Uji Sahih Islam Liberal
Oleh Akhmad Fauzi
Kontroversi tulisan Ulil Abshar tentang pentingnya penyegaran pemahaman Islam yang pernah dimuat di kompas beberapa waktu lalu memang mengundang banyak kalangan untuk datang, duduk dan berdiskusi, tetapi tidak sedikit yang kemudian secara sporadis menolak dan menghakimi gagasan tersebut. Padahal jelas, paradigma berpikirnya kadang berbeda.
Komentar
Komentar saya pendek: Hebat euy…. Indah betul.
Salam damai
Assalamu’alaikum Wr Wb
Yang terhormat para penulis artikel ini yang mungkin saya harapkan ini benar isinya. Menurut yang saya pahami walaupun saya baru 2 tahun masuk Islam, Anda (Ulil/penulis artikel ini) tidak mempunyai keberanian yang tinggi. Mengapa??? Karena Anda itu hanya berbincang dengan satu orang saja, yang mungkin satu pemikiran dengan Anda, akan tetapi yang saya harapkan Anda itu berdialog secara terbuka dengan tokoh agama lain yang bukan anggota Anda yang masuk ke organisasi Islam lain (dengan kata lain yaitu mata-mata), cobalah berdialog dengan organisasi lain yang selalu Anda anggap adalah aliran keras (fundamentalis) dengan dialog terbuka, jangan sembunyi2 (Anda bukan lah penakut). Saya tahu mungkin Anda akan berpendapat begini"Percuma saja berdialog dengan mereka, karena mungkin ketika Anda berdialog dengan mereka, mereka menggunakan emosi, tapi satu yang disayangkan dari Anda yaitu mengapa Anda tidak mau menerima suatu dalil yang lebih kuat sandaran, nasabnya dari Anda. Jikalau Anda seorang muslim sejati pastinya Andapun akan mengikuti sandaran yang kuat bukan? Ketika saya di Protestan, saya selalu penasaran (karena memang saya selalu ingin mencari tahu yang tidak saya ketahui) mengapa setiap saya bertanya kepada pastur tentang kebenaran Injil yang sesungguhnya (yang langsung dibawa oleh nabi Isa, yang selalu digembor-gemborkan oleh umat Islam) dia tidak pernah menjawab.
Satu hal yang harus Anda tahu, di gereja saya adalah salah satu yang paling rajin mengikuti kebaktian2, juga rapat besar di Indonesia. Pernah saya mendengar salah satu dari pembicara dalam rapat misi rahasia,dia berkata “Kita masuk ke pelosok desa melalui ekonomi,kuasai setengah negara ini, lalu kutu2 garis keras (Islam fundamentalis) kita habisi, berikan pemahaman Injil kepada mereka yang bodoh, sisipkan dengan paham keislaman mereka”. Sekarang saya ingin bertanya kepada anda (Ulil/redaksi) Apakah anda semua pernah kecewa dengan Islam yang hakiki kebenarannya, sehingga Anda mencampur ajaran Islam dengan ajaran agama yang pernah saya anut, yang notabene diragukan kebenarannya karena injil yang sekarang selalu bertentangan dengan injil pada tahun yang lalu.
Anda beranggapan bahwa Islam fleksibel (ya saya akui bahwa Islam fleksibel) tapi yang Anda maksud adalah Islam mengikuti perubahan Zaman(itu salah, karena Islam tidak perlu direvisi ulang karena kebenarannya sudah hakiki dan dijaga oleh Allah SWT, yang perlu direvisi atau diupgrade yaitu orang2nya yang selalu menyalahkan Islam dan bersikap tolol)Seharusnya Zaman lah yang mengikuti Islam, karena Islam dahulu (Zaman Nabi Muhammad SAW) dengan yang sekarang adalah sama. Islam tidak menganut sistem demokrasi, liberal, komunis, kapitalis ataupun semuanya. Islam adalah Islam, Anda tahu arti liberal (berasal dari liberty=kebebasan)berarti kalau begitu Anda beranggapan orang Islam bebas semaunya tanpa didasari aqidah/melakukan yang dilanggar oleh aqidah Islam.
