Editorial,
22/07/2010

Waktu Isra-Mikraj Nabi Muhammad

Oleh Abdul Moqsith Ghazali

Demikian jauhnya jarak perjalanan ini, maka Aisyah (isteri Nabi) dan Muawiyah berpendapat bahwa Isra-Mikraj merupakan perjalanan ruhani dan bukan perjalanan fisik-jasmani. Menurut Aisyah, ruh Nabi Muhammad bergerak membelah semesta untuk berjumpa dengan Tuhan, sementara tubuhnya bersemayam di bumi. Pendapat ini ditolak jumhur ulama yang mengatakan bahwa Isra-Mikraj melibatkan jasmani-ruhani Nabi Muhammad secara sekaligus.

22/07/2010 05:46 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (25)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 2 halaman 1 2 > 

Kalau Alloh mau apapun bisa terjadi meskipun akal (karena keterbatasannya) menolak.

#1. Dikirim oleh Abu Hanif  pada  23/07   06:33 AM

Untuk memahami perjalanan antarwaktu, kita ibaratkan ada alam dua dimensi berbentuk bidang “U” besar. Sebut saja makhluk di alam itu serupa semut. Semut tersebut untuk berpindah dari ujung “U” yang satu ke ujung yang lain harus menempuh jarak yang jauh.. Kita yang hidup di ruang tiga dimensi dengan mudahnya mengangkat semut tersebut dari satu ujung ke ujung lainnya. Mengajak semut tersebut keluar dari dimensi dua menuju dimensi tiga. Jaraknya jelas lebih pendek. Demikianlah analogi sederhana perjalanan antardimensi. Mekanismenya di luar kemampuan sains, tetapi Allah telah memperjalankan hamba-Nya, Rasulullah SAW bersama Jibril yang memang berada di luar dimensi rlebih tinggi dari dimensi ruang-waktu. Logika sains seperti itu hanya untuk menunjukkan bahwa Isra’ Mi’raj dengan jasadnya (bukan sekadar dengan ruh) bukan hal yang mustahil.
Bersama Jibril Rasulullah SAW keluar dari dimensi ruang-waktu yang membatasi pola pikir manusia pada jarak dan waktu. Sedangkan waktu dalam dimensi ruang waktu tidak mungkin berjalan mundur. Dengan keluar dimensi ruang-waktu Rasulullah tidak lagi terikat oleh jarak dan waktu. Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dapat dilakukan sekejap, sementara Rasulullah masih bisa mengamati kafilah dalam perjalanannya dan tetap bisa merasakan fenonema fisik dimensi ruang-waktu, seperti minum susu yang ditawarkan Jibril. Rasulullah pun dapat berdialog dengan para Nabi karena tidak ada lagi batasan waktu. Rasulullah pun mendapat gambaran surga dan neraka yang juga bukan fenomena ruang-waktu kita, sehingga tidak mungkin dijelaskan secara tepat di mana dan kapan adanya.
Langit pada kisha Isra’ Mi’raj pun bukan langit fisik seperti “tujuh langit” dalam ungkapan Al-Quran. QS 17:1 dan QS 53:13-18 yang menceritakan sekilas tentang Isra’ dan Mi’raj tidak menyebutkan tujuh langit. Sebutan langit pertama sampai ke tujuh pada kisah Isra’ dan Mi’raj hanya da dalam hadits dan yang menggambarkan perjalanan yang tidak lazim menurut kebiasaan manusia, tetapi diyakini benar terjadi. Dimensi ruang waktu tidak lagi