Uluran Tangan Watt
Oleh Ulil Abshar-Abdalla
Saya baru dengar kalau Prof. Montgomery Watt meninggal, sebagaimana antropolog Amerika, Clifford Geertz, dari seorang teman. Saya sedih mendengar kabar ini. Sudah lama saya ingin menulis sebuah buku tentang pendekatan yang dipakai oleh Montgomery Watt dalam mengkaji Islam. Entah kapan keinginan itu terlaksana, saya tidak tahu.
Komentar
Satu hal yang patut digaris bawahi adalah, bahwa muslim meyakini kebenaran agamanya secara absolut. Tentunya, keyakinan seperti ini bukan monopoli orang Islam saja (semua penganut agama pasti demikian), tapi dalam konteks Islam, keyakinan seperti ini benar-benar Absolut. Banyak sekali anggapan bahwa: tidak berguna mempelajari agama-agama lain, apalagi yang sudah “tercemar” seperti kristen. Jangankan untuk bersimpati yang ada malah terus berkonfrontasi. Kelemahan lainnya adalah esensi dari kedua agama itu sendiri. Kristen seperti diakui oleh beberapa penganutnya (yang kemudian keluar dari agama tersebut, contoh Karen Armstrong sendiri) memang telah banyak mengalami “tahrif” distorsi. Hal ini sangat berbeda dengan Islam yang ajarannya seperti “berjalan mulus” tidak banyak mengalami distorsi. Fakta yang demikian, justru menambah rasa percaya diri umat Islam semakin tinggi dan berlebihan (kalau tidak boleh disebut takabur).
Ulil menulis: “Saya sungguh sedih melihat kontras antara dua hal ini: Sementara Barat maju dengan pesat lewat kajian tentang Islam dengan semangat yang kian simpatik, di dunia Islam sendiri nyaris tak ada perkembangan apapun berkaitan dengan usaha umat Islam untuk secara akademik mengkaji kebudayaan dan agama Kristen dengan semangat serupa.”
Joefry berkomentar: “Menurut saya, yang lebih sedih lagi adalah melihat kenyataan banyak sarjana Islam, terutama yang berasal dari Indonesia, yang note bene sudah mempunyai akses terhadap kajian-kajian Barat, dan berguru langsung dengan para orientalis, tapi sampai saat ini tidak terlihat kontribusinya yang nyata dalam kajian keislaman, dengan bobot seperti yang dicontohkan oleh para orientalis itu.
Apalagi jika mereka itu dipinta kontribusinya dalam kajian kekristenan, tentu semakin kedodoran. Yang sampai saat ini terlihat baru ajakan-ajakan dari mereka saja kepada umat Islam untuk memberikan kontribusi seperti itu. Padahal siapa lagi dari umat Islam yang paling patut ditanyakan kontribusinya dalam masalah ini?
Maka saya pribadi menunggu kontribusi riil Anda dalam masalah ini, baik kajian keislaman maupun kajian agama lain, seperti kekeristenan itu. Tolong informasikan saya jika Anda telah memberikan kontribusi Anda berupa buku-buku yang mencerahkan itu. Terutama jika ditulis dalam bahasa internasional, seperti Inggris, Perancis, Arab, Jerman atau lainnya. Tentu saya akan bangga menyaksikan ada sarjana Indonesia yang bisa memberikan kontribusi dengan bobot seperti itu.”
Salam Joefry, Senen
Aww.. Semoga tanggapan kali ini dimuat, karena komentar saya yang cukup “telak” sudah 2 kali tidak dimuat.. takut ya dikoreksi? katanya liberal he he. Baiklah, untuk kali ini saya hanya bertanya kepada kalian kaum “terpelajar”, “humanis”, dll. 18 orang mati di Beith Hanuun, tapi tidak satu pun kalian turut berbela-sungkawa di situs ini, tapi seorang orientalis yang mati malah perlu 2 artikel he he.. Semoga kalian lebih simpati pada perjuangan saudara-saudara kita di Palestina.
Wassalam
Aneh sekali anda, yang terlalu mengagungkan semangat sekular liberalisme. Islam itu jauh lebih liberal dari yang anda pikirkan. Keterbukaan eropa terhadap ilmu pengetahuan and science (Aviciena, ibnu rush, al jabar etc) dimulai dari islam. Ketertingglan umat islam saat ini disebabkan karena umat itu sendiri tidak mau memahami/menerapkan agamanya dengan baik. Ahli agama yang ada lebih terlibat/terkonsentarasi pada masalah-masalah di wilayah perifer. Sementara muslim-muslim intelectual seperti anda hanya bisa menyatakan kekagumannya terhadap tokoh-tokoh seculer yang sebenarnya tidak banyak membawa kebaikan bagi umat. Dan anda-anda sendiri sekembalinya dari tempat belajar anda tidak mendapatkan pencerahan dan kebaikan untuk umat sendiri. Saya sependapat dengan ikwan Joefry, tentang tanyakan apa yang telah anda berikan bagi agama(umat) dan negara dibidang keahlian anda in peer review journal? Saya tunggu jawabannya.
Asswrwb. Melihat tulisan bang Ulil kelihatannya kedangkalan dalam melihat dan menganalisa kondisi ummat saat ini. Jelaslah sebagai seorang muslim aqidah adalah suatu hal yang absolut, teringat dengan kisah seorang sales yang tidak pernah laku menjual dagangannya, ternyata dia juga ragu apakah barang tersebut layak untuk di pakai. Melihat ummat lain, adalah suatu keabslutan untuk menjadikan Islam adalah agama yang paling layak dianut sebelum mengajak orang lain menelusuri jalan kebenaran yang kita anggap benar, kasihan bang Ulil… sampai kapan dalam pencarian ini???
Saya “cukup” empati terhadap akhi Ulil. Disaat para profesor “orientalis” BARAT sibuk mengkaji tentang agama “ISLAM” kita akhi malah menganjurkan untuk mengkaji tentang agama lain Misalnya KRISTEN. Jangankan kita, para profesor KRISTEN saja sudah kewalahan mengkaji tentang agama mereka. Jangankan untuk “itu”, untuk mengkaji tentang agama kita saja, kita tidak punya banyak waktu. Nah sebaiknya akhi konsentrasi “berjihad” dulu untuk mendalami ISLAM supaya dapat menemukan “KEBEBASAN SEJATI”.
tepei: “kita tidak punya banyak waktu” lalu dengan alasan itu apakah qt tidak memulai? ‘pengetahuan’ Tuhan itu banyak sekali bahkan tak terhingga. uda brp bnyk qt pelajari tentang ilmu, lalu ada batasankah hingga qt tdk bisa mempelajari agama lain, padahal itu adalah juga ‘ilmu Tuhan’.
——-
Argumentasi mas Ulil cukup signifikan. Saya setuju jika kita sama-sama meneliti agama lain yang tentunya dengan semangat kasih. Jika ada banyak perbedaan teologi di sana- sini maka harus diperdebatkan dengan santun dan penuh kasih tidak melulu bertindak destruktif. Memahami kajian perbandingan agama harus dimulai dengan objektivitas keilmuan.Karen Amstrong, Watt, sdh bertindak adil dengan menulis sisi baik dari Islam dari kacamata orientalis.Kecurigaan memang harus jauh-jauh dibuang mulai detik ini. Mas Ulil bravo your study. Saya tunggu kedatangan Anda untuk berdakwah dengan semangat pluralisme dari kampung- ke kampung seperti Gus Dur
Komentar Masuk (8)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)