Muhammad Imarah: Turâts, Tajdîd dan Relasi Agama-Negara
Oleh Tedi Kholiludin
Sosok Muhammad Imarah juga bisa dikategorikan sebagai seorang intelektual kelas kakap di Tanah Arab. Responnya yang cukup antusias pada dunia akademis, terutama dalam menyikapi tren pemikiran Islam, telah mengibarkan namanya dalam dunia pendidikan dan pemikiran Islam kontemporer. Salah satu karyanya dalam merespons pemikiran tokoh sezamannya, adalah sebuah buku berjudul Suqûthul Ghuluwwil Almcnî (Gugurnya Kenaifan Kaum Sekuler). Buku ini merupakan karya ilmiahnya dalam merespons pemikiran Muhammad Sa`id Al-Asymawi yang cenderung sekuler.
Komentar
saya nilai pemikiran yang ditelorkan beberapa orang yang mengaku cendekiawan muslim sekarang ini kurang banyak nyentuh kebutuhan mendasar umat Islam. Umat islam sekarang ini lagi ngadepin krisis ekonomi, kelaparan, tapi apa yang sudah mereka sumbangkan untuk umat? pemikiran pemberdayaan ekonomi kerakyatan pun gak jelas bentuknya. malahan enjoy mengusung ide sekularisme, dsb. yang ujung-ujungnya malah menguntungkan kapitalisme global. sekarang kita harus berpikir riil apa yang bisa kita berikan untuk mengentaskan umat kita dari kemiskinan. diskusi memang baik, tapi konsep apa yang anda tawarkan. terima kasih.
——-
mengingat bahwa muslim indonesia ini sebagian besar masih dibawah garis kemiskinan dan kepintaran, alangkah sebaiknya JIL memberikan penyegaran keislaman yang lebih membumi!
Terbukti pada tahun 1975, ia berhasil menggondol gelar doktor dengan disertasi yang berjudul Al-Islâm wa Falsafatul Hukm (Islam dan Falsafah Pemerintahan)...
Tambahan: Beliau meraih gelar Ph.D di Fakultas Darul Ulum, jurusan filsafat islam, Universitas Kairo, Mesir.thank’s
Komentar Masuk (3)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)