membatasi. Setelah Isra’ dari Masjid Haram ke Masjidil Aqsha, Rasulullah mi’raj ke langit. Di langit pertama sampai langit ke tujuh Rasulullah bertemu dengan para Nabi. Di langit pertama bertemu Nabi Adam. Di Langit kedua bertemu Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit ke empat. Lalu Nabi SAW bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di langit ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ketujuh. Jelas pertemuan dengan para Nabi itu bukan di planet-planet tertentu di langit, karena para Nabi yang telah wafat tidaklah berada di planet-palnet tertentu.
Sidratul Muntaha pun bukan suatu tempat dan saat yang keberadaannya dalam dimensi ruang-waktu. Keyakinan adanya dimensi lain di alam juga didasari pada keyakinan adanya Jin dan Malaikat yang berada di luar dimensi ruang-waktu. Dua jenis makhluk Allah itu tidak dibatasi ruang sehingg dengan mudahnya pergi ke mana pun dan tidak dibatasi waktu sehingga tidak ada kematian bagi mereka, kecuali dengan ketentuan Allah. Kalau mengikuti analogi makhluk di dimensi dua tersebut di atas, kita yang hidup di dimensi ruang dimensi tiga bisa melihat tingkah laku makhluk serupa semut tersebut, tetapi makhluk itu tidak mengetahui keberadaan kita karena di luar dimensinya. Demikian juga halnya manusia tidak mengetahui keberadaan Jin dan Malaikat, walau kita tahu mereka ada di alam (dimensi) mereka dan mampu mengetahui gerak-gerik kita.
Kisah isra’ mi’raj tidak dapat dianalisis dengan teori relativitas dengan anggapan Rasulullah berjalan dengan kecepatan cahaya dengan buraq. Bila kita gunakan teori relativitas fenomena yang terjadi justru kebalikannya. Menurut teori relativitas, pada kerangka yang bergerak dengan kecepatan mendekati cahaya, waktunya yang tercatat di jam menjadi lebih lambat. Artinya, orang yang berjalan mendekati kecepatan cahaya akan merasa lebih muda dan waktu yang dialaminya lebih singkat dibandingkan dengan orang yang ditinggalkannya. Oleh karenannya kita mengenal “paradox anak kembar” (twin paradox) pada teori relativitas, saudara kembar yang merantau dengan kecepatan mendekati cahaya akan mendapati saudaranya yang ditinggalkan lebih tua dari dirinya menurut rekaman waktu yang dibawanya. Yang dialami Rasulullah SAW, justru kebalikannya. Rasulullah meengalami perjalanan waktu sangat panjang sehingga bertemu dengan para Nabi dan berbagai peristiwa lainnya, sedangkan para sahabat yang ditinggalkannya hanya merasakan waktu satu malam.
Logika sains untuk menggambarkan perjalanan Rasulullah SAW sebagai perjalanan antardimensi hanyalah upaya untuk menjelaskan bahwa isra’ dan mi’raj benar adanya dan dilakukan dengan fisik, bukan sekadar mimpi atau perjalanan dengan ruh. Perjalanan antardimensi oleh manusia biasa memang belum memungkinkan secara eksperimen, tetapi konsep dimensi fisik yang lebih dari sekadar dimensi ruang-waktu dikenal dalam sains.

