguasai dan sekalian menciptakan rasa takut untuk melanggengkan penguasaannya itu. Akal bisa jadi Tuhan ( entah yang pertama atau yang ke 100 ) jika kita “menganggap” akal ( ratio ) memiliki kekuatan yang lebih dan bisa menciptakan rasa takut terhadap “diri” kita ( menguasai ). Tetapi perlu dicatat bahwa akal sebenarnya hanyalah satu unsur pembangun “diri” kita. Kekuatannya sama dengan unsur-unsur pembangun lain…............ Sementara “diri” kita adalah “serpihan-serpihan” bermacam unsur, dan kita tidak bisa mengklaim sebagai manusia jika “unsur-unsur” tersebut tidak lengkap dan berfungsi.
Jadi, tanggapan saya pertama; tergantung Tuhan mana yang dituju. Kalau Tuhan itu adalah tuhan bawahan, ya sampailah akal kita menggapai. Marx telah jauh hari menulis bahwa Tuhan sebenarnya hanyalah hasil dari sebuah ilusi untuk menutupi perasaan takut dan ketakberdayaan manusia. Saya sendiri meyakini bahwa Tuhan yang diimani banyak orang saat ini, yang sembah banyak orang saat ini, yang dipahami orang saat ini, bukanlah Tuhan yang TUHAN.
Eksistensi tuhan harus dimaknai dalam dua sisi penting, pertama tuhan dalam makna fisk adalah sebagai dzat yang wujud atau ada dengan segala atribut fisik yang dimiliki-NYA dan lengkap beserta maqom-NYA, dan kedua adalah tuhan dalam makna rohani adalah sebagai suatu sifat atau moralitas yang dimiliki-NYA
Dalam pemaknaan yang pertama, secara fisik tuhan harus dipahami sebagai suatu dzat yang eksistensinya berada diluar wilayah dan putaran waktu semesta alam, Karena bila bermazhab pada teori Big Bag maka embrio alam semesta ini adalah suatu titik yang dengan suatu tekanan energi yang besar , meledak dan menghasilkan bongkahan - bongkahan teratur yang kemudian menjadi planet - planet dan elemen alam semesta lainnya. Bila pada saat awal ledakan tersebut terdi diasumsikan sebagai putaran waktu yang pertama maka ini berarti bahwa dzat yang kemudian di labeli Tuhan yang membuat ledakan itu berada sebelum waktu awal tersebut dimulai. Dalam dalam tinjauan teori relativitas maka kita akan sampai pada pemahaman bahwa secara fisik manusia tidak akan mampu mencapai maqom tuhan yang akan mempertemukan kita dengannya. Namun dalam pemaknaan yang kedua, Tuhan memiliki sifat sifat atau identitas yang sangat potensial untuk diimplementasikan oleh manusia dan bahkan sengaja diperuntukkan bagi manusia untuk dijalankan. disamping itu Pada awalnya manusia diciptakan dalam keadaan fitrah sebagaimana tuhan yang juga fitrah, sehingga dasar kefitrahan ini merupakan cermin akan adanya potensi yang sama dalam mengimplementasikan sifat - sifat tuhan itu.
Dalam tinjauan ini maka setiap jiwa yang mampu untuk mengimplementasikan identitas tuhan itu maka ia akan mampu menjelma menjadi setengah Tuhan.Wallahu A`lam
Kenapa kita perlu memikirkan Tuhan? Karena Dia bukan hantu yang tidak masuk akal dan kerjaannya menakut-nakuti kita. Agar kita jangan sampai pula menyembah Tuhan yang bukan tuhan yang sebenarnya. Coba saja anda lafal-kan kata Tuhan berulang-ulang dgn cepat! bukan itu kan yg kita sembah. Karena itu tetap perlu memikirkan Tuhan agar tidak keliru menyembah yg bukan tuhan atau hantu. Akan tetapi tentu kita mempunyai keterbatasan untuk bisa memikirkan hakikat Tuhan. Karena itu kita memikirkanNya lewat analogi-analogi.