Mungkin hanya demikian yang saya sampaikan, jika Anda ingin lebih banyak berbincang silahkan saja kirim ke e-mail saya. Karena saya sangat prihatin dengan artikel yang Anda muat, saya yang masuk Islam karena meyakini kebenarannya pada tanggal 28 April 2001, sangat menyayangkan Agama Islam ini dikotori oleh pikiran2 yang ingin merusak citra Islam. Saya berkesimpulan bahwa Anda memanglah sengaja berniat untuk menyelewengkan ajaran Islam agar masyarakat dapat dibodohi. Islam liberal ini sudah saya baca dan ternyata Anda menggabungkan Islam dengan semua yang bertentangan dengan Islam seperti Filsafat, Kristen, Kapitalis, dan Liberal yang selalu dibawa oleh negara adikuasa (Amerika juga Yahudi). Saya sayang dengan KeIslaman Anda janganlah kau kotori Islam dengan niat2 yang bodoh dengan dalil yang sandarannya tidak kuat, juga dalil yang diselewengkan. Bacalah buku2 Islam pasti Anda akan terketuk hatinya (jika memang hati Anda tidak benci dengan Islam). Saya sudah mendapat gambaran tentang pergerakan Islam Liberal ini hanya dengan perkataan Andapun saya sudah tahu.
Terimakasih, Jika ada perkataan yang salah itu datangnya dari saya dan jika ada perkataan yang benar itu datang dari Allah SWT yang akan selalu menuntun hambanya kejalan yang benar.
Wasalamu’alaikum Wr Wb
Ini bukan komentar !! Cuma ingin tanya di mana bisa beli buku tsb. Trims.
Redaksi:
Anda cari outlet Gramedia di manapun, kami kira, ada. Gramedia PIM atau di Gramedia Matraman, kami, lihat, buku tersebut dijual.
Setelah beberapa kali membaca buku ini dan mengikuti perjalanan pemikiran Ulil dkk maka terdapat beberapa catatan yang ingin saya sampaikan :
1. JIL, telah melakukan ‘Klaim kebenaran’ dengan mengatakan bahwa ‘TIDAK BOLEH ada klaim kebenaran’
2.JIL, melalui Ulil terang-terangan memperjuangkan sekulerisme dengan pernyataannya yang mengatakan bahwa sekulerisme adalah sebuah pilihan karena mampu menampung energi keshalehan sekaligus kemaksiatan
3.JIL, kontradiksi : di sisi lain menolak korupsi dan penindasan tapi disisi lain mendukung energi kemaksiatan ( mungkin yang JIL lupa bahwa salah satu jenis energi kemaksiatan adalah korupsi dan penindasan )
4.JIL, tidak konsisten : menafsirkan Islam harus kontekstual tetapi tiba-tiba makna jihad dan makna Islam ditafsiri tekstual..
5.JIL, semua oleh boleh menafsiri Qur’an dan Sunnah, berarti menurut JIL bila Pres. Soeharto menafsiri bahwa korupsi dan kolusi boleh, maka JIL akan menganggap hal itu adalah benar. Lha wong multi tafsir…
6.JIL, hakim yang tidak mau dihakimi, JIL kebakaran jenggot ketika ada yang menghakimi JIL tapi pada kasus Poligami Award tiba-tiba JIL berubah jadi HAKIM bagi Pak Puspo ( tulisan anick (?))
7. Mana sich konsep JIL untuk perbaikan krisis bangsa ? Kok isi tulisannya hanya menghujat pemahaman komunitas Islam yang lain ?
8. Oh ya saya pernah mengetahui dalam seminar seorang pembicara yang kebetulan pengagum/anggota JIL yang ketika dikritik oleh pembicara lain, anggota JIL tersebut mengatakan “Tuhan saja tidak pernah mengkritik saya, mengapa anda mengritik saya ?”. Saya jadi heran apakah karena semua pendapat oleh JIL dianggap benar, maka dalam komunitas JIL ada doktrin untuk tidak menerima kritikan ?
9. Tapi saya senang kok bila diskusi dengan orang-orang JIL ( termasuk yang ada di kampus saya UMS ), karena doktrin JIL, semua pendapat diterima dan dianggap benar… ( cuman kemudian saya berpikir, bila semua pendapat benar mengapa dosen-dosen yang JIL di kampus saya masih ngasih nilai A,B,C,D, dan E, seharusnya khan hanya A saja..semua jawaban/pendapat khan benar..)