#2. Dikirim oleh acim  pada  23/07   10:52 AM

Semestinya JIL berlapang dada untuk mengkaji ulang kisah isra-mi;raj sebagaimana yang kita kenal dari hadits yang telah distempel paling shahih, sekalipun kisah isra-mikraj itu hanya sebagai perjalanan ruhani Rasulullah kata lain dari mimpi atau ilusi. Melalui buku KH Munawar Khalil, tercatat dalam Kitab At Tauhid, kitab shahih Bukhari, penghujung atau akhir dari kisah hadits isra-mi’raj tersebut tertulis kalimat: .... Qaala: fahbith bismillaah, qaala: wastayqadha wa huwa filmasjidil haraam (=... Jibril berkata:“Turunlah engkau (Muhammad) dengan nama Allah”. Kata Anas:“Dan ia(Nabi) sadar (bangun)bahwa ia (sedang) berada di Masjidil Haram”.
Al Quran telah banyak menyajikan informasi tentang kehidupan di dunia yang serba realistis, nyata, konkrit. Salah satu informasi yang nyata adalah manusia akan berhadapan dengan kematian (Al Akhirah, yaumul aakhir, yaumul Qiyaamah, Assaa’ah dll.) Untuk itu, Allah menjelaskan kepada kita pada alam kematian itu ada kehidupan. Dan hidup dalam dunia lain ini, yang buminya, langitnya (termasuk matahari, bulan dan bintang-gemintangnya) bukan yang sekarang ini (QS14:48). Pada gilirannya, kalimat amana bilyaumil akhir (yaumul Qiyamah atau alAkhirah) disingkat dengan istilah “yu-minuuna bilghaib”. Namun ketika sampai ke tangan manusia istilah ghaib jadi bias.Apakah dalam pengertian terminologi atau harfiah, sebagaimana yang kita kenal sekarang ini.Dari sekian banyak jumlah pembiasan, istilah yu-minuuna bil ghaib ini, dialamatkan kepada kisah yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Dzar Ghafari, Malik bin Sha’-sha-‘ah dan Anas bin Malik, yang setelah melewati bebarapa orang(generasi) sampailah ketangan Bukhari dan Muslim,  itulah kisah Isra Mikraj, yang sama sekali kisah itu tidak disinggung dalam Al Qur-an. Para mufassir hanya menyeret-nyeret bahwa kisah isra itu adalah wahyu, dengan cara mengikut sertakan beberapa ayat (QS53:1-18, QS17:1 dan QS17:60)ke dalamnya.
Mari kita berfikir lebih ilmiah, ketimbang mengimani dengan taklid. Mampukah kita membuktikan bahwa kisah Isra mikraj itu adalah wahyu?.  Apa perlunya mencari hikmah dari kisah yang fiktif. Hikmah akan diperoleh dari kisah yang konkret atau pasti, sebgaimana, yakni kisah-kisah dari Al Quran atau alhadits yang tidak paradox dengan Al Quran

#3. Dikirim oleh Mustafa Adnani  pada  25/07   04:09 AM

Sebagai muslim yang memandang kepada hal-hal yang sifatnya essensial dan bukannya simbolisasi, tentunya masalah apakah isra’ mi’raj itu sebagai perjalanan ruhani atau sekaligus perjalanan jasmani, tentu bukan hal yang perlu kita risaukan. Sama seperti halnya dengan kejadian nabi musa membelah lautan atau banjir air bah pada nabi nuh, yang berjalan di luar nalar manusia, tentunya kisah itu dibuat untuk mempertebal keimanan manusia, terlepas kejadian itu benar2 terjadi ataukah hanya metafora. Maka sikap kita sebagai muslim yang berpandangan pada substansi, tentunya kita mengimani apa yang telah diperintahkan Allah kepada Rasulnya, yakni sholat, sebagai bentuk aktifitas ritual dari agama islam, sekaligus memahami substansi dari sholat itu sendiri agar tidak menjadi sekedar gerakan-gerakan fisik yang menyehatkan.

#4. Dikirim oleh M. ARCHAM UBAIDILLAH  pada  26/07   11:36 AM

Please jangan campur adukan rasionalitas dalam hal2 tersebut,kemampuan manusia ibarat tidak lebih besar dari buih samudera…. bila Ia berkehendak..“popS!!!” buih hilang tak berbekas.

#5. Dikirim oleh tio  pada  27/07   08:50 AM

matur sembah nuwun mas acim.. alhamdulillah sementra ini saya punya penjelasan yang bisa saya terima secara logika…dulu saya sempat bertanya.. apakah neraka itu mulai sekarang sudah beroperasi (meminjam istilah mesin).. sedangkan kiamat belum ada.. dan semua orang sudah dihisab…setahu saya hisab akan dilakukan setelah kiamat ketika semua mahluk dikumpulkan di padang masyhar…
tapi ketika mendengar cerita isra misraj.. rasul sudah diperkenalkan mengenai siksa kubur oleh jibril…waktu itu saya sempat kebingungan.. ini yang mana yang bener…
saya sempat berpikir kalau memang begitu adanya.. berarti yang ditunjukkan oleh jibril kepada rasul adalah sebuah gambaran masa depan…yang kemudian oleh mas acim di perkuat mengenai dimensi waktu..wawlahualam bi sowab…salam satu jiwa