Setiap umat dan masa terdapat konsep/gagasan ketuhanan yg dekat dgn kebutuhan umat dan masanya. Karena itu jangan heran ada gambaran Tuhan yang bagi kita saat sekarang ternyata adalah gambaran yang lebih dekat dengan apa yang kemudian kita kenal dengan hantu itu tadi. Maka kita wajib terus memikirkannya dan jgn terjebak dgn konsep Tuhan yg telah ada sekarang ini. Siapa tahu kita ternyata selama ini menyembah Tuhan yang kita pikirkan. Bahaya kan?
Cerita dari orang-orang tua terdahulu :
Ada seorang ibu yang menyuruh anaknya kalau ingin makan saat lapar dan berhenti makan serasa cukup kenyang dan jangan berlebihan….setiap hari ibu tersebut memberikan makan segemgam nasi kepada anaknya setiap anaknya setiap merasa lapar (3 x sehari). Begitu terus terjadi sampai bertahun tahun karena anak tersebut patuh dan takut menanyakan apa sebabnya dia hanya diberikan segemgam nasi setiap makan. Suatu ketika anak tersebut ditanya oleh ibunya: Nak…apa yang engkau rasa setelah makan yang aku berikan? Anak tersebut menjawab : masih lapar karena hanya diberikan segemgam. Esok harinya ibu tersebut memberikan hanya segemgam nasi dan anehnya sampai hari esoknya tetap merasa kenyang. Penjelasannya sebagai berikut : Gemgaman tangan itu ada 5 jari yang diistilahkan sebagai : 2 jari diibaratkan 2 tangan 2 jari diibaratkan 2 kaki 1 jari diibaratkan 1 garis dari atas ke bawah (kepala dan badan)
dan Sekepal Nasi itu ibaratnya : ayat2 al quran yang akan dimakan dan didistribusikan secara otomatis sesuai tempatnya di 5 tempat seperti istilah 5 jari diatas.
Jadi semua yang kita gemgam erat sekepal nasi (dengan 5 jari) artinya kita harus memberikan tubuh kita dengan ayat2 alquran yang diberikan oleh allah kepada kita sebagai pegangan umatNya, yang mana tempat Allah ada di diri masing2 manusia.
Akhirnya anak tersebut paham dan mengerti bahwa ibunya tersebut mengajarkan apa yang harus dilakukannya dalam kehidupan ini untuk mencagapai kehidupan yang hakiki tersebut.
Tuhan bersemayam di dalam akal meruapakn tema yang menarik didiskusiakan, lepas dari benar dan salah. menurt pandangan sya potensi-potensi ketuhanan terdapat dalam manusia itu sendiri yang dilatih secara kontinus untuk membuka hijab antara Tuhan dengan manusia maelalui proses pencarian dengan rentetang ilmu pengetahuan kshususnya pencarian kebijaksanaan, jadi tupanya pencarian tuhan yang tiada henti-hentinya dapat mnejadikan diri kita sebagai Tuhan, sekalipun itu tidak sama (Erich Fromm). artinya manusia mampu menanamkan potensi ketuhannannya di alam nashut.
Tuhan Tidak Dimana-mana
Assalamu’alaikum Wr Wbr, Adalah suatu hal yang menarik ketika pada waktu yang lalu JIL melemparkan sebuah pancingan tentang ‘Merefleksikan Pencarian Tuhan melalui akal”. Banyak yang mengomentari baik secara halus dan ada pula yang cukup keras. Tetapi pada intinya kita akan lebih baik bersikap versetehen, karena Eksistensi Tuhan dan eksistensi rohani haruslah diungkapkan dengan ilmu-Nya dan hal ini sesungguhnya sudah dijelaskan pada Al-Qur’an yang agung.