Maaf, semoga tidak JIL tidak marah…. saya hanya mencoba mengaplikasin doktrin JIL… bila Islam bisa ditafsiri dengan multi tafsir, apalagi JIL..
silakan baca di www.syariahonline.com bagian konsultasi masalah umum dgn judul: HAKIKAT ISLAM LIBERAL
BERIKUT SEBAGIAN CUPLIKANNYA
Sekedar tanggapan : Ulil menulis : “Aspek-aspek Islam yang merupakan cerminan kebudayaan Arab, misalnya, tidak usah diikuti. Contoh, soal jilbab, potong tangan, qishash, rajam, jenggot, jubah, tidak wajib diikuti, karena itu hanya ekspresi lokal partikular Islam di Arab.”
Tidak mungkin Ulil tidak tahu bahwa jilbab, potong tangan, qishash, rajam itu semata-mata budaya arab. Karena semua itu ada dalilnya dalam Al-Quran dan Sunnah. Kalau jubah dan jenggot, barangkali masih bisa ditolelir bahwa ada faktor budayanya. Jenggot meski bukan merupakan kewajiban, paling tidak ada nash yang menganjurkannya. Sedangkan jubah, memang murni budaya arab yang tidak mengandung tasyri`. Tapi kalau urusan potong tangan, qishash dan rajam, bukan sekedar kewajiban, bahkan masuk dalam perkara hudud yang penerapannya sangat mutlak. Tidak ada ulama yang menentangnya sepanjang sejarah kecuali pada zindiq dan munafikin.
...............
Yang perlu kita lakukan justru memberi belas kasihan kepada rombongan JIL ini. Mereka sudah habis-habisan mengobral semua harga bahkan ada yang dijual dengan diskon 100 persen, tapi tetap sepi pembeli dan pasar lesu.
Buat ulil, sudahlah sebaiknya dia cooling down sejenak, karena jalan yang dia lewati itu cuma jalan buntu, sudah banyak orang gagal lewat jalan itu dan terpaksa kembali lagi. Sebelum terlalu jauh, kembali saja dan cari arah yang lebih tepat. Persis seperti yang dikatakan Steven Covey, lebih baik berhenti sebentar untuk berpikir jernih daripada terus bekerja yang tidak jelas hasilnya.
DST…
Assalamualaikum wr. wb.
Islam itu luas dan jelas. Jangan disalah kaprah dong. Kasihan mereka yang nggak mengerti apa-apa dan yang baru belajar tentang Islam yang sesungguhnya. Jangan menjerumuskan mereka dengan doktrin-doktrin yang terlalu"memudah-mudahkan” sesuatu yang memang tidak harus di mudah-mudahkan. Jangan berijtihad secara subjektif dengan sudut pandang yang hanya menguntungkan kesenangan pribadi saja.
Bang ulil, jangan terpengaruh dengan ucapan2 yg sifatnya mengerem aktivitas anda. Banyak sekali sebetulnya orang2 Islam yang mendukung anda, cuma mereka gak berani bersuara maklum mereka adalah kaum Islam abangan yang tentunya jumlahnya lebih besar dari mereka yang fanatik dan tidak mau menerima keberagaman.
Penduduk Indonesia memang 90 persen beragama Islam tetapi ingat 80% dari mereka adalah Islam abangan seperti saya, yang tentunya sangat mendukung ide2 bang ulil (IslamLib). Kalo gak percaya adakan pooling terutama di jateng/jatim.
Maju terus bang ulil!
Apakah Bang Ulil masih menegakkan salat?
Apakah Bang Ulil masih menjalankan puasa Ramadan?
Apakah Bang Ulil masih mau berzakat?
Apakah Bang Ulil masih mau tahu dan paham betul tentang Alqur`an dan hadis yang jelas-jelas menerangkan tentang Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Terima kasih.