#6. Dikirim oleh dki  pada  27/07   08:49 PM

Bagi kami/saya yang awam adalah hal aneh jika meragukan pendapat bahwa Muhammad SAW menjalani Isa-Mikraj secara lengkap jiwa dan raganya. Sama artinya meragukan kekuasaan Yang Maha Kuasa Allah SWT. 14 abad yang lalu pendapat seperti itu bisa dimaklumi, tapi dizaman kini dimana manusia dengan raganya menggunakan teknologi sudah mampu menjelajah ruang yang bukan habitatnya yakni Ruang Angkasa pendapat tersebut bahkan telah meragukan kemanusiaan itu sendiri sebagai khalifah di bumi. Walaupun teknologi manusia masih amat-sangat-ultra kecil dibandingkan kekuasaan Allh SWT namun sudah dapat menjadi bukti bahwa ‘raga’ sudah dapat ‘dibawa’ menjelajah ke alam semesta yang jauh dari tempatnya hidup dengan raganya tersebut. Saat saya SMP di kampung dulu, seorang guru pernah mengatakan bahwa manusia sampai dibulan itu bohong dan kafir jika percaya hal seperti itu. Kesimpulannya untuk memahami Isra-Mikraj seorang muslim juga harus dibekali pengetahuan tentang tehnologi dan alam semesta secara baik dan benar- tak perlu ahli- sehingga cakrawala fikirnya luas dan dapat memandang dari sudut-sudut yang berbeda sebagai pembanding.

#7. Dikirim oleh Elzhivago  pada  28/07   05:54 AM

memang susah untuk dipercaya, namun dengan kebesaran iman yang kuat, maka semua akan terjawab..

#8. Dikirim oleh Reza  pada  28/07   10:20 AM

Nabi muhammad ingin menentukan cara ibadah agama Islam yg di hadirkan oleh buah pemikiran keilahian dlm dirinya, maka dari itu dia melihat konsep cara ibadah Yahudi, Nasarani yg ada di jerussalem (di kenal dg perjalanan ke baitul maqdish palestina)., dg cara ibadah penduduk makkah di ka`bah (di kenal perjalanan awal dr makkah), hadirlah konsep cara ibadah SHOLAT 5 Waktu., selanjutnya di mantapkan dg bathinnya (yg di kenal dg perjalanan langit).

<maaf menurut pemahaman sepihak saya, dlm merasionalkan perjalanan Isra-Mikraj>

#9. Dikirim oleh Plato Diningrat  pada  28/07   03:53 PM

I am an Ahmadi Muslim. Just to show how Islamic Ahmadis are in regards to how intimate we are in understanding the Life of our most beloved Prophet Hadhrat Muhammad saw grin

Below are the video of Ahmadiyya’s Khalifatul Masih IV who were responding to a question regarding its point of view on the subject.

http://il.youtube.com/watch?v=w8Za7-hDmMs&feature=related

Ours is basically in concordance with Hadhrat Aisyah’s PoV; neither of the two events were physical, but Rasullulah was in a dream state.

For more detailed Ahmadiyya’s analyses on the same, please review this reading:

http://www.al-islam.org/al-miraj/

FYI, in general, tafseers by Ahmadiyya on any physical events as foretold in the Qur’an and the Hadists have always been trying comprehend them in concordance with Allah’s Own Physical Laws.

