JIL Edisi Indonesia
Budhy Munawar-Rachman: Dialog Pluralisme Sering Lupakan Guru Agama
Kami tak mungkin mengajarkan wawasan pluralisme, tapi guru-gurunya bukan pluralis. Bahaya sekali dan akan merusak ide besar kami. Makanya, orang tua juga harus mendapatkan training atau semacam acara bulanan di mana mereka bisa memahami pluralisme.
Uni Zulfiani Lubis: Inul Semakin Berkibar…
Pertarungan Rhoma Irama, si Raja dangdut, dengan Inul Daratista, si Ratu Ngebor, belum mereda. Uni Z. Lubis, seorang perempuan karier yang berkecimpung di dunia pers, ikut prihatin atas pengekangan kreativitas terhadap Inul. Lebih-lebih, Inul yang diasosiasikan sebagai figur perempuan yang sukses merambah wilayah publik, banyak bersinggungan dengan dunia yang sekarang ditekuni mantan wapemred majalah Panjimas ini.
Goyang Inul dan Merosotnya Otoritas Agama
Oleh Burhanuddin
Yang menarik dalam kasus Inul ini adalah gejala merosotnya otoritas lembaga keagamaan ketika berhadapan dengan goyang Inul sebagai produk budaya massa yang di-back up mobilitas media. Goyang ngebor Inul setali tiga uang dengan goyang jaipongan, goyang dombret, bahkan goyang salsa, dalam artian bagian dari—apa yang disebut Dwight MacDonald— manifestasi politik tubuh dalam industri budaya massa. Karena itu, lembaga keagamaan akan sulit mengerem laju Inul.
Imam Syathibi: Bapak Maqasid al-Syari’ah Pertama
Oleh Aep Saepulloh Darusmanwiati
Musthafa Said al-Khin dalam bukunya al-Kafi al-Wafi fi Ushul al-Fiqh al-Islamy membuat sebuah terobosan baru mengenai kecenderungan aliran dalam Ilmu Ushul Fiqh. Bila sebelumnya hanya dikenal dua aliran saja, yaitu Mutakallimin dan fuqaha atau Syafi’iyyah dan Hanafiyyah, al-Khin membaginya menjadi lima bagian: Mutakallimin, Hanafiyyah, al-Jam’i, Takhrij al-Furu’ ‘alal Ushul dan Syathibiyyah
Agama, Seni dan Soal Batasan
Oleh Ulil Abshar-Abdalla
Jika merujuk pada ketentuan fiqh secara ketat, bahkan seorang perempuan dilarang untuk memakai pakaian ketat yang “tunbi’u ‘anil basyarah”, yang memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh. Gerakan-gerakan tubuh perempuan yang dapat merangsang syahwat juga tidak diperbolehkan. Sensualitas dan erotisme, dua pokok soal yang diangkat oleh Wak Haji Oma Irama, adalah dua hal yang tidak boleh dipertunjukkan dalam ruang publik. Kiai Ilyas Ruhiyat, seperti dikutip oleh sebuah koran daerah beberapa hari lalu, juga menekankan hal ini. Dilihat dari sudut pandang fiqh, sebetulnya seluruh pertunjukan Inul itu tidak boleh alias haram.
Komaruddin Hidayat dan Rm. Mardiatmaja: Pendidikan Agama bukan Tugas Guru Agama Saja
Minggu ini, masyarakat diramaikan dengan RUU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). RUU yang diajukan guna merevisi UU 2/1989 ini ternyata menuai banyak protes dari masyarakat.
Goenawan Mohamad: Sejarah Tak Bisa Diubah dengan Senjata
Jargon pembebasan rakyat Irak dari tirani Saddam Husein sebenarnya hanyalah kedok untuk menutupi lack of mission yang dimiliki George W. Bush dan kaum neo-konservatif di sekeliling Bush. Sejatinya mereka ingin membuktikan bahwa kedigdayaan Amerika bisa mengubah hitam-putihnya warna dunia. Sayangnya, sejarah tak pernah sudi ditundukkan oleh kekuatan militer manapun.
Perang Media dan Media Perang Netralitas Wartawan Peliput Perang
Akhirnya, pasukan Amerika Serikat dan sekutunya berhasil menduduki Irak. Benar-benar menyedihkan! Tentu saja kita tak lupa, invasi ke Irak ini tak hanya mengandalkan peralatan perang yang canggih. Propaganda perang melalui jaringan media telah digunakan Amerika dan Inggris, bahkan sebelum pertempuran itu dimulai. Uniknya, perang kali ini konsumen berita sangat dimanjakan oleh sajian yang beragam sehingga jaringan televisi sekuat CNN, Fox News atau NBC harus “bertempur” habis-habisan dengan televisi Al-Jazeera dan Al-‘Arabiyya untuk memperebutkan opini publik.
Perang dan Tafsir Agama
Oleh Novriantoni
Agaknya, bila beberapa kesan di atas dicermati dalam konteks Indonesia, akan banyak juga pelajaran yang bisa ditimba. Saat ini, nyaris enerji kita tersedot oleh horor invasi AS dan sekutunya atas Irak. Dalam lapangan keagamaan, kekhawatiran akan meningkatnya radikalisme nampaknya mulai mendapat pembenaran. Dalam suasana perang, nyaris tak ada—mungkin tak etis ataupun tak relevan—wacana tentang toleransi dan perlunya mempertahankan visi keagamaan yang lebih mementingkan moderasi.
Setelah Baghdad Jatuh
Oleh Ulil Abshar-Abdalla
Dalam retorika yang berkembang di masyarakat Islam, orang-orang yang mendorong proses pembaruan pemahaman Islam, kerap dipandang sebagai “antek” atau boneka kepentingan bangsa asing (AS dan Yahudi). Retorika itu sengaja diembuskan untuk membangkitkan sentimen negatif umat Islam terhadap tiap gagasan pembaruan. Aneka tuduhan pada kaum Muslim progresif dan liberal sebagai pengimpor gagasan-gagasan asing dari Barat akan amat mungkin makin menguat setelah kejatuhan Baghdad yang tragis. Sebagai pengimpor gagasan asing, kaum Muslim liberal-progresif akan rentan menjadi sasaran kemarahan umat Islam.