Ya mengapa tidak dengan Islam Liberal. Penting apa yang dilontarkan Kang Ulil cs. buat kita membuka mata kita atau mungkin lebih bisa “mlorok” melihat sikon. Jangan sampai terlalu “tawadhu” nya kita hingga dalam upaya kritis kita hanya menerima apa adanya tanpa ada ghirah untuk tau lebih mendalam dan merespon dinamika kehidupan ini. Saya sendiri sebagai muslim masih cenderung untuk “adaptasi” dengan lingkungan, misal saya sholat subuh di komunitas Muhammadiyah akan tanpa qunut, di lingkungan NU akan berqunut. Walaupun saya lebih mantap berqunut, walaupun saya bukan nahdliyin. Apa yang saya katakan bahwa kaum Muslim sendiri tidak bisa memberi ruang pluralitas dalam Islam sendiri, baik itu Islam Modern maupun tradisional, atau malah tengah-tengahan. Saya punya asumsi orang Islam akan lebih bisa toleran terhadap non muslim dibandingkan sesama muslim. Nggak percaya? Bukti munculnya buku ini. Renungkan saja. Atau mungkin kaum muslim belum “dewasa”. Ah ya nggak juga ya. Kang Ulil pun sumangat akan “alirannya”, dan at the other side yang nggak setuju yo mati-matian berargumentasi menolak pemikiran islamlib. Mungkin saya harap ang Ulil Cs eh.. Islamlib jangan terlalu “sumangat” banget, agak “ngerem” biar nggak “nggegirisi” he.. he… Toh nggak cari jamaah to?! Tugas yang penting kan mengubah mindset kita. Wah saya bisa ngelantur ini.
Kapan ada diskusi dengan Postra, pengen liat Kang Ulil dan Kang Jadul. saling merespon lagi. Gimana Postra? Saya pikir sama visinya cuman beda misinya. Gitu ya atau malah salah? Semoga saya bisa contribute juga ke site ini, soalnya kadang ya “risi” muncul pemikiran-pemikiran begitu saja. Yach selamat atas naik cetaknya lagi. Moga Islamlib bisa memberikan tidak sekedar wacana tapi aplikatif. Merdeka!!!
Bung Hidayatullah yang hanif, yang ingin selalu mencari tau yang tidak diketahui, ada beberap point yang saya kurang setuju dari komentar anda ; Yang pertama, tentang dalil yang diselewengkan, dari mana bisa dikatakan dalil itu diselewengkan kalau penafsiran atas dalil itu justru mampu menciptakan kemaslahatan umat manusia. Dan itu adalah tujuan Islam. Dalil-dalil yang tertulis yang diajarkan sebagai syariat itu adalah simbol-simbol yang perlu difikirkan pengertiannya.. Di sinilah pentingnya filsafat. dan Islam tak pernah bertentangan dengan filsafat . Seorang penganut agama yang mampu memadukan agama dan filsafat,menekankakn penggunaan akal, lebih tinggi tingkatannya dari pada orang yang semata-mata menjalankan agama secara taqlid
Yang kedua, islam zamannya nabi dengan Islam sekarang sama? Banyak orang tidak setuju kalau dikatakan Islam mengikuti perubahan Zaman, mungkin konotasinya agak berbeda (meskipun maksudnya sama) kalau dikatakan, Islam sesuai di segala waktu dan tempat.
Jika Islam tampil dalam bentuknya yang tunggal,sebagaimana Islamnya nabi, itu berarti Islam sudah tidak fungsional, bukan lagi agama yang rahmatan lil`alamiin. Wajah tunggal Islam, hanya mungkin, jika seluruh umat Islam dilahirkan pada waktu dan tempat yang sama.
Yang ketiga, tentang Islam dan demokrasi. Pandangan bahwa Islam tak mengenal demokrasi,hanya didasarkan pada kenyataan bahwa umat Islam memang belom mempunyai pengalaman yang signifikan dalam hal berdemokrasi.Tetapi sesungguhnya keadilan, keegaliteran, musyawarah, adalah watak dasar Islam yang sebanding dengan demokrasi.
Tetaplah penasaran. . . . . . . . . .
Wallahu a`lam bimuraadihi.
Salam, Rani
Penilaian Anda, hanya berkutat pada istilah “kontemporer” dari visi ulil. Disertai dengan ketidakmauan (bukan ketidakmampuan) menangkap maksud dari istilah-istilah Ulil. Sepertinya Anda juga mengartikan sekularisme terbatas pada pandangan Anda sendiri tentang sekularisme dengan sepenuhnya menegasikan maksud dan konteks yang dikehendaki Ulil.
‘’Tidak ada tempat bagi JIL untuk kelompok-kelompok yang melakukan klaim kebenaran.’’