Bapak dan Ibu telah berupaya memahami tentang Tuhan dengan menggunakan akal secara seksama, ada yang berhati-hati, bernada lembut dan ada yang vulgar lagi keras, sehingga kesannya terlihat seolah-olah menghakimi Tuhan (gebyah-uyah podo asine, mohon maaf saya tidak bermaksud menyakiti siapapun, semoga Allah membukakan pintu ampunan dan ilmu kepada kita untuk menambah keyakinan). Tetapi juga tak perlu disalahkan, karena pencarian Tuhan melalui akal adalah fenomena yang tak terpecahkan selama 14 abad setelah Rasulullah wafat. Sesungguhnya bukan akal yang lemah/tidak sanggup, namun kesucian akal dan hati yang diperlukan. Perlu dijelaskan, di dalam ilmu tentang Eksistensi Tuhan terdapat tiga macam kategori ilmu. Pertama, ilmu yang rasional (rational science) yaitu dapat dicerna akal, logis, sistimatis, matematis dan kausalitas. Kedua, ilmu yang irasional (irasional science) yaitu yang tidak dapat dicerna akal dan ketiga, transraisional (transraisional science) yakni dapat dicerna akal, tetapi sulit untuk menggambarkannya.
Uraian yang pertama – ilmu yang rasional, kami jelaskan dalam uraian yang cukup panjang dan yang demikian yang kami maksudkan pada tulisan ini, yang rasio, logis, dialektika dan tipe ini diinginkan oleh Ali Harb – pemikir Islam kotemporer dari Libanon. Uraian transraisional dan irasional, tidak kami ungkapkan dalam uraian ini - mungkin lain waktu - cukup dengan contoh seperti ini : yaitu akal memahami tentang Ke Maha-Halusan, Maha-Ghoiban atau KeMahaBesaran Tuhan, tetapi akan tidak mampu menggambarkan sejauh atau sebesar apa (transraisional). Sedangkan yang irasional yaitu yang selama ini dipahami orang sebagai trancendental, artinya sulit dijangkau akal dan diluar pengetahuan manusia (beyond human knowladge). Dengan demikian akal memiliki keterbatasan dalam hal ini.
Mencari Tuhan dengan akal sangat dibolehkan dan dianjurkan. Contoh seperti ini dapat kita peroleh ketika Nabi Ibrahim mencari Tuhan, dan pada mulanya menyangka Tuhan adalah matahari dan bulan. Tuhan-pun tidak menyalahkannya. Dengan kata lain, tidak ada larangan setiap orang mencari Tuhan sesuai anggapannya. Tetapi jangan hanya sampai disitu, setiap anggapan bukanlah sesuatu kebenaran, kita hendaknya mencari hakekat atas segala sesuatu. Dalam hal ini ilmu ma’rifatullah diperlukan untuk menyokong ke arah makna hakekat.
Tuhan tidaklah seperti menurut prasangka manusia, sebab prasangka adalah sifat yang dilarang Tuhan dan tidak didasarkan atas ilmu-Nya (Al-Hujurat 12). Ilmu yang dimaksudkan adalah sesuai dengan pandangan-Nya. Inilah yang sulit yaitu yang sama dengan pandangan-Nya. Tetapi pandangan Allah telah diungkapkan melalui media-Nya yakni Al-Qur’an. Dari Al-Qur’an kita memperoleh indikator yang jelas bila setiap orang ingin mengenal Allah. Untuk itu diperlukan penelitian yang kontinyu dan hati-hati dengan menggunakan akal yang kuat dan sungguh-sungguh dan senantiasa memohon kepada Tuhan agar diberikan petunjuk. Andai saja Tuhan tidak memperkenalkan ‘Diri-Nya’ di dalam Al-Qur’an dengan Sifat-sifat, Nur, Dzat, dan Bio-Nya tentulah kita tidak mengenal siapa Tuhan itu.
