Gagasan,
21/08/2003

Wacana Islam Liberal di Aceh

Oleh Jafar

Fenomena mandegnya proses syariat Islam di Aceh membuktikan bahwa perlu dicari alternatif lain atau bentuk syariat Islam yang lain di Aceh, termasuk dengan wacana Islam liberal.

21/08/2003 09:14 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (36)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 2 dari 2 halaman < 1 2

Assalamu’alykum Warahmtullahi Wabarakatuh
Sebelumnya saya mohon diampunkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala

Kalimat yang penulis tulis bahwa :

Saya melihat yang terjadi hari ini justru pemaksaan, “bahwa Islam seperti inilah yang harus diterapkan” tanpa memberi kebebasan kepada semua orang (rakyat aceh) untuk memilih Islam seperti apa yang mereka inginkan.

Mungkin ini yang menjadi salah satu cara, di mana wacana Islam liberal bisa diterapkan di Aceh.

saya merasa kurang cocok dengan keadaan Aceh yang sebenarnya apalagi jika dibandingkan dengan POSISI ISLAM yang saya pahami

Memang yang pada dasarnya bukan kita yang akan memilih islam secara bebas dengan cara kita sendiri, karena dalam islam yang saya tahu bahwa kita yang mengikut pada islam bukan islam yang mengikut pada kita apalagi jika memang benar kita boleh memilih islam dengan cara apa yang kita inginkan,,,,

Mungkin saya tidak tau apa2 tentang Islam Liberal namun disini saya berkomentar sesuai dengan apa yang saya pahami,,,,,

Syukron Jiddan

Wassalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh

#21. Dikirim oleh As-Satrah01  pada  17/08   04:54 AM

Dear Mas Jabar
Biarkan Masyarakat Aceh sendiri yg menentukan sendiri janganlah anda memaksakan kehendak paham Islam Liberal atau Islam apapun disana .Jadi jangan paksakan dagangan anda ke masyarakat Aceh belum tentu baik dagangan anda baik menurut anda belum tentu baik untuk orang lain.
Saya yakin masyarakat Aceh akan dapat berfikir dengan baik.

#22. Dikirim oleh scax  pada  04/09   11:09 AM

Alhamdulillaaaah,

Jadi cuma Aceh dulu yang pakai syariat Islam.
Saya tunggu, apakah Aceh akan jadi makmur, adil, sejahtera? Kalau terjadi demikian, mari kita ramai-ramai mengadopsi Syariat. Tetapi kalau yang terjadi kekacauan lagi seperti sejarah Islam kita ini yang sudag berusia lebih dari seribu tahun, kita buang saja syariat yang berbelit-belit itu. Apalagi kalau sampai berdarah-darah seperti sejarah Islam kita ini.

Aceh jadi test case! Aceh dijadikan ‘experimental group’. Kalau baik, disseminasikan. Kalau busuk, cut-out! Potong dan buang!

Saya yakin pasti malah amburadul seperti yang sudah-sudah. Seperti negeri-begeri Islam yang tumbuh dan tumbang disaksikan oleh sejarah. Saya khawatir jika pertumpahan darah terjadi di Aceh. Banyak teman dan saudara saya yang tinggal di Aceh.

Kalau Aceh malah jadi amburadul, kita bisa batalkan hukum Islam yang diberlakukan itu!

Subhanallaaaah!

#23. Dikirim oleh Setya Ananta Sis  pada  07/09   02:36 PM

Ilmu merupakan kuncinya.
Syariat tetap harus diperjuangkan dan kita harus dukung dengan ikhlas dan sungguh2.
Mari kita do’akan semoga syariat islam tegak dimana saja tidak hanya di Aceh sesuai Al Qur’an dan As shunnah.

#24. Dikirim oleh ko2h  pada  11/09   08:38 AM

Wah…kalo pake yg liberal-liberal gtu gak usah pake Islam dong. Islam ya yg kafaah kalo mo buat ngatur masyarakat. Ntar kalo pake Islam Liberal malah kacau. bener. gue gak boong. Lawong syariat Islam kafaah itu datengnya dr Sang pencipta manusia, ya ccocok aja buat ngatur manusia. Lah kalo pake syariatbya Islam liberal yg notabenenya hasil pemikiran manusia, ya… gak bakalan bisa berhasil ngatur.

