Pernyataan Pers,
01/08/2005

Utamakan Rasa Kebangsaan dan Hak-Hak Konstitusional Kewarganegaraan!

Dari sudut prinsip-prinsip kebangsaan Indonesia, kami berpandangan bahwa fatwa MUI itu cenderung menanggalkan prinsip ‘Bhineka Tunggal Ika’ yakni ketika MUI mengharamkan pluralisme. Pluralisme atau kemjemukan merupakan fakta dan stand point pendirian negara bangsa Indonesia yang secara tegas kemudian diadopsi oleh para pendiri bangsa dalam sila ketiga Pancasila.

01/08/2005 06:13 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (16)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Nah, ini baru benar-benar ajaran yang sesuai dengan asas Pancasila. Kalau semua umat muslim Indonesia seperti JIL semua, pasti akan semakin aman, tentram, dan sejahtera.

Hidup JIL! Berjuanglah terus. Jangan takut dengan ancaman2 pihak lain yang hanya menyesatkan umat2 muslim yang lain^^

#1. Dikirim oleh djoko  pada  02/04   05:04 AM

Apa artinya aman, tentram, damai dan sejahtera kalau keimanan dalam diri sudah sirna? Benar kata nabi, lebih baik perang demi keimanan daripada hidup damai dalam kenistaan.

#2. Dikirim oleh adipribadi  pada  22/04   08:04 PM

fatwa mui tentang mengharamkan pluralisme itu sangat berbahaya bagi eksistensi kebinekaan indonesia, hal ini akan menuju disintegrasi bangsa dan kelompok2 yang merasa tertekan dan minoritas akan berusaha melepaskan diri dari NKRI. Tidak itu saja, kelompok minoritas akan semakin beranggapan bahwa Islam itu radikal dan anarkis!! Contohnya Bali yang minoritas di NKRI, akan merasa dijajah oleh islam fanatik dan radikal seperti MUI. MUI sebagai otoritas agama tertinggi seharusnya mendukung keanekaragaman, fatwa MUI tsb sangat berbahaya!

#3. Dikirim oleh rudi tan  pada  01/05   02:05 PM

aku heran, sepertinya Indonesia ini hanya milik kaum tertentu saja..tidak bisa begitu donk. Anda tidak bisa memaksakan keyakinan Anda pada oang lain, kita kan hidup ber-Pancasila. Jangan egois begitu donk..

#4. Dikirim oleh danarandro  pada  06/05   04:05 AM

Tindakan dua lisme kini bukan hanya dilakukan oleh Amerika yang dikecam warga islam bahkan hampir seluruh dunia. kini islam menjadi salah satu pendukung dualisme dalam menyebarkan ajarannya.

Pemahaman berbangsa dan beragama haruslah dibedakan. Jagan sampai karena sebagai mayoritas dari penduduk indonesia pemeluk agama Islam menjadi arogan. 60 tahun lalu indoneseia di dimerdekakan bukan oleh satu agama saja dan dipersatukan bukan oleh satu kitab.

belakangan beberapa propinsi mulai memberlakukan syariah Islam ini jelas penghianatan terhadap pancasila.  saya hanya menyarankan bagi rekan-rekan pemeluk islam yang ingin menegakan syariahnya jaganlah atas nama Indonesia. saya lebih suka gerakan DI TII ketimbang FPI yang masih setegah-setegah dan menganut paham dualisme. berjuanglah bagunlah negara sendiri biar orang Indonesia yang mengenal pancasila tetap membela pancasila. Jangan takut dikatakan makar ketimbang disebut orang-orang yang memiliki prinsip dualisme. penuh dengan pembodohan terhadap publik.

permerintah sudah terlalu bodoh mungkin untuk atau tidak mau kehilangan simpati dari masyarakat kebanyakan. sehingga tidak mau menegakan pancasila.