Dalam melakuklan riset terhadap Al-Qur’an ada suatu permasalahan yang urgent. Setiap muslim yang meneliti Al-Qur’an dihadapkan pada kritikan dan hujatan yang datang bertubi-tubi, misalnya harus memahami dulu nahwu syorof, sesat dan harus diberangus yang pada akhirnya menyebabkan Islam tidak berkembang secara ilmu pengetahuan. Sementara agama lain menganggap Islam menjadi agama yang vakum dan mengekspos jihad dengan konotasi teroris. Islam dianggap agama yang semata-mata hanya mengekspos dominasi jihad yang sering diartikan secara negatif.
Berfikirkah Kita tentang Apa Yang diucapkan? Tuhan, sebagaimana Dia memperkenalkan diri-Nya di dalam Al-Qur’an dan Hadis Qudsi, mengenggam (meliputi) segala makhluk ciptaan-Nya (Al-Kahfi 91). Analogi orang-orang terdahulu - kaum filosof dan sufi - bahwa Tuhan menciptakan makhluk lepas dari-Nya hanyalah sebuah praduga bukan pemahaman yang hakiki.
Anggapan-anggapan yang salah itu kemudian dipahami orang sebagai ‘Tuhan ada dimana-mana’, atau kita mengucapkan kalimah ‘bagaimana yang diatas saja’, atau Tuhan sebagaimana anggapan makhluk-Nya, seperti Tuhan bersemayam di akal kita, apalagi manunggaling kawula gusti; yang sesungguhnya semuanya itu adalah anggapan-anggapan yang salah. Kini saatnya kita perlu koreksi dan mengungkapkan kebenaran. Dan kalau bisa hal ini menjadi produk dari organisasi anda (JIL), sebuah proyek besar untuk meyampoaikan konsep dan mengajak setiap orang meluruskan akal dan mendekatkan diri kepada Tuhan pada waktu pagi, petang, siang dan malam; di waktu berbaring, duduk, berdiri ataupun berjalan (QS 3:191). Mudah-mudahan Allah nantinya akan membayar dengan surga yang mengalir sungai-sungai dibawahnya.
Kami akan menjelaskan dengan surah Al-Baqarah 115: Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui). Secara hakekat ayat ini menjelaskan tentang Allah Maha Menggenggam segala ciptaan-Nya; sekaligus untuk menghapus anggapan bahwa orang mutlak menghadap Ka’bah secara lahiriah. Yang disembah seorang muslim adalah Allah, Tuhan Semesta Alam, sedangkan Ka’bah adalah sebagai patokan menghadap sekaligus berada dalam Eksistensi Tuhan. Jikalau saja tidak ada Ka’bah tentulah tidak berketentuan tata tertib shalat kaum muslimin. Pada waktu tata tertib menghadap shalat dipindahkan dari baitul maqdis ke Ka’bah alangkah beratnya kondisi pemindahan tersebut. Rasulullah berdo’a tiada henti-hentinya 40 hari 40 malam sehingga Allah mengabulkan permohonannya (lihat QS 2:142-150).
Namun menurut pandangan Allah, bila kita berada disebuah hutan belantara ditengah malam gelap gulita, tidak memiliki kompas, dan tidak tahu harus menghadap ketika menjalankan shalat, maka perlu diteliti pula surah Al-Baqarah 117: Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa).
Jelas sudah, kemanapun orang menghadap dia tetap berada dalam Eksistensi Tuhan. Sesungguhnya yang diperhatikan Allah bukanlah menghadapnya jasad, tetapi secara hakiki menghadapnya hati dan akal manusia. Pernyataan seperti ini tentu sulit diterima orang awam karena yang dijadikan indikator mutlak adalah menghadapnya jasad. Sekalipun jasad – muka badan dan mukanya – lurus tak bergeming ketika shalat menghadap kiblat, tetapi bila akan dan hatinya banyak lintasan-lintasan duniawiyah, maka dia diancam dengan surah Al-Maa’uun 4-5 (Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya).