#25. Dikirim oleh mieta  pada  12/12   02:06 PM

sekarang, di aceh yang ada islam demokrat, kalau dulu islam syiah

#26. Dikirim oleh SM Husen  pada  25/02   07:02 AM

Di tingkat wacana, Islam di aceh sdh bisa di blg sbg Islam Aceh, krn ia sdh mjd sesuatu yang sangat kultural. Namun begitu dinamikanya, sejak zaman awal, begitu dialogis dan dinamis. Gagasan-gagasan islam mengalir bersama gagasan-gagasan sosial dan begitu juga sebaliknya. Bahkan, dalam hal-hal tertentu memungkinkan ‘keluar’ dari term keislaman namun krn akulturasinya cerdas maka tdk masuk dlm katagori ekstrem. Produknya bisa kita lihat pd Hadih Madja. Jd jika di luar aceh ada 2 kitab, al quran dan hadist, di aceh ada tambahan satu yakni hadih madja. Hadih madja bs dibilang kitab liberalnya org aceh scr pandangan agama dan pandangan sosio-kultur.
Sedangkan syariat adlh murni tindakan politik, spt ar raniry ‘memaksa mazhabnya’ pd kerajaan. Jd negara, kala kehilangan kecerdasan dlm mengatasi konflik aceh scr senjata, dipakailah pendekatan simbolik berharap sukses membujuk daud beureueh dpt diulang lg. Terbukti tdk, konflik justru selesai lwt meja perundingan yg dimoderatori oleh org asing di tanah asing. Jd ini bs jd bukti kalau islam aceh itu py karakter dialogis (ke dalam dan keluar). Nah, mengapa syariat islam tdk berdaya dlm penerapannya. Jwbnnya bukan krn lemahnya pemda dlm hal kebijakan atau juga bkn soal tdk kuatnya ulama dan cendikiawan. Tp semata krn Islam Aceh sgt dialogis, dinamis, kadang sgt liberal tp sekaligus sgt kultural dlm semangat yg egaliter dan kosmopolit. Salam peACEHeart

#27. Dikirim oleh Risman A Rachman  pada  16/06   07:50 PM

Dari segi wacana, Islam di Aceh tidak tabu pada wacana Islam liberal mengingat karakter Islam di Aceh yang sangat dialogis (baik ke dalam maupun ke luar). Ke dalam, wacana Islam bahkan sampai mengahasilkan pertemuan yang begitu akur dengan akar kebudayaan Aceh yang egaliter. Islam menjadi inspirasi bagi kebudayaan dan juga sebaliknya. Buktinya, jika di daerah lain hanya ada dua kitab utama, al-quran dan hadist, di aceh ada satu “kitab” sosial berupa Hadih madja yang “ayat-ayat” nya bisa saja beda dengan ayat-ayat al-quran dan hadist. Misal: meuyo ka pakat lampoh jeurat ta peugala.” (Kalau sudah mufakat kuburan boleh di gadaikan). Secara teks jelas ini bertentangan dengan ayat dan hadist namun secara kultural ini dibaca sebagai semangat sosial pada begitu pentingnya musyawarah.

Ada hadih madja lain yang juga sangat “liar” tapi mengandung makna pentingnya sikap kritis, meski itu pada seorang ulama. Misalnya, “Meunyo ta pateh haba teungku ue tupe kab han meuteume rasa.” (Kalau percaya pada ucapan ulama bisa-bisa kelapa busuk tidak bisa kita rasakan). Sekali lagi, bukan makna tekstualnya yang mesti ditangkap tapi semangatnya untuk senantiasa mengembangkan sikap kritis.

Karena itu, mengapa syariat islam kesulitan dalam implementasinya di Aceh. Bukan karena alasan pemerintah tidak mampu menghadirkan kanun dan menyediakan anggaran. Juga bukan karena tidak adanya sumberdaya manusia. Banyak ulama dan cendikiawan Islam di Aceh. Jadi membuat qanun satu tugas ringan. Yang susahnya adalah menemukan rumusan dialogis sebuah qanun yang mengakomodir semangat dan pemikiran Islam Aceh.

Dengan karakter sedemikian rupa, Islam di Aceh sudah bisa disebut sebagai Islam Aceh karena ia menggambarkan spirit dan karakter keacehan yang egaliter dan kosmopolit bukan Islam yang menjadikan orang Aceh menjadi orang lain.

#28. Dikirim oleh risman  pada  17/06   09:35 AM

beri ksmptan kpd rakyat aceh utk menjalankan syariat islam karena aceh memang dr dlu selalu identik dgn keislaman jlukannya saja serambi mekkah.