Itu adalah satu bentuk sikap yang perlu dikembangkan dalam menghadapi kenyataan bahwa perbedaan adalah suatu keniscayaan. Anda pasti juga mau bilang kalau JIL harus menghormati pendapat kelompok yang tidak mau menghormati pendapat kelompok lain,. . . (Nggak akan nyambung!)
JIL cukup realistis, karena Islam agama realistis, tak ada tempat bagi paham utopis. Keinginan menghilangkan keburukan, sama mustahilnya dengan keinginan menghilangkan kematian. Keburukan dan kebaikan semesranya kehidupan dan kematian
Tekstual belum tentu tidak kontekstual. Tafsir JIL terhadap Islam dan Jihad, tekstual sekaligus kontekstual. Tekstual dengan maksud mengetahui pengertian awalnya. Ibarat aliran sebuah sungai, sudah pasti ada unsur-unsur luar yang masuk dalam perjalanannya.Tapi belum tentu semua unsur-unsur luar yang masuk ke dalam perjalanan air sungai tersebut adalah pencemaran, bahkan ada unsur yang membuat sifat aslinya menjadi lebih kuat dan bermanfaat. Di sini pentingnya mengetahui keaslian pengertian suatu doktrin, dan membandingkannya dengan kondisi kekinian. untuk mengetahui apa yang terjadi pada perjalanan sejarah.
Perbedaan pendapat yang dianjurkan oleh Islam, adalah perbedaan pendapat yang berpijak pada ijtihad, ijtihad sendiri adalah suatu upaya yang sungguh-sungguh dalam memahami suatu teks. Ketika masing-masing orang dengan latar belakang dan kecenderungan intelektual yang berbeda diberikan kebebasan untuk berijtihad maka terjadilah Ikhtilaaf. Dan ikhtilaaf, dengan bentuk kata yang sama dengan ijtihad, adalah perbedaan pendapat yang dihasilkan dari upaya yang sungguh-sungguh. Bukan sekedar Khilaaf. Itulah mengapa nabi mengatakan “ikhtilaafu ummati rahmah”, bukan “Khilaaf ummati rahmah”. Tentu karna khilaf adalah perselisihan yang bukan merupakan hasil dari upaya sungguh-sunguh. Contohnya, kalau Imam Syafi`i berbeda pendapat dengan Imam Maliki dalam soal fiqih, ibnu Rusyd berbeda pendapat dengan Imam Ghazali dalam hal filsafat, Aristoteles berbeda pendapat dengan Galileo dalam soal heliosentris dan geosentris, Pak Anick berbeda pendapat dengan Om puspo dalam soal poligami dan monogami, itu adalah ikhtilaaf. Kalau Anda berbeda pendapat dengan pak Harto dalam soal KKN, haram atau tidak,. . . . . . saya kira itu bukan perbedan pendapat, karena Anda dan pak Harto, pasti sama-sama tau, kalau nyolong itu dosa.
Misi JIL untuk perbaikan krisis bangsa, di antaranya penegakan HAM, demokratisasi dan civil society.
Gagasan-gagasan JIL justru menampilkan intelektualisme Islam yang cemerlang, mengembalikan watak universal Islam yang telah tereduksi oleh simbolisme yang formalistik dan eksklusif.
Perlu didukung. . . . . . .
Wallahu a`lam bimuraadihi
Salam,
Saya kira komentar dan tulisan Mas Ulil adalah cerminan keberaniannya menerobos pagar pola-pola pemahaman yang dianut sebagian umat Islam khususnya yang ada di Indonesia. Sebenarnya kalau mau jujur banyak juga kalangan umat Islam yang sepadan dengan pola pemikiran Mas Ulil, cuma bedanya mereka tidak berani menyatakan secara terbuka karena takut dicap Islamnya tidak jelas atau bahkan dituduh menentang Islam. Dari sinilah kita patut menghargai keberanian Mas Ulil menyampaikan gagasan dan pikirannya yang saya yakini didasari oleh niat yang tulus dan baik. Selamat berjuang Mas Ulil semoga ide, gagasan dan pikiran Anda yang humanis, pluralis dan universal bisa mencerahkan pemahaman keislaman saudara-saudara kita sesama muslim yang kita cintai.
Anda dapat berbeda pendapat, bahkan memaki Ulil namun tetap dimuat di websitenya. Saya harapkan kita juga bisa melakukan hal yang sama di web site MUI, FPI atau MMI.