#10. Dikirim oleh Irenaeus Ahmad  pada  29/07   05:21 PM

Ini konsep fisikanya harus diperbaiki, massa memang dapat berubah menjadi energi menurut rumusan Einstein yang sangat terkenal itu, namun ini harus dipahami dalam kerangka ekivalensi massa energi, jadi bila kita merujuk pada rumusan Eintein, energipun dapat berubah menjadi massa. lagipula kecepatan cahaya bukanlah suatu entitas mutlak, dalam artian tidak ada lagi yang dapat melampauinya, kajian fisika teoritis mengenal apa yang disebut realitas interlokal, tanpa memandang kerangka ruang waktu, sistem-sistem dapat terhubung secara instan. Seharusnya bagi saya, orang-orang yang konon katanya logikanya selalu di depan dalam mengambil keputusan, perjalanan fisik dan ruhani yang sangat jauh jaraknya dalam waktu yang sekejap bukanlah hal yang mustahil bila dilihat dari sudut pandang sains (rasio dan logikanya sangat tinggi. Hal itu juga sudah sering dikupas oleh para ilmuwan-ilmuwan terkemuka.

#11. Dikirim oleh Nurcahyadi  pada  01/08   10:41 AM

kehidupan dunia adalah kehidupan dalam alam subyektif dan obyektif, kehidupan dalam alam ruh dan alam material,maka kita seringkali memisah-misahkan antara kedua kutub tersebut. kajian tentang kedua kutub tersebut selalu terpaku pada empirisme dan positivisme. Isra’ Mi’raj merupakan kejadian dan fenomena yang berdiri diatas kedua kaki obyektif dan subyektif, ruh dan jasad…maka seringkali beberapa orang memandang dalam kutub yang berbeda maka akan menjadikan tafsir yang berbeda….oleh karena itu apabila kita tetap terkungkung dalam paradigma empiris dan positivis, maka kita tidak akan mendapatkan kesimpulan apa-apa selagi tidak ada orang lain selain Nabi yang dapat melakukan Isro mi’roj sebagaimana Nabi…

Oleh karena itu, kita harus mulai berani lari dari kungkungan itu, dengan mecoba menguraikan dari sisi loncatan pemikiran, sebagaimana yang disampaikan oleh Einstin lewat postulatnya mengenai hubungan energi dan materi. Oleh karena itu, dengan berguru dengan Einstein maka kita cobalah untuk melakukan sintesis tentang postulat keterhubungan ruh dan materi, obyektif dan subyektif Isra’ Mi’raj yang dilakukan oleh Nabi…

#12. Dikirim oleh fashihullisan  pada  06/08   10:17 AM

Kisah isra mi’raj adalah penanda bagi orang yang berpikir. apakah manusia di abad 6-7 M bisa membayangkan bahwa manusia di abad 19-20 M mampu terbang dengan kecepatan suara dengan pesawat yang dikendarainya???? Tentu tidak kan, wong di jawa aja masih mukul-mukul batu untuk buat candi kok.pasti mereka ketawa dan bilang gila atau nggak masuk akal jika di ceritakan kalau manusia bisa terbang dengan kecepatan cahaya. pasti saya yakin pasti akan ada pertanyaan apakah tubuh manusia mampu tahan??dll
Nah muhammad terbang dengan kecepatan cahaya pada peristiwa isra miraj??? adakah yang aneh..saya rasa tidak..kemajuan teknologi mungkin abad 30-35 M, bisa jadi sudah mampu menciptakan material yang tahan terhadap gesekan udara akibat pergerakan 300.000 km/detik (kecepatan cahaya) bersama dengan teknologi roket yang mampu membuat kecepatan suara. Intinya cuma buat material yang tepat + teknologi roket kecepatan suara untuk sebuah pesawat kecepatan cahaya. Kalau manusia ada didalamnya, ya ngk apa2 toh…kan yang bergesekan dengan udara pada kecepatan cahaya adalah body pesawat.
Islam adalah agama dengan banyak penanda teknologi termasuk peristiwa isra miraj ini. Coba banyangkan, muhammad masuk dalam pesawat bersama jibril terus terbang dengan kecepatan cahaya ke palestina dan ke langit…apa yang aneh..masuk akal kok..Allah SWT adalah sumber semua teknologi,jadi tidak ada keraguan pun terhadap peristiwa terbangnya fisik muhammad pada peristiwa isra miraj jika kita berpikir terbuka.