-awas kalo girmim spam ke email ku-

#5. Dikirim oleh Me Holy  pada  08/06   06:06 PM

Pancasila dasarnya apa? Rakyat makmur, rakyat yang mana? Pribadi bangsaku, tidak maju-maju. Kita jangan buta pada sejarah. Sejarah telah membuktikan, HANYA ISLAM YANG BISA BIKIN MAJU. Laksanakan Islam secara keseluruhan, maka bangsa ini akan maju. ALLAHUAKBAR!

#6. Dikirim oleh BINTANG X  pada  26/03   07:03 PM

dari dulu sampai sekarang islam di indonesia selalu dikaitkan dengan kebudayaan…contohnya yang baru terjadi malam satu suro dan pencucian pusaka kraton.. mengapa itu bisa di satukan dengan hari besar islam 1 muharram 1429…?? padahal dari ajaran Nabi Muhammad SAW tidak ada yang mengajarkan seperti itu…. dan yang paling aneh orang yang melaksanakan kegiatan tersebut selalu mempercayai hal itu… seperti yang di lakukan di daerah pantai utara… mereka memberi sesajen kepada nyi roro kidul dan dewa yang lain… kalau mereka non islam tidak jadi masalah… tapi yang menjadi masalah umat islam dan pemuka agamanya yang melakukannya…...

#7. Dikirim oleh khairul umam  pada  23/01   05:01 PM

Masih beruntung bangsa kita dari sejak dulu para tokoh agamanya yang seperti MUI bisa melindungi kepentingan umat islam, yang bisa dijadikan sebagai kontrol sosial bagi masyarakat luas yang menjurus pada penurunan akhlak bangsa ini, walaupun kenyataannya pada saat ini tetap terjadi krisis akhlak, namun masih lebih baik daripada negara ini menganut paham liberal sekulerisme sejak negara ini berdiri, mungkin keadaan sekarang menjadi lebih parah dalam hal akhlak, pornografi akan menjadi hal biasa seperti di negara Amerika, orang yang telanjang didepan umum pun akan menjadi hal biasa karena dianggap bagian dari kebebasan ekspresi, lalu kita sebagai umat muslim terbesar didunia ini akan sulit mendapatkan makanan dengan jaminan halal, karena MUI tidak berhak memberi label halal lagi.

#8. Dikirim oleh ading nuryadin  pada  25/01   08:01 PM

Allah menciptakan manusia Laki-laki dan Perempuan. Amien. Itu perbedaan, ada dua otak, dua alat kelamin, dua rasa yang berbeda-beda. Laki-laki bukan perempuan dan perempuan bukan laki-laki.

Lantas mengapa kita menyalahkan Tuhan (pemikiran saya setiap orang yang anti pluralisme adalah mereka yang menyalahkan Tuhan, karena pluralisme adalah barokah, rahmat), dengan berbuat kekerasan kepada ciptaan lainnya, karena berbeda keyakinan dan syariatnya.Allah menciptakan pluralisme.

Indonesia dibangun atas dasar keberagaman. Bukan monopoli Satu agama. Ibarat berjalan kalau saya boleh meminjam istilahnya Bambang Noorsena, apabila kita berjalan di pasar raya agama di Indonesia kita seakan melihat seorang tua yang berpakaian berlubang-lubang dimana dari lubang-lubang itu kita dapat melihat ada kejawen yang dikenakan, agama Hindu, disusul lubang berikutnya dengan Budha, kemudian Islam dengan NU nya, Muhammadiyahnya, Ahmadiyahnya, ada ajaran Achmad Musadeq, atau Lia Aminudin, dll, dan disusul dengan ornamen Kristen, dengan ortodoksnya, Pentekostanya, Reformnya, dll, dllnya.

Semua Agama memiliki misi, itu tidak dipungkiri, namun marilah misi itu disampaikan dengan arif, rendah hati, saling menghormati. Alhasil Indonesia akan menjadi taman puspanjali, dengan kembang beribu rupa di bentara dunia.

