JIL Edisi Indonesia
Syariat Islam
Oleh Ulil Abshar-Abdalla
Kalau kita mau menegakkan syariat Islam di Indonesia, sementara itu kita belum mempersoalkan masalah-masalah seperti ini, bisa timbul masalah. Umat Islam mau mengajukan syariat Islam sebagai alternatif bagi kehidupan hukum kita yang dianggap bobrok.
Perlunya Mengubah Sikap Politik Kaum Muslim
Oleh Luthfi Assyaukanie
KHILAFAH adalah salah satu produk pemikiran politik Islam klasik yang semakin tidak populer. Sebab utama ketidakpopuleran konsep ini bahwa ia tidak lagi visibel untuk diterapkan dalam kehidupan modern di mana konsep negara-bangsa (nation-state) telah menjadi satu konsensus semua orang modern. Khilafah yang mengandaikan adanya satu payung kekuasaan politik di mana seorang khalifah (pemimpin negara) berkuasa penuh terhadap negara-negara muslim di dunia, adalah gagasan utopis yang absurd. Bahkan di masa silam ketika peradaban Islam mencapai kejayaannya, gagasan khilafah, sesungguhnya tak pernah berjalan secara sempurna.
Dr. Syafii Anwar: Kelemahan Kaum Progresif Tak Membumi
Sekarang ini sering berlangsung diskusi tentang pelbagai wajah Islam ke seluruh dunia. Bukan hanya di Indonesia, juga di sejumlah negeri muslim di Timur Tengah, Afrika Utara, dan Malaysia. Di satu sisi, kaum fundamentalis-radikal berusaha mengetengahkan wajah Islam yang tegas, keras, dan penuh semangat permusuhan. Sementara di sisi lain, demi melihat pelbagai tindak kekerasan di berbagai belahan dunia, kalangan progresif Islam dan kaum moderat berusaha bersuara lebih lantang.
Adaptasi Agama Terhadap Sekularisme
Oleh Luthfi Assyaukanie
“Agama memiliki sembilan nyawa, begitu juga sekularisme.” Ungkapan indah penuh makna ini saya dengar dari Goenawan Muhammad, budayawan ternama, dalam sebuah diskusi tentang masa depan sekularisme di Teater Utan Kayu minggu lalu. Ungkapan ini merupakan sebuah bentuk optimisme dan—saya kira juga—kritik terhadap dua teori besar yang berkembang selama ini dalam kajian-kajian sosiologi agama.
Membendung Politisasi Agama
dalam Kampanye Pemilu 2004
Oleh Rumadi
Agama adalah perilaku spiritual yang mengakui adanya kekuatan supranatural sebagai pengendali kehidupan. Sementara politik adalah suatu negara yang diorganisir dalam sebuah institusi pemerintahan. Maka, politisasi agama berarti membuat agama “bersumbu pendek” dan menghilangkan universalitasnya. Agama “sumbu pendek” jelas sangat berbahaya, karena “pertemuan antar sumbu pendek” akan menimbulkan ledakan yang mematikan.
Simulasi Spiritual dalam Kapitalisasi Agama
Oleh Pradana Boy ZTF
Kita menyaksikan gelombang “religiositas” bertubi-tubi hadir dalam pelbagai bidang kehidupan, ekonomi dengan mengusung perbankan syariah, industri dengan berbagai produk berlabel Islam, dan juga hadirnya berbagai layanan agama dan informasi ruhani secara seluler. Menurut kerangka teori Jean Baudrillard, penampakan semangat religius yang membungkus pelbagai dimensi kehidupan kita ini, tak lain hanyalah sebuah permainan simulasi. Sadar atau tidak, kita sebenarnya telah terjebak pada bentuk kapitalisasi spiritualisme dengan cara mengubah spiritualisme sebagai sebuah tanda.
Luthfi Assyaukanie MA: Asyiknya Belajar Islam di Barat..
Dengan berbagai sarana dan fasilitas yang mencukupi, studi Islam di Barat jelas menggiurkan dan menjadi pilihan yang masuk akal bagi para generasi Islam dari kalangan akademis, termasuk dari Indonesia. Itu yang dirasakan Luthfi Assyaukanie MA, pengajar filsafat di Universitas Paramadina Mulya Jakarta, ketika belajar di sana. Berikut secuil kisahnya.
Yang Tetap dan Yang Berubah
Oleh Ulil Abshar-Abdalla
Umat Islam saat ini cenderung memberikan tekanan yang berlebihan terhadap aspek “permanensi” ketimbang “perubahan”; aspek yang “tetap” (al-tsabit) ketimbang yang berubah (al-mutahawwil). “Masa lampau” terlalu kuat menguntit memori masa kini dunia Arab sehingga gerak perubahan ke masa depan terhambat. Ini terjadi pada kehidupan pemikiran, politik, dan kebudayaan.
Tiga Sebab Kemandekan Fikih
Oleh Fajar Kurnianto
Fikih sebagai produk intelektual pada masa dan dalam konteks tertentu yang bersifat dinamis kini berubah menjadi stagnan serta kaku. Ada tiga penyebab mengerasnya kecenderungan mempertahankan produk fikih klasik tersebut sampai kini. Pertama, fikih diidentikkan dengan syariat. Persoalan kedua menyangkut asumsi tentang sakralitas fikih. Persoalan ketiga adalah hegemoni kalangan konservatif.
Daya Hidup Isu Syariat dalam Politik
Oleh Arskal Salim
Salah satu isu yang tak pernah ditinggalkan partai Islam adalah pelaksanaan syariat. Banyak pihak menganggap upaya itu dalam rangka politisasi agama demi keuntungan politik yang tak berhubungan dengan kepentingan agama. Kemudian, disadari atau tidak bahwa segmen pemilih yang dibidiknya tidak berjumlah besar, tampaknya, partai-partai Islam lebih berorientasi mengisi ceruk kosong yang sempit. Islamisasi bagi partai Islam adalah agenda yang terus hidup (the living agenda).