#13. Dikirim oleh riko  pada  10/08   11:18 AM

Saya hampir yakin bahwa, isra mi’raj dapat didekati dengan teori paling maju dari fisika modern, tidak lain adalah : relativitas yang dicetuskan idenya oleh si yahudi Einstein. mari kita bicara tentang konsep ruang dan waktunya einstein. Bagi einstein satu-satunya realitas di dunia ini yang tidak dapat dilanggar adalah: kecepatan cahaya. Bila kecepatan cahaya terlampaui, maka tidak akan ada lagi hukum fisika. sekarang mari tengok kitab suci kita, Quran. berapa kali dan di ayat mana saja Allah berfirman tentang cahaya? cukup banyak. Bahkan ada surat yang dinamai An Nuur (cahaya). Perhatikan pula ayat-ayat yang secara puitis menggambarkan “matahari yang bersinar dan bulan yang bercahaya”, dan “cahaya di atas cahaya”. Allah telah memberi semacam “clue” bahwa ada sesuatu dibalik cahaya.

Nabi Muhammad menaiki “bouraq” naik ke langit berjumpa Tuhan, dan melihat surga dan neraka. Penjelasannya, seseorang (sebagai sebuah partikel) dipercepat/diakselerasi kecepatannya oleh mesin akselerator partikel (seperti yang dimiliki CERN Eropa tapi “bouraq” tentunya jauh lebih sophisticated). Nah, bouraq inilah yang Jibril bawa untuk mengakselerasi nabi, mendekati kecepatan cahaya. semakin cepat beliau bergerak, dia mendapati ruang di sekelilingnya berubah. itu bukan ruang dan waktu di sekeliling Nabi yang berubah, namun Nabi sendiri yang mengalami percepatan partikel. ruang waktu dunia berjalan normal -detik demi detik-, namun Nabi bergerak lebih cepat sehingga akhirnya beliau “melompat” jauh ke masa depan. Hal ini identik dengan paradoks anak kembar (twin paradox). Jika anda bergerak lebih cepat dari siapapun maka anda akan awet muda sementara orang-orang disekitar anda bertambah tua. Untuk bergerak lebih cepat tidak musti pergi ke galaksi lain naik roket yang luar biasa cepat. Cukup anda masuk di alat pemercepat partikel maka anda akan bergerak jauh lebih cepat. Namun demikian, agar tetap hidup, perlu treatment yang menyediakan lingkungan sehingga tetap mendukung kehidupan, jadi pengandaian ini agak mengesampingkan efek biologis seperti kepala pening, perut mual mau muntah saat sedang naik bus dan lewat banyak belokan atau sejenisnya. Einstein dengan setengah bergurau pernah mengatakan: “anda akan awet muda kalau anda sering bergerak”. Nah, orang yang diam saja dan jarang bergerak akan cepat tua. maka sering-seringlah hard exercise, olahraga teratur, jogging setiap hari, main bola, berlari-lari, apapun pokoknya bergerak aktif.

Ketika berjumpa Tuhan, saya berpendapat hal ini tidak dapat dijelaskan dengan teori relativitas. barangkali perlu Einstein baru dengan teori relativitas jilid II untuk menjelaskannya. Telah kita pahami bersama bahwa Tuhan dalam konsep akidah kita tidak terikat ruang dan waktu dimensi dua, tiga, empat, lima atau berapapun. Sementara teori relativitasnya einstein ini berusaha menangkap dan membungkus dimensi keempat (yang nampaknya gagal dibuktikan oleh einstein sendiri, sampai ahli matematika seperti Minkowski pun tak urung mengajukan hipotesis teoritis tentang “keberadaan” dimensi keempat. Hingga hari ini tak ada fisikawan eksperimental yang mampu membuktikan secara empiris wujud dimensi keempat. seperti apa bentuknya, baunya atau rasanya?).