Dua ayat di atas (QS 2: 115 dan 117) memadai bagi kita untuk memahami bahwa Tuhan bukan berada dimana-mana, tidak dimana-mana – tetapi meliputi, menguasai, memelihara dan menggenggam semua makhluk-Nya. Tuhan tidak memerlukan perpindahan dari suatu tempat ke tempat lain karena setiap perpindahan tentunya memerlukan tempat atau ruang dan ada sesuatu yang ditinggalkan. Sementara Tuhan tidak memerlukan dimensi ruang, di luar dimensi ruang. Bila kita mengatakan bahwa Tuhan ada dimana-mana, maka analoginya ialah Tuhan berpindah-pindah atau Tuhan menjadi banyak, Tuhan berada dalam dimensi ruang dan hal ini bertentangan dengan asma-Nya Yang Maha Meliputi dan Yang Maha Esa (Tunggal). Setiap orang yang mengatakan Allah banyak, akan lari kepada konsep musyrik, bacalah surah Maryam 90 (Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak”. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar,hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh).
Kalau Tuhan tidak berada dimana-mana, lalu dimana?. Jawabannya harus dijelaskan dengan konsep Eksistensi Tuhan. Konsep Eksistensi Tuhan bukanlah seperti apa yang kita pahami sekenanya dan sesungguhnya telah dijelaskan pada Al-Qur’an dan Hadis Rasulullah SAW. Semua makhluk berada di dalam Eksistensi-Nya, bukan di luar Eksistensi Tuhan. Pemahaman orang terdahulu dan orang-orang sekarang ialah makhluk berada di luar Eksistensi Tuhan, seolah-olah menggambarkan bahwa penciptaan makhluk seperti insinyur membuat robot yakni ciptaan lepas dari dirinya. Hal ini bertentangan dengan surah Al-Baqarah 115:....., maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah.
Apa yang kami jelaskan di atas hanya sekilas saja tentang Eksistensi Allah, tapi cukup memadai untuk menjelaskan bahwa dimana Tuhan itu berada. Untuk lebih menjelaskan alasan-alasan kami, perlulah kiranya kita memikirkan tentang Tuhan Maha Meliputi/Menggenggam seluruh makhluk-Nya (QS 2:19,255; 3:154; 4:108,126), semua makhluk tidak terlepas dari pengawasan-Nya (QS 4:1; 5:117; 33:52; 42:6), semua makhluk bergantung kepada-Nya (QS 112:2), Semua makhluk berstabih kepada-Nya (QS17:44; 20:130; 21:20,79; 24:41), kecuali hanya akal yang membantah – tidak taat dan tidak patuh. Dengan akal manusiakan selamat dan mendapat petunjuk dari-Nya, tetapi dengan akal pula manusia dapat celaka dan tidak mendapat petunjuk dari-Nya; dan semua ini dijelaskan di dalam Al-Qur’an (lihat Ar-Ra’d 19).
Ada pula orang yang berucap ‘bagaimana yang di atas saja’. Bagaimana pemahaman kita tentang ucapan itu?. Bukankah ucapan tersebut adalah ucapan orang yang tidak memahami tentang Tuhan-nya? Siapa yang di atas? Begitu dia mengucapkan kalimat itu, maka diatas wuwungan rumahnya atau pada lintasan akalnya sedang berdiri Iblis ataukah Jin. Ucapan orang berilmu (yang aliim) sesuai dengan ilmunya pula yaitu ‘aku berserah diri dan menyerahkan segala urusanku kepada Allah SWT.
