JIL Edisi Indonesia

Diskusi JIL Bulan Juni Dasar-Dasar Hermeneutika Alquran a la Fakhr al-Din al-Razi

Narasumber: Ulil Abshar Abdalla & KH Husein Muhammad

Moderator: Abd Moqsith Ghazali

Waktu: Selasa 30 Juni 2009 Jam 19.00-21.30

Tempat: Teater Utan Kayu Jl. Utan Kayu 68 H Jakarta Timur

25/06/2009 | | Komentar (22) #

Soekarno, Pelopor Islam Liberal Reportase Diskusi “Islam Liberal dalam Ajaran Soekarno”

Oleh Saidiman

Sayang, ungkap Soekarno, keberpihakan Kristen dan Islam kepada perempuan tidak lagi tampak dalam realitas kehidupan umat Kristen dan Islam. Ada jarak antara yang ideal dan faktual dalam pelbagai kehidupan dan pemikiran umat Islam. Dengan latar pemikran semacam itulah acapkali Soekarno menyebut Islam saat ini sebagai “Islam Sontoloyo” atau “Masyarakat Onta.”

25/06/2009 | | Komentar (6) #

Islam dan Pluralitas(isme) Agama

Oleh Abd Moqsith Ghazali

Ini tidak berarti bahwa semua agama adalah sama. Sebab, di samping memang mengandung kesamaan tujuan untuk menyembah Allah dan berbuat baik, tak bisa dipungkiri bahwa setiap agama memiliki keunikan, kekhasan, dan syari`atnya sendiri. Sebagian mufasir berkata, al-dîn wâhid wa al-syarî`at mukhtalifat [agama itu satu, sementara syari`atnya berbeda-beda]. Detail-detail syari`at ini yang membedakan satu agama dengan agama lain. 

15/06/2009 | | Komentar (45) #

Merebut (Makna) Pancasila Catatan dari Kaki Gunung Slamet

Oleh Trisno S. Sutanto

Satu-satunya jaminan keberadaan kelompok-kelompok ini adalah Pancasila—walau rezim Soeharto telah menodainya. Karena pada rumusan Pancasila yang menghormati kebhinekaan, tetapi sekaligus menjaga persatuan, setiap kelompok diterima dan dihargai, tenggang rasa dicari, dan sikap moderasi diunggulkan. Soalnya adalah mencari celah yang melalui mana tuntutan mendasar itu dapat timbul ke permukaan.

12/06/2009 | | Komentar (7) #

Ilmu-Ilmu Teoritis dan Kebahagiaan Teoritis

Oleh Ulil Abshar Abdalla

Dalam pandangan filosof Muslim, kebahagiaan teoritis adalah kebahagiaan paling tinggi, sebab kebahagiaan pada level itu tercapai melalui fakultas mental yang jauh jaraknya dari dunia inderawi yang bersifat badaniah. Makin jauh suatu kebahagiaan dari hal-hal yang inderawi, makin tinggi pula kualitas kebahagiaan itu. Makin mendekat kita kepada Wujud dengan “W” besar, makin tinggi pula “stasis” atau kedudukan kita dalam tangga kebahagiaan.

22/05/2009 | | Komentar (25) #

Asal Muasal Jagat Raya: Cinta ala Rumi atau Evolusi ala Hawking-Darwin?

Oleh Malja Abror

Jawaban model berseloroh seperti ini mengingatkan kita pada jawaban Santo Agustinus ketika ditanyakan kepadanya tentang apa yang dilakukan Tuhan sebelum peristiwa Big Bang itu terjadi. Jawab Agustinus: Tuhan sibuk membangun neraka buat orang-orang yang melontarkan pertanyaan seperti itu

08/05/2009 | | Komentar (43) #

Tentang Konsep Rujhan Usulan Kerangka Berpikir untuk NU

Oleh Ulil Abshar Abdalla

Setiap masyarakat selalu mengandaikan sebuah “doxa”, yaitu semacam kebenaran tersembunyi yang jarang dikatakan tetapi disepakati oleh semua anggota dalam masyarakat bersangkutan. Tegaknya sebuah orde sosial di manapun biasanya selalu mengandaikan adanya doxa semacam itu.

07/05/2009 | | Komentar (18) #

Krisis Ekonomi Global: Sedang Mencari Sintesis, Bukan Sistem Alternatif

Oleh Malja Abror

Di sinilah tantangan bagi para akademisi dan praktisi ekonomi syari’ah untuk membuat teori, rekomendasi kebijakan, dan institusi ekonomi yang dapat diterapkan dalam sistem perekonomian yang masih bercampur antara praktik syari’ah dan praktik konvensional. Kebanyakan teori ekonomi syari’ah sekarang ini masih dibangun dengan asumsi bahwa setting yang ada adalah sepenuhnya islami yang tidak mengandung riba di dalamnya. Asumsi ini sangat tidak realistis dan akibatnya teori-teori tersebut tidak bisa digunakan sebagai alat untuk menganalisis realitas yang ada. 

23/04/2009 | | Komentar (24) #

Dialog Imajiner Kartini dan Ibnu Rusyd

Oleh Novriantoni Kahar

Kartini mengeluh betapa ia tak dapat memahami Alquran karena pada masanya, kitab suci itu dianggap terlalu suci untuk diterjemah ke bahasa Jawa. Selain itu, dalam sebuah dialog dengan seorang kiai, Kartini jelas mengajukan pertanyaan kritis. Misalnya tentang apa hukumnya bagi kiai yang enggan membagi ilmunya kepada perempuan yang dahaga pengetahuan seperti dirinya. 

22/04/2009 | | Komentar (18) #

Multikulturalisme Kembar dan Masalah Buddha Bar

Oleh Ulil Abshar Abdalla

Saya ingin mengembangkan lebih jauh ide Stepan ini dengan mengemukakan ide tantang “multikulturalisme kembar”. Apa yg saya maksud dengan ide itu adalah bahwa dalam masyarakat yang plural, pengertian harus datang dari dua belah pihak sekaligus—dari pihak “dalam” agama sendiri, tetapi juga dari pihak di “luar” agama.

21/04/2009 | Editorial | Komentar (33) #
Halaman: 1 dari 106  1 2 3 >  Last »