Teori relativitas setidak-tidaknya dapat menjelaskan saat Nabi melihat surga dan neraka. Itulah masa depan, dimana Nabi telah sampai di masa depan itu. jika kita asumsikan akhirat itu linear dengan ruang dan waktu. maka waktu dan tempat akhirat itu dimasa depan, betul begitu? Nah, yang beliau lihat di balai-balai surga sedang bertelekan bantal hijau (deskripsi Quran) itu bisa jadi si A dari negara B yang masih hidup detik ini. demikian juga ketika beliau melihat perempuan-perempuan (banyak penghuni neraka adalah perempuan) sedang disiksa itu adalah perempuan bernama X, dari negara Y yang juga hari ini masih hidup. Keadaan manusia-manusia di surga dan neraka dari Nabi adam (manusia pertama) sampai manusia akhir zaman disaksikan oleh Nabi. Beberapa manusia yang hidup di zaman sekarang ini (barangkali bung Moqsith atau saudara-saudara pembaca artikel ini) disaksikan keadaannya oleh Nabi di surgakah atau di neraka pada saat mi’raj berlangsung. Kalau kita bicara anah panah waktu yang linier, maka Nabi menyaksikannya pada abad ke-6 M. Nabi telah melihat kesudahan takdir manusia-manusia dari zaman dahulu kala sampai manusia terakhir sebelum apocalypse yang meluluh lantakkan alam semesta terjadi. Hal ini konvergen dengan ayat yang menyatakan: “tinta-tinta telah mengering”. Takdir telah selesai ditulis.

Kesimpulannya: isra mi’raj adalah perjalanan Nabi Muhammad ke masa depan.

#14. Dikirim oleh Mas heri  pada  10/08   02:52 PM

Pak abd muqsith, anda menjelaskan pendapat aisyah dan muawiyah tapi anda tidak menjelaskan pendapat jumhur. padahal kalau kita ingin mengkaji bisa saja pendapat aisyah benar dan pendapat jumhur yang salah atau bisa saja sebaliknya, atau bisa saja kedua-duanya benar atau bisa saja kedua-duanya salah. kalau kita ingin mengkaji. jangan sampai karena Einsten mengatakan ini tidak masuk akal, lalu kita memutuskan bahwa pendapat jumhur salah.

#15. Dikirim oleh wawan  pada  10/08   09:08 PM

seoarang ahli kebatinan, baik itu islam, hindu, budha atau siapapun yang telah mampu sampai memecah raga, rohnya bisa berjalan samapi kelangit ke tujuh, tapi raganya tidak bisa dia ajak tuk berjalan2 sampai kesana. Lalu sebgaian dari mereka mengklaim bahwa untuk sampai kelangit ke7, tidak mungkin jasadnya ikut serta. Mereka lupa bahwa manusia itu kemapuannya bertingkat2. Seorang anak kelas 1 sd ketika dihadapkan dengan pelajar fisika untuk program S2 akan berkata bahwa tidak akan mungkin ada orang yg bisa mengerjakan soal seperti ini.

#16. Dikirim oleh ark  pada  14/08   08:15 AM

Tak melulu semua yang ada di dunia ini memerlukan pembuktian ilmiah dan logika-logika. Bukankah kita percaya jika Allah SWT “Mengatakan” Jadi, maka akan Jadilah.

Jangan samakan pemikiran-pemikiran, keinginan serta kemampuan Pencipta disamakan dengan makhluk ciptaan-Nya. Sedangkan ilmu manusia walau ditulis dengan tinta sebanyak lautan tidak ada apa2nya dengan ilmu yang dimiliki Allah SWT.