Bagaimana pula dengan Tuhan bersemayam di akal?. Akal adalah energi otak yang diciptakan Tuhan. Apapun bentuknya yang disebut ciptaan adalah materi. Jadi akal adalah materi yang diciptakan Tuhan. Kita bukan penganut paham materialisme yang gandrung dan meledak-ledak dengan eksistensi akal dan melupakan Tuhan. Tetapi perlu kita jelaskan bahwa pengertian materi dimaksudkan untuk menyingkirkan kultus makhluk kepada makhluk yang namanya akal; yang seharusnya diubah menjadi kultus kepada Yang Maha Pencipta. Bila akal adalah energi otak dan tidak dapat dilihat kasat mata, tetapi bagi Allah akal tidaklah ghoib, ada wujud atau bentuknya. Pertanyaan yang muncul ialah bagaimana mungkin Allah bersemayam pada benda (materi) yang disebut akal itu?. Walaupun nabi, rasul ataupun malaikat; seorang muslim dilarang mengkultuskannya, apalagi hanya akal.
Banyak ayat yang menjelaskan tentang istilah ‘bersemayam’, kita ambil saja satu ayat tentang surah Thaa-haa 5 ((Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `arsy). Kalau kita sunguh-sungguh meneliti, maka pengetian ‘bersemayam di atas’.., bukan diartikan bahwa Allah berada di ‘arsy. Ada kata ‘di atas’ yang menjelaskan tentang Eksistensi Allah, yakni di atas ‘arsy. Jadi Tuhan bukan berada di ‘arsy, tetapi di atas ‘arsy, yaitu di luar arsy yang agung yang juga merupakan ciptaan Allah. ‘Arsy adalah sebuah surga, tempat tertinggi, sebuah planet dengan konstelasi 14 planet bersama ‘arsy di alam baqa; dan Allah lebih tinggi dari ‘arsy yang agung dan dari semua planet tersebut. Hal-hal yang mustahil dan tidak logis, tidak sistematis dan tidak kausalitas pada cara berfikir kita, apabila kita masih bersikukuh untuk menjelaskan bahwa Tuhan tetap bersemayam pada akal manusia. Analogi yang sama ialah tentang ucapan ‘manunggaling kawula gusti’. Sesungguhnya paham ini menjelaskan tentang Tuhan berada pada diri makhluk. Bukan demikian maksudnya. Hal ini disebabkan orang belum bisa menjelaskan tentang rohani, kedekatan rohani dengan jasad dan pengaruh rohani terhadap jasad, sifat-sifat rohani dan eksistensi iman. Apabila hal itu bisa dijelaskan, maka dia tidak akan mengucapkan kalimat manunggaling kawula gusti’. Kami maksudkan, orang tidak menjelaskan dengan ilmu-Nya. Berbicara rohani bagi sebagian besar umat adalah tabu dan dogmatis. Lihatlah surah Al-Israa’ 85 (Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”). Orang muslim memenggal ayat sampai hanya pada koma. Tetapi bila kita teruskan membacanya sampai titik maka Tuhan tidak melarang setiap orang untuk menjelaskan tentang rohani…” dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit. Yang sedikit itu adalah menurut pandangan Allah, tetapi yang sedikit itu adalah besar dan banyak bagi manusia.
Dengan penjelasan demikian, maka kita akan mengungkapkan tentang eksistensi ruh (rohani) yang memiliki sifat-sifat baik, sifat-sifat yang dekat dengan Allah dan sifat-sifat golongan kanan, golongan ukhrawiyah serta menghapus pernyataan manunggaling kawula gusti yaitu Tuhan berada pada atau dalam diri manusia. Dengan demikian jelas sudah penjelasan tentang ungkapan-ungkapan atau pernyataan yang salah tentang Tuhan dan makhluk-Nya. Mudah-mudahan setelah ini kita berbicara sesuai dengan kadar sebagai seorang berilmu. Wabillahittaufiq walhidayah,Wassalamu’alaikum Wr Wbr.
Penulis adalah Staf Pengajar FISIP-UI
Komentar Masuk (171)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)