Wasallam
——-

#9. Dikirim oleh Bayu Kusumo  pada  12/05   11:05 PM

kita sebagai masyarakat Islam di Indonesia harus lebih berani dan lebih jujur dalam bersuara,soalnya kalo ga gitu pemerintahnya ga kan tau kalo kita tuh ga butuh MUI.Masyarakat juga harus sadar kalo yang namanya keyakinan tuh bukan diatur oleh lembaga.

#10. Dikirim oleh Tommy Suhartomo  pada  15/12   05:10 PM

Utamakan Rasa Kebangsaan dan Hak-Hak Konstitusional Kewarganegaraan!....walaupun banyak hak-hak orang islam dibrangus githu… terlalu!
mungkin anda lebih tau dari saya bahwa asas pancasila itu bikinan orang-orang sekuler…mas
tetap alquran dan hadist tuh yg relevan dengan keadaan zaman karena langsung dari Alloh dan Rasul-Nya…

#11. Dikirim oleh sukirman  pada  03/06   01:03 AM

Siapa bilang MUI melindung kepentingan ummat Islam, itu tidak benar mereka hanya melindungi kepentingan otoritas mereka. Jangankan yang tidak paham agama, wong yang setiap hari bergelut dengan pemikiran agama aja sedih melihat kiprahnya, alih-alih mau meninggikan citra islam, marah secara pasti akan menghancurkan citra islam. Benar Nabi pernah memprediksikan Islam hancur dari dalam kerena kebodohan sebagian pemimpinannya yang ambisius menebar kekuasaan atas nama Allah. Alih-alih melindungi ummat dengan fatwanya, malah yang pasti membebani cost ummat karena fatwanya, semoga mereka kritis membaca tanda-tanda zaman. Manusia memang gudangnya khilaf, tapi kalau kekhilafan itu secara sistimatis akan berdampak besar bagi kelanggengan kebodohan ummat, kita pantas dengan memberdayakan akal kita untuk membendungnya dengan cara-cara yang santun. bravo kebebasan.

#12. Dikirim oleh abdurrahman chudlori  pada  04/03   12:33 PM

saya berbeda dengan JIL….. sebenarnya sudah jelas…. silahkan ahmadiyah berkembang di Indonesia dan di dunia…. asal jangan bawa-bawa nama Islam…. menjadi tidak bebas ketika ahmadiyah masih bernaung dalam Islam….. mengapa tidak jadi agama ahmadiyah ??????? apalah artinya sebuah nama to??????? bebas aja

#13. Dikirim oleh Suradi Wijaya S  pada  01/08   02:55 PM

Ayo maju terus JIL… tegakkan kalimat Allah, Allah adalah Tuhan Segala Agama… semoga banyak kaum non muslimyang masuk Islam… kami dukung perjuanganmu mengIslamkan Seluruh Kaum menuju Allah ta’ala.. amien

#14. Dikirim oleh imoe  pada  21/02   12:14 PM

Pancasila juga tidak mengakui adanya Tuhan selain ALLAH! Lihat sila pertama! Ketuhanan Yang Maha Esa(Satu). Islam tidak mengakui adanya pluralisme,tapi Islam menghargai pluralisme! Islam tidak mengakui ada Tuhan selain ALLAH tapi Islam menghargai hak memeluk agama/termasuk agama lain(bagiku agamaku,bagimu agamamu)!

#15. Dikirim oleh satmata  pada  22/04   08:53 AM

Saya rasa MUI telah melaksanakan tugas sebagai “Mencegah kemungkaran melalui lisan, karena untuk mencegahnya dengan tangan tidak punya kuasa bersebab kuasa telah di rangkul seluruhnya oleh JIL. sementara saya hanya mencegahnya dengan hati. “Barang siapa melihat kemungkaran, maka cegahlah ia dengan tangan / kuasa…......lisan…..atau hati.
Semoga suatu hari nanti Allah akan memberikan kuasa kepada ummat beriman, sebagimana DIA meberikan kuasa keatas Musa a.s. dibawah Firaun.

#16. Dikirim oleh joko  pada  03/02   05:31 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?