Ass…
Pendek aja nih..ana setuju dengan pendapat Andre Stefanus (Hidayatullah) dari Bogor. memang kalo muallaf itu mereka cerdas dan kritis sehingga mereka memilih Islam (bukan Liberal).walaupun faktor utama tentu hidayah dari Allah. ketahuilah Orang Barat maju karena meninggalkan agamanya dan Orang Islam mundur karena meninggalkan agamanya..
Wass…
——-
menanggapi apa yang ditawarkan abdalla dalam buku tersebut, setidaknya ada dua hal yang mesti dipertimbangkan: pertama, memang benar dalam beberapa hal islam harus ditafsirkan sesuai dengan konteks yang melingkupinya, akan tetapi perlu ditetapkan dan dibedakan mana ajaran yang mempunyai keterkaitan sosiologis dengan yang tidak. karena Imam Asy-Syafi’i pun pernah dan bahkan sering melakukan penafsiran secara kontekstual, seperti anjuran beliau untuk melakukan shalat ied di mesjid padahal Rasul SAW kebanyakannya melakukan ied di lapangan atau tempat terbuka. hal ini dikarenakan Asy-Syafi’i sendiri melihat konteks pada waktu dimana Rasul SAw hidup, yakni keterbatasan mesjid untuk menampung jama’ah. kedua, pada dasarnya ajaran islam itu fleksibel, hanya saja dalam masalah aqidah bersifat baku tak terkecuali dalam masalah ibadah. jadi intinya perlu ada penelitian lebih jauh.
Bung Andre Stefanus,
Saya rasa salah menyebutkan Bung Ulil sebagai orang yg takut untuk berdiskusi dengan golongan Muslim lainnya. Saya pernah mengikuti diskusi Ulil di UNJ saat panas-panasnya Ulil difatwakan hukuman mati. Dia sangat tenang menjelaskan pemikiran2 nya. Jernih dan sangat jelas tanpa rasa gugup atau takut, padahal ia berbicara ditengah masa yang terus mendesak, menyerang dan menghujatnya.
Saya kagum pada Ulil dengan pemikiran dan keberaniannya.
salam,
bissmillah….....
kebebasan berfikir dijamin halal dalam islam, dan tidak dibatasi, kecuali hal-hal yang absolut saja.
apapun jenis pemikiran yang disampakan oleh saudara-saudara seiman kita itu adalah bentuk dinamisme islam yang tidak jumud, perbedaan adalah anugerah begitupun dengan pemikiran adalah anugerah. dalam salah satu ajaran islam ada ukhuwah islamiyah, ini mencerminkan bahwa perbedaan adalah fitrah. saudaraku jangan perbesar perbedaan pendapat ini menjadi sebuah kebencian karena hanya akan mengotori ke imanan kita saja. ada JIL, JI,dsb. itulah dasar ukhuwah islamiyah.
Alhamdulillah, sejuk membaca tulisan mas Hidayatullah yang muallaf. Semoga yang Islamnya sudah lama mendapat hidayah untuk selalu mengikuti Al Qur’an dan Hadist seperti yang dikehendaki Allah SWT. aamiin.
bismillah
salam
1.untuk memahami pandangan/rasio bukan melihat apa yang dicapai/dilakukan sekarang tetapi melihat apa yang dipikirkan kedepan/visi yang ingin diraih.’
2.agama dibangun dengan dasar cinta damai dan untuk cinta damai di dunia.’ dalam kondisi sosial jalan sebagai budaya,pada tataran tertentu tuntutan penyerahan diri kepada sang pencipta.
3.semua manusia lahir didunia membawa fitra sejatinya dan akal,budaya akan membawa pada perbedaan untuk kebenaran sehingga melahirkan perbuatan tapi belum tentu pribadinya.
..sebenarnya yg ingin di katakan ulil mungkin;cara memahami dan bentuk tafsir2 Qur’an+hadits.bukan Qur’an haditsnya.saya hargai itu..semua boleh menafsirkan,itu pasti.mulai yg paling bodoh sampai yg paling pinter.karena kebenarannya semua relatif..salah satunya tergantung kecerdasannya.secara emosi, akalnya, spiritualnya. jika kita ingin orang dekat sama kebenaran kita maka..sikap+prilaku kita harus lebih menyamankan+indah
Komentar Masuk (20)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)