#29. Dikirim oleh fajrikanamasyhuda  pada  12/05   12:05 PM

Hak untuk membuat hukum,adalah hak Allah,karena Allah yang punya alam ini…dan Dia-lah yang tau bagaimana cara untuk mngolah dan menjaga alam ini..jika manusia dibiarkan menciptakan hukum,maka sebenarnya hukum itu tidak akan pernah berhasil tercapai tujuannya..karena manusia hanya ciptaan,yang wajib seharusnya melaksanakan aturang yang telah dibuat oleh Dzat yang benar-benar mengetahui apa yang telah Dia ciptakan..islam liberal,sepertinya bukan solusi,namun islam kaffah,yang sesuai dengan al-Qur’an dan hadist nabi,(2 perkara yang jika kita berpegang teguh padanya maka kita tak akan tersesat selamanya) ADALAH SOLUSI…

#30. Dikirim oleh Al-Mishbah  pada  18/05   06:02 AM

syariat merupakan aturan/sistem yang paling sempurna karena berasal dari zat yang maha sempurna yang di ACEH bukan sistem yang keliru tapi umat belum siap menerima islam sepenuhnya karena pembuat aturan faham betul produk yang diciptakan memiliki kelebihan & kekurangan makanya IA membuat sebuah aturan tapi dalam prakteknya ada penyelewengan dzri pelaku(umat) dalam pelaksanaanya kalau rumah kita ubinnya ada yang pecah satu kemudian rumah kita robohkan itu namanya _ _ _ _ _ yang benar & sesuai akal sehat ubin itu kita perbaiki. jangan pernah berharap suatu produk yang sempurna yang dihasilkan oleh yang memiliki keterbatasan (manusia) telah banyak contoh yang dapat kita ambil (ibroh)hikmah.

#31. Dikirim oleh arif himawan  pada  26/05   09:52 AM

bencana yang sedang terjadi di Aceh adalah bencana yang sangat besar bagi seluruh masyarakat aceh yaitu bencana penegakan syaiat islam yang belum jelas, padahal aceh adalah salah satu daerah yang penuh dengan orang islam tapi sayang nya di aceh tidak terlaksana syariat yan semestinya di tegakkan oleh ummat islam, itulah salah satu bencana yang menimpa banyak negara tapi banyak pemimpin yang tidak sdar dengan bencana tersebut, banyak pemimpin menyalahkan ulama padahal peran ulama di aceh banyak yang tidak di pandang oleh pemimpin. juga bnyak santri yang tidak di perhatikan padahal di antara mereka banyak yang pandai di banding siswa siswa yang belum jelas masa depan mereka. mari sekarang perhatikan pendidikan berbasis islam di aceh (dayah) jangan jadi kan dayah anak tiri pemerintah aceh. perhatilah kepada santri yang ingin melanjutkan studi mereka keluar negeri mereka yang ingin menuntut ilmu di negara orang. jangan bedakan santri dengan siswa sekolah jangan pikirkan bahwa santri tidak bermanfaat di daerah kita. ingat itu pemerintah aceh !!!!!!!!!!!!!!!!!!!

#32. Dikirim oleh santri  pada  16/08   10:45 AM

saya doakan agar jil mempunyai stasiun televisi sendiri

#33. Dikirim oleh damon hill  pada  21/09   09:37 AM

sy anti jil yg menyamakan smua agama, jd sy hrp jil jangan mengomentari syariat islam di aceh. Jil itu bermuka dua d satu sisi tidk ingin ada syariat islam di indonesia tp d satu sisi ingin menerapkan syariat islam ala jil di aceh. Apa ingin menunjuk muka bhw jil berpengahruh di aceh dlm menerapkan islam. Ya Allah semoga rakyat aceh tetap pd pendrian agama yg d ajarkan oleh ulama terdahulut dan jauhkan lah dari organisasi spt Jil amin.

#34. Dikirim oleh miller  pada  26/09   08:45 AM

kalo JIL pake itungan akal kitajuga pake itungan akal.

berapa triliun uang negara yang habis digunakan untuk mengelola RUMAH TAHANAN dari mulai gaji pegawai RUTAN, sampai Biaya makan tahanan.

angka yang fantastis bukan? menurut itungan untung rugi negara rugi sekali mengeluarkan uang besar untuk itu semua.

tapi kalo hukum cambuk ga pake dipenjara udah di cambuk terus di obati dan di suruh pulang. jadi uang yang buat mengelola RUTAN bisa di gunakan untuk pengentasan kemiskinan.

coba hitung berapa Triliun uang negara yang bisa di hemat bila hukum seperti ISLAM di aceh bisa di tepapkan?

hitung aja sendiri.

“gitu aja kok repot”

#35. Dikirim oleh ade Suryaman  pada  07/12   02:22 AM

Bagaimanapun implementasi Syari’at Islam di Aceh, jangan dilihat dari perspektif empirik karena meskipun umatnya jumud, disorientasi dan tidak mencerminkan kehidupan Islami pada konteks tertentu, pahamilah bahwa Islam yang hakiki tidak kurang kesempurnaan dan kemuliaannya sebagai “way of life” yang pasti memberikan kebahagiaan dunia dan akhirat. Satu syarat, jangan diukur dengan materi atau “dollar,” itu tidak sebanding, tiada nilainya.

#36. Dikirim oleh Abraham  pada  15/10   11:29 PM
Halaman 2 dari 2 halaman < 1 2

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?