Mohon koreksinya. Terimakasih.

#17. Dikirim oleh Deka  pada  24/08   08:05 AM

tidak akan pernah habis waktu kita untuk membicarakan kebesaran Alloh swt bersama rasullullah muhammad saw…Alhamdulillah kita termasuk orang yg percaya/iman pada peristiwa isra’ mi’raj tsb. Allohu Akbar

#18. Dikirim oleh joxzin jogja  pada  29/08   05:40 PM

Saya setuju dgn komentar M RCHAM UBAIDILLAH pada 26/7 @ 4.36 pm. Saya tidak pernah risau oleh ceritera/kisah/hadits manapun yg ad di tengah-tengah kita.Namun ketika nalar kita bekerja dan selalu mengikuti alur wahyu/Al Qur-an, kita diperkenankan memilih mana yg hak dan mana yg bathil. Bila kita telah mendalami hadits, harus dipahami bahwa pernah terjadi seleksi hadits oleh tokoh-tokoh hadits (a.l Imam Bukhari dan Imam Muslim), lantaran ada hadits yg patut (shahih, hasan)dan yg tak ptut (dha’if/pseudo), apakah lantaran ihwal periwayatan, personaliti perawi, matan (artikulasi)ataupun kandungan (isi) hadits tsb. Itulah alasan saya selalu berhati-hati thd hadits yg berbau Israiliyyat ataupun Jahiliy. Pengamatan kpd Al Quran yg kental, akan mampu memilih setiap informasi keagamaan (hadits, fatwa ataupun pendapat ‘ulama). Mengimani setiap kredo agama tidaklah harus secara membabi-buta, namun harus ilmiah. Tidak mengimani beberapa hadits, bukanlah secara otomatis berkelompok pada sebutan “inkarus sunnah”. Lagi pula kisah Isra-Mik’raj tidak termasuk rukum Iman ataupun rukun Islam. Tolok ukur keimanan adalah meyakini kebenaran Al Quran, tanpa satu katapun diabaikan. Al Quran adalah wahyu Allah yg dituturkan oleh lisan bersih Muhammad Al Mustafa Rasulullah SAW,bahkan tentang prosesi wahyu jauh lebih hebat ketimbang kisah Isra-Mi’raj.Sedangkan Al hadits adalah pemberitaan tentang Rasulullah yg diangkat dari para shahabat, yg kemudian disebar luaskan oleh para pengikutnya (tabi’in, tab’inattabi’in) dan seterusnya hingga sampai kepada kita sekarang. Yg diperlukan oleh para peyakin Isra-Mikraj,adalah sejauh mana bahwa Al Quran tidak merekomendasi kisah seperti itu.Mari kita buktikan.

#19. Dikirim oleh Mustafa Adnani  pada  01/09   07:54 PM

Untuk komentar Abu Hanif, pada 23/7 @ 11.33 am
Berbicara “kalau” (Law (Arab)=andaikata, bilamana,jika + lau) berarti tidak ada kepastian. Berbeda dengan “Laqod” yg pasti terjadinya. Bandingkan FirmanNya dalam QS10:99,“Dan kalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman siapapa saja (semua manusia) di muka bumi ini seluruhnya. Maka apakah engkau (Muhammad)akan memaksa orang, sehingga mereka beriman (semua)?”.Jawaban Rasulullah pasti “tidak (akan memaksa)”. Dan kenyataannya/faktanya/buktinya, jelas bahwa sedikit sekali orang yg beriman, bersyukur dan menyadari. Qaliilan maa tasykuruun, Qalilan maa tadzakkaruun. Jadi kalau bicara kalau Allah mau, berarti belum tentu Allah mau.Jadi iman yg kuat harus mengetahui mana yg Allah mau, dan mana yg tidak mau.

#20. Dikirim oleh Mustafa Adnani  pada  01/09   08:12 PM
Halaman 1 dari 2 halaman 1